Cowok Pemaaf Lebih Jantan

Majalahdrise.com – Bagi seorang muslim, memaafkan  kesalahan orang lain itu bukan berarti  membiarkan dia berbuat jahat. Atau berarti  kita lemah. Tapi justru menunjukkan  kedewasaan kita sebagai manusia. Lantaran  setiap perbuatan itu lahir karena dorongan.  Bisa jadi karena kepepet, ada kebutuhan  yang mendesak, atau tak ada pilihan yang  lebih baik. Kita coba pahami dorongannya.

Gak asal mengumbar emosi. Kalo ada yang berbuat jahat pada kita,  memang wajib membela diri. Namun bukan  berarti memelihara rasa dendam dalam  hati. Karena Allah swt memerintahkan kita  untuk jadi seorang pemaaf. Firman-Nya:  “Dan tidaklah sama kebaikan dan  kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan  cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang  yang antaramu dan antara dia ada  permusuhan seolah-olah telah menjadi teman  yang sangat setia. Dan sifat-sifat yang baik itu  tidak dianugerahkan melainkan kepada  orang-orang yang sabar dan tidak  dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang  besar.” (Fushshilat: 34-35)

Ibnu Katsir rahimahullahu  menerangkan: “Bila kamu berbuat baik  kepada orang yang berbuat jelek kepadamu  maka kebaikan ini akan menggiring orang  yang berlaku jahat tadi merapat denganmu,  mencintaimu, dan condong kepadamu  sehingga dia (akhirnya) menjadi temanmu  yang dekat.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma  mengatakan: ‘Allah Subhanahu wa Ta’ala  memerintahkan orang beriman untuk  bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat  diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini  maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga  mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun  tunduk kepadanya sehingga menjadi teman  yang dekat’.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim  4/109)

Menjadi cowok pemaaf itu lebih  jantan. Karena mampu menjinakkan hawa  nafsu yang bisa menjerumuskan manusia  pada perbuatan dosa. Makanya Allah  ngasih kompensasi yang super duper  istimewa. Rasul saw bersabda:  “Barangsiapa menahan amarahnya  padahal dia mampu untuk melakukan  –pembalasan– maka Allah Subhanahu wa  Ta’ala akan memanggilnya di hari kiamat di  hadapan para makhluk sehingga memberikan  pilihan kepadanya, bidadari mana yang ia  inginkan.” (Hadits ini dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu  Majah no. 3394)

Jadi cowok pemaaf itu jauh lebih  nyaman hidupnya. Lantaran cowok  pendendam kesehariannya akan selalu  bawa beban. Waktu hidupnya bisa habis  cuman buat mikirin balas dendam. Nggak  produktif. Masa depannya pun bakal  suram. Rugi! []

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49

 

Cowok Pemaaf atau pendiam

Majalahdrise.com – pernah nonton film Rambo, Batman,  atau Ironman? Mereka salah tiga dari  idola remaja dengan aksi heroiknya.  Bayangin aja, seorang Rambo yang hanya  dibekali pisau belati dengan teknik perang  gerilya mampu bikin kocar-kacir pasukan  musuh yang bersenjata lengkap. Begitu juga  Batman dengan teknologi batmobilnya atau  Ironman dengan pakaian super canggihnya.  Di antara Rambo, Batman, atau  Ironman perbedaannya udah jelas.

Beda  film, beda musuh, beda teknologi, dan tentu  beda karakter. Namun ada satu kesamaan  yang menjadi daya tarik mereka di layar  lebar. Revenge alias balas dendam. Catet! Memaafkan kesalahan orang lain bagi  anak cowok, itu nggak gampang. Lantaran  dari film yang banyak ditonton remaja,  kayanya type pejantan tangguh itu justru  kisahnya menebarkan aroma balas  dendam. Batman berlatih keras bela diri  untuk membalas dendam kematian orang  tuanya.

Rambo meluluhlantahkan seluruh  kota, setelah diperlakukan tak adil.  Sementara Ironman membentuk baju  besinya dan kembali menghancurkan  markas musuh yang menyekapnya. Dan  tentunya kita tak bisa melupakan hebatnya  Don Vito Corleone yang menjadi tokoh sentral film mafia The God Father. Dari kisah-kisah di atas, keliatan kalo  karakter seorang cowok macho itu  digambarkan enggan memaafkan  kesalahan orang lain. Kalo dilakukan, seolah  menunjukan sisi lemah laki-laki. Nggak  maskulin. Masa sih?

Balas Dendam = Keadilan?

Dendam itu manusiawi. Rasanya  cukup adil kalo orang yang telah menyakiti  kita, merasakan hal yang sama. Sebaliknya,  kalo dimaafkan kok rasanya kita jadi kalah.  Dia seperti berbahagia di atas penderitaan  kita. Apalagi kalo dianya nggak merasa  bersalah atau enggan meminta maaf.  Makin esmosi aja dibuatnya. Makanya  dianggap wajar kalo kita marah untuk  ngasih balasan setimpal atau bahkan lebih  kepada orang yang telah menyakiti kita. Ya kalo kita ngikutin perasaan,  pastinya ada seribu alasan untuk  membenarkan. Setan akan menghalalkan  segala cara untuk menjerumuskan Apalagi  kalo udah dikasih bumbu keadilan demi  ngasih pelajaran. Pas banget dah untuk jadi  cowok pendendam.

Padahal kenyataannya, balas dendam  tak berarti sukses meraih keadilan. Hanya  memuaskan nafsu semata. Karena  hakikatnya, keadilan itu datangnya dari  yang Maha Kuasa. Orang yang melakukan  kesalahan akan merasakan akibat  perbuatannya bukan karena amarah kita.  Tapi karena konsekuensi perbuatan mereka  sendiri. Apa yang dia tanam, itu yang akan  dia tuai. Ibaratnya cermin, dia akan  menerima perlakuan yang sama seperti  yang pernah dilakukan pada orang lain. Itu  udah sunatullah. Jadi, balas dendam itu tak  identik dengan keadilan. Catet

di muat di majalah remaja islam drise edisi 49

Kisah Indah Ibnu Hajar dengan Seorang Yahudi

Majalahdrise.com – Nama lengkapnya Ahmad bin  Ali bin Muhammad bin  Muhammad bin Ali bin  Mahmud bin Ahmad binHajar Al Kinani  Al Asqalani. Ia lahir, tinggal dan  meninggal dunia di Mesir. Ia adalah  penganut madzhab Syafi’I yang dikenal  sebagai seorang hakim agung (Qadhi  Qudhat) dan ulama besar Islam. Murid beliau, Syaikh Ibnu Taghri  Burdi mengatakan, bahwa Ibnu Hajar  adalah orang yang memiliki dedikasi  tinggi, berwibawa, bersahaja, cerdas,  bijaksana, dan pandai bergaul.

” Syaikh  Al Biqa’i -muridnya juga- berkata, “Ibnu Hajar adalah orang yang memiliki  pemahaman dan hafalan yang luar  biasa, sehingga memungkinkan untuk  mencapai derajat kasyaf, yang dapat  menyingkap sesuatu yang  tersembunyi. Ia juga memiliki  kesabaran yang kokoh, semangat yang  tinggi dan hati yang istiqamah.”

Najmuddin bin Fahd, seorang ahli  hadits negeri Hijaz mengatakan,   “Beliau adalah muhaqqiq yang handal,  pintar, fasih, berakhlak mulia dan  teguh dalam melaksanakan perintah  agama. Dalam syair dikatakan,  Mustahil akan datang suatu masa  seorang seperti Ibnu Hajar

Sesungguhnya masa seperti itu  sangatlah sulit. Pada masa hidupnya, jika beliau  pergi ke tempat kerjanya berangkat  dengan naik kereta yang ditarik oleh  kuda-kuda atau keledai-keledai dalam  sebuah arak-arakan. Pada suatu hari beliau dengan  keretanya melewati seorang yahudi  Mesir. Si yahudi itu adalah seorang  penjual minyak.

Sebagaimana  kebiasaan tukang minyak, si yahudi itu  pakaiannya kotor. Melihat arak-arakan  itu, si yahudi itu menghadang dan  menghentikannya. Si yahudi itu berkata kepada Ibnu  Hajar: “Sesungguhnya Nabi kalian berkata: “Dunia itu penjaranya orang yang  beriman dan surganya orang kafir. ”  (HR. Muslim) Namun kenapa engkau sebagai  seorang beriman menjadi seorang  hakim besar di Mesir, dalam arak-arakan yang mewah, dan dalam  kenikmatan seperti ini. Sedang aku -yang kafir- dalam penderitaan dan  kesengsaran seperti ini.” Maka Ibnu Hajar menjawab: “Aku  dengan keadaanku yang penuh dengan  kemewahan dan kenimatan dunia ini  bila dibandingkan dengan kenikmatan

surga adalah seperti sebuah penjara.  Sedang penderitaan yang kau alami di  dunia ini dibandingkan dengan yang  adzab neraka itu seperti sebuah surga.” Maka si yahudi itupun kemudian  langsung mengucapkan syahadat:  “Asyhadu anla ilaha illallah. Wa asyhadu  anna Muhammad rasulullah,” tanpa  berpikir panjang langsung masuk Islam.

Subhanallah, sangat menakjubkan  hadits Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa  sallam dalam kisah ini… Imam An-Nawawi menjelaskan  hadits ini: “Dunia itu penjaranya orang  yang beriman dan surganya orang  kafir.” “Maknanya bahwa setiap mukmin itu  dipenjara dan dilarang di dunia ini dari  kesenangan-kesenangan dan syahwat-syahwat yang diharamkan dan dibenci.

Dia dibebani untuk melakukan  ketaatan-ketaatan yang terasa berat.  Jika dia meninggal dia akan beristirahat  dari hal ini. Dan dia akan berbalik  kepada apa yang dijanjikan Allah berupa  kenikmatan abadi dan kelapangan yang  bersih dari cacat. Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan  dunia yang dia peroleh, yang  jumlahnya sedikit dan bercampur  dengan keusahan dan penderitaan.  Dan bila dia telah mati, dia akan pergi  menuju siksaan yang abadi dan  penderitaan yang selama-lamanya.”(Syarah Shohih Muslim No.  5256)

Driser, kisah Ibnu Hajar di atas  udah seharusnya menguatkan kita  untuk selalu bersabar atas hukum  Allah dan ridha dengan yang  ditetapkan dan ditaqdirkan oleh Allah.  Hidup kita nggak akan punya nilai  berarti kalo jauh dari ridho illahi.  Emang nggak gampang tetep  istiqomah pake aturan syariah dalam  keseharian.

Tapi justru, hanya  ketaatan itu yang memantaskan diri  kita menjadi penghuni surga. Biarlah  kita menjadi ‘narapidana’ selama di  dunia, kelak di akhirat akan bahagia.  Karena Dunia itu penjaranya orang  yang beriman dan surganya orang  kafir. Tetep istiqomah ya!  []

di muat di Majalah remaja islam drise edisi 49

HELP CENTER : Mencintai Diri Sendiri

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb Saya jelek, tidak pintar, sulit bergaul, sy benci  dengan diri saya…semua orang tidak  menyukai saya  (Dinda, Martapura)

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Dik Dinda yang baik,

majalahdrise.com – Saya bisa merasakan apa yang sekarang  Dik Dinda rasakan.Merasa benci dengan diri  sendiri. Hingga dunia serasa tidak  menyenangkan sebagai tempat tinggal. Dik  Dinda, setiap  orang memiliki konsep diri (self-concept) yaitu pikiran dan keyakinan mengenai  dirinya sendiri. Ada yang memandang dirinya  positif dan ada sebagian orang yang  memandang dirinya secara negatif.

Penghargaan terhadap diri sendiri yang rendah  menjadikannya  bersikap negatif terhadap  dirinya sendiri. Memandang orang lain punya  banyak kelebihan, sebaliknya ia penuh dengan kekurangan. Orang lain beruntung dan ia  menderita.Dia mengagumi kelebihan orang lain,  dan memandang rendah dirinya.  Dik Dinda yang baik,    Saat seseorang merasa dirinya bukan apa-apa. Bahkan membenci diri sendiri sebagai  manusia tak berguna, makhluk sia-sia.

Begitu  banyak kekurangan, begitu banyak kesalahan,  dan keburukan. Apalagi ketika orang lain  tampak begitu sempurna dan memiliki banyak  kelebihan, akan makin membuatnya tenggelam.  “Mengapa orang lain memiliki begitu banyak  kelebihan, sedang aku tak memiliki apa-apa  kecuali kekurangan? Mengapa aku jelek, sedang  orang lain cantik? Mengapa orang lain berhasil,  sedang aku selalu gagal?, serta seribu  “mengapa” lainnya yang akan membuat kecewa,  terluka, dan terpaku pada kekurangan-kekurangan yang dimilikinya. Dik Dinda yang baik,

Yakinlah Allah tidak mungkin menciptakan  makhluk-Nya dengan sia-sia. Allah pasti  membekali kita dengan kelebihan. Menjadikan  setiap insan memiliki keistimewaan. Cobalah  melihat ke dalam diri kita, keistimewaan yang  kita miliki yang bisa jadi selama ini belum kita  sadari, atau mungkin belum muncul karena  terkubur oleh rasa kurang berarti dan bermakna.  Bersyukurlah kepada Allah SWT atas kenikmatan  yang Allah berikan, sekecil apapun itu. InsyaAllah  jika kita senantiasa bersyukur niscahya Allah  akan menambah kenikmatan pada kita.  Dik Dinda yang baik,    Pernahkah kita berpikir, betapa kasihan  “makhluk kecil” di dalam sana. Sesosok “DIRI”   yang disadari atau tidak , dibenci oleh dirinya  sendiri. Mungkin jasad sang diri tidak cantik.

Mungkin pribadi sang diri tidaklah  menyenangkan. Mungkin perjalanan hidup sang  diri cukup menyebalkan. Namun, sang diri tetap  membutuhkan cinta agar dengannya dia  tumbuh dan berkembang ke arah kebaikan.  Berapa banyak cerita tentang seseorang yang  berubah menjadi lebih baik karena merasa  dicintai? Berapa banyak orang yang termotivasi  karena dicintai? Berapa banyak orang yang ingin  diterima apa adanya? Dicintai setulusnya?…dan  cinta itu, at very first, hanya pemilik dirilah yang  harus memberikannya. Jika bukan engkau, siapa  lagi?

Engkau yang paling mengerti dirimu sendiri.  Engkaulah yang paling layak, paling berhak dan  paling berwenang mencintai dirimu.  Dik Dinda yang baik,   Cintailah dirimu sendiri. Beri penghargaan.  Beri pujian untuk keistimewaan-keistimewaan  dalam dirimu sendiri. Terimalah dirimu apa  adanya. Cintai ia. Sungguh, cinta itu akan  menjadi kekuatan besar untuk membangun  dirimu. Jika tak ada yang mencintaimu kini, bisa  jadi itu karena engkau pun bahkan tak mencintai  dirimu sendiri. Oleh karena itu, cintailah dirimu  sendiri karena dari sana engkau akan bisa  mencintai dan dicintai orang lain.[]

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 49