Kenaikan harga BBM selalunya bikin senewen. Lantaran naeknya harga BBM otomatis memicu kenaikan harga-harga barang dan jasa yang sangat penting buat kebutuhan Kkita sehari-hari. D’Rise sempet nodong beberapa driser untuk minta pendapatnya soal kenaikan harga BBM.
“Kebanyakan harga bahan pokok makanan ikut naik, ongkos naik, angkutan umum juga jadi ikut naik,” kata Tsaqifah az Zahra. Cewek asal Bandung ini sangat menyayangkan kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM. Doi nggak setuju banget kalo harga BBM dinaikin, karena bisa menyengsarakan rakyat kecil.
Wah keren banget kawan kita ini, masih mau mikirin rakyat kecil. Lain lagi dengan Ajeng, cewek asal Sragen ini bilang bahwa BBM bisa turun lagi harganya kalo pemerintah punya hati. Sayangnya hati itulah yang nggak dipunyai pemerintah, hehehe. Kalo kata kawan kita yang punya nickname Sang pembebas dan tinggal di Makassar, harga BBM itu nggak bakalan turun, malah bakal terus naik kalo sistemnya masih kapitalis.
Wah ngeri nian! Obrolan D’RISE di atas senada dengan hasil survei terbaru dari LSI (Lingkaran Survei Indonesia) yang mendapatkan sebanyak 86,6% rakyat Indonesia nggak setuju harga BBM dinaikin. Ya jelas aja nggak setuju, karena kenaikan harga BBM ini bakal membawa kesengsaraan baru buat rakyat yang dari dulu emang udah sengsara.
Emangnya kenapa sih kok pemerintah kebelet banget mau naikin harga BBM? Kalo kata Tsaqifah, mungkin ada yang mau nyari untung atau bisa juga karena emang BBM-nya yang udah langka. Ajeng lain lagi, dia bilang mungkin karena pemerintah banyak utangnya, sumber dana yang lain lagi seret, jadinya BBM deh yang jadi korban. Komentar Sang Pembebas lebih nyelekit lagi, katanya karena di sistem kapitalis itu emang nggak akan ada kebijakan yang menguntungkan rakyat. Waduhh… Untuk mendukung kebijakan menaikan harga BBM ini pemerintah menyodorkan seribu satu alasan (banyak alasan gitu deh).
Katanya subsidi BBM itu membebani APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), subsidi nggak tepat sasaran, harga minyak dunia naik, dan sebagainya. Buat kita yang nggak ngerti cara ngitung APBN itu bisa jadi kecele, dan bakal menganggap alasan pemerintah itu bisa diterima. Padahal kalo diteliti lagi lebih dalam, alasan-alasan itu banyak banget kebohongan publiknya. Wah sampe segitunya? Beneran! Anggaran subsidi BBM membengkak dari Rp. 129,7 triliun menjadi Rp. 160 triliun.
Emang bener terjadi peningkatan, tapi sebenernya subsidi BBM itu nggak seberapa jika dibandingkan dengan belanja birokrasi. Antara rentang tahun 2005 – 2012 belanja birokrasi naik sekitar 400%, yaitu dari Rp. 187 triliun menjadi Rp. 733 triliun. Apaan aja tuh belanja birokrasi: ongkos kunjungan (jalan2) aparat pemerintah keluar negeri, naikin gaji PNS (tanpa perbaikan kinerja PNS), beli baju dinas, renovasi banggar, bikin toilet, bikin tempat parkir, bikin kalender, dan banyak lagi.
Selain itu pengeluaran yang sukses membebani APBN adalah pembayaran utang dan bunganya. Katanya subsidi BBM pun salah sasaran, sebab banyak dinikmati oleh mobil berplat hitam milik orang kaya. Padahal data pemerintah sendiri (data BPS tahun 2010) menyebutkan bahwa BBM bersubsidi itu sebanyak 65% digunakan oleh kalangan menengah ke bawah. Hanya 2% saja orang kaya yang menggunakan BBM bersubsidi.
Driser, makin jelas kalo kenaikan BBM bukan untuk kebaikan rakyat. Lalu untuk siapa? Selidik punya selidik ternyata untuk mensukseskan liberalisasi minyak dan gas (migas) sesuai permintaan IMF dan para investor asing yang menguasai sumber daya alam minyak bumi di negeri kita. Para investor yang rakus itu, mau ngecer produk bbm mereka melalui SPBU-SPBU pinggir jalan. Sayangnya harga BBM mereka kemahalan dibandingkan pertamina.
So, biar pemerintah gak direcokin ama para investor asing dan IMF, harga BBM dalan negeri dinaekin biar mendekati harga BBM para investor asing. Kok tega-teganya ya pemerintah yang dipilih rakyat lebih memikirkan kepentingan asing daripada kepentingan rakyatnya sendiri. Masih percaya ama pemerintah jahat model gini? [Isa]