Vrijmen” atau “Vrijman” kata orang negeri kincir angin. “Freierman”, kata orang negerinya Hitler. Dan “Freedom” kata orang negeri Paman Sam. Semuanya punya arti yang sama. Yaitu merdeka, bebas dan berdaulat. Inilah nenek moyang dari kata ‘preman’! Jaman penjajahan doeloe, menjadi “vrijman” menjadi idaman setiap orang. Artinya orang-orang yang memiliki kebebasan berpikir dan bertindak benar. Mereka disebut dengan “vrijdenkers”.
Di zaman pergerakan sebelum dan sesudah revolusi 1945, banyak orang-orang yang merdeka yang bersemangat “vrijdenkers”. Sutan Syahrir, Dr. Cipto, Soekarno, Muh. Hatta adalah sebagian dari “vrijdenkers” yang “vrijman”. Jadi, dulu konotasi “preman” mengarah positif. Catet tuh! Kini, kata “preman” mengalami pergeseran sehingga mengacu kepada predikat negatif. Yaitu kepada segerombolan orang yang “beragajul” dan kerap bertindak anarkis. Kriminolog Purnianti Simangunsong beranggapan bahwa pergeseran makan “preman” ke arah negatif dimulai pada sekitar tahun 1958-1960. Preman kala itu diidentikkan dengan geng-geng motor yang mengidentifikasikan diri dengan simbol-simbol seperti topi dan sepeda motor tentunya.
Julukan mereka ialah “crossboy”, karena sering “nongkrong” di perempatan jalan. Pokoknya segala yang bernuansa kekerasan selalu diidentikan dengan “preman”. Sehingga muncullah istilah ‘premanisme’ untuk menggambarkan budaya kekerasan. Ada yang tahu Basri Sangaji, Hercules atau John Kei? Yang pasti mereka bukan anggota Boyband atau personil tambahan The Avengers. Buat kamu-kamu yang tergolong maskulin alias manusia kutinggalan informasi, (hehehe, maksa.com), ‘Trio’ ini adalah para pentolan organisasi preman di Jakarta yang udah termasyur.
Sepak terjangnya, kerap kali menyita perhatian publik dan media massa. Dan setelah Basri Sangaji tewas dalam suatu pembunuhan sadis di hotel Kebayoran Inn di Jakarta Selatan pada 12 Oktober 2004 lalu, tinggal kelompok Hercules dari Timor Leste dan Jhon Kei dari Mauluku yang berlomba berebut pengaruh dan nama besar di dunia premanisme. Bisnis utama organisasi preman biasanya bergelut dalam bidang jasa Debt Collector (penagih utang) yang melayani tagihan di atas Rp 500 juta.
Bisnis kecil-kecilannya mulai dari jual jasa pengawalan lahan sengketa, pengamanan tempat hiburan, lahan parkir, hingga jasa pengamanan di tempat keramaian seperti pasar dan terminal bis. Jasa yang mereka tawarkan, semuanya nggak jauh dari aksi kekerasan. Meski begitu, tidak sedikit para pengusaha hingga birokrat yang memanfaatkan jasa mereka. Kehadiran Hercules, Jhon Kei, atau Basri Sangaji dalam dunia premanisme bukan tiba-tiba.
Masing-masing ‘meniti karir’nya sejak masih muda belia. Untuk membesarkan namanya, masing-masing merekrut anggota-anggota muda untuk bergabung dalam kelompoknya. Regenerasi preman terus berlangsung hingga hari ini. Sialnya, benih-benih premanisme juga kian tersemai subur di lingkungan pendidikan formal. Lembaga yang sejatinya melahirkan intelektual muda berprestasi, ternyata juga disusupi oknum-oknum preman pelajar. Mereka kerap kali bikin ulah dalam tawuran dengan sekolah lain. Atau malah jadi ‘jagoan’ yang doyan malakin adik kelasnya. Kalo nggak dikasih, bisa diancam, sampe dipukul. Whuu..! Beraninya ama anak kecil! Budaya premanisme yang lahir dari sikap sok jagoan, bullying, atau vandalisme, tak ayal mengurat akar begitu kuat di negeri ini.
Diluar sekolah pun, aksi kekerasan itu ditunjukkan oleh media dan masyarakat. Secara tidak langsung media ‘mengajarkan’ masyarakat cara-cara kekerasan via sinetron, film layar lebar, atau berita kriminal. Dari sinetron, mereka belajar bagaimana memukul temannya di sekolah untuk merebut gadis pujaan, misalnya. Dari berita kriminal, masyarakat jadi tahu dan tak jera melakukan tindakan kekerasan. Yup, media bagi masyarakat sekarang ini telah menjadi tuntunan daripada sekedar tontonan. Berharap para preman tobat semua atau aksi premanisme berhenti bisa jadi hanya sebuah mimpi. Karena, hingga saat ini jasa para preman itu masih banyak yang pakai. Seperti hukum ekonomi bilang, selama masih banyak permintaan (demand) jasa preman, maka regenerasi preman (supply) terus dilestarikan.
Selama hubungan antara pembuat jasa dan pemakai jasa masih kuat, apalagi didukung sistem sekular di negeri ini, maka akan sulit memangkas akar premanisme. Ada aja nada sumbang saat pembenahan aksi premanisme atau razia para preman dieksekusi pemerintah. “kalo melarang preman, trus dia mau dikasih makan apa?”. Ya tetep nasi, sagu, atau jagung. Sesuaikan lah dengan kebiasaannya. Masa dikasih makan pelet, emangnya ikan mas? ^_^ Sebenernya masih banyak pekerjaan halal dan terhormat yang bisa dilakonin. Cuman masalahnya, boleh jadi penghasilannya jauh di bawah UMP alias Upah Minimum Preman. Sehingga hanya mereka yang berkomitmen untuk berubah bisa kembali ke jalan yang benar. Bahkan menjadi ustadz. Seperti yang terjadi pada Anton Medan atau Jhoni Indo. Dari sini, kita bisa sedikit simpulkan, kalo premanisme kian marak karena beberapa faktor.
Pertama, rapuhnya iman. Ya, seorang muslim memilih dan tetap setia bekerja jadi preman yang identik dengan kekerasan dan kemaksiatan karena faktor minimnya iman. Terutama keimanan terhadap rizki, bahwa rizki minallah (dari Allah), sehingga kalo dia yakin pasti akan mencari pekerjaan selain itu dengan memilih bekerja dengan cara halal. Preman Tobat, Bisa Kok!
Kedua, sulit dapat pekerjaan lain. Di tengah sistem kapitalistik seperti sekarang ini, persaingan mencari pekerjaan begitu ketat. Bahkan beberapa praktek di lapangan, pekerjaan bisa didapatkan karena kedekatan hubungan, karena sogokan, dan seterusnya. Hal inilah yang memicu, sebagian orang apalagi di kota besar macam Jakarta, jadi preman pun akan mereka lakoni asal dapat duit.
Ketiga, karena faktor lemahnya negara menjaga rasa aman di masyarakat. Sehingga jasa preman, security, body guard jadi laku keras. Siapa yang punya duit dan mampu membeli, maka akan dapatkan rasa aman.
Nah, di tengah ketatnya persaingan bisnis ekonomi, dan juga politik, maka terjadi hubungan harmonis mutalisme pengusaha, pengusaha dan preman. Keempat, lemahnya sistem negara. Sistem sekulerisme yang diterapkan di negri ini benar-benar telah menumbuh suburkan premanisme. Gimana nggak, seperti telah disebutkan diatas tadi bahwa perilaku premanisme telah membudaya di masyarakat, bahkan melembaga dalam bentuk gank. Semua itu akibat lemahnya negeri ini dari berbagai segi, mulai dari pendidikan, ekonomi, hukum, budaya, dan sebagainya. Kalo keempat faktor di atas dibenahi, insya Allah bukan cuman budaya premanisme yang bakal tutup usia, para aktivisnya juga bakal berbondong-bondong kembali ke jalan yang benar.
Rohis sebagai alternatif
Ketika orang berbicara ramai tentang maraknya benih premanisme di kalangan pelajar, sebenarnya ada hawa kesejukan yang ditawarkan lembaga kerohanian Islam (rohis) sekolah sebagai solusi alternatif untuk mengikis budaya preman. Tapi rupanya hal ini tidak berjalan mulus. Karena rohis sering diidentikkan dengan sarung, gamis, jidat hitam, kerudung dan jenggot. Kondisi ini diperparah oleh fitnah media yang menganggap sebagai sarang teroris. Meski dibilang opini penyudutan Rohis tidak cukup berhasil, namun penyerangan opini itu menunjukkan dengan jelas bahwa yang disebut-sebut sebagai war on terrorism yang dimaksud adalah Islam. Pesan sponsor nih! Makanya kita harus segera bergerak untuk perbaikan citra rohis sebagai wada regenerasi ustadz-ustadz muda. Ibarat menolong orang jatuh, nggak hanya membantunya untuk bangun, tapi juga harus menuntunnya agar bisa jalan. Pertama, mengembalikan semangat karena Allah (semangka) para penggerak Rohis. Meski ada opini yang tengah menyudutkan Rohis, dakwah must go on!
Kedua, menuntunnya untuk jalan. Aktif membimbing rohis dengan program-programnya agar lebih terarah dan tersistem dalam membina remaja. Lebih joss lagi kalo pihak sekolah ikut dukung sepenuh hati agar kegiatan rohis biar tetep eksis. Tak lupa, dukungan dari orang tua dan juga masyarakat sangat diperlukan untuk menguatkan semangat aktivis rohis. Sehingga kreatifitas anak-anak rohis bisa tersalurkan secara positif dalam membentuk remaja berkepribadian Islam. Kita harus meyakinkan orang tua bahwa Rohis kagak ada hubungannya dengan teroris. Titik!
Ketiga, setelah dibina kepribadiannya, mereka diajak terjun ke lapangan untuk mendakwahkan ilmu, tsaqofah yang telah mereka dapatkan. Learning by doing bagaimana mengemas cara berdakwah dengan cukup apik sehingga bisa diterima oleh remaja khususnya. Bisa dikemas lewat musik, buku, seminar, diskusi, dan lain-lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa rohis adalah cikal bakal produsen ustadz yang concern dalam dakwah.
Kehadiran rohis menjadi salah satu perwujudan dari perintah Allah swt berikut: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran 104). Nah, melalui perantaraan rohis kita mencoba memangkas mata rantai regenerasi preman. Sebaliknya, meningkatkan produktifitas regenerasi ustadz. Sehingga perbaikan kondisi negeri ini bisa segera dibenahi dengan keaktifan pribadi-pribadi pengemban dakwah.
Rohis beserta alumninya telah menorehkan tinta putih di saat remaja yang lain mencoba melukiskan peradaban generasi dengan tinta hitam berupa tawuran, seks bebas, narkoba dan lain-lain. Maka menuduh Rohis sebagai sarang teroris, cuman isapan jempol belaka. Harusnya kita bilang ke musuh-musuh Islam penyebar fitnah, “Gue rohis. Masalah buat loe?!” [LBR]