Mengenal dunia penerbitan

Majalahdrise.com – sesungguhnya, seorang penulis baru diakui eksistensinya sebagai penulis kalau dia sudah menghasilkan karya, tapi bukan sekadar karya kayak nulis di mabok (majalah tembok maksudnya), di buletin sekolah, nulis di blog, medsos atau di situs pribadi, tapi memang karya yang dipublish di media nasional atau lebih kerennya nerbitin buku! Jadi, rasanya gak seru banget ngaku penulis tapi kagak pernah nerbitin buku! Nah, kalo dah ngomongin nerbitin buku, kamu kudu tau daleman penerbitan dunk?! Sebelumnya, kamu mesti paham dulu ya perbedaan penerbitan dengan percetakan.

Biar nggak salah kamar. Secara sederhana, penerbit adalah pihak yang bertanggungjawab mengelola naskah dari penulis menjadi produk buku yang layak baca dan layak jual. Sedangkan percetakan sekadar mencetak produk saja, bisa buku, buletin, newspaper, tabloid, koran, majalah, etc! Jadi, penerbitan belum tentu percetakan. Gitu juga sebaliknya. Tapi dalam urusan penerbitan buku, dua pihak ini berkaitan. So, buat kamu yang naskahnya udah masuk penerbit tapi belum turun cetak, sabar aja ya. Prosesnya lumayan panjang. Penerbitan buku sebenernya bukan sesuatu yang ribet, bahkan untuk bikin sebuah penerbitan pun, kagak susah-susah banget. Mo contoh?

Kamu tahu penerbit Mizan yang diarsiteki sama Haidar Bagir al- Habsyi itu, kan? Wong Solo berdarah Arab Hadromi itu ngaku modal awalnya ga lebih dari 20 juta! Itupun dia minjem duit dari omnya, Abdillah Toha Assegaf, seorang politisi PAN. Pada saat awal nerbitin buku, Mas Haidar sendiri yang nerjemahin, ngelayout, ngedesain cover, bikin film dan platnya, nyetak ke percetakan sampe masarin buku ke berbagai kios dan toko buku… Kini, nama Mizan sudah diakui secara nasional bahkan go internasional. Buku-buku terbitannya menjanjikan mutu dan kualitas, baik pengelolaan redaksional, maupun pengemasan tampilan. Keren! Contoh lainnya, ada grup nasyid Izzatul Islam yang ngetop taon 2000an.

Nah, grup nasyid yang lahir dari komunitas anak-anak rohis F.MIPA Universitas Indonesia Jakarta itu selain bernasyid, mereka juga nerbitin buletin jum’at al-Izzah. Saking kreatifnya mereka, buletin ini pun berkembang menjadi sebuah majalah islam bulanan yang popularitasnya menyaingi majalah Sabili dan Sahid yang sudah mapan. Kini, mereka bergerak pula dalam penerbitan buku. Top, deh! Ada contoh lain juga yang ga kalah keren, lho?! Tau Al-Azhar Press, kan? Penerbit yang digawangi sama Rosyid Aziz itu awalnya cuma nerbitin buku mungil potokopian dan hanya beredar di kalangan terbatas. Setelah Kang Rosyid punya modal lebih, dia pun menerbitkan buku-buku mungilnya pake jasa percetakan. Setelah pasar menyerap buku-buku mungilnya secara antusias. Kang Rosyid pun mulai berani nerbitin buku-buku dengan ukuran dan ketebalan lebih besar dan tebal.

Bahkan, dengan pengemasan lux, full colour dan hard cover. Kini, Penerbit Al-Azhar yang awalnya bergerilya dari lapak ke lapak telah memiliki kantor penerbitan dengan show room sendiri di Kota Bogor. Congrat’s, deh! Nah, sudah clear kan, bahwa yang namanya penerbitan buku itu bukanlah percetakan buku karena beda jenis kerja sekaligus beda pula kreativitas kinerjanya. insya Allah, di edisi berikutnya kita mo ngebahas soal daleman penerbitan, ya, biar kamu semua-mua pada ngerti gimana proses penerbitan sebuah buku, mulai dari naskah mentah hingga jadi sebuah buku! Bahkan, kita bisa ngebahas soal self publishing ataupun penerbit indie yang biasa dikelola oleh para penulis idealis, ideologis dan profesional. Pokoknya, tungguin aja, D’Riser

di muat di majalah remaja islam drise edisi 53

Bunga Dakwah Pondasi Resolusi

Majalahdrise.com – Bunga dakwah? Kesannya, kemayu bin centil gitu ya denger istilah bunga dakwah. Soalnya udah umum julukan ‘bunga’ identik dengan kaum hawa yang mempesona bikin mata kaum adam tak berkedip menatapnya. Misal ada mahasiswi yang bening bin eye catching di kampus, para penghuni kampus pun menjulukinya bunga kampus. Kalo sempat liburan ke kampung dan ketemu gadis cantik rupawan, masyarakat menjulukinya bunga desa. Lah kalo bunga dakwah kan, berarti…..

Hati-hati ya. Bunga dakwah bukan berarti pesona aktivis muslimah yang bikin jakun para ikhwan naik turun kaya lift. Nggak boleh tuh menatap lawan jenis sampe gak berkedip plus hokcay alias molohok bari jeung ngacay. Kita diajarkan untuk gadhul bashar alias menundukkan pandangan. Bunga dakwah yang satu ini artinya… “Buku, Ngaji, dan Dakwah”. Tiga kegiatan yang wajib kita agendakan dalam keseharian.

Terutama buat remaja kaya kitakita. Biar hidup punya makna. Produktifitas kita juga berarti. Ingat pesan Imam Asy Syafii: “Sesungguhnya kehidupan pemuda itu, demi Allah hanya dengan ilmu dan takwa (memiliki ilmu dan bertakwa), karena apabila yang dua hal itu tidak ada, tidak dianggap hadir (dalam kehidupan).” Nasihat imam Syafií ini yang kita pegang untuk membangun pondasi bunga dakwah. a. Pondasi Pertama, Membaca

BUKU

Nyandu baca keliatannya emang nggak populer bin trendi. Padahal dengan membaca, kita bisa mendulang banyak informasi tentang segala hal. Menjelajahi berbagai tempat di belahan dunia, mengenal berbagai kecanggihan teknologi, meneladani biografi tokoh-tokoh dunia, termasuk berita sosial-politik dan perkembangan gaya hidup. Semuanya bisa dengan mudah dan cepat kita peroleh dengan baca koran, buku, atau majalah.

Dengan membaca, kita juga bisa belajar banyak hal. Mulai dari penyaluran hobi yang positif hingga berkenalan dengan ilmu lain yang nggak kita dapetin di sekolah. Seperti kisah motivasi, resep masakan, hingga berbagai keterampilan kerja. Asyiknya lagi, banyak buku yang sifatnya tutorial yang membimbing kita langkah demi langkah. Jadi nggak usah ngiri kalo ngeliat temen kamu yang pinter masak, piawai merajut kain, jago nyablon, atau terampil berbicara di depan publik. Semuanya bisa diraih hasil belajar sendiri alias otodidak akibat doyan melahap buku. Bukan perkara mudah untuk keluar dari masalah keseharian yang kita hadapi. Mulai dari kesehatan hingga kejiwaan. Tapi dengan membaca, kita bisa tahu profil setiap masalah.

Penyebabnya, akibatnya, sampe jalan keluar terbaiknya. Karena banyak buku, majalah, sampe buletin remaja kaya bukamata yang peduli dan empati dengan permasalahan remaja. Makanya nggak heran kalo mereka yang hobi baca lebih siap menghadapi dan berani menjalani proses biar bebas dari masalah. Dengan banyak baca, kita jadi banyak tahu. Dan kalo udah banyak tahu, banyak informasi bermanfaat yang bisa kita bagi ama temen. Itu berarti, kalo ada yang ngebully kita sebagai kutu buku yang kuper, mereka salah besar. Karena justru hobi baca buku bikin kita jadi tambah pede dalam bergaul karena nggak ketinggalan informasi. Semakin banyak juga kosa kata baru dan trendi yang bisa kita tabung. Bisa jadi, yang nyandu baca lebih gaul dari anak gaul. Malah jadi tempat bertanya dan konsultasi. Kan keren tuh! Jadi, rajin-rajinlah baca buku. Terutama bacaanya ngngasih kamu informasi bermanfaat. Bisa ngasih dorongan untuk makin dekat dengan Allah. Dan pastinya, juga makin mendekatkan kamu dengan resolusi yang hendak dicapai. Klop! b. Pondasi kedua, Rajin

NGAJI

 Setelah doyan baca buku, kuatkan pondasi kita dengan mengaji. Ngaji disini bukan sekedar baca quran biar bacaan tajwidnya dan tahsinya bener lho ya. Tapi juga kajian rutin untuk mengenal islam lebih dalam. Dengan belajar Islam, kita jadi tambah wawasan Islam, tahu kondisi umat Islam, dan makin mengenal kemuliaan aturan hidup Islam. Dengan mengaji, kita terbiasa untuk berdiskusi dan bertukar informasi. Kita jadi punya pegangan alias prinsip untuk berbuat yang benar sesuai teladan Rasul. Baca buku juga nggak asal lahap. Tapi bisa kita saring, mana ilmu yang menjadikan kita tambah taat dan mana informasi yang mengajak maksiat. Coba kalo nggak punya saringan, bisa-bisa semua info diterima.

Akibatnya, bisa terjerumus dalam gaya hidup STMJ alias Shalat Terus Maksiat Jalan. Ngeri! Kebaikan mengaji yang nggak kalah pentingnya adalah kita terbiasa mengaitkan perilaku di dunia dengan kehidupan akhirat kelak. Ini yang akan menjaga kemauan keras kita agar tetap dijalur yang benar. Karena setiap detik yang kita lalui, itu ada itungitungannya di hari perhitungan nanti. Dengan begitu, kita akan lebih waspada dengan godaan materi atau popularitas yang bisa menyeret kita masuk dalam kubangan dosa. Aktivitas mengaji bikin hati dan pikiran kita konek terus dengan Sang Pencipta. Setiap saat nyadar kalo Allah selalu mengawasi kita. Kita juga jadi lebih ngeh dengan kehadiran malaikat Raqib dan Atid yang selalu mencatat setiap perilaku. Kalo udah yakin Allah pasti melihat dan malaikat pasti mencatat, so pasti sungkan berbuat maksiat. Nggak sembarangan bertindak demi mencapai resolusi yang dibuat. c. Pondasi ketiga, aktif

DAKWAH

Aktivitas dakwah adalah harga mati bagi seorang muslim. Nggak bisa ditawartawar lagi. Kewajiban dakwah, sama seperti kewajiban shalat. Kalo lalai, bisa kualat lho alias dosa dan terkategori maksiat. Makanya, apapun resolusi yang kamu buat pastikan tetap ambil bagian dalam kegiatan dakwah. Belajar menyampaikan kebenaran meski kita masih sama-sama belajar. Rasul bilang, sampaikanlah walau hanya satu ayat. Berdakwah itu nggak cuman tentang kebaikan orang lain aja. Ternyata, aktivitas dakwah juga ngasih banyak kebaikan untuk diri kita lho. Pertama, dakwah mengajarkan kita untuk mengikis sikap individualis.

Dengan begitu, kita terbiasa untuk membantu orang lain dan secara alami akan banyak bantuan datang jika kita menghadapi kesulitan. Kedua, dakwah mengasah kemampuan kita dalam berbicara. Awalnya mungkin belepotan ngajakin kawan untuk jauhi maksiat kaya pacaran. Tapi kalo terbiasa, kita bisa lebih piawai memilih kata agar yang diajak lebih bisa nerima. Ketiga, dakwah itu ladang pahala yang nggak ada abisnya. Malah kita bisa dapat unta merah, sejenis kuda di timur tengah yang nilainya sangat istimewa, jika ada yang tercerahkan setelah mendengar kebaikan yang kita sampaikan. Itu berarti, tabungan pahala kita terus bertambah dan di akhirat kelak kavling surga bisa kita dapat. Pondasi ketiga ini yang akan ngasih nilai lebih pada resolusi yang kita buat.

Apapun resolusi kita, sertakan tujuan berdakwah di dalamnya. Kalo mau buka usaha, niatkan biar bisa bantu ngasih penghasilan tambahan bagi aktivis dakwah dan bisa berinfak lebih banyak. Kalo mau mengenyam pendidikan tinggi, niatkan biar dakwah kian aktif seiring banyak ilmu akademis yang kita dapat. Keren banget dah kalo dakwah jadi pondasi kegiatan dan resolusi kita. Mantabs!

Bunga Dakwah Bikin Hidup Lebih Hidup

Driser, menjadi bunga dakwah itu pilihan. Pilihan terbaik yang bisa bikin hidup kami lebih hidup. Gimana nggak, dengan menjadi bunga dakwah hidup kita dinamis. Ilmu terus bertambah. Manfaat terus disebar ke lingkungan sekitar. Pahala terus mengalir. Nggak ada waktu untuk ngegalau di sosial media. Meracau nggak karuan di kolom komentar. Yang ada, seruan kebaikan tak pernah berhenti keluar dalam bahasa lisan dan tulisan.

Nah Driser, kita pastinya nggak pengen masa muda kita habis nggak jelas gitu lantaran terhanyut budaya sekuler yang mengejar kesenangan dunia. Kita juga nggak rela dong nasib umat Islam dan kita menderita akibat penjajahan. Makanya wajar kalo kita-kita yang masih muda, kuat, dan cakep ini mesti ambil peran sebagai agen of change. Untuk kebaikan Islam dan kaum Muslimin. Jangan tunggu esok. Jangan liat orang lain. Mulai hari ini, ikut ngaji. Pake aturan hidup Islam. Dan jadilah bunga dakwah. Yuk! [@Hafidz341]

di muat di Majalah remaja islam drise edisi 53

MAJALAH DRISE EDISI #53 – JADILAH BUNGA DAKWAH

Majalahderise.com – Asyiik… pantun awal tahun ini dipersembahkan buat kamu-kamu yang mau jalanin tahun masehi. Pentingnya punya resolusi agar kita bisa berkontribusi. Untuk kebaikan umat dan diri sendiri. Oh ya, kalo belum tahu, resolusi itu semacam impian yang mau dicapai di tahun ini. Sebagai penyemangat dan arah kegiatan selama setahun ke depan. Biar waktu kita lebih optimal.

Hidup kita penuh manfaat. Mungkin ada diantara kamu yang tahun ini punya target lulus sekolah dengan nilai terbaik. Atau bisa masuk perguruan tinggi favorit. Atau pengen ngasih kado istimewa buat ortu di hari spesialnya. Atau mulai terjun ke dunia bisnis. Buka usaha kecil-kecilan dengan hasil yang besarbesaran. Apapun resolusi kamu tahun ini, kita cuman pesan jadilah bagian dari solusi. Bukan bagian dari masalah. Setuju?

From nothing to something

Driser, mari kita mulai berfikir kalo hidup kita pasti bisa ngasih manfaat bagi orang lain. Sesuai kemampuan kita. Seperti kata rasul, Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni) Keberadaan kita bikin lingkungan sekitar senang. Bukan malah bikin risau gak karuan. Lets make a resolution. From nothing to something! Soichiro bukan berasal dari keluarga konglomerat. Bukan juga keturunan juragan angkot atau bos ojeg. Dia cuman lahir dan besar di tengah keprihatinan keluarga miskin. Ayahnya hanya seorang pandai besi.

Di sekolah pun prestasinya biasa aja. Malah doi suka bolos dan nggak doyan baca (Kalo yang ini jangan ditiru ya). Ketertarikannya pada mesin memaksa dia untuk betah melototin cara kerja mesin penggiling padi, nonton pesawat terbang, sampe buka-buka lembaran majalah otomotif. Dia sempet kerja di bengkel sebagai tukang bersih-bersih dan pengasuh bayi sebelum jadi montir. Usia 12 tahun dia sukses bikin sepeda pancal dengan model rem kaki. Sampe akhirnya mendirikan perusahaan Honda Motor Company dengan filosofi yang cukup populer. “The Power of The Dream” Thomas Alfa Edison. Dunia mengenalnya sebagai penemu lampu pijar. Padahal waktu kecil, doi termasuk anak yang lemot alias lemah otak lho.

Sampesampe cuman sekolah tingkat dasar selama 3 bulan. Dan parahnya, nggak ada yang mau nerima dia sebagai siswa. Dengan gigih, ibunya yang pernah jadi guru, mendidik Thomas di rumah. Siapa sangka, home schooling alias sekolah di rumah justru mendongkrak intelektualnya. Thomas jadi maniak baca. Semua buku dari ekonomi sampe teknologi dilahapnya setiap hari. Usia 12 tahun dia jadi penjual koran asongan di gerbong kereta biar bisa baca gratisan. Usia 15 tahun bikin koran sendiri. Ditulis sendiri, dicetak sendiri, dan dijual sendiri. Hasilnya dia kumpulin untuk bikin sebuah laboratorim pribadi yang menghabiskan dua pertiga waktu hidupnya. Sampe akhirnya berhasil menemukan bahan yang cocok untuk menyalakan lampu bohlam setelah percobaannya yang ke 9.999 kali! Kisah inspiratif dari kehidupan Soichiro Honda dan Thomas alfa edison banyak ngasih kita pelajaran. Salah satu yang terpenting, berawal dari sebuah mimpi mereka bisa berkontribusi.

Dari keterbatasan, mereka sukses menorehkan prestasi tak terlupakan. From nothing to something. Bagaimana dengan kamu? Iya kamu! Setiap diri kita punya kelebihan. Itu berarti, pasti ada yang bisa kita berikan ke lingkungan sekitar manfaat keberadaan kita. Udah nggak jamannya lagi hidup cuman mikirin diri sendiri. Karena kita makhluk sosial, perlu orang lain agar bisa berkembang dan hidup wajar. Kalo kita asyik sendiri, cuman ngurusin kesenangan sendiri, patut dicek ke dokter. Bisa jadi ada kelainan kaya orang autis gitu. Hati-hati ah! Selama tahun 2015, banyak pelajar negeri kita yang sukses mengukir prestasinya. Baik di lingkungan sekolah, tingkat nasional, hingga olimpiade internasional. Terutama mereka yang terjun dalam karya ilmiah remaja.

Temuan-temuan mereka bisa menjawab masalah yang tengah dihadapi masyarakat. Contohnya, mahasiswa dari Univeristas Sumatera Utara (USU) berhasil memodifikasi sebuah kendaraan bermotor sehingga bisa berjalan denganbahan baka air. Tepatnya campuran ethanol dan air. Keren banget. Bisa mengurangi konsumsi bbm yang harganya terus menerus naik. Buat kita, yang penting gimana caranya kita bisa ngasih manfaat positif yang menjawab permasalahan orang lain. Itu aja.

Nggak lebih. Semata-mata bisa menjadi bagian dari golongan yang disebutkan rasul dalam haditsnya. Nggak mesti karya yang spektakuler. Cukup hal-hal sederhana sesuai kemampuan kita. Sebagai seorang muslim, sebelum mencapai resolusi kita bangun dulu pondasinya. Biar impian yang kita target ngasih kebaikan dunia akhirat. Tak hanya bermanfaat bagi manusia, tapi juga diridhoi Sang Pencipta. Setuju?

NEGERI KITA MAKIN TERJAJAH BRO!

Majalahdrise.com – Tahun masehi boleh berganti. Tapi masalah yang dihadapi negeri kita seolah tak pernah mati. Malah makin bertambah setiap hari. Tahun lalu, banyak keluar keputusan pemerintah yang nggak banget. Bukannya bikin rakyat sejahtera dan aman sentausa, malah tambah sengsara tiada tara. Ini nunjjukkin kalo ada yang salah dari tata kelola negara. Sistem sekuler biang keladinya. Padahal katanya udah 65 tahun merdeka, ternyata cuman di atas kertas aja. Kenyataan di lapangan, tak seindah yang dibayangkan. Ini beberapa bukti kalo penjajahan dan liberalisasi di negeri kita makin moncer!

Dalam urusan kesehatan, negara udah angkat tangan. Bukan tanda menyerah. Tapi nggak mau ngurusin rakyatnya. Makanya pemerintah bikin program BPJSSJSN yang sebenernya asuransi yang dipaksakan pada seluruh rakyat. Kita dipaksa setor tiap bulan. Bilangnya untuk menjamin kesehatan. Kalo sakit, bisa cair tuh dana meski gak semuanya. Lah kalo sehat, bias angus tuh upeti. Masih kental dalam ingatan kita musibah kabut asap yang dicuekin oleh pemerintah. Nggak sesigap tangani kasus terorisme. karena dibalik musibah kabut asap itu ada konglomerat dan para kapitalis sawit yang ikut main.

Terakhir, negara kita punya sumber daya alam emas yang berlimpah di papua. Perampokan yang dilakukan freeport harusnya udah abis tahun ini. Eh, bukannya segera diambil alih biar pemerintah yang ngelola, tuh kontrak perampokan malah diperpanjang.

Padahal kalo hasil pengelolaan kekayaan emas masuk kas negara sebagian besar, insya Allah bisa buat bayar utang luar negeri dan sejahterakan rakyatnya. Mantab kan? Gitu deh kejadiannya kalo liberalisasi dan kapitalisasi yang diusung pemerintah jadi landasan buat ngatur rakyatnya. Para pengusaha dilindungi. Sementara rakyatnya dibiarkan mati. Kebangetan!

Tendang sistem sekular, terapkan syariah Islam. Josh! [@hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam drise edisi 53