Pameran Foto Digital

drise-online.com – Seiring maraknya mobile photography alias fotografi ponsel, sosial media tempat berbagi foto kebanjiran akun. Dari foto momen yang unforgetable hingga aksi selfie berseliweran di sosial media. Tak cukup sekedar teks, upload foto di facebook dan twitter pun nggak pernah ketinggalan. Bahkan sekarang dipermudah cara uploadnya. Biar makin banyak foto yang berbicara di sosial media.

Selain facebook dan twitter yang udah populer di sosial media, ternyata ada juga varietas sosmed yang menghususkan dirinya tempat berbagi foto. Berikut diantaranya:

 

  1. Flickr

Flickr adalah layanan berbagi foto yang lebih dulu muncul, atau bisa dikatakan nenek moyangnya layanan berbagi foto. Sampai saat ini Flickr yang diakuisisi Yahoo! Beberapa tahun yang lalu menjadi layanan berbagi foto paling populer. Hal ini terbukti dari ada lebih dari 4.000 foto yang diunggah tiap menitnya. Menurut PCMag, angka ini naik tajam bila dibandingkan dengan 200 foto per menit yang terjadi sekitar tahun 2005.

Flickr dikembangkan oleh Ludicorp, sebuah perusahaan yang berbasiskan di Vancouver, Kanada yang dibangun pada tahun 2002. Pada tahun 2005, Yahoo! Inc. Mengambil alih Ludicorp dan Flickr. Flickr menjadi tempat asyik berbagi foto di grup dan komunitas. Flickr yang baru saja melakukan penyegaran di situsnya, hingga kini masih terus mengembangkan fitur-fitur di dalamnya. Dalam penyegaran terbaru, beberapa penawaran pengunggahan foto terbaik yang dikeluarkan Flickr pemakaian teknologi HTML 5 dan penambahan batas ukuran file.

 

  1. Instagram

Nama instagram berasal dari pengertian dari keseluruhan fungsi aplikasi ini. Kata “insta” berasal dari kata “instan”, seperti kamera polaroid yang pada masanya lebih dikenal dengan sebutan “fotoinstan”. Instagram juga dapat menampilkan foto-foto secara instan, seperti polaroid di dalam tampilannya. Sedangkan untuk kata “gram” berasal dari kata “telegram”, dimana cara kerja telegram sendiri adalah untuk mengirimkan informasi kepada orang lain dengan cepat. Samahalnya dengan Instagram yang dapat mengunggah foto dengan menggunakan jaringan internet, sehingga informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan cepat. Oleh karena itulah Instagram berasal dari instan-telegram. Pada tanggal 9 April 2012, diumumkan bahwa Instagram akan diambil alih oleh Facebook senilai hampir $1 miliar dalam bentuk tunai dan saham.

Popularitas Instagram makin merajalela lantaran tidak hanya untuk iPhone tapi juga merambah platform Android. Instagram menawarkan belasan filter untuk membuat foto terlihat lebih cantik dan terkesan dramatis. Banyak diminati aktifis selfis.

Pengguna Instagram juga bisa membagikan fotonya di situs-situs favorit seperti Twitter dan Facebook langsung dari layanan Instagram. Namun layanan berbagi foto ciptaan Kevin Systrom itu bukan tanpa kekurangan. Foto yang dihasilkan terlalu kecil dan dikhawatirkan layanan itu nantinya akan dilibas oleh aplikasi foto lain, terutama setelah ia bernaung di bawah kekuasaan Facebook.

 

  1. 500px

500px adalah sebuah komunitas foto yang didukung oleh orang-orang kreatif di seluruh dunia yang memungkinkan Anda menemukan, berbagi, membeli atau menjual foto-foto inspirasi anda.
Versi pertama dari 500px terungkap pada hari-hari awal fotografi digital. Pada saat itu, semuanya sedikit berbeda – Internet masih sangat lambat, kamera 3,2 megapiksel adalah yang terbaik dan 500 piksel adalah ukuran yang baik untuk foto yang ditampilkan pada monitor CRT. Selama bertahun-tahun, platform 500px mengalami sejumlah revisi dan perubahan, tumbuh bersama dengan teknologi dan fotografer, dan menjaga fokus pada foto berkualitas tertinggi.

 

  1. Pinterest

Sosial media berbasis foto yang diluncurkan tahun 2010 ini terus membuntuti popularitas facebook dan twitter. Setiap bulan lebih dari 11 juta pengunjung unik malang melintang di sosial media besutan Ben Silberman dan Paul Sciarra ini. Dengan tampilan yang menarik, layanan berbagi foto di pinterest banyak diminati kaum hawa untuk sekedar narsis hingga jualan. Para penggunanya bebas mengunggah foto atau menemukan foto-foto yang menarik. Pengguna bisa berbagi foto baik melalui unggah langsung atau melalui URL dengan istilahnya ‘Pin’.

Layanan Pinterest ini, mudah sekali menelusuri foto-foto menarik sesuai kategori-kategori yang telah disusun rapi. Pengguna juga bisa membuat kumpulan foto dan kategori sendiri berdasarkan ketertarikannya, yang dikenal dengan istilah ‘Board’. Layanan sosial medianya juga sangat terasa, dengan pertemanan yang berupa ikut atau mengikuti.

Driser, membanjirnya sosial media yang jadi andalan tempat berbagi foto jangan sampe melenakan kita. Tetap jadikan sosmed buat ajang mencari ilmu, pahala, dan fulus. Gak penting unggah foto-foto selfis yang mengumbar aurat. Mending ungguh gambar inspiratif bermuatan dakwah dan foto produk. Yuk, konversi setiap waktu kita di sosial media menjadi ladang pahala. Go! [341]

di Muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #37

Majalah Drise edisi 37 : Woles Aja Cuy!! Ketika Pelajar Nakal Jadi Brutal

Bak…! Buk..! Bak..! Buk..!… Adu jotos itu bukan terjadi di atas ring tinju atau antar pemain sepakbola di lapangan rumput. Tapi di halaman kampus. Malah terkadang di jalan raya, di depan gerbang sekolah, di pusat perbelanjaan, atau di tengah keramaian kota.

Swiiing! Pletak!… Lemparan batu itu bukan berasal dari para calon jemaah haji yang sedang latihan melempar jumroh. Juga bukan dari para pejuang intifadah di Palestina. Tapi berasal dari tangan-tangan pelajar dan kaum intelektual yang seharusnya memoles kreatifitasnya agar menghasilkan karya yang bermanfaat bagi umat.

Tes..! Tes..! Tes..! Tetesan darah itu bukan darah mujahid Irak atau Afghanistan. Bukan juga darah seorang Ibu yang berjuang mempertaruhkan hidup demi melahirkan buah hatinya. Tetesan darah itu milik pelajar yang tengah ‘berjuang’ meregang nyawa di medan tawuran demi solidaritas, gengsi, atau predikat seorang jagoan yang ditakuti dan akhirnya disegani.

Serbuu..! Teriakan lantang itu bukan suara panglima perang kemerdekaan. Tapi berasal dari seorang ‘pentolan’ yang ngasih komando kepada para ‘prajurit putih abu-abu’ untuk memulai ‘perang kolosal’. Siapa yang dapat melukai lawan, dia hebat. Siapa yang dapat menjatuhkan lawan, dia pahlawan. Dan siapa yang kurang persiapan, bersiaplah jadi korban… itulah fenomena tawuran.

‘Metamorfosis’ Pelajar Nakal

Perlahan namun pasti, kenakalan remaja mengalami metamorfosis. Presis kaya ulat yang berubah bentuk menjadi kupu-kupu cantik. Bedanya, metamorfosis pelajar berubah dari sekedar nakal menjadi perilaku brutal bahkan sudah termasuk tindakan kriminal. Ngeri!

Kalo anak cowok berantem satu lawan satu pake tangan kosong, itu wajar bin normal. Ekspresi kekesalan. Tapi kalo beraninya keroyokan. Musuhnya satu orang tanpa sejata, dilawan puluhan orang bersenjata lengkap itu udah brutal. Lihat saja, sekarang amunisi tawuran sudah makin canggih bin modern. Mulai dari gear sepeda yang diikat pada sabuk, hingga pecut ujung pari yang beracun. Belum lagi senjata tajam seperti pedang samurai, katana, badik, clurit, klewang, hingga gergaji. Sadis!

Walhasil, korban tawuran pun berjatuhan. Tak cuman luka lebam yang menghiasi wajah, tapi sudah level berlumuran darah. Nasib tragis dialami Ade Sudrajat (16), siswa kelas 1 SMK Wiyata Kharisma, yang tewas dengan celurit yang masih menancap di kepalanya. Bersama teman-temannya, almarhum terlibat tawuran dengan pelajar SMK lainnya di Jalan Raya Kemang-Bogor, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Rabu (12/2/2014). (news.detik.com, 12/02/14)

Kalo cuman ngelempar batu ke bis yang ditumpangi sekolah lain mungkin masih kategori nakal. Tapi klo udah pake aksi melempar bom molotov saat tawuran, itu udah brutal. Apalagi trennya sekarang, ‘tentara’ pelajar itu  pake air keras untuk melumpuhkan musuhnya. Ini sih udah tindakan kriminal.

Dalam sebulan di akhir tahun 2013, terjadi 4 kali penyiraman air keras yang memakan korban. Diantaranya terjadi dalam kasus pertikaian antar pelajar alias tawuran. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, penyiraman air keras oleh pelajar merupakan fenomena baru dalam pertikaian antarpelajar. Ia mengatakan, dahulu para pelajar menggunakan ikat pinggang dalam tawuran. “Bekal” tawuran itu berganti dengan benda-benda tajam, seperti samurai. Kini, pelajar beralih menggunakan air keras. (Kompas.Com, 14/10/13).

Kalo cuman dibully olek kakak kelas bisa jadi masih kategori nakal. Tapi kalo aksi bully-nya udah pake kontak fisik sampe memakan korban jiwa, itu sudah jadi tindakan kriminal bro! Seperti yang dialami Dimas Dikita Handoko, mahasiswa semester satu Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, yang tewas setelah dianiaya tiga mahasiswa seniornya. Selain Dimas, enam temannya juga jadi korban penganiayaan sehingga mengalami luka yang parah. Adapun motif penganiayaan karena para korban dipandang tidak respek terhadap para senior. Ketujuh korban dipanggil ke kos para pelaku, kemudian dianiaya di sana dengan cara dipukul di bagian perut, dada hingga ulu hati. (Kompas.Com, 26/04/14).

Kalo cuman cemburu buta lantaran karena cinta, masih wajar menimpa remaja. Tapi klo berujung dengan kehilangan nyawa, kriminalitas ceritanya. Seperti yang menimpa Ade Sara Angelina Suroto,  mahasiswa Universitas Bunda Mulia itu. Ade jadi korban penculikan mantan pacarnya, Ahmad Imam al Hafitd bersama kekasihnya Assyifa Ramadhani.

Niat awalnya, Hafitd hanya ingin menculik Ade Sara lantaran kesal doi nggak mau berhubungan lagi dengannya. Namun selama aksi penculikan, korban mengalami penganiayaan. Dikelikitik pake kabel listrik hingga Ade tak berkutik. Karena panik, mereka membuang jenazah Ade Sara ke pinggir tol Bekasi. (Kompas.Com, 17/03/14)

Driser, kenakalan remaja khususnya pelajar kian hari kian mencemaskan. Perilaku nakalnya berubah jadi brutal dan cenderung kriminal. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat hingga 2014 ini ada 229 kasus tawuran, 19 siswa meninggal dunia (tewas) sia-sia. “Karena itu, tahun ini merupakan tahun darurat terhadap kekerasan anak,” ujar Ketua Umum Komnas Anak,  Arist Merdeka Sirait. (Beritakaltara.com, 19/01/14). Karakter pelajar yang intelek seolah hilang ditelannya budaya tawuran turun temurun. Yang keliatan di dalam kelas selama kegiatan belajar mengajar seperti para preman berseragam sekolah. Inikah salah satu produk pendidikan nasional kita?

 

Ngapain Tawuran?

Kenakalan pelajar seperti tawuran atau bullying yang jadi brutal sudah pasti merugikan banyak pihak. Mulai dari pihak keluarga yang kehilangan anaknya yang menjadi korban tawuran. Rusaknya fasilitas umum atau sarana sekolah yang sering jadi sasaran amuk masa tawuran. Hingga terganggunya proses belajar di sekolah. Kita jadi penasaran. Apa sih yang memancing para aktivis tawuran untuk menekuni ‘profesinya’?

Pertama, solidaritas. Rasa setia kawan yang tinggi biasanya paling sering memicu tawuran. Nggak bisa terima kalo temennya ‘dikerjain’ ama pelajar lain. Baru denger kabar burungnya aja, emosi udah naik ke ubun-ubun. Langsung dibentuk panitia kerja yang mengumpulkan konco-konco aktivis tawuran. Lalu mempersiapkan berbagai amunisi. Dan akhirnya menentukan waktu penyerangan. Persis kaya mau perang beneran.

Kedua, prestise. Ajang tawuran udah menjadi media unjuk kekuatan untuk dapet pengakuan dari lawan. Kalo ada yang berani ngejelek-jelekin nama sekolah atau mencemari nama baik komunitas, ditantang duel fisik bareng-bareng. Sebagai pembuktian, siapa yang berhasil membuat lawan kocar-kacir, dialah pemenangnya dan lawan tanding mesti tunduk dihadapannya.

Ketiga, warisan turun-temurun. Bagi para pelajar junior biasanya dapet warisan dari kakak kelasnya berupa informasi seputar dunia tawuran. Siapa musuh bebuyutannya, dimana tempat-tempat nongkrong lawan, sampe tip en trik kalo ada serangan tiba-tiba dari lawan. Juniornya selalu dipanas-panasin oleh kisah perseteruaannya di masa lalu dengan pihak lawan. Pokoknya, hubungan dengan musuh bebuyutan mereka itu cuman satu yang dibolehkan, perang!

Keempat, lingkungan. Selama ini, kekerasan bukan perilaku aneh di lingkungan kita. Saban hari, kita dicekokin informasi seputar tindak kekerasan. Mulai dari bentrok fisik antara warga miskin yang terkena gusuran dengan satpol PP, kericuhan antar mahasiswa dan aparat saat berunjuk rasa, hingga  adu jotos pun sering ditunjukkan oleh anggota dewan legislatif pusat maupun daerah. Belum lagi tontonan bullying yang dikemas dalam konflik sinetron remaja, makin menanamkan dalam benak pemirsa remaja akan kekerasan sebagai cara untuk memecahkan persoalan. Walhasil, emosi kawula muda gampang tersulut dan otaknya jarang dipake buat pecahin masalah. Bawaannya pengen ribut mulu!

Driser, dari budaya tawuran cuman satu yang kita dapatkan, korban. Yaps, baik korban secara fisik maupun perasaan. Kalo kita terluka atau malah meregang nyawa, hanya kesedihan keluarga yang kita peroleh. Predikat jagoan atau gelar pahlawan dari komunitas nggak bisa mengobati kesedihan keluarga. Perasaan bersalah karena telah melukai/membunuh pun akan terus menghantui. Hidup kita jadi nggak nyaman. Selalu dibayangi oleh perasaan takut kalo-kalo ada musuh yang membalas. Kita sering berprasangka buruk ama orang lain. Nah lho, emang asyik hidup paranoid? Nggak banget..!

 

Buah Pendidikan Sekular

Kita nggak bisa nutup mata kalo sistem pendidikan yang berjalan saat ini adalah sistem pendidikan yang sekular-materialistik. Semua bagian dari sistem pendidikan, steril dari nilai-nilai ruhiyah yang berkaitan dengan aturan agama. Mulai dari penyusunan kurikulum, mata pelajaran, kualifikasi pengajar, hingga pola pergaulan antar pelajar. Sistem pendidikan yang memisahkan aturan agama dari kehidupan ini mandul dalam melahirkan pelajar shaleh sekaligus melek sains dan teknologi.

Pentingnya pendidikan agama bagi pelajar pun cuman diganjar dua jam pelajaran dalam satu minggu. Itu pun kalo gurunya masuk. Giliran berhalangan, cuman ngerjain tugas dan waktu bebas. Cihuuy…!

Materi pendidikan agama yang lebih banyak membahas tentang ibadah ritual, makin menjauhkan pelajar dari peran agama sebagai solusi masalah kehidupannya. Itupun sekedar transfer ilmu pengetahuan tanpa mampu membentuk (transform) katakter anak didik. Aturan Islam dipake cuman untuk sholat, puasa, berzakat, dan pernikahan plus waris. Diluar itu, pelajar buta agama dan pake cara apa aja yang penting masalahnya selesai. Salah satunya dalam menghadapi masalah dengan sesama pelajar. Baik temen satu gedung sekolah atau dari sekolah lain. Seolah solusinya cuman satu, tawuran!

Pendidikan sekuler materialis tak mampu membendung pengaruh lingkungan dan media yang mendidik pelajar untuk mengandalkan otot daripada otak untuk beresin masalah. Jiwa pelajar rapuh. Akidah yang sejatinya bisa jadi benteng terakhir yang mengendalikan jiwa muda pelajar saat hadapi masalah, hilang ditelan budaya pemissif. Sekolah pun tak peduli dengan keberadaan nilai akidah anak didiknya. Tak ada upaya untuk mengingatkan, apalagi menguatkan.

Walhasil, para pelajar nggak punya pegangan akidah yang kuat buat menilai benar atau salah perilaku kesehariannya. Yang ada di otaknya, cuman nilai materi dan kesenangan dunia. Cara apapun bakal dipake untuk meraihnya. Hawa nafsu pun dijadikan Tuhan untuk menuntunnya beresin masalah. Hingga tega menumpahkan darah sesama pelajar dengan cara sadis tanpa perikemanusiaan dan perikehewanan. Tingkahnya udah kaya zombie. Iih ngeri!

 

Solusi Tuntas Atasi Tawuran

Secara jelas dan pasti Islam menjadikan tujuan pendidikan adalah melahirkan “Kepribadian Islam”. Anak didiknya punya modal kuat untuk hadapi setiap masalah. Apapun masalahnya, kacamata Islam dipake untuk beresin masalah. Jadi nggak sembarang comot solusi. Kepribadian Islam ini dibentuk dari sistem pendidikan yang nggak cuman “Transfer of Knowledge”. Tapi juga dibarengi dengan “Transform of character”. Materi pelajaran diarahkan agar menumbuhkan pola fikir dan tingkah laku terpuji yang dibangun dari aqidah islam.

Kalo ngeliat alasan dibalik lestarinya budaya tawuran, semuanya bisa dipangkas dengan konsep pendidikan Islam. Kuatnya akidah yang tertanam dalam diri pelajar akan membentengi mereka dari bisikan setan untuk ikut tawuran. Konsep pendidikan Islam ini nggak akan nongol ke permukaan selama negara kita masih betah pake demokrasi sekuler kapitalis buat ngatur rakyatnya. Dalam sekulerisme, agama dianggap kagak penting. Dalam kapitalisme, pendidikan dianggap penting kalo menghasilkan uang, bukan kepribadian. Nggak peduli lulusannya mau jadi apa, yang penting SPP-nya lancar.

Selain itu, kudu ada tindakan tegas setiap kali ada tawuran. Kalo cuma penjara mah enteng banget. Pelaku nggak bakal kapok, dan pasti berencana bales dendam. Soalnya nggak ada hukuman yang bikin takut pelakunya. Tawuran pun bakal berulang. Jangan cuma sanksi akademik dikeluarin dari sekolah atau nggak boleh ikut ujian. Tapi juga mesti dibarengi dengan sanksi hukum. Biar kapok tujuh turunan. Satu-satunya hukum yang adil adalah hukum Islam dalam bingkai negara Islam. Dalam Islam pelaku tawuran bakal kena hukuman berat. Kalo ada darah berceceran, maka pelakunya kena qishash atau diyat. Satu jari tangan aja dihargai denda 10 ekor unta atau sekitar 110 juta rupiah. Kalo sampai kehilangan nyawa maka 100 ekor unta atau sekitar 1,1 Miliar rupiah kudu dibayar, atau keluarga korban menuntut hukuman mati. Nah lho, pikir lagi deh!

Semua solusi di atas bakal terjadi kalo negara mau terapkan syariah Islam sebagai dasar negara dalam bingkai pemerintahan Islam, khilafah Islamiyah. Dijamin aman bray..!

 

Woles aja Cuy!

Driser, nggak mudah untuk memutuskan mata rantai budaya tawuran. Tapi bukan berarti mustahil. Yang diperlukan hanya kerjasama semua pihak untuk memangkas pemicu pelajar terjun ke dunia tawuran. Baik pemerintah, masyarakat, keluarga, sekolah, dan tentunya pelajar itu sendiri.

Pemerintah berperan untuk meminimalkan informasi tentang kekerasan yang mendominasi pemberitaan media massa. Akan lebih baik jika media masssa pun tidak berlepas tangan dengan berita kekerasan yang jadi andalan mereka. Tetap kedepankan faktor edukasi agar masyarakat paham kalo cara kekerasan bukan satu-satunya jalan memecahkan persoalan. Peran pihak sekolah/kampus tidak kalah pentingnya. Pola pendidikan yang tak sekedar transfer ilmu tapi juga transform (membentuk) kepribadian, akan membantu pelajar untuk pake otaknya dibanding ototnya dalam menghadapi masalah. Idealnya, pemerintah pake aturan Islam untuk ngatur rakyatnya.

Dan ujung tombak yang sangat diharapkan bisa memutus rantai budaya tawuran, adalah kita sendiri selaku pelajar. Ini tipsnya:

Pertama, jangan umbar emosi kita. Meskipun kita jago bela diri atau badan kita macho, bukan berarti kudu selalu mengumbar emosi. Justru kalo kita mudah mengumbar emosi, tandanya kita kalah oleh hawa nafsu sebelum bertanding layaknya seorang pecundang. Kalo kita bukan seorang pecundang, hadapi setiap persoalan dengan kepala dan hati dingin. Rasul saw bersabda: “Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskan pelampiasannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya.” (HR. Abu Dawud – At-Tirmidzi)

Kedua, tabayyun alias cek en ricek berita. Berita burung tak selamanya gosip, berita dari seorang kawan terpercaya pun tak selamanya dijamin benar. Nggak ada ruginya kita biasakan untuk ngecek berita yang sampe ke kita. Terutama berita yang bisa memancing adrenalin. Biar persoalannya jelas dan nyari solusinya juga lebih pas. Allah swt berfirman: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujuran [49]: 6)

Ketiga, maafkan dan lupakan. Kalo ada temen kita dari luar jurusan, fakultas, atau lain sekolah dan kampus, yang berbuat salah sebaiknya dimaafkan dan dilupakan. Nggak usah diungkit-ungkit apalagi diceritain ama temen sambil dikasih bumbu panas pemancing emosi. Asli, nggak bagus kok punya dendam kesumat. Selain nambah beban dan pikiran, dendam kesumat cuman jadi bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan diri kita. Menjadi seorang pemaaf nggak bikin reputasi kita hancur. Justru kita menjadi lebih manusiawi dalam menghadapi persoalan. Karena setiap orang tak luput dari kesalahan. Dan kesalahaan terbesar adalah ketika kita tak mau memaafkan kesalahan orang lain. Catet tuh!

Driser, ayo kita ingatkan diri kita dan teman-teman kita untuk berhenti dari rutinitas tawuran. Tawuran nggak bikin diri kita mulia dihadapan manusia, apalagi dihadapan Allah swt. Yang ada, justru diri kita jadi terhina karena dikalahkan oleh hawa nafsu. Tawuran juga nggak bikin persoalan tuntas. Yang ada, tambah runyam.

So, daripada sibuk mikirin aksi balas dendam lebih baik salurkan gelora jiwa muda kita ke arah positif. Seperti dengan aktif mengenal Islam lebih dalam. Selain bisa membentengi diri dari godaan hawa nafsu, dengan mengaji juga membuat peran kita sebagai generasi harapan umat lebih maksimal. Ayo, tinggalkan tawuran dan aktif di pengajian! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam D’rise Edisi #37

Derap Rantai

Episode 7

drise-online.com – “Kalau begitu siapa dulu yang akan kita datangi? Yang kurus, atau yang gemuk?” Tanya Jabal. Pandangan matanya terulur kepada pedagang kain bertubuh kurus dan berwajah penuh kutil di seberangnya. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke sisi lain, kepada seorang pedagang kain bertubuh gemuk yang juga berwajah penuh kutil. Dia mengamati dua pedagang kain berwajah kutil itu, salah satu di antaranya, diduga kuat, adalah Aswad bin Asadi, orang penting di dalam misi mereka yang harus mereka temui.

“Kita tidak tahu, yang mana yang bernama Aswad,” kata Mutsana.

“Kalau begitu kita cari tahu dulu,” tatapan mata Jabal segera bergerak ke berbagai arah, dia sedang mencari-cari sesuatu, atau seseorang.

Di mana-mana terlihat prajurit Persia yang sedang berjaga-jaga. Keadaan itu membuat gerak mereka semakin terbatas. Mata Jabal menangkap seorang anak laki-laki yang sedang mendekati mereka. Anak laki-laki itu berpakaian kumal, kulitnya kotor dan tidak beralaskaki. Ketika anak laki-laki itu lewat di depan mereka, Jabal langsung mendekatinya. Dia tunjukkan lagi kefasihannya berbahasa Persia.

“Pedagang kain bernama Aswad bin Asadi yang mana orangnya?”

Tanpa bicara apa-apa, anak itu segera menunjuk kepada pedagang kain berwajah kutil yang gemuk, kemudian melarikan diri begitu saja sementara Jabal dan Mutsana tidak sempat menangkapnya.

“Yah, setidaknya kita sudah tahu yang mana Aswad,” kata Mutsana. “Ayo kita ke sana!”

Mereka melangkah menembus kerumunan, mendekati pria berwajah kutil yang gemuk. Orang-orang terlihat sedang ramai tawar menawar harga, Mutsana dan Jabal makin merapat. Mereka mengitari lapak-lapak dan lemari-lemari kain untuk terus merapat kepada pria yang diduga Aswad bin Asadi sementara kerumunan sedang memenuhi tempat itu.

“Tuan bernama Aswad bin Asadi?” Tanya Jabal ketika dia dan rekannya telah berdiri di dekat lelaki gemuk berwajah kutilan itu.

“Siapa kalian?” Pedagang kain itu menoleh kepada Jabal dengan tatapan mata penuh tanya dan wajah masam. Dia terlihat kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jabal. Raut wajah yang masam ditambah kutil yang bertaburan membuat wajah lelaki itu semakin tidak enak dilihat. “Apa yang kalian inginkan dari Aswad?”

“Jawab saja pertanyaanku, kau Aswad atau bukan?”

“Heh, kalian pasti temannya Aswad,” lelaki kutilan itu berkacak pinggang sambil memamerkan seringainya.

“Masya Allah, anak kecil tadi menipu kita,” bisik Jabal.

Mutsana dan Jabal terperangah, mereka tak menyangka apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa yang terjadi kemudian membuat mereka terkejut alang-kepalang.

“TANGKAP MEREKAAAA…!!!” Pedagang kain kutilan itu tiba-tiba berteriak sambil menunjuk lurus kepada Mutsana dan Jabal. “TANGKAP MEREKAAAA… MEREKA PENYUSUP… TANGKAP ORANG ISLAM ITUUUU… PRAJURIT TANGKAP MEREKAAAA…!”

Pasar Ubullah geger. Huru-hara pecah di tengah-tengah kawasan pedagang kain. Mutsana dan Jabal segera melarikan diri tanpa buang-buang waktu, mereka membelah kerumunan itu. Dua orang prajurit bersenjata tombak dan perisai menghadang di depan mereka, Mutsana dan Jabal menghantamkan tinju ke wajah kedua prajurit Persia itu yang segera terjengkang di dasar pasar.

Mutsana dan Jabal terus melarikan diri. Mereka berbelok di sebuah tikungan, sudah ada seseorang yang sedang mereka tuju, lelaki berwajah kutil yang kurus. Mereka sedang menuju lapak pedagang kain berwajah kutil yang kurus sementara prajurit-prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Kalau lelaki gemuk berwajah kutil bukanlah Aswad, berarti lelaki kurus berwajah kutil adalah Aswad. Mereka berencana melarikan lelaki itu.

Sayangnya, ketika mereka telah mendekati tempat yang mereka tuju, mereka tidak menemukan pria kurus berwajah kutil itu. Prajurit-prajurit Persia yang mengejar mereka semakin dekat, orang-orang di sekitar mereka terheran-heran dengan apa yang sedang terjadi.

“TANGKAP MEREKAAAA… TANGKAP ORANG ITUUU…” Para prajurit memekik kencang.

Karena teriakan itu orang-orang jadi turut bernafsu untuk menangkap Mutsana dan Jabal, pemerintah Kekaisaran Persia memang sering kali memberikan berbagai hadiah bagi orang yang berjasa menangkap penjahat. Hal itu membuat mereka tidak sempat mencari pria kurus berkutil itu. Mereka segera melarikan diri, keadaan benar-benar mendesak.

Derap kaki Mutsana dan Jabal menjejak tanah dengan cepat. Mereka berlari beriringan, kadang saling susul-menyusul. Sementara orang-orang dan para prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Terjadilah kejar-kejaran yang menegangkan.

Mereka tahu persis kalau mereka sampai tertangkap, pastilah mereka akan segera dieksekusi karena dicurigai sebagai mata-mata. Semenjak Kekaisaran Persia merasa terancam dengan munculnya Khilafah Islamiyah, nasib orang yang dicurigai sebagai mata-mata tidak pernah baik, mereka pasti akan segera dieksekusi setelah ditangkap, bahkan tanpa bukti dan tanpa proses peradilan.

Jabal dan Mutsana berlari sekencang-kencangnya, melintasi lapak-lapak dan kios-kios. Mereka sengaja melewati gang-gang sempit di antara bangunan-bangunan agar para pengejar itu kesulitan menangkap mereka. Napas mereka menderu, mereka mulai kehabisan energi. Semakin waktu berlalu, semakin banyak yang mengejar mereka, kalau mereka hanya berlari, cepat atau lambat, mereka pasti akan tertangkap. Di antara deru napas yang terengah-engah itu, Mutsana dan Jabal masih terus membisikkan kalimatullah. Tiadalah perlindungan yang paling kuat dan paling baik, kecuali yang diberikan oleh Allah sang penguasa semesta. Hati mereka memanjatkan doa agar mereka diselamatkan dari orang-orang kafir.

Tiba-tiba Jabal melihat sesuatu tak jauh di depannya, atau lebih tepatnya melihat “seseorang”. Sekelebat saja, dia melihat seorang pria bertubuh kurus dan berwajah kutilan. Lelaki itu berdiri di depan mulut sebuah gang sambil memerhatikan mereka. Kemudian dengan tatapan penuh makna, lelaki itu melambaikan tangannya kepada mereka, seolah-olah memerintahkan mereka agar mengikutinya. Sedetik kemudian lelaki itu telah menghilang ke dalam gang.

Tanpa pikir panjang, Mutsana dan Jabal mengikuti lelaki kutilan itu memasuki gang. Mereka terperangah, ternyata gang itu buntu. Di kiri-kanan gang itu hanya ada tembikar-tembikar dan keramik-keramik tanah liat dalam berbagai ukuran. Pria kurus berwajah kutil itu menghilang begitu saja. Harapan mereka telah pupus, hampir bisa dipastikan mereka tertangkap. Jabal berbalik ke arah mulut gang itu untuk melihat keadaan. Para pengejar itu sudah dekat…

Bersambung

Follow

Episode 7

“Kalau begitu siapa dulu yang akan kita datangi? Yang kurus, atau yang gemuk?” Tanya Jabal. Pandangan matanya terulur kepada pedagang kain bertubuh kurus dan berwajah penuh kutil di seberangnya. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke sisi lain, kepada seorang pedagang kain bertubuh gemuk yang juga berwajah penuh kutil. Dia mengamati dua pedagang kain berwajah kutil itu, salah satu di antaranya, diduga kuat, adalah Aswad bin Asadi, orang penting di dalam misi mereka yang harus mereka temui.

“Kita tidak tahu, yang mana yang bernama Aswad,” kata Mutsana.

“Kalau begitu kita cari tahu dulu,” tatapan mata Jabal segera bergerak ke berbagai arah, dia sedang mencari-cari sesuatu, atau seseorang.

Di mana-mana terlihat prajurit Persia yang sedang berjaga-jaga. Keadaan itu membuat gerak mereka semakin terbatas. Mata Jabal menangkap seorang anak laki-laki yang sedang mendekati mereka. Anak laki-laki itu berpakaian kumal, kulitnya kotor dan tidak beralaskaki. Ketika anak laki-laki itu lewat di depan mereka, Jabal langsung mendekatinya. Dia tunjukkan lagi kefasihannya berbahasa Persia.

“Pedagang kain bernama Aswad bin Asadi yang mana orangnya?”

Tanpa bicara apa-apa, anak itu segera menunjuk kepada pedagang kain berwajah kutil yang gemuk, kemudian melarikan diri begitu saja sementara Jabal dan Mutsana tidak sempat menangkapnya.

“Yah, setidaknya kita sudah tahu yang mana Aswad,” kata Mutsana. “Ayo kita ke sana!”

Mereka melangkah menembus kerumunan, mendekati pria berwajah kutil yang gemuk. Orang-orang terlihat sedang ramai tawar menawar harga, Mutsana dan Jabal makin merapat. Mereka mengitari lapak-lapak dan lemari-lemari kain untuk terus merapat kepada pria yang diduga Aswad bin Asadi sementara kerumunan sedang memenuhi tempat itu.

“Tuan bernama Aswad bin Asadi?” Tanya Jabal ketika dia dan rekannya telah berdiri di dekat lelaki gemuk berwajah kutilan itu.

“Siapa kalian?” Pedagang kain itu menoleh kepada Jabal dengan tatapan mata penuh tanya dan wajah masam. Dia terlihat kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jabal. Raut wajah yang masam ditambah kutil yang bertaburan membuat wajah lelaki itu semakin tidak enak dilihat. “Apa yang kalian inginkan dari Aswad?”

“Jawab saja pertanyaanku, kau Aswad atau bukan?”

“Heh, kalian pasti temannya Aswad,” lelaki kutilan itu berkacak pinggang sambil memamerkan seringainya.

“Masya Allah, anak kecil tadi menipu kita,” bisik Jabal.

Mutsana dan Jabal terperangah, mereka tak menyangka apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa yang terjadi kemudian membuat mereka terkejut alang-kepalang.

“TANGKAP MEREKAAAA…!!!” Pedagang kain kutilan itu tiba-tiba berteriak sambil menunjuk lurus kepada Mutsana dan Jabal. “TANGKAP MEREKAAAA… MEREKA PENYUSUP… TANGKAP ORANG ISLAM ITUUUU… PRAJURIT TANGKAP MEREKAAAA…!”

Pasar Ubullah geger. Huru-hara pecah di tengah-tengah kawasan pedagang kain. Mutsana dan Jabal segera melarikan diri tanpa buang-buang waktu, mereka membelah kerumunan itu. Dua orang prajurit bersenjata tombak dan perisai menghadang di depan mereka, Mutsana dan Jabal menghantamkan tinju ke wajah kedua prajurit Persia itu yang segera terjengkang di dasar pasar.

Mutsana dan Jabal terus melarikan diri. Mereka berbelok di sebuah tikungan, sudah ada seseorang yang sedang mereka tuju, lelaki berwajah kutil yang kurus. Mereka sedang menuju lapak pedagang kain berwajah kutil yang kurus sementara prajurit-prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Kalau lelaki gemuk berwajah kutil bukanlah Aswad, berarti lelaki kurus berwajah kutil adalah Aswad. Mereka berencana melarikan lelaki itu.

Sayangnya, ketika mereka telah mendekati tempat yang mereka tuju, mereka tidak menemukan pria kurus berwajah kutil itu. Prajurit-prajurit Persia yang mengejar mereka semakin dekat, orang-orang di sekitar mereka terheran-heran dengan apa yang sedang terjadi.

“TANGKAP MEREKAAAA… TANGKAP ORANG ITUUU…” Para prajurit memekik kencang.

Karena teriakan itu orang-orang jadi turut bernafsu untuk menangkap Mutsana dan Jabal, pemerintah Kekaisaran Persia memang sering kali memberikan berbagai hadiah bagi orang yang berjasa menangkap penjahat. Hal itu membuat mereka tidak sempat mencari pria kurus berkutil itu. Mereka segera melarikan diri, keadaan benar-benar mendesak.

Derap kaki Mutsana dan Jabal menjejak tanah dengan cepat. Mereka berlari beriringan, kadang saling susul-menyusul. Sementara orang-orang dan para prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Terjadilah kejar-kejaran yang menegangkan.

Mereka tahu persis kalau mereka sampai tertangkap, pastilah mereka akan segera dieksekusi karena dicurigai sebagai mata-mata. Semenjak Kekaisaran Persia merasa terancam dengan munculnya Khilafah Islamiyah, nasib orang yang dicurigai sebagai mata-mata tidak pernah baik, mereka pasti akan segera dieksekusi setelah ditangkap, bahkan tanpa bukti dan tanpa proses peradilan.

Jabal dan Mutsana berlari sekencang-kencangnya, melintasi lapak-lapak dan kios-kios. Mereka sengaja melewati gang-gang sempit di antara bangunan-bangunan agar para pengejar itu kesulitan menangkap mereka. Napas mereka menderu, mereka mulai kehabisan energi. Semakin waktu berlalu, semakin banyak yang mengejar mereka, kalau mereka hanya berlari, cepat atau lambat, mereka pasti akan tertangkap. Di antara deru napas yang terengah-engah itu, Mutsana dan Jabal masih terus membisikkan kalimatullah. Tiadalah perlindungan yang paling kuat dan paling baik, kecuali yang diberikan oleh Allah sang penguasa semesta. Hati mereka memanjatkan doa agar mereka diselamatkan dari orang-orang kafir.

Tiba-tiba Jabal melihat sesuatu tak jauh di depannya, atau lebih tepatnya melihat “seseorang”. Sekelebat saja, dia melihat seorang pria bertubuh kurus dan berwajah kutilan. Lelaki itu berdiri di depan mulut sebuah gang sambil memerhatikan mereka. Kemudian dengan tatapan penuh makna, lelaki itu melambaikan tangannya kepada mereka, seolah-olah memerintahkan mereka agar mengikutinya. Sedetik kemudian lelaki itu telah menghilang ke dalam gang.

Tanpa pikir panjang, Mutsana dan Jabal mengikuti lelaki kutilan itu memasuki gang. Mereka terperangah, ternyata gang itu buntu. Di kiri-kanan gang itu hanya ada tembikar-tembikar dan keramik-keramik tanah liat dalam berbagai ukuran. Pria kurus berwajah kutil itu menghilang begitu saja. Harapan mereka telah pupus, hampir bisa dipastikan mereka tertangkap. Jabal berbalik ke arah mulut gang itu untuk melihat keadaan. Para pengejar itu sudah dekat…

Bersambung

Follow @sayfghazi

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36

Mengatasi “SHOPAHOLIC”

Assalamu ‘alaikum Wr.Wb.

Mbk, saya orang yang SHOPAHOLIC atau gampang berbelanja dan mudah “luluh” oleh godaan diskon. Gimana cara menghilangkan kebiasaan ini? (Vina, Medan)

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Dik Vina yang baik,

drise-online.com – Aktivitas belanja terkadang memang menjadi aktivitas menarik bagi para remaja. Terutama remaja putri. tapi kalau SHOPAHOLIC nanti dulu. Akan tetapi ada satu hal terkait aktivitas belanja yang perlu Adik waspadai. Yakni, ketika hati terlalu senang mendatangi berbagai pusat perbelanjaan, sampai taraf yang berlebihan. Menjadikan belanja sebagai hobi, hingga Adik keranjingan sekali untuk menjejakkan kaki di pasar, mall-mall, supermarket dan berbagai pusat perbelanjaan. Bisa jadi, walau masih dalam taraf rendah sekalipun, Adik sedang terjangkiti penyakit ‘kecanduan belanja’ (shopaholic). Sehingga, dorongan untuk membeli barang-barang yang memikat hati tak lagi mampu dibendung, apalagi ada bonus Hingga uangpun akhirnya tidak mampu diatur. Na’udzubillah.

Dik Vina yang baik,

Seorang pecandu belanja atau SHOPAHOLIC jelas sekali ia terjebak ke dalam sikap boros yang dilarang oleh agama. Allah Ta’ala berfirman “…Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (Al-Isra’ [17] : 26-27). Rasulullah mengingatkan “Bagian wilayah negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian wilayah negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim).

Dik Vina yang baik,

Hal pertama yang harus ada pada diri Adik untuk meninggalkan kebiasaan belanja atau SHOPAHOLIC adalah milikilah niat kuat untuk menghilangkannya. Selanjutnya lakukan hal-hal berikut; (1) Hindari sering belanja beramai-ramai. Carilah teman belanja yang hemat, bukan yang hobi “mengompori” atau belanja saja sendiri; (2) Jangan menjadikan pergi ke mal sebagai cara refreshing. Cari cara refreshing lain, misalnya ke museum, perpustakaan, atau sekadar menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga dengan berkebun, memasak bersama atau menikmati hidangan kue dan minum teh hangat di depan TV; (3) Berbelanjalah saat Adik memang butuh untuk membelinya, sesuaikan dengan kemampuan juga. Sebelum membeli, periksa apakah Adik memang perlu untuk beli atau tidak. Buat dan bawa catatan yang berisi barang-barang yang akan dibeli ; (4) Bawa uang tunai seperlunya saat ke mal. Jika punya kartu debet, simpan di rumah: (5) Berdisiplinlah dengan hanya membeli barang yang tertera dalam daftar agar berbelanja jadi terfokus, serta tidak perlu cemas bila Adik tidak membeli barang yang disukai, yang kebetulan ada diskon.

Ini Dik Vina, beberapa tips yang bisa dilakukan agar terhindar dari hobi belanja berlebihan. Semoga berhasil…[]

di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36