Majalah drise edisi 26 RE- GENERASI : PREMAN & USTADZ

Vrijmen” atau “Vrijman” kata orang negeri kincir  angin. “Freierman”, kata orang negerinya Hitler. Dan  “Freedom” kata orang negeri Paman Sam. Semuanya  punya arti yang sama. Yaitu merdeka, bebas dan berdaulat.  Inilah nenek moyang dari kata ‘preman’! Jaman penjajahan doeloe, menjadi “vrijman” menjadi  idaman setiap orang. Artinya orang-orang yang memiliki  kebebasan berpikir dan bertindak benar. Mereka disebut  dengan “vrijdenkers”.

Di zaman pergerakan sebelum dan  sesudah revolusi 1945, banyak orang-orang yang merdeka  yang bersemangat “vrijdenkers”. Sutan Syahrir, Dr. Cipto,  Soekarno, Muh. Hatta adalah sebagian dari “vrijdenkers”  yang “vrijman”. Jadi, dulu konotasi “preman” mengarah  positif. Catet tuh! Kini, kata “preman” mengalami pergeseran sehingga  mengacu kepada predikat negatif. Yaitu kepada  segerombolan orang yang “beragajul” dan kerap  bertindak anarkis. Kriminolog Purnianti  Simangunsong beranggapan bahwa pergeseran  makan “preman” ke arah negatif dimulai pada  sekitar tahun 1958-1960. Preman kala itu  diidentikkan dengan geng-geng motor yang  mengidentifikasikan diri dengan simbol-simbol  seperti topi dan sepeda motor tentunya.

Julukan  mereka ialah “crossboy”, karena sering “nongkrong”  di perempatan jalan.  Pokoknya segala yang  bernuansa kekerasan selalu diidentikan dengan  “preman”. Sehingga muncullah istilah ‘premanisme’  untuk menggambarkan budaya kekerasan. Ada yang tahu Basri Sangaji, Hercules atau  John Kei? Yang pasti mereka bukan anggota  Boyband atau personil tambahan The Avengers.  Buat kamu-kamu yang tergolong maskulin alias  manusia kutinggalan informasi, (hehehe,  maksa.com), ‘Trio’ ini adalah para pentolan organisasi  preman di Jakarta yang udah termasyur.

Sepak  terjangnya, kerap kali menyita perhatian publik dan  media massa. Dan setelah Basri Sangaji tewas dalam  suatu pembunuhan sadis di hotel Kebayoran Inn di  Jakarta Selatan pada 12 Oktober 2004 lalu, tinggal  kelompok Hercules dari Timor Leste dan Jhon Kei dari  Mauluku yang berlomba berebut pengaruh dan nama  besar di dunia premanisme.  Bisnis utama organisasi preman biasanya  bergelut dalam bidang jasa Debt Collector (penagih  utang) yang melayani tagihan di atas Rp 500 juta.  

Bisnis kecil-kecilannya mulai dari jual jasa  pengawalan lahan sengketa, pengamanan tempat   hiburan, lahan parkir, hingga jasa pengamanan di  tempat keramaian seperti pasar dan terminal bis. Jasa  yang mereka tawarkan, semuanya nggak jauh dari aksi  kekerasan. Meski begitu, tidak sedikit para pengusaha  hingga birokrat yang memanfaatkan jasa mereka.  Kehadiran Hercules, Jhon Kei, atau Basri Sangaji  dalam dunia premanisme bukan tiba-tiba.

Masing-masing  ‘meniti karir’nya sejak masih muda belia. Untuk  membesarkan namanya, masing-masing merekrut anggota-anggota muda untuk bergabung dalam kelompoknya.  Regenerasi preman terus berlangsung hingga hari ini.  Sialnya, benih-benih premanisme juga kian tersemai  subur di lingkungan pendidikan formal. Lembaga yang  sejatinya melahirkan intelektual muda berprestasi, ternyata  juga disusupi oknum-oknum preman pelajar. Mereka kerap  kali bikin ulah dalam tawuran dengan sekolah lain. Atau  malah jadi ‘jagoan’ yang doyan malakin adik kelasnya. Kalo  nggak dikasih, bisa diancam, sampe dipukul. Whuu..!  Beraninya ama anak kecil! Budaya premanisme yang lahir dari sikap sok jagoan,  bullying, atau vandalisme, tak ayal mengurat akar begitu  kuat di negeri ini.

Diluar sekolah pun, aksi kekerasan itu  ditunjukkan oleh media dan masyarakat. Secara tidak  langsung media ‘mengajarkan’ masyarakat cara-cara  kekerasan via sinetron, film layar lebar, atau berita  kriminal. Dari sinetron, mereka belajar bagaimana  memukul temannya di sekolah untuk merebut gadis  pujaan, misalnya. Dari berita kriminal, masyarakat jadi tahu  dan tak jera melakukan tindakan kekerasan. Yup, media  bagi masyarakat sekarang ini telah menjadi tuntunan  daripada sekedar tontonan. Berharap para preman tobat semua atau aksi  premanisme berhenti bisa jadi hanya sebuah mimpi.  Karena, hingga saat ini jasa para preman itu masih banyak  yang pakai. Seperti hukum ekonomi bilang, selama masih  banyak permintaan (demand) jasa preman, maka  regenerasi preman (supply) terus dilestarikan.

Selama  hubungan antara pembuat jasa dan pemakai jasa masih  kuat, apalagi didukung sistem sekular di negeri ini, maka  akan sulit memangkas akar premanisme. Ada aja nada  sumbang saat pembenahan aksi premanisme atau razia  para preman dieksekusi pemerintah. “kalo melarang  preman, trus dia mau dikasih makan apa?”. Ya tetep nasi,  sagu, atau jagung. Sesuaikan lah dengan kebiasaannya.  Masa dikasih makan pelet, emangnya ikan mas? ^_^ Sebenernya masih banyak pekerjaan halal dan  terhormat yang bisa dilakonin. Cuman masalahnya, boleh  jadi penghasilannya jauh di bawah UMP alias Upah  Minimum Preman. Sehingga hanya mereka yang  berkomitmen untuk berubah bisa kembali ke jalan yang  benar. Bahkan menjadi ustadz. Seperti yang terjadi pada  Anton Medan atau Jhoni Indo.  Dari sini, kita bisa sedikit simpulkan, kalo premanisme  kian marak karena beberapa faktor.

Pertama, rapuhnya  iman. Ya, seorang muslim memilih dan tetap setia bekerja  jadi preman yang identik dengan kekerasan dan  kemaksiatan karena faktor minimnya iman. Terutama  keimanan terhadap rizki, bahwa rizki minallah (dari Allah),  sehingga kalo dia yakin pasti akan mencari pekerjaan selain  itu dengan memilih bekerja dengan cara halal. Preman Tobat, Bisa Kok!

Kedua, sulit dapat pekerjaan lain. Di  tengah sistem kapitalistik seperti sekarang  ini, persaingan mencari pekerjaan begitu  ketat. Bahkan beberapa praktek di lapangan,  pekerjaan bisa didapatkan karena kedekatan  hubungan, karena sogokan, dan seterusnya.  Hal inilah yang memicu, sebagian orang  apalagi di kota besar macam Jakarta, jadi  preman pun akan mereka lakoni asal dapat  duit.  

Ketiga, karena faktor lemahnya negara  menjaga rasa aman di masyarakat. Sehingga  jasa preman, security, body guard jadi laku  keras. Siapa yang punya duit dan mampu  membeli, maka akan dapatkan rasa aman.  

Nah, di tengah ketatnya persaingan bisnis  ekonomi, dan juga politik, maka terjadi  hubungan harmonis mutalisme pengusaha,  pengusaha dan preman.  Keempat, lemahnya sistem negara. Sistem  sekulerisme yang diterapkan di negri ini benar-benar telah  menumbuh suburkan premanisme. Gimana nggak, seperti  telah disebutkan diatas tadi bahwa perilaku premanisme  telah membudaya di masyarakat, bahkan melembaga  dalam bentuk gank. Semua itu akibat lemahnya negeri ini  dari berbagai segi, mulai dari pendidikan, ekonomi, hukum,  budaya, dan sebagainya. Kalo keempat faktor di atas dibenahi, insya Allah  bukan cuman budaya premanisme yang bakal tutup usia,  para aktivisnya juga bakal berbondong-bondong kembali ke  jalan yang benar.

Rohis sebagai alternatif

Ketika orang berbicara ramai tentang maraknya  benih premanisme di kalangan pelajar, sebenarnya ada  hawa kesejukan yang ditawarkan lembaga kerohanian  Islam (rohis) sekolah sebagai solusi alternatif untuk  mengikis budaya preman. Tapi rupanya hal ini tidak  berjalan mulus. Karena rohis sering diidentikkan dengan  sarung, gamis, jidat hitam, kerudung dan jenggot. Kondisi  ini diperparah oleh fitnah media yang menganggap  sebagai sarang teroris. Meski dibilang opini penyudutan  Rohis tidak cukup berhasil, namun penyerangan opini itu  menunjukkan dengan jelas bahwa yang disebut-sebut  sebagai war on terrorism yang dimaksud adalah Islam.  Pesan sponsor nih! Makanya kita harus segera bergerak untuk perbaikan  citra rohis sebagai wada regenerasi ustadz-ustadz muda.  Ibarat menolong orang jatuh, nggak hanya membantunya  untuk bangun, tapi juga harus menuntunnya agar bisa  jalan. Pertama, mengembalikan semangat karena Allah  (semangka) para penggerak Rohis. Meski ada opini yang  tengah menyudutkan Rohis, dakwah must go on!

Kedua, menuntunnya untuk jalan. Aktif membimbing  rohis dengan program-programnya agar lebih terarah dan  tersistem dalam membina remaja. Lebih joss lagi kalo  pihak sekolah ikut dukung sepenuh hati agar kegiatan  rohis biar tetep eksis. Tak lupa, dukungan dari orang tua dan juga  masyarakat sangat diperlukan untuk menguatkan  semangat aktivis rohis. Sehingga kreatifitas anak-anak  rohis bisa tersalurkan secara positif dalam membentuk  remaja berkepribadian Islam. Kita harus meyakinkan orang  tua bahwa Rohis kagak ada hubungannya dengan teroris.  Titik!  

Ketiga, setelah dibina kepribadiannya, mereka diajak  terjun ke lapangan untuk mendakwahkan ilmu, tsaqofah  yang telah mereka dapatkan. Learning by doing  bagaimana mengemas cara berdakwah  dengan cukup apik sehingga bisa diterima  oleh remaja khususnya. Bisa dikemas lewat  musik, buku, seminar, diskusi, dan lain-lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa rohis adalah  cikal bakal produsen ustadz yang concern  dalam dakwah.

Kehadiran rohis menjadi salah  satu perwujudan dari perintah Allah swt  berikut: “Dan hendaklah ada di antara kamu  segolongan umat yang menyeru kepada  kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan  mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran 104).  Nah, melalui perantaraan rohis kita  mencoba memangkas mata rantai regenerasi  preman. Sebaliknya, meningkatkan  produktifitas regenerasi ustadz. Sehingga  perbaikan kondisi negeri ini bisa segera  dibenahi dengan keaktifan pribadi-pribadi  pengemban dakwah.

Rohis beserta  alumninya telah menorehkan tinta putih di saat remaja  yang lain mencoba melukiskan peradaban generasi dengan  tinta hitam berupa tawuran, seks bebas, narkoba dan lain-lain. Maka menuduh Rohis sebagai sarang teroris, cuman  isapan jempol belaka. Harusnya kita bilang ke musuh-musuh Islam penyebar fitnah, “Gue rohis. Masalah buat  loe?!” [LBR]

 

MAJALAH DRISE EDISI 25 :DIBALIK GELIAT MUSIK ‘DARI GAYA HIDUP HINGGA JALAN HIDUP’

Musik adalah bahasa universal yang bisa dinikmati oleh  siapa saja tanpa memandang umur, negara ataupun  suku bangsa. Semuanya ngerasa asyik kalo udah tune  in dengan musik. Termasuk di negeri Koes Ploes ini. Musik tidak  lagi sekedar hiburan. Tapi sudah bermetamorfosis menjadi ‘life  style’ alias gaya hidup. Itu berarti, musik sudah jadi bagian yang  tak terpisahkan dari kehidupan. Kalo nggak ngikutin gaya hidup  musisi idolanya, kaya belon afdhol jadi penggila musik. Kalo  nggak dengerin musik, hari-hari kaya kosong aja. Garing tanpa  kuah. Seret dah  

Serangan Musik Mengusik Remaja  

Kalo dilihat dari tayangan televisi, musik dinobatkan  sebagai salah satu program terfavorit pilihan pemirsa. Untuk saat  ini (tahun 2012), tayangan musik di teve ada Inbox-nya SCTV, trus  ada Dahsyat-nya RCTI, kemudian ada Tarung Dangdut MNCTV,  Musiklopedia Trans7, Histeria Indosiar, Klik ANTV, 100% Ampuh  GlobalTV, Radio Show tvOne, dan Musik+ MetroTV. Hampir  setiap stasiun televisi punya acara atau program yang bertema  musik. Baik TV nasional, lokal, berjaringan, satelit hingga  berlangganan.

 Acara musik teve yang cukup popular adalah inBox  (SCTV), yang pertama mengudara pada Desember 2007, dengan  host Andhara Early. Konsepnya meniru acara MTV TRL (Total  Request Live) yang meraih kesuksesan di Amerika Serikat selama  10 tahun; 14 September 1998-16 November 2008. Kemudian  diekori RCTI yang membuat DahSyat, tayang perdana Maret  2008. Host awalnya Darius Sinathrya. Konsepnya amat mirip,  awalnya juga memakai panggung outdoor seperti inBox. Namun  ratingnya tak bisa mengalahkan inBox.

Sampai hostnya  digantikan Raffi Ahmad-Olga Syahputra-Luna Maya di tahun yang  sama, konsepnya pun berubah indoor di studio RCTI. Data Nielsen periode 18-24 Februari 2008, acara musik  inBox meraih rata-rata rating TVR 2,9 dan share 27,1. Sementara  itu, rating Dahsyat periode 6-12 Oktober 2008, TVR rata-rata  DahSyat mencapai 3,1. Acara tahunan Dahsyatnya Awards 2012  tayang dengan total durasi 5,5 jam. Hebatnya, meski tayang  mulai 19.38 hingga lewat pukul 01.00 WIB dinihari, ratingnya  tetap nomor 1. Menurut data AGB Nielsen (ALL) Rabu (25/1),  

Dahsyatnya Awards 2012 meraup TVR 5,9 dan TVR 29. Selain artis dan musisi lokal, serangan musik juga datang  dari artis interlokal alias lintas negara. Ada musisi korea papan  atas seperti Super Junior, SNSD, Big Bang, Wonder Girls, dan  2NE1. Atau musisi eropa mulai dari Lady Gaga, Justin Bieber,  Maroon 5, Bruno Mars, Katy Perry, atau Britney Spears. Musisi  luar negeri emang jarang nongol di layar kaca, tapi kalo udah  ngegelar konsernya, dijamin super heboh dan menghipnotis para  penggemarnya.  Driser, serangan musik makin gencar dari hari ke hari.  

Remaja sebagai target pasar para produsen dan musisi, makin  terhanyut. Secara tak sadar, duit mereka diporotin untuk nonton  konser musik atau ngikutin gaya hidup musisi idolanya. Yang  lebih parah, bukan cuman gaya hidup sekuler yang menjajah  remaja muslim lewat musik. Tapi juga ajakan menempuh jalan  hidup musisi nyeleneh yang menyimpang dan cenderung  ekstrim. Nah lho! Hati-hati ah! angnam Style, joget bergaya pemacu  kuda, yang dipopulerkan Psy, rapper asal  Korea Selatan, melejit dan ngehits di seluruh  dunia.

Tarian bergaya penunggang kuda ini  berhasil menjadi jawara di chart musik iTunes  dan masuk dalam Guinness World Records  dengan predikat video musik YouTube yang  paling “disukai” dalam sejarah. Bayangin aja,  hanya dalam waktu dua minggu sejak nongol  di youtube pada tanggal 15 Juli 2012, video  gangnam style udah dilihat lebih dari 43 juta  orang. Dan kini sudah merangkak ke 300 juta  orang. Sebuah prestasi yang fantastik untuk  sebuah video pendatang baru.  Trend tarian gangnam style yang lagi  banyak digandrungi para fandom melengkapi  popularitas K-pop di negeri ibu pertiwi. Ini  adalah bagian dari fenomena K-wave  (korean wave) yang tak terbendung. 

Sebuah  fenomena yang menggambarkan  Gaya Hidup ‘Gangnam Style’ penyebaran budaya pop modern Korea di  berbagai negara. K-wave masuk melalui musik (K-pop), drama televisi (K-drama)  dan film (K-movies). Istilah k-wave pertama kali dicetuskan  oleh media-media RRC (China) untuk menyebut   fenomena yang sama melanda masyarakat RRC  pada awal tahun 1990-an.  Gencarnya budaya pop korea yang  menyapa kawula muda, perlahan banyak  mempengaruhi gaya hidup mereka. Dari mulai  cara berpakaian, dandanan, hingga bahasa dan  pergaulan. Trend busana remaji mengumbar  aurat ngikutin gaya sailor moon dengan rok  pendek dan atasan full press body.

Sementara  yang cowok berlagak modis khas pelanggan  salon kecantikan dari ujung rambut sampe  ujung kaki. Untuk penampilan, gak ketinggalan  gadget dan aksesories terbaru dan mewah.  Bahasanya mulai dicampur dengan bahasa  korea. Dan pergaulannya makin glamour  dengan ala kehidupan distrik Gangnam di  Korea.  Booming Korea benar-benar telah merubah gaya hidup dan  jadwal kegiatan anak dan remaja sehari-hari. Pagi bangun tidur  dari kamar mereka sudah terdengar lagu K-POP terbaru macam  You and I, IU atau Trouble Maker, Hyun A & Jang Hyun Seung.  

Me-request dan men-down load seakan merupakan keasyikan  tersendiri. Yang kadang menyebalkan para orang tua adalah  kegilaan pada Korea ini sampai mengorbankan waktu  beristirahatnya demi bela-belain nonton show Korea atau  sinema/drama Korea di internet maupun televisi. Seakan takut  berdosa ketinggalan si Korea ini sampai makan pun di depan lap  top atau televisi. Pagi menjelang sekolah, siang di sela-sela jeda  untuk ke sekolah sore dan di sela-sela jelang ke surau selalu  disempatkan up date. Hebat benar kekuatan magnet K-Pop ini.

Lebih gila lagi beberapa dari mereka mengganti nama di fb  dengan nama Korea lengkap dengan ejaan Koreanya. Tidak di  kelas, atau di kantin yang dibicaran berkisar cowok ganteng  mulus, kiclong artis Korea. Pokoknya laki-laki macho model Piere  Gurno mundur deh, alias nggak laku lagi. Makanya jangan heran  dunia hiburan kita banyak dipenuhi para bencong. Karena  mungkin takut ditinggalkan penggemarnya kalau tidak meniru  gaya bintang pujaan remaja ini. Terbayang bagaimana ramainya  salon kecantikan dipenuhi para lelaki kemayu untuk merawat  diri.

Nah lho! Secara kasat mata, budaya K-Pop yang dijajakan media  mengiring remaja untuk meniru gaya hidup “Gangnam Style”.   Sebutan yang digunakan oleh warga Korea Selatan untuk  menggambarkan gaya hidup mewah bin glamour yang  berhubungan dengan Distrik Gangnam. Sebuah kawasan  makmur dan trendi di Seoul yang terkenal sebagai area elit  tempat tinggal banyak artis papan atas, publik figur, dan orang  terkenal lainnya.

Tak heran jika gangnam style jadi memancing  air liur para pria di Korea untuk terjun ke dalamnya karena gaya  lelaki Gangnam identik dengan kaya raya yang disukai banyak  wanita. Seperti digambarkan dalam klip ‘Gangnam Style’.  Selain kehidupan glamour, Gangnam juga disesaki oleh  lebih dari 300-an klinik operasi plastik. Ternyata, artis dan warga  Korea terbiasa melakukan operasi plastik. Sebuah lembaga  pekerja berbasis online di Seoul mengadakan survey mengenai  ‘seberapa penting penampilan untuk orang Korea’.

Hasilnya 90%  responden pria dan wanita di sana menginginkan operasi plastik  untuk mendukung penampilan mereka. Operasi plastik alias permak wajah di negeri ginseng sudah  membudaya. Rata-rata orang Korea berusia 18-35 tahun lebih,  menginginkan hadiah yang tak biasa. Mereka menginginkan agar  mata, dagu, pipi, dan hidung mereka dirombak dengan operasi  plastik. Bagi mereka operasi plastik jauh lebih penting ketimbang  memiliki gadget atau kendaraan pribadi. Apalagi di kalangan  artisnya, mereka cantik dan ganteng karena hasil permak di sana-sini.

Satu catatan lagi yang gak boleh kita lupain. Korea adalah  Negara dengan angka bunuh diri nomor 1 di dunia! Menurut  Menteri Kesehatan Korea Selatan, ada sekitar 35 orang Korea  yang tewas bunuh diri SETIAP HARI, baik dari kalangan artis  maupun orang biasa. Artis Park Jin Hee mengungkapkan dalam  tesisnya bahwa lebih dari 40% artis Korea mengalami depresi  dan ingin mengakhiri hidupnya. Tragis.  Seperti inikah gaya hidup  selebriti yang diidolakan banyak remaja kita Selain gaya hidup (life style), musik juga menjadi media  tokcer buat nunjukkin jalan hidup (way of life) musisi yang  menyimpang. Seperti yang disajikan oleh genre Black Metal.  

Salah satu jenis musik yang sangat berhubungan erat dengan  pemujaan setan. Berbagai lirik, gaya, dan performa yang mereka  tampakkan memang menunjukkan hal itu. Black metal adalah  subgenre ekstrim dari musik heavy metal.  Ciri khas dari black metal adalah tempo yang cepat,  vocal yang teriak-teriak, gaya gitar yang terdistorsi, ketukan drum  yang cepat, dan struktur lagu yang tidak biasa. Awalnya musik  black metal dilekatkan dengan satanic metal karena keyakinan  satanisme yang dianut para artisnya, juga paham antikristus.  

Lebih dari itu, beberapa pelopor dari genre ini telah melakukan  berbagai aksi pembunuhan, bunuh diri, dan pembakaran gereja.  Beberapa artisnya pun dikaitkan dengan neo-nazi, walaupun  sebagian besar penggemar black metal dan band black metal  yang menonjol menolak neo-nazi. Para praktisi black metal  biasanya menolak untuk muncul ke mainstream, mereka lebih  memilih untuk tetap underground. Pemujaan setan nggak hanya dimonopoli oleh black  metal. Ternyata pemujaan setan ini bisa juga kita temukan di  berbagai jenis musik yang lain dan juga pada musisi-musisi lain.  Misalnya pada Januari 2012,

Dailymail pernah melansir  pengakuan salah satu pekerja Hotel Intercontinental London  yang meninggalkan cairan mirip darah dalam jumlah besar di bak  Jalan Hidup Black Metal mandi hotel. Sumber lainnya juga mengungkapkan bahwa semua  staf hotel sangat yakin si Gaga telah mandi di sana atau  setidaknya menggunakan cairan merah itu untuk mendandani  kostumnya yang selalu saja super aneh. Jelas banget bahwa musik sama sekali nggak bebas  nilai. Di dalam musik pasti akan selalu ada muatan keyakinan  tertentu yang harus selalu kita waspadai. Kalo kita terlalu ngoyo  ikut-ikutan tren musik bisa-bisa kita dikendalikan oleh musik itu  sendiri. Sehingga kita melupakan tugas dan kewajiban kita  sebagai kaum muslim untuk membangkitkan umat.

So, be careful  of music! Driser, bicara tentang musik ternyata nggak cuman enak  didengar nadanya, gampang dihapal liriknya, mudah ditiru  tariannya, atau sedap dipandang penyanyinya. Tapi juga bicara  tentang budaya (hadloroh) dibalik geliat musik. Musik menjadi  media efektif untuk menularkan virus budaya sekuler dan  hedonis. Dari sekedar ‘life style’ diserangkan kepada umat  muslim yang akhirnya nanti jadi ‘way of life’. Inilah salah satu  bentuk penjajahan yang menyerang remaja muslim saat ini.  Hasilnya? Kita ngerasa kuper bin cupu kalo nggak hafal  lagunya Noah Band. Belum sreg bergaul kalo penampilannya  nggak korean style. Ada yang merasa tersisih dari pergaulan, kalo  nggak ngikutin tangga lagu musik, dan sebagainya.

Nah,  pemikiran-pemikiran semacam itulah, yang disebut hasil dari  ghazwul fikri (perang pemikiran). Budaya suka nonton konser,  histeris ketika ngelihat band pujannya, sampe harus merasa  wajib menempelkan poster band di kamarnya, itulah yang  disebut hasil dari perang budaya (ghazwul tsaqofi). Makanya, kita mesti hati-hati dengan trend musik. Jangan  asal ngikut. Tapi cari tahu dulu asal-usulnya. Allah swt berfirman:  “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak  mempunyai pengetahuan mengenainya.

Sesungguhnya  pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai  pertanggungan jawabnya.”(Qs Al Israa’: 36)

 Jangan cuman tangga lagunya aja yang dipelototin. Tapi  juga budaya dibalik trend musik juga patut kita monitoring.  Tingkah polah musisinya yang sekuler tak lupa kita catet. Biar kita  bisa kasih tahu temen-temen yang belum ngeh dengan  penjajahan budaya lewat musik. Yup, itu baru remaja muslim  jempolan. Yuk ah![LBR

MAJALAH DRISE EDISI 24 – READY TO FIGHT

Ups, sekali-kali mellow dikit khan nggak papa ya, driser? Biar gak jadi  jerawat. Puisi di atas adalah  ungkapan hati bagi yang sangat merasa  Ukehilangan dengan perginya bulan mulia. Yup, bulan Ramadhan  ibarat seorang kekasih yang pergi meninggalkan belahan jiwanya.

Bagi yang  bisa mengisi ramadhannya dengan baik dan poll, maka akan bisa menyisakan  kenangan manis. Tapi buat yang keseharaian di bulan Ramadhan biasa-biasa  aja sama kayak bulan yang lain, maka bisa dipastikan puasa ramadhan nggak  ngaruh untuk menghadapi 11 bulan berikutnya. Nah, driser masuk kategori  yang mana nih?  

Driser, kalo kita coba ulik lagi perintah Allah tentang puasa dalam QS Al  Baqarah 183: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu  berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar  kamu bertakwa.”. Keyword alias kata kunci penting yang kudu kita ingat dari  kewajiban puasa ramadhan adalah TAQWA.

Taqwa adalah kondisi ideal pada diri kita setelah menunaikan kewajiban  puasa ramadhan. Nggak semuanya yang lulus puasa bakal dapat gelar takwa.  Hanya mereka yang bener-bener menjadikan ramadhan sebagai kawah  candradimuka alias ajang penggemblengan diri untuk menghadapi godaan  sebenarnya pasca ramadhan yang layak menyandang predikat taqwa.  

Yup, puasa ramadhan ibarat kepompong. Ulat yang ada dalam  kepompong harus menahan lapar dan haus. Hingga tiba waktunya ulat itu  keluar dari kepompong menjadi seekor kupu-kupu yang Indah. Kalo ulat itu  gak tahan, terus maksa keluar dari kepompong, fatal akibatnya. Bukan  menjadi kupu-kupu yang indah, tapi kupu-kupu jejadian.

Ulat bukan, kupu-kupu juga nanggung. KaWe deh! Pertanyaannya sekarang, apakah kita termasuk salah satu kupu-kupu  dengan keindahan sayapnya ataukah makhluk jejadian setengah ulat  setengah kupu-kupu? Coba lihat diri kita sendiri, hitung aja semenjak kita  baligh sampe puasa ramadhan tahun ini, sudah berapa tahun kita  puasa? Adakah perubahan yang signifikan terjadi pada diri kita dari tahun  ke tahun? Adakah setiap pasca ramadhan yang dilalui, kita tambah dekat  dengan Allah swt?

Yuk, koreksi diri! Menyesal Aja Nggak Cukup Ramadhan bakal kita temui lagi tahun depan. Itu juga kalo Allah swt  masih ngasih kesempatan kita untuk menambang pahala di bulan mulia  itu. Sayangnya kita nggak akan pernah tahu, apakah kesempatan itu bakal  datang untuk kedua kalinya. Makanya dijamin nyesel banget deh kalo kita  nggak bener-bener memanfaatkan ramadhan kemaren sebagai ajang  memanen pahala dan mengokohkan keimanan. Karena kebaikan di bulan  Ramadhan sangat berlimpah dan tak tertandingi. Rasul saw mengingatkan  dalam sabdanya, “Seaindainya manusia mengetahui kebaikan-kebaikan  bulan Ramadhan, niscaya mereka mengharapkan sepanjang tahun adalah  bulan Ramadhan” (HR. Ibn Abi Dunya)

Tanpa menafikan rasa gembira pasca ramadhan dan bertemu  dengan hari raya, tapi baiknya perasaan kita harus tawazun (seimbang).  Pada saat rasa suka ria menyambut idul fitri, perjalanan Ramadhan juga  patut kita instropeksi. Apa pentingnya? Puenting banget dong.  

Pertama, jika kelak Allah masih memberi kesempatan kita  bertemu Ramadhan lagi di tahun-tahun berikutnya, kita bisa  lebih optimalkan ramadhan untuk mendulan pahala dan  mengokohkan iman.

Kedua, sebagai bentuk evaluasi biar kita  bisa segera manfaatkan waktu untuk lebih joss lagi  mengokohkan iman pasca ramadhan. Buat modal menghadapi  godaan setan di sebelas bulan berikutnya. Jangan sampe ada  waktu kita terbuang percuma! Bukan apa-apa, sungguh amat sangat terbatas jatah waktu  yang Allah berikan kepada diri kita. Sudah seharusnya setiap  detik waktu kita jangan dibiarkan berlalu sia-sia.

Tahu nggak sih,  seandainya 5 menit aja waktu kita sia-siakan misalnya, maka  setahun ada 1.825 menit setara 30,42 jam waktu yang terbuang.  Kalo usia kita misalnya 60 tahun, maka ada 1.825 jam atau 76  hari yang terbuang percuma. Astaghfirullah! Demikian pula yang udah ngerasa mengandalkan ibadah  sholatnya ternyata itu nggak cukup.

Coba kita hitung shalat wajib  5 waktu kita, kalo rata-rata sekali shalat butuh 5 menit, maka  sehari 25 menit. Kalo setahun ada 9.125 setara 152 jam atau 6,3  hari saja untuk shalat. Kalo jatah usia kita 60 tahun, maka untuk  ibadah hanya memerlukan 9.125 jam, atau setara dengan 380,2  hari atau 12 bulan atau satu tahun. Padahal untuk mengobrol  saja memerlukan waktu 5 tahun. Coba bandingkan dan hitung  sendiri, dengan waktu tidur atau istirahat normalnya orang  dewasa yang 8 jam sehari.

Tuh, kira-kira sebanding nggak? Bukan berarti nggak boleh tidur atau istirahat. Pastinya kita  butuh untuk istirahat, tidur, ngobrol, nonton, dan sebagainya.  Tapi sekali lagi baiknya, kita tawazun (seimbang) dalam mengatur  waktu harian kita. So, kalo kita udah nyesel ditinggal ramadhan,  maka jangan biarkan 11 bulan berikutnya ikut menyesal. Ayo  manfaatkan waktu, untuk meningkatkan kualias hidupmu! Ready To Fight Allah berfirman: ” Jika engkau telah selesai  melakukan sesuatu maka kerjakanlah yang lain” (QS. Al  Insyirah 8).

 Ibarat seorang petarung, setelah selesai satu  pertandingan, maka dia harus siap bertemu dengan  pertandingan selanjutnya. Ramadhan memang telah berlalu, tapi  di depan masih ada ‘pertarungan’ atau ‘pertandingan’ lain yang  harus siap kita hadapi. Bahkan bisa dibilang, pertandingan pasca  ramadhan ini lebih dahsyat. Kenapa gitu? Iya, kalo pas  ramadhan kita mau sholat banyak temannya, mau puasa ada  barengannya, mau sanlat nggak sedikit yang ikut, mau tilawah dapat  suasananya, tapi beda banget, pemandangan kayak gitu, sulit  ditemui selain Ramadhan.

  Itulah konsekuensi hidup di lingkungan sekular, ketika agama  dan ketaatan seakan hanya diperlukan di mesjid, keshalihan seakan  hanya pas ramadhan saja. Selepas ramadhan, selesai pula ketaatan,  keshalihan itu. Hemm, ironis memang. Semua kembali ke alam  sekulernya masing-masing.  

Nah, buat yang nggak mau rugi dari sisi waktu dan usia, serta  ingin berkomitmen menjaga semangat ramadhan agar selalu  menyala setiap bulannya selepas ramadhan, maka lakukan tiga  langkah berikut. Pertama, jika kita sudah ngeh bahwa hidup ini  selalu berhadap-hadapan dengan resiko, termasuk hidup di alam  sekular seperti saat ini, maka yang kita butuhkan sekarang adalah  menyiapkan tameng alias tembok untuk melindungi diri agar tidak  terkena virus sekular.

Tameng itu apa? Tentunya aqidah Islam yang  merupakan pondasi sekaligus kontrol dari setiap aktivitas kita. Kita  kudu fighting spirit mencari tahu seperti apa aqidah Islam yang  shahih, yang bisa menjadi pelindung keislaman kita. Kedua, setelah tameng itu kita dapatkan, berikutnya kita  butuh sikap istiqomah untuk memegang tameng pelindung itu.  

Sementara untuk bisa teguh memegang tameng tersebut, hanya  bisa didapatkan kalo kita berada dalam ‘iklim’ yang konstan. Maka  berteman dengan siapa itu sangat menentukan naik-turunnya  semangat kita memegang tameng tadi.

Pilihlah teman yang baik,  jika kita ingin menjadi orang baik. Pilih teman yang shalih, jika kita  ingin menjadi orang shalih. Pilih teman yang istimewa, jika kita ingin  menjadi orang istimewa. Ketiga, kita tidak boleh menyerah menyaksikan betapa  sekularnya lingkungan sekitar kita, tapi justru jika kita ingin  istiqomah memegang tameng tadi, maka kita harus merubah  lingkungan sekitar kita agar kita berasa ‘nyaman’. Sehingga mulai  dari lingkup keluarga, masyarakat dan negara yang sekarang kita  huni, harus kita ubah (baca: dakwahi). Berani mencoba? [LBR]

Agar semangat Ramadhan tetap menyala pasca ramadhan, maka jadikan aktivitas pilihan selama ramadhan kemarin, sebagai rutinitas (habits). Caranya?

  1. Jika Ramadhan, kita sudah dilatih puasa, maka jangan tinggalkan kebiasaan itu dengan tetap puasa sunnah. Seperti Senin-Kamis, puasa Daud, atau puasa tengah bulan. Dan yang terdekat, puasa enam hari di bulan Syawal. Don’t Miss It!
  2. Jika Ramadhan, kita rajin ke tarawih dan mampu bangun malam untuk qiyamul lail, maka jangan sia-siakan semangat itu. Tetaplah sedikit demi sedikit jadikan sholat sunnah seperti tahajud, taubat, hajat, dhuha sebagai daily acitivity.
  3. Jika Ramadhan, bacaan qur’an kita jadi sering, maka komitmenkan setelah ramadhan untuk terus menjaganya dengan misalnya mentarget 1 hari 1 ayat 1 hafalan. Syukur bisa bersamaan dengan tafsirnya.
  4. Jika Ramadhan, aktivitas dakwah kita kenceng, agar Ramadhan tahun depan lebih kenceng, maka setelah ramadhan kali ini, kita harus meningkatkan kapasitas, 1% per 1 hari. Jika ramadhan ini hanya mengisi kajian dalam skup kecil, maka tahun depan kita harus berani berdiri di podium untuk menyampaikan ceramah. Oke? Dicoba ya. Tetep semangat! [LBR]

Majalah Drise edisi 23 : HUBBUL WATHON MINAL SOCCER

“Some people think football is a matter of life and death. I

assure You, it’s much more serious than that,”[Bill Shankly,

mantan manajer sukses Klub Liverpool].

olah raga apa yang hampir disukai semua orang?  Jawabannya pasti sepakbola alias soccer binti footbal. Ya,  sepakbola dengan segala tetek bengeknya menjadi olah  raga favorit di seluruh dunia.  Mulai dari anak sekolah sampe yang  udah kuliah. Dari yang ingusan sampe yang ubanan.

Nggak cuman  cowok, kaum cewek juga ikut ambil bagian. Situs most-popular.net  (2006, March 20) berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh  Fédération Internationale de Football Association (FIFA) pada  tahun 2001 menyatakan bahwa sepakbola adalah olahraga paling  populer dimainkan hari ini. Survei ini menunjukkan bahwa lebih  dari 240 juta orang memainkan olahraga sepakbola di lebih dari  200 negara di hampir setiap bagian dari dunia. Mantabs! Jumlah para bola mania akan otomatis membengkak  menjelang hajatan gede-gedean seperti Piala Eropa 2012 yang  akan digelar Bulan Juni mendatang di Polandia dan Ukraina.  

Pastinya bola mania nggak bakal melewatkan agenda dua tahunan  ini. Berita absennya Bek Barcelona, Carles Puyol dan stiker Davil  Villa tentu sangat disayangkan para pendukung negeri matador.  Serunya pertandingan di grup B yang disebut-sebut sebagai ‘grup  neraka’ tentu bakal jadi big match di layar kata. Lantaran di situ  bercokol negara-negara kandidat juara seperti Jerman, Belanda,  Portugal, serta Denmark. Buat yang menjagokan Inggris pun jadi  agak sedikit galau, karena beberapa pemain andalan juga absen  seperti Chris Smalling, dan gelandang Tottenham Hotspurs Scott  Parker. Bahkan Rio Ferdinand juga dikabarkan juga akan absen.  

Wah, alamat rapuh tuh pertahanannya.  Pada bulan Juni ini, Piala Eropa lagi jadi trending topic di  dunia maya dan dunia nyata. Perhatian masyarakat dunia tersedot  ke Polandia dan Ukraina. Kebayang dong kalo semua energi  masyarakat dunia tersedot ke turnamen sepakbola, urusan yang  lain nggak bakal dilirik. Berabe nih urusannya. Lantaran hidup  bukan cuman buat melototin si kuilt bundar. Masih banyak urusan  yang lebih penting dari sepakbola. Apalagi bagi umat Islam. Bisa-bisa pada lupa dengan keadaan umat Islam yang lagi dijajah secara  pemikiran dan budaya seperti kedatangan si Lesbi Irshad Manji dan  si pemuja setan, Lady Gaga.  

Sialnya, hipnotisme sepakbola seperti piala eropa dan piala  dunia bakal sering kita temuin 2 tahun sekali. Kita bukan mau  ngobrolin panjang perkara kerusuhan yang kental dalam hajatan  sepakbola atau euforia masyarakat dunia menyambut pagelaran  Piala Eropa. Kita mau ngajak driser nyadar bin ngeh dengan  sebuah permainan terorganisir seperti sepakbola yang ditujukan  untuk melenakan bahkan menjauhkan kaum muslim dari Islam.  

Loh? Apa indikasinya? Jangan main tuduh gitu dong ! Nggak, kita nggak main tuduh. Event bola seperti Piala  Eropa, Piala Dunia, Liga Champions punya ‘hidden agenda’. Kalo  kita jeli, ‘bola’ itu dijadikan alat yang dipakai musuh-musuh Islam,  agar umat muslim dibuat sibuk dengan urusan bola yang  akhirnya satu sama lain jadi terkotak-kotak, tersekat-sekat dalam  fanatisme sempit. Ini bisa disimak dalam buku rencana- rencana  Zionisme menguasai dunia atau Protocols of Zion poin ke 13 yang  diterbitkan Prof. Sergyei Nilus di Rusia tahun 1902. Yang isinya:  “Protokol 13 : Untuk melengkapi usaha-usaha memonopoli dan  mempercepatkan proses keruntuhan kaum industrialis dari  kalangan bukan Yahudi, di samping terus mendorong adanya  spekulasi itu, maka bangsa Yahudi menyebarkan projek-projek  kemewahan, badan pertunjukan di kalangan bukan Yahudi  kerana semuanya ini akan menelan kekayaan mereka.

Untuk  mengalihkan perhatian orang-orang bukan Yahudi dari  memikirkan persoalan politik, maka agen-agen Yahudi hendaklah  membawa mereka kepada kegiatan-kegiatan hiburan, olahraga,  pesta-pesta, pertandingan-pertandingan kesenian, kebudayaan  dan lain-lain lagi” . Tournament sepakbola dipelihara oleh musuh-musuh  Islam. Padahal, sudah banyak korban berjatuhan dalam  permainan sepakbola. Di Mesir diperkirakan 74 orang tewas dan  248 cedera setelah penggemar sepak bola berdesak-desakan  turun ke lapangan saat tim tuan rumah menang mendadak atas  klub utama Mesir di kota Port Said, Kamis, 02/02/2012  (syabab.com).

Bagaimana di negeri OVJ? Hmm..gak jauh beda. Fanatisme  yang berlebihan dari oknum The Jak Mania pendukung Persjia,  Bonek dari Surabaya, atau Viking Bandung sering mewarnai  kerusuhan sepakbola kita. Sekali lagi, kita melihatnya bukan hanya  karena kerusuhan, sebab kalo itu fokusnya, berarti kalo nggak  rusuh berarti nggak masalah.

Nggak, bukan itu pembahasan kita  kali ini.  Makanya kita melihat kompetisi sepakbola sebagai sebuah  masalah mendasar. Karena permainan sepakbola telah menjadi  permainan yang melenakan kaum Muslim di seluruh negeri Islam.  Kaum muslim yang harusnya menunjukkan perhatian penuh  terhadap perjuangan untuk meninggikan agama mereka, malah  sebagian para pemuda Muslim digiring ke dalam kehidupan yang  melenakkan. Nggak mau peduli dengan kondisi umat Islam yang  terpuruk.  Kalo kita mengaku sebagai muslim harusnya kita ingat  dengan sabda Rasulullah Saw “Barangsiapa bangun di pagi hari  dan perhatiannya kepada selain Allah, maka ia tidak berurusan  dengan Allah. Dan barangsiapa yang bangun dan tidak  memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk  golongan mereka (kaum muslimin).” (HR. Hakim dan Al Khatib dari  Hudzaifah ra.)

Permainan sepakbola yang terorganisir banyak menyita  waktu, tenaga, harga, dan perhatian umat Islam. Para bola mania  ‘dipaksa’ untuk masuk dalam ikatan nasionalimse (ashobiyah)  pemecah belah umat. Rasulullah Saw ngingetin kita: “Bukan  termasuk golonganku yang menyeru kepada Ashobiyyah  (kelompok/suku/bangsa), berjuang untuk Ashobiyyah dan mati  diatas Ashobiyyah” (HR. Muslim) Kita yang seharusnya memperhatikan urusan kaum  muslim, jadi terlena dan hanya fokus pada pertandingan bola,  pemain bola, berita seputar bola, sampai jadi fans fanatiknya.  

Akibatnya,  kepedulian kita terhadap Islam dan kaum muslimin jadi  terbengkalai bin terabaikan. Kewajiban seperti sholat jadi  ketinggalan gara-gara urusan nonton bola atau membela tim  kesayangannya. Kewajiban dakwah, nggak kita jalankan, malah  membiarkan pelanggaran hukum syara’ karena menonton dan  menampakkan aurat. Nggak melakukan syiar Islam, malah  melakukan syiar kekufuran berupa ashobiyah dengan atribut-atributnya. Inilah hasil dari sebuah hipnotisme sepakbola! Untuk sepakbola, sebatas suka dan menjadikannya sebagai  salah satu hiburan (ingat lho ya, salah satu hiburan), bisa dan  Ashobiyah Harus Punah! boleh-boleh aja. Tapi, sekali lagi jika kita kemudian terhanyut  dalam arus ‘permainan terorganisir’ tadi, dengan menjadi fans  fanatiknya, ngebelain timnya sampe ke stadion, apalagi sampe  anarkis dan lain sebagainya, kayanya nggak bisa ditolelir. Itu udah  nunjukkin kita terkena wabah ashobiyah alias fanatisme.  

Ikatan ashobiyah, salah satunya nasionalisme ikut  menjerumuskan kita pada kehancuran. Coba perhatikan, negeri  kita yang mayoritas muslim menjadi terkotak seperti sekarang ini  karena nasionalisme. Sehingga kalo tim sepak bola negeri kita  berhadapan dengan salah satu negeri muslim, seperti Malaysia  misalnya, maka kita akan terkotak dan membela negeri kita,  padahal bisa jadi yang bertanding, pemainnya, pelatihnya adalah  orang-orang muslim.  

Itu baru satu pertandingan bola, belum pertandingan yang  lain. Itu baru antar negara tetangga, gimana kalo tingkatannya  dunia? Maka negeri muslim yang sekarang terpecah menjadi 50  negara lebih, akan berlomba-lomba dalam kekufuran (ashobiyah),  bukan berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot). Imam  Ali ra mengingatkan, “Kejahatan yang terorganisir akan  mengalahkan kebaikan yang tak terorganisir” Saatnya, kita sadari bahwa selama ini umat Islam sudah  tersekat-sekat dalam kotak kebangsaan nasionalisme (ashobiyah)  yang dilarang oleh Rasulullah Saw. Akibatnya, kita tidak bisa bahu  membahu, tolong menolong dengan saudara kita di negeri yang  lain, karena sekat nasionalisme. Sedih mode: ON!

Driser, kalo udah nyadar hajatan sepakbola bisa bikin kita  terlena, segera hentikan diam kita. Udah dari sononya kalo  sepakbola bakal menuntut para pecintanya untuk menumbuhkan  kecintaan pada tanah air atau daerah sejadi-jadinya. Yup, hubbul  wathon minnal soccer alias cinta tanah air adalah bagian dari  sepakbola. Saatnya kita kampanyekan pada umat Islam  untuk  meninggalkan nasionalisme dan mengubur ikatan ashobiyah biar  punah. Lalu bersama-sama berjuang untuk mengembalikan  eksistensi daulah khilafah Islamiyah yang akan menyatukan negeri-negeri Muslim yang terpecah-belah karena ikatan nasionalisme  dan ashobiyah. Lakukan mulai sekarang. Go! [LBR]

Waspada bahaya asobiyah

(1) Kita tidak akan pernah bersatu, dengan ikatan Nasionalisme  karena ikatan itu lemah, yang dengan ini kita tidak akan pernah  bangkit dari keterpurukan. Dengan ikatan ini, kita berhasil  dijebak dalam jerat musuh-musuh Islam, dan kekuatan Islam  nggak diperhitungkan lagi oleh musuh-musuh Islam.   

(2) Kekuatan Islam ada pada aqidah Islam, itulah yang dulu  pernah menyatukan kaum muslimin dan juga melindungi non  muslim. Aqidah Islam juga yang membuat Rasulullah Saw bisa  mempersatukan kaum Anshor dan Muhajirin, dan mereka  memegang teguh Al-Qur’an dan as Sunnah.

(3) Dari Jabir bin Abdullah r.a. berkata, “Kami berperang bersama  Rasulullah saw, kaum muhajirin berkumpul bersama Rasulullah  saw. sehingga mereka banyak. Dalam rombongan muhajirin  ada seorang lelaki yang suka berkelakar. Ia memukul pantat  seorang anshar.

Maka marah besarlah orang anshar itu  sehingga keduanya saling memanggil temannya. Si anshar  berteriak, ‘Hai orang-orang anshar!’ Sedang si muhajirin  berseru, ‘Hai orang-orang muhajirin!’ Maka Rasulullah saw.  pun keluar dan berkata, ‘Mengapa harus ada seruan ahli  Jahiliyah? Kemudian Rasulullah saw. bertanya, ‘Ada apa  gerangan dengan mereka?’ lalu diceritakan kepada beliau  tentang seorang muhajirin yang memukul pantat seorang  anshar. Maka Rasulullah saw. bersabda, ‘Tinggalkanlah seruan  Jahiliyah itu karena ia amat buruk’!” (HR Bukhari ).