e magz

Majalahdrise.com – tahu kan apa itu e-magz? Yang pasti  bukan suaminya bapagz atau ibunya  anagz lho. Ini masih kerabatan dengan  ebook dan sodara dekat dengan email.  Mereka semua itulah salah tiga diantara  sekian banyak penghuni dunia maya yang  setia membantu kerja manusia. Yup, di era digital saat ini kemudahan  yang ditawarkan teknologi bikin manusia  mulai hidup tanpa kertas alias paperless.  Sedapat mungkin, pekerjaan yang berkaitan  dengan kertas digantikan dengan teknologi.  Selain untuk memangkas penebangan pohon  yang menjadi bahan baku kertas, gaya hidup  paperless juga lebih efektif bin efisien.  Salah satu penampakan gaya hidup  paperless ditunjukkan dengan merebaknya  ebook atau emagz untuk menggantikan  media cetak. Selain lebih irit ongkos produksi,  daya jangkau pembacanya juga lebih luas.  Lantaran distribusinya gak pake ribet mesti  kirim via jasa ekpedisi. Cukup diupload ke  dunia maya, yang mau baca tinggal  download. Abis itu, bisa dengan  mudah dibaca kapan aja, dimana  aja dengan bantuan gadget. Asyik  kan? Nah, untuk menjawab  tantangan pembaca yang kesulitan  mendapatkan majalah drise edisi cetak, kita juga hadirkan drise versi e-magz.  Jadi pembaca yang diluar negeri, yang  kehabisan, yang atau tempat tinggalnya jauh  dari peradaban :D, tetap bisa baca drise  setiap terbitnya.  Apalagi versi e-magz,  tampilannya full colour dan so  pasti anti lecek bin sobek. Lebih  awet meski dibaca berulang  kali. So, buat driser yang  pengen dapet drise terbaru,  selain edisi cetaknya kini bisa  pesan juga versi e-magznya.  Hubungi aja 085814771511  sekarang! [@Hafidz341]

di muat di majalah remaja islam Drise edisi 49

WRITER IS BOOKLOVER

Majalahdrise.com – D’Riser setelah merampungkan habits penulis di edisi kemarin, kini kita mo ngulik soal hobi penulis, yaitu berkutat dengan buku, dunia literasi dan penerbitan. Pada edisi kali ini, kita mo ngangkat soal kegemaran penulis pada buku. Jujur aja neh, hobi yang satu ini pada diri seorang penulis udah jadi kebutuhan, bukan lagi satu kewajiban. Malah, seorang kawan di komunitas penulisan pernah berceloteh, kalo dia gak nyakuin buku di tasnya, dia ngerasa gak pake celana. Halah gawat banget, kan?! Tapi, emang bener juga kok, bagi seorang penulis, buku seperti aksesoris wajib yang kudu dia bawa kemana pun dia pergi. Kamu inget, kan, di bahasan D’Rise sebelumnya, bahwa habits penulis pertama adalah membaca. So, buku adalah kawan terbaik bagi seorang penulis!

Nah, seorang penulis yang baik, pasti dia keranjingan baca and gandrung banget sama buku. Dia adalah seorang booklover, pecinta bukupaling setia. Anytime, lebih dari itu, seorang booklover bisa menjadi seorang bookcollector, lho. Dia terobsesi untuk memiliki sekaligus mengoleksi buku-buku fave. Bahkan, dia bisa sangat possesif pada bukufavoritnya. Hehehe…saking sayangnya gitu, lho sama buku!

Mo contoh yang keren soal para penggemar buku ini? D’Riser kenal sama Adam Malik, kan? Tokoh bangsa ini dikenal sebagai seorang booklover. Kecintaannya pada buku ini menghantarkannya menjadi seorang aktivis pergerakan, politisi, diplomat, duta besar, ketua DPR, bahkan menjadi orang kedua di Negeri Si Komo ini. Adam Malik menjadi RI-2 mendampingi The Smiling General memimpin bangsa ini pada 1978. Padahal, Adam Malik tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi, ia hanyalah lulusan sekolah dasar!

Namun, sekalipun demikian, Adam Malik telah melahap ribuan buku yang menjadi kegemarannya sejak muda. Bahkan, dengan belajar secara otodidak melalui buku itu, Adam Malik pernah menjadi wartawan majalah Partindo dan sering menulis di Pelita Andalas. Ia juga menulis beberapa buku dan sempat diterbitkan oleh Penerbit Gunung Agung, Jakarta. Prestasinya bagi dunia jurnalistik negeri ini, Adam Malik menjadi inisiator berdirinya LBKN Antara. Keterampilannya berdiplomasi juga, didapatkannya dari hasil membaca. Adam Malik saat menjadi Menlu RI adalah penggagas berdirinya ASEAN. Ia pun pernah menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York, AS. And yang tak pernah ia lewatkan adalah ia masih rajin berburu buku dan mengoleksinya di perpustakaan keluarganya. Kini, sepeninggal dirinya, ribuan koleksi bukunya dihimpun dalam Museum Adam Malik.

Wah keren, kan tuh, kisah booklover bernama Adam Malik itu? Mo yang lebih keren lagi? D’Riser kenal Syaikh Tanthowy, gak? Kalo tau Universitas Al-Azhar, Kairo, pasti tau dunk, sosok Syaikh al-Azhar ini. Nah, Syaikh Tanthowy adalah sosok al-Alamah (professor doktor) di universitas Islam tertua di Mesir itu berkat keluasan tsaqafah dan ilmu pengetahuannya. Tapi, tunggu dulu, sebenernya saya gak akan cerita soal Rektor Universitas al-Azhar itu, tapi saya mo cerita orang hebat di belakangnya. Yups, ia adalah Nyonya Tanthowiy, alias istri Sang Syaikh!

Menurut pengakuan Syaikh Tanthowy, Nyonya Tanthowiy adalah sosok pendamping yang luar biasa, ia tidak hanya jadi istri salehah di dalam rumah, tapi ia juga sosok mahaguru bagi para mahasiswa al-Azhar, bahkan para mahasiswa S.3 alias program doktoral pun ikut berguru kepadanya. Padahal, jenjang pendidikan formal Nyonya Tanthowiy hanya tamat madrasah ibtidaiyah alias SD! So, ada rahasia apakah di rumah keluarga Tanthowy? Ternyata, keluarga Tanthowy mengoleksi ribuan buku yang tersimpan rapi dalam perpustakaan keluarganya. Sudah bisa ditebak, Nyonya Tanthowiy mengunyah tandas koleksi buku suaminya itu. Berkat pengetahuannya yang luas itulah, ia sering disambangi oleh para mahasiswa al-Azhar yang meminta bimbingannya dalam penulisan ilmiah, baik skripsi, tesis maupun disertasi. Bahkan, dalam beberapa persoalan fiqh, Nyonya Tanthowy sering diminta fatwanya. Ia juga kerap menulis risalah ilmiah. Keren, kan, tuh?!

Oke D’Riser, seorang penulis itu pastilah booklover, bahkan dia pun suka bergabung dengan banyak komunitas buku dan komunitas baca. Kadang, juga malah suka ikut meramaikan komunitas diskusi sebagai bagian dari open mind, sekalipun diskusinya lintas ideologi. Keberadaannya pasti mendapat aplaus karena ia dapat bertukar pikiran dengan sumber literatur yang komplet!

Saya pernah berdiskusi seru dengan seorang doktor ekonomi salah satu universitas ternama di Bandung. Saat itu saya mengkritik tajam ekonomi kapitalis liberal yang dijalankan negeri ini, sambil membongkar berbagai kerusakan yang ditimbulkannya secara historiografik. Saat itu, Si Doktor bertanya dengan nada merendahkan, ”kamu ngegoblok-goblokin sistem ekonomi kapitalis, emang kamu dah baca sumber-sumber literatur kapitalisme?”

Saya gak ngejawab pertanyaannya itu, tapi ngeluarin buku-buku, kitab sucinya para Nabi Kapitalisme, seperti The Wealth of Nations-nya Adam Smith taon 1937, The Principles of Political Economy and Taxation-nya David Ricardo taon 1938. Bahkan, saya ngeluarin antitesa dari kedua buku tersebut, Das Kapital-nya Karl Marx taon 1919 dalam bahasa Jerman, sekaligus terjemahannya dalam bahasa Inggris, Capital taon 1957. Si Doktor itu hanya melongo, ironisnya lagi pas saya tanya balik, apa dia punya semua buku tadi? Si Doktor hanya melipat muka! Makanya, jangan sok genius, Pak!

 

BOX:

Tips Menjadi Seorang Booklover

 

Oke D’Riser, kini saya mo berbagi tips, agar kamu semua-mua dapat menjadi seorang booklover, bahkan bookcollector:

  1. Kamu suka sama buku-buku apaan? gak asyik banget kan kalo kamu hobi adventures & travelogues, tapi malah ngoleksi bermacam buku soal beternak cacing, jangkrik dan kodok!
  2. Trus, kamu kudu tau penulis fave kamu. Kalo dah kepincut, kamu bakalan ngeborong semua karyanya, tuh!
  3. Pastikanjuga, apa kamu seneng sama buku-buku langka, limited edition, antik, jadul ato buku buluk, gak? kalo iya, wah siap-siap berburu harta karun, neh!
  4. Kamu juga harus tau, dimana aja kamu bisa dapetin buku-buku asyik, keren dan fave tadi. jika perlu, kamu siapin list-nya.
  5. Tapi inget, jangan cuma berburu, membaca dan ngoleksi buku aja, tapi kamu pun harus tetap berkarya. Bahkan, harus punya niat kuat melampaui buku-buku yang udah kamu baca itu!Cag, ah!

di muat di majalah remaja islam drise edisi 48

Kopi pertama

Majalahdrise.com – Bagi para begadangers alias orang-orang yang harus tetap melek sampai larut malam, pastinya segelas kopi is a must, alias kudu banget! Secara, kandungan kafein dalam kopi bisa mengurangi keletihan tubuh dan mengembalikan kewaspadaan ketika rasa kantuk menyerang. Selain membuat mata kita melek, kafein juga dapat meningkatkan fokus, mempercepat proses berpikir, serta membuat koordinasi tubuh lebih baik. Tapi tetep hati-hati ya. Kopi juga punya beberapa efek samping negatif bila dikonsumsi berlebihan seperti masalah pencernaan dan pengurangan kepadatan mineral pada tulang. Makanya minum kopi sewajarnya aja ya.

Kata coffee berasal dari bahasa Belanda koffie, yang dipinjam dari bahasa Turki, kahveh, yang merupakan serapan dari bahasa Arab, qahwah. Kemungkinan kata ini berasal dari “Kaffa”, nama tempat di Ethiopia dimana tanaman kopi berasal. Para sejarawan berbeda pendapat mengenai asal mula minuman kopi. Ralph S. Hattox mengutip catatan Fakhr al-Din Abu Bakr Ibn Abi Yazid Al-Makki, yang menyatakan bahwa kelompok sufi dari tarekat Syadziliyah biasa membuat “Al-Qahwa”dengan menggunakan daun “Al-Gat”, sebuah tanaman stimulan yang terkenal di jazirah Arabia. Tapi karena terjadi kelangkaan stok daun Al-Gat di Aden, Syaikh -Dhabhani (d. 1470-71) memerintahkan pengikutnya untuk menggunakan “bunn”, atau biji kopi, sebagai penggantinya.

Sumber lain yang dikutip Hattox menyatakan bahwa pada awal abad 15 M kopi sudah dijadikan minuman di wilayah Persia. Hal ini diungkapkan oleh Jamaluddin al-Dabhani, mufti wilayah Aden, ketika berkunjung ke Persia. Ketika sakit, sang mufti mencoba menyicipi kopi, dengan harapan kesehatannya bisa membaik. Ternyata bukan hanya sakitnya sembuh, sang mufti merasakan manfaat lain, yaitu mnghilangkan sakit kepala, menambah semangat dan mengusir kantuk. Mufti Jamaludin kemudian merekomendasikan minuman kopi kepada para sufi agar untuk meningkatkan stamina ketika shalat malam.

Sumber dari Turki mencatat penemuan kopi pada tahun 1258, ketika seorang syaikh bernama Umar yang memakan biji kopi karena kelaparan. Bahkan catatan medis mengenai khasiat kopi tercantum dalam kitab Al-Qanun fi al-tib, magnum opusdari Ibnu Sina (selesai ditulis 1025 M). Sebelumnya ar-Razi juga menyebutkan beberapa khasiat medis pada kopi. Sedangkan menurut William H. Ukers, penemuan kopi bisa dilacak hingga tahun 750 M di Ethiopia ketika seorang gembala bernama Khalid yang mengamati perubahan tingkah laku kambing gembalaannya setelah memakan tanaman tertentu, yang kemudian dikenal dengan tanaman kopi.

Dari catatan-catatan sejarah yang ada maka bisa disimpulkan bahwa kopi ditemukan oleh muslim sebelum abad 10 M. Pertama kali dibudidayakan dan dikonsumsi di Yaman, alih-alih memakan bijinya, orang Yaman merebus biji kopi sehingga lahirlah minuman yang kemudian disebut Al-Qahwa. Diperkirakan bahwa pengguna kopi yang pertama kali adalah para Sufi untuk membantu mereka tetap melek saat dzikir dan shalat malam.

Abd-Al-Qadir Al-Jaziri (sekitar tahun 1558) dalam bukunya ‘Umdat al-Safwa fi hill al-qahwa, dari Fakhr al-Din Abu Bakr Ibn Abi Yazid Al-Makki yang menyebutkan bahwa al-qahwa memasuki Mekkah di abad 9 H (15 M). Setelah populer di Makkah dan Madinah, trend ngopi pun dibawa ke seluruh penjuru dunia oleh para jemaah haji dan pedagang. Al-Qahwa pun memasuki lingkungan Al-Azhar di Kairo, dan pada awal abad 15 M, Kiva Han, coffee shop pertama di Istanbul dibuka.

Di dalam Istana Turki Utsmanilah cara baru minum kopi ditemukan: biji kopi dipanggang di atas api, digiling kemudian serbuknya diseduh dalam air panas. Kopi kemudian menjadi bagian yang vital dalam hidangan istana. Bahkan ada jabatan khusus untuk pembuat kopi bagi Sultan, yaitu Chief Coffee Maker (kahvecibasi), yang dipilih berdasarkan loyalitas dan kemampuannya menjaga rahasia. Tak perlu waktu lama kopi menyebar dari Istana hingga rumah-rumah rakyat jelata. Coffehouse kemudian mejadi bagian dari budaya sosial di Istanbul. Bahkan seorang penjelajah Inggris bernama Charles Mac Farlane mengatakan “Orang Turki tak bisa hidup tanpa kopi”.

Dari Turki, kopi dibawa ke Italia oleh pedagang Venesia, dan tak lama kemudian menjadi komoditas perdagangan antara Venesia dengan Amalfi, Turin, Genoa, Milan, Florence dan Roma, hingga kemudian menyebar ke seluruh Eropa. Trend ngopi juga dibawa ke Eropa melalui para duta besar yang bertugas di Istanbul. Seperti halnya berbagai item yang diimpor dari negeri Muslim, kopi juga sempat ditentang oleh kaum gerejawan.  Bahkan Paus Clement VIII (1536-1605) dipaksa untuk mengharamkan konsumsi kopi! Konon, sang Paus mencabut larangannya setelah menyicipi sendiri nikmatnya ngopi.Setelah mendapat legitimasi dari Paus ini kopi semakin menyebar hingga ke Inggris Perancis, Belanda,Indonesia,  Amerika, dan seluruh penjuru negeri. Dan trend ngopi biar melek yang sampai sekarang masih berlangsung ini ternyata diawali oleh semangat untuk dzikir dan shalat malam![]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 48

Jaga Iman Pasca Ramadhan!

Majalahdrise.com –  Rasul pernah ngingetin, kalo keimanan itu terkadang naik turun kaya harga tukar rupiah dengan dollar. Kalo iman lagi naik, kita semangat banget ibadahnya seperti saat ramadhan. Giliran iman lagi turun, jangankan ibadah, bawaannya pengen maksiat mulu. Ih ngeri!

Perkara iman naik turun itu manusiawi. Makanya udah seharusnya kita jagain tuh iman biar tetep naik. Seorang shahabat bernama Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqofi pernah berkata pada Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah! Katakanlah kepadaku satu perkara yang dapat aku jadikan pegangan.”Beliau bersabda: “Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian beristiqomalah.” (HR. Muslim)

Yup, kuncinya itu ada pada sikap istiqomah biar iman kita tetap terjaga. Dalam bahasa arab, Istiqomah adalah anonim dari thughyan (penyeimbang atau melampaui batas). Ia bisa berarti berdiri tegak di suatu tempat tanpa pernah bergeser. Karena akar kata istiqomah dari kata “qooma” yang berarti berdiri. Maka secara etimologi, istiqomah berarti tegak lurus. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istiqomah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen.

Driser, kalo saat ini usia kamu delapan belas tahun terus tahun depan ada yang tanya usia dan kamu jawab delapan belas tahun, itu berarti kamu istiqomah dengan jawabanmu. Hehehe.. nggak gitu kaleee!

 

Istiqomah, Penuh Berkah!

Rasulullah saw. ngasih kabar gembira bagi kita-kita yang selalu bersabar dan tetep istiqomah. Sabda beliau: “Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari yang memerlukan kesabaran. Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yang mengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,’Hai Rasululah, apakah itu pahala lima puluh di antara mereka?” Rasululah saw. menjawab,”Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).”(HR Abu Dawud, dengan sanad hasan)

Kita sering ngerasa khawatir kalo istiqomah bikin kita sengsara. Rizki kita berkurang dan ajal lebih cepat datang. Padahal mah kenyataannya, yang nggak istiqomah juga banyak yang rizkinya seret dan ajalnya deket. Justru yang pasti, Allah swt bakal ngejamin kebaikan bagi yang berani istiqomah. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ”Robb kami ialah Allah” kemudian mereka beristiqomah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): ”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”(QS. Fushshilat [41]: 30).

 

Driser, sikap istiqomah adalah produk dari keimanan yang ada dalam diri kita. Makanya, untuk memelihara sikap istiqomah kita juga perlu memupuk keimanan kita. Berikut beberapa tips untuk menjaga agar iman kita tetap terjaga pasca ramadhan.

Pertama, banyak berpikir. Para sahabat, generasi awal kaum Muslimin yang berhasil dididik Rasulullah saw. mengaitkan aktivitas berpikir dengan keimanan. Mereka menjelaskan bahwa, “Cahaya dan sinar iman adalah banyak berpikir”(Kitab ad-Durrul Mantsur, Jilid II, hlm. 409). Semakin kita banyak berpikir tentang kebesaran Allah swt dan mengkaji Islam lebih dalam, lambat laun cahaya keimanan kita akan semakin bersinar. Dan setan pada kabur. Makanya ikut ngaji. #YukNgaji!

Kedua, perbanyak ibadah dan jauhi maksiat. Rasul pernah bilang, “iman bertambah dengan taat, dan iman bekurang dengan maksiat”. Makanya kita kudu getol beribadah, baik yang sunahapalagi yang wajib. Dan jangan lupa, jauhi pelaku maksiat juga tempat maksiat. Biar kita nggak kebawa-bawa sesat.

Ketiga, bergaul dengan orang-orang alim. Perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh teman dekatnya. Makanya, sering-sering deh ngumpul dengan teman yang bisa mengajak kita untuk tetap taat dan mengingatkan kita agar jauh dari maksiat. Dengan begitu, tanki semangat kita untuk istiqomah selalu terisi penuh.

Emang nggak mudah menjadikan ridho Allah swt di atas pertimbangan materi, kepentingan keluarga, atau solidaritas teman. Tapi percaya deh, Allah swt pasti akan mengganti setiap pengorbanan kita dengan kebaikan dunia akhirat. Bukan cuman untuk kita, tapi juga untuk keluarga, teman, dan orang-orang yang kita sayangi. Makanya, pasca ramadhan ngajinya jangan kendor. Tak sekedar baca quran, tapi kenali Islam lebih dalam. #YukNgaji! [@hafidz341]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 48