DERAP RANTAI EPISODE 24

Majalahdrise.com –  Persaudaraan terasa amat indah dan hangat. Persaudaraan itu menembus sekat-sekat darah dan bangsa yang telah membuat manusia jadi sedemikian egois dan kerdil. Padahal tak ada seorang pun yang bisa memilih darah dan bangsanya. Islam telah menghapuskan persaudaraan hanya karena darah dan bangsa itu, menjadi persaudaraan karena aqidah, karena keyakinan. Siapa pun orangnya, yang mengakui bahwa tak ada dzat yang patut disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala, menjadikan Alquran sebagai petunjuk hidupnya, dan menjadikan Rasulullah Muhammad sebagai suriteladannya, maka dia adalah saudara. Saudara yang wajib dibantu jika dia sedang berada dalam kesulitan, dan harta serta jiwanya wajib dijaga. Mutsana dan Jabal telah ada di hadapan Khalifah dan para sahabat.

“Mutsana dan Jabal, saudaraku,” Khalifah Abu Bakar Shiddiq berseri-seri menyambut Mutsana dan Jabal. Dia rentangkan kedua belah tangannya untuk memeluk kedua saudara seimannya itu.

“Subhanallah walhamdulillah kalian tiba dengan selamat. Semoga Allah selalu melindungi kalian.”

“Barakallahu lakum,” kata Umar bin Khathab, wajahnya berseri-seri. Mereka saling berpelukan dan berjabat tangan. Itulah hal amat berharga yang diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, jika seorang muslim bertemu saudaranya, kemudian saling berjabat tangan, maka dosa-dosanya berguguran di bawah tangan yang sedang berjabat itu.

“Terima kasih banyak,” kata Mutsana.

“Tadi baru saja kami dari rumah Khalifah, tapi ternyata Khalifah sedang keluar.” “Seperti biasa, pemeriksaan rutin,” sahut Abu Bakar. Terlihat gurat-gurat kelelahan terpahat di wajah Khalifah Abu Bakar. Malam itu dia mengenakan serban putih dan mantel putih. Sebatang tongkat menjadi penopang badannya yang telah tua, namun hal itu tak mengurangi wibawanya. Ketenangan dan kebijaksanaan terpancar dari wajahnya, tubuhnya yang kurus tersamarkan oleh pakaiannya yang tebal.

“Kalian pasti lelah, lebih baik kita masuk ke dalam masjid,” Umar mengajak mereka semua. Seorang penjaga masjid bernama Aswan datang menyambut mereka. Dialah yang mengurus unta-unta para tamu itu. Dia pulalah yang melayani kebutuhan orang-orang yang menginap di shuffah. Abu Bakar, Umar, Mutsana, dan Jabal, duduk di bagian dalam masjid Nabawi. Di hadapan mereka telah terhidang makanan dan minuman yang disiapkan oleh Aswan. Dalam limpahan rahmat Allah mereka makan bersama di tengah keheningan malam itu. Jabal terlihat lahap sekali seolah-olah tidak makan selama bertahun-tahun. Selesai makan, Aswan datang kembali untuk merapikan gelas-gelas dan piring-piring. “Alhamdulillah, aku bahagia sekali menyambut kedatangan kalian,” kata Abu Bakar.

“Syukurlah kalian bisa tiba kembali di sini dengan selamat.”

“Alhamdulillah! Setiap misi pasti memiliki risiko dan bahaya tertentu,” tambah Umar.

“Kepulangan kalian memang sudah sepatutnya disambut baik dan disyukuri terlepas bagaimana hasilnya.”

“Terima kasih banyak telah mendoakan kami. Kami berhasil menjalankan misi, dan kami telah berhasil melaksanakan seluruh amanah dari Khalifah,” kata Mutsana, dia tersenyum lebar karena melaporkan sesuatu yang baik.

“Walau pun sebenarnya hampir saja kami gagal,” timpal Jabal.

“Prajurit Persia dan hampir seisi pasar Ubullah mengejar kami. Kalau bukan karena pertolongan Allah dan kesigapan dari orang-orang kita di Ubullah, pastilah kami sudah mendekam di penjara Persia menunggu eksekusi.”

“Wahai Jabal, sudahlah, yang buruk jangan diingat-ingat lagi. Yang penting sekarang kita sudah tiba di Madinah dengan selamat,” kata Mutsana.

“Tak apa-apa, Mutsana, ceritakanlah seluruh proses pelaksanaan misi, jangan hanya ceritakan yang enak-enak saja,” Umar menepuk bahu Mutsana.

“Benar, hal buruk pun sebenarnya penting untuk kita jadikan pelajaran,” Abu Bakar menambahkan.

“Jika Khalifah menambahkan satu hal saja tentang ciri-ciri Aswad, bahwa dia bertubuh kurus, mungkin apa yang terjadi akan sangat berbeda,” Jabal bercerita dengan menggebu-gebu sebagaimana biasa. “Karena ternyata di pasar Ubullah ada seorang pedagang kain yang kondisi wajahnya mirip dengan wajah Aswad, hanya saja tubuh orang itu gemuk. Ditambah lagi seorang anak kecil menipu kami dengan menunjukkan bahwa orang yang gemuk itu adalah Aswad, jadilah kami datang kepada orang yang salah. Tiba-tiba orang itu meneriaki kami sebagai muslim, kami pun dikejar-kejar.”

“Ternyata orang itu adalah saingan bisnis Aswad dan amat membencinya. Dia juga sudah curiga bahwa Aswad adalah muslim, sehingga dia meneriaki kami sebagai muslim karena sedang mencari Aswad,” akhirnya Mutsana ikut bercerita.

“Tapi Alhamdulillah, Aswad dan timnya dengan sigap bergerak dan berhasil menolong kami,” kata Jabal. “Mereka telah berhasil membangun fasilitas rahasia di kota Ubullah yang terdiri dari terowonganterowongan dan jalan-jalan masuk rahasia yang akan memudahkan kita masuk ke kota itu dan menaklukkannya.”

“Kami juga telah menyerahkan surat kecil amanah dari Khalifah, langsung kepada Aswad, dan Aswad sedang mempersiapkan diri untuk melaksanakannya,” kata Mutsana.

“Subhanallah walhamdulillah,” Abu Bakar mengembuskan napasnya sambil tersenyum.

“Semoga Allah memberikan balasan yang banyak kepada kalian atas semua yang telah kalian lakukan.” “Keberhasilan kalian adalah kemajuan besar bagi futuhat (penaklukan) yang akan kita lancarkan kepada Persia,” kata Umar.

“Mengetahui kekuatan musuh dan mengetahui kekuatan kita sendiri adalah salah satu jalan menuju kemenangan. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk meraih kemenangan itu.” Umar bin Khaththab mengenakan serban hijau. Matanya tajam, setajam elang, dan kegigihan serta keteguhannya mengguncangkan singgasana setan, sampai-sampai tak satu setan pun berani dekat-dekat dengan Umar. Tubuhnya masih tegap dan atletis walau usianya telah cukup lanjut. Di tengah-tengah pemerintahan Khilafah Islamiyah yang sedang tumbuh itu, dia menjadi orang penting kedua setelah Khalifah Abu Bakar. Dia menduduki jabatan sebagai Mu’awin Tanfidz, wakil Khalifah untuk urusan pemerintahan.

“Aku ada bersama Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam ketika beliau memberikan perintah rahasia itu kepada Aswad,” Abu Bakar berkisah.

“Ketika aku bertemu dengannya lagi, dia mengatakan bahwa tidaklah sulit untuk menemukannya di pasar Ubullah. Tanya saja kepada sembarang orang di pasar itu tentang siapa pedagang kain yang wajahnya paling buruk, semua orang akan langsung menunjuk kepadanya. Karena itulah aku memberikan satu-satunya ciri itu kepada kalian. Ternyata ada seorang lagi yang wajahnya seperti Aswad dan aku tidak tahu sama sekali.”

“Sebenarnya kalau kami bertanya kepada orang yang tepat mungkin kejadiannya akan lain, Khalifah,” kata Mutsana.

“Kami bertanya kepada seorang anak kecil, dan anak kecil itu menipu kami, dengan gegabah kami langsung saja mengikuti informasi palsu dari anak kecil itu. Kamilah yang kurang cermat dan kurang teliti. Semoga di kemudian hari tidak terjadi lagi, insya Allah.”

“Apa pun yang terjadi, semua itu adalah kehendak Allah. Kita semua telah berusaha keras untuk meraih hasil yang kita harapkan, tapi apapun yang terjadi tetaplah kehendak Allah. Yang harus kita lakukan hanya bersabar dan bersyukur. Sekarang Mutsana dan Jabal telah hadir di sini dengan sehat dan tak kurang suatu apapun, terlebih lagi kalian berhasil menjalankan misi, hal itulah yang harus kita syukuri.” Umar meneduhkan dengan suaranya yang berat dan berwibawa. Mutsana membuka bungkusan tas kain yang ada di dekatnya, yang sedari tadi selalu dijaganya dengan ketat. Dia membuka tas itu dan mengeluarkan isinya, sebuah tas kulit yang terlihat agak tebal.

“Khalifah, inilah yang diserahkan Aswad kepada kami, sebuah laporan lengkap tentang pelaksanaan misi,” katanya.

“Sekarang kami sampaikan amanah ini kepada Khalifah. “Subhanallah walhamdulillah, baiklah,” kata Abu Bakar.

Kebahagiaan terpancar di wajahnya. Bagaimana mungkin dia tidak bahagia jika dikelilingi oleh orangorang yang luarbiasa di tengah-tengah pemerintahannya!

“Tentunya misi untuk kalian belum akan selesai, Mutsana, Jabal. Insya Allah besok aku akan jelaskan misi baru kalian. Kita akan segera lancarkan futuhat kepada Persia untuk mewujudkan apa yang pernah disabdakan Rasulullah dahulu.”

“Tentunya kalian letih karena perjalanan jauh. Beristirahatlah, insya Allah Aswan akan mengurus semua keperluan kalian,” tambah Umar.

“Terima kasih banyak,” kata Mutsana. Tamat

DI MUAT DI MAJALAH REMAJA ISLAM DRISE EDISI 53

PROSTITUSI ARTIS EPISODE 3

Majalahdrise.com –  Gemes. Berita “seksi” terus aja jadi trending topic. Lagi-lagi soal prostitusi artis. Kali ini melibatkan Nikita Mirzani dan Puty Revita yang diduga nyambi jadi pezina komersial. Tapi, si duo artis –yang entah “prestasi” keartisannya apa– itu malah dibebaskan. Cuma ditanya-tanya di Dinas Sosial, habis itu dilepas. Sedangkan dua mucikarinya, Onet dan Ferry sampai tulisan ini dibuat, udah status tersangka. Kita sih gak kaget. Dunia artis emang dekat dengan pergaulan bebas, gaya hidup permisif dan hedonis.

Aktivitas mereka juga nggak jauh-jauh dari hiburan malam. Remang-remang. Bahkan lembah hitam. Emang nggak semua begitu, tapi yang gitu hampir semua. Ini aja baru episode tiga. Sekadar mengingatkan, episode 1 waktu mucikari Robby Abbas ketangkep lagi menjual Amel Alvi. Lalu model pria dewasa Anggita Sari yang kepergok melayani hidung belang di Surabaya. Otak mereka udah diracuni dengan ideologi kapitalisme yang menuhankan materi.

Merasa bahagia kalo punya banyak harta. Apalagi di dunia hiburan. Penampilan nomor satu. Harta pun diburu. Barang musti branded. Pamer foto liburan ke ujung dunia. Nah, untuk membiayai hidupnya yang supermahal itulah, menjual diripun dilakukan. Bayangin aja, konon tarifnya sekali melayani pelanggan bisa mencapai Rp. 65 juta. Wow! Jangan tergiur ya, dear! Amit-amit. Zina itu termasuk dosa besar. Sangat besar. Para wanita yang menjual diri itu, mungkin mereguk kesenangan sesaat di dunia. Tapi kelak di neraka, bakal abadi. Mereka akan digantung bagian dadanya. Na’uzubillahi minzalik.

Tak Pernah Mati

Prostitusi emang nggak pernah mati. Gitu kata yang pesimis. Habis, nggak ada yang bener-bener serius memberantas prostitusi. Cuma dikiiit banget, yang punya nyali menutupnya. Tepatnya, yang masih punya setitik iman. Seperti Walikota Surabaya yang menutup pusat pelacuran terbesar di Asia Tenggara, Gang Dolly. Lalu Pemkot Jambi menutup lokalisasi perzinaan Payo Sigadung (arrahmah.com). Zaman dulu, tahun 1970, lokalisasi pertama di Jakarta, Kramat Tunggak resmi berdiri. Lalu 1999 lokasi itu bisa ditutup. Artinya, sebenernya kalo pemerintah niat, pelacuran itu bisa diberantas. Minimal nggak dilegalisasi. Namun begitu, prostitusi bisa tuntas dibabat jika diterapkan sistem Islam. Soalnya, hanya sistem Islam yang bakal ngasih sanksi berat pada pelaku zina dan semua yang terlibat di dalamnya.

Hukum Sekuler

Saat ini, orang berzina nggak akan dihukum. Menurut hukum sekuler yang tercantum dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP), kedua pezina nggak bisa dipidana kecuali ada yang melaporkan. Yaitu, pihak yang merasa dirugikan. Misal suami atau istri pasangan yang berzina itu. Jadi kalau suka sama suka, ya ga dihukum. Apalagi kalau yang berzina samasama belum nikah, ga ada hukuman sama sekali. Bebas bas bas. Makanya, pasangan pacaran yang kebablasan zina, nggak dihukum, kan? Malah kebanyakan dikawinkan. Hadeuh!

Demikian pula pelacur, dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, dikategorikan korban. Walaupun aslinya secara sah dan meyakinkan, sadar sesadarsadarnya emang niat menjual diri. Mereka nggak dihukum. Makanya, kalo ada kasus pelacuran, yang ditangkap polisi hanya mucikarinya. Ancaman hukumannya juga ringan. Seperti mucikari kasus Amel Alvi kemarin, yakni Robby Abbas, hanya divonis 1 tahun 5 bulan. Bagaimana dengan pemakai jasa atau pelanggan para pelacur itu? Hohoho…aman damai sentosa. Tidak ada delik hukum apapun yang bisa menyentuhnya. Bebas bas bas. Walaupun menurut UU Trafficking katanya bisa dihukum, tapi faktanya belum pernah ada yang dihukum.

Islam Solusinya

 Dalam memberantas kemaksiatan, hukum Islam jelas, tegas, ringkas, preventif dan solutif. Orang berzina, jika sudah menikah dirajam sampai mati. Jadi cukup sekali dia berzina, kan. Udah, langsung dimatikan aja. Biar nggak keenakan terus menerus berzina. Yang akhirnya merebak seks bebas dan penyakit menular seksual. Selesai. Efeknya, orang lain yang mau zina keder. Mikir-mikir dong. Emang mau nyari mati? Nah, kalo belum pernah nikah, okelah nggak langsung dimatikan. Dihukum cambuk aja 100 kali, lalu diasingkan. Dikasih kesempatan tobat.

Maklum, belum pernah merasakan, jadi mungkin memang pas khilaf. Tapi dengan dicambuk di depan umum dan diasingkan, mosok nggak kapok? Kebangetan. Untuk kasus pelacuran, ya sama, dihukumi berzina. Karena kan suka sama suka, walaupun berbayar. Yang cewek suka karena dapat duit, yg cowok suka karena tersalurkan syahwatnya. Ya udah, hukumi sebagai pelaku zina. Dua-duanya: pelacur dan pelanggannya. Mucikarinya?

Sebagai orang yang memperlicin kemaksiatan, dihukum juga dong. Bisa dipenjara 5 tahun dan dijilid. Negara juga kudu membubarkan tempattempat perzinaan. Lebih dari itu, juga musti mencegah mencuatnya syahwat di ruang publik. Negara wajib membredel mediamedia yang menjadikan kepornoan. Mencegah tayangan-tayangan yang mengarahkan pada seks bebas. Melarang warganya mengumbar syahwat.

So, jelas, kan, bagaimana bedanya cara pandang sekuler dan Islam terhadap persoalan prostitusi ini. Sudah waktunya hukum sekuler kapitalis direvisi, diganti dengan hukum berbasis Islam. Bahkan bukan hanya UU-nya, juga sistemnya secara menyeluruh. Apalagi mayoritas umat ini adalah muslim. Wajar saja, kan, kalau maunya diatur dengan ideologi Islam? Katanya mau mati dalam keadaan Islam. Tapi waktu hidup kok menolak diatur dengan aturan Islam? Mikir!(*)

Di muat di majalh remaja islam drise edisi 53

PACAR, KESENANGAN SEMU

Majalahdrise.com – Assalamu “alaikum Wr.Wb. Kak, sejak kecil sy tidak pernah merasakan kasih sayang ayah dan mama, karena mereka telah bercerai. Sejak kecil sy tinggal dengan nenek dan tante. Saya merasa mereka tidak sayang ke sy. Sekarang sy tinggal dan sekolah di Malang. Beberapa hari lalu sy kenal dengan seorang kakak kelas laki-laki yang memberi perhatian lebih pada sy. Ia bilang sy cantik dan menarik (teman-teman sy juga bilang begitu). Saya ingin pacaran agar sy mendapatkan kasih sayang yang lama sy rindukan. Tapi, teman kos sy selalu menghalangi, katanya pacaran dosa. Memang sy beberapa kali ikut juga mentoring diajak teman kos, tapi ngak pa-pa kan hanya sebatas pacaran yang tidak macam – macam. Saya tidak bisa jika disuruh meninggalkan cowok ini…(YN, Bima)

Wa’alaikumussalam Wr.Wb. Dik YN yang baik, Gimana kabar adik? Semoga sehat dan selalu dalam kebaikan. Alhamdulillah, senang bisa bersua meski hanya lewat kata. Dik YN yang baik, setiap orang pasti mengharapkan kasih sayang, terutama dari keluarga. Hanya terkadang tidak semua orang bisa memperolehnya karena beberapa kondisi dalam keluarga. Ketika keinginan tidak seperti yang diharapkan, bukan berarti kenikmatan Allah tidak diberikan pada kita.

Mari merenung atas kenikmatan Allah yang tanpa disadari sangat banyak sekali. Allah senantiasa menyayangi Adik sejak awal di rahim bunda hingga sekarang menginjak remaja. Adik diberi bentuk fisik yang sempurna, bisa bersekolah, diberi kemampuan melalui masamasa sulit tanpa perhatian orang tua dengan menghadirkan nenek dan tante yang juga menyayangi adik, diberi teman yang shalehah yang menyanyangi Adik dan mengajak pada kebaikan, dan insyaAllah masih banyak nikmat Allah lainnya jika kita mau merenungkan lebih dalam.

Seorang muslim akan selalu merasa ada kebaikan dalam setiap kejadian yang menimpanya, jika ia mendapatkan nikmat ia bersyukur dan jika mendapat ujian maka ia bersabar. Dik YN yang baik, Seorang muslim yang baik akan memahami bahwa ia hidup di dunia dengan misi besar yang telah Allah SWT tetapkan, yaitu beribadah kepada Allah dengan mentaati seluruh perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya, sebab ia meyakini bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya selama di muka bumi.

Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk” (QS Al-Isra’: 32).

Pacaran adalah aktivitas yang mendekati zina, dan Allah SWT melarang kita mendekatinya. Ketika seorang muslim mentaati seruan Allah SWT maka ia akan mendapatkan pahala dan kebaikan, termasuk mendapatkan cinta-Nya. Sebaliknya, jika seorang muslim tidak taat terhadap apa yang Allah SWT serukan, maka ia akan mendapatkan kerugian berupa kesempitan hidup, dosa dan kemurkaan-Nya. Dik YN yang baik, Rasa cinta adalah naluri yang dimiliki setiap manusia. Islam memberi panduan bagaimana mengatur naluri ini agar tidak menghantarkan pada perbuatan yang tidak disukai Allah SWT jika memang seorang muslim belum siap menikah.

Jauhilah hal –hal yang bisa memunculkan rasa ini (sinetron, lagu-lagu, bacaan bertema cinta), jangan berinteraksi dengan teman laki-laki tanpa keperluan yang diperbolehkan oleh Islam dan berinteraksilah dengan cara yang syar’i, serta sibukanlah diri dengan aktivitas positif yang berisi kebaikan. Seseorang yang mengajak berpacaran sejatinya ia hanya mengikuti hawa nafsunya, bukan ekspresi cinta sejati. Cinta sejati adalah cinta karena Allah SWT yaitu mencintai seseorang karena keimanannya kepada Allah dan ketaatannya kepada Allah. Mencintai seseorang karena keimanan dan ketakwaannya pada Allah SWT sangat besar pahalanya.

Jika seseorang cinta sejati ke orang lain, maka ia tidak akan mengajaknya untuk bermaksiat (baca pacaran), sebaliknya menginginkan kebaikan pada orang tersebut. Dik YN yang baik, jangan sampai terjerumus pada cinta semu yang akan menjauhkan kita dari cinta Allah SWT kepada kita. Bukankah cinta Allah yang kita harapkan untuk kebaikan dan kabahagiaan kita di dunia dan akhirat? []

Di maut di majalah remaja islam drise edisi 53

Lusiyanti, S.Ag (Ustdzh. Yanti Tanjung) : Dengan Ilmu derajatmu akan di tinggikan

Majalahdrise.com – masa remaja adalah masa yang berapi-api. Masa pencarian jatidiri, gitu kata tukang psikologi. Makanya masa remaja adalah masa yang labil, istilah kamu-kamu: ABG labil. Tapi tahu gak sih? Ternyata kepribadian serta karakter remaja gak bisa dilepaskan dari peran keluarga. Nah, kali ini kita bakal ngulik nih sejauh mana sih peran keluarga di kehidupan seorang remaja. Alhamdulillah, redaksi punya kesempatan ngobrol dengan praktisi dunia parenting jempolan : Bunda Yanti tanjung. Yuk kita intip!

Menurut bunda,gimana kondisi remaja saat ini?

Remaja saat ini kebanyakan lebih matang secara seksual ketimbang kematangan berpikir, juga belum bisa berpikir solutif bagi persoalan hidup mereka. Karenanya ketika remaja dihadapkan pada liberalisasi di semua lini kehidupan khususnya dihadapkan pada pergaulan bebas, remaja tidak mampu membendung naluri seksualnya, sementara berpikirnya masih kanak-kanak sebab remaja belum dianggap manusia dewasa. Demikian pula saat gejolak emosional yang memang sangat mudah tersulut, sementara tidak memiliki pemahaman yang memadai untuk menyelesaikan masalah dan mengendalikan emosi. Maka wajar kalau saat ini permasalahan remaja sangat mengkhawatirkan, seks bebas dimana mana, aborsi, hamil di luar nikah, narkoba, geng motor dsb.

Kalau kondisi remaja masalahnya bejibun kayak gini, apa sih yang salah menurut Bunda?

Ini disebabkan sistem pendidikan kita yang gagal dalam melahirkan generasi sholeh, mulai tataran pendidikan di rumah, di masyarakat hingga pendidikan formal yang dikelola negara. Negara juga gagal untuk memberikan suasana keimanan yang kondusif untuk melindungi remaja. Di Sisi lain ada sekelompok remaja yang sudah menyadari kerusakan ini sehingga mereka membentengi diri dengan taqwa, menyibukkan diri dalam kajian Islam dan dakwah sehingga mereka bangkit dalam perubahan hakiki. Kepada remaja inilah kita berharap lahir generasigenerasi yang siap memimpin umat.

Menurut bunda,gimana peran keluarga dalam mengarahkan potensi remaja yang berkepribadian Islam?

Peran keluarga dalam mewujudkan kepribadian Islam anak sangatlah menentukan, wa bil khusus ibu yang akan melejitkan seluruh potensi anak dalam rangka untuk taat pada Allah. Setidaknya ada dua fungsi keluarga dalam mewujudkan remaja yang tangguh,

pertama fungsi strategis, dimana ortu terlibat secara langsung mendidik dan mengarahkan remaja untuk membentuk kepribadian islam agar remaja tahan konflik dan berpikir solutif mengahadapi berbagai persoalan remaja. Ortu meletakkan landasan aqidah dalam berpikir remaja dan meletakkan standar halal dan haram dalam bertindak, artinya remaja senantiasa menjadikan Islam sebagai satusatunya petunjuk hidup untuk mendapatkan kebahagiaan mereka baik di dunia maupun akhirat.

Kedua, fungsi politis, dimana ortu menjadikan remaja terlibat langsung dalam perkara dakwah,amar ma’ruf nahyi munkar untuk melakukan perubahan di lingkungan remaja agar tatanan kehidupan Islam dapat terwujud secara kaafah yang akan menggantikan sistem Kapitalisme Liberalisme yang terbukti sudah merusak remaja. Maka remaja yang dididik dengan baik dalam keluarga, kelak akan menjadi remaja yang siap berhadapan dengan zaman.

Gimana nih dg persepsi remaja yang terlanjur menganggap bahwa Islam menjadikan kita gak gaul,bisa-bisa kembali ke jaman batu dan udah terlanjur phobi dengan Islam?

Justru sebenarnya saat ini remaja keren itu adalah remaja yang melek Islam, walau gak disebut “gak gaul”. Apa sih yang mereka sebut dengan gaya gaul?, paling juga mengarah kepada pergaulan bebas, pergaulan remaja tanpa aturan, remaja pacaran , remaja seks bebas dsb. Saya kira bila gak gaulnya dalam pandangan seperti ini, gak apalah disebut gak gaul juga, remaja muslimah jangan termakan propaganda. Menjadi remaja ngaji, remaja dakwah tentunya status yang paling bergengsi saat ini bagi remaja, karena dengan ilmu, Allah akan meninggikan derajat kemuliaan remaja, dengan dakwah remaja mampu merubah.

Bunda,gimana jika seandainya faktanya gini,seorang remaja memiliki pemahaman Islam yg bagus. Namun keluarganya broken Home,bahkan eneg dengan anaknya yang ikut pengajian. Apa yang harus dilakukan,agar keluarga mendukung anaknya aktif dengan kegiatan Islam tsb?

Remaja ngaji itu harus tangguh, tidak menghindar dari masalah tetapi menghadapi masalah dengan ikhlas. Remaja seperti ini tentunya sudah tahu kalau berbakti kepada ortu adalah kewajiban. Buktikan kalau remaja ngaji itu anak yang sholeh, yang rajin membantu ibu di dapur, mencuci, merapihkan rumah dsb. Rajin membantu ayah apabila diminta bantuan, menunjukkan prestasi akademik dan prestasi lainnya. Tekun dalam belajar dan tidak pernah mengecewakan ortu, berikutnya rajin mendoakan mereka. Dengan seperti ini insya Allah mampu meluluhkan perasaan ortu dan memahami dampak positif dari ngaji yakni kesolehan anaknya. Intinya remaja harus tetap dalam koridor syariah islam dalam memproses ortu. Dengan demikian Allah pun berkenan melembutkan hati ortu untuk melepaskan dengan rela anaknya ngaji dan dakwah

Ok,yang terakhir nih Bun,mohon beri pesan kepada seluruh pembaca Drise di nusantara

Pesan saya kepada remaja, hendaklah terus mendalami ilmu,khususnya ilmu Al-Qur’an, bahasa arob dan tsaqofah Islam, karena dengan itu remaja bisa memahami Islam dengan benar sehingga remaja mampu berpikir solutif dan ideologis, berdiri kokoh di hadapan ssemua persoalan remaja. Berikutnya, bentengi diri dengan pertemanan yang bisa menguatkan aqidah, mensuasanakan keimanan dengan jama’ah dakwah. Kepribadian Islam yang berpengaruh akan terbentuk dari pensuasanaan tersebut, sehingga akan menjadi remaja sebagai subjek perubah,bukan objek yang di rubah. [Juan]

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 53