Majalahdrise.com – Kegelapan semakin suram, perjalanan semakin mencekam seiring dengan anak-anak tangga yang menurun tajam. Mutsana bin Harits menuruni tangga yang landai itu menuju ke bagian benteng yang lebih dalam. Ke tempat yang disebut Gerbang Neraka. Keremangan yang dipancarkan obor-obor yang tertempel di dinding semakin meradang. Bau udara yang lembab dan apak ditingkahi desis api yang meretih-retih. Bau-bauan harum yang sejak tadi membuai penciuman Mutsana sudah sirna sama sekali. Tangga batu itu kemudian berbelok ke kiri dan terus memutar ke bawah. Mutsana melangkah dengan amat hati-hati, jika kakinya tergelincir bisa berakibat fatal. Dia bertanya-tanya di manakah anak tangga itu akan berakhir? Apakah di sisi lain dunia?
Derap Rantai
Menuruni sesuatu sebenarnya hampir sama beratnya dengan mendaki sesuatu. Bahkan bisa jadi menuruni sesuatu itu jauh lebih berat daripada mendaki. Mutsana melangkah dengan amat hati-hati dan menjaga keseimbangannya sebaik mungkin. Kondisi ruangan yang lembab membuat anak tangga batu menjadi licin, dan upaya menuruninya harus dilakukan dengan amat hati-hati.
Beberapa kali dia berpapasan dengan beberapa orang prajurit hitam yang sedang naik. Semuanya berwajah tegang dan bermata keruh. Mutsana terus turun hingga tibalah dia di dasar benteng itu. Dia bertanya-tanya sudah seberapakah dalamnya dia menuruni benteng itu, namun dia tidak tahu pasti jawabannya. Dia berhadap-hadapan lagi dengan sebuah lorong gelap yang entah di mana ujungnya. Obor-obor yang tadinya banyak tertempel di dinding kini sudah semakin jarang. Berbekal kepasrahan kepada Allah, dia melangkah maju.
Semakin dalam Mutsana menyusuri koridor gelap itu indra penciumannya menangkap bau yang tak enak, bau busuk bangkai. Seiring dengan langkahnya, bau bangkai itu kian kuat. Ketika dia berdiri di depan sebuah pintu di ujung koridor, dia sadar bahwa bau bangkai itu berasal dari balik pintu itu.
Tepat di akhir koridor itu terhamparlah sebuah pintu yang amat sederhana. Pintu itu terbut dari kayu dan dicat berwarna hitam. Jelas sekali, dari balik pintu itulah menguar bau bangkai. Apakah ini gerbang neraka? Mutsana bertanya-tanya. Karena aroma bangkai yang menyengat itu, Mutsana menutup hidung dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya bersiap di atas gagang belati. Sambil menahan napas diraihnya daun pintu, ternyata tidak terkunci, atau mungkin sengaja tidak dikunci? Dengan sanubari yang berpasrah kepada Allah s.w.t, dia menyelinap ke balik pintu itu hanya untuk menyaksikan kengerian yang lain.
Apakah ini neraka? Mutsana membelalak lebar. Bau anyir bangkai dan darah bercampur menjadi satu di tempat yang tidak pernah dia duga akan memasukinya. Dia telah terlibat dalam banyak peperangan dan telah sering menyaksikan kengeriannya, tapi apa yang dia saksikan saat ini melampaui imajinasinya. Mutsana hampir saja menyangka bahwa ruangan itu adalah neraka yang sebenarnya. Sebuah aula yang gelap dan remang-remang terbentang di hadapannya. Seluruh permukaan di dalam ruangan itu berwarna hitam, atas, bawah, kanan, dan kiri, semuanya berwarna hitam. Untuk ruangan seluas itu sedikit sekali obor yang tersedia, sehingga lebih banyak sisi-sisinya yang tidak tersentuh cahaya.
Di ruangan itu ada puluhan orang yang sedang disiksa. Berbagai bentuk alat penyiksaan tersedia di sana. Suara lolong dan raungan pantul-memantul, sambar-menyambar menyisakan pilu dan kesakitan. Darah berceceran di mana-mana, dan di tengah-tengah ruangan itu ada kolam darah. Potongan-potongan anggota tubuh timbul tenggelam di dalam kolam darah itu. Para prajurit hitam sibuk menyiksa orang-orang yang entah siapa. Mereka telah menjadi algojo haus darah yang tak kenal belas kasihan. Mutsana menahan napasnya yang sudah sesak karena bau busuk yang sangat. Dia mengedarkan pandangannya, berharap Jabal ditemukannya. Alat-alat penyiksaan yang mengerikan itu mengelilingi kolam darah, menemani daging-daging yang tersayat.
Mata Mutsana tertuju pada salah satu sudut remang ruangan itu. Dia melihat ada seseorang yang sedang duduk di kursi, yang dikelilingi oleh tiga orang prajurit hitam. Orang itu tertunduk, wajahnya lebam dan membiru, tangannya terikat ke belakang. Seorang prajurit hitam kemudian membentak dan menjambak rambutnya hingga wajah orang itu terlihat lebih jelas oleh Mutsana. Dia berzikir kepada Allah, sebab dia telah menemukan rekannya, Jabal.
“APA YANG SEDANG DIRENCANAKAN ABU BAKAR!!!” Bentak prajurit hitam itu. “Kau lihat orang-orang yang sedang disiksa di sana? KAU AKAN BERNASIB SAMA DENGAN MEREKA.”
Sebongkah tinju kembali menghantam wajah Jabal. Darah mengucur dari hidung dan pelipisnya. Jabal hanya menggeleng pelan, dia tak sudi berkata-kata.
“KAU TETAP TAK MAU BICARA?” Kepalan tangan itu terayun lagi.
“HENTIKAN!!!” Sesosok suara dengan tegas menghentikan kezaliman itu. Mutsana telah hadir di sana. “LEPASKAN ORANG INI SEKARANG JUGA!!!”
Jabal hampir-hampir tak sanggup menegakkan kepalanya lagi, tapi dia berusaha keras dan tampaklah Mutsana yang sedang berdiri di hadapannya. Mulutnya terkatup dan diam saja, tetapi hatinya ramai mendendangkan rasa syukur dan pujian kepada Allah sang penguasa semesta. Saat dia melihat sahabatnya di hadapannya, terbitlah kebahagiaan di sanubarinya.
“Jangan memerintah kami,” sergah seorang prajurit hitam.
“ADA APA INI???” Terdengar lagi suara bentakan dari belakang Mutsana. Ternyata ada lagi orang yang datang. Prajurit hitam yang satu ini amat berbeda. Tubuhnya amat besar, wajahnya hitam legam dan menyeramkan. Dialah yang berbadan paling besar di antara semua orang di dalam ruangan itu. Sepertinya dialah pemimpinnya.
“Tiba-tiba dia datang dan menyuruh kami melepaskan orang ini,” kata seorang prajurit hitam.
“Kau ini siapa?” Lelaki hitam berbadan besar itu melotot menatap Mutsana. “Mereka tak punya kuasa untuk melepaskan siapa pun dari sini. Akulah yang berkuasa, aku Assad bin Qais yang sekuat singa.”
Jantung Mutsana gemetar, bagaimana cara dia melawan orang sebesar itu? Namun dia tetap tenang, dia berkacak pinggang dan mendongak kepada lelaki besar bernama Assad bin Qais itu.
“Aku utusan Sayyidi Ibnu Sabah,” katanya. Tangannya menyelinap ke sakunya dan mengeluarkan medali perak yang tadi dia tunjukkan di gerbang batu. “Sekarang lepaskan orang ini sebab Sayyidi menginginkannya dan aku diperintahkan untuk membawanya ke Alamut. CEPAT, SEKARANG JUGA!!!”
Ketika melihat medali perak itu terhampar sekelebat rasa takut di mata keruh Assad dan para prajurit hitam itu. Tanpa bertanya, mereka segera memerintahkan apa yang dikatakan Mutsana, seolah surga dan neraka mereka terletak pada medali perak itu. Tak perlu menghabiskan waktu lama, semua ikatan yang membelenggu tubuh Jabal telah lepas. Mutsana langsung menggandeng lengan Jabal dan membantunya melangkah. Saat lewat di depan Assad, Mutsana memelototinya. Tak ada seorang pun yang bicara ketika Mutsana membimbing Jabal ke pintu.
Alhamdulillah, bisik Jabal.
Allah akan menyelamatkanmu, gumam Mutsana pelan. [@sayfmuhammadisa]
Bersambung..
di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 47