majalahdrise.com – Kemana ya, perginya rasa kemanusiaan itu. Menyakiti hewan saja kita kasihan, tapi ini kok tega menyiksa teman sendiri. Saya sedang berbagi rasa prihatin terhadap pelajar yang doyan kekerasan. Salah satu kasus yang sempat heboh pada awal September lalu yakni penyiksaan siswi SMP Negeri 4 Binjai, Medan pada teman sebayanya yang diunggah ke youtube. Video itu lalu dibagikan ke media sosial facebook.
Ribuan mata menyaksikan aksi sadis seorang pelajar berseragam pramuka dan berkerudung, membentak, mendorong dan menampar gadis berseragam yang sama dengannya. Di satu pemberitaan dikatakan bahwa seorang siswi yang jadi bagian dari adegan kekerasan itu mengaku cuma bercanda. Wah, bercanda saja sudah sadis begitu, gimana kalau benaran ya. Sampai tulisan ini dibuat, belum diketahui penyebab siswi tersebut menyakiti temannya. Satu yang pasti, rasa kasih sayang yang Allah Swt tanamkan ke dalam dirinya, saat itu benar-benar hilang. Umat Islam dulunya terkenal sebagai umat terbaik kan ya.
Iman mereka kuat, ibadahnya rajin dan akhlaknya baik. Mereka berkasih sayang dan lemah lembut kepada saudara sesama muslim, tegas kepada orang kafir serta taat sepenuhnya pada Allah Swt dan RasulNya. Ibaratnya kaum muslim tuh bagai rahib di malam hari dan singa di siang hari. Mereka begitu khusyuk saat berhadapan dengan Allah Swt dalam ibadahnya. Lalu di siang hari siap membela Islam, menyebarluaskan Islam dengan dakwah dan jihad. Persaudaran kaum muslim saat itu yang diikat dengan akidah Islam sangat kuat. Mereka bersatu padu, bahu membahu membangun Islam, hingga Islam bisa merata sampai ke pelosok dunia kayak sekarang.
Beberapa sosok muslim yang dikenal sejarah, seperti sahabat Nabi, Abu Bakar as Siddiq, Umar bin Khatab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, tersohor dengan karakter ideal muslim sejati. Mereka adalah para Khalifah, pemimpin negara yang bijaksana mengurus rakyatnya dengan Islam. Ada lagi sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash. Beliau pernah ditentang oleh sang ibu ketika masuk Islam. Bahkan ibu Sa’ad mengancam nggak mau makan kalau anaknya nggak ninggalin Islam. Namun dengan sabar serta lemah lembut beliau menyampaikan pandangannya pada sang bunda. Hingga pada akhirnya sang bunda luluh dan kembali bersedia untuk makan. Banyak lagi pribadi Islam lainnya, kalau kita mau baca sejarah.
Semua itu adalah gambaran muslim generasi Khilafah, generasi didikan Islam seutuhnya. Dalam kamus Islam nggak dikenal prilaku keji kayak prilaku banyak pelajar masa kini. Please, kembalikan karakter pemuda Islam sejati. Kita setuju kalo yang bertanggungjawab atas ini adalah keluarga, sekolah dan masyarakat. Kita butuh keluarga yang baik, sekolah yang beri ilmu membekas hingga ke prilaku kita dan masyarakat yang kasih contoh prilaku baik.
Tapi semuanya bisa terwujud kalo negara serius ngurus kita. Tanda bahwa negara serius ngurusin rakyatnya yakni mau menerapkan Islam secara kaffah. Kalau negara berlabel kapitalis sekuler kayak sekarang nggak mampu melakukan hal itu, maka kita harus menegakkan kembali negara Khilafah. Sejarah sudah membuktikan, Khilafahlah negara yang serius mengurusin rakyatnya dan menghasilkan muslim berkepribadian Islam. Ayo tegakkan Islam! []
di muat di majalah remaja islam drise edisi 50