Pelajar Hebat, Punya Prinsip

Majalahdrise.com – Kalo kita lihat lebih dekat, para pelajar yang sukses memang bukan siswa sembarangan. Mereka anak didik terpilih yang punya kelebihan secara intelektual dan mental dibanding yang lain. Dan pastinya, mereka punya prinsip hidup guman memantaskan diri menjadi pelajar berprestasi. Berikut beberapa prinsipnya.

Pertama, mental berkontribusi. Dia harus punya prinsip yang mendorongnya berprestasi bukan semata karna piala atau penghargaan tingkat dunia. Tapi untuk berbagi manfaat pada masyarakat. Sikap mental ini penting dimiliki oleh setiap pelajar. Biar mereka belajar nggak sekedar mengejar nilai akademis. Tapi juga terpacu untuk mengasah keterampilan sehingga menghasilkan karya yang berguna untuk membantu manusia. Inilah sebaik-baiknya manusia.

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Kedua, keep learn. Siswa berprestasi nggak pernah merasa cukup dengan ilmu yang udah diperolehnya. Belajarterus dan terus belajar. Bukan tanpa istirahat ya. Cuman lebih banyak mengisi waktu luangnya dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar juga bukan berarti hanya duduk di kelas, dengerin guru ngoceh. Tapi juga belajar secara mandiri dengan membaca buku di perpustakaan atau di rumah. Dia juga tak sungkan untuk mendatangi orang-orang pintar yang jadi rujukannya. Biar bisa diskusi dan menyerap berbagai ilmu yang dibagi. Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.

Dari Abul Qasim At Tafakur, aku mendengar Abu Ali al Hasan bin ‘Ali bin Bundar Al Zanjani bercerita bahwa Khalifah Harun Ar Rasyid mengutus seseorang kepada Imam Malik bin Anas agar beliau berkenan datang ke istana supaya dua anak Harun Ar Rasyid yaitu Amin dan Makmun bisa belajar agama langsung kepada Imam Malik. Imam Malik menolak permintaan Khalifah Harun Ar Rasyid dan mengatakan, ‘Ilmu agama itu didatangi bukan mendatangi.’

Untuk kedua kalinya Khalifah Harun Ar Rasyid mengutus utusan yang membawa pesan sang khalifah, ‘Kukirimkan kedua anakku agar bisa belajar agama bersama muridmuridmu.’  Respon balik Imam Malik, ‘Silahkan dengan syarat keduanya tidak boleh melangkahi pundak supaya bisa duduk di depan dan keduanya duduk dimana ada tempat yang longgar saat pengajian.’ Akhirnya kedua putra khalifah tersebut hadir dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Imam Malik. (Mukhtashar Tarikh Dimasyq, hal. 3769, Syamilah).

Ketiga, sabar jalanin proses. Pepatah bilang, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Kaya gitu deh yang namanya belajar. Untuk dapetin hasil maksimal, kita dituntut untuk berani berkorban waktu, pikiran, tenaga, harta, atau kepentingan pribadi. Nggak semua pelajar sanggup jalanin proses itu dengan sabar. Makanya hanya mereka yang konsisten dan serius bakal sampe di garis finish dengan segudang prestasi yang membanggakan.

Imam Syafi’i rahimahullah mengingatkan, “Tidak mungkin menuntut ilmu orang yang pembosan, merasa puas jiwanyakemudian ia menjadi beruntung, akan tetapi ia harus menuntut ilmu dengan menahan diri, merasakan kesempitan hidup dan berkhidmat untuk ilmu, maka ia akan beruntung.”

Keempat, berdakwah. Kewajiban berdakwah nggak pandang usia atau status pendidikan. Selama dia muslim dan udah baligh, wajib saling mengingatkan satu sama lain. Tak terkecuali pelajar. Meski statusnya masih anak didik dengan usia yang rata-rata masih muda belia, tugasnya bukan cuman belajar. Tapi juga mengenal islam lebih dalam sebagai bagian dari menuntut ilmu plus menyampaikan ke orang lain sesuai kemampuannya.

Aktivitas dakwah akan menjaga pelajar agar keep in touch dengan aturan Islam. Nggak lupa diri dan meminimalisir sikap egois bin individualis. Sehingga ilmunya, bisa diamalkan untuk mendukung kebangkitan Islam dan kaum Muslimin.

 

 

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi 47

MAJALAH REMAJA ISLAM DRISE EDISI 47 – Pelajar Hebat Dunia Akhirat

Majalahdrise.com – Puluhan pelajar pasca ujian nasional di Kabupaten Kendal hari Kamis (16/04/2015) terjaring razia satuan polisi pamong praja (Satpol PP) Kabupaten Kendal saat hendak melakukan pesta seks.Mereka digerebek Satpol PP di kawasan objek wisata Pantai Muara Kencan, di Desa Pidodowetan, Kecamatan Patebon Kendal.(news.detik.com, 13/04/2015)

Sementara di kota-kota lain, aksi corat-coret seragam mewarnai hari terakhir pelaksanaan Ujian Nasional. Nggak seru rasanya kalo luapan kegembiraan cuman ‘ngotorin’ seragam aja. Makanya banyak pelajar melanjutkan aksinya turun ke jalan raya. Bermodalkan konvoi kendaraan, mereka memadati ruas jalan perkotaan tanpa helm dan bunyi klakson yang saling bersahutan. Udah pasti mengganggu kenyamanan para pengguna jalan.

Ekspresi bebas para pelajar pasca UN kerap menyita perhatian masyarakat. Terutama tingkah semaunya yang berlindung dibalik jiwa muda. Mulai dari aksi corat-coret, konvoi kendaraan, tawuran, hingga pesta prom night yang lengket dengan budaya seks bebas. Potret buram pelajar yang sering menghiasi media massa, udah lama jadi PR ibu pertiwi. Saking lamanya, Ibu Pertiwi mungkin lupa kalo punya PR untuk benahin perilaku para pelajar. Walhasil, dari tahun ke tahun kelakuan anak didik makin nggak asyik. Nyesek!

 

Cermin Pelajar Idaman

Indonesia bukan negara tanpa pelajar berprestasi di kancah dunia. Segudang penghargaan internasional, telah diraih oleh para pelajar dalam negeri. Dari lomba olimpiade sains tingkat dunia hingga kompetisi penemuan alat yang bermanfaat bagi masyarakat. Berikut beberapa prestasi pelajar pribumi yang telah mengharumkan nama Ibu Pertiwi.

  • Sabut Kelapa Diubah Menjadi Rompi Anti Peluru

Sabut kelapa yang biasanya hanya dijadikan kayu bakar atau bahkan malah hanya jadi sampah, disulap menjadi rompi anti peluru oleh dua orang pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) asal Semarang, Jawa Tengah. Aristio Kevin Ardyaneira Pratama dan M Iqbal Fauzi mengolah sabut kelapa dan fiber, menjadi rompi anti peluru yang tahan dari tembakan serta senjata tajam. Saat ini rompi anti peluru mereka masih terus disempurnakan agar tahan terhadap tembakan senjata laras panjang juga. Temuan mereka telah memenangi ajang International Science Project Olympiad dan memperoleh medali perak. Mereka berharap temuan mereka dapat diproduksi masal agar bisa dimanfaatkan oleh TNI dan Polri.

  • Biofungisida dari Kulit Randu

Aprillyani Sofa, siswi SMA PGRI 2 Kayen, juga turut mengharumkan nama Indonesia. Ia berhasil membuat biofungisida dari bahan alami yakni kulit randu. Biofungsi adalah pembunuh jamur pada tanaman. Di pasaran, biasanya dibuat dari bahan kimia yang tentu saja berbahaya jika menumpuk di dalam tubuh. Aprilliyani membuat biofungisida dari kulit randu yang telah diolah terlebih dahulu. Penemuannya membuatnya menjadi juara I dunia dalam bidang Biologi Molekuler di Brasil dan mengalahkan peserta-peserta dari negara lain.

  • Detektor Telur Busuk

Pelajar SMA Taruna Nusantara Magelang berhasil mencuri perhatian dunia intenasional dengan temuannya. Wisnu, nama pelajar tersebut, menciptakan detektor telur busuk yang dilengkapi sensor dan kalibrator. Detektor dibuat dari bahan sederhana yakni senter. Telur yang diuji akan disinari dengan cahaya dari senter tersebut. Bila cahaya tembus, lampu akan berwarna hijau dan berarti telur tersebut aman dikonsumsi. Sedangkan bila gelap, lampu merah yang menyala dan mengeluarkan bunyi pertanda telur tersebut busuk. Temuan Wisnu banyak diincar penggiat industri yang ingin membeli hak cipta temuannya. Ke depannya, Wisnu berencana membuat alat detektor telur busuk tersebut dengan karet roda.

  • Pengharum Ruangan dari Kotoran Sapi

Siapa bilang kotoran sapi tak bisa dimanfaatkan? Dwi Nailul Izzah dan Rintya Aprianti Miki, pelajar dari Lamongan berhasil memanfaat kotoran sapi menjadi pengharum ruangan yang ramah lingkungan. Kotoran sapi difermentasi selama tiga hari kemudian diekstraksi dan dicampur dengan air kelapa, lalu disuling untuk menghilangkan kotorannya. Produk akhirnya berupa pengharum ruangan dengan aroma alami tumbuh-tumbuhan. Pengharum ruangan ini dikatakan ramah lingkungan karena bebas dari aerosol.

Masih banyak karya anak bangsa yang cukup menyita perhatian dunia. Pastinya nggak cukup kalo dipaparkan dalam tulisan ini. Satu yang pasti, masih ada para pelajar idaman yang bercokol di bumi pertiwi. Sayang, jumlahnya bisa dihitung oleh jari. Kebanyakan pelajar, malah terhanyut dalam gaya hidup hedonis yang dijajakan media. Boro-boro kepikiran untuk berkontribusi, ngurus dirinya sendiri aja masih keteteran. Kacian!

di muat di Majalah remaja islam Drise 47

Musailamah Si Nabi Palsu

Majalahdrise.com – Beberapa nabi memiliki mukjizat untuk membuktikan kebenaran kenabiannya. Mukjizat inilah yang nantinya akan ia tunjukkan kepada umatnya. Mukjizat ini akan melemahkan setiap argumentasi yang menyerangnya dan akan mengalahkan semuanya. Karena mukjizat itu asalnya murni dari Allah swt., pastinya akan menakjubkan dan mengguncang banget.

Nabi Musa punya mukjizat membelah Laut Merah, tongkatnya jadi ular, dan tangannya bisa mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan. Nabi Isa bisa menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit lepra, bikin orang buta jadi melek lagi, dan bisa bikin burung dari tanah liat berubah jadi burung beneran. Nabi Sulaiman bisa menundukkan jin dan angin, kekayaannya juga luar biasa. Nabi Daud bisa melunakkan besi dan punya kemampuan tempur yang luar biasa. Nabi kita, Rasulullah Muhammad saw., memiliki mukjizat yang bertahan sepanjang zaman, yakni Alquran Karim. Kitab suci kita ini tiada cacat dari berbagai sisi, dan telah mencengangkan banyak orang sejak dulu hingga sekarang.

Salah satu keagungan Islam terletak pada keberadaan Alquran ini. Kitab suci inilah yang membuktikan bahwa Muhammad saw adalah benar-benar utusan Allah yang sah. Lucunya, ternyata pada jaman Rasulullah saw sendiri ada seseorang yang mengaku nabi dan juga mengaku menerima wahyu dari Allah swt., namanya Musailamah.

Musailamah merupakan seorang tokoh Bani Hanifah yang berasal dari Yamamah. Dia dikenal dengan nama Musailamah al Kadzab, karena mengaku sebagai Nabi. Kedudukan Musailamah di Yamamah hampir sama dengan kedudukan Nabi Muhammad Saw di Madinah, yaitu sebagai pemimpin. Hal itu disebabkan kekuasaannya yang besar dengan pengikutnya yang banyak.

Nabi Muhammad saw. menggelari Musailamah sebagai al Kadzab (pembohong). Ada beberapa riwayat yang mengisahkan tentang hal-hal konyol tentang Musailamah si nabi palsu. Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya yang terkenal Bidayah wa Nihayah mengisahkan bahwa Musailamah berusaha meniru-niru nabi Muhammad saw. Dia denger bahwa nabi Muhammad pernah meludah di sebuah sumur dan sumur itu jadi melimpah airnya, maka dia juga meludah di sebuah sumur tapi airnya malah jadi kering total. Pada sumur yang lain, airnya malah jadi asin. Musailamah pernah berwudhu dan air bekas wudhunya disiramkan ke sebuah batang kurma, tahu-tahu pohon kurma itu jadi kering dan mati. Pernah juga datang dua orang anak kecil yang minta diberkati oleh Musailmah, kemudian dia mengusap dahi kedua anak itu. Tak lama kemudian, salah satu anak rambutnya malah jadi rontok semua, sementara anak yang lain lidahnya malah jadi kelu. Ada juga orang yang sakit matanya, kemudian minta diobati. Musailamah kemudian mengusap mata orang itu, eeehhh malah jadi bener-bener buta. Emang biang kerok ni nabi palsu.

Suatu hari Musailamah mengirim surat kepada Nabi Muhammad Saw. Musailamah menyatakan bahwa dirinya juga seorang Nabi. Oleh karena itu, Musailamah usul agar separuh bumi buat dirinya dan separuh yang lain buat kaum Quraisy. Nabi Muhammad Saw kemudian membalas surat Musailamah dengan mengatakan bahwa Nabi Saw sudah paham isi surat tersebut. Nabi Saw memberi penjelasan bahwa bumi ini adalah kepunyaan Allah Swt yang akan diwarisi oleh hamba-hamba-Nya yang saleh.

Musailamah dalam ajarannya menekankan asketisme, seperti perintah untuk berpuasa, hidup sederhana, dan larangan terhadap minum minuman keras. Untuk menarik minat pengikutnya, Musailamah hanya mewajibkan shalat 3 x dalam sehari, bukan 5 x. Musailamah dapat menanamkan pengaruhnya yang besar kepada pengikut-pengikutnya. Hal ini terbukti dengan adanya keengganan pengikut-pengikutnya untuk meninggalkan keyakinan yang sudah ditanamkannya. Bahkan dia pun berusaha membuat tandingan Al-Qur’an yang ternyata gagal, karena meski Manusia dan Jin bersatu pun tak bisa membuat tandingan Al-Qur’an walau hanya satu ayat.

Setelah Nabi Muhammad Saw wafat, Musailamah bermaksud melakukan serangan terhadap umat Islam di Madinah. Pada awalnya Musailamah berhasil mengalahkan pasukan Islam di bawah komando ikrimah, bahkan Musailamah berhasil menekan pasukan Islam sampai ke perbatasan utara Yamamah. Akan tetapi, setelah melalui peperangan yang seru, Khalid bin Walid berhasil melumpuhkan perlawanan Musailamah. Musailamah terbunuh pada perang tersebut. Di pihak kaum muslimin gugur sekitar 700 syuhada dan di antara mereka terdapat sahabat Nabi Muhammad Saw dan para penghafal Al-Quran.

Driser, salah satu keagungan ajaran Islam adalah pedoman Al-Quran yang dibawakan Nabi Muhammad terpelihara keasliannya hingga kini. Jadi ngaco bin ngawur kalo ada oknum yang bilang bisa bikin al-Quran tandingan. Terlebih lagi kalo ngaku-ngaku sebagai nabi juga. Mungkin dia lelah hingga ngigau. Padahal udah jelas, tak ada Nabi lagi setelah Muhammad saw. Makanya kita mesti hati-hati biar nggak kecele dengan nabi palsu yang tiba-tiba nongol dan diberitakan media. Kuatkan akidah. Kenali Islam lebih dalam. #YukNgaji! [Isa, diolah dari berbagai sumber]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 47

 

HABITS PENULIS #4 Mencintai Bahasa Memperkaya Karya

MajalahDrise.com – D’Riser, pada edisi kali ini, kita mau ngebahas habits penulis yang keempat, yaitu seorang penulis itu adalah sosok yang mencintai bahasa.Malah, seorang kawan jurnalis pernah bilang bahwa penulis itu mencintai bahasa sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Maksudnya gini, seorang penulis yang baik, tentu memiliki kreativitas lebih dalam bertutur dan bernarasi, ia tidak hanya luas ilmu pengetahuan dan wawasannya, namun juga kaya dalam diksi dan kosa katanya. Ia terampil dalam mengolah informasi dengan kekayaan berbahasanya. Artinya, seorang penulis yang baik ditunjang oleh kemampuannya untuk menguasai ragam bahasa yang ada. Bahasa yang dikuasainya akan menunjukkan bagaimana kualitas dirinya, sekaligus aktualisasi dirinya dalam jagat kepenulisan. Bahkan, ia dapat berkomunikasi akrab dengan orang asing dengan ragam bahasa yang dikuasainya.

Bagi para pemula yang berpacu untuk menjadi penulis yang baik, tentu akan terus belajar menambah bobot kualitas tulisannya, di antaranya dengan memperluas wawasan dan memperkaya penguasaan bahasanya. Ia akan terus menimba ilmu di manapun dan kapanpun, di antaranya ditandai dengan menambah perbendaharaan kamus bahasa di meja kerjanya. Hayo, kini coba hitung ada berapa kamus yang kalian miliki di tempat kerja ataupun di rumah? Kalo masih bisa nyebutin dua atau tiga kamus masih mendinglah. Tapi, kalo gak ada sama sekali? Halah, mending gak usah ngarep jadi penulis, deh!

Hal ini bukan tanpa alasan lho, karena cara termudah untuk menakar kemampuan kekayaan berbahasa seorang penulis, termasuk juga seorang editor dan penerjemah, lihatlah di meja kerjanya atau di meja tulisnya, ada berapa kamus bahasa yang dia punya? Sedikitnya ia harus punya tiga kamus, seperti: Kamus Umum Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan Kamus Inggris-Indonesia. Kalo lebih banyak, tentu jauh lebih baik.

Sebagai contoh, kalian tahu R.A. Kartini, kan? Raden Adjeng yang tiap bulan April ini hari lahirnya selalu diperingati sebagai hari emansipasi wanita ini, ternyata gemar membaca dan senang mempelajari bahasa, hingga ia mampu bertutur dan bernarasi dengan baik dalam tulisan-tulisannya, khususnya saat ia berkorespondensi dengan teman-teman Eropanya di negeri Belanda. Padahal R.A. Kartini hanyalah lulusan Europeesche Lagere School atau setingkat sekolah dasar. Namun, ia mampu menulis dengan baik hingga surat-suratnya dibukukan oleh Mr.Abendanon dengan judul Door Duisternis tot Licht atau From Darkness to Light alias dari kegelapan menuju cahaya. Judul bukunya ini kemudian disadur oleh penyair Armyn Pane menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Kartini sungguh terinspirasi dengan kalimat minazh zhulumati ilan nuurdalam al-Qur’anul karim yang bermakna”dari kegelapan menuju cahaya terang”. Ia mendapatkan kalam mulia itu dari guru ngajinya, K.H. Sholeh Darat yang menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa agar bahasa dan bahasannya mudah dipahami Kartini, sehingga dalam surat-surat berikutnya kepada Mr.Abendanon, Kartini banyak mengutip kalimat tadi. Ia menjadi lebih religius dan semakin mencintai agamanya. Tuh, keren kan, dengan mencintai bahasa, kita bisa berkorespondensi dan berkomunikasi dengan orang asing tanpa kita harus ngerasa asing dengan keyakinan sendiri, bahkan kita bisa sekaligus berdakwah!

Nah, selain R.A. Kartini, ada contoh yang lebih super duper soal mencintai bahasa ini. Kalian tahu kakak kandung Kartini, gak? Pasti gak kenal, kan? Ia adalah Rd. Mas Panji Sosrokartono, sosok yang gak banyak diketahui publik ini justru sangat membumi di bumi Eropa, karena Si Genius dari Jawa lulusan Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur Universitas Leiden ini menguasai 24 bahasa dunia, khususnya bahasa di Eropa dan 10 bahasa daerah di Nusantara Indonesia.

Keterampilan Kartono yang bertitel Doctorandous in de Oostersche ini dalam berbahasa, menghantarkan dirinya menjadi wartawan Herlad Tribune di kantor biro Wina, Austria, dan pada 1917 saat terjadinya Perang Dunia I, ia pernah dimintai jasanya untuk menerjemahkan berita jalannya peperangan ke berbagai bahasa di Eropa Raya. Selepas perang, Kartono menjadi penerjemah di Kedubes Perancis di Den Hagg, Belanda. Bahkan, pada 1919, kariernya melesat menjadi kepala penerjemah Liga Bangsa-Bangsa (embrio PBB) di Jenewa, Swiss. Gimana tuh, keren kan, kakaknya R.A. Kartini ini?

Selain kakak beradik itu, ada juga tokoh bangsa lainnya yang keren abis dalam mencintai bahasa ini, dialah Si Bung Besar, Rd. Kusno Sosro Soekarno yang menguasai banyak bahasa asing dan berbagai bahasa daerah di Indonesia. Bahkan, Pangeran Norodom Sihanouk menyatakan bahwa; ”Sukarno adalah seorang ahli bahasa yang ulung. Ia menguasai bahasa Belanda, Inggris, Perancis, Jerman dan juga bahasa Pali (bahasa suci India kuno) yang masih digunakan oleh para biarawan Buddha. Bahasa Inggrisnya juga luar biasa. Bahkan, saya bisa bercakap-cakap dengannya dalam bahasa Perancis tanpa memerlukan penerjemah.”

Presiden Republik Persatuan Arab (Mesir, Irak dan Suriah) taon 60an pun, Jenderal Gamal Abdul Nasser mengakui bahwa ia suka berakrab ria dengan Bung Karno melalui tiga bahasa; Arab, Inggris dan Perancis! Saat ketemu dengan para pembantunya, para ajudannya dan rakyatnya, Si Bung lebih nyaman bercakap-cakap dengan bahasa daerah lawan bicaranya. Kalo soal menulis dan berpidato bagi Si Bung, walah jangan ditanya, deh!

Oke, D’Riser, di edisi y.a.d kita akan merampungkan bahasan habits penulis ini dengan habits terakhir, menjalin komunitas…. Cegat, ya?![]

 

BOX:

Tips Mencintai Bahasa

D’Riser, habits penulis yang keempat ini emang kudu en wajib dimiliki oleh para penulis karena banyak manfaatnya. Kini, saya mau berbagi tips, agar kamu padamencintai bahasa:

  1. Mantepin dulu niat mau belajar bahasa dengan baek, kalo niatnya gak mantep lupain saja deh, mimpimu jadi penulis hebat!
  2. Pastiin juga bahasa apa saja yang akan kamu pahami dan kuasai, misal kamu terobsesi jadi penakluk Roma maka kuasailah dulu bahasanya biar saat kamu tiba di Italia, kamu gak nyasar di sana!
  3. Siapin apa pun yang dapat menunjang penguasaanmu pada bahasa tadi; minimalnya kamu punya kamus, baik kamus bahasa, dialek, istilah, etc.
  4. Cari orang atau pihak yang bisa kamu ajak berkomuniksi akrab dengan bahasa itu, searching aja di berbagai medsos yang ada di gadget kamu, tapi awas kamu tetap kudu waspada!
  5. Ayo nulis pake bahasa yang kamu kuasai itu, kamu mau nyadur, mau nerjemahin ataupun mau nulis sendiri seterah kamulah, yang penting kamu sudah menulis.Semakin kamu asyik berkarya maka semakin kamu mencintai bahasanya. Semakin kamu mencintai bahasa, semakin kaya setiap karya yang dihasilkannya. Cobalah… []

di muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi 46