Antara Aku, Mama & Om Fahmi

By: Maya Dewi

 

drise-online.com – “Om bukan siapa-siapa bagiku, om gak berhak mengatur hidupku!” teriakku kepada lelaki paruh baya di hadapanku. Kubalikkan badan dan segera berlari memasuki kamar, dengan kesal kubanting pintu kamarku, braaaakkk… Dari dalam kamar, lamat-lamat kudengar suara tangisan mama diselingi suara Om Fahmi yang menenangkannya.

Aarrgh…kehadiran laki-laki itu telah membalikkan duniaku! Gara-gara dia hubunganku dengan mama jadi dingin, gara-gara dia hubunganku dengan teman-teman satu gank jadi merenggang. Dan gara-gara lelaki brengsek itu juga malam ini aku gak jadi ber-malam tahun baru-an di vila milik papanya Rani.

Dari dulu aku tidak akrab dengan adik kembar papa itu. Ya, meskipun kembar mereka berbeda 180 derajat. Papa orangnya enerjik, punya selera hidup yang tinggi dan juga bankir yang sukses. Sedangkan Om Fahmi hanya seorang peternak sapi dan domba, orangnya pendiam, dan soal selera? huh…ndeso! Aku nggak rela kedudukan papa digantikan orang seperti dia, pokoknya nggak rela!!! Bukk…bukk…bukk, kulampiaskan kekesalanku pada guling dan bantal di kasur.

***

“Vin…” Suara lembut mama membangunkanku, dengan malas kubuka mataku, “Udah pagi ya, ma?”, “Sholat Subuh dulu, yuk! Nanti boleh tidur lagi kalau masih ngantuk.”, aku langsung terduduk, kulirik jam weker di meja belajar masih menunjukkan pukul 5 pagi, “Ah…kepagian! ntar deh setengah jam lagi.” mama menahan tubuhku yang hendak rebahan lagi, “Sayang, sholatlah dulu…”, “Huuh…ya udah, deh.” Sahutku sambil ngeloyor ke kamar mandi.

Selepas sholat kudengar suara mama dan Om Fahmi sedang tilawah Al-Qur’an, hmm…lantunan suara Om merdu juga. Duuh…kok tiba-tiba aku semakin respek sama dia? Wah, ga boleh ini…kalo keterusan ntar aku jadi seperti mama, disihir sama Om jadi karung beras…hiii! Ya iyalah, gimana kagak? Mama yang dulu modis dan sering bergaya ala hijabers, sekarang pakainya gamis yang dia bilang jilbab… udah gitu kerudungnya lebar lagi! Huuh…cupu, gak oke sama sekali! Aku jadi males dijemput mama tiap pulang sekolah seperti dulu , meski sekarang ada Honda Jazz. Daripada jadi bahan cemoohan teman-temanku, mending nebeng Cindy naik Honda Vario, hehehe.

Pelan-pelan aku menyelinap keluar rumah, sambil menenteng sepatu kets aku berniat kabur ke taman kota, janji ketemuan dengan Nico yang kupacari sejak seminggu yang lalu. Kalo sampe Om tau aku punya pacar, wah…bisa kiamat deh! Bodo’ ah, lagian siapa juga yang minta pendapatnya. Aku mau menebus kekesalanku dengan bersenang-senang sama Nico pagi ini, hihihi…

Pagi itu taman kota terasa sepi, tidak seramai biasanya. Mungkin karena libur panjang, sehingga banyak warga yang memilih keluar kota atau mudik ke kampung halaman. Nico mengajakku duduk di sudut taman dekat lapangan tenis. Sejenak kami berbincang ramai, dia cukup kocak sehingga aku bisa tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba…Plakk!!! Tanganku reflek meluncur ke pipinya berbarengan dengan tangannya yang menjamahku, Nico terkejut, akupun begitu. “Vina! Berani-beraninya kamu?” Dia tampak geram. Aku mundur selangkah, “Ke…kenapa kamu menyentuhku?”Suaraku parau, antara kaget dan takut menyatu di dadaku. Dia mendekat mengulurkan tangannya padaku,

“Masak gitu aja gak boleh? Aku kan cowokmu…”

“Tapi bukan berarti kamu boleh menyentuhku…”

“Jangan sok suci, deh… ” Tatapan Nico seakan menelanjangiku

“Aku bukan cewek gampangan.” Sahutku ketus

“Hahaha…dengan pakaian seperti itu? Siapa yang akan percaya? Meski sekarang kau berkerudung, kau masih Vina yang dulu, Vina yang seksi. Aku masih terbayang bagaimana penampilanmu dengan hotpant hitammu, juga saat kamu ikut kontes cheerleaders tahun lalu…”

Mataku nanar, aku jadi tau kenapa dia gak suka melihatku dengan kerudung terjuntai menutupi dada. “Astaghfirullah…” Bisikku spontan

“Mulai ketularan papa tirimu?” Ejeknya saat mendengar bisikanku, Nico maju selangkah demi selangkah. Sedangkan aku tak bisa menghindar karena terhalang tembok di lapangan tennis. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil berdzikir, sesuatu yang akrab di telingaku sejak Om Fahmi hadir di kehidupan mama.

Bukkk… sebuah hantaman terdengar seiring teriakan kesakitan Nico. “Vina, lari!” Teriak seorang pemuda, saat kubuka mataku kulihat Azzam tengah memelintir tangan Nico yang terhuyung-huyung kesakitan. I can’t believe it… di belakang Azzam juga ada Nenek yang segera mengajakku pergi dari tempat itu.

********

Azzam, anak Om Fahmi dari almarhumah istrinya. Sejak Om Fahmi menikahi mama, dia tinggal dengan Nenek di pinggiran kota.

“Entah apa yang mendorong Nenek mengajak Azzam ke kota, ternyata firasat wanita tua ini benar.” Tutur Nenek sambil menunggu pesanan bubur ayam kami disajikan. Aku hanya bisa menunduk lesu, sementara Azzam memilih duduk berjauhan dari kami berdua.

“Vina, inilah salah satu yang mendorong Nenek memaksa Om kamu menikahi mama setelah Papa meninggal. Nenek ingin menyelamatkanmu dan Mama. Hidup kalian dahulu sangat jauh dari Islam, nenek berharap Om Fahmi bisa membimbingmu dan mama.”, aku mendongak hendak protes, tapi nenek terlanjur melanjutkan perkataannya,

“Lihat pakaianmu! Renungkan pergaulanmu!” Tegas beliau. Aku yang biasanya ngeyel hanya bisa diam, peristiwa tadi seakan skak mat bagiku. Sebuah buku berjudul “Beyond Inspiration” karya Felix Y. Siauw yang Beliau ulurkan langsung kusimpan dalam tas. Bubur ayam telah tersaji di hadapan kami, nenek berhenti bertutur. Kami pun sibuk menikmati sarapan pagi itu.

Sepanjang perjalanan pulang tidak ada obrolan apapun, sepertinya nenek memberiku waktu merenung. Dan memang benar, saat itu aku benar-benar merenung. Selama ini, hidupku hanya untuk bersenang-senang, hang out, shopping, nge-gank. Kalo ditanya tujuan hidup? Yaa…apalagi kalo bukan untuk menikmati semua yang telah diberikan Papa padaku. Papa memberiku segala kemewahan dan kebebasan menikmati masa muda.

Sholat sekedar penggugur kewajiban, Al-Qur’an hanya untuk bacaan rutin selepas Maghrib, umroh serasa wisata. Hanya itu Islam yang kupahami. Pakaian? Pergaulan? Mana kutahu kalau Islam juga mengaturnya.

Syukurlah Nenek tidak menceritakan kejadian tadi pada Mama dan Om Fahmi. Setelah berbasa-basi, aku mengurung diri di kamar. Siap menyantap PR bacaan dari Nenek. Nenek mencegah Mama yang hendak menyusulku ke kamar.

***

Aku keluar kamar tepat menjelang Dzuhur, Nenek dan Azzam sudah pulang. Om Fahmi sudah siap berangkat ke masjid. Ragu aku menegurnya, “Om…”

“Eh, Vina. Sholat yuk…” Ujarnya sambil tersenyum hangat, aku berdiri mematung. Om Fahmi melihatku dengan menyelidik, “Ada apa?” Tanyanya,

“Om, Apa benar bahwa kehidupan dunia itu ibarat penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir?” Tanyaku mengutip sebuah hadits di buku yang diberikan Nenek tadi pagi.

Om Fahmi mengernyitkan dahi lalu tersenyum, “Ya, itu hadits Rasulullah. Dan itu pasti benar.”,

“Seorang mukmin terikat dengan semua aturan Alloh di dunia, tidak bisa bebas berbuat semaunya karena dia yakin Alloh selalu mengawasi dan membalas semua perbuatannya.” Lanjutnya.

Aku tertegun, “Berarti…, aku…”

“Kamu masih bisa memilih, bersenang-senang dalam sesuatu yang semu dan sementara? Atau bahagia dalam keabadian?” Jlebb…pertanyaan retoris itu serasa menusukku.

Om Fahmi melihat jam dinding, “Sudah ya? Om mau berangkat ke masjid.” Sebelum Beliau berlalu, kuhadang langkahnya. “Om, Om janji pada Nenek untuk membimbingku. Vina ingin berubah, Om…” Ujarku sungguh-sungguh.

“Promise?” Tanyanya dengan mata terbelalak, “I promise!” Teriakku, Kami tertawa berdua. Mulai detik itu, bagiku, Om Fahmi adalah my best friend.[]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36

 

 

 

Menumpas Mitos Write’s Block! Nentuin Judul Tulisan

drise-online.comD’Riser sebagaimana janji di edisi sebelumnya, kali ini, kita mo nerusin jurus ampuh menumpas virus write’s block. Pada dua edisi sebelumnya, kita dah ngebahas tahapan sebelum nulis. Nah, dalam edisi D’Rise kali ini, kita mo ngupas tuntas tahapan saat kita nulis, biar kita nyaman nerusin tulisan, sekaligus agar write’s block gak jadi alasan kita gak merampungkan tulisan.

Secara teori, tahapan saat kita nulis, dimulai dengan: pertama, menentukan judul; kedua, mengawali paragraf; ketiga, pembahasan, and yang terakhir, keempat, adalah kandungan isi.

Dalam menentukan judul, orang bilang gampang-gampang susah. Tapi kalo kita dah biasa nulis, nentuin judul bukan perkara yang sulit, mengalir aja, bisa dirangkai saat kita mulai nulis, saat tulisan dah kelar, atau bahkan saat kita punya ide nulis pun, kita dah bisa bikin judul yang menarik. Malah, sebagian penulis beken, dah mengantongi judul-judul keren sebelum mereka menuliskannya. Mo contoh?

Kang Abik alias Habiburrahman el-Shirazy yang beken melalui novel Ayat-Ayat Cinta ngaku bahwa judul novel religiusnya itu sudah ia kantongi sejak kuliah di Kairo, Mesir, jauh sebelum ia menuliskan naskahnya. Lulusan Universitas al-Azhar, Mesir ini juga bilang bahwa judul novelnya itu sama sekali gak terinspirasi dari judul novel kontroversialnya Salman Rushdie, The Satanic Verses alias Ayat-Ayat Setan. Namun, Kang Abik ngaku bahwa judul tersebut terinspirasi dari ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang cinta.

Kalo kita ngerasa nentuin judul masih jadi kendala, jangan ambil pusing, pending aja dulu sambil kita ngelanjutin tulisan sampe tuntas. Kalo dah kelar, pasti deh, ada something special yang membuat kita pede milih sekaligus nentuin judul yang ngepas dengan tulisan kita. Mo bukti?

Dulu medio taon 2002an, saya ngerasa terganggu dengan euforia anak-anak muda Muslim yang gandrung ama Si Muka Jaring dari Amrik. Saat itu, karakter superhero besutan duo Yahudi, Stanley Lieber Martin dan Steve Ditko itu tengah merajai tangga box office di seantero jagat. Beuh, jagoan rekaan itu bener-bener telah menghipnotis imajinasi anak-anak muda Muslim hingga mereka lupa bahwa sesungguhnya mereka punya para jawara dan jagoan Muslim (yang bener-bener nyata, asli bukan rekaan) yang bisa jadi teladan sekaligus kebanggaan mereka!

Saya pun terinspirasi untuk nulis buku soal bahaya Si Muka Jaring dari pusat Globo Capitalism itu. Bahkan, saat itu saya dah nentuin judulnya, yaitu Membunuh Si Muka Jaring! Namun, karena saat itu saya belum dapat reference yang akurat soal Spider-Man, akhirnya proyek untuk ’membunuh’nya pun terpaksa saya endapkan dulu. Saya baru bener-bener menuliskan proyek ini taon 2007, setelah Si Muka Jaring makin menggurita di Negeri Si Komo ini dengan live action-nya yang ketiga dalam pita seluloid.

Akhirnya, tidak lebih dari tiga pekan, saya berhasil merampungkan satu buku yang (akhirnya) saya beri judul, Aku Ingin Membunuh Spider-Man. Namun, dalam proses penerbitannya, naskah buku ini pun diberi title, Spider-Man I’ll Kill U! oleh pihak penerbit. Alasan pergantian judulnya itu demi mendongkrak sisi komersil buku tersebut, terbukti selama karier kepenulisan saya, buku inilah yang paling sering didiskusikan sekaligus diperdebatkan di banyak forum disbuk dan kepenulisan.

Nah tuh, untuk nentuin judul tulisan itu, kita ga harus buru-buru kan, terpenting kita dah punya ide, tema dan referensi yang cukup maka segeralah menulis. Kalo judulnya dah ada, makin mantep tuh. Kalo pun belum dapet judul, pasti deh abis tulisan dah kelar, judul pun pasti ngikut.

Oya, dalam nentuin judul yang keren sekaligus menarik, kita harus rajin membuka kamus, baik kamus bahasa Indonesia, bahasa daerah ataupun bahasa asing. Di dalam kamus, kita pasti bakal nemuin kosa kata, frase, idiom ataupun istilah yang klop dengan ide ataupun tema tulisan kita. Contoh, dulu saya pernah nulis soal perjuangan seorang pemuda bernama Khairuddin saat pemerintahan Turki Modern memberangus sisa-sisa pendukung kekhalifahan Utsmani. Setelah buka-buka kamus, saya mendapat kosa kata yang menarik untuk judul kisah tadi. Saya pun menuliskan judul Sebait Elegi Khairuddin. Judul tersebut tentu lebih menarik, dibandingkan dengan judul Sepenggal Kisah Sedih Khairuddin, ya?

Selain itu, dalam memilih kata atau kalimat dengan diksi yang bagus untuk judul tulisan kita, selayaknya kita membuka buku-buku antologi puisi para penyair, seperti karya Jalaluddin el-Rumi, Mohammad Iqbal, Kahlil Gibran, termasuk juga Chairil Anwar, Taufiq Ismail, W.S. Rendra, bahkan Sapardi Djoko Damono, etc. Pasti, deh, kita nemuin diksi ato pilihan kata yang wonderfull! Gak percaya? Buktiiin aja sendiri!

So, kalo kita dah mulai nulis, soal judul tulisan jangan jadi kendala kita gak nerusin tulisan. Pokoknya nulis aja dulu, terlepas kita sudah punya judul ataupun belum, sudah ada judul pasti ataupun judul sementara, kita nulis aja terus agar kita gak terserang virus write’s block!

Oke, D’Riser, di edisi berikutnya kita lanjut lagi dengan pembahasan yang lebih seru, soal tahapan berikutnya setelah nentuin judul tulisan, yaitu mengawali paragraf atau istilah kerennya leading…, tentu masih dengan tema besar menumpas mitos write’s block. Cegat di D’Rise berikutnya, ya? ^_^ []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise #36

Resensi Buku :Badai Inspirasi, Menggugah Iman dan Jiwa

drise-online.com – Rubrik recommended atau resesnsi buku kali ini ialah buku kesekian yang ditulis oleh Ustadz muda Abay Abu Hamzah. Buku ini berjudul Badai Inspirasi. Cover buku yang dihiasi petir mini ini akan membadaikan inspirasi ke relung hati pembacanya. Buku yang mengisahkan kejadian sehari-hari dan sederhana namun mampu menggugah jiwa dan sarat makna. Keren!

Kelebihan buku ini yakni memetik hikmah dari perihal yang tadinya dianggap remeh dan sepele. Misalnya; pada bab awal dimuat sebuah kisah orang-orang yang tinggal di tumpukan sampah. Ya, mereka makan bahkan tidur dalam kubangan bau busuk dan anyir. Kok mereka sanggup ya? Jawabnya, karena mereka terbiasa. Awalnya memang enggan dan jijik. Tapi lama kelamaan hidung mereka biasa dan menerima. Abay Abu Hamzah mengupamakan peristiwa ini seperti seseorang yang biasa dalam kemaksiatan. Awalnya hati si pendosa ini merasa gundah, galau dan gelisah akan dosa-dosanya. Namun karena dosa tersebut dilakukan berulang-ulang, terus menerus maka perasaan berdosa tadi pun lenyap. Binasa. Seperti kata pepatah: “ala bisa karena biasa’.

Nah itu baru sepenggal kisah dari Badai Inspirasi yang tersaji di buku ini. Masih ada tersedia belasan momen inspiratif lainnya. Sedikit bocorannya nih, seperti: “Sebab Kita Manusia”, “Membeli Napas”, “Sekolah Numpang Duduk”, “Islamologi” dan masih ada kisah lainnya yang menunggu. Nah penasaran kan? Yups! Buku ini sangat layak mengobati galau dan deritamu. insyaaALLAH akan terbit semangat baru setelah dihantam badai inspirasi yang tertuang apik! Selamat membaca! [Alga Biru]

 

 

profil buku

Judul : Badai Inspirasi

Penulis: Abay Abu Hamzah

Penerbit: Anomali

Harga: Rp. 25.000

Pemesanan: Hotline D’RISE

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36

 

Hei,,, Masbuloh…!

drise-online.com – Masbuloh alias masalah buat lho! Lgi ngetrend dlm obrolan remaja. Klo remaja diingetin trus doi gak suka, keluar deh kalimat ini dengan nada sinis. Trus, masbuloh…. Masalah buat loh!

Ya iyalah masalah. Bukan buat yang ngingetin, tpi bener buat loh yg diingetin. Masbuloh melengkapi kosakata egp alias emang gue pikirin atau urus aja diri lu, gak usah mikirin orang laen. Koleksi kosakata yang nunjukin sikap egois remaja. Gak terima kalo diingetin kelakuannya yg salah. Ogah bin risih kalo diajak ke jalan yang bener. Pengennya orang gak usah peduli urusannya. Maunya orang cuek dengan apa yang dikerjainnya. Doi ngerasa badan badan sendiri, tangan tangan sendiri, kaki kaki sendiri. Ngapain juga orang lain yang repot.

Hey..! Jangan ngerasa geer ya. Klo aja Allah gak perintahkan kita untuk saling mengingatkan dan menasihati, males juga kita negor ente yang egois dan sok jagoan. Inget bro, kemaksiatan yang ente kerjain akibatnya gak cuman ente yang nanggung. Tapi bakal ngerembet ke orang lain. Malah bisa juga menimpa orang-orang dekat yang ente sayangi. Tega bener ente ngorbanin ortu, adek, kakak, atau sohib demi menuhin syahwat bertingkah seenak udel.

Nyadar bro, gak ada untungnya punya sikap egois. Seorang muslim gak pernah diajarin sikap egois. Lantaran egois bakal nutup hati kita dari petunjuk Allah. Hidup kita makin suram dan dijejali banyak masalah. So, hapus deh kosakata masbuloh dan kawan-kawannya dari kamus hidup kita. Biar kita bisa saling mengingatkan dan menguatkan. Jadi, kalo ada yg bilang masbuloh saat diingetin, jawab aja ‘Ya…Masalah buat loh..!!!’ [341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36