MAJALAH REMA ISLAM DRISE EDISI 48 : Jangan Balik Maksiat Ya..!

MajalahDrise.com – Ramadhan telah berlalu. Ada yang berduka, tak sedikit yang bersukacita. Mereka yang bersedih, nggak rela putus hubungan dengan nyamuk, eh Ramadhan. Persis kaya remaja kasmaran yang ditinggal pergi pujaan hatinya. Duh…kerasa banget sedihnya. Gimana nggak, cuman di bulan Ramadhan Allah swt ngobral pahala nggak ada abisnya. Cuman di bulan Ramadhan juga Allah swt buka pintu ampunan dan hidayah selebar-lebarnya. Jarang-jarang kita dapetin kesempatan langka itu di bulan laen. Apalagi tahun depan belum tentu kita masih bisa ‘nge-date’ bareng bulan mulia ini. Who knows.

Eits…the show must go on. Gitu kata pepatah. Waktu bakal terus berjalan nggak pake nengok ke belakang meski orang-orang pada manggil biar tuh waktu balik lagi. Ini udah sunatullah. Ramadhan mesti pergi dan berganti Syawal. Setelah sebulan puasa, ketemu deh ama Idul Fitri. Hari spesial yang berlimpah penganan mak nyos khas lebaran. Hari yang pas buat maaf-maafan. Dan momen yang indah untuk jalan-jalan. Berkunjung ke sanak kerabat, bersilaturahmi dengan sahabat, atau piknik ke tempat-tempat yang asyik. Mumpung libur panjang.

Manisnya Kemenangan Kembali ke Fitrah

Idul fitri identik dengan hari kemenangan. Selama satu bulan, kita ikut dalam pertandingan melawan hawa nafsu. Setiap hari kita jaga tuh perkataan maupun perbuatan agar nggak bocorin puasa maupun pahalanya. Kegiatan gosip dijauhin. Godain lawan jenis ditahan. Pacaran apalagi, stop dulu. Biar siap kasih jawaban saat silaturahmi lebaran lalu ditanya, kapan nikah, eh… puasanya poll nggak?Pastinya!

Kemenangan idul fitri itu istimewa banget. Karena cuman dirasakan oleh mereka yang bener-bener puasa saat ramadhan. Ibarat ikut lomba marathon, saat pistol tanda mulai dibunyikan kita berlari dan terus berlari. Sampe akhirnya dada kita menyentuh garis finish. Lega banget rasanya. Kerasa manisnya kemenangan setelah bermandi peluh lelah perjuangan menahan lapar, haus, dan hawa nafsu.

Oh ya, satu lagi. Pasca satu bulan berpuasa, kaum muslim juga kembali fitrah. Ibarat bayi yang baru lahir, secarik kertas putih, polos tanpa cacat cela. Itu artinya, kalo amal ibadah puasa kita benar, ikhlas dan diterima Alah swt insya Allah dosa-dosa kita diampuni. Dan saat lebaran, catatan amal kita bersih dari dosa. Amin banget dong.

Makanya, berbahagialah kamu yang puasanya poll anti bocor. Bagi remaji yang nggak cacap lantaran kedatangan tamu berinisial “H” tiap bulannya, jangan lupa ganti. Biar kalo ketemu Ramadhan berikutnya nggak punya utang puasa. Tapi…. Bukan berarti abis puasa kita merdeka mau ngapain saja. Idih..kaya anak kecil aja.

Sayang banget kalo pasca ramadhan kita kembali maksiat. Kaya yang nggak bersyukur banget sama Allah yang udah kasih kesempatan bisa mendulang keberkahan saat ramadhan kemaren. Kalo bener sudah jadi pemenang, gak perlu mundur jadi pecundang. Tapi siapkan badan dan getol menimba ilmu. Biar semangat taat ramadhan tetap menyala meski bukan di bulan mulia. Oke?

di muat di majalah remaja islam drise edisi 48

Muhammad Shiddiq Ilham Noor “…bukan hanya agent of Change, remaja adalah architec of Change!”

MajalahDrise.com – Segudang prestasi pernah diraihnya. Mulai dari juara lomba penulisan Essay tingkat Propinsi hingga lomba Karya Ilmiah tingkat nasional. Hobynya dalam berorganisasi mencatatkan namanya dalam berbagai kepengurusan di sekolahnya. Bahkan sempat mengantarkanya untuk ikut studi kepemimpinan di negeri kanguru. Dicky, begitu ia biasa disapa. Salah satu siswa berprestasi yang duduk di bangku SMA Islam Terpadu Insantama Bogor. Kang Isa dari Drise, berkesempatan ngobrol dengan doi seputar kondisi pelajar saat ini. Kita simak yuk!

Biasanya setelah UN banyak remaja yang pawai dan corat-coret baju seragamnya. Komentar Dicky?

Wah, kalau ditanya tentang kondisi  remaja saat ini, jelas kita semua akan menjawab tanpa ragu bahwa remaja sedang sakit kronis, kacau balau, dan gak punya arah.Banyak dari saudara-saudara kita yang identitasnya gak jelas karena mudah terbawa arus yang dicekokan oleh peradaban sekuler ini. Gambarannyaseperti kertas dengan mudah terbawa angin. Hanya dengan dasar tak mau dibilang cupu(gak gaul) atau dibilang kuper mereka mengejar semua hal yang membuat eksis. Kalaulagi nge-trend boyband, kerjaanya koleksi lagu/poster boyband. Kalaulagi nge-trend BB (blackbarry), dengan susah payah minta orangtua untuk membelikan BB. Pastrend ganti jadi android, semua remaja berbondong-bondong beli android. Bahkanbatu akik! Yang kalau dulu cuma bapak-bapak, sekarang remaja juga ikut-ikutan, karena lagi nge-trend dan itu semua akan terus berlanjut karena mereka gak punya arah.

Oke, buat sebagian orang contoh tadi memang masih simpel dan cuma kasus sehari-hari. Tapisayangnya kehilangan arah ini menyebabkan dampak yang lebih besar dari sekedar remaja mengejar ‘trend’ yang akhirnya bisa kita katakan remaja sedang sakit kronis. Gimana enggak, ada berapa puluh remaja yang meninggal berkaitan aksi geng motor? Beraparatus remaja yang meninggal karena melakukan tawuran? Beraparatus ribu remaja yang melakukan aborsi akibat seks bebas? Berapajuta remaja yang hidupnya berantakan akibat menggunakan narkoba? Berapabelas juta yang merusak otaknya dengan menyaksikan video porno? Dan itu semua masih sebagian kecil dari permasalahan remaja. Belumditambah bullying, rokok,penyakit dan lain lain. Makatidak salah kalau remaja dikatakan dalam keadaan sakit dan kacau balau.

Untuk coret-coret baju setelah UN, hal ini sepertinya sudah menjadi tradisi turun-temurun kakak kelas-adik kelas. Daritradisi coret-coret baju dapat dikatakan kalau sebagian dari saudara-saudara kita memiliki sifat hura-hura dan cuek pada sekitar. Danhal itu hasil dari terjebaknya saudara-saudara kita dalam kehidupan masa kini yang telah rusak akibat gaya hidup sekuler. Dan sekali lagi ini adalah akibat dari remaja yang tidak memiliki arah dan pijakan dalam bertindak, tidak memiliki penerang dalam mengarungi gelapnya dunia. Dan akhirya berakhir dengan sifat hura-hura mencoret-coret pakaian.

 Ada kasus pelajar yang ‘pesta seks’ setelah selesai UN. Bagaimana menurut Dicky?

Ya, ini juga sebuah budaya tak beradab yang sudah dijadikan tradisi dengan alasan meluapkan rasa senang setelah menyelesaikan ulangan terakhir dalam pendidikan 12 tahun. Banyakdari saudara-saudara kita akhirnya kelewatan batas. Padahaltanpa memperhatikan apapun, pesta seks adalah budaya yang ‘hewani’. Bahkan jauh-jauh hari Islam sudah mengharamkan dengan tegas zina walau hanya mendekatinya dengan cara pacaran. Lalu dengan ngotot sebagian dari kita (remaja) mengatakan kalau masih bisa menahan diri dalam berpacaran. Ternyata hasilnya, budaya seks bebas ini. Allah swt sudah mengingatkan kita, Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.(QS. Al-Isrâ 17)

 Menurut Dicky, sosok pelajar yang baik itu kaya gimana sih?

Menurut saya teman-teman remaja itu dibagi ke beberapa kelompok. Pertama, kelompok yang telah terjebak dalam kehidupan sekuler yang menjadi pelaku-pelaku bermasalah sebagian besar remaja. Kedua, mereka yang tidak melakukan kerusakan/kebodohan dalam berperilaku tetapi cuek bebek terhadap sekitar, tidak peduli terhadap nasib generasi-generasinya yang sesama dan hanya peduli pada urusan sendiri. Danyang ketiga adalah mereka yang tidak terjebak bahakan malah menjadi remaja yang peduli terhadap sekitar, peduli untuk memperbaiki kerusakan generasinya. Mereka selalu gelisah pada kerusakan yang terjadi pada remaja saat ini. Dan sadar bahwa perbaikannya adalah dengan menghapus kehidupan sekuler dan mengembalikan islam sebagai cahaya kehidupan. Islam sebagai pijakan dan penerang dalam bertindaknya remaja. Dan kelompok ketiga inilah yang menjadi remaja ideal yang seharusnya.

 Bagaimana cara kita memperbaiki kondisi remaja saat ini?

Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kamu kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka” (QS. Ar-ra’du: 11). Untuk memperbaiki kondisi remaja saat ini satu-satunya cara adalah dengan membentuk kelompok remaja yang ketiga tadi. Dengan begitu akan banyak agen-agen remaja yang peduli untuk memperbaiki sesama remaja, makin banyak yang peduli, maka akan makin banyak remaja yang terselamatkan. Dan tentu kuncinya adalah mengajak para remaja untuk kembali kepada cahaya dunia yaitu islam. Yang dengan itu mereka akan mendapat penerangan dalam gelapnya dunia. Karena jelas Islam sudah memberikan kunci keselamatan untuk para remaja dalam mengarungi hidupdan dalam mencari jati diri. Sehingga akan lahir kembali kembali generasi seperti para sahabat Ali bin Abi Thalib, Muhammad alFatih, Zaid bin Tabit, Aisyah binti Abu Bakar dll.

 

Saat ini, kehidupan kita lekat dengan aturan kapitalisme. Menurut Dicky, seberapa bsar aturan ini mempengaruhi remaja?

Sangat dalam. Kapitalisme dengan senjata sekularisme sudah berhasil mengacau balau kondisi remaja saat ini melalui food, film, fashion, dan fun. Remaja jadi terpengaruh dengan budaya barat yang membuang-buang umur. Semua lini kehidupan remaja sudah dimasukin berbagai aturan kapitalisme

 

Menurut Dicky, bagaimana Islam memandang remaja dan memperbaiki kondisinya?

Remaja adalah para manusia yang sudah baligh maka sudah terbebani hukum. Artinya, remaja adalah manusia yang perbuatannya sudah terikat dengan hukum Allah. Maka sudah seharusnya kita sebagai remaja selalu memiliki islam dalam bersandar untuk bertindak melakukan aktivitas sehari-hari. Remaja adalah generasi pelanjut generasi sekarang. Bukanhanya agent of change remaja adalah architec of change. Yang seharusnya bukan menjadi beban dalam kehidupan bermasyarakat melainkan pembawa ide pembaharu dan selanjutnya akan jadi leader di tengah masyarakat. Remaja seharusnya pembawa peringatan terhadap masyarakat rusak. Dan satu-satunya cara untuk memperbaiki remaja  agar mau menjadi perubah adalah membentuk remaja kelompok ketiga yang intinya adalah mau untuk melakukan dakwah. Pendakwahyang dapat menjadi dokter dari penyakit kronis, pendakwah yang menjadi penertib kekacau balauan, dan pendakwah yang menjadi penerang bagi yang tak punya arah. Kitabutuh remaja yang mau berdakwah. Obat dari hancurnya remaja adalah remaja itu sendiri!

Driser, semoga oborolan drise dengan Dicky di atas ngasih banyak inspirasi. Bener banget apa yang dikatakan Dicky, obat dari hancurnya remaja adalah remaja itu sendiri. Remaja yang harus berubah. Remaja yang harus berani berbenah cara berpikir dan berperilakunya agar sesuai dengan Islam. Sehingga bisa melahirkan generasi yang peduli dengan lingkungan dan aktif berdakwah. Saat itulah mereka akan menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. #YukNgaji, sampai nanti sampai mati!

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi 47

Derap Rantai Episode 18

Majalahdrise.com – Kegelapan semakin suram, perjalanan semakin mencekam seiring dengan anak-anak tangga yang menurun tajam. Mutsana bin Harits menuruni tangga yang landai itu menuju ke bagian benteng yang lebih dalam. Ke tempat yang disebut Gerbang Neraka. Keremangan yang dipancarkan obor-obor yang tertempel di dinding semakin meradang. Bau udara yang lembab dan apak ditingkahi desis api yang meretih-retih. Bau-bauan harum yang sejak tadi membuai penciuman Mutsana sudah sirna sama sekali. Tangga batu itu kemudian berbelok ke kiri dan terus memutar ke bawah. Mutsana melangkah dengan amat hati-hati, jika kakinya tergelincir bisa berakibat fatal. Dia bertanya-tanya di manakah anak tangga itu akan berakhir? Apakah di sisi lain dunia?

Derap Rantai

Menuruni sesuatu sebenarnya hampir sama beratnya dengan mendaki sesuatu. Bahkan bisa jadi menuruni sesuatu itu jauh lebih berat daripada mendaki. Mutsana melangkah dengan amat hati-hati dan menjaga keseimbangannya sebaik mungkin. Kondisi ruangan yang lembab membuat anak tangga batu menjadi licin, dan upaya menuruninya harus dilakukan dengan amat hati-hati.

Beberapa kali dia berpapasan dengan beberapa orang prajurit hitam yang sedang naik. Semuanya berwajah tegang dan bermata keruh. Mutsana terus turun hingga tibalah dia di dasar benteng itu. Dia bertanya-tanya sudah seberapakah dalamnya dia menuruni benteng itu, namun dia tidak tahu pasti jawabannya. Dia berhadap-hadapan lagi dengan sebuah lorong gelap yang entah di mana ujungnya. Obor-obor yang tadinya banyak tertempel di dinding kini sudah semakin jarang. Berbekal kepasrahan kepada Allah, dia melangkah maju.

Semakin dalam Mutsana menyusuri koridor gelap itu indra penciumannya menangkap bau yang tak enak, bau busuk bangkai. Seiring dengan langkahnya, bau bangkai itu kian kuat. Ketika dia berdiri di depan sebuah pintu di ujung koridor, dia sadar bahwa bau bangkai itu berasal dari balik pintu itu.

Tepat di akhir koridor itu terhamparlah sebuah pintu yang amat sederhana. Pintu itu terbut dari kayu dan dicat berwarna hitam. Jelas sekali, dari balik pintu itulah menguar bau bangkai. Apakah ini gerbang neraka? Mutsana bertanya-tanya. Karena aroma bangkai yang menyengat itu, Mutsana menutup hidung dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya bersiap di atas gagang belati. Sambil menahan napas diraihnya daun pintu, ternyata tidak terkunci, atau mungkin sengaja tidak dikunci? Dengan sanubari yang berpasrah kepada Allah s.w.t, dia menyelinap ke balik pintu itu hanya untuk menyaksikan kengerian yang lain.

Apakah ini neraka? Mutsana membelalak lebar. Bau anyir bangkai dan darah bercampur menjadi satu di tempat yang tidak pernah dia duga akan memasukinya. Dia telah terlibat dalam banyak peperangan dan telah sering menyaksikan kengeriannya, tapi apa yang dia saksikan saat ini melampaui imajinasinya. Mutsana hampir saja menyangka bahwa ruangan itu adalah neraka yang sebenarnya. Sebuah aula yang gelap dan remang-remang terbentang di hadapannya. Seluruh permukaan di dalam ruangan itu berwarna hitam, atas, bawah, kanan, dan kiri, semuanya berwarna hitam. Untuk ruangan seluas itu sedikit sekali obor yang tersedia, sehingga lebih banyak sisi-sisinya yang tidak tersentuh cahaya.

Di ruangan itu ada puluhan orang yang sedang disiksa. Berbagai bentuk alat penyiksaan tersedia di sana. Suara lolong dan raungan pantul-memantul, sambar-menyambar menyisakan pilu dan kesakitan. Darah berceceran di mana-mana, dan di tengah-tengah ruangan itu ada kolam darah. Potongan-potongan anggota tubuh timbul tenggelam di dalam kolam darah itu. Para prajurit hitam sibuk menyiksa orang-orang yang entah siapa. Mereka telah menjadi algojo haus darah yang tak kenal belas kasihan. Mutsana menahan napasnya yang sudah sesak karena bau busuk yang sangat. Dia mengedarkan pandangannya, berharap Jabal ditemukannya. Alat-alat penyiksaan yang mengerikan itu mengelilingi kolam darah, menemani daging-daging yang tersayat.

Mata Mutsana tertuju pada salah satu sudut remang ruangan itu. Dia melihat ada seseorang yang sedang duduk di kursi, yang dikelilingi oleh tiga orang prajurit hitam. Orang itu tertunduk, wajahnya lebam dan membiru, tangannya terikat ke belakang. Seorang prajurit hitam kemudian membentak dan menjambak rambutnya hingga wajah orang itu terlihat lebih jelas oleh Mutsana. Dia berzikir kepada Allah, sebab dia telah menemukan rekannya, Jabal.

“APA YANG SEDANG DIRENCANAKAN ABU BAKAR!!!” Bentak prajurit hitam itu. “Kau lihat orang-orang yang sedang disiksa di sana? KAU AKAN BERNASIB SAMA DENGAN MEREKA.”

Sebongkah tinju kembali menghantam wajah Jabal. Darah mengucur dari hidung dan pelipisnya. Jabal hanya menggeleng pelan, dia tak sudi berkata-kata.

“KAU TETAP TAK MAU BICARA?” Kepalan tangan itu terayun lagi.

“HENTIKAN!!!” Sesosok suara dengan tegas menghentikan kezaliman itu. Mutsana telah hadir di sana. “LEPASKAN ORANG INI SEKARANG JUGA!!!”

Jabal hampir-hampir tak sanggup menegakkan kepalanya lagi, tapi dia berusaha keras dan tampaklah Mutsana yang sedang berdiri di hadapannya. Mulutnya terkatup dan diam saja, tetapi hatinya ramai mendendangkan rasa syukur dan pujian kepada Allah sang penguasa semesta. Saat dia melihat sahabatnya di hadapannya, terbitlah kebahagiaan di sanubarinya.

“Jangan memerintah kami,” sergah seorang prajurit hitam.

“ADA APA INI???” Terdengar lagi suara bentakan dari belakang Mutsana. Ternyata ada lagi orang yang datang. Prajurit hitam yang satu ini amat berbeda. Tubuhnya amat besar, wajahnya hitam legam dan menyeramkan. Dialah yang berbadan paling besar di antara semua orang di dalam ruangan itu. Sepertinya dialah pemimpinnya.

“Tiba-tiba dia datang dan menyuruh kami melepaskan orang ini,” kata seorang prajurit hitam.

“Kau ini siapa?” Lelaki hitam berbadan besar itu melotot menatap Mutsana. “Mereka tak punya kuasa untuk melepaskan siapa pun dari sini. Akulah yang berkuasa, aku Assad bin Qais yang sekuat singa.”

Jantung Mutsana gemetar, bagaimana cara dia melawan orang sebesar itu? Namun dia tetap tenang, dia berkacak pinggang dan mendongak kepada lelaki besar bernama Assad bin Qais itu.

“Aku utusan Sayyidi Ibnu Sabah,” katanya. Tangannya menyelinap ke sakunya dan mengeluarkan medali perak yang tadi dia tunjukkan di gerbang batu. “Sekarang lepaskan orang ini sebab Sayyidi menginginkannya dan aku diperintahkan untuk membawanya ke Alamut. CEPAT, SEKARANG JUGA!!!”

Ketika melihat medali perak itu terhampar sekelebat rasa takut di mata keruh Assad dan para prajurit hitam itu. Tanpa bertanya, mereka segera memerintahkan apa yang dikatakan Mutsana, seolah surga dan neraka mereka terletak pada medali perak itu. Tak perlu menghabiskan waktu lama, semua ikatan yang membelenggu tubuh Jabal telah lepas. Mutsana langsung menggandeng lengan Jabal dan membantunya melangkah. Saat lewat di depan Assad, Mutsana memelototinya. Tak ada seorang pun yang bicara ketika Mutsana membimbing Jabal ke pintu.

Alhamdulillah, bisik Jabal.

Allah akan menyelamatkanmu, gumam Mutsana pelan. [@sayfmuhammadisa]

Bersambung..

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 47

Lahirkan Pelajar Hebat!

Majalahdrise.com – Kalo kita telusuri jejak rekam perjalanan para pelajar berprestasi, dapet deh benang merahnya kalo kesuksesan mereka ditunjang dengan lingkungan sekitarnya. Ada yang berasal dari sekolah dengan fasilitas pembelajaran yang super lengkap. Ada juga yang terpilih jadi siswa binaan masuk dalam karantina untuk mengasah kemampuannya.

Selain kemampuan pribadi, faktor lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap pencapaian para pelajar berprestasi. Kalo kita ngeliat kondisi pendidikan dalam negeri, ngelus dada juga. Masih banyak lembaga pendidikan formal yang hidup segan mati pun enggan. Yang penting kegiatan belajar mengajar tetap jalan meski minim fasilitas bahkan nombokin biaya operasional. Ngenes!

Kalo negara kita tetap bertahan dengan aturan demokrasi sekuler kaya sekarang untukngatur rakyatnya, maka bibit-bibit pelajar hebat makin sulit ditemui. Lantaran kurikulum pendidikan sekuler menggiring siswa untuk menjadi pelajar instant yang berorientasi pada prestasi hasil belajar. Bukan proses pembelajarannya. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan cerdas (chritical thinking) siswa pada mem… mem… memble! Daya analisisnya tumpul.

Sebaliknya, saat negara ngurus rakyat dengan aturan Islam justru para pelajar hebat lahir di setiap tempat. Untuk ngukur kualias pelajar, Islam nggak menjadikan nilai ujian tulis sebagai satu-satunya tolok ukur. Karena ujian tulis hanya akan mematikan daya cipta dan kreatifitas siswa alias nggak produktif di tengah perkembangan ilmu pengetahuan. Ujian tulis juga bisa mendorong masyarakat mengarahkan cita-citanya hanya untuk meraih gelar pendidikan tanpa dilihat kemampuannya dalam mengajar, berijtihad, berfatwa, dan berkreasi. Kalo udah gini, kebangkitan pemikiran dan materi yang menjadi tujuan pendidikan makin jauh.

Sebagai evaluasi siswa, dalam pendidikan Islam dikenal teknik munadhoroh (diskusi). Ini semacam ujian lisan bagi pelajar untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami dan kreatifitasnya dalam menciptakan atau mengerjakan sesuatu berdasarkan pengetahuan yang dia pelajari. Teknik diskusi ini nggak dibatasi oleh waktu. Tergantung dari kesiapan anak didik. Dan hasil diskusi ini, anak didik diberikan semacam ijazah atau bentuk pengakuan tertulis dari guru terhadap kecakapan muridnya.

Untuk menunjang peningkatan mutu pelajar, kelengkapan sarana dan prasaran pendidikan dijamin oleh negara. Mulai dari perpustakaan yang lengkap, asrama yang disertai jaminan sandang dan pangan, aula untuk ceramah, kertas dan tinta, pemandian umum, serta rumah sakit dan dokter-dokter. Semuanya disediakan gratis..tis..tis… bagi para siswa dan penuntut ilmu. Seperti dicontohkan Khalifah al-Muntashir yang mendirikan Madrasah al-Mustanshiriah di kota Baghdad.

Malah bukan cuman fasilitas gratis, siswa juga dikasih beasiswa alias pendidikan bebas biaya. Inilah salah satu bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memajukan dunia pendidikan rakyatnya. Rasul saw bersabda: “Imam yang diangkat untuk memimpin manusia itu adalah laksana penggembala, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyatnya (yang digembalakannya).” [HR. Imam al-Bukhari dari sahabat Abdullah bin Umar r.a.].

Hasilnya, para pelajar menjadi ilmuwan yang menjadi pelopor kebangkitan ilmu pengetahuan di Eropa. Seperti Harrani as-Sabi al-Battani (Al Battaniseorang ahli astronomi dan matematikawan dari Arab (858-929 M). Al Battani berhasil menemukan sejumlah persamaan trigonometri dan memecahkan persamaan sin x = a cos x. Salah satu pencapaiannya yang terkenal adalah tentang penentuan Tahun Matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik.

Atau Ibn al-Haytham (Alhazen). Ia lahir tahun 965 M di Basra kemudian meninggal tahun 1040 M di Kairo. Dikenal sebagai bapak optik modern karena penemuan dan karya-karyanya di bidang ilmu optik dan pencahayaan benda. Penemuan itu menjadi cikal bakal kamera yang masih digunakan sampai sekarang ini.

Jadi, kalo pemerintah kita pengen meningkatkan mutu pendidikan, bisa bercermin pada sistem pendidikan Islam. Lebih bagus lagi kalo pemerintah nggak cuman ngaca, tapi pake sistem pendidikan Islam untuk melahirkan para pelajar hebatdunia akhirat. Saatnya keluar dari jeratan pendidikan kapitalis sekuler dan beralih pada sistem pendidikan Islamdalam bingkai daulah khilafah islamiyah yang mengikuti jejak kenabian. Yuk! [hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise 47