Majalah Drise edisi 31 : KENALI MIMPI BESARMU

Penggalan lagu ‘Cita-Citaku’ yg disuarakan oleh boneka Susan  Ria Enes di atas cukup populer di tahun 90-an. Pas banget  Pdengan bahasan Drise kali ini. Yup, sedari kecil kita sering kena  tembak pertanyaan soal cita-cita.

Kepo banget tuh orang tua,  paman, bibi, atau tetangga yang tanya-tanya soal cita-cita kita kalo  gede nanti. Padahal kan gak ada ngaruhnya buat mereka.  Hehehehe… Eits, jangan salah lho. Kalo dari kecil kita udah bisa jawab cita-cita yang mau dicapai, setidaknya udah punya bayangan masa depan  mau diukir seperti apa. Coba bedakan anak yang sudah punya cita-cita dengan yang tidak, perilakunya lebih terarah yang punya cita-cita.

Makanya di tingkat sekolah taman kanak-kanak, para playboy  and playgirl, maksudnya cewek-cowok yang suka bermain,  dikenalkan lebih jauh tentang profesi dan seluk-beluknya. Biar  mereka punya bayangan lebih jelas, kelak mau jadi seperti apa  setelah besar nanti.  Kalo driser hari gini gak punya cita-cita alias mimpi  besar, kebangetan. Tengsin ama anak TK dong yang jawab  cepat tapi asbun alias asal bunyi. Gak papa kok kalo saat  kita ngasih jawaban soal cita-cita loadingnya lambretta kaya  prosesor intel 486 jaman Bill Gate ingusan. Itu karena orang  yang sudah gedean, cara berpikirnya udah lebih maju  dibanding anak kecil. Apalagi saat ditanya tentang masa  depan.

Nggak cuman asal jawabnya. Tapi juga mesti ikut  mikirin gimana cara mencapainya? Terus apa yang mau  dikerjain kalo udah tercapai? Yup, pertimbangannya lebih  panjang dan lengkap untuk urusan bingkai masa depan  yang mau diukir. Driser, udah dapat mimpi besarnya?

Pentingnya Punya Mimpi Besar Mungkin masih ada teman-teman kita yang  mengabaikan pentingnya punya mimpi, apalagi mimpi  basah, eh mimpi besar. Mungkin mereka belon kepikiran  untuk punya mimpi, karena memang nggak ada yang ngasih  tau tentang pentingnya mimpi. Atau mereka masuk dalam  komunitas fatalisme alias orang-orang yang memasrahkan  hidupnya mengalir gitu aja. Buat apa punya mimpi, toh  hidup akan mengantarkan mereka pada keberhasilan atau  kegagalan dengan sendirinya.

Gitu kata mereka.  Driser, kita berdoa semoga temen-temen nggak ada  yang masuk dua kategori di atas ya. Beneran karena  mengenali mimpi besar kita, bukan cuman penting, tapi  puenting buanget..! 😀 Mimpi besar itu adalah sebuah  energi yang bisa menggerakan seseorang untuk meraih  cita-cita dengan segala keterbatasannya. Kalo diibaratkan,  mimpi besar itu seperti ambisi pemain sepakbola yang  berkeinginan melesakkan goal ke gawang lawan. Dia akan  berusaha sekuat tenaga melewati hadangan pemain  bertahan, bersinergi dengan kawan, dan mengarahkan  tembakan ke sudut yang sulit dijangkau penjaga gawang.  Jadi mimpi besar itu secara otomatis memompa dan  memotivasi seluruh sumber daya yang dimiliki seseorang  untuk tujuan hidupnya.

Jadi bisa dibayangin kalo seseorang nggak punya  mimpi besar alias big dream? Hidupnya dijamin garing bin  kering kerontang. Nggak ada semangat untuk menjadikan  dirinya lebih hebat. Hidupnya nggak terarah atau malah  nggak punya tujuan mau dibawa ke mana endingnya.  Tinggal tunggu mati aja. Padahal tanpa mimpi, kita  bagaikan mayat hidup. Jasadnya ada tapi tanda-tanda  kehidupannya nol. Yup, nggak punya mimpi membuat  hidup kita tidak bergairah. Lemah syahwat bin loyo  semangat.

Hanya mereka yang punya mimpi besar  hidupnya punya nilai tambah dan bergairah.  Syahid Hasan Al Banna pernah menyatakan  “kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin dan  kenyataan esok hari adalah mimpi hari ini” artinya apa  yang kita dapatkan sangat ditentukan dengan mimpi-mimpi  kita. Karena mimpi-mimpi kitalah yang akan menggerakkan  

langkah kaki untuk menempuh jalan hidup yang  mendekatkan kita pada raihan mimpi. Mimpi kitalah yang  menjadi amunisi untuk membakar semangat kita menjalani  kehidupan. Karena ada target yang ingin dicapai.  Temukan Mimpi Besarmu Tentu aja bukan hanya mimpi yang sifatnya materi  atau yang hanya berorientasi pada kesenangan duniawi.  Sebuah mimpi besar seorang muslim harus tembus sampe  akhirat dan berdimensi ‘kemanfaatan’ bagi orang banyak.  Karena mimpi seorang muslim itu harapan sekaligus doa.  

Maka dengan selalu menautkan mimpi besar kita kepada  idraq sillah billah (kesadaran hubungan kita dengan Allah),  menjadikan mimpi besar kita mulia sehingga penting dan  kudu binti harus untuk segera terwujud. Boleh aja kita menginginkan sukses harta, tahta,  keluarga, dunia, tetapi tetap harus direm biar nggak  kebablasan. Selalu bertanyalah pada dua hal “apakah  keinginan itu bertentangan dengan Islam?”, dan “apakah  keinginan itu berdimensi akhirat atau nggak?”.

Yup,  pertanyaan itulah yang akan mengendalikan sekaligus  mengarahkan kemana mimpi besar  kita akan kita bawa. Sahabat Rasul Saw seperti  Mushab bin Umair, telah  menggadaikan hidupnya untuk  menempuh mimpi besarnya  berkontribusi dalam dakwah  Islam. Mushab adalah simbol  cowok ideal. Udah kaya, ganteng  pula, trus juga cerdas dan dari  keturunan bangsawan. Tapi bukan itu semua yang  mempesona dari seorang Mushab. Karena setelah Mushab  kenal Rasulullah Saw dan masuk Islam, Mushab  meninggalkan semua atribut dunia tadi dan rela  dihapuskan namanya dari garis keturunan keluarga  Konglomerat Umair. Sejarah mencatat dengan kecerdasan  dan kegigihannya, Mushab berhasil mengislamkan  pimpinan dua suku besar di Madinah Aus dan Khazraj, serta  membawa mereka untuk membela Rasulullah Saw.

Dari  sinilah berawalnya pendirian negara Islam di Madinah.  Selain Mushab, ada Muhammad al-Fatih, yang  mempunyai mimpi besar menaklukkan Konstantinopel. Al-Fatih yang hidup ratusan tahun setelah masa Rasulullah,  tapi mimpi besarnya terinspirasi dari hadits Rasulullah Saw  tentang penaklukan dua kota, Roma dan Konstantinopel.

 Guru beliau Aa’ Syamsudin pun selalu mendengungkan  tentang hadits itu ke telinga al-Fatih, bahwa dirinyalah sang  penakluk itu. Maka al-Fatih pun memantaskan diri menjadi  sang penakluk, mulai dari belajar mengatur strategi,  melatih pasukan unggulan, serta juga membina  nafsiyah/kejiwaan beliau dan pasukannya. Hasilnya, pada  tahun 1453 M, kota Konstantinopel yang saat itu jadi  simbol peradaban Romawi Timur, takluk dibawah tangan  seorang pemuda berumur 24 tahun! Inspirasi pencapaian mimpi besar juga kita bisa ambil  dari kisah Syaikh Abdurahman As-Sudais imam Masjidil  Haram.

Ternyata Ibu Syaikh Abdurrahman As-Sudais selalu  menanamkan dan mengarahkan mimpi besarnya itu kepada  anaknya. Ibunya sering mengingatkan, “Wahai  Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah,  kamu adalah Imam Masjidil Haram…” “Wahai  Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam  Masjidil haram…” Wahai Abdurrahman,  jangan malas menghafal kembali  hafalan harianmu, bagaimana kamu  bisa menjadi Imam Masjidil Haram bila kamu malas?”  Akhirnya, Syaikh Abdurrahman As-Sudais kini menjadi  imam Masjidil Haram. Dan menjadi salah satu ulama besar  yang disegani di dunia Islam. Driser, semoga kisah inspiratif dari periode yang  berbeda di atas bisa merangsang kita untuk menemukan  mimpi besar pribadi.

Nggak usah takut punya mimpi besar,  toh nggak kena biaya ini alias gratis. Kenalilah mimpi  besarmu dan jadikan target pencapaian dalam kehidupan.  Bayangkan jika mimpi besar itu tercapai, berapa banyak  orang yang akan mendapat manfaatnya. Indah tenan! Pantaskan Diri Yuk! Jika sudah kenali mimpi besarnya, jangan lupa  pantaskan diri untuk meraihnya.

Yup, mimpi akan mampu  kita wujudkan kalo kita memang pantas untuk  menerimanya. Ikuti deh kisah orang-orang hebat yang  berhasil wujudkan mimpi besarnya. Semua nggak ada yang  berdiam diri nunggu keajaiban datang lalu sim salabim  mimpinya terwujud. Halah..itu mah cuman ada di negeri  dongeng. Yang ada, orang-orang hebat itu memantaskan  diri sebelum impiannya terwujud.  Memantaskan diri berarti mendekatkan kehidupan  kita pada raihan mimpi. Muhammad al-Fatih memantaskan  dirinya menjadi penakluk Konstantinopel. Sedari kecil  diajarkan semua hukum Islam.

Terutama yang berkaitan  dengan militer, strategi perang, alat bersenjata, hingga  hukum Islam seputar peperangan. Tak lupa beliau juga  dibekali dengan penguasaan bahasa selain bahasa Arab.  Ditambah polesan nafsiyahnya sehingga getol bertahajud,  ibadah sunnah dan menjauhi perilaku maksiat. Lalu  ditularkan kebiasaan positifnya itu pada pasukannya. Allah  pun meridhoi mimpi besarnya, memudahkan jalannya,  menunjukkan jalan keluar baginya, dan Konstantinopel pun  takluk di tangannya. Itulah sebuah kepantasan diri.

Driser, saatnya mengenali mimpi besarmu dan  memantaskan diri untuk meraihnya. Jangan biarkan hidup  kita tak bermakna. Tinggalkan jejak manfaat di muka bumi  sebelum kita meninggal nanti. Sudah seharusnya remaja-remaji Islam, punya mimpi besar. Mimpi yang akan selalu  bikin kita semangat untuk selalu dan terus menebarkan  kebaikan serta manfaat di muka bumi ini. Mimpi besar yang  akan mendongrak produktifitas kita dan mengoptimalkan  segala sumber daya yang kita punya. Kenali mimpi besarmu  dan wujudkan untuk mengembalikan kejayaan Islam dan  kaum Muslimin! [follow @LukyRouf]

MAJALAH DRISE EDISI 30 : MENGUAK MITOS CANTIK

cantik! Cewek mana yang nggak pengin tampil cantik? Hampir  semua kaum hawa kayaknya sepakat kalo tampil cantik itu  penting. Karena wanita dan kecantikan, dua sisi yang sulit  terpisahkan. Ya iya dong, mana ada wanita ganteng! 😀  Makanya udah jadi budaya kalo sedari kecil, anak cewek digiring  untuk tampil cantik. Biar kalo udah gedean, tanpa diarahkan lagi mereka  bakal nyebur sendiri dalam dunia kecantikan. Sayangnya, seringkali  pendidikan tampil cantik buat anak cewek nggak diimbangi dengan fakta  sebenarnya tentang kecantikan itu sendiri. Walhasil, banyak remaji yang  mati-matian tampil cantik tanpa filter alias semau gue. Perkara bener  atau kagak cara yang dipake, itu urusan belakangan.

Yang penting banyak  dilirik cowok idaman yang matanya jelalatan kaya tikus dalam kulkas  yang penuh makanan. 😀  Penampilan fisik yang sempurna adalah konsep kecantikan yang  dituhankan oleh ribuan majalah kecantikan, tren fashion dan foto model.  Remaji dibombardir gambaran wanita cantik secara fisik yang mengisi  setiap lembar majalah remaja dan tayangan layar kaca. Mulai dari tips  kecantikan hingga gaya hidup glamour yang melengkapi kehidupan para  wanita cantik. Model iklan dan selebriti dengan penampilan menawan  dijadikan panutan.

Akibatnya, remaji dengan mudah tergoda oleh  produk kosmetik dan kesehatan yang bisa bikin rambut mereka bebas  parkir, eh bebas ketombe, hilang bau badan, atau wajah tambah  kinclong kaya lantai keramik yang baru dipel. Meski harganya selangit,  tetep dikejar biar tingkat kecantikannya melejit.  Perlahan, remaji berlomba-lomba tampil cantik dengan  menghalalkan segala cara. Aurat diumbar kemana-mana harga diri  digadaikan demi penampilan menawan. Udah nggak pake pertimbangan  norma atau aturan agama, semuanya dijabanin biar bisa selalu tebar  pesona.

Majalah, buku, acara teve yang membedah  kecantikan sudah jadi tuntunan. Sehingga untuk mengukur  benar-salah, baik-buruk tentang penampilan, kiblatnya  adalah kontes kecantikan atau trend fashion tahunan.  Walhasil kecantikan telah menjelma menjadi industri  yang mengeksploitasi pesona kaum hawa. Tubuh  perempuan jadi ruang pamer komoditas-komoditas  industri kecantikan. Dari ujung rambut sampe ujung kaki,  semua ada merknya. Cewek paling gak rela kalo yang lain  keliatan sempurna. ‘Kalo mereka bisa, kenapa gue  nggak…’, gitu pikirnya. Endingnya, diburu dan diborong  deh tuh beragam produk kecantikan. Serbuuu…!!!

Industri kosmetik di Inggris mampu meraup  penghasilan hingga 8,9 miliar poundsterling pertahun.  Sedangkan industri kosmetik Amerika Serikat mengalami  pertumbuhan rata-rata 10% setiap tahun. Sebuah artikel  di majalah Time pada tahun 1988 menunjukkan bahwa  industri makanan diet di AS berhasil mencetak angka  penjualan sampai sebesar 74 miliar dollar per tahun.  Sementara di dalam negeri, Penjualan produk kosmetik  nasional diprediksi mencapai Rp. 11,2 triliun pada tahun  depan atau tumbuh 10% – 15% dibandingkan dengan  omzet tahun ini yang diproyeksikan sebesar Rp. 9,76  triliun. (Bisnis.com, 16/10/12)

Selain mendongrak budaya konsumtif, mitos  kecantikan juga bikin para wanita merasa tertekan untuk  menjadi sempurna dalam setiap penampilannya.  Terutama dalam urusan berat badan, wanita sering  mengalami depresi. Ada kehawatiran berlebihan kalo  berat badannya nggak proporsional. Harusnya tumbuh ke  atas, ini malah melebar ke samping. Boro-boro tampil  sensual, yang ada dandanan seksinya malah bikin mual.  Mereka pun gencar mengatur pola makan dengan berdiet  ria. Survei yang dilakukan oleh Girl Guides  mengungkapkan hal tersebut. Dan, 75 % dari responden  wanita mengatakan, mereka harus menjalani diet ketat  untuk terlihat baik bagi orang lain, bukan karena alasan  kesehatan. (http://jerova.blogspot.com, 15/09/2010)

Hal senada juga pernah terungkap dalam sebuah survey  yang diadakan pada tahun 1984 oleh Fakultas Kedokteran  Universitas Cincinnati terhadap 33.000 orang perempuan  menunjukkan bahwa 75% dari kelompok usia 18 – 35 tahun  menganggap diri mereka terlalu gemuk, padahal hanya 25% di  antara mereka yang secara medis dipandang kelebihan berat  badan. Sementara itu, 45% perempuan yang berat badannya  kurang beranggapan bahwa mereka terlalu gemuk.  Gencarnya masalah kecantikan yang menyerang kaum hawa,  telah membuat para ilmuwan dan dokter merumuskan suatu  istilah “Body Dysmorphic Disorder.” Istilah ini menggambarkan  suatu kondisi dimana seseorang memberikan perhatian yang  berlebihan atau tidak wajar terhadap suatu kekurangan dalam  penampilan fisik seseorang. Muncullah penyakit anoreksia dan  bulimia, diet ketat yang sering berujung maut. (Info lengkap baca  rubrik support bukamata).

Tekanan untuk  tampil sempurna bagi para wanita lebih  banyak akibat tergoda oleh penampilan foto model dalam iklan  kecantikan yang merajalela. Padahal kenyataannya, kecantikan  para model dalam media adalah sebuah rekayasa. Bob Ciano,  seorang mantan art director pada majalah Life, pernah  mengatakan, “Tidak pernah ada foto seorang perempuan yang  tidak dimanipulasi. Dalma Heyn, yang pernah menjadi editor dua  majalah perempuan, mengatakan bahwa proses airbrushing dari  wajah perempuan merupakan suatu hal yang rutin dilakukan. Jadi  kalo selebriti tampil cantik, wajah bebas dempul, rambut hitam, di  layar televisi, aslinya belon tentu. Lebih banyak hasil rekayasa  kosmetik dan komputer.  

So, hati-hati ya buat para remaji terjerumus mitos  kecantikan. Sikapi sewajarnya, jangan ampe kebablasan. Bukannya  tampil menawan, entar malah menuai masalah dan kekacauan.  Naomi Wolf, dalam bukunya The Beauty Myth menggambarkan,  mitos kecantikan itu seperti Iron Maiden, yaitu alat penyiksaan  yang terdapat di Jerman pada abad pertengahan.

Alat tersebut  berupa peti seukuran tubuh manusia yang bergambar anggota  tubuh dan wajah seorang perempuan cantik yang tengah  tersenyum. Korban penyiksaan pelan-pelan di masukkan ke dalam  peti itu, kemudian peti tersebut ditutup agar ia tidak dapat  bergerak. Demikian seterusnya sampai dia tewas karena  kelaparan, atau terkena paku logam yang ditanam di dalam peti tersebut. Iiih ngeri..!!

Cantik Boleh, Jahiliyah Jangan!

Bagi kaum hawa, boleh aja mau tampil cantik bin  menawan. Terlepas dari wajahnya emang eye catching  atau pas-pasan. Cuman satu yang harus dijadikan  pemahaman. Hidup bukan untuk mengejar pujian  kecantikan. Hati-hati dengan kampanye feminis yang  menjadikan kecantikan sebagai ukuran kemuliaan  perempuan. Germaine Greer, seorang feminis dan  penulis Barat, mengatakan dalam bukunya, “The Whole  Woman”,

“Setiap perempuan tahu bahwa sekalipun  mereka memperoleh berbagai prestasi, tetapi bila tidak  cantik berarti mereka telah melakukan suatu  kekeliruan.” Kalo kemuliaan perempuan diukur oleh kecantikan  dalam penilaian manusia, kasian yang punya wajah pas-pasan. Karena manusia berprinsip, cantik itu relatif tapi  jelek itu mutlak. Untungnya Allah swt Maha Adil. Rasul  mengingatkan dalam sabdanya, “Sesungguhnya Allah tidak  melihat fisikmu, tidak pula melihat rupamu, akan tetapi Allah  melihat hatimu.” (Riwayat Muslim)

Derajat kemuliaan seseorang bukan diukur dari cantik atau  tidaknya, tapi ketakwaan, perhatikan Firman-Nya: ”…  Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah  ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya  Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat 13)

Bagi yang merasa dirinya kurang cantik secara fisik, nggak  perlu minder. Santai aja dan  tetap harus disyukuri. Karena Allah  Swt, sudah menciptakan kita, sebaik-baik penciptaan: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk  yang sebaik-baiknya..” (QS. At-Tiin 4)

KULTWIT .#AkhwatCantikItu

1.#AkhwatCantikItu bukan yang bermahkota tergerai  indah, tapi mereka yang mau jaga diri untuk tidak  dijamah oleh lelaki jahiliyah.

  1. #AkhwatCantikItu bukan dilihat dari keelokan wajah, tapi air wudhu yang selalu membuat wajahnya basah.
  2. #AkhwatCantikItu tidak dilihat dari mata yang berbinar indah, tapi mata yang terjaga dari tatapan yang menghalanginya ke Jannah.
  3. #AkhwatCantikItu bukan mereka yang bertubuh semampai, tapi yang menutupi tubuhnya dengan hijab syar’i yang aduhai.
  4. #AkhwatCantikItu bukan terlihat dari suaranya yang merdu, tapi yang selalu melantunkan dzikir di malam syahdu.
  5. #AkhwatCantikItu bukan dilihat dari pandainya berbicara, tapi yang terjaga iffahnya ketika berbicara dengan lawan jenisnya.
  6. #AkhwatCantikItu tidak dinilai dari beraninya pamerkan betis, tapi wanita mulia adalah mereka yang tak mau ikuti langkah iblis. 8. #AkhwatCantikItu bukan yang pandai atau pantas  digoda, tapi mereka yang khawatir dirinya  mengundang orang untuk berbuat dosa. 9. #AkhwatCantikItu bukan yang pandai bergaul, tapi  yang bisa jaga diri dan kehormatan ketika bergaul. 10. #AkhwatCantikItu tak harus elok rupa, tapi ketika  berkaca, selalu lantukan doa “Allahumma kamaa  hasanta kholqi, fahassin huluqii”. ( follow twitter @LukyRouf )

MAJALAH DRISE EDISI 28 : CINTA KITA MEMANG BEDA

Menurut R. Graves dalam The Finding of Love, cinta  adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya  sehingga terlihat indah. Jalaluddin Rumi juga pernah  bersyair: “Karena cinta, duri menjadi mawar. Karena cinta, cuka  menjelma anggur segar…”.

Itu sebabnya, kalo Virus Merah Jambu  udah menginfeksi hati kita, perasaannya kok inget terus sama si  dia. Pengennya ketemu dan deketan terus. Sehari nggak ketemu  rasanya 24 jam, seminggu nggak ketemu rasanya 7 hari, sebulan  Januari nggak ketemu rasanya 31 hari. Hehehe…. Sebagian dari kita mungkin kabur memaknai cinta, sehingga  gelap mata. Saking cintanya, nggak bisa lihat kekurangan  pasangan atau kesalahan apa yang dilakukan.

Dunia serasa milik  berdua. Padahal bertiga sama setan. Dikiranya mengekpresikan  cinta, nggak tahunya malah mengumbar syahwat. Awalnya jalan  bareng, main bareng, nonton bareng, makan bareng, sampai tidur  bareng. Ih ngeri! Berawal dari pacaran yang menjadi ajang baku syahwat,  berakhir dengan perilaku maksiat. Data Badan Koordinasi  Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2010 menunjukkan, 51  persen remaja di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi atau  Jabodetabek telah berhubungan seks pranikah. “Artinya dari 100  remaja, 51 sudah tidak perawan,” kata Kepala BKKBN Sugiri  Syarief usai memberikan sambutan pada acara grand final Kontes  Rap memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI  Monas, Ahad (liputan6.com, 28/11/2012).

Maraknya gaya hidup seks bebas juga bisa dilihat dari data  remaja yang hilang kesuciannya. Data BKKBN tahun 2010, 54  persen remaja di Surabaya, Jawa Timur sudah kehilangan  kegadisan. Pun demikian juga di kota-kota lain, seperti di  Medan 2 persen dan di Bandung angkanya mencapai 47  persen. Ketika remaji hilang kegadisannya lalu hamil diluar  nikah, masa depannya seolah hancur. Bingung bin sutris  menghadapi keluarga, lingkungan, teman sebaya, atau  sekolah. Apalagi pacar yang katanya cinta banget, nggak  mau bertanggung jawab. Banyak alasan dilontarkan untuk  jaga jarak lalu menghilang ditelan bumi. Dalam tekanan  mental, remaji mudah tergoda ambil jalan pintas.

Aborsi  bagi yang tidak menginginkan jabang bayi lalu menjual  diri karena ngerasa sudah tidak suci. Parah tenan iki! “Dari 2,5 jutaan pelaku aborsi, 1 – 1,5 juta di  antaranya adalah remaja.” kata Sudibyo Alimoesa, Deputi  Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga  (KSPK) BKKBN saat dihubungi detikHealth, Rabu  (30/5/2012). Sementara data Kementerian  Pemberdayaan Perempuan dan  Perlindungan Anak pada tahun 2008-2009, menyebutkan dari 40 ribu  sampai 70 ribu pekerja seks komersial  (PSK) di Indonesia, sekitar 30 persen  dilakoni anak-anak di bawah umur  yakni berusia di bawah 18 tahun.  

Waduh! “Wah kalo gitu dilarang dong  mengekspresikan cinta?” Enelan..?   Miapa..? nggak segitunya kalee. Cinta itu  anugerah. Jadinya harus disyukuri, bukan dihindari. Sehebat  apapun manusia, gak bisa menghindar dari rasa ingin dicintai  dan mencintai. Sudah fitrahnya bagian dari naluri melestarikan  jenis (gharizatun nau’).  Hanya saja perlu diingat, cinta bisa jadi berkah atau berbuah  masalah. Tergantung bagaimana kita mensikapinya.

Cinta yang  dibalut dengan hukum syara akan bernilai berkah. Sebaliknya,  cinta yang diekspresikan dengan aturan selain hukum Islam  seperti pacaran, cuman jadi sumber masalah. Gaya hidup sekuler  kapitalis telah menggiring remaja untuk mempersempit makna  cinta. Ketika cinta diobrolin, nggak jauh dari soal pacar, gebetan,  atau seluk-beluk kasmaran.  Padahal Allah swt. menciptakan rasa cinta dalam diri  manusia nggak cuma dalam rangka memadu kasih dua insan yang  lagi mabuk asmara.

Tapi bisa juga berupa cinta ortu kepada  anaknya, kakak kepada adiknya, dan pastinya suami kepada  isterinya.  Kalo bukan karena cinta, nggak akan mungkin seorang  bapak bekerja banting tulang, peras keringat untuk menghidupi  keluarganya. Pergi pagi pulang petang pala pening pantat pegel  penghasilan pas-pasan. Dia rela jadi tukang becak atau jadi  pemulung tanpa malu asalkan dapat fulus dengan jalan halal  supaya bisa menyambung hidup keluarganya. Malah nggak sedikit  yang saking cinta pada keluarganya, menghalalkan segala cara  agar anak istrinya tetep bisa makan atau malah hidup dalam  kemewahan.

Huuuu…yang kedua mah kebangetan! Demikian pula ibu kita. Cintanya nggak mengenal  kadaluarsa. Selalu on terus walau anak sudah berkeluarga. Coba  perhatikan Ibu hamil, selama sembilan bulan dia rela bersusah  payah mengandung anaknya. Seperti itulah Ibu saat mengandung  kita. Abis gitu, harus menyusui sampe dua tahun, mengganti  Cinta Kita Memang Beda popok kalo pas kita ngompol, atau menyuapi ketika makan. Coba  kalo ortu nggak cinta sama kita, mungkin begitu lahir kita  dibungkus tas kresek dimasukan tong sampah atau dibuang di  selokan. Iih..naudzubillah min dzalik!  Cinta kepada manusia di luar hubungan keluarga juga bisa  bemakna kasih sayang terhadap saudara seakidah yang  disetarakan dengan keimanan.

Seperti ditegaskan dalam hadis  Mutafaq ‘alaih. Nabi saw. ia bersabda: “Tidak beriman salah  seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya  sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Jadi nggak alasan bagi  seorang muslim cuek bebek dengan kondisi Muslim Palestina  yang terus dizhalimi bangsa kera Yahudi. Atau adem ayem aja  ketika warga Ibukota dan daerah lain ditimpa bencana.  Cinta bagi remaja muslim yang sholeh-sholehah bin unyu-unyu, memang beda. Nggak sesempit yang dimaknai orang  sekuler kapitalis yang menuhankan hawa nafsu.

Dan yang bikin  beda, cinta pada lawan jenis, cinta dalam hubungan keluarga, dan  cinta terhadap saudara seakidah, semuanya dibalut dalam ikatan  cinta Allah dan RasulNya. Sehingga tetap terjaga kemuliaannya.  Baik rasa cintanya maupun pengidapnya. Poll! Karena cinta dalam Islam seluas samudera, kita mesti  belajar menentukan skala prioritas. Bisa memilah dan memilih  mana yang pertama dan mana yang berikutnya. Biar ekspresi  cinta kita nggak salah kaprah terus jadi masalah. Berabe khan? Prioritas pertama dan utama, cinta kita berikan pada Yang  Maha Kuasa. Eits, ini bukan cuman lips service alias formalitas  belaka yang dipakai untuk mengisi timeline sosial media. Demi  meraih banyak follower atau menampung banjir jempoler. Tapi  bener-bener keliatan dalam dunia nyata.

Nggak usah bingung  bagaimana mewujudkannya. Allah Swt sudah menunjukkan  caranya dalam Al-Quran.   Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah,  ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al  Imron: 31) Ibnu Katsir Rohimahullah –berkenaan dengan ayat di atas-  berkata: “ayat ini menghakimi orang yang mengaku mencintai  Allah, setiap orang yang mengaku mencintai Allah tapi tidak di  atas jalan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka dia  Prioritas Cinta Kita telah dusta dengan pengakuannya, sampai mereka  mengikuti Muhammad dan agama Nabawi dalam semua  perkataan dan keadaannya”.  

Yup, cinta kepada Allah ditunjukkan dengan  mengikuti dan mengutamakan apa yang dicontohkan  Rasul saw. Bukan cuman dalam perkara ibadah, tapi  semua yang berkaitan dengan cara manusia memenuhi  kebutuhannya. Mulai dari berkeluarga hingga membangun  usaha.  Menurut al-Zujaj: “Cintanya manusia kepada Allah  dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridho  terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang  dibawa Rasulullah saw”.

Sehingga seorang hamba akan  bersegera memenuhi seruan-Nya. Meski harus ditukar  dengan cintanya pada anak-istri, keluarga, atau harta  benda.” Dari semua cinta yang kita miliki, pastikan cinta  kepada Allah dan Rasul-Nya menempati daftar utama  dalam kehidupan kita. Yang lainnya; cinta harta,  kendaraan, jabatan, status sosial, tempat tinggal,  perusahaan, barang dagangan, bahkan cinta kita kepada  keluarga, dan suami atau istri (bagi yang udah merit he..he..)  harus rela untuk ‘dikesampingkan’. Allah Swt. berfirman:

 “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara,  isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu  usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan  rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu  cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang  fasik.” (QS. At-Taubah: 24)

Driser, cinta pada Allah dan Rasul-Nya berarti menjadikan  hukum syara sebagai standar perbuatan kita. Sebelum berbuat,  cari tahu dulu boleh nggak dalam Islam. Ada nggak tuntunannya  dari Rasul. Kalo ternyata nggak boleh dan tak ada contohnya, kita   mesti ridho untuk meninggalkannya. Meski perbuatan itu umum  di tengah masyarakat atau malah jadi tren di dunia remaja, kaya  pacaran. Kalo kita tetep ngotot ngelakuin, jadinya kaya data di  awal tulisan ini yang bikin bulu kuduk gak kebagian tempat duduk  (maksudnya berdiri :D).  

Biar tahu mana perbuatan yang boleh dan nggak dalam  Islam, kuncinya kita mesti ngaji. Bukan sekedar baca quran, tapi  dibarengi dengan mengenal Islam lebih dalam. Selain bisa  menjaga perilaku kita, ngaji juga menguatkan kecintaan pada  Allah dan Rasul-Nya. Boleh aja cinta pada lawan jenis, asal siap  merit. Kalo belum siap, simpan dalam hati aja ala secret admirer-nya Laluna. Karena cinta kita memang beda, berarti siap  bergabung dengan komunitas Remaja Anti Pacaran (RAP).  Yuk![LBR]

MAJALAH DRISE EDISI 27 – GELIAT PARA PENIKMAT ISLAM DARI TRENDI HINGGA PENYEJUK HATI

wow..!!” MAJALAH DRISE EDISI 27 – GELIAT PARA PENIKMAT ISLAM DARI TRENDI HINGGA PENYEJUK HATI (tanpa koprol apalagi keliling lapangan sepakbola  Gelora Bung Karno), itu ungkapan takjub begitu lihat  ‘semangat kebangkitan’ Islam mulai muncul bak jamur di  musim hujan. Coba aja lihat, meski banyak kaum hawa  yang berlomba-lomba mengumbar aurat, tapi nggak  sedikit yang dengan berani menunjukkan identitasnya  sebagai muslimah, lengkap dengan kerudung dan  jilbabnya. Bahkan 4 September, di launching sebagai  

‘International Hijab Solidarity Day”. Mantabs! Semangat yang sama juga kita dapetin saat saat  tuduhan miring ditujukan kepada rohis sebagai sarang  teroris. Remaja en remaji muslim bahkan menggelar aksi  besar-besaran di bundaran HI, Jakarta. Dan kalau mau  ‘lebih dalam’ lagi menyaksikan ‘semangat kebangkitan’ itu  bisa dibuktikan dengan makin gencarnya pengajian yang  digelar di kampus, sekolah, hingga perkantoran. Kita harap  semangat itu terus menyala. Setiap saat.

 Jangan Cuman Semangat Dong!

Tapi tunggu, emang bener gejala maraknya busana  muslim dan aksi turun ke jalan itu menandakan  kebangkitan? Atau hanya perilaku para penikmat Islam aja.  Ups! Maaf ya, bukan bermaksud su’udzon atau meragukan  keikhlasan mereka yang ghirahnya lagi semangat dua  mangat. Tapi sekedar bentuk koreksian untuk kita bersama.  Biar bisa saling mengingatkan. Apakah fenomena  ‘semangat’ teman-teman kita itu bisa konsisten bin tahan  lama atau sementara? Sekali lagi lho ya, ini bukan  bermaksud mengolok-olok. Sebab kalo ‘semangat  kebangkitan’ itu hanya bertahan sebentar plus nggak  ‘tahan banting’ jadi kaya gelembung sabun. Keliatannya  besar, padahal dalemnya hampa bin kosong. Duar..! Ada beberapa faktor yang memicu semangat  kebangkitan umat Islam bak gelembung sabun. Yaitu: Pertama, bisa jadi ‘semangat’ yang dimiliki teman teman kita itu untuk jaga eksistensi. Persis kayak teman  kita yang aktif menggandrungi k-pop, terus menular ke  teman yang lain sehingga melahirkan demam k-pop. Ya,  nasib yang sama juga bakal dialami ajaran Islam kalo  cuman dijadikan sekedar trend. Lagi hot-hotnya isu Palestina, berbondong-bondong ikut aksi solidaritas biar eksis  dan diakui komunitas. Pasang profil  picture di BBM dan sosial media yang  mendukung perjuangan muslim gaza.  Aktif posting yang berkaitan dengan  Palestina.

Giliran gencatan senjata dan PBB  mengakui negara Palestina, kembali adem ayem.  Nanti kalo ada isu lain yang gak kalah hot-nya, ikut-ikutan lagi. Begitu seterusnya. Seolah Islam hanya  dipake buat tumpangan eksis di dunia nyata dan dunia  maya. Hadeuh..! Kedua, boleh jadi, apa yang sekarang dikenakan,  diperjuangkan tentang Islam, itu hanya sekedar symbol  alias formalitas belaka. Fakta ini bukan asal bunyi lho.  Dengan bermodal semangat berhijab, banyak muslimah  yang mengenakan penutup aurat sekenanya aja dan  cenderung ngikutin mode daripada ngikutin aturan yang  benernya. Sampe-sampe kebolak-balik pengertian antara  kerudung dan jilbab. Karena hanya modal semangat tanpa  dibarengi ilmu, pake jilbab dan kerudung pun nggak sesuai  tuntutan Islam. Ada yang pake jilbab ketat, dipadu dengan  legging, sementara kerudungnya pun dimodif jadi  kerudung punuk onta. Baru sekedar menutup aurat tapi  tidak menjaga aurat.

Berpakaian seperti telanjang! Ketiga, mungkin semangat yang dimiliki oleh teman-teman kita itu lebih karena cari penyejuk hati. Tahu sendiri,  ditengah demam galau yang mewabah di dunia nyata dan  dunia maya bisa bikin gerah. Kayanya adem kalo account  sosial media itu isinya yang islami dan menyejukkan hati.  Bukan curcol atau info gak penting lainnya. Nggak heran  kalo di facebook dan twitter banyak sekali yang nge-add  atau nge-follow akun-akun ‘islami’ dan ‘menyejukkan’.  Apalagi di dunia nyata banyak event  pelatihan/training islami yang menawarkan  kesejukan hati. Katanya biar seimbang,  nggak cuman cari duit melulu tapi juga cari  ridho Allah. Nggak heran kalo pelatihan  islami banyak digandrungi. Bener sih. Pas  ikut pelatihan, semangat keislamannya  berkobar, menangis karena penyesalan, dan  bertekad untuk tobat. Giliran kembali ke  kantor, kampus, atau sekolah, lengket lagi  kehidupan sekulernya. Sahabat, ngeliat ketiga faktor di atas  ngeri juga ya. Kapan sampenya Islam di garis  kebangkitan kalo kebanyakan umatnya  masih nyaman menjadi “para penikmat  Islam”. Yup, mereka PDKT dengan Islam  karena bermodal semangat, ngikutin trend,  pake symbol islam sebagai media eksistensi,  hingga ajang penyejuk hati. Sebagai awalan  sih bagus aja. Tapi kalo nggak dibarengi dengan mengenal  Islam lebih dalam terus dipraktekkin dalam keseharian,  belon afdhol! Jadi jangan hanya pake Islam yang ‘enak’,  ‘nyaman’, ‘sejuk’, ‘nikmat’ aja. Setuju?

Jadilah ‘Pendaki Sejati’ (The  Climbers)

Gampang banget kita mengukur tingkat keseriusan  seseorang terhadap kegiatan keislaman yang digelutinya.  Lihat aja gimana sikap doi ketika berhadapan dengan  tantangan yang berhubungan dengan keislamannya.  Awalnya bisa dimaklumi berbusana muslim semaunya  karena belum paham. Lalu setelah dikasih tahu yang  benernya, lihat deh sikapnya apa dia mau berubah menjadi  lebih syar’i dan konsisten menjaga auratnya atau tetap  dengan kondisi semula? Alhamdulillah banget kalo banyak remaja yang udah  pacaran tapi mau ikut ngaji. Setelah kenal islam lebih  dalam, lihat deh gimana sikapnya dalam menjaga  pergaulan dengan lawan jenis.

Segera memutuskan  pacarnya atau tetep menjaga jalinan asmaranya dalam  label pacaran?  Kita acungi jempol dengan antusias umat Islam yang  pada ikut pelatihan motivasi Islami. Semangatnya  menggebu-gebu saat pelatihan untuk ikut ambil bagian  dalam dakwah islam. Lalu coba perhatikan setelah  pelatihan berlalu. Tetep tune in dengan dakwah islam?  Aktif mengkaji Islam secara rutin? Atau sudah lupa dan  kembali asyik dengan kesibukannya masing-masing.  Setiap orang boleh kok punya sikap berbeda dalam  menghadapi tantangan.

 Apa pun yang dia pilih, masing-masing ada konsekuensinya. Allah udah ngasih dua jalan,  kebaikan yang berakhir di surga. Atau keburukan yang   mentok di neraka. Karena itu, kita bisa kategorikan tipe  orang bedasarkan sikapnya dalam menghadapi tantangan.  Pertama, tipe Quiters. Dia tipe yang tergesa-gesa, ingin cepat sampai, mudah menyerah dan mudah bertekuk  lutut. Ia selalu menggunakan jurus langkah seribu ketika  ada masalah. Orang semacam ini selalu dihinggapi su’uzon  thinking. Memilih jalan aman daripada menghadapi  tantangan.  Kedua, tipe Campers. Dia adalah tipe yang mendaki  sampai ketinggian tertentu, kemudian memutuskan  berhenti setelah dirasa nyaman dan bisa menikmati  kesuksesannya. Dia memilih jalan yang tidak berhadapan  dengan resiko besar. Memang lebih baik dari tipe quiters,  tapi bukanlah yang terbaik. Ketiga, tipe Climbers. Dialah tipe pendaki sejati yang  siap menghadapi tantangan apa pun.

MAJALAH DRISE EDISI 27 – GELIAT PARA PENIKMAT ISLAM DARI TRENDI HINGGA PENYEJUK HATI

Mengubah kesulitan  menjadi kemungkinan. Tidak lemah, tidak putus asa, dan  selalu memandang optimis kedepan. Dia yakin, Allah selalu  bersamanya ketika menjalani keistiqomahannya dalam  Islam dan di jalan dakwah. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:  “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan  pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada  mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa  takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan  bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang  telah dijanjikan Allah kepadamu”. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di  dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan  memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.  Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha  Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Fushshilat, 30 –  32)

Driser, hanya orang-orang yang punya tipe climbers  saja yang bisa mencatatkan dirinya sebagai pembangkit  umat. Ya, dia yang punya semangat, istiqomah dan  perlahan tapi pasti selalu berusaha memperbaiki diri dan  pemikirannya dengan ikut ngaji sampai nanti sampai mati.  Sehingga bisa bangkit menjadi pribadi yang berprestasi  dalam naungan ridho illahi. Cetaaar….!!! Pantang Mundur Pantang Futur Driser, gak ada ceritanya istiqomah di jalan Islam bisa  bebas hambatan tanpa resiko seperti di jalan tol. Apalagi di  tengah kehidupan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Pasti  banyak tantangannya karena syariah Islam dianggap asing  dan berbeda. Jauh-jauh hari, Rasul saw sudah ngasih kabar  dalam sabdanya: “Sesungguhnya Islam datang dalam  keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan  asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.”  (HR. Muslim)

Makanya gak pake ciut nyali kita kalo dianggap asing  lantaran istiqomah pake aturan Islam dalam keseharian.  Lantaran Rasul udah menjamin kebahagiaan bagi mereka  yang istiqomah. Para ulama bilang, kebahagiaan yang  dimaksud adalah jaminan ketenangan hidup, kemantapan  hati, dan berbagai bantuan Allah selama di dunia serta  jannatun na’im (surga na’im) di akhirat. Hmm…yummy! Pastinya penasaran dong siapa yang dimaksud al-ghuraba atau orang asing dalam hadits di atas. Rasul  menjawab: “Orang-orang yang mengadakan perbaikan  ketika manusia sudah rusak, orang yang maksiat lebih  banyak daripada orang yang taat.” (HR Ahmad)

Jadi al-ghuraba adalah mereka yang selalu berpegang  teguh pada al-Quran dan Sunnah dalam menyelesaikan  permasalahan hidupnya. Mereka juga yang tidak hanya  memperbaiki diri sendiri, tapi juga aktif mendakwahkan  Islam ke orang lain dengan menyeru pada kebaikan dan  mencegah kemungkaran. Terakhir, yang nggak kalah  pentingnya mereka juga sabar menghadapi berbagai ujian  dan cobaan. Karena mereka yakin, bakal dapat  kebahagiaan yang tak ternilai dibalik setiap tantangan yang  dihadapi. Seperti sabda rasul:

 “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang  memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu  bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang  mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan  mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan  semisal amalan itu. Ada yang berkata,’Hai Rasululah,  apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?”  Rasululah saw. menjawab,”Bahkan lima puluh orang di  antara kalian (para shahabat).” (HR Abu Dawud)  Nah driser, jadi nggak ada alasan bagi kita untuk  sekedar ikut kegiatan Islam cuman modal semangat dan  ogah menghadapi resiko. Sayang beribu-ribu sayang.  

Tinggal sedikit lagi kita bisa meraih predikat al-ghuraba  yang mulia. Masa iya sih cuman kenal Islam nyampe di  permukaan aja. Entar berkah kebaikannya juga cuman  seupil. Ayo kita nyebur sekalian. Rasakan sensasinya  menjadi pribadi yang disayang Allah. Nikmati setiap  tantangan yang menjadikan kita lebih dewasa. Kalo udah  PDKT with Islam, pantang mundur pantang futur (loyo).  Tetep semangat karena kapling di surga tengah menunggu  kedatangan kita. Allahu akbar! [LBR]