Drise Edisi #36 Cewek Cenat-Cenut

drise-online.com – Geliat kaum hawa tak ayal selalu menyita perhatian media. Jumlahnya yang melebihi kaum adam, so pasti banyak ditemui di dunia nyata maupun dunia maya dengan segudang tingkahnya yang menarik. Apalagi pihak media paling getol nyari berita yang berkaitan dengan sensasi wanita. Pasti laku dijual dan layak jadi headline media massa. Sialnya, cerita perempuan yang naik ke permukaan, lebih banyak mengurai air mata. Ada berita TKW yang disiksa, pelecehan seksual di ibukota, atau korban kekerasan rumah tangga. Fisiknya yang lemah, seolah menakdirkan perempuan jadi objek penderita. Masa sih?

Bisa jadi…bisa jadi..! lantaran dari dulu, tiap bangsa seolah punya kesepatakan yang sama dengan memandang sebelah mata terhadap wanita. Kalo kita tengok sejarah, pada masa peradaban Roma, kedudukan wanita disamain dengan barang dagangan. Bebas diperjualbelikan sebagai pemuas nafsu syahwat laki-laki.  Mereka menganggap perempuan yang lemah itu nggak produktif. Cuman jadi beban kaum laki-laki aja. Prof Will Durrant bilang “..Proses kelahiran menjadi suatu perkara yang mendebarkan di Roma. Jika anak yang dilahirkan dalam keadaan cacat atau berjenis kelamin perempuan, sang Ayah diperbolehkan oleh adat untuk membunuhnya”.  Waduh!

Sementara dalam peradaban Yunani, tempat wanita di kasta ketiga (status sosial paling rendah) dalam masyarakat.  Karena orang Yunani menilai wanita sebagai makhluk yang tidak berarti dan nggak bakal dikasihi ama dewa. Saking rendahnya, seorang Hippolytus ngomong kasar pada Tuhannya. “Wahai Zeus, apakah engkau kemasukan setan ketika menimpakan kemalangan kepada kami dengan mendatangkan kaum perempuan di tengah-tengah kaum lelaki?” Deeu..segitunya?

Dalam agama Hindu, seorang istri mesti nurut abis bak kerbau dicocok hidungnya terhadap suami. Wanita nggak punya hak atas kehidupan pribadinya. Seperti dijelaskan dalam buku tentang aturan keagamaan sansekerta kuno, Draramasastra. Sementara agama Nasrani juga memandang wanita nggak jauh beda. Menurut Encyclopedia Britannica “Sejak awal, lembaga gereja telah menempatkan kaum perempuan dalam posisi yang rendah”.

Kasian banget ya nasib kaum hawa. Zaman dulu selalu jadi objek penderita. Gimana nasibnya di era modern ya?

 

Pelecehan Perempuan di Sekitar Kita

Memasuki peradaban modern, ternyata nasib kaum wanita masih gelap bin kelabu. Segelap jaman jahiliyah dulu. Prostitusi dan pornografi plus pornoaksi yang jelas-jelas merendahkan martabat wanita malah dilegalisasi. Para aktivisnya pun berlindung dibalik profesi pekerja seni atau Pekerja Seks Komersil. Belon lagi fenomena aborsi akibat gaya hidup seks bebas yang mengancam kehidupan wanita dan janin yang dikandungnya. Nggak ketinggalan kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual di tempat kerja yang sering menimpa wanita jadi langganan berita.

Yang lebih parah, ketika kaum hawa kehilangan harga dirinya. Upayanya untuk menepis anggapan sebagai makhluk lemah, malah menjerumuskannya dalam gaya hidup yang menginjak-injak martabatnya. Berikut beberapa gaya hidup kaum hawa yang terekspos oleh media. Yuk simak!

 

  1. Cewek cabe-cabean.

Fenomena kehadiran cewek cabe-cabean banyak diberitakan media. Tingkah polahnya yang nakal dan liar tentu bikin gak nyaman penduduk sekitar. Usia mereka yang masih belia dihabiskan untuk bersenang-senang menggoda lawan jenisnya. Kesan genit dan seksi seolah jadi bagian dari setiap penampilannya. Atasan tank top dan bawahan hot pants jadi busana kebangsaannya. Satu sama lain berlomba-lomba mengumbar aurat dan berperilaku alay. Biar cowok-cowok pada melongo dan ngiler ngelamun jorok. Demi laki-laki, sampe rela ‘menjual diri’. Ngenes!

 

  1. Cewek selfish.

Cewek selfish doyannya foto-foto sendiri pake smartphone. Sesuai dengan sifatnya yang cinta banget ama diri sendiri, gak kenal tempat dan waktu asyik aja dengan dunianya sendiri. Berfoto dengan berbagai pose dan penampilan. Gak papa sih kalo mau narsis untuk konsumsi pribadi. Masalahnya, cewek selfish suka banget mengupload foto selfishnya yang sok imut di sosial media. Dari yang wajar sampe yang terkesan exhibisionist. Berpose dengan menonjolkan daya tarik seksualnya demi menuai pujian dari cowok gatelan. Merendahkan harga diri, demi sebuah sensasi. Waduh!

 

  1. Tukang asongan cantik.

Tukang asongan yang biasa nawarin rokok di perempatan lampu merah sepertinya bakal dapat saingan. Lantaran belakangan banyak ditemui tukang asongan rokok cantik yang turun ke jalan. Ya, SPG rokok yang biasanya cuman nawarin produknya di pameran atau stand pusat perbelanjaan, kini banyak bekeliaran di perkantoran dan pusat keramaian. Dengan seragam seksi, cewek-cewek bening ini aktif menawarkan sebungkus rokok kelas kakap ke karyawan, tukang jualan, atau siapa saja yang ditemuinya. Rayuannya yang menggoda kaum pria jadi senjata andalannya demi mengejar target penjualan.

 

  1. Caleg perempuan minim pengalaman.

Kursi di gedung senayan banyak diperebukan menjelang pemilu legislatif mendatang. Dari masyarakat bawah hingga kalangan selebritis yang biasa hidup wah juga pengen ngerasain empuknya kursi legislatif. Jatah 30% anggota legislatif perempuan banyak dimanfaatkan artis idola dan cewek belia untuk ambil bagian. Meski karir politiknya pas-pasan, yang penting bisa jadi anggota dewan. Kesan asal comot caleg perempuan yang dilakukan parpol untuk memenuhi kuota terlihat dari kapasitas calegnya yang buta politik. Kebanyakan bermodal popularitas atau kecantikan, giliran ditanya visi dan misi jika terpilih pada gelagapan.

 

  1. Cewek dan lingkaran korupsi.

Kasus korupsi yang terjadi di negeri ini seringkali melibatkan kaum hawa. Mulai dari anggota Dewan yang terlibat langsung hingga cewek-cewek cantik dan selebriti yang kena seret lantaran ikut ‘menikmati’ uang hasil korupsi. Seperti kasus Tb. Chaeri Wardana alias Wawan yang mengalirkan uang hasil korupsinya ke beberapa selebriti di balik bisnis production house sebagai kedoknya. Begitu juga dengan berbagai kasus skandal anggota dewan dengan cewek panggilan sebagai gratifikasi seks biar kejahatan korupsinya berjalan mulus. Parah!

Driser, beberapa fakta di atas yang terkait dengan kondisi kaum hawa pantas bikin kepala cenat-cenut mikirinnya. Gimana nggak, wanita yang sejatinya punya kedudukan mulia malah banyak yang terhanyut dalam gaya hidup sekuler dengan ‘menjual’ harga dirinya demi materi. Semuanya berlomba-lomba untuk eksis semampunya. Dari kelas bawah model cabe-cabean hingga kelas atas yang ikut audisi anggota dewan. Duuh.. bener-bener bikin cenat-cenut mikirinnya. Gimana nasibnya bangsa ini kalo wanita yang jadi tulang punggung peradaban malah terhanyut dalam gaya hidup hedonis. Miris!

 

Janji Manis Kaum Feminis

Siapa sih yang betah hidup tertindas? Dipandang sebelah mata? Dinjak-injak martabatnya? Pastinya nggak ada dong. Kucing aja bakal berteriak kalo buntutnya nggak sengaja kita injak. Gitu juga dengan kaum perempuan. Meski wanita dikenal akan kelembutannya, bukan berarti mereka nggak punya kekuatan untuk berontak. Yap, itulah yang pengen ditunjukkin oleh aktivis feminisme. Bergerak melawan dominasi laki-laki. Tapi nggak pake acara tomboy-tomboyan lho.

Feminisme menurut kamus wikipedia online berati suatu gerakan perempuan yang menuntut kesamaan dan keadilan hak dengan pria. Aktivisnya disebut feminis. Feminisme pertama kali lahir di Eropa yang dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet. Mereka bikin Perkumpulan perempuan pertama di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda pada tahun 1785 yang memperjuangkan kesamaan hak perempuan. Soalnya waktu itu, kaum perempuan (feminin) dirugikan oleh kaum laki-laki (maskulin) di semua bidang. Mulai dari pekerjaan, pendidikan, politik, sampe agama. Gimana nggak bete coba.

Dalam perjalanannya, gerakan feminisme banyak melahirkan aliran-aliran baru. Ada feminisme liberal, radikal, post modern, marxis, sosialis, hingga postkolonial. Masing-masing aliran ini punya ciri khas dalam kegiatannya. Ada yang menuntut kebebasan total bagi perempuan (liberal); memperjuangkan hak pribadi perempuan termasuk lesbianisme (radikal); penyetaraan gender (post modern); menghancurkan dominasi laki dalam kursi pemerintahan (anarkis); anti kapitalisme (marxis); menghapusken ‘kepemilikan’ pria atas perempuan (sosialis); menggugat penjajahan fisik yang bikin kaum perempuan di dunia ketiga hidup nelangsa (post kolonial).

Nikmati aja kalo kamu mengernyitkan dahi ngunyah bahasan feminisme ini. Yang penting kamu tahu. Soalnya, hari gini feminisme nongol ke permukaan dengan penampilan yang menawan. Dalam kesehariannya, para feminis getol menyuarakan ide-ide emansipasi agar perbedaan jenis kelamin nggak dijadikan alasan untuk melecehkan perempuan. Kalo laki bisa jadi presiden, perempuan juga dong. Kalo cowok bisa berlagak di panggung politik, cewek juga harus punya kesempatan yang sama. Kalo pria boleh poligami, mestinya perempuan juga boleh poliandri. Nah lho? Emangnya kucing!

 

Be Carefull Sis!

Driser, kita turut prihatin dengan nasib perempuan yang hidupnya sering jadi bulan-bulanan. Seperti kasus kekerasan dalam rumah tangga yang gencar menghiasi layar kaca. Siapa sih yang nggak terusik dengan berita-berita menyedihkan itu. Cuman masalahnya, apa bener gerakan feminisme layak kita jadikan kendaraan buat memperbaiki hidup kaum hawa? Atau kamu yang cewek ngerasa ‘kurang beruntung’ dilahirkan sebagai wanita? Hmm… kayanya kita mesti jeli nih.

Coba tengok, dari sejarahnya udah keliatan kalo gerakan feminisme lahir dan berkembang di Eropa yang hidup dengan prinsip sekuler. Nggak ngasih ruang bagi aturan agama dalam kesehariannya. Otomatis, standar yang mereka pake  dalam perjuangannya adalah untung rugi dalam kacamata manusia. Jauh dari pertimbangan akherat. Hasilnya, mereka bakal ngotot untuk melabrak setiap aturan yang dianggap bisa merendahkan wanita. Termasuk aturan Islam. Nah lho?

Feminisme menganggap banyak aturan Islam yang berat sebelah terhadap perempuan. Soalnya, Islam cuman ngasih kesempatan ama laki-laki untuk duduk di kursi kepemimpinan negara. Kewajiban wanita untuk taat pada suami dan menjalani perannya sebagai Ibu sekaligus pengurus rumah tangga dinilai memasung produktifitas kaum hawa. Pada akhirnya, feminisme getol mengajak muslimah untuk keluar dari kerangkeng aturan Islam, hidup bebas sesuai keinginannya, dan melepaskan ketergantungannya pada pria. Waduh bahaya tuh!

Padahal, banyaknya penindasan terhadap kaum hawa justru akibat sistem kapitalis sekuler yang ngatur hidup kita. Bukan lantaran aturan Islam yang sangat memuliakan wanita. Kalo aturan Islam diterapkan dalam bingkai Daulah Khilafah, niscaya kehidupan wanita terjamin dunia akherat. Seperti pengakuan seorang Anna Rued, penulis buku—Eastern Mail.  ia menyebutkan “Kita harus iri kepada bangsa-bangsa Arab yang telah mendudukkan wanita pada tempatnya yang aman. Dimana hal itu jauh berbeda dengan keadaan di negeri ini (Inggris) yang membiarkan para gadisnya bekerja bersama laki-laki di kilang-kilang minyak—yang tidak saja menyalahi kodrat—tetapi bisa menghancurkan kehor­matannya.”

Satu lagi yang mesti kita inget baik-baik. Kalo perlu, dicatat dalam reminder smartphone. Biar nggak lupa. Allah swt nggak akan menjebloskan kita ke neraka cuman karena kita wanita. Asli, nggak bo’ong. Karena jenis kelamin itu kodrat, udah dari sononya sesuai kehendak Allah. Jadi, buat yang cewek nggak usah ngiri ya ama cowok. Justru mesti bersyukur dilahirkan sebagai makhluk cantik yang dimuliakan Allah swt dan Rasul-Nya. Allah swt berfirman:

 “Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah Allah berikan bagi sebagian kamu atas sebagian yang lain karena bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan, mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa`: 32)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Seorang wanita datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Ya Rasulullah, bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan, dan persaksian dua orang wanita sebanding dengan persaksian seorang laki-laki. Apakah dalam perkara amalan kami juga demikian? Jika ada seorang wanita berbuat kebaikan hanyalah dicatat untuknya separuh dari kebaikan tersebut?” Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan ayat: “Janganlah kamu iri terhadap karunia yang telah Allah berikan berikan bagi sebagian kamu atas sebagian yang lain.” Sesungguhnya ini adalah keadilan dari-Ku dan Aku yang membuatnya. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/462)

So, buat driser cewek yang cantik bin imut hati-hati ya dengan ide feminis. Jangan mau dikibulin harus eksis, narsis bin selfish biar setara dengan anak cowok. Itu cuman akal-akalan musuh Islam biar remaji muslim terjerumus dalam gaya hidup hedonis yang bikin masa depan dunia akhirat kita suram. Secara gitu lho, cewek dan cowok udah dari sononya lahir dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Nggak usah minder dengan perbedaan jenis kelamin atau paras yang pas-pasan. Yakin deh, Allah nggak menilai kita dari penampilan fisik. Tapi ketakwaan. Rasul saw bersabda:

Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa/fisik dan harta kalian, tetapi Allah memandang hati dan amal kalian.” [HR. Muslim]

Allah swt juga berfirman:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Cara pandang masyarakat yang merendahkan wanita emang mesti diubah. Kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga emang kudu dilawan. Sikap diskriminasi yang dialami wanita di luar rumah juga wajib dihilangkan. Untuk itu, ayo kita sama-sama perjuangkan hak wanita dengan getol mengkampanyekan penerapan syariah Islam oleh negara yang akan menjaga, melindungi, dan memuliakan wanita dan kehidupannya. Biar cewek cenat-cenut pada cabut. Mulia bersama Islam. Yuk![341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36

Pacaran islami, emang ada?

drise-online.com – D’riser, kisah kasih remaja, identik dengan budaya pacaran. Bahkan pacaran kadung jadi identitas pergaulan modern yang banyak menyita waktu hidup remaja. Di mana aja dan kapan aja, tema pacaran selalu jadi obrolan hangat. Remaja seolah tak punya pilihan untuk menyalurkan rasa cintanya kecuali dengan pacaran. Seperti apa sih kegiatan orang pacaran itu?

Pertama, ungkapan cinta. Boleh dibilang, ‘aksi penembakan’ ini adalah saat-saat menegangkan bagi para aktivis pacaran. Soalnya, penting banget buat kelanjutan hubungan kasihnya dengan pujaan hati. Kalo ditolak, hubungan cukup sampe level teman (atau TTM?). Kalo diterima, yes! Hubungan bisa lanjut ke yang lebih serius. Maksudnya, serius menuju pelaminan? Eits, jangan asal nuduh dong. Maksudnya, serius merhatiin isi dompet pacar. Dan pastinya, serius ngenal pacar luar dalam. Nah lho? Kaya servis mobil aja luar dalam. Hoeks!

Kedua, body contact. Bagi orang pacaran, seolah ada aturan tak tertulis yang ’mengizinkan’ mereka untuk saling bersentuhan secara fisik. Mulai dari ’kegiatan biasa’ seperti pegangan tangan, hingga yang mendekati zina seperti pelukan, saling membelai, kissing, necking, atau petting.

Aktivitas body contact orang pacaran udah masuk kategori mendekati zina. Meski nggak selalu berujung pada zina hakiki (coitus), bukan berarti kegiatan fisik itu dianggap aman. Tetep aja dibenci Allah. Dalam kitab Shahih Muslim bi Syarah an-Nawawi, dijelaskan ada manusia yang melakukan zina hakiki, ada juga yang melakukan ’zina’ melalui indera mereka. Termasuk diantaranya dengan cara menyentuh tangan ajnabiyah (bukan mahram) dengan tangannya. Tuh kan?

Ketiga, berdua-duaan. So pasti orang pacaran selalu pengen berduaan dengan pasangannya. Dimana saja, kapan aja. Dengan pengawasan, apalagi kalo nggak diawasi. Biar bisa ngobrol lebih bebas dan intim diselingi canda tawa mesra yang kian mendekatkan hubungan cinta mereka. Pihak ketiga yang mau ikutan nimbrung, mesti izin dulu. Kecuali setan kali yaa. Soalnya setan kan nggak keliatan, jadi bisa dengan mudah menyelinap diantara mereka dan menggoda hati keduanya untuk mendekati zina. Kondisi inilah yang dalam Islam dikenal dengan istilah khalwat. Dan nggak ada satu ulama pun yang menolak keharaman khalwat. Catet tuh!

 

Pacaran Islami = Legalisasi Pacaran!

Opini pacaran Islami kian menguat ketika ada pihak yang gencar mengkampanyekannya disertai dalil-dalil syar’i untuk membenarkan aktivitas pacaran versi Islam. Seperti boleh berkhalwat asal diawasi, boleh berpegangan tangan seperlunya tanpa nafsu, boleh boncengan dengan menjaga jarak biar tak bersentuhan, atau boleh mengobral cinta, dan tetep menjauhi zina. Saking ngototnya, pengusung ide pacaran Islami ini juga ngulik beberapa buku penghujat pacaran kemudian menghujat balik opini yang tertulis di dalamnya. Lantas, untuk apa pacaran diislamisasi?

Untuk ngasih kemudahan bagi para aktivis dan simpatisan pacaran islami dalam menjalin percintaan sebelum menikah. Selain itu, dengan pacaran Islam bisa turut memperbaiki citra Islam yang sering dihubungkan dengan terorisme dan kekerasan. Begitulah pernyataan tertulis pengusung ide pacaran Islami diakhir seruannya. Hmm…dengan tanpa mengurangi rasa hormat akan perbedaan pendapat, ada hal yang mengganjal membaca tujuan islamisasi pacaran.

Pertama, kalo untuk memudahkan, bukankah Islam juga udah ngasih kemudahan dengan aturan khitbah (pinangan) yang jelas dan tegas sebelum menikah. Sehingga tetep bisa kenal lebih dekat satu sama lain sebelum ke jenjang pernikahan. Apa ketegasan aturan khitbah yang mulia dianggap menyulitkan sehingga harus mengadopsi ide pacaran dan dikasih label ‘islami’ biar syar’i? Atau malah ngikutin ‘selera pasar’ yang lebih familier dengan istilah ‘pacaran’ dibanding ‘khitbah’ sehingga masyarakat lebih mudah menerima Islam dengan sedikit ‘rekayasa’? wallahu a’lam.

Kedua, kalo dikaitkan dengan terorisme dan kekerasan, selain gak nyambung, konsep pacaran Islami lebih terlihat seperti bentuk pembelaan diri agar terlepas dari tuduhan miring terhadap Islam. Padahal, yang ngasih cap negatif terhadap Islam adalah musuh-musuh Islam. Kalo kita yakin Islam nggak seperti yang dituduhkan, untuk apa cemas dan takut untuk menyuarakan kebenaran Islam apa adanya. Dan untuk memperbaiki citra Islam harusnya dengan membongkar makar dan fitnah musuh-musuh Islam. Bukan malah merasa terpojok lalu bersikap defensif apologetik. Eits, apaan tuh?

Defensif apologetik adalah upaya pembelaan diri dengan menggunakan pola pikir pihak penyerang karena takut dianggap berbeda dengan orang lain. Misalnya, ketika dinilai aturan Islam tuh kaku dan nggak bisa ngikutin zaman. Terus kita bilang, “eits, kata siapa? Aturan Islam fleksibel kok. Busana muslimah aja bisa trendy bin fashionable. Yang penting kan menutup aurat.” Niatnya menjelaskan, eh malah menjatuhkan. Orang yang bersikap defensif apologetik biasanya akan terseret untuk terjebak dalam alur pemikiran pihak penyerang. Jadi nggak pede dengan dirinya. Berabe tuh!

D’riser, dari penjelasan di atas, dengan sangat ’menyesal’ kita mau bilang kalo pacaran itu nggak ada dalam aturan Islam dan nggak dicontohin oleh Rasul saw. So, kalo ngotot pengen pacaran, merit dulu kali yaaa. Berani?![341]

Di Muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #10

Find the True Love

Drise-online.com – Asal masuk bulan Februari maunya ngobrolin cinta melulu. Bulan ini udah didaulat jadi bulan cinta sedunia karena di sana ada perayaan hari kasih sayang alias Valentine Day (V-day). Padahal beberapa sumber menyebutkan bahwa V-day adalah hari peringatan kematian seorang pendeta. Sumber lain menyatakan bahwa V day adalah perayaan hari kesuburan bangsa pagan Romawi. Jadi perayaan V-day sebenarnya nggak terlalu berhubungan dengan cinta kasih.

Yup, kali ini D’RISE nggak akan terlalu banyak bahas V-day karena udah banyak banget pihak yang mengungkap apa sebenarnya V-day itu, D’RISEr pasti udah pada tahu. Sekarang kita akan bahas abis-abisan soal cinta. Sejenis makhluk apakah cinta itu? Mari kita kuliti bersama-sama. Lets cekimprot…

 

The Meaning of Love

Nah ini dia pertanyaan terbesar sepanjang masa, apakah cinta itu? Tapi sebelumnya mari kita samakan dulu persepsinya, cinta yang lagi kita bahas sekarang adalah cinta dengan lawan jenis ya, bukan cinta kepada orang tua, sodara, atau yang lain. Oke…

“Cinta itu kalo kata d’Bagindas mah C, I, En, Te, A,” halah. Itu kata Panji, kawan kita dari salah satu SMA Negeri di Sukabumi. Katanya cinta itu adalah suatu anugerah yang sangat luar biasa, tapi susah didefinisikan.

Lain lagi yang diungkapkan Irwan. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta ini bilang bahwa cinta itu harus saling menyayangi, memahami dan mengerti.  “Nggak pandang fisik atau materi, kudu bisa nerima apa adanya.” Waaahhh anak mahasiswa jawabannya berbobot banget.

“Cinta itu adalah rasa suka dalam hati kepada lawan jenis. Biasanya ada keinginan untuk memiliki. Tapi kadang cinta juga jahat, jadi aku nggak terlalu suka sama cinta,” kata Gita, kawan kita dari Medan. Wah nggak suka sama cinta? Ah yang beneeerrr, hehe.

“Cinta adalah sebuah gaya tarik menarik yang dipengaruhi oleh besarnya frekuensi dan kuantitas gelombang yang menggetarkan hati, dan melambungkan harapan elemen positif, sehingga berimplikasi pada aplikasi di dalam sebuah mekanisme pikiran, perasaan, dan suatu aturan yang mendasarinya,” euleuh panjang banget, ilmiah lagi, itu kata Adit, kawan kita dari Cianjur. Kayanya dia cucunya Einstein. Huhu…

Lebih parah lagi, “cinta itu BULLSH*T”, kata Yuanita, kawan kita yang juga dari Medan. Adoyyy, jangan ngamuk di sini Buuu.

Wah ternyata makna cinta itu banyak dan relatif, sekaligus subjektif. Tergantung siapa yang ngomong, dan tergantung bagaimana latar belakang pemikiran, lingkungan, dan pandangan hidup orang yang ngomong. Orang barat malah bilang bahwa cinta adalah hubungan seks. Makanya mereka mengistilahkan hubungan seks dengan istilah making love (membuat cinta). Padahal kan nggak gitu juga.

Yang lebih kacau lagi, Panglima Tian Feng alias Pat Kay bilang “cinta, deritanya tiada akhir”. Makin parah.!!

 

Korban Cinta Semu

Parahnya, makna-makna cinta yang beredar di tengah remaja adalah makna cinta yang nggak jelas bahkan keliru. Karena makna cinta yang salah itulah akhirnya remaja salah langkah dalam mengekspresikan cintanya. Remaja jadi getol pacaran, bahkan yang nggak punya pacar alias jomblo dianggap aneh dan dipandang sebelah mata alias ketinggalan jaman. Ada yang bela-belain cari pacar lewat biro jodoh, ramalan cinta, internet dan situs jejaring sosial, bahkan ada juga yang hunting sampe ke desa-desa. Nyari bunga desa gitu loh, karena yang di kota udah banyak yang nggak orisinil. Hahay.

Dengan kenyataan seperti ini, tanpa disadari sebenernya remaja sedang mengambil makna cinta menurut orang barat yang pandangan hidupnya adalah liberalisme (kebebasan) dan hedonisme (maunya enak doang), yang emang sekarang ini lagi jadi mainstream (arus utama). Asalkan udah saling mencintai lantas boleh berbuat apapun dengan orang yang dicintainya. Hal ini biasanya sering dijadikan senjata untuk merampas keperawanan anak cewek. “Kalo emang cinta buktikan dong, mau ML nggak?” Basi banget. Yang merebak kemudian adalah perilaku yang sangat berbahaya.

Berbagai riset udah banyak mengungkapkan bahwa sebagian besar remaja udah pernah berhubungan intim sebelum menikah. D’RISE aja ngeri banget pas baca hasil risetnya. Udah parah banget. Demi cinta semu gampang banget remaja menggadaikan keperawanan dan keperjakaannya. Kalo baru ciuman bibir mah belum seberapa, udah banyak yang sampe bercumbu, necking, dan bahkan berzina. Nauzubillah.

Fenomena ini juga kelihatan banget pada saat perayaan pergantian tahun kemaren. Pergantian tahun diwarnai dengan pelepasan keperjakaan dan keperawanan. Serem banget. Di beberapa kota seperti di Jombang dan Yogyakarta persentase penjualan kondom meningkat sampe seratus persen di berbagai apotek. Seorang kawan yang kerja di sebuah perusahaan ritel terkemuka –yang udah sukses mematikan warung-warung kecil- juga cerita bahwa orang-orang pada bolak-balik beli kondom pas tahun baru. “Masa anak kecil disuruh beli kondom, kang,” tandasnya. Haduuuuhhhh.

Ya Allah selamatkanlah kami dari itu semua. Amin…

 

The True Love

Pandangan tentang cinta emang subjektif, tergantung dari sudut pandang, pola pikir, dan pandangan hidup masing-masing orang. Karena itulah kalo ditanyakan ke masing-masing orang kemungkinan jawabannya akan beda-beda. Kesalahan dalam memaknai cinta akan berakibat pada kesalahan bersikap dalam mengekspresikan cinta. Kalo udah begini nanti yang datang adalah bencana buat diri kita sendiri.

Terus gimana dong makna cinta yang sesungguhnya? Nah ini dia. Karena kita muslim, tentunya definisi cinta dalam Islam yang kudu kita ikutin dan kudu kita aplikasikan. Karena dengan cinta yang islami inilah kita akan selamat dalam mencintai pasangan kita dalam keridhoan Allah dan RasulNya.

D’RISE beruntung banget sempat baca sebuah tulisan yang berjudul The Vision of Love, buah karya seorang penulis muda yang bentar lagi insya Allah akan meluncurkan dwilogi novelnya. Walaupun judulnya pake bahasa Inggris, ternyata tulisan itu adalah visi cinta yang islami banget, yang dia persembahkan buat pujaan hatinya yang insya Allah bentar lagi bakal dia nikahi (katanya tolong doain). Poin awal dari tulisan itu ternyata adalah definisi cinta lho. Waaaahhh…

Katanya, “cinta adalah ketaatan kepada Allah dan RasulNya.” Dia menyandarkan definisi cintanya itu kepada surat Ali Imran ayat 31, “Katakanlah jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Rasul).” Dia menjelaskan, berdasarkan ayat tersebut kegambar banget bahwa cinta itu adalah ketaatan kepada aturan Allah dan RasulNya. Kalo kita sungguh-sungguh mencintai pasangan kita, maka cara mencintainya haruslah dengan menaati aturan Allah dan RasulNya, yaitu dengan menikah. Kalo di luar itu –kaya’ pacaran- bukan cinta namanya. Dengan kata lain kalo kita mencintai bukan dengan syariat Allah dan RasulNya sebenernya itu cuman cinta semu, yang akan menyisakan luka dan dosa di hati.

Hal senada juga disampaikan oleh Ust. Shiddiq al-Jawi, “Bagi saya cinta sejati adalah cinta yang didasarkan pada keimanan kepada Allah dan dilaksanakan sesuai tuntunan syariah. Inilah cinta sejati yang ada dalam Islam. Selain itu, yang ada hanya cinta gadungan, yaitu cinta palsu yang sebenarnya hanya tipu daya syaitan, atau hawa nafsu, atau cinta ala binatang.” Catet tuh bro!

Nah itulah dia cinta sejati, cinta yang dibangun di atas kecintaan dan ketaatan kepada aturan Allah dan RasulNya, syariat Islam. Untuk mengetahui secara mendalam bagaimana Islam mengajarkan caranya mencintai dan dicintai pujaan hati, nggak ada cara lain selain dengan ngaji. Hayo ngaji… biar cinta tetep bersemi demi meraih ridho illahi…yuk![sayf]

 

 

 

 

Box

Love Detector

 

Karena sekarang banyak beredar cinta semu dan cinta gila, D’RISE mau ngasih tips dan trik bagaimana mendeteksi cinta. Lets rockin’.

 

  1. Kalo doi nembak trus ngajak pacaran, tandanya doi nggak serius dan mau menjadikan kamu sebagai pelampiasan tamasya syahwatnya. Wajib ditolak.
  2. Kalo doi ngajak berduaan alias mojok, tandanya doi lagi menjerumuskan kamu kepada murka Allah. Inget, kalo cowok sama cewek udah berdua-duaan yang ketiganya pasti setan. Jadi wajib ditolak.
  3. Kalo doi minta bukti cinta dengan ngajak berhubungan intim, itu juga cuman akal-akalan dia untuk melampiaskan nafsunya sama kamu. Nggak pake lama, wajib ditolak.

 

Waspadalah, waspadalah…

Di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi#10

Gaya Jijay Generasi Alay

The Alay Generation

drise-online.com – Alay! Nggak jelas sebenernya apa makna asli dari “Alay”. Ada yang bilang Anak Layangan, alah lebay, anak melayu, anak kelayapan, dan bahkan ada yang menghubungkannya dengan anak JARPUL alias jarang pulang (bang Toyib kali). Istilah alay nggak jauh beda dengan istilah-istilah lain di kalangan anak muda yang suka tiba-tiba muncul kemudian populer dan digunakan secara massal pula endingnya ilang lagi diganti istilah populer lain yang  baru nongol.

Drise mengutip pendapat Koentjaraningrat dalam mendefinisikan Alay, “alay adalah gejala-gejala yang terjadi di tengah pemuda dan pemudi Indonesia yang ingin diakui statusnya di tengah teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya (pengguna internet sejati seperti blogger dan kaskuser). Diharapkan sikap ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar.”

Pendapat Selo Soemardjan nggak jauh beda, “alay adalah perilaku remaja Indonesia yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat, diantara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat rakyat Indonesia yang sopan santun dan ramah. Faktor yang menyebabkannya bisa melalui media TV, dan musisi dengan dandanan seperti itu.”

Di tengah-tengah remaja juga berkembang pandangan dan pengertian tentang alay, bahkan terjadi khilafiyah (hehe) alias perbedaan pendapat tentang apa dan siapa kaum alay ini. Tapi ada satu pandangan seragam yang drise temukan, ternyata banyak pihak di kalangan remaja yang sebel berat sama anak-anak alay (kecuali anak alay itu sendiri). Menurut mereka pokoknya anak alay itu kudu bertobat nasuha karena kelakuannya telah merusak citra anak muda dan mencolok mata. Tobat, Lay!

Walaupun terjadi khilafiyah tentang apa dan siapa itu anak alay, drise berhasil meneluri berbagai ciri umum yang melakat pada mereka. Saat mengetahui ciri anak alay ini drise ngakak nggak berhenti. Haduh.

Katanya anak-anak alay itu sebenarnya adalah anak kampungan dengan gaya yang maksa agar disebut anak gaul dan keren. Ternyata yang ada bukannya keliatan keren tapi malah bikin eneg (maksudnya mual). Dalam gaya berpakaian  contohnya, mereka nggak tau apa-apa bagaimana cara mix and match baju.  Jadinya gaya mereka bakal norak banget. Contohnya, pake baju ijo, celana kotak-kotak, kaca muka biru (bukan kaca mata lantaran kacanya guede buanget sampe nutupin mukanya), nah norak nggak? Untuk alay cowok biasanya gaya rambutnya diwarnain jadi pirang yang tentu aja nggak cocok sama warna kulit mukanya yang sawo busuk. Gaya model gini bakal menimbulkan kesan the kill (dekil), kucel and the kumel. Kaya abis panas-panasan maen layangan trus nggak mandi seminggu.

Biasanya anak alay suka belagak techno dengan nenteng-nenteng HP seken nggak lupa kabel hedset nyantol di telinga. Terus bergaya sok asik berlagak menikmati musik. Parahnya ternyata musik yang mereka dengar biasanya yang bernada metal gitu deh (melayu total). Tapi itu rahasia lho. Hehe.

Anak-anak alay juga dikenal dengan sikap mereka yang narsis always, dan pengen eksis dimana pun. Di friendster biasanya majang foto cewek-cewek cantik (buat alay cowok), dan majang foto cowok-cowok ganteng (buat alay cewek), biar dianggap gaul, padahal mah nggak kenal, hehe. Kaum alay biasanya suka punya acara “putu-putu narziz”. Entah itu di sekolah, WC, mobil, kamar, stasion, angkot, dll. Terus biasanya gaya fotonya diimut-imutin, pake cahaya terang banget biar jeleknya nggak keliatan, difoto dari jarak deket banget, atau difoto dari atas biar keliatan keren.

Mereka juga memiliki gaya yang unik (banyak juga yang bilang menyebalkan) dalam menulis sms. Sms yang seharusnya habis dibaca dalam 10 detik bisa nggak abis dibaca dalam 10 menit karena nggak tau apa maksudnya. Biasanya mereka nulis aku dengan akyu, aq, akko, aquwh, dll. Nulis maaf dengan mu’uph, muphs, dll. Mereka juga suka nulis sms hurufnya dicampur antara huruf gede dengan huruf kecil. Mereka juga biasanya nyampurin antara angka dengan huruf, jadi makin pusing kan. Kalau nulis teks juga biasanya disingkat dan nyingkatnya kebangetan, sampe yang baca nggak ngerti. Gitu deh kira-kira anak alay.

 

Nggak Bebas Nilai Gitu Lho…

Fenomena alayisme yang permissif (gaya hidup serba boleh ngapain aja) nunjukkin pada kita kalo alayisme sebenernya produk kehidupan liberal hedonistik (memuja kesenangan belaka). Bener banget, karena gaya alay masih berkiblat pada gaya liberal hedonistik yang coraknya adalah bergaul bebas dan mengumbar aurat. Liat aja gaya cewek alay yang sukanya pake celana jins super pendek trus naek Mio boncengan rapet ama pacarnya.

Gaya alay emang jijay dan nggak jelas. Sebagai generasi Islam kita kudu hati-hati dengan gaya gaul model begini karena banyak hal di dalamnya yang bertentangan dengan aturan Islam, terutama dalam gaya berpakaian dan pergaulan. Islam punya cara sendiri bagaimana seharusnya kita bergaul dan berpakaian, dan sudah seharusnya kita mengetahui dan mengamalkannya. Generasi Islam udah seharusnya menjadikan Islam sebagai gaya gaulnya. Karena itu, ayo mengenal Islam lebih dalam. Yuk![Sayf]

 

Box

 Be Yourself!

Udah nggak jamannya lagi generasi Islam ikut-ikutan gaya hidup orang non muslim. Ayo kembali kepada identitas kita yang asli sebagai remaja muslim. Dan menjalankannya dengan istiqomah. Ini dia beberapa tips untuk menjaga keistiqomahan kita.

  1. Dari mana kita bisa tahu aturan Islam kalo nggak ngaji. Jadi ngaji adalah poin penting untuk menjaga keisqomahan kita.
  2. Pilih-pilih temen. Jangan sampe sembarangan milih temen, karena temen bisa turut mewarnai kehidupan kita. Kalo temennya baik insya allah kita akan kebawa baik juga.
  3. Dalam perjalanan keistiqomahan nanti pasti akan kita temui berbagai ancaman, hambatan, tantangan, dan gangguan. Baik dari orang lain maupun dari dalam diri kita sendiri. Sabar adalah sikap terbaik mengahapi semuanya.

Di Muat Di edisi drise #9