Bicara mengenai wanita, tak akan pernah habis masanya. Yang menarik, yang unik, yang luar biasa, sampai yang aneh dan tak masuk akal sekali pun. Wanita gudang B inspirasi. Coba perhatikan, berapa banyak jutaan lirik lagu yang tercipta di dunia dan temanya tentang wanita? Begitu juga dengan puisi sohor karya para pujangga yang ngegombal demi meluluhkan hati yang ditujunya. Entah apakah wanita sendiri memahami hal ini atau tidak?
Bahwa dirinya (sesungguhnya) begitu menginspirasi. Kisahnya, permasalahannya, kebutuhannya, kerumitannya, lebih banyak terbahas dan dibahas. Lebih banyak menjadi wacana dan timeline berita. Buktinya, ada lelaki yang menjadi begitu minder usai melihat kemampuan teman dekatnya yang wanita saat memimpin. Sebagian ada pula yang menjadi sangat begitu iri dengan wanita yang bisa-bisanya memiliki jiwa kepemimpinan yang terasa lebih menakjubkan dibanding denga dirinya. Berkomentar, “Sigh! Cewek ajah bisa, kenapa gue nggak?!” Sehingga, mereka merasa dapat ilham alias tonjokan yang menyadarkan untuk bisa lebih baik dalam menghasilkan segala. Bukan hanya dari kepemilikan jiwa seorang pemimpin saja, tetapi juga soal karya dlsb.
Ada juga ragam manusia yang pada akhirnya menjadi sebal dengan wanita karena merasa, wanita lebih mudah mendapatkan uang dari pria. Lebih mudah dapat pekerjaan, lebih enak soal perlakuan, sehingga orang-orang macam begini seolah membuat gebrakan semangat misoginis (anti perempuan) meski kadarnya tidak sampai parah. Namun secara tanggapan, mereka skeptis dengan kebanyakan wanita murahan yang semakin menjamur. Makanya mereka sengaja menjadi malas menjalin interaksi dan interrelasi dengan kaum wanita.
Bagi orang-orang ini, wanita semua sama. Demi hajat hidup, demi untuk meraih eksistensial yang lebih menjanjikan, berani buka baju, goyang erotis, pamer keelokan tubuh dll. Rasanya jadi sangat tidak fair dengan kaum lelaki yang banting tulang cari uang, susah payah dengan peras keringat dan putar otak mati-matian tetapi tidak dapat penghargaan yang lebih layak dan banyak. Sebenarnya tidak begitu. Keluhan yang sama pun terjadi dan dialami oleh wanita. Banyak kok wanita yang traumatis dengan ulah bejat kaum lelaki.
Baik itu yang terekam dari lingkungan sekitar tempat ia tinggal, atau dalam masa periode yang cukup lama dan berkelanjutan, ia hanya menemukan lelaki yang tidak beres secara lahir batin. Ilfeel itu pun imbang pada akhirnya. Lelaki-wanita sama saja perasaannya. Jika memang realita yang diketahui dan didapati hanyalah keburukan mengenai kaum lelaki atau wanita, keduanya pun akan merasakan perasaan kecewa hingga akhirnya menutup diri untuk tidak banyak macam-macam dengan berpadu dan bersatu menggalang kebersamaan, kekompakan.
Ada yang jadi malas menikah, ekstreem padahal urusan mu’amalah adalah mubah, begitu tak acuh pada kesulitan yang dialami lawan jenis, kepekaannya pada rasa kemanusiaan yang seharusnya dimiliki menjadi tumpul dan masih banyak lagi. Inilah sisi lain ketika syariah dipandang sebelah mata. Padahal lihatlah bagaimana cerminan dunia saat ini dengan mencampakkan syari’ah. Banyak sekali lelaki tidak bertanggungjawab mempermainkan wanita, melecehkannya dalam bentuk (yang mereka menyebutnya dengan hasil karya) film, iklan, sastra, dll yang sesungguhnya semua itu tak lebih dari hal cabul.
Lirik lagu yang penuh kegalauan, membuat pendengarnya semakin resah tiada akhir dan bukannya melenyapkan stress malah yang ada semakin lemas karena cinta pada wanita. Memuja dan memuja saja pekerjaannya. Dan wanita, dalam tataran ini menjadi sosok yang extradite untuk tidak mengubah keadaan. Wanita-wanita seperti ini kelak akan menjelma menjadi jalang dan tak akan betah hidup diatur oleh aturan agama. Jika ia Muslim, ya akan ditabrak saja perintah dan laranganNya untuk menjadikannya terus kokoh dalam kubangan maksiat. Wanita tereksploitasi. Bukan menginpirasi. Hanya bisa disebut sebagai inspirasi jika wanita memang sangat wow dalam hal karya dengan tetap teratur di atas hukum syara’.
Yang sudah sangat terjamin untuk disebut inspiratif adalah kisah para Shahabiyah tentunya. Maka itu, harus ada perubahan! Wanita, sudah saatnya bangun, siapkan senjata dan berperang! Bangkit! Dan lelaki, harus bisa menjadi pelindung dan penjaga yang memuliakan wanita seperti halnya Nabiyullah Muhammad saw. memperlakukan wanita. Keduanya harus saling mengenali potensi dan tabi’at. Untuk mengukir peradaban dunia dengan dakwah dan Islam. Compact! Euphony! [Hikari]