HIJAB HIJRAH MUSLIMAH

Majalahdrise.com – Senang deh. Belakangan ini, sesekali kita nonton televisi, banyak artis yang aktif mengenakan kerudung bukan karena tutuan profesi tapi memang sudah menutup aurat sesuai hukum syari. Hijab juga bukan jadi seragam pengajian tapi sehari-hari makin bangga berhijab. Mulai dari anak kecil, remaja hingga dewasa banyak yang keranjingan untuk selalu berhijab. Baik di sekolah atau lingkungan rumah. Malah di mall-mall aja mba berhijab yang lalu lalang makin cling!

Driser, berhijab ialah panggilan iman, meresap dari hati sehingga nyaman di hati. Muslimah yang taat atau berusaha untuk selalu taat, akan memompa semangat beramal sholeh ketika sudah berhijab. Itulah yang dirasakan Laudya Chynthia Bella pasca berhijab. “Sekarang aku udah jarang sih pulang larut malam. Jam 9 biasanya udah ada di rumah atau lagi di jalan mau pulang. Sengaja maupun tidak, berhijab menggiring aku pada kebaikan. Aku masih berteman dengan teman-teman lama, sebagai bonusnya ada teman-teman baruku yang berhijab yang juga menguatkan aku. Namanya juga baru ya, masih butuh disemangatin supaya istiqomah”, begitu tutur Mba cantik yang biasa main di sinetron atau film layar lebar ini.

Nah, jadi prinsipnya, wanita berhijab memang belum tentu taat,tapi wanita taat pasti berhijab. Hijab adalah awal kebaikan, akan mengundang kebaikan lain untuk datang. Inilah berkahmenjadikan islam sebagai tolak ukur perbuatan. Catet!

 

Hijab Buka-Tutup

Fenomena yang menggelitik ialah sebagian muslimah yang masih buka-tutup hijab. Bisa jadi karena satu tuntutan, desakan atau rayuan, sehingga sehari hijab dipake, sehari dibuka. Jeng, itu hijab atau portal?! Kok buka tutup, ups…. Sorry, bukannya ngeledek. Tapi kan sayang amalan yang kemarin. Sudah dibangun, dihancurkan lagi. Ngerti kok, kita semua emang lagi belajar. Hijrah dari kegelapan menuju cahaya. Pergi dari jalan yang bengkok kepada jalan yang lurus, yaitu tuntunan Allah. Mau dituntun Allah atau dituntut Syaithan?! Muslimah untuk dituntun, bukan dituntut.

Yupz, sempurnakan hijrahmu dengan istiqomah berhijab. Buang penilaian manusia, harapkan penilaian Allah saja. Sebab Dia yang sanggup membuka dan menutup hati dan mulut manusia. Pintalah padaNya supaya hanya mulut yang baik yang mendekati hati kita, ajakan yang benar yang menguatkan hijab kita.

Berhijab mantap akan menggiring kita pada sikap yang semakin islami. Selama ini jarang shalat, maka berhijab itu jadi pemicu kerinduan untuk sujud dalam sajadah. Malu pada al-Qur’an yang hanya jadi pajangan, malu pada hijab atau penutup kepalayang cuma jadi pelengkap penampilan.

Berhijab tapi masihpacaran? Malu pada malaikat Raqib Atid di samping kiri dan kananmu. Ia tidak kelihatan tapi pasti melihat kita. Malu pada Allah yang Maha Penyayang, yang selalu berikesempatan padahal selama ini kita berbuat dosa. Selamatkan pacarmu dari api neraka. Kalau pacarmu beneran sayang, masa dia ajak kamu ke neraka. Jika dia orang yang benar, dia pasti memilih surga walau resikonya kalian harus putus! Cinta adalah cinta. Jika digabung dengannafsu maka cinta akan memudah, tersisalah nafsu.Ngeri!

Supaya hijab kamu ngga buka tutup, bergabunglah dengan teman-teman yang istiqomah. Mereka kelak yang akan jadi patroli pengontrol kalau kamu khiaf atau galau. Jadikan al-Qur’an sebagai teman duduk, saat santai atau menjelang tidur. Sempatkan seminggu sekali ikut tausiah islam, sharing dengan para ustadzah. Jika sehari-harinya sudah sibuk dengan amal sholeh, dijamin maksiat minggat, ketaatan yang memuat kita kuat. Hijrahlah! Istiqomahlah! Yuk! [Alga Biru]

 

 

BOX

TANTANGAN BERHIJAB

Berikut ini momen saat aktivitas berhijab kamu mungkin akan diuji. Siapkan amunisi iman dan tawakkal kepada Allah

Dunia Kerja

Ketika kelak memilih kerja, biasanya ada tuntuntan untuk tampil cantik dan kadang-kadang disyaratkan untuk membuka aurat (hijab). Lebih baik stop! Berani berkata TIDAK! Ingat, rezeki sudah diatur oleh Allah, kita hanya berusaha, biarkan Dia datang dengan cara yang indah.

Pelangkap Identitas

Pas foto ijazah SMA sering membuat dag-dig-dug. Buka kerudung atau tidak? Kalau pakai kerudung, harus buat pernyataan ini dan itu. Kelihatannya horor banget ya? Wah, apa yang salah dengan wanita berhijab? Nah, banyaklah berkonsulitasi dengan ahlinya agar harga diri kita sebagai muslimah tetap terjaga.

Takut Ngga dapet Jodoh

Klise banget. Alasan yang dibuat-buat. Siapa bilang berhijab menjauhkan jodoh atau lelaki untuk mendekat. Percayalah, justru lelaki yang datang bukan lelaki sembarangan.Lelaki itu pastinya lelaki yang seiman dan menjaga auratmu dari yang haram memandang.

Low Exist !

Wanita berhijab tidak bisa eksis, sulit. Wanita juga ingin tampil ke depan. Hijab menghalangi wanita dalam mengeksplorasi diri. Nah, pemikiran seperti ini masih menempel di sebagian orang. Sementara di jaman sekarang ini, makin banyak bukti wanita berhijab makin berkilau, berprestasi tanpa harus mengumbar auratnya dan sekedar modal cantik semata.

[Alga Biru]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #45

Derap Rantai Episode 16

MajalahDrise.com – Jejak-jejak kaki kuda di tengah-tengah gurun yang kering itu mengantarkan Mutsana bin Harits ke sebuah benteng. Terletak satu kilometer dari tempat jatuhnya Jabal bin Abdul’uzza. Mutsana tahu persis bahwa langkah yang diambilnya ini amat besar bahayanya. Dia takjub ketika melihat benteng itu dari balik sebongkah karang besar, dan tidak punya informasi apa-apa tentangnya. Dia tahu persis seberapa pentingnya informasi itu ketika sedang berhadapan dengan musuh.

Benteng tanah liat itu terletak di tengah-tengah sebuah lembah, dan dia dibangun di dalam sebuah jurang dengan celah yang sempit. Mutsana berada di tempat yang aman di tepi jurang itu dan menatap ke bawah untuk mengamati benteng. Hampir-hampir dia tak percaya sebab ternyata ada sebuah benteng musuh di tempat yang tidak begitu jauh dari Madinah sebagai ibukota Khilafah Islamiyah.

Mutsana mengedarkan pandangannya ke sekitar benteng itu dan menyadari ada sesuatu yang menutupi celah sempit tempatnya berada. Seperti ada sehelai kain yang amat lebar yang ujung-ujungnya terhubung dari tepi jurang yang satu ke tepi jurang lainnya. Di atas kain lebar itu ditaburi pasir-pasir gurun agar keberadaan benteng itu tersamarkan dari pandangan mata semua orang. Yang jadi masalah, Mutsana tidak tahu ke mana jalan masuk menuju benteng itu. Bagaimana cara dia menyusup ke dalam benteng sementara hari beranjak terang-benderang? Hal itu hampir mustahil. Dan dia sama sekali tidak tahu di mana Jabal disekap. Ketiadaan informasi memang sesuatu  yang amat berbahaya.

Mutsana kembali menengadah menatap langit biru yang tinggi. Dia tidak punya banyak waktu, namun dia tidak tahu pasti apa yang mesti dia lakukan. Hatinya tak henti berzikir kepada Allah, berdoa memohon kemudahan.

Tiba-tiba dia mendengar sayup-sayup derap langkah kaki kuda di kejauhan. Ketika dia mengamati apa yang didengarnya, sadarlah dia ada sebuah kesempatan baik untuknya. Seorang prajurit hitam sedang berkuda dengan cepat melintasi gurun pasir. Pakaiannya yang hitam berkelebat di belakangnya, selendang serbannya menutupi sebagian wajahnya. Kali ini ada sebuah perasaan bahagia yang aneh ketika dia mengetahui kedatangan musuhnya itu. dia bergegas memersiapkan diri untuk menyambut orang yang datang itu, dia bergerak dari tempat persembunyiannya. Dia berencana menghadang prajurit hitam itu.

Mutsana telah menunggu di sebuah celah batu tepat di jalan yang akan dilewati oleh prajurit hitam itu. Dia menggenggam sebongkah batu di tangan kanannya yang akan dia lemparkan kepada musuhnya. Agar batu yang keras dan kasar itu tidak terlalu melukai musuhnya, dia bungkus batu itu dengan sehelai kain yang diambil dari serbannya. Dia bersiap-siap untuk melemparkan batu itu dari tempat persembunyiannya.

Mutsana adalah juga seorang pelempar yang ulung. Akurasi lemparannya amat tinggi, apa yang dia lempar hampir pasti mengenai sasarannya. Satu lagi kemampuan yang amat berguna yang dianugerahi Allah kepadanya.

Prajurit hitam itu semakin mendekat, tanpa menyadari ada seseorang yang sedang mengintainya. Mutsana terus memerhitungkan jarak dan waktu yang tepat untuk melempar batu itu kepada sasarannya. Matanya terpicing, jemarinya bergerak, merasakan lekuk-lekuk batu yang sedang digenggamnya. Kesempatannya hanya sekali dan dia tidak boleh meleset. Hati Mutsana terus saja menggumamkan harap kepada Allah.

Saat prajurit hitam itu telah berada pada posisi yang tepat, Mutsana mengayunkan tangannya dan melemparkan batu itu tepat kepada sasaran. Batu yang dilemparkan Mutsana tepat mengenai kepala prajurit hitam itu dan membuatnya terjerembab dari kudanya. Dia terguling di atas pasir dan Mutsana segera meringkusnya beserta kudanya. Prajurit hitam itu pingsan ketika terjatuh dan dengan mudah Mutsana menyeretnya ke tempat persembunyian. Dia pun bergegas menangkap kuda milik prajurit hitam itu dan membawanya ke dalam celah.

Terbaringlah di hadapan Mutsana seorang lelaki berpakaian serba hitam, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Serbannya hitam dan hampir seluruh wajahnya tersembunyi di balik cadar hitam. Mata lelaki itu terpejam, dia tak sadarkan diri. Sebelum bertindak lebih jauh terjadap lelaki itu, Mutsana bergegas kembali kepada untanya. Dia mengambil barang-barang yang dibutuhkannya, seutas tali, kantung air, dan pedangnya.

Setelah kembali kepada tawanannya, Mutsana mencabut pedang dari sarungnya. Bilah pedang itu berkilauan ditimpa sinar mentari yang hendak naik. Dengan pedang di tangannya, Mutsana meraih kantung air lalu meneguk air di dalamnya. Dia tidak langsung menelah air itu, tapi dia membuka cadar hitam tawanannya dan menyemburkan air di mulutnya ke wajah tawanannya. Prajurit hitam itu terkejut dan langsung tersadar, namun bilah pedang Mutsana telah merapat di lehernya.

“Siapa kau?” Suara prajurit hitam itu parau. Tenggorokannya sakit, terlebih lagi kepalanya yang terkena batu sudah membengkak.

“Kau tak perlu tahu. Yang pasti sekarang kau harus menjawab semua pertanyaanku, atau pedangku ini yang akan bertanya padamu.” Ancam Mutsana.

 

000

 

Matahari terus naik menuju puncak langit. Dia tidak akan menunggu siapa pun yang tidak mau bergegas. Dia mengiringi langkah kaki seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang lelaki berpakaian hitam. Serban dan cadar hitam yang dikenakan lelaki itu membuat wajahnya tidak bisa dikenali. Orang yang ada di balik pakaian hitam itu telah berganti. Mutsana menyamar dengan mengenakan pakaian hitam milik seorang musuh yang berhasil dilumpuhkannya.

Hari itu akan menjadi hari yang panjang bagi Mutsana. Dengan segala pengalaman dan ilmu yang dimilikinya, Mutsana telah mendapatkan segala informasi yang dia butuhkan dari prajurit hitam yang menjadi tawanannya tadi. Kini dia lebih siap untuk menyusup ke benteng musuh yang berada di dasar sebuah lembah itu.

Mutsana memacu kudanya sekencang-kencangnya. Sebilah pedang dan sebilah belati sudah tersemat di pinggangnya, sebagai senjata yang akan melindungi dirinya dari serangan musuh. Wajahnya tertutup cadar hitam yang dikaitkannya dengan erat agar jatidirinya tidak terungkap. Angin padang pasir mengibarkan pakaiannya. Mutsana bergerak menyusuri tepian jurang itu ke arah yang malah menjauh dari benteng. Dia melarikan kudanya menghampiri sebuah gunung batu yang tinggi menentang matahari.

Derap langkah kaki kuda yang tadinya cepat kini telah berubah menjadi pelan. Mutsana menurunkan kecepatan kudanya. Sambil berjalan, dia memerhatikan gunung batu yang ada di hadapannya, yang letaknya di sebelah timur benteng. Tatapan matanya menyapu gunung batu itu dari lereng sampai ke puncaknya. Berhentilah Mutsana di hadapan gunung batu itu, dia turun dari kudanya dan berjalan terus menghampiri gunung sambil menuntun kudanya. Entah apa yang hendak dia lakukan.

Sambil berdiri dan berkacak pinggang, Mutsana memerhatikan apa yang ada di bawahnya. Rerumputan kering, kaktus, pepasir, dan kerikil, memenuhi dasar dari gunung batu itu. Pandangan mata Mutsana menyusuri setiap jengkalnya, seolah-olah ada sesuatu yang sedang dicarinya. Hingga kemudian perhatiannya tercuri.

Tak jauh di depan Mutsana ada setumpuk batu gurun yang jika dilihat selintas hanyalah tumpukan batu biasa. Ternyata tumpukan batu-batu itu menciptakan semacam ruang untuk melindungi sesuatu yang ada di dalamnya. Mutsana membungkuk rendah dan memasukkan tangan kanannya ke dalam celah yang sepertinya telah disiapkan sejak lama. Di dalam ruang itu tangannya menyentuh sebongkah batu yang permukaannya halus sekali. Dia sendiri tidak sanggup melihat apa yang disentuhnya. Dirabanya sebongkah batu itu kemudian didorongnya ke depan. Mutsana perlu mengerahkan sejumlah besar tenaganya, karena ternyata sebongkah batu yang halus itu cukup berat saat dia hendak mendorongnya.

Angin gurun pun berembus seiring dengan gemuruh yang mendadak muncul membelah padang pasir. Dinding gunung batu yang keras dan kejam itu merekah, membuka! Sebuah gerbang pada gunung batu muncul di hadapan Mutsana… [@sayfmuhammadisa]

Bersambung

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #45

Cinta Nabi Harga Mati

Majalahdrise.com – Bagi kita sebagai seorang muslim, Nabi Muhammad saw adalah sosok yang mulia. Tak ada cacat cela karena udah dijamin oleh Allah swt kalo perkataan dan perbuatan beliau adalah wahyu yang mesti kita jadikan pegangan. Kecintaan pada Nabi Muhammad adalah bagian dari kecintaan pada Allah swt.

Nggak heran kalo para sahabat mati-matian berusaha mencintai Rasulullah saw melebihi dirinya sendiri. Dalam hadits dari Anas ra. Nabi Saw bersabda: “Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (Muttafaq Alaih).

Karena cinta nggak cuman kata-kata, mereka berusaha tunjukkan kecintaannya dalam perbuatan yang patut jadi teladan, diantaranya:

Diriwayatkan dari Anas ra., ia berkata: Ketika perang Uhud kaum Muslim berlarian meninggalkan Nabi saw. Abu Thalhah sedang berada di depan Nabi saw., melindungi beliau dengan perisainya. Abu Thalhah adalah seorang pemanah yang sangat cepat lemparannya. Pada saat itu ia mampu menangkis dua atau tiga busur panah. Kemudian ada seorang lelaki yang lewat. Ia membawa setumpuk tombak kemudian berkata, “Aku akan menebarkannya untuk Abi Thalhah”. Kemudian Nabi saw. beralih ke pinggir melihat orang-orang. Maka Abu Thalhah berkata, “Ya Nabiyullah, demi bapak dan ibuku, engkau jangan minggir, nanti panah orang-orang akan mengenaimu. Biarkan aku yang berkorban jangan engkau….” (Mutafaq ‘alaih)

Dari Sahal bin Saad ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda pada Khaibar: Berkata kepadaku Qutaibah bin Said, berkata kepadaku Ya’kub bin Abdurrahman dari Abu Hazim, ia berkata; Sahal bin Sa’ad ra. telah memberitahukan kepadaku bahwa Rasulullah saw. bersabda pada perang Khaibar, “Aku akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang di atas tangannya Allah akan memberikan kemenangan. Ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.”

             Berkata Sahal Bin Sa’ad, “Maka orang-orang pun pergi untuk tidur dan mereka bertanya-tanya di dalam hati mereka, siapakah di antara mereka yang akan diberikan panji oleh Rasulullah saw.” Ketika tiba waktu subuh, maka orang-orang ramai menghadap Rasulullah saw. Semuanya berharap agar diberi panji oleh Rasululah saw.

             Maka Rasul bersabda, “Di manakah Ali bin Abi Thalib?” Dikatakan kepada Rasul, “Ia sedang sakit mata, Ya Rasulullah!” Kemudian orang-orang pun mengutus seorang sahabat untuk membawa Ali bin Abi Thalib ke hadapan Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. meludahi kedua matanya dan berdoa untuknya, maka sembuhlah ia hingga seolah-olah ia belum pernah sakit sebelumnya.

             Kemudian Rasul memberikan panji itu kepada Ali bin Abi Thalib. Lalu Ali berkata, “Ya Rasulallah!, aku akan memerangi mereka sampai mereka bisa seperti kita (memeluk Islam).” Kemudian Rasullah saw. bersabda, “Berangkatlah perlahan-lahan hingga engkau berdiri di halaman mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang merupakan kewajiban mereka. Maka demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seorang manusia karena engkau, hal itu lebih baik bagi engkau daripada unta merah.” (Mutafaq ‘alaih)

Muhammad bin Sirin berkata: Telah berbincang-bincang segolongan laki-laki di masa Umar ra., hingga seakan-akan mereka melebihkan Umar ra. atas Abu Bakar ra., kemudian hal itu sampai kepada Umar bin Khathab r.a., lalu beliau berkata, “Demi Allah, satu malam dari Abu Bakar lebih utama daripada keluarga Umar. Sungguh Rasulullah telah pergi menuju gua Tsur disertai Abu Bakar. Abu Bakar terkadang berjalan di depan beliau dan terkadang berjalan di belakang beliau.

             Hingga hal itu membuat Rasulullah penasaran, beliau pun berkata: Wahai Abu Bakar! Kenapa engkau terkadang berjalan di depanku dan terkadang di belakangku? Abu Bakar berkata: Jika aku ingat orang-orang yang mengejarmu, maka aku berjalan di belakangmu, dan jika aku ingat orang-orang yang mengintaimu, maka aku berjalan di depanmu.

             Rasulullah saw. bersabda: Wahai Abu Bakar, jika terjadi sesuatu, apakah engkau suka hal itu menimpamu dan tidak menimpaku? Abu Bakar menjawab: Benar, demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, jika ada suatu perkara yang menyakitkan, maka aku lebih suka hal itu menimpaku dan tidak menimpamu.

             Ketika keduanya telah sampai di gua Tsur, Abu Bakar berkata: Tunggu sebentar di tempatmu wahai Rasulullah!, hingga aku membersihkan gua untukmu. Kemudian Abu Bakar pun masuk gua dan ia membersihkan (dari segala hal yang akan menggangu). Ketika ia ada di atas gua, ia ingat belum membersihkan sebuah lubang, kemudian ia berkata: Wahai Rasulullah, tetap ditempatmu!, aku akan membersihkan sebuah lubang. Maka ia pun masuk gua dan membersihkan lubang itu. Kemudian berkata; silakan turun wahai Rasulullah saw., Maka Rasul pun turun.” Umar berkata, “Demi Allah, sungguh malam itu lebih utama dari pada keluarga Umar.” (HR. Hakim).

Anas bin Malik berkata: Sesunguhnya Rasulullah saw. pada saat perang Uhud telah terpojok sendirian bersama  tujuh orang Anshar dan dua orang Quraisy (Muhajirin). Ketika musuh (kaum Musyrik) telah merangsek mendekati beliau, beliau bersabda, “Siapa yang bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau menjadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar lalu memerangi musuh hingga terbunuh. Kemudian musuh kembali merangsek mendekat. Beliau bersabda, “Siapa yang bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau menjadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar, lalu memerangi musuh hingga ia terbunuh. Hal seperti itu terjadi berulang-ulang hingga terbunuhlah tujuh orang Anshar. Rasulullah bersabda kepada dua sahabatnya (dari Muhajirin), “Kita tidak sebanding dengan para sahabat kita itu.” (HR. Muslim)

Abdullah bin Hisyam berkata: Kami bersama Nabi saw., sementara beliau memegang tangan Umar bin Khathab. Umar berkata, “Wahai Rasulullah!, Sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi saw. berkata, “Tidak bisa! Demi Allah hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar berkata, “Sesungguhnya mulai saat ini, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Nabi saw. bersabda, “Sekarang engkau telah benar wahai Umar.” (HR. Bukhari).

 

Cegah Dengan Khilafah

Sebagai bentuk protes terhadap penghinaan Nabi oleh media Barat, ajakan boikot terhadap produk Barat menggema di negeri-negeri Muslim. Hasilnya, emang lumayan bikin ngeper pemerintah Eropa yang takut ekonomi negaranya terancam akibat aksi boikot. Seperti yang pernah dialami negeri Viking, Denmark pasca kasus kartun Nabi saw. Sayangnya, aksi boikot produk nggak bikin mereka yang menghina Allah swt dan Rasul-Nya kapok. Apalagi dalih kebebasan berpendapat atau berekspresi bisa melindungi mereka dari jeratan hukum. Makanya, mereka malah makin jor-joran.

Kalo udah gini, kerasa banget deh pentingnya kehadiran institusi yang bisa menyatukan muslim sedunia. Institusi itu adalah kekhilafahan Islam seperti yang ditunjukkan para shahabat pasca Rasul wafat. Ini ditegaskan Rasul dalam sabdanya:

Sesungguhnya seorang imam—Khalifah—adalah perisai orang-orang akan menjadikannya pelindung dan berperang di belakangnya (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dengan adanya khilafah, mereka yang menghina Allah swt dan Rasul-Nya bakal dapet ganjaran setimpal. Penghinaan terhadap Islam atau kaum Muslimin sama dengan menabuh genderang perang. Seperti yang terjadi pada masa Khilafah Abbasiyah, yaitu ketika Nuruddin Zanki menjabat sebagai wali (gubernur) Syam pada tahun 557 H. Ada pihak yang berupaya menyerang makam Rasulullah saw. Atas sepengetahuan Khalifah, Nuruddin pun bertolak ke Madinah untuk menangkap dan membunuh mereka yang menyerang makam Nabi saw. Rasain tuh!

Ketegasan Khilafah dalam menjaga kemuliaan Islam cukup bikin ngeper mereka yang hendak melecehkan Islam. Seperti diakui oleh Bernard Shaw dalam memoarnya. Bahwa pada masa Khilafah Utsmaniyah tahun 1913 M, dia dilarang mengeluarkan kisah yang berisi penghinaan kepada Rasulullah saw. Lord Chamberlin melarangnya karena takut terhadap reaksi duta besar Daulah Khilafah Utsmaniyah di London.

Begitu juga yang pernah terjadi pada masa Khalifah Abdul Hamid. Saat itu, Prancis hendak mengadakan pertunjukan drama yang diambil dari hasil karya Voltaire. Isinya bertemakan “Muhammad atau Kefanatikan”. Di samping mencaci Rasulullah saw., drama tersebut menghina Zaid dan Zainab. Ketika Khalifah Abdul Hamid mengetahui berita tersebut, melalui dutanya di Prancis, beliau segera memberikan ancaman kepada Pemerintah Prancis supaya menghentikan pementasan drama tersebut. Kalo tetep ngeyel, bakal ribut gede urusannya. Prancis pun ngeper lalu membatalkannya.

Ngerasa nggak dapet angin di Prancis, perkumpulan teater itu malah jalan ke Inggris untuk menyelenggarakan pementasan serupa. Sekali lagi, Khalifah Abdul Hamid memberikan ancaman kepada Inggris. Tapi Inggris menolak ancaman tersebut dengan alasan tiket sudah terjual habis dan pembatalan drama tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya. Khalifah pun ngasih ultimatum, ”Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita! Saya akan mengobarkan jihad akbar!”. Akhirnya, nyali Pemerintah Inggris jadi ciut lalu menelan ludahnya sendiri tentang kebebasan dan pementasan drama itu pun dibatalkan. Makanya jangan cari gara-gara!

Driser, terbukti hanya Khilafah yang bisa membungkam kebebasan berekspresi media Barat yang doyan menghina Allah swt dan Rasul-Nya. Ayo kita sama-sama berjuang demi tegaknya Khilafah Islamiyah yang mengikuti jejak kenabian. Biar kemuliaan Islam dan kaum Muslimin tetep terjaga sepanjang masa.  Yuk! [@hafidz341]

di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #45

Majalah Drise Edisi 45 : Cinta Nabi Harga Mati

Majalahdrise.com – Dor..! Dor…! Dor…! Rentetan tembakan yang memuntahkan timah panas memecah kesunyian kantor Charlie Hebdo hari Rabu, 07 Januari lalu. Beberapa redaksi tabloid satire Prancis yang tengah menggelar rapat redaksi ini harus kehilangan nyawa ditangan dua orang berpakaian serba hitam dan bersenjata AK-47. Pasca aksi penembakan, pelaku bergegas pergi meninggalkan beberapa korban.

Dunia barat terhenyak dengan tragedi Charlie Hebdo. Aksi penembakan yang dikaitkan dengan ‘balas dendam’ pelaku terhadap pelecehan Nabi Muhammad saw yang kerap ditayangkan tabloid Perancis dalam bentuk kartun ini mengundang banyak spekulasi. Media Barat serta merta menyerang Islam sebagai agama teroris dan mengkampanyekan solidaritas terhadap kebebasan berpendapat. Walhasil, pada hari Minggunya (10/01) lebih dari 3,7 juta orang turun ke jalan sebagai bentuk dukungan dan solidaritas untuk Charlie Hebdo. Sialnya pasca penyerangan, Charlie Hebdo kembali menayangkan kartun Nabi di cover depan majalahnya dengan tulisan “Je Suis Charlie” (Kami adalah Charlie). Bukannya introspeksi malah menjadi-jadi. Parah banget kan?

 

Nabi Dihina Dimana-mana

Kalo nggak jeli dengan gencarnya media Barat yang menyudutkan Islam dalam tragedi Charlie Hebdo, bisa-bisa kita juga ikut-ikutan phobi terhadap Islam. Padahal yang terjadi, nggak seperti diberitakan media Barat. Tragedi Charlie Hebdo adalah akumulasi kekecewaan umat Islam terhadap beberapa media Barat yang kerap menghina Rasul dan Islam.

             Tahun 1989, seorang Salman Rusydi bikin buku berjudul the Satanic Verses alias ayat-ayat setan. Ini nggak ada sangkut pautnya dengan ayat-ayat cinta lho. Isinya menggambarkan al-Qur’an sebagai ayat-ayat Setan. Nggak cuman itu, dia juga melecehkan isteri-isteri Nabi yang mulia. Malah ka’bah yang disucikan oleh umat Islam sepanjang hidup dilukiskan sebagai tempat mesum. Na’udzubillah! Sialnya, hingga kini Salman Rusydi enak-enakan hidup dalam perlindungan pemerintah dan dinas keamanan Inggeris.

             Kemudian pada Juli 1997, seorang wanita Yahudi Israel, Tatyana Suskin (26) membuat dan menyebarkan 20 poster yang menghina Islam dan Nabi Muhammad. Di antaranya ada poster seekor babi yang mengenakan kafiyeh ala Palestina. Di kafiyeh itu tertulis dalam bahasa Inggris dan Arab kata: Muhammad. Dengan pensil di kukunya, babi itu tampak tengah menulis di atas sebuah buku bernama “al-Quran”.

             Tahun 2002, penghinaan kepada Nabi Muhammad dan Islam kembali terjadi seiring dengan munculnya sebuah tulisan jurnalis Nigeria, Isioma Daniel tentang Rasul dan Miss World.

             Tahun 2005, koran Jyllands Posten Denmark memuat beberapa kartun Nabi Muhammad saw. Dalam kartun itu, Rasul saw digambarkan lagi bawa pedang dan menenteng bom. Terus dalam kartun lain, digambarkan Rasul sebagai orang bersorban yang di atasnya terselip bom. Januari 2006, kartun-kartun itu nongol lagi di koran Norwegia dan Prancis. Seolah nggak puas, Februari 2008 lalu kartun yang melecehkan Rasul saw itu dimuat lagi oleh sebelas media massa Denmark dan beberapa harian di Swedia, Belanda, dan Spanyol. Nantangin nih?!

 

Standar Ganda Cermin Islamophobia

Pepatah bilang, nggak ada asap kalo nggak ada api. Begitu juga dengan tragedi Charlie Hebdo. Liat sendiri kan, musuh-musuh Islam berulang kali menghinakan teladan kita Rasulullah saw. Bisa jadi mereka ngerasa, umat Islam adem-ayem aja saat Nabinya dilecehkan. Terlebih lagi, mereka punya senjata kebebasan berekspresi untuk melindungi tingkah provokasinya dimedia.

Kelompok Muslim Islam di Prancis bukan nggak pernah menempuh jalur hukum untuk memperkarakan majalah Charlie Hebdo. Namun, mantan Presiden Prancis Nicholas Sarkozy malah mendukung Charlie Hebdo. Dia membenarkan tindakan majalah itu sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan berbicara. Pada 22 Maret 2007, Pengadilan Prancis menyatakan Charlie Hebdo tidak bersalah. Disitu kadang saya merasa sedih!

Padahal klaim kebebasan berekspresi Barat cuman omong kosong belaka alias punya standar ganda. Kebebasan berekspresi mereka pakai sesuai dengan kepentingannya. Kebebasan berekspresi dianggap kadaluarsa kalo mengganggu Yahudi. Tapi jika menyerang dan menistakan Islam, Nabi Muhammad saw. dan simbol-simbol Islam, kebebasan berekpresi mendadak diperpanjang masa aktifnya sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Buktinya, dalam kasus Dieudonne M’bala, pada Januari tahun lalu, Menteri Dalam Negeri Prancis Manuel Valls melarang M’bala melakukan pertunjukan teater dengan alasan itu anti semit atau mengolok-olok Yahudi. Mahkamah Agung Prancis pun mendukung keputusan itu. Namun, tiga tahun lalu dengan dalih menjaga kebebasan berekspresi, Mahkamah yang sama membebaskan novelis Michel Houellebecq yang menuduh Islam sebagai agama paling bodoh di dunia. Tuh kan!

Ketika mayoritas negeri Islam memprotes dan menuntut Charlie Hebdo menanggalkan karikatur penistaan Nabi saw., dianggap angin lalu. Berbeda pada 2008 lalu ketika salah seorang kartunis Charlie Hebdo, Maurice Sinet, membuat karikatur anak laki-laki Nicholas Sarkozy yang menikahi ahli waris Yahudi karena uang. Karikatur itu tampaknya merendahkan Sarkozy. Maurice Sinet pun dipecat dari majalah Charlie Hebdo. Tuh kan!

Driser, bukannya kita meremehkan serangan yang terjadi Rabu (7/1) lalu itu. Serangan itu jelas nggak bikin masalah penghinaan Nabi saw beres. Cuman sekedar ngingetin aja, agar kita bisa lebih fair melihat tragedi Charlie Hebdo. Inkonsistensi alias standar ganda media barat sering sekali terjadi. Terutama kalo udah nyangkut Islam dan umat Islam. Kondisi ini semakin menunjukkan karakter musuh-musuh Islam seperti diingatkan Allah swt dalam firman-Nya: ”Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (QS. Ali’Imran [3]: 118).

Makanya, percuma kalo kita ngarepin ’kepedulian’ pemerintah negara-negara Eropa untuk menindak tegas mereka yang udah melecehkan Nabi Muhammad saw. Yang ada cuman makan ati. Cape deh!

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 45