Bintang di Langit antara sains dan Ramalan

Majalahdrise.com – Bintang yang berkelap-kelip di langit memang memancarkan pesona. Sejak jaman baheula bintang-bintang di langit selalu diperhatikan umat manusia dan selalu mengundang decak kagum akan keindahannya. Karena perkembangan pengetahun manusia, bintang-bintang di langit juga banyak digunakan sebagai penunjuk waktu dan arah. Hingga kemudian muncullah sebuah bidang ilmu tentang dunia perbintangan yang disebut astronomi (jangan sampe ketuker sama astrologi ya, kalau astrologi itu meramal nasib dengan merujuk pada bintang).

Manusia telah mengenal astronomi sejak lama, dan jejaknya bisa dilacak sejak jaman Sumeria kuno dan Babilonia kuno yang tinggal di kawasan Mesopotamia (sekitar 3500-3000 SM). Bangsa Sumeria telah mengetahui gambaran konstelasi bintang sejak 3500 SM. Mereka pun menggambar keindahan pola-pola rasi bintang pada segel, vas, dan papan permainan. Nama rasi Aquarius yang amat dikenal saat ini berasal dari bangsa Sumeria.

Peradaban-peradaban besar lain di dunia pun telah mengenal astronomi, seperti bangsa Cina, Yunani, dan India. Mereka menggunakan bintang-bintang untuk membuat kalender dan menghitung kapan waktu menanam dan memanen.

Islam pun memberikan sumbangsih yang amat besar terhadap perkembangan dunia astronomi. Pada sekitar abad ke-8 hingga 15 M, terjadi perkembangan pesat dunia astronomi di tengah-tengah umat Islam. Berbagai karya astronomi Islam banyak ditulis dalam bahasa Arab dan dikembangkan para ilmuwan di Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol, dan Asia Tengah. Nama-nama bintang yang kita kenal saat ini pun sebenarnya berasal dari para astronomer Islam. Pada saat itu umat Islam-lah yang menamai bintang-bintang di langit. Beberapa diantaranya sebut saja Aldebaran dan Altair, Alnitak, Alnilam, Mintaka (tiga bintang terang di Sabuk Orion), Algol, dan Betelgeuse.

Banyak banget pencapaian ilmuwan Islam yang sangat penting di bidang astronomi. Al-Khawarizmi selain dikenal sebagai ahli matematika yang menyusun Aljabar, beliau juga ternyata membuat tabel-tabel untuk digunakan menentukan saat terjadinya bulan baru, terbit-terbenam matahari, bulan, planet, dan untuk prediksi gerhana.

Astronomer Islam lainnya seperti Al-Batanni berhasil mengoreksi perhitungan Ptolomeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Dia juga berhasil memprediksi kemungkinan gerhana matahari tahunan dan menghitung secara lebih akurat sudut lintasan matahari terhadap bumi. Dialah yang berhasil menghitung bahwa setahun itu 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik.

Buku karya Al-Batanni yang amat terkenal tentang astronomi diterjemahkan oleh ilmuwan barat menjadi “De Scienta Stelarum De Numeris Stellarum”. Dan buku ini sampai sekarang masih disimpan di Vatikan lho. Bahkan seorang astronomer zaman Rennaisance seperti Nicolaus Copernicus menyatakan amat berterima kasih kepada Al-Batannia di dalam bukunya yang berjudul “De Revolutionibus Orbium Coelistium”.

Selain al-Khawarizmi dan al-Battani, masih banyak ilmuwan Islam yang ikut mengembangkan ilmu pengetahuan astronomi dunia. Kini, tugas kita untuk meneladani dan meneruskan sekarang adalah terus mengkaji Islam dan terus mengkaji ilmu pengetahuan, agar kelak kita bisa memberikan sumbangsih besar kepada umat. Jangan mau jadi selebritis. Yuk ngaji!!! [@SayfMuhamadIsa]

 

BOX

Observatorium Ulugh Beg

Tempat pengamatan benda-benda angkasa dikenal dengan sebutan observatoriuim. Observatorium pertama di dunia dibangun astronom Yunani bernama Hipparchus (150 SM). Namun, di mata ahli astronomi Muslim abad pertengahan, konsep observatorium yang dilahirkan Hipparcus itu jauh dari memadai. Sebagai ajang pembuktian, para sarjana Muslim pun membangun observatorium yang lebih moderen pada zamannya.

Sejumlah astronom Muslim yang dipimpin Nasir al-Din al-Tusi berhasil membangun observatorium astronomi di Maragha pada 1259 M. Observatorium itu dilengkapi perpustakaan dengan koleksi buku mencapai 400 ribu judul. Observatorium Maragha juga telah melahirkan sejumlah astronom terkemuka seperti, QuIb al-Din al-Shirazy, Mu’ayyid al-Din al-Urdy, Muiyi al-Din al-Maghriby, dan banyak lagi.

Ahli astronomi Barat, Kevin Krisciunas dalam tulisannya berjudul The Legacy of Ulugh Beg mengungkapkan, observatorium termegah yang dibangun sarjana Muslim adalah Ulugh Beg. Observatorium itu dibangun seorang penguasa keturunan Mongol yang bertahta di Samarkand bernama Muhammad Taragai Ulugh Beg (1393-1449). Dia adalah seorang pejabat yang menaruh perhatian terhadap astronomi.

Ghirah astronomi di Samarkand mengalami puncaknya ketika Ulugh Beg mulai membangun observatorim pada 1420. Menurut Kriscunas, berdasarkan laporan yang ditulis ahli astronomi pada saat iru, Al-Kashi aktivitas pengkajian astronomi di Observatorium Ulugh Beg didukung oleh tujuh puluh sarjana. Para ahli astronomi itu mendapatkan perlakukan istimewa dengan fasilitas dan gaji yang luar biasa besarnya.

Observatorium ini beroperasi selama 50 tahun. Sayangnya, setelah Ulugh Beg meninggal, obeservatorium itu pun mengalami kehancuran. Sejumlah astronom telah lahir dari lembaga itu yakni, Giyath al-Din Jamshid al-Kushy, Qadizada al-Rumy dan `Ali ibn Muhammad al-Qashji. Observatorium yang terakhir milik Islam dibangun di Istanbul tahun 1577, di zaman kekuasaan Sultan Murad III (1574-1595) yang didirikan Taqi al-Din Muhammad ibn Ma’ruf al-Rashyd al-Dimashqiy. (Dikutip dari Harian Republika)

Di muat di majalah Remaja Islam drise Edisi #43

Dua Abdullah di Medan Perang

Majalahdrise.com –  Semasa hidup Rasulullah saw. pernah terjadi dua buah perang yang di dalamnya terlibat dua orang bernama Abdullah. Abdullah yang pertama adalah Abdullah bin Rawahah, yang kedua, Abdullah bin Qim’ah. Abdullah pertama adalah seorang Muslim dan menjadi pahlawan Islam, sementara Abdullah kedua adalah seorang musyrik dan telah memerangi Rasulullah saw., lalu mendapatkan kematian yang sangat buruk.

Abdullah bin Rawahah

Abdullah bin Rawahah adalah seorang sahabat Rasulullah Muhammad saw. yang terlibat dalam peristiwa Bai’at Aqabah. Ia adalah salah seorang yang terpandang di Madinah dan turut menyerahkan ketaatan dan kesetiaan kepada Rasulullah saw. Saat 12 orang dari Madinah menghadap Rasulullah secara sembunyi-sembunyi di Bukit Aqabah, Abdullah bin Rawahah hadir di sana. Begitu pula pada peristiwa Bai’at Aqabah kedua yang terjadi setahun kemudian, Abdullah bin Rawahah pun hadir di sana.

Setelah Rasulullah Muhammad saw. hijrah ke Madinah dan kota itu diubah menjadi Negara Islam yang pertama, Abdullah bin Rawahah tetap memberikan sumbangsihnya yang tiada tara untuk Islam. Seperti dikisahkan oleh Khalid Muhammad Khalid dalam Rijalun Hawlar Rasul, Abdullah bin Rawahah bertugas untuk mengawasi gerak-gerik Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong munafik Madinah. Sebenarnya sebelum Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, Abdullah bin Ubay bin Salul hendak dinobatkan untuk menjadi penguasa Madinah. Tetapi ketika orang-orang Madinah mendapatkan pencarahan dari dakwah Islam, mereka segera meninggalkan Abdullah bin Ubay bin Salul dan mendukung Rasulullah saw. untuk memimpin seluruh Madinah dan menerapkan syariat Islam di sana. Hal ini jelas saja membuat Abdullah bin Ubay bin Salul memendam dendam, dan sampai akhir hayatnya dia tak henti membuat konspirasi untuk menghancurkan Islam. Namun sepak terjangnya itu selalu berada di bawah pengawasan Abdullah bin Rawahah.

Abdullah bin Rawahah adalah juga seorang penyair kawakan. Setelah ia masuk Islam, semua syairnya didedikasikan untuk Islam. Rasulullah saw. amat menyukai syair-syairnya. Medan perang yang mencatat nama Abdullah bin Rawahah adalah medan Perang Mu’tah. Pada perang ini, pasukan Islam berhadapan dengan pasukan Romawi Bizantium untuk yang pertama kali.

Jumlah pasukan musuh jauh lebih banyak, dan hal itu cukup menggoyang nyali pasukan Muslim hingga muncullah suara-suara untuk meminta pasukan bantuan kepada Rasulullah saw. Namun dengan gagah berani Abdullah bin Rawahah menguatkan kembali tekad dan semangat jihad di hati pasukan Islam. Sebagaimana diperintahkan Rasulullah saw., Abdullah bin Rawahah mengambilalih komando pasukan setelah Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abi Thalib gugur di medan perang. Ia berjuang habis-habisan hingga ia sendiri gugur sebagai syahid. Di tengah-tengah para sahabatnya di Madinah, Rasulullah bersabda: “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku, di surga.”

Abdullah yang pertama telah mendapatkan tempat terbaik di surga. Berbeda halnya dengan Abdullah yang kedua, Abdullah bin Qim’ah. Mungkin kita jarang sekali mendengar nama Abdullah bin Qim’ah, walaupun dia pernah melakukan sesuatu yang amat memilukan. Kisahnya bisa kita telusuri dari Perang Uhud.

Kafir Quraisy menghimpun pasukannya untuk Perang Uhud pada Sabtu, 7 Syawal tahun 3 Hijriyah. Pasukan dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb. Sebanyak 3000 personil ini sebagian di antaranya adalah para wanita yang sengaja dibawa untuk memacu semangat para prajurit. Para wanita ini memainkan alat musik dan menyanyikan kasidah-kasidah kepahlawanan mereka. Jika nanti ada yang hendak melarikan diri dari medan perang, maka mereka akan memukulinya dan minta cerai dari mereka.

Pasukan Islam kalah dalam perang ini. Sebuah kekalahan yang pertama bagi pasukan Islam dalam peperangan. Kekalahan ini terjadi karena kemaksiatan pasukan panah yang mengabaikan perintah Rasulullah saw. untuk tetap berada di atas bukit, apa pun yang terjadi. Pada awalnya pasukan Islam berhasil menguasai keadaan, dan ‘terlihat’ menang. Sebagian pasukan panah yang ditempatkan di atas bukit tergoda dengan harta rampasan perang (ghanimah). Mereka pun turun dari bukit walaupun pemimpin mereka, Abdullah bin Jabir, telah memberikan peringatan keras. Ketika itulah pasukan kavaleri yang dipimpin Khalid bin Walid (saat itu masih kafir), mengitari bukit yang sudah tidak terjaga dan mendadak muncul dari barisan belakang pasukan Islam. Kekacauan pun terjadi, pasukan Islam kocar-kacir. Kemenangan yang tadinya sudah di depan mata, sirna entah ke mana.

Rasulullah saw. menghadapi keadaan terdesak. Pasukan musuh sudah mengepungnya, sementara pasukan Islam sudah berhamburan entah ke mana. Beberapa orang sahabat mati-matian membela dan melindungi Rasulullah saw. Mereka menjadikan diri mereka sendiri sebagai tameng hidup bagi sang Nabi. Awalnya hanya 9 orang sahabat yang mati-matian melindungi Rasulullah saw., tetapi kemudian bertambah menjadi 30 orang. Serangan yang ditujukan kepada diri Rasulullah saw. amatlah hebat sehingga beliau pun mendapatkan luka-luka.

Abdullah bin Qim’ah

Salah seorang kafir Quraisy yang dengan bringas menyerang Rasul adalah Abdullah bin Qim’ah. Dia mengayunkan senjatanya hendak mencabut nyawa Rasulullah saw., namun datanglah Mush’ab bin ‘Umair yang menjadi pembela Rasulullah saw. Mereka pun mengadu senjata dan Mush’ab bin Umair syahid di tangan Abdullah bin Qim’ah.

Setelah menghabisi Mush’ab bin Umari, Abdullah bin Qim’ah kembali kepada sasaran utama, Rasulullah saw. Ia segera mengalihkan pandangannya kepada Rasulullah saw. dan melancarkan serangan mematikan. Jika kita pernah mendengar bahwa gigi Rasulullah tanggal pada Perang Uhud, maka Abdullah bin Qim’ah inilah pelakunya. Syaikh Hani al-Hajj mengisahkan bahwa Abdullah bin Qim’ah mematahkan gigi Rasulullah, melukai pelipisnya, begitu juga menyobek bibir bawah bagian dalam, ditambah lagi melukai pundak dan lutut Rasulullah dengan pedangnya. Dari Ibnu Abbas ra., dia berkata: “Allah swt. sangat murka kepada orang yang telah melempar wajah Rasulullah saw.”

Seperti diriwayatkan dari Abdurrahman bin Zaid bin Jabir, ketika Abdullah bin Qim’ah berhasil melukai Rasulullah saw., dia sesumbar: “Ambillah gigi itu dariku, aku adalah Abdullah bin Qim’ah.” Rasulullah saw. menyahut: “Allah swt. pasti akan menghinakanmu.” Maka apa yang kemudian terjadi pada Abdullah bin Qim’ah adalah tragedi.

Abdurrahman bin Zaid bin Jabir kembali mengisahkan, setelah usai Perang Uhud, semuanya kembali ke kediamannya masing-masing, begitu juga Abdullah bin Qim’ah. Suatu hari, ia kembali menggembalakan kambing-kambingnya di puncak sebuah bukit terjal di pinggiran kota Makkah. Jumlah kambingnya cukup banyak dan ia berjalan di tengah-tengah kerumunan kambing-kambingnya. Tiba-tiba ada seekor kambing jantan yang marah dan menanduknya hingga ia tersungkur di tanah. Si kambing tidak sudi berhenti, dan terus menyeruduk Abdullah bin Qim’ah hingga luka-luka, dan si kambing pun seolah belum puas. Ia terus menyeruduk hingga Abdullah bin Qim’ah terdorong ke tepian bukit terjal itu dan terjatuh. Di dasar bukit itu ia tewas dengan tubuh terkoyak-koyak. Sebuah akhir tragis dari orang yang melempar wajah Rasulullah saw.[Sayf Muhammad Isa]

MITOS PENULIS #2 Menepis Stigma Penulis Fiksi Tukang Boong

Majalahdrise.com – Salam kreatif bagi fans rubrik writerpreneur. To the by point aja ya, pada edisi kali ini, kita mo ngebahas mitos keempat penulis, yaitu para penulis (fiksi) tuh tukang ngibul bin tukang bo’ong alias suka ngadalin para pembacanya, nyambung juga sama mitos ketiga sebelumnya, yaitu penulis tuh tukang ngarang bin tukang ngedongeng! Hehehe… kita ulik bareng-bareng, yuk?!

Sebenernya, kalo penulis fiksi dianggap sebagai tukang bo’ong seh, ada benernya juga, kalo yang baca karya fiksinya itu adalah orang yang nggak berpendidikan ataunggak nyadar bahwa karya yang dibacanya adalah kisah rekaan, hasil imajinasi seorang penulis. Namun, kalo Si Pembaca itu nyadar bahwa apa yang dibacanya adalah sebuah karya fiksi maka dia akan memahami bahwa itu adalah cerita rekaan yang belum tentu ada dalam kenyataan. Artinya, dia sadar sepenuhnya bahwa dia bersedia untuk dikelabui atau dibo’ongi oleh Si Penulis.

Kesediaan Si Pembaca untuk dikelabui oleh Si Penulis inilah yang membedakannya dengan fakta kebohongan karena sebuah kebohongan terjadi ketika seorang komunikator (penyampai pesan) mengomunikasikan pesan yang tidak sesuai dengan faktanya kepada komunikan (penerima pesan). Si Komunikan pun nggak nyadar bahwa informasi dari Si Komunikator itu sebuah kebohongan. Nah, ketauan kan, dimana letak perbedaannya?!

So, siapapun di antara kita yang berkenan untuk membaca cerita fiksi, baik itu berupa cerpen, cerbung, novelet dan novel, sudah sejak awal bersedia untuk dikelabui. Tidak ubahnya kita nonton film ataupun pertunjukan drama (teater). Pada saat kita membayar harga buku cerita atau membeli karcis masuk, tanpa diberitahu pun kita akan paham bahwa cerita dalam buku ataupun film dan teater itu hanyalah rekaan belaka. Berbeda halnya kalo buku yang kitabaca adalah otobiografi atau film yang kita tonton adalah film dokumenter yang didasarkan pada fakta sebenarnya.

Namun, kesediaan kita dikelabui oleh penulis fiksi ataupun penulis skenario/sutradara tentu ada batasnya, yaitu ketika cerita itu nggak membangkitkan tanggapan emosional atau nggak logis alias nggak masuk akal jalan ceritanya. Seperti apa yang diungkap oleh Mohammad Diponegoro, penulis novel Siklus yang memenangkan Sayembara Menulis DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) taon 1997, ia menyatakan bahwa, “batas kesediaan orang dikelabui adalah ketika ketidaksungguhan cerita khayal itu muncul telanjang sebagai ketidaksungguhan yang betul-betul tak sungguh. Ketika itulah, hubungan antara cerita dan pembaca menjadi patah.”. Artinya, selama cerita itu masih tampak sungguhan, para pembaca atau para penontonnya mau saja dikelabui.

Pendapat Diponegoro ini sudah jadi konvensi umum di jagat sastra dunia, seperti apa yang diungkap oleh Bapak Cerpen Modern, Edgar Allan Poe, bahwa salah satu dari lima aturan cerpen adalah dia harus tampak sungguhan. Menurut Poe, “tampak sungguhan” ini adalah dasar dari semua seni mengisahkan cerita. Semua fiksi nggak boleh kentara hanya bikinan, sekalipun semua orang tahu bahwa itu adalah kisah rekaan belaka. Semua tokoh ceritanya harus keliatan sungguhan, bicara dan berlaku seperti manusia yang bener-bener hidup.

Oleh karena itu, seorang penulis fiksi jangan nyari plot atau alur yang mustahil. Jangan pula melebih-lebihkan tokoh ceritanya seperti karikatur atau kartun. Trus…, jangan pula membiarkan tokoh ceritanya itu berlaku atau bicara plin-plan, tak konsisten, ungkap Poe menguraikan teorinya itu.

Mau contoh kongkretnya, Bro and Sist? Baca deh, cerita Winetou dan Old Shatterhand karya fenomenal dari Karl May. Ceritanya asyik banget, mengisahkan persahabatan penuh nuansa heroisme antara kepala suku Indian Apache dengan petualang kulit putih di Benua Amerika. Padahal saat nulis ceritanya itu, Karl May belum pernah datang ke tanah kediaman orang-orang Indian itu. Tapi, dia sanggup membingkai fakta-fakta kehidupan orang Indian yang diketahuinya jadi sebuah cerita fiksi yang tampak hidup dan sungguhan sehingga banyak para pembaca ceritanya itu bersedia untuk dikelabui.

Saya juga pernah menulis karya seperti apa yang ditulis Karl May, yaitu menulis buku kumpulan cerita islami Impian Terindah yang meraih predikat best seller di masa booming fiksi Islami. Setengah dari isi buku itu berlatar Turki dan Timur Tengah, padahal saya sama sekali belum pernah singgah ke jantungnya umat Islam itu. Saya hanya menghimpun fakta, data dan berita tentang Turki dan Timur Tengah melalui buku, gugling dan bertanya plus diskusi dengan sohib-sohib yang pernah kesana. Selanjutnya, saya membangun dunia rekaan dengan memadupadankan fakta, data dan berita yang berhasil dihimpun tadi untuk menghadirkan ”tampak sungguhan” demi meyakinkan para pembaca. Hasilnya, Impian Terindah menembus angka penjualan 5.000 exp sekaligus repeat order kurang dari sebulan!

Jadi, inti dari semua seni bercerita fiksi adalah tampak sungguhan. Para penulisnya memiliki tugas membuat cerita khayalan yang tampak sungguhan, meskipun dia menulis cerita-cerita fabel atau cerita tentang dunia binatang. Tokoh-tokoh binatang yang diceritakannya itu harus “tampak manusiawi” (dalam berbicara dan bertingkah laku) untuk dapat “dipercaya”, dengan kata lain agar tampak sungguhan di mata para pembacanya.

Kini, apakah kamu masih nganggap penulis (fiksi) itu sebagai tukang bo’ong? Kalo masih berasumsi gitu, baca lagi deh, tulisan ini dari awal?! Atau mulai deh belajar bikin tulisan fiksi yang menginspirasi. Yuk ya yuk…! []

di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42

 

Logika LGBT

Majalahdrise.com – Memang sangat aneh kaum LGBT itu. Kecenderungan mereka untuk menyukai sesama jenis (secara seksual) memang tidaklah masuk akal. Bagaimana mungkin ada orang yang ‘mencintai’ sesama jenisnya dan meninggalkan lawan jenisnya? Ini benar-benar di luar logika. Tetapi seperti itulah yang terjadi saat ini, kaum Nabi Luth yang sekarang bertransformasi menjadi kaum LGBT wara-wiri meminta pengakuan dan legitimasi. Dengan menggunakan Hak Asasi Manusia dan wacana kebebasan sebagai senjata ampuh, mereka menuntut agar tingkah laku mereka yang abnormal itu dimaklumi.

Orang-orang yang sekian lama terkenal sebagai pembela HAM dan liberalisme pun bersuara mendukung LGBT. Padahal tindakan ini malah makin menunjukkan kedangkalan intelektualitas mereka. Ulil Abshar Abdala, seorang tokoh JIL yang amat terkenal, berkicau tentang LGBT di akun twitternya @ulil, semuanya bernada dukungan.

Logika LGBT - MAJALAHDRISE.COM

Lesbian, gay, biseksual, dan transgender itu bukan ancaman, setidaknya begitulah kata Ulil dalam salah satu twit-nya. “LGBT bukan ancaman. Sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Dan spesies manusia tak pernah punah karena mereka.”

Spesies manusia memang tidak punah karena mereka, untung saja Allah swt segera bertindak dengan memusnahkan kaum gay pertama (kaum Nabi Luth) sampai habis dan tidak bersisa. Kalau saja mereka dibiarkan, mungkin saja terjadi fenomena abnormal ini akan tersebar dan membawa kerusakan yang meluas. Saat ini pekerjaan kaum Luth diulangi lagi, apakah kita menunggu azab yang dulu pernah terjadi?

Memang benar bahwa LGBT sudah ada ribuan tahun yang lalu, tetapi apakah kelakuan buruk mesti kita ikuti kembali? Apakah karena LGBT sudah ada sejak ribuan tahun lalu, lantas kita memakluminya hari ini? Fitrah makhluk hidup saja menolak keberadaan LGBT, apalagi kalau ia sampai berkembang dan dirayakan di mana-mana! Makhluk paling rendah saja tertarik secara seksual dengan lawan jenisnya, bukan sesama jenisnya. Yang ada, mereka akan bertarung jika bertemu dengan makhluk sesama jenisnya, bukan saling mencintai. LGBT memang absurd. [Sayf Muhammad Isa]