Be The Winner

 Muhammad al-Fatih. Pastinya udah nggak asing lagi nama sultan ke-7 Daulah Utsmaniyah ini di telinga kita. Kisah perjuangannya menaklukkan kota Konstantinopel begitu inspiratif bin amazing. Siapa saja yang mengikuti kronologis ceritanya, bakal dibuat tercengang binti melongo.

Setelah hampi dua bulan pengepungan, benteng Konstantinopel yang dijaga tembok tebal bin kokoh dengan ketinggian 18 M itu tak kunjung tembus. Serangan via daratan dan lautan udah dijabanin, hasilnya masih nihil. Panglima perang yang sejak baligh nggak pernah ketinggalan shalat tahajud ini berhasil menyebrangkan 70 kapal perang yang super guede dalam satu malam via daratan. Akhirnya, pada tanggal 29 Mei 1453 M Kota yang selama 11 abad tak bisa ditembus musuh ini menyerah pada bertekuk lutut pada Muhammad al-Fatih.

Sastrawan Yoilmaz Oztuna : “Tidaklah kami pernah melihat atau mendengar hal ajaib seperti ini. Muhammad Al Fatih telah menukar darat menjadi lautan dan melayarkan kapalnya dipuncak gunung. Bahkan usahanya ini mengungguli apa yang pernah diilakukan oleh Alexander The Great”

Driser, kisah penaklukkan Konstantinopel ngasih banyak inspirasi bagaimana menjadi seorang juara. Be the winner. Simak!

Pertama, yakin you can. Keyakinan yang kuat akan suatu hal, bakal keliatan dari perilaku kita. Penaklukkan Konstantinopel adalah bisyarah alias kabar gembira yang disampaikan Rasul melalui sabdanya, ““Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”(H.R. Ahmad)

Al-Fatih diyakinkan oleh gurunya, Aaq Syamsuddin bahwa dialah yang dimaksud dalam hadits rasul di atas. Dengan bermodalkan keyakinan kuat akan janji Allah dan kabar gembira dari Rasul, Al-Fatih pantang menyerah dalam menaklukkan Konstantinopel.

Seorang pemenang akan meyakinkan dirinya bahwa dia bisa. Sehingga tak ada prestasi yang mustahil untuk dicapainya. Keyakinan yang kuat akan sebuah keberhasilan, akan mendorong diri dan lingkungan kita untuk berusaha sampe mentok demi meraih cita-citanya.

Kedua, mengubah hambatan jadi tantangan. Penaklukkan Konstantinopel bukan cuman halangan secara fisik yang dihadapi al-Fatih. Tapi juga secara psikis dan mental. Bayangin aja, udah perang hampir 2 bulan, itu benteng masih kokoh aja berdiri. Bukan cuman itu, korban dari pasukan al-Fatih juga udah banyak berjatuhan. Sampe seorang menteri bernama Khalil Pasya menyarankan al-Fatih dan pasukannya untuk kembali. Namun seorang komandan muallaf bernama Zughanusy Pasya menolak, “Tidak, sekali lagi tidak wahai Sultan! Saya tidak akan menerima apa yang dikatakan oleh Khalil Pasya. Kami datang ke sini tidak ada tujuan lain kecuali untuk mati dan bukan untuk pulang kembali.”

Seorang pemenang akan melihat hambatan sebagai tantangan, bukan batu sandungan. Sehingga dia berusaha mencari cara bagaimana cara mengatasi masalah yang dihadapi sesuai dengan kemampuannya. Nggak ada ceritanya, mundur dari medan perang atau kalah sebelum bertanding. Namanya tantangan, datang untuk ditaklukkan bukan ditinggalkan. Catet tuh!

Ketiga, memantaskan diri. Kemenangan nggak datang dengan sendirinya. Tapi mesti disambut dengan persiapan matang untuk meraihnya. Ibaratnya tamu istimewa, sebelum kemenangan datang menghampiri udah disiapkan sambutan meriah plus karpet merah. Itulah proses memantaskan diri untuk menjadi pemenang. Seperti yang ditunjukkan oleh Sultan Muhammad al-Fatih.

Sebelum penaklukan Konstantinopel, berbagai persiapan matang guna memantaskan diri menjadi pemenang dilakukan Al-Fatih. Mulai dari pribadinya yang getol beribadah sampe gak pernah ketinggalan shalat tahajjud. Sejak kecil, beliau sudah digembleng dengan ilmu agama dan ilmu militer yang mumpuni hingga menguasai 7 bahasa. Persiapan pasukannya juga gak main-main. Beliau mempersiapkan 250 ribu pasukan terpilih yang sudah terbina kepribadiannya untuk menjadi saksi penaklukan Konstantinopel. Biar tambah pantas, amunisi perang juga disiapkan dengan maksimal. Diantaranya dengan menyiapkan meriam tercanggih bin terdahsyat saat itu. Meriam Sultan Mehmet II (Berat : 15 ton / Berat Canon Ball : 285 kg) yang sukses menghancurkan benteng pertahananan Konstantinopel. Dengan persiapan yang sangat matang bin serius, wajar jika Konstantinopel berhasil ditaklukkan al-Fatih.

Seorang pemenang, akan memantaskan bahwa dirinya memang layak untuk menyandang predikat the winner. Sehingga mengurangi hal-hal yang menjauhkannya dari kemenangan dan gencar mempersiapkan segala hal untuk mendekatkannya pada kemenangan. Yup, itu namanya memantaskan diri.

Driser, tiga inspirasi dari kisah penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad al-Fatih di atas bisa diteladani untuk menjadikan diri kita seorang pemenang. Pemenang dalam banyak hal yang positif. Prestasi akademis, dalam dakwah, atau pengembangan diri menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan. Lets be the winner! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39

Majalah Drise Edisi 39 : We Are The Champion

Dor…..!! bunyi tanda pertandingan dimulai terdengar memekakkan telinga. Sang juara langsung berlari sekuat tenaga. Samping kiri kanan, depan belakang, jutaan pesaingnya pun tak mau kalah. Mereka semua berlomba menuju garis finish menjemput hadiah berupa pasangan pujaan hatinya. Berbagai rintangan di depan mata tak menyurutkan semangatnya. Satu per satu lawan tandingnya berguguran. Hingga dia berhasil menemukan cinta sejatinya. Berhasil memeluknya. Berhasil membuahinya hingga lahirlah kamu. Iya kamuu!

 Juara Sejak Lahir

Gak perlu dijelasin panjang lebar tentang asal muasal kita dilihat dari sisi biologis. Yang pasti, pembuahan sperma pada sel telur yang mengawali proses reproduksi. Normalnya, cuman dibutuhkan satu sperma untuk membuahi sel telur. Masalahnya, ketika pria ejakulasi, sekitar 100-300 juta sperma masuk ke dalam vagina wanita dengan kecepatan sekitar 45 km/jam. Maaf ya kalo bahasanya, dianggal vulgar. Biar jelas aja. Kalo pake bahasa penyamaran, entar malah banyak pertanyaan. Kasian guru biologinya. 😀

Adu cepat mencapai sel telur itu kompetisi hidup dan mati. Lantaran setiap sperma unik secara genetik. Artinya nggak ada cerita dua sperma yang mengandung rangkaian gen yang sama persis. Jutaan sperma individual tersebut kini harus saling adu cepat untuk membuahi sel telur. Balapan lari!

Perjalanan menuju sel telur adalah perjalanan yang berbahaya. Fear factor mah lewat. Inilah mengapa sperma diproduksi dalam jumlah sangat banyak. Untuk berhasil membuahi sel telur, sperma harus mampu bertahan dalam lingkungan vagina wanita dan serviks alias leher rahim. Keasaman lingkungan di sana melindungi wanita dari bakteri dan serangan infeksi yang berbahaya, tapi lingkungan ini juga berbahaya bagi sperma. Sperma yang lemah atau rusak tidak akan berhasil mencapai tujuannya. Tepar!

Bayangin, dari sekian juta sperma hanya 5% saja yang akan berhasil mencapai serviks. Dari 5 % tersebut, hanya sekitar 200 sperma saja yang bisa mencapai saluran Fallopi wanita. Sperma yang berhasil mencapai saMAJALAH REMAJA | TABLOID | BACAAN | ISLAM | TRENDI | GAUL | MUSLIM | DAKWAH | ONLINE | ANAK | MUDA | CERPEN ISLAM | SMART| HTTP://MajalahDrise.Comluran ini berarti telah menempuh perjalanan setengah jauh, yang dibandingkan dengan panjang sperma itu sendiri, sama dengan beberapa ratus kilometer perjalanan. Mantabs!

Dari 200 sperma hanya sedikit yang bisa meneruskan perjalanan hingga bagian luar sel telur. Dari sperma-sperma tersebut, hanya satu yang akan berhasil menembus permukaan sel telur, meninggalkan ekornya di luar, inilah yang disebut pembuahan. Pada saat itu juga, permukaan sel telur akan menjadi tak tertembus oleh sperma lainnya. Udah full booked!

Setelah serangkaian perubahan komplek, yaitu 7 hari setelah pembuahan, sel telur tadi tertanam di dinding rahim. Pada saat inilah kehamilan terjadi. Terus janin berkembang selama  9 bulan 10 hari hingga tiba waktunya kita melihat dunia. Tangis bayi memecah kesunyian ruang bersalin. Tangis harus membasahi pipi orang tua kita. Alhamdulilaah…

Berbahagialah kita yang sukses nongol melihat dunia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karena bukan cuman 9 bulan 10 hari kita ngendon di perut ibu tersayang. Jauh sebelum itu terjadi, kita telah berhasil memenangkan sebuah kompetisi hidup dan mati. Kamu bersaing dengan ratusan juta benih yang juga ingin lahir ke dunia. Itulah proses reproduksi yang jarang kita ketahui. Jadi sebenarnya, kita sudah jadi juara sejak lahir. Yes!

 Juara Dunia Akhirat

Sebagai seorang remaja muslim yang kiyut bin sholeh, kita layak menyandang gelar juara dunia akhirat. Lantaran Allah swt udah ngasih predikat umat terbaik pada kaum muslimin seperti dalam firman-Nya:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.(QS. Ali-Imran [3]: 110)

Pengertian umat terbaik adalah umat yang memberikan kebaikan dan manfaat bagi umat lainnya. Imam Ahmad meriwayatkan, ”seseorang bangkit dan menuju Nabi saw ketika beliau berada ddalam mimbar, lalu bertanya: ’Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik?’, Beliau bersabda: ’Manusia yang paling baik adalah yang paling tenang, paling bertakwa, paling giat menyuruh kepada yang makruf (kebaikan), paling gencar melarang kemungkaran (keburukan), dan paling rajin silaturahmi.’”  Ini kan umat Islam banget!

Sebagai umat pilihan, kita punya peluang besar untuk menikmati surga. Sementara Allah swt justru menutup pintu syurga bagi orang-orang kafir dan ahli kitab seperti disebutkan dalam surat Al-bayyinah ayat 8. Makanya, teteplah bangga sebagai muslim hingga akhir hayat. Kita sudah menjadi juara dunia akhirat. Rasullulah saw mengingatkan:

”Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka raihlah kematiannya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir serta memberikan kepada manusia sesuatu yag dia sendiri ingin diberi sesuatu yang seperti itu.”(HR. Ahmad)

Beruntung sekali kita sebagai muslim yang termasuk umat pilihan dan berpeluang besar menikmati syurga-Nya di akhirat kelak. Jadi, nggak ada alasan dong bagi kita untuk minder dengan Islam. Justru kita mesti bangga menjadi bagian dari umat juara. Otreh?!

Eits, tetep jaga hati dong. Bangga bukan berati angkuh lho. Dalam kamu besar bahasa Indonesia tercantum jelas perbedaan antara bangga dan sombong. Bangga adalah besar hati, merasa gagah (karena mempunyai keunggulan). Sementara sombong dalah menghargai diri secara berlebihan, congkak, pongah. Beda banget kan!

Kebanggaan kita sebagai muslim tidak lantas menjadikan kita sombong. Justru sifat angkuh bin congkak hanya akan menodai keislaman kita. Rasulullah saw bersabda:

”Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, sekalipun hanya sebesar biji sawi. Seorang lelaki berkata, ”Wahai Rasulullah, ada seorang lelaki yuag menukai pakaian yang bagus dan sandal yang agus (bagaimana orang itu?, penj).” Rasulullah bersabda, ”Sesunguhnya Allah itu Maha Indah mdan Allah mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan menyepelekan manusia.”(HR. Muslim).

Dalam catatan sejarah penerapan hukum Islam oleh negara juga tidak menunjukkan adanya diskriminasi terhadap penganut agama lain. Seperti pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab. Beliau memberikan keamanan bagi penduduk Elya (al-Quds) penganut kristen. Jaminan tersebut berupa keamanan terhadap diri, gereja, dan agama mereka. Mereka tidak pernah dipaksa terkait dengan agama mereka. Khalifah Umar pun menetapkan semua rakyat tidak boleh menyakiti mereka (Al-Baladzury, Futûh al-Buldan).

Ini senada seirama dengan sabda Rasul saw: ”Siapa yang menzalimi non-Muslim yang telah melakukan perjanjian atau meremehkannya, membebaninya di luar batas kemampuan, mengambil sesuatu tanpa kerelaannya, maka aku menjadi musuhnya pada hari Kiamat.”(HR. Abu Dawud dan al-Baihaqi)

Sekarang makin jelas dong kalo bangga nggak sodaraan ama sombong. Nggak juga temenan ama ujub bin narsis. Bangga dengan Islam itu mulia, kalo sombong? Justru tercela!

Be Your Self Aja…

Belon afdhol kalo rasa bangga cuman mangkal di dalam hati. Kebanggaan mesti dikasih ekspresi tanpa mengurangi porsi sikap rendah hati. Untuk menjaga biar rasa bangga tetep hadir tanpa cela, ekspresi yang ditunjukkan juga nggak boleh basi. Apalagi sampe ngasih kesempatan sifat riya ikutan nyempil di hati. Cukup kebanggaan itu kita tunjukkan seperti cita rasa khas muslim sejati.

Sebagai pribadi, kita adalah makhluk terbaik yang Allah ciptakan dengan segala plus dan minusnya. Gak perlu minder dengan kekurangan diri kita. Karena kita sang jawara. Dan gak perlu juga sombong dengan kelebihan diri kita. Karena masih banyak yang lebih baik dari kita. Yang penting, jadilah diri sendiri. Tunjukan kalo kita memang layak menjadi juara sesuai dengan kemampuan kita. Gak mesti sama seperti orang lain. Tiap orang kan punya keahlian yang berbeda. Makanya kenali potensi diri lalu ukir prestasi. Tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa.

Sebagai muslim sejati, pastinya percaya akan kebaikan yang diperoleh saat kita taat ama aturan Allah swt. Apalagi kelemahan kita sebagai manusia gak tau dengan akurat apa yang terbaik buat diri kita. Terkadang kita pikir pacaran itu bermanfaat, gak taunya malah menjerumuskan kita dalam jeratan nafsu syahwat. Terkadang kita pikir nutup aurat itu cupu (culun punya), kenyataannya menjadikan martabat diri kita lebih mulia. Makanya Allah swt menurunkan risalah Islam untuk memuliakan manusia.

Sebagai ekspresi kebanggaan terhadap Islam yang jempolan, udah sewajarnya kalo kita tunduk dan ikhlas ngikutin aturan hidup Islam. Nggak pake nyari-nyari alasan biar lolos dari kewajiban taat ama Allah dan Rasul-Nya. Allah swt berfirman yang artinya: ”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata”.(QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Ekspresi kebanggaan juga wajib kita tunjukkan dengan memupuk kepedulian kita terhadap Islam dan kaum Muslimin di seluruh dunia. Sebagai juara sejak lahir, kita pasti bisa kasih kontribusi terbaik untuk kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. Rasul saw bersabda: ”Siapa saja di pagi hari tidak memikirkan masalah kaum Muslimin, maka bukan termasuk golongan mereka (kaum Muslimin)(HR. Al-Hakim).

Driser, udah saatnya kita berani nunjukkin kebanggan sebagai pribadi juara dan generasi muda Islam. Nggak malu-malu kucing lagi menampilkan cita rasa Muslim yang gaul, syar’i, dan mabda’i. Siap menjadi garda terdepan sebagai pembela Islam. Serta tak gentar menghadapi resiko yang menghadang idealisme Islam. Biar semuanya bisa dijalani, perlu persiapan matang dengan getol mengenali Islam lebih dalam. Sehingga kita bisa berteriak lantang, Yes, we are the champion! [@Hafidz341]

di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #39

MajalahDrise Edisi 38 : Gila Bola di Bulan Mulia

 13 Juni 2014 jadi bakal hari bersejarah bagi negeri samba. Setelah 64 tahun menunggu, akhirnya Juara dunia lima kali ini dapet giliran lagi untuk jadi tuan rumah piala dunia. Hajatan sepakbola empat tahunan yang paling ditunggu oleh jutaan bola mania, tak terkecuali di Indonesia. Arena Corinthians, Sao Paulo, Jumat (13/6/2014) dinihari WIB bergemuruh oleh ribuat penontonmenyaksikan berbagai atraksi dan tarian khas Brazil dalam pembukaan pagelaran perebutan piala Jules Rimet ini. Sebuah euforia piala dunia di atas kesenjangan sosial warga Brazil. Ironis.

Piala dunia 2014 di Brazil adalah penyelenggaraan ke 20 setelah pertama kali digelar tahun 1930. Untuk kedua kalinya, negeri Pele sang legenda sepakbola ini jadi tuan rumah. Nggak heran kalo pemerintahnya banyak berbenah untuk menyambut kedatangan team dan supporter dari 31 negara yang lolos kualifikasi. Sampe rela merogoh kocek sekitar $ 11,5 miliar atau setara 142 triliun rupiah. Ini yang memicu protes dari para penduduk pribumi yang merasa tersisihkan akibat piala dunia. Untuk sepakbola, pemerintahnya rela ngeluarin miliran duit real Brazil. Sementara untuk kesejahteraan rakyatnya, minim banget. Rakyatnya protes keras dengan mengusung tema, “We need FOOD not FOOTBALL!”

 

Kemaksiatan Merajalela

Kalo euforia sudah naik ke ubun-ubun, sering kali bikin pengidapnya lupa daratan. Ekspresi kegembiraannya diungkapkan dengan berbagai cara. Nggak peduli keliatan gokil bin tengil, orang dipaksa memaklumi. Seperti yang banyak dilakukan oleh suporter wanita yang kedapatan kamera memberikan dukungan bagi tim idolanya dengan busana seksi malah tanpa busana bagian atas alias topless! Persis kaya orang gila menari striptease di tengah jalan protokol saat jam masuk kerja. Kagak waras..!

Para penggila bola pun demikian adanya. Bukan. Kita bukan mau menyamakan para bola mania dengan orang gila. Itu fitnah. Kita cuman mau bilang, ada beberapa oknum bola mania terutama muslim yang udah kebablasan ekpresikan hobi bolanya. Dari mulai tawuran, taruhan, hingga campur baur laki perempuan yang semuanya bertabur kemaksiatan. Orang gila masih mending, kalo maksiat nggak akan ditanya di akhirat. Lah kalo penggila bola yang waras terus terhanyut kemaksiatan yang terorganisir, berabe urusannya. Bisa-bisa nggak pernah menginjakkan kaki di surga. Nah lho!

Hajatan olahraga akbar seperti piala dunia, lantaran lahir dari rahimnya orang-orang sekuler tentu nggak peduli dengan norma gama. Bahkan event akbar piala dunia nggak ada sangkut pautnya dengan agama. Bebas nilai dan bebas berekspresi. Walhasil, kemaksiatan dalam kacamata Islam pun tak merajalela selama ajang piala dunia.

Pertandingan sepakbola dengan tingkat fanatisme yang tinggi, sering kali bikin semangat suporter-nya over dosis. Fenomena kaya gini sering dianggap wajar sebagai ekspresi dari sebuah cinta atas dasar rasa se-tanah air, sebangsa, senegara, atau sebuah komunitas semu (fans club). Padahal, sikap ashobiyah ini gampang memancing kerusuhan yang dilakukan suporter.

Di Italia misalnya. Pada 2 Februari 2007, pendukung klub Catania terlibat bentrokan dengan polisi Italia. Kerusuhan yang pecah usai laga antara Catania dengan Palermo itu menewaskan seorang anggota polisi, Filippo Raciti, dan ratusan orang mengalami luka-luka. Pasca kejadian ini, kompetisi Seri A diliburkan selama satu pekan.

Yang terbesar, sekaligus yang terburuk di Eropa mungkin adalah Tragedi Heysel, pada laga antara Liverpool kontra Juventus di Final Liga Champions, 29 Mei 1985. Para Liverpudlian yang tak terima tim kesayangannya kalah 0-1 dari Juve, melancarkan serangan ke pendukung ‘Bianconeri’ dan mengakibatkan 39 orang tewas serta 600 orang luka.

Di Piala Eropa 2008, perkelahian antarsuporter merebak pascakemenangan Jerman atas Polandia, 2-0, Senin (9/6) dini hari. Bentrokan pendukung kedua kesebelasan terjadi di luar Stadion Worthersee, Austria, saat Jerman unggul 1-0 atas Polandia. Penangkapan terhadap para hooligans Jerman juga terus dilancarkan Kepolisian Austria guna mencegah terjadinya kerusuhan. Sedikitnya 100 hooligans ditangkap polisi dalam dua kali razia. Empat puluh orang di antaranya ditangkap karena mengeluarkan ejekan berbau Nazi selama pertandingan antara Jerman dan Polandia.

Sementara di Mesir, tercatat 74 orang meregang nyawa dan sekitar seribu orang mengalami luka-luka akibat kericuhan antarsuporter usai pertandingan antara klub Al Masry dengan Al Ahly, di Kota Port Said, Rabu 1 Februari 2012.

Selain memancing kerusuhan, ashobiyah juga melahirkan sikap rasisme atau merendahkan orang lain karena perbedaan ras atau warna kulit. Nuansa rasisme ini kental sekali di English Premier League. Sebuah survei yang dilakukan ICM Research dan hasilnya dipublikasikan BBC pada Mei 2004 memperlihatkan 51% dari responden menyatakan kalau Inggris adalah negara yang rasis. Jumlah yang sama dari 1576 responden dengan berbagai background itu juga menyatakan kalau warna kulit membuat mereka diperlakukan secara diskriminatif di tempat kerja. Jumlah lebih besar lagi, yaitu 61%, bahkan menyatakan mereka mendapat pelecehan rasial saat berada di bangku sekolah (Jawa Pos.com, 25/11/04)

Selain tawuran, pasar taruhan selama ajang piala dunia juga cukup menggiurkan. Demam Piala Dunia 2014 Brasil membuat semua pecinta taruhan bola berpesta pora.Mulai dari anak-anaksampai orang tua asyik ngomongin skor pertandingan saban harinya. Saking serunya, nggak sadar mereka terhanyut dalam ajang taruhan. Awalnya sih buat seru-seruan. Biar tebak-tebakan skor nggak cuman permainan, tapi ada hadiah yang bikin penasaran. Mulai deh taruhan yang tebakannya jitu dapat hadiah kumpulan receh atau traktiran makanan dari temen-temennya. Hadiahnya tambah gede seiring ajang kompetisi yang makin mengkerucut. Ujungnya, tebakan skor final atau negara kampiun piala dunia jadi ajang taruhan. Kalo udah kecanduan taruhan, kaya orang kehillangan akal. Sampe-sampe percaya aja ama ramalan gurita, kucing, atau binatang lainnya. Tepok jidat!

Pasar judi online selama ajang piala dunia udah jadi incaran para bandar judi. Dari tingkat lokal sampe internasional. Bandar judi di Surabaya panen mengeruk keuntungan melalui jaringan judi bola secara online waktu Piala Dunia 2010. Omzet mereka bisa mencapai Rp 1,5 miliar per hari. Selama Piala Dunia Brazil, omset judi via internet ini mampu menembus nominal Rp50 juta dalam satu hari.

Terakhir yang sering luput dari perhatian remaja. Aksi nobar alias nonton bareng ajang piala dunia yagn sering digelar di cafe atau rumah makan. Laki perempuan campur baur kaya jemuran. Nggak sedikit yang memanfaatkan untuk mojok berduaan. Nggak ketinggalan, godaan setan pun berkeliaran menggoda setiap pasangan untuk bermaksiat. Dari sekedar nonton, ikut taruhan, sampe mabuk-mabukan. Parah!

 

Saatnya Panen Pahala, Bukan Dosa!                                                         MAJALAH REMAJA | TABLOID | BACAAN | ISLAM | TRENDI | GAUL | MUSLIM | DAKWAH | ONLINE | ANAK | MUDA | CERPEN ISLAM | SMART| HTTP://MajalahDrise.Com          

Driser, kebeneran bangetajang Piala Dunia 2014 ini bersinggungan dengan hadirnya bulan mulia yang ditunggu umat Islam sedunia. Bulan penuh pengampunan sekaligus ajang pas buat mendongkrak tabungan pahala kita. Seperti disampaikan Rasul dalam khutbahnya sebelum Ramadhan yang diriwayatkan Imam Ali R.A.

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan maghfirah, bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam di bulan Ramadhan adalah malam-malam yang paling utama, jam demi jamnya adalah jam yang paling utama.

“Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini napasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah, Rab-mu dengan hati yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan saum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.

“Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup maka mohonkanlah kepada Rab-mu agar tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar mereka tidak pernah lagi menguasaimu.

“Lalu Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata: ‘Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama di bulan ini.’ Rasul yang mulia menjawab, ‘Ya Abul Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah SWT”

Bayangkan ada sebuah rumah berkah. Setiap hal positip yang dikerjakan penghuninya bakal diganjar duit segepok. Buka alas kaki dulu sebelum masuk rumah, dibayar. Ngerjain rutinitas harian mulai dari bangun pagi, mandi, sikat gigi, nyuci baju, sarapan,dan makan, semuanya dibayar. Nggak cuman itu, kalo bersihin debu  di atas meja, motongin rumput di halaman depan, atau ngerapihin perabotan dalam rumah, semuanya dibayar. Pertanyaannya, apa yang bakal kamu kerjain kalo dapet kesempatan tinggal di rumah berkah di atas selama sebulan penuh?

Kalo kamu mata duitan, pastinya nggak akan pernah melewatkan setiap detik di rumah itu tanpa kegiatan positif. Yup, kurang lebih kesempatan itulah yang ditawarkan bulan Ramadhan. Nggak keren kalo kita sebagai muslim menganggap tak ada yang istimewa dengan bulan Ramadhan. Apalagi sampe kalah antusias sama ajang piala dunia. Kebangetan.

Kita nggak dapat apa-apa untuk kebaikan di akhirat dari piala dunia 2014. Kita malah bisa terhanyut dalam suasa
na fanatisme alias ashobiyah tanpa kita sadari. Padahal jelas-jelasislam ngelarang kita bersikap ta’ashub. Bangga dan fanatik buta ama kelompok kebanggaan kita. Fanatisme kelompok seperti kesukuan dan nasionalisme terbukti memecah belah manusia. Karena kita dipaksa untuk hidup terkotak-kotak dalam kungkungan daerah, negara, atau klub sepakbola. Selain itu, fanatisme kelompok juga bisa bikin kita ngerasa beda dengan orang lain dan mempersempit pergaulan. Makanya wajar kalo agama kita nggak ngasih celah sedikitpun untuk berkembangbiaknya sikap fanatik kelompok seperti yang dilestarikan dalam ajang piala dunia. Sabda Nabi saw.: “Bukan golongan kami yang menyeru pada ashabiyyah, berperang karena ashabiyyah dan mati karena ashabiyyah.”(HR Abu Daud)

Suasana piala dunia bisa bikin kita terlena. Bukannya getol nyari pahala, malah ikut jadi aktifis maksiat di bulan mulia. Akibatnya, dosa berlipat ganda sementara pahala puasa hilang entah kemana. Rasul saw ngingetin kita, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan haram serta kejahilan, maka Allah tidak butuh puasanya; meninggalkan makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari)

Karena itu, sinari ramadhanmu dengan kegiatan yang ngasih manfaat dunia akherat. Ikut kajian Islam yang menjamur di bulan Ramadhan. Biar kuat iman, kuat ilmu, kuat mental, dan kuat pendirian untuk tetap istiqomah pake aturan hidup Islam. Jangan lupa, tiada hari tanpa tadarrus. Baca Al-qur’an di bulan Ramadhan jadi ladang pahala berlimpah bagi kita. Nggak ketinggalan, banyakin ngobyek ibadah ‘sampingan’. Shalat sunnah pahalanya disamain dengan shalat fardhu. Dan shalat fardhu diganjar 70 kali lipat bo! Makanya, jangan sampe kelupaan untuk sempatkan diri shalat sunat. Mulai dari shalat rawatib (sebelum dan sesudah shalat fardhu), shalat dhuha, shalat tahiyatul masjid, shalat tarawih, shalat witir, dll. Terakhir, kikis sikap individualis. Di bulan suci ini, saatnya kita genjot kepedulian kita terhadap orang lain yang membutuhkan. Sisihkan uang jajan kita untuk bershadaqah. Dalam sebuah percakapan seorang shahabat bertanya: “Shodaqoh mana yang utama?”. “Shadaqoh di bulan Ramadhan..” Jawab Rasul(HR. At-Tirmidzi).

Driser, kalo kamu suka nonton sepak bola, nikmati saja permainannya. Bukan sikap ashobiyahnya. Kalo kamu ngefans ama satu tim, bagusnya simpan dalam hati saja. Nggak perlu ditunjukkan dalam ekspresi berlebihan. Yang perlu kita sadari, ajang kompetisi sepakbola seperti piala dunia selain menyuburkan ashobiyah juga bisa banyak menyita waktu dan perhatian umat. Akibatnya, umat nggak peduli lagi dengan masalah yang menimpanya selain urusan sepakbola. Umat nggak ngeh kalo lagi dijajah secara budaya dan pemikiran. Kalo tetep dibiarin, umat Islam jadi bulan-bulanan. Jadi korban diskriminasi dan kekayaannya abis dieskploitasi investor asing yang nggak tahu diri. Makanya tugas kita untuk menyadarkan umat akan bahaya ajang olahraga yang melenakan.Ikut ngaji lalu sampaikan. Yuk![341]

di muat di Majalah Remaja Islam D’rise Edisi #38

Majalah Drise edisi 37 : Woles Aja Cuy!! Ketika Pelajar Nakal Jadi Brutal

Bak…! Buk..! Bak..! Buk..!… Adu jotos itu bukan terjadi di atas ring tinju atau antar pemain sepakbola di lapangan rumput. Tapi di halaman kampus. Malah terkadang di jalan raya, di depan gerbang sekolah, di pusat perbelanjaan, atau di tengah keramaian kota.

Swiiing! Pletak!… Lemparan batu itu bukan berasal dari para calon jemaah haji yang sedang latihan melempar jumroh. Juga bukan dari para pejuang intifadah di Palestina. Tapi berasal dari tangan-tangan pelajar dan kaum intelektual yang seharusnya memoles kreatifitasnya agar menghasilkan karya yang bermanfaat bagi umat.

Tes..! Tes..! Tes..! Tetesan darah itu bukan darah mujahid Irak atau Afghanistan. Bukan juga darah seorang Ibu yang berjuang mempertaruhkan hidup demi melahirkan buah hatinya. Tetesan darah itu milik pelajar yang tengah ‘berjuang’ meregang nyawa di medan tawuran demi solidaritas, gengsi, atau predikat seorang jagoan yang ditakuti dan akhirnya disegani.

Serbuu..! Teriakan lantang itu bukan suara panglima perang kemerdekaan. Tapi berasal dari seorang ‘pentolan’ yang ngasih komando kepada para ‘prajurit putih abu-abu’ untuk memulai ‘perang kolosal’. Siapa yang dapat melukai lawan, dia hebat. Siapa yang dapat menjatuhkan lawan, dia pahlawan. Dan siapa yang kurang persiapan, bersiaplah jadi korban… itulah fenomena tawuran.

‘Metamorfosis’ Pelajar Nakal

Perlahan namun pasti, kenakalan remaja mengalami metamorfosis. Presis kaya ulat yang berubah bentuk menjadi kupu-kupu cantik. Bedanya, metamorfosis pelajar berubah dari sekedar nakal menjadi perilaku brutal bahkan sudah termasuk tindakan kriminal. Ngeri!

Kalo anak cowok berantem satu lawan satu pake tangan kosong, itu wajar bin normal. Ekspresi kekesalan. Tapi kalo beraninya keroyokan. Musuhnya satu orang tanpa sejata, dilawan puluhan orang bersenjata lengkap itu udah brutal. Lihat saja, sekarang amunisi tawuran sudah makin canggih bin modern. Mulai dari gear sepeda yang diikat pada sabuk, hingga pecut ujung pari yang beracun. Belum lagi senjata tajam seperti pedang samurai, katana, badik, clurit, klewang, hingga gergaji. Sadis!

Walhasil, korban tawuran pun berjatuhan. Tak cuman luka lebam yang menghiasi wajah, tapi sudah level berlumuran darah. Nasib tragis dialami Ade Sudrajat (16), siswa kelas 1 SMK Wiyata Kharisma, yang tewas dengan celurit yang masih menancap di kepalanya. Bersama teman-temannya, almarhum terlibat tawuran dengan pelajar SMK lainnya di Jalan Raya Kemang-Bogor, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Rabu (12/2/2014). (news.detik.com, 12/02/14)

Kalo cuman ngelempar batu ke bis yang ditumpangi sekolah lain mungkin masih kategori nakal. Tapi klo udah pake aksi melempar bom molotov saat tawuran, itu udah brutal. Apalagi trennya sekarang, ‘tentara’ pelajar itu  pake air keras untuk melumpuhkan musuhnya. Ini sih udah tindakan kriminal.

Dalam sebulan di akhir tahun 2013, terjadi 4 kali penyiraman air keras yang memakan korban. Diantaranya terjadi dalam kasus pertikaian antar pelajar alias tawuran. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, penyiraman air keras oleh pelajar merupakan fenomena baru dalam pertikaian antarpelajar. Ia mengatakan, dahulu para pelajar menggunakan ikat pinggang dalam tawuran. “Bekal” tawuran itu berganti dengan benda-benda tajam, seperti samurai. Kini, pelajar beralih menggunakan air keras. (Kompas.Com, 14/10/13).

Kalo cuman dibully olek kakak kelas bisa jadi masih kategori nakal. Tapi kalo aksi bully-nya udah pake kontak fisik sampe memakan korban jiwa, itu sudah jadi tindakan kriminal bro! Seperti yang dialami Dimas Dikita Handoko, mahasiswa semester satu Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, yang tewas setelah dianiaya tiga mahasiswa seniornya. Selain Dimas, enam temannya juga jadi korban penganiayaan sehingga mengalami luka yang parah. Adapun motif penganiayaan karena para korban dipandang tidak respek terhadap para senior. Ketujuh korban dipanggil ke kos para pelaku, kemudian dianiaya di sana dengan cara dipukul di bagian perut, dada hingga ulu hati. (Kompas.Com, 26/04/14).

Kalo cuman cemburu buta lantaran karena cinta, masih wajar menimpa remaja. Tapi klo berujung dengan kehilangan nyawa, kriminalitas ceritanya. Seperti yang menimpa Ade Sara Angelina Suroto,  mahasiswa Universitas Bunda Mulia itu. Ade jadi korban penculikan mantan pacarnya, Ahmad Imam al Hafitd bersama kekasihnya Assyifa Ramadhani.

Niat awalnya, Hafitd hanya ingin menculik Ade Sara lantaran kesal doi nggak mau berhubungan lagi dengannya. Namun selama aksi penculikan, korban mengalami penganiayaan. Dikelikitik pake kabel listrik hingga Ade tak berkutik. Karena panik, mereka membuang jenazah Ade Sara ke pinggir tol Bekasi. (Kompas.Com, 17/03/14)

Driser, kenakalan remaja khususnya pelajar kian hari kian mencemaskan. Perilaku nakalnya berubah jadi brutal dan cenderung kriminal. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat hingga 2014 ini ada 229 kasus tawuran, 19 siswa meninggal dunia (tewas) sia-sia. “Karena itu, tahun ini merupakan tahun darurat terhadap kekerasan anak,” ujar Ketua Umum Komnas Anak,  Arist Merdeka Sirait. (Beritakaltara.com, 19/01/14). Karakter pelajar yang intelek seolah hilang ditelannya budaya tawuran turun temurun. Yang keliatan di dalam kelas selama kegiatan belajar mengajar seperti para preman berseragam sekolah. Inikah salah satu produk pendidikan nasional kita?

 

Ngapain Tawuran?

Kenakalan pelajar seperti tawuran atau bullying yang jadi brutal sudah pasti merugikan banyak pihak. Mulai dari pihak keluarga yang kehilangan anaknya yang menjadi korban tawuran. Rusaknya fasilitas umum atau sarana sekolah yang sering jadi sasaran amuk masa tawuran. Hingga terganggunya proses belajar di sekolah. Kita jadi penasaran. Apa sih yang memancing para aktivis tawuran untuk menekuni ‘profesinya’?

Pertama, solidaritas. Rasa setia kawan yang tinggi biasanya paling sering memicu tawuran. Nggak bisa terima kalo temennya ‘dikerjain’ ama pelajar lain. Baru denger kabar burungnya aja, emosi udah naik ke ubun-ubun. Langsung dibentuk panitia kerja yang mengumpulkan konco-konco aktivis tawuran. Lalu mempersiapkan berbagai amunisi. Dan akhirnya menentukan waktu penyerangan. Persis kaya mau perang beneran.

Kedua, prestise. Ajang tawuran udah menjadi media unjuk kekuatan untuk dapet pengakuan dari lawan. Kalo ada yang berani ngejelek-jelekin nama sekolah atau mencemari nama baik komunitas, ditantang duel fisik bareng-bareng. Sebagai pembuktian, siapa yang berhasil membuat lawan kocar-kacir, dialah pemenangnya dan lawan tanding mesti tunduk dihadapannya.

Ketiga, warisan turun-temurun. Bagi para pelajar junior biasanya dapet warisan dari kakak kelasnya berupa informasi seputar dunia tawuran. Siapa musuh bebuyutannya, dimana tempat-tempat nongkrong lawan, sampe tip en trik kalo ada serangan tiba-tiba dari lawan. Juniornya selalu dipanas-panasin oleh kisah perseteruaannya di masa lalu dengan pihak lawan. Pokoknya, hubungan dengan musuh bebuyutan mereka itu cuman satu yang dibolehkan, perang!

Keempat, lingkungan. Selama ini, kekerasan bukan perilaku aneh di lingkungan kita. Saban hari, kita dicekokin informasi seputar tindak kekerasan. Mulai dari bentrok fisik antara warga miskin yang terkena gusuran dengan satpol PP, kericuhan antar mahasiswa dan aparat saat berunjuk rasa, hingga  adu jotos pun sering ditunjukkan oleh anggota dewan legislatif pusat maupun daerah. Belum lagi tontonan bullying yang dikemas dalam konflik sinetron remaja, makin menanamkan dalam benak pemirsa remaja akan kekerasan sebagai cara untuk memecahkan persoalan. Walhasil, emosi kawula muda gampang tersulut dan otaknya jarang dipake buat pecahin masalah. Bawaannya pengen ribut mulu!

Driser, dari budaya tawuran cuman satu yang kita dapatkan, korban. Yaps, baik korban secara fisik maupun perasaan. Kalo kita terluka atau malah meregang nyawa, hanya kesedihan keluarga yang kita peroleh. Predikat jagoan atau gelar pahlawan dari komunitas nggak bisa mengobati kesedihan keluarga. Perasaan bersalah karena telah melukai/membunuh pun akan terus menghantui. Hidup kita jadi nggak nyaman. Selalu dibayangi oleh perasaan takut kalo-kalo ada musuh yang membalas. Kita sering berprasangka buruk ama orang lain. Nah lho, emang asyik hidup paranoid? Nggak banget..!

 

Buah Pendidikan Sekular

Kita nggak bisa nutup mata kalo sistem pendidikan yang berjalan saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Semua bagian dari sistem pendidikan, steril dari nilai-nilai ruhiyah yang berkaitan dengan aturan agama. Mulai dari penyusunan kurikulum, mata pelajaran, kualifikasi pengajar, hingga pola pergaulan antar pelajar. Sistem pendidikan yang memisahkan aturan agama dari kehidupan ini mandul dalam melahirkan pelajar shaleh sekaligus melek sains dan teknologi.

Pentingnya pendidikan agama bagi pelajar pun cuman diganjar dua jam pelajaran dalam satu minggu. Itu pun kalo gurunya masuk. Giliran berhalangan, cuman ngerjain tugas dan waktu bebas. Cihuuy…!

Materi pendidikan agama yang lebih banyak membahas tentang ibadah ritual, makin menjauhkan pelajar dari peran agama sebagai solusi masalah kehidupannya. Itupun sekedar transfer ilmu pengetahuan tanpa mampu membentuk (transform) katakter anak didik. Aturan Islam dipake cuman untuk sholat, puasa, berzakat, dan pernikahan plus waris. Diluar itu, pelajar buta agama dan pake cara apa aja yang penting masalahnya selesai. Salah satunya dalam menghadapi masalah dengan sesama pelajar. Baik temen satu gedung sekolah atau dari sekolah lain. Seolah solusinya cuman satu, tawuran!

Pendidikan sekuler materialis tak mampu membendung pengaruh lingkungan dan media yang mendidik pelajar untuk mengandalkan otot daripada otak untuk beresin masalah. Jiwa pelajar rapuh. Akidah yang sejatinya bisa jadi benteng terakhir yang mengendalikan jiwa muda pelajar saat hadapi masalah, hilang ditelan budaya pemissif. Sekolah pun tak peduli dengan keberadaan nilai akidah anak didiknya. Tak ada upaya untuk mengingatkan, apalagi menguatkan.

Walhasil, para pelajar nggak punya pegangan akidah yang kuat buat menilai benar atau salah perilaku kesehariannya. Yang ada di otaknya, cuman nilai materi dan kesenangan dunia. Cara apapun bakal dipake untuk meraihnya. Hawa nafsu pun dijadikan Tuhan untuk menuntunnya beresin masalah. Hingga tega menumpahkan darah sesama pelajar dengan cara sadis tanpa perikemanusiaan dan perikehewanan. Tingkahnya udah kaya zombie. Iih ngeri!

 

Solusi Tuntas Atasi Tawuran

Secara jelas dan pasti Islam menjadikan tujuan pendidikan adalah melahirkan “Kepribadian Islam”. Anak didiknya punya modal kuat untuk hadapi setiap masalah. Apapun masalahnya, kacamata Islam dipake untuk beresin masalah. Jadi nggak sembarang comot solusi. Kepribadian Islam ini dibentuk dari sistem pendidikan yang nggak cuman “Transfer of Knowledge”. Tapi juga dibarengi dengan “Transform of character”. Materi pelajaran diarahkan agar menumbuhkan pola fikir dan tingkah laku terpuji yang dibangun dari aqidah islam.

Kalo ngeliat alasan dibalik lestarinya budaya tawuran, semuanya bisa dipangkas dengan konsep pendidikan Islam. Kuatnya akidah yang tertanam dalam diri pelajar akan membentengi mereka dari bisikan setan untuk ikut tawuran. Konsep pendidikan Islam ini nggak akan nongol ke permukaan selama negara kita masih betah pake demokrasi sekuler kapitalis buat ngatur rakyatnya. Dalam sekulerisme, agama dianggap kagak penting. Dalam kapitalisme, pendidikan dianggap penting kalo menghasilkan uang, bukan kepribadian. Nggak peduli lulusannya mau jadi apa, yang penting SPP-nya lancar.

Selain itu, kudu ada tindakan tegas setiap kali ada tawuran. Kalo cuma penjara mah enteng banget. Pelaku nggak bakal kapok, dan pasti berencana bales dendam. Soalnya nggak ada hukuman yang bikin takut pelakunya. Tawuran pun bakal berulang. Jangan cuma sanksi akademik dikeluarin dari sekolah atau nggak boleh ikut ujian. Tapi juga mesti dibarengi dengan sanksi hukum. Biar kapok tujuh turunan. Satu-satunya hukum yang adil adalah hukum Islam dalam bingkai negara Islam. Dalam Islam pelaku tawuran bakal kena hukuman berat. Kalo ada darah berceceran, maka pelakunya kena qishash atau diyat. Satu jari tangan aja dihargai denda 10 ekor unta atau sekitar 110 juta rupiah. Kalo sampai kehilangan nyawa maka 100 ekor unta atau sekitar 1,1 Miliar rupiah kudu dibayar, atau keluarga korban menuntut hukuman mati. Nah lho, pikir lagi deh!

Semua solusi di atas bakal terjadi kalo negara mau terapkan syariah Islam sebagai dasar negara dalam bingkai pemerintahan Islam, khilafah Islamiyah. Dijamin aman bray..!

 

Woles aja Cuy!

Driser, nggak mudah untuk memutuskan mata rantai budaya tawuran. Tapi bukan berarti mustahil. Yang diperlukan hanya kerjasama semua pihak untuk memangkas pemicu pelajar terjun ke dunia tawuran. Baik pemerintah, masyarakat, keluarga, sekolah, dan tentunya pelajar itu sendiri.

Pemerintah berperan untuk meminimalkan informasi tentang kekerasan yang mendominasi pemberitaan media massa. Akan lebih baik jika media masssa pun tidak berlepas tangan dengan berita kekerasan yang jadi andalan mereka. Tetap kedepankan faktor edukasi agar masyarakat paham kalo cara kekerasan bukan satu-satunya jalan memecahkan persoalan. Peran pihak sekolah/kampus tidak kalah pentingnya. Pola pendidikan yang tak sekedar transfer ilmu tapi juga transform (membentuk) kepribadian, akan membantu pelajar untuk pake otaknya dibanding ototnya dalam menghadapi masalah. Idealnya, pemerintah pake aturan Islam untuk ngatur rakyatnya.

Dan ujung tombak yang sangat diharapkan bisa memutus rantai budaya tawuran, adalah kita sendiri selaku pelajar. Ini tipsnya:

Pertama, jangan umbar emosi kita. Meskipun kita jago bela diri atau badan kita macho, bukan berarti kudu selalu mengumbar emosi. Justru kalo kita mudah mengumbar emosi, tandanya kita kalah oleh hawa nafsu sebelum bertanding layaknya seorang pecundang. Kalo kita bukan seorang pecundang, hadapi setiap persoalan dengan kepala dan hati dingin. Rasul saw bersabda: “Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya.” (HR. Abu Dawud – At-Tirmidzi)

Kedua, tabayyun alias cek en ricek berita. Berita burung tak selamanya gosip, berita dari seorang kawan terpercaya pun tak selamanya dijamin benar. Nggak ada ruginya kita biasakan untuk ngecek berita yang sampe ke kita. Terutama berita yang bisa memancing adrenalin. Biar persoalannya jelas dan nyari solusinya juga lebih pas. Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujuran [49]: 6)

Ketiga, maafkan dan lupakan. Kalo ada temen kita dari luar jurusan, fakultas, atau lain sekolah dan kampus, yang berbuat salah sebaiknya dimaafkan dan dilupakan. Nggak usah diungkit-ungkit apalagi diceritain ama temen sambil dikasih bumbu panas pemancing emosi. Asli, nggak bagus kok punya dendam kesumat. Selain nambah beban dan pikiran, dendam kesumat cuman jadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan diri kita. Menjadi seorang pemaaf nggak bikin reputasi kita hancur. Justru kita menjadi lebih manusiawi dalam menghadapi persoalan. Karena setiap orang tak luput dari kesalahan. Dan kesalahaan terbesar adalah ketika kita tak mau memaafkan kesalahan orang lain. Catet tuh!

Driser, ayo kita ingatkan diri kita dan teman-teman kita untuk berhenti dari rutinitas tawuran. Tawuran nggak bikin diri kita mulia dihadapan manusia, apalagi dihadapan Allah swt. Yang ada, justru diri kita jadi terhina karena dikalahkan oleh hawa nafsu. Tawuran juga nggak bikin persoalan tuntas. Yang ada, tambah runyam.

So, daripada sibuk mikirin aksi balas dendam lebih baik salurkan gelora jiwa muda kita ke arah positif. Seperti dengan aktif mengenal Islam lebih dalam. Selain bisa membentengi diri dari godaan hawa nafsu, dengan mengaji juga membuat peran kita sebagai generasi harapan umat lebih maksimal. Ayo, tinggalkan tawuran dan aktif di pengajian! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam D’rise Edisi #37