BERPUASA DI HAKODATE, JEPANG (1 dari 2 tulisan)

MajalahDrise.com – Tak terasa Ramadhan tahun ini sudah memasuki 10 hari terakhir. Mengingat kembali bagaimana tahun lalu (2013), pada waktu itu adalah pengalaman pertama saya menjalani puasa di negeri yang terkenal dengan julukan Matahari terbit, Jepang. Tahun 2013, saya tiba di Hakodate, Hokkaido Jepang, pada bulan Januari, untuk mengikuti suami yang sedang meneruskan pendidikan s3 nya di Hokkaido University. Saat itu Hakodate diselimuti salju tebal yang turun setiap harinya. Sebuah kondisi cuaca yang sangat ekstrim bagi saya dan anak-anak yang baru pertama kali melangkahkan kaki keluar dari tanah air tercinta. Menyesuaikan diri dengan perubahan empat musim yang terjadi di Hakodate adalah tuntutan pertama yang harus dijalani saat itu.

Bulan berganti bulan, bulan April, Hakodate mulai menghangat. Hingga tibalah bulan Ramadhan pertama saya di sini. Bulan Juli, sebagai pemula masuknya bulan puasa, Hakodate sudah memasuki musim panas (summer). Entah mengapa, saya merasa suhu musim panas di Hakodate,  terasa lebih panas dibandingkan dengan panasnya suhu di Indonesia. Padahal suhu udara pada saat summer di Hakodate hanya berkisar maksimal 20 derajat celcius. Bandingkan dengan Indonesia yang bisa 10 derajat lebih panas. Inilah salah satu tantangan terberat saya menjalani puasa di sini. Menurut sesama foreigner di sini, mungkin karena kelembaban udara Hakodate sangat tinggi sehingga menyebabkan udara terasa lebih panas, meskipun suhunya sebenarnya tidak terlalu tinggi.

Serunya menjalani puasa pertama di sini juga adalah karena faktor rentang waktu untuk menahan makan dan minum yang 4 jam lebih lama dibandingkan dengan puasa yang biasa saya jalani di Indonesia. Pada saat summer, waktu subuh berdentang mulai pukul 1.55 waktu Jepang, yang artinya saya dan suami harus melakukan sahur sekitar satu jam sebelumnya (12.55). Sementara Maghrib baru akan berkumandang sekitar 19.17 waktu Jepang. Wow, awalnya saya khawatir apakah tubuh saya siap menjalani kondisi ekstrim seperti ini. Namun berbekal keyakinan, Allah tak akan membebani hambanya dengan beban yang melampaui kemampuan si hamba, saya menjalani juga ibadah puasa dengan kemantapan hati. Hasilnya, hehehehe….hari pertama puasa, tubuh lemas! Baru memasuki pukul 7 pagi, perut sudah memberontak mengeluarkan suara-suara protes dan kerongkongan terasa kering. Rupanya tubuh belum sepenuhnya siap diisi dengan makan sahur yang terlalu dini dan harus menahannya selama kurang lebih 18 jam tak terisi lagi. Tapi saya dan suami berusaha istiqomah tak berniat membatalkannya. Saya berkeyakinan, ini adalah proses penyesuaian tubuh dengan perubahan kondisi yang baru. Beberapa hari kemudian, Alhamdulillah tubuh mulai terbiasa. Bahkan pernah satu hari, kami terlambat bangun sahur, hingga sudah memasuki waktu subuh, sehingga kami harus berpuasa tanpa bersahur. Namun ternyata, kami bisa juga melewatinya, meski harus mengurangi beberapa aktivitas untuk menjaga kondisi badan tidak drop.

Tantangan berikutnya berpuasa di Hakodate adalah tentang makanan. Ya, namanya juga bukan negeri sendiri, pastilah jenis makanan yang ada di sini betul-betul berbeda dengan di Indonesia. Baik dari sisi jenis,jumlah,harga dan rasanya. Masakan Jepang sangat ringan dalam bumbu. Mereka cukup dengan shouyu (soysauce)saja pun akan dikatakan oishii (hehehehe). Kalau saya yang makan, seperti tak ada rasa apa-apa. Sehingga pilihan memasak sendiri menu sahur dan berbuka harus dilakukan. Jangan dibayangkan masakan Indonesia yang saya buat akan berasa sama. Sebab saya harus berkompromi dengan bumbu-bumbu yang sangat minim bisa saya dapatkan di sini. Tak ada bawang merah, kemiri, rempah2 segar yang biasa digunakan dalam masakan Indonesia. Jadi bisa dikatakan masakan Indonesia rasa Jepanglah, hambar, hahaha.

Isu kehalalan juga menjadi perhatian serius. Hampir semua produk makanan jadi di Hakodate mengandung bahan-bahan makanan yang dikhawatirkan terdapat unsur pork (babi). Sebab sepertinya daging mamalia yang satu ini sangat disukai di sini. Jadi jangan harap kalau malas masak kami bisa seenaknya melenggang ke restoran terdekat buat bersantap sahur atau berbuka, seperti yang biasa saya lakukan di kampung sendiri (ketahuan malas masak, hehehhee). Hanya beberapa restoran recommended dari teman-teman Indonesia muslim yang sudah terlebih dahulu tiba di Hakodatelah yang berani kami datangi sekali-sekali. Menu seafood atau vegetable saja yang ingredientnya sudah dipastikan tak mengandung bahan-bahan yang diharamkan (seperti daging babi dan alkohol/mirin, sake merah yang biasa digunakan dalam masakan jepang) yang bisa kami santap. Kalaupun kami ingin membeli makanan jadi yang tersedia di su-pa (supermarket), pilihan menunya hanya produk laut dan sayuran juga. Itupun dalam ‘dosis’ sekali makan dan perhitungan harga yang bisa dua kali lipat cost yang harus dikeluarkan dibanding memasak sendiri. Yah, paling aman memang dengan memasaknya sendiri.

Beruntungnya kami, ada toko online yang berada di Tokyo, yang menyediakan bahan-bahan masakan Indonesia (meskipun tak lengkap), yang membantu saya melengkapi rasa masakan Indonesia yang saya buat. Seringnya juga memesan bumbu jadi yang siap olah, untuk mengurangi dan mengefisienkan waktu memasak dan biaya. Daging, tempe dan mie instanpun tersedia, sehingga perut kami tak hanya dimanjakan dengan produk laut saja. Tapi juga bisa sesekali merasakan lagi nikmatnya tempe, yang dulu kalau di Indonesia, sering dicibir-cibir (menyesal, hiks). Karena harga yang mahal , sekali order saya harus bisa mengolah tempe, daging sapi dan ayam, cukup untuk satu bulan ke depan.

Bayangkan tempe yang hanya sekotak (sekitar 275 gram) harus bisa cukup untuk empat perut selama sebulan. Saat mengirisnya, saya pastikan setipis mungkin dan di celup dengan tepung agar menjadi tebal (huhuhu, nangis saya). Tapi apapun itu, saya rasa ini merupakan keberkahan dari Allah buat kami sekeluarga. Bila tak pernah merasakan pengalaman seperti ini, bagaimana bisa kami mengingat untuk selalu bersyukur dengan nikmat dilahirkan di Indonesia yang kaya kuliner dan berlimpah jenis bahan makanan. Ya kan!Tempe tahu, yang katanya makanan rakyat, adalah barang mewah di Hakodate. Harga tempe satu kilo bisa lebih mahal daripada daging ayam dengan berat yang sama.

Masih ada keseruan lain yang bikin ramadhan di negeri matahari terbit makin asyik untuk disimak. Mulai dari masyarakatnya yang terpesona dengan ajaran Islam hingga keseruan summernya. Tungguin sambungannya ya di edisi berikutnya![]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise edisi 48

HIJAB TANPA NANTI, HIJAB TANPA TAPI

MajalahDrise.com – Ramadhan sudah berlalu. Udah pada latihan taat kan? Yang sholatnya biasanya bolong-bolong, semoga udah banyak ditambal. Yang shalatnya susah khusu’ moga makin ingat sama Allah di setiap ibadahnya. Dan tak kalah penting,yang belum berhijab, mulai latihan berhijab di momen ramadhan kemarin. Berhijab bukan tanda taat, tapi berlatih taat. Berhijab jangan kapan-kapan, bisa jadi tiba-tiba kita udah kenakan hijab kain kafan alias datangnya kematian. Hiii, serem. Ini bukan nakutin, tapi udah banyak faktanya lho. Banyak anak muda yang ‘pamit’duluan dari dunia ini dibanding usianya yang lebih tua. Itu artinya, kematian nggak pandang usia. Siapa saja, kapan saja, dimana saja. Kematian selalu mengintai kita. Catet!

Berhijab bukan berarti sudah sempurna, tapi mendekati kesempurnaan. Ngga ada manusia yang pengen hidupnya sama setiap hari atau malah lebih buruk. Kata Rasul, manusia yang rugi itu kalo hari ini lebih sama dengan kemarin. Dan manusia yang celaka, kalo hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Nah, buat yang udah mulai berhijab, jangan dilepas lagi ya Sista.

Hijab kok bongkar pasang, emangnya mesin motor? Sehari berhijab, sehari lepas. Itu tanda belum siap secara mental. Lantas apa harus siap dulu? Tanda siap adalah mengenakan hijab. Ngga akan pernah siap kalau tidak dibarengi aksi. Supaya mental kuat bukan dengan melepas, tapi dengan mempertahankan. Apa sebenarnya halangan kita dalam berhijab?

Berikut beberapa alasan yang sering dijumpai kenapa terkadang para muslimah pakai hijab bongkar pasang, alias sehari pake, sehari lepas.

Pertama, takut ngga gaul. Hemm, sebenarnya niat kita berhijab untuk siapa? Jikalau  lurus karena Allah, pastilah yang ingin kita harap perhatiannya adalah Allah. Pergaulan yang akan merusak hubungan kita kepada Allah insyaallah akan dijauhkan olehNya selagi kita kuat dan menguatkan diri. Kawan yang benar, akan makin senang kalau kita berjalan ke arah yang benar. Terlepas apakah dia udah berhijab atau belum, pastinya dia dukung. Kalau tidak, yakin dia ngga bisa dijadikan teman akrab. Pertemanan itu ibarat mendekati penjual minyak wangi. Jika ia baik, maka bertambah baiklah kita. Pilih-pilih teman aja ya!

Kedua, aturan sulit di sekolah. Sebagian sekolah atau instansi tertentu ada yang sangat disiplin terhadap aturan berbusana. Dengan berbagai alasan, pihak-pihak ini membuat peraturan yang kadang tak sesuai dengan aturan busana islami. Solusinya gimana dong? Satu sisi ingin berhijab, di sisi lain lingkungan tidak mendukung. Yang pertama dilakukan ialah kita tetap berhijab, tahap selanjutnya ialah mengadakan dialog. Jangan kira, sekali berdialog masalah langsung selesai. Memang butuh dialog secara berulang dan perjuangan keras untuk meyakinkan bahwa berhijab syar’I tidak jadi kendala dalam berprestasi dan partisipasi kita dalam lingkungan. Tetap berprasangka baik, sebab sesuatu yang sudah dibangun dengan kebaikan akan mendapat kebaikan pula.

Ketiga, takut ngga eksis. Rasanya kalau udah berhijab seperti orang suci, jadi ngga bebas mau macem-macem. Nah, ini yang membuat hijabers susah move on! Tatkala hawa nafsu terpendam dan belum diarahkan. Harapannya berhijab jadi mendorong kita pada hal-hal positif, tapi jika sejak awal kita juga tidak menginginkannya malah jadi repot alias kontradiktif. Akhirnya, tak jarang yang berhijab di sekolah. Lalu pas dijemput pacar di luar sekolah, hijabnya malah dilepas. Aduh sayang banget, barusan ngumpulin pahala, tercerai berai karena eksis di hadapan pacar atau manusia. Udah gitu, pacaran tambah dosa kian berlimpah. #UdahPutusinAja biar tambah istiqomah dalam berbusana muslimah.

Keempat, takut ngga dapet jodoh. Lagi-lagi yang merusak hijab karena adanya penyakit hati dan galau hati. Gimana ceritanya berhijab ngga dapet jodoh? Sementara kenyataannya banyak yang berhijab sudah duluan nikah, hidup harmonis dan jauh dari desas-desus cinta. Jodoh dan hijab bukannya menjauhkan malahan mendekatkan. Yaitu, jodoh yang baik akan datang, jodoh yang buruk akan berbalik badan. Sesuai janji Allah, lelaki baik-baik, diperuntukkkan bagi perempuan yang baik-baik pula.

Masih banyak alasan serta kondisi yang jadi alasan bagi kita untuk taat. Ingatlah selalu niat sejak awal, perkuat dengan ilmu dan minta motivasi dari orang sekitar. Tiga pilar ini jadi fondasi  utama untuk berhijab kapanpun dimanapun, kini dan nanti. Dunia tentu akan lebih indah ketika semua muslimah bisa berhijab melaksanakan kewajiban. Berhijab bukan saja bermanfaat bagi kaum hawa, tapi juga para pria. Mata para pria akan terhindar dari maksiat pandangan alias melihat aurat yang tak sepantasnya ilihatnya. Yuk, istiqomahkan berhijab! Jangan pake nanti, jangan pake tapi, apalagi dibongkar pasang. Emangnya puzzle! Wallahu’alam [Alga Biru]

di muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi 48

Derap Rantai Episode 19

Majalahdrise.com – Tertatih-tatih langkah Jabal saat dipapah Mutsana melewati Gerbang Neraka. Mutsana melingkarkan sebelah lengan Jabal ke pundaknya. Jabal mengernyit menahan sakit sesekali dia merintih.

“Bersabarlah, kita akan keluar dari sini sebentar lagi, insya Allah,” Mutsana menghibur.

“Alhamdulillah mereka belum melukai kakiku, jadi aku masih bisa melangkah dengan baik. Hanya agak ngilu saja,” kata Jabal.

Perlahan-lahan Jabal berdiri di atas dua kakinya. Kepalanya pening karena berkali-kali ditinju oleh para prajurit hitam tadi. Mutsana datang tepat waktu sehingga Jabal tidak perlu mengalami apa yang dialami oleh tawanan yang lain.

Walau berat, Jabal telah bisa berjalan sendiri. Mereka berdua menyusuri koridor-koridor panjang yang remang-remang itu.

“Kita harus bergegas,” kata Mutsana. “Tempat ini tidaklah aman bagi kita.”

“Bagaimana cara kita keluar dari tempat ini?” Tanya Jabal.

“Tak ada jalan keluar!”

Mata Jabal menatap tajam kepada Mutsana, langkahnya terhenti. Kalimat Mutsana yang pendek itu memang amat mengejutkan. “Apa maksudnya tidak ada jalan keluar?”

Mutsana menoleh ke kedua ujung lorong, dia tetap waspada akan keadaan. “Setelah seseorang masuk ke dalam sini dia tidak akan bisa keluar lagi. Tapi pasti akan selalu ada jalan keluar! Ayo!!!”

kisah sebelumnya

Tangan Mutsana menggandeng lengan Jabal untuk membantunya melangkah. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menyusuri koridor-koridor yang gelap itu. Pelan-pelan Jabal telah sanggup berjalan sendiri tanpa perlu dipapah lagi oleh Mutsana. Tibalah salah satu hal terberat yang harus mereka lakukan, mendaki anak-anak tangga yang melingkar itu.

Beberapa kali Mutsana harus kembali memapah Jabal. Setelah memerah keringat dan mengerahkan tenaga, akhirnya mereka sampai juga di puncak tangga. Perjalanan belum berakhir, mereka melangkah lagi.

Beberapa orang prajurit hitam berpapasan dengan mereka, namun tak ada seorang pun yang menaruh perhatian kepada mereka. Mereka hanya mendapatkan tatapan mata penuh tanda tanya. Berbeloklah Mutsana dan Jabal, menuju ke bagian lorong yang berbatasan dengan taman yang indahnya seperti surga itu. Di ujung lorong, terkejutlah mereka berdua ketika tiba-tiba muncul sekelompok prajurit hitam. Mutsana mengenali seorang yang berdiri paling depan, dialah prajurit yang tadi disergap oleh Mutsana di tengah-tengah padang pasir.

Prajurit hitam itu mengacungkan telunjuknya lurus kepada Mutsana dan Jabal. Mulutnya menganga dan matanya membelalak. “ITU MEREKAAA…”

Jantung mereka berdua mencelos, seolah-olah hendak melompat keluar. Dari ujung lorong di hadapan mereka sekelompok prajurit hitam sedang berlari mengejar mereka, sementara mereka terpenjara oleh dinding-dinding lorong. Mutsana bergerak cepat ke depan Jabal. Dia berdiri menghadap dinding yang berbatasan dengan taman, memasang kuda-kuda, berkonsentrasi kepada dinding itu, kemudian menghantamkan tendangannya ke sana. Dinding itu hancur berkeping-keping membentuk sebuah lubang besar.

Jabal melotot takjub, tapi Mutsana langsung merenggut lengannya dan menariknya masuk ke dalam lubang di dinding itu, memasuki taman. Mereka berlari sekencang-kencangnya melintasi taman itu tanpa sempat mengagumi keindahannya. Hamparan rumputnya yang hijau sebenarnya amat lembut di kaki mereka, tapi mereka tak bisa merasakannya sebab mereka harus mengambil langkah seribu.

Entah mendapatkan kekuatan dari mana, Jabal bisa berlari dengan cepat, bahkan menyejajari kecepatan lari Mutsana. Mereka berlari bersisian menerjang apa pun yang ada di hadapan mereka. Dalam sekejap, taman yang tenang dan damai itu menjadi riuh. Para prajurit hitam yang mengejar di belakang mereka berteriak-teriak.

“TANGKAP MEREKAAA…!!! JANGAN BIARKAN LOLOSSS…”

Para pemuda yang sedang duduk di taman sambil mendengarkan tausiyah dari sang orangtua itu langsung tersentak kaget. Mereka melihat ada dua orang lelaki menghambur ke hadapan mereka sambil berteriak, merekalah Mutsana dan Jabal. Sang Orangtua terlihat heran, alis dan dahinya yang mengkilap berkerut. Tongkatnya teracung sambil meracaukan sesuatu yang tak jelas.

Mutsana mengangkat kepalannya dan menghantamkan tinjunya ke hidung sang Orangtua hingga Orangtua itu jatuh terjengkang dan pingsan. Sementara Jabal mengenali seorang pemuda yang ada di hadapannya, pemuda dengan luka di betis yang berhasil mengelabuinya dan Mutsana di tengah-tengah gurun. Tanpa pikir panjang, Jabal menabrakkan badannya yang besar dan berat ke tubuh pemuda yang sedang duduk di atas rumput itu. Tubuh Jabal menimpa tubuh pemuda itu dan pemuda-pemuda lain yang ada di sekitarnya, persis seperti bola bowling menghantam bidak-bidak pin di ujung lintasan.

Mutsana dan Jabal melanjutkan pelarian mereka melintasi taman indah yang disorot cahaya matahari itu, sementara semakin banyak orang yang mengejar mereka. Taman yang tadinya tenang itu menjadi ribut.

Taman itu berbentuk persegi, disorot langsung sinar matahari, dan sepertinya dia berada di tengah-tengah benteng dengan dikelilingi tembok. Bunga-bunga beraneka warna yang jarang terlihat di daratan Arab bertumbuhan di taman itu. Di sudut-sudutnya ada pilar-pilar tinggi yang berukir dan dilapisi sulur-sulur tumbuhan. Seluruh dasarnya ditutupi rerumputan yang hijau, benar-benar meniru taman surga. Ada sebuah sungai berair jernih yang membentang di tengah-tengah taman itu, dan ke sanalah Mutsana dan Jabal sedang menuju.

Ketika mereka sudah mendekati tepian sungai, mereka menghentikan langkah mereka. Mutsana dan Jabal saling pandang, kemudian mereka menoleh ke belakang mereka hanya untuk mengetahui seolah-olah seisi benteng itu kini sedang mengejar mereka saking banyaknya para pengejar itu. Para pengejar itu semakin dekat.

“Sekarang apa? Jatuhkan diri ke sungai?” Tanya Jabal dengan gusar.

Mata Mutsana terbuka lebar menatap aliran sungai yang deras itu. “Ikuti aku!!!”

Mutsana melompat dan menjatuhkan dirinya ke dalam sungai yang deras itu. Tak menunggu lama, Jabal segera melompat mengikuti perintah Mutsana sambil memekikkan takbir. Aliran sungai yang cepat luas itu dengan sigap menyeret tubuh mereka berdua. Mati-matian Mutsana dan Jabal menggerakkan tubuh mereka agar tetap berada di atas air. Mereka membiarkan saja tubuh mereka hanyut dibawa aliran sungai.

Di tepian sungai, para pengejar itu sudah ramai menyoraki Mutsana dan Jabal, namun mereka tidak berani menceburkan diri mereka ke dalam sungai. Mereka mengatakan berbagai hal yang tidak bisa dipahami oleh Mutsana dan Jabal.

Tubuh Mutsana dan Jabal terombang-ambing di atas aliran air yang deras. Mereka menahan napas dan membuka mulut mereka kemudian bernapas dari sana. Di hadapan mereka tegaklah dinding pembatas taman, mereka akan segera terbentur dengan keras ke dinding itu. Namun yang terjadi tidak terduga. Ada lubang menganga di dinding itu, sebuah lubang besar yang gelap. Aliran air sungainya jatuh ke dalam bumi, terjun bebas ke dalam ceruk gelap yang dasarnya tak kelihatan. Tubuh Mutsana dan Jabal terjatuh ditelan kegelapan.

Bersambung

di muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi 48

Jadi Muslim Full Time!

Majalahdrise.com – Islam nggak pernah kenal yang namanya kehidupan sekuler. Jangankan kenalan, dicombalingin aja ogah. Sumpeh lho. Lantaran nggak ada sedikitpun kebaikan yang ditelorkan dari gaya hidup sekuler bagi umat Islam. Yang ada justru kemuliaan Islam bakal diinjak-injak kalo Islam disamain dengan agama lain yang cuman ngatur ibadah ritual semata. Allah swt berfirman:

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah [5]: 3)

Ayat di atas menjelaskan pada kita kalo ajaran Islam itu udah sempurna. Tanpa cacat bin cela. Ajaran Islam punya aturan komplit tentang ekonomi, pemerintahan, sosial, pendidikan, militer, atau politik sebagaimana kelengkapan aturan ibadah dalam Islam. Semua aturan ini ngasih kebaikan pada manusia di dunia juga di akhirat. Makanya Allah swt memerintahkan umat Islam untuk jadi muslim full time. Terikat dengan aturan Islam dimana saja, kapan saja, dan lagi ngapain aja. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(QS. Al-Baqarah [2]: 208)

Penting kita catet dan tanam dalam diri kalo pengawasan Allah swt terhadap perbuatan kita itu lintas waktu dan lintas tempat. Nggak ada bedanya antara bulan Ramadhan dengan bulan lainnya. Jangan dipikir kalo pahala Allah swt cuman bisa kita dapetin di mesjid, majelis ta’lim, atau dipanen saat bulan Ramadhan aja. Keliru tuh. Yang bener, di mana aja dan kapan aja, pahala bisa kita raih asalkan ngikutin aturan hidup Islam.

Kenapa kita mesti ngotot pake aturan hidup Islam? Lantaran setiap amal sholeh yang berbuah pahala maupun amal salah yang berbuah dosa selama hidup di dunia, bakal ada itung-itungannya di akhirat kelak. Kalo saldonya surplus pahala, tiket surga di tangan kita. Sebaliknya, kalo surplus dosa, ya IDL alias Itu Derita Loe di neraka. Nggak deh!

Nah driser, buang jauh-jauh deh mental insyaf sesaat dalam diri kita. Kalo ramadhan kemaren ibadahnya getol, giatin juga di bulan laen. Kalo puasa kemaren sukses menjinakkan hawa nafsu, terusin di bulan berikutnya. Kalo sebelum syawal kita aktif ikut kajian Islam, sekarang jangan ampe kendor. Semuanya kudu dipertahankan terus biar jadi muslim full time yang disayang Allah swt. mau kan? Terus kalo iman kita kedodoran dihantam gaya hidup sekuler di sekitar kita, jangan kembali maksiat ya. Tapi perkuat benteng akidah dengan mengenal Islam lebih dalam. Ikut ngaji, Insya Allah gak akan rugi. #YukNgaji! [@hafidz341]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 48