THE REAL MUSLIM STYLE Majalah DRISE edisi #62 November 2016

*Trend remaja alay, ababil, dan ingin serba instan sudah tamat dan ketinggalan zaman.*

*Ini saatnya menunjukkan jati diri kita yaitu sebagai remaja muslim pengukir sejarah, tonggak perubahan, dan pemimpin masa depan This is The Real Style.*

Menu lainnya di edisi Majalah Drise kali ini:
*The Most* : The Greatest Pirate
*Interview* : bersama, Ust Dede Tisna
*Writerprener*: Asyiknya Fiksi Sejarah
*Liputan khusus*: KHAT, gaya baru seni islami

Ayooo buruan sebelum kahabisan! Dapatkan di agen terdekat di kotamu ☑

No automatic alt text available.

Flirting style ? Amit-amit !

Majalahdrise.com – Kata orang, bingung juga kalau lagi  ngincar gebetan. Kayaknya semua  usaha sudah dilakukan, Tapi kok,  doski masih kalem melempem, muka datar  gitu ya kalau berpapasan. Kalau kamu  ketemu sama konselor cinta gadungan,  pengikut aliran sesat –dan menyesatkan-bernama pacaran, kamu pasti akan  mendapatkan petuah cinta sambil  mengatakan  bahwa kamu enggak punya  jiwa seni, gals. Jiwa seni buat flirting, sambil  dianya nyambung

“let’s rock your flirting  style, Noonah…!”. Hah? Flirting style? Apaan  tuh?

Aih-aih… pura-pura gak tahu. Itu lho,  gaya para cewek yang kudu bin wajib  mengeluarkan senjatanya buat dapetin  gebetannya. Jangan bayangin senjatanya  pisau dapur ya? Maksudnya yang Nunjukin  wajah ama body language yang digenit-genitin gitu lho say. Style ngomong yang  digenit-genitin. Pura-pura jatuhin buku di  koridor perpus padahal si dia cuek aja  ngeliat buku kamu jatuh. Kamu acting lari  kayak dipilem-pilem, niatnya nubruk  gebetan sambil slow motion dan tiba-tiba  aja entah darimana datangnya bunga-bunga  berjatuhan.

Romantis pisaan. Yang  sebelumnya aktif nyolek, komen plus  stalking di medsos, lebih dinaikin tingkat  keaktifannya menjadi hiperaktif. Yang  tadinya mandi cuman senin kamis jadi  pengen mandi tiap jam biar selalu fresh.  Jerawat yang nongol dikiiit aja ampuh  ngebuat sutress sampai ngumpet kalau ketemu gebetan.

Pokoknya kudu kelihatan  perfect!. Itu semua buat apa? Buat narik  perhatian sang gebetan. Nah kira-kira  seperti itulah gambaran flirting style itu.

Flirting, penting gak sih?

Gak ada penting-pentingnya  pemirsah! Beneran. Kalau ngulik dunia  remaja, ternyata flirting ini menduduki  salah satu peringkat teratas di dunia  pergebetan cewek.  Parahnya, dari sekian  banyak jurus flirting itu, gak ada satupun  yang gak malu-maluin. Semua jurusnya  malu-maluin. Kalau mau ngulik lebih dalam  jurus-jurus flirting itu, sebagai muslimah  lumayan nurunin iffah (kehormatan)  seorang cewek lho. Gak percaya??? Menurut sebuah penelitian, kita  dapat menarik perhatian cowok dengan  menatap matanya selama lima detik  tanpa berkedip. Mata juga gak hanya  sekedar memandang, tapi kudu dengan  tatapan penuh perangkap. Deuh kebayang  deh  betapa memalukannya adegan  tersebut.

Uniknya, ini dikatakan sebagai  prestasi tersendiri jika kamu mampu  melakukannya. Udah gituh, buat narik  perhatian gebetan, kamu kudu rajin  merhatiin dia sambil kamunya rajin juga  nyari perhatiannya, pura-pura minta  bantuan padahal kamu sendiri bisa  mengerjakan sesuatu itu, sampai jurus  jinak-jinak merpati yang sok jual mahal.

Yang ada, kamu justru disibukkan  dengan hal-hal yang gak penting kayak gini  dan bisa-bisa membuat nilai semua mata pelajaran kamu anjlok kayak rupiah di  hantam dolar. Ups  …!. Habis, sebagian  waktu dan pikiran kamu bakal tersita cuman  sekedar mikirin strategi apa lagi buat  ngedapetin gebetan.  Belum lagi, apa yang  kamu lakukan itu semua palsu. Perhatiannya  palsu, sok minta bantuan pake acara bo’ong  segala, pengen keliatan fresh padahal  aslinya gak se-fresh yang terlihat. Pokoknya  palsu 24 karat!

Jadi, kudu gimana dong?

Gals, Cinta itu  sebentuk rasa yang  senantiasa menuntut dua hal : binar dan  nyeri. Ketika menohok tepat jantung,  seseorang gak akan melihat dua sisinya  dengan jelas. Ketika indahnya datang, sisi  gelapnya membutakan. Ketika sakitnya  datang, sisi indahnya bikin meriang. Kalau  lagi berbunga-bunga, energi kita bisa  melesak ribuan watt. Tapi kalau dicuekin  gebetan, dunia serasa runtuh!

Nah, untuk hal ini,Islam udah punya  Rambu-rambu yang kudu bin wajib  diperhatikan oleh pria dan wanita dalam  berinteraksi. Tanpa kamu harus  bermanuver dengan flirting style yang bikin  mual. Apa aja tuh rambu-rambu yang ada  dalam Islam?? Kamu kudu pantengin nih  point-point berikut ini :

1 Islam telah memerintahkan pria dan  wanita agar menundukkan  pandangannya serta memelihara  kemaluannya.

2 Dalam Islam, diperintahkan bagi  mereka yang karena kondisi tertentu  belum berkemungkinan untuk menikah  –termasuk kamu-kamu nih-, agar mereka  memiliki sifat ‘iffah (senantiasa menjaga  kehormatan) dan mampu mengendalikan  diri. Nah, ini dia nih… kalau emang belum  siap nikah, gak usah menempuh jalan genit  untuk menjalin hubungan ilegal bernama  pacaran. Tetep jaga kehormatan kamu.  Syara’ juga memerintahkan mereka yang  belum mampu menikah ini agar berpuasa.

3 Islam memerintahkan kepada kaum  wanita agar memiliki kesopanan dan  mengenakan pakaian yang sempurna di  kehidupan umum.  Catet nih, gak hanya  sikap kudu dijaga, pakaian juga nunjukin  keiffahan kamu lho. Berperilaku genit itu  udah jelas gak sopan.

4 Selain itu, Islam juga mengatur  beberapa hal yakni: a.  Islam melarang pria dan wanita untuk  berkhalwat (berdua-duaan) satu sama  lain. Inget, berduaan aja gak boleh yaa.  Kalau tetep gigih buat dapetin gebetan,  alamat kamu pengen ngajakin doski  berduaan. Masak pacaran  berombongan? Gak ada kan pacaran  berombongan? Emang mau pengajian?

Islam melarang kaum wanita bertabarruj (berhias dihadapan lelaki asing). Kudu  bin wajib gak tebar pesona baik dengan  tatapan genit, body language sampai  pakaian kamu.    Nah, banyak bingitz kan rambu-rambu interaksi dengan lawan jenis dalam  Islam?. Jauhhh banget dengan flirting style  tadi. Pokoknya, Gak perlu kamu kotori  dengan petuah yang bikin kamu  berperilaku jijay nan genit ke lawan jenis.  Bikin mual tau gak?. So, flirting style?  Idihhh, amit-amit!. (Juanmartin)

di muat di majalah remaja islam drise edisi 51

OLOK-OLOKAN

Majalahdrise.com – Beberapa waktu yang lalu kan  sempat ramai perbincangan  masalah mutu beberapa tayangan  TV. Mulai dari proses tayangan yang gak  mendidik, lebih banyak mengekspos gaya  cowok yang keperempuan-perempuanan,  sampai lawakan yang lebih  mengedepankan olok-olokan,maupun  celaan yang dibuat-buat biar terkesan  “lucu”.

Lucu yang dipaksakan. Bahkan  sebuah stasiun TV sempat bermasalah  karena dalam tayangan lawakan di salah  satu programnya, bermuatan olok-olokan  yang dimaksudkan sebagai candaan  dengan meniru-niru cara para ustadz  menyampaikan ceramahnya. Terang aja ini  menuai protes. Masak kalimat-kalimat  nasihat dijadikan bahan olok-olokan  cuman sekedar mengharapkan kesan lucu?  Gak hanya tayangan di layar kaca  aja yang mengekspos candaan yang berisi  olok-olokan.

Dalam pergaulan sehari-hari,  bahkan udah jadi sesuatu yang biasa tuh,  saling mengolok-olok, hingga saling  memanggil dengan julukan-julukan yang  memiliki makna yang gak baik. Bahkan  udah jadi istilah keseharian dalam  pergaulan remaja.  Seolah-olah kalau gak  kayak gituh, gak gaul, gitu lho. Apa ukuran  gaul itu emang kudu saling olok ya?  Wah,ancur juga tuh. Apalagi kalau udah di  adopsi sebagai menu keseharian dalam  bergaul. Sama aja memancing pertikaian.  Hati-hati!

Islam gak mengenal Olok-olokan Dalam sebuah riwayat disebutkan  bahwa pada suatu perjalanan perang (yaitu  perang Tabuk), ada orang di dalam  rombongan tersebut yang berkata,

”Kami  tidak pernah melihat seperti para ahli baca  Al-Qur’an ini (yaitu Rasulullah SAW dan  para sahabat beliau), kecuali sebagai orang  yang paling buncit perutnya, yang paling  dusta ucapannya dan yang paling pengecut  tatkala bertemu dengan musuh.”

Ini  bahasa  yang dibuat berkebalikan dengan  fakta, dengan maksud sebagai bahan  candaan. Mendengar hal ini, Auf bin Malik  RA berkata kepada orang tersebut, ”Engkau  dusta, kamu ini munafik. Akan aku  laporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah  SAW.”  Maka Auf bin Malik radhiyallaahu  ‘anhu pun pergi menghadap Rasulullah  SAW.

Namun sebelum Auf sampai, wahyu  telah turun kepada beliau shollallohu ‘alaihi  wa sallam (tentang  peristiwa itu).  Kemudian orang  yang bersendau  gurau dengan  menjadikan  Rasulullah SAW  sebagai bahan  bercanda,  mendatangi  Rasulullah yang  saat itu sudah berada di atas untanya.  Orang tadi berkata,  ”Wahai Rosululloh, kami  tadi hanyalah bersendau  gurau, kami lakukan itu  hanyalah untuk menghilangkan kepenatan  dalam perjalanan  sebagaimana hal ini  dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam  perjalanan!” Ibnu Umar (salah  seorang sahabat Nabi  shollallohu ‘alaihi wa sallam yang  berada di dalam rombongan) bercerita,

”Sepertinya aku melihat ia berpegangan  pada tali pelana unta Rasululloh sedangkan  kakinya tersandung-sandung batu sembari  mengatakan, ‘Kami tadi hanyalah  bersendau gurau dan bermain-main saja.’

Kemudian Rasulullah berkata kepadanya  (dengan membacakan firman Allah),  ”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan  Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak  usah kamu minta maaf, karena kamu telah  kafir sesudah beriman.” (At-Taubah: 65-66).

Beliau mengucapkan itu tanpa berpaling  kepada orang tersebut dan beliau juga tidak  bersabda lebih dari itu.” (HR.Ibnu Abi Hatim  dengan sanad yang hasan).  Akhlak dalam bergaul di kehidupan  sehari-hari amat di perhatikan dalam Islam,  Sob. Jadi apa yang kita gunakan buat  melengkapi urusan pergaulan kita, kudu  menjadi perhatian. Termasuk dalam  masalah olok-olokan dan gelar yang justru  bermakna  negatif.  Agama Islam  telah  mengatur  bagaimana  mempergun akan nikmat  yang agung  berupa lisan  ini.  Rasulullah  SAW bersabda, “Barang siapa yang beriman  kepada Allah dan hari Akhir hendaklah ia  berkata yang baik atau diam.”. Deuh,  dalem banget ya? Sob,saat ini, emang mudah ya  kita  menemukan orang yang ngomong tapi  gak mikir dulu.

Imam Syafi’i sendiri  berkata, “apabila seseorang ingin  berbicara maka hendaklah ia  memikirkannya terlebih dahulu. Apabila  telah jelas baginya bahwa ucapannya  tersebut tidak berbahaya, maka  berbicaralah. Apabila dalam ucapan  tersebut ternyata mengandung bahaya  atau masih ragu-ragu (apakah berbahaya  atau tidak), hendaklah ia menahan  ucapannya. Jadi, harap diperhatikan ya  pemirsah sekalian, perkataan yang baik itu  akan lebih memberi kesan ketimbang  mengeluarkan olok-olokan.

Kalau gak, ya  mending diem. Ini adalah ajaran Islam  yang mengedepankan adab dalam  berinteraksi. Mengawetkan ukhuwah, dan  menjaga kelanggengan persahabatan.  Jangan hiasi persahabatan kita, dengan  ucapan kasar, cacian, makian serta olok-olokan. Inget lho,  “Seorang muslim itu  adalah seseorang yang muslim lainnya   merasa selamat dari lisan dan tangannya.”  (HR. Al-Bukhari & Abu Dawud).  [Juanmartin]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 51

Writer Betwen Bookaholic And Biblioholic

Majalahdrise.com – D’Riser, edisi kali ini kita masih mo  ngebahas soal penulis dan buku  juga. Kita mo ngebahas soal penulis  di antara bookaholic dan biblioholic.  Cekidot….! Kita mulai dari definisi dulu ya.  Bookaholic itu berasal dari dua kata, “book”  yang artinya buku ato kitab, and kata “holic”,  kata itu pun berasal dari kata “alcoholic” yang  maknanya pecandu alkohol alias pemabuk  berat. Waduh! Eits, jangan paranoid dulu ya.  Ternyata dari asal dua kata tadi, bookaholic  maknanya adalah pecandu buku alias  penggemar berat buku, dia seperti ga bisa  hidup tanpa buku.

Waouw! Trus, kalo biblioholic itu berasal dari  kata “bibliotheque” yang artinya  perpustakaan, dengan diksi “holic” tadi. So,  jika kedua kata tadi digabungkan maka  maknanya menjadi pecandu perpustakaan  ato penggemar berat perpustakaan. Nah,  beda banget, kan, dengan istilah bibliomania  yang udah kita bahas di edisi D’Rise  sebelumnya?! Bibliomania itu maknanya  pecandu berat buku! Sedangkan biblioholic  hanya sekadar penggemar berat, gak sampai  jadi maniac ato nyandu berat.  Nah, seorang penulis pun kudu punya  tabiat asyik jadi seorang bookaholic and  biblioholic tadi. Apalagi bagi kamu-kamu  yang mo ngejadiin aktivitas nulis ini ga  sekadar hobi, tapi bentuk aktualisasi diri  sekaligus tambang ngeraih rizki, maka  bookaholic dan biblioholic ini jadi harga mati!  Catet! Oya, Saya mo ngutip tulisannya  Tomothy W.Rybak dalam bukunya The Book  That Shape His Life, dia bilang,

“Hitler read  almost one book per night in his chair while  drinking tea”. Rybak cerita, bahwa Adolf Hitler  adalah seorang bookaholic dan biblioholic.  Sepanjang hidupnya, Hitler banyak baca  buku plus sering menyambangi banyak  perpustakaan. Bahkan, ideolog fasisme  Jerman ini telah mengoleksi 160.000 buku  di perpustakaan pribadinya. T.O.P.B.G.T.lah! Dari hasil kegemaran Hitler membaca  dan mengoleksi buku itu, Sang Fuhrer  berhasil menyusun kitab injilnya Kaum Nazi,  Mein Kampf yang kini tercatat sebagai buku  super mega bestseller di dunia, melampaui  penjualan bible sekalipun! Buku karya Hitler  ini menguraikan visi politiknya, superioritas  bangsanya atas dunia, sekaligus ambisinya  membangun the third reich alias imperium  ketiga dunia, sehingga banyak orang  mengatakan bahwa Mein Kampf-nya ini  sebagai satanic bible! Waduh… gawat  banget, ya?!

Hadeuh, contoh bookaholic dan  biblioholic tadi sangar bin sadis, ya? Oke,  deh, kini saya mo ngasi contoh yang softly  tapi tetap keren. D’Riser tahu Syaikh  Nashiruddin al-Albani? Penulis dan  pentakhrij kitab-kitab hadits, sekaligus  muhaditsin ini adalah seorang bookaholic  dan biblioholic juga. Profesinya sebagai  tukang servis jam tidak menghalangi hobinya pada buku. Sepulang dari  pekerjaannya dia kerap singgah ke  perpustakaan untuk sekadar meminjam buku  ato mengembalikan buku yang telah  dilahapnya.  Di waktu senggangnya pun, Syaikh al-Albani lebih sering menghabiskan waktunya  untuk membaca dan menyalin kitab di  perpustakaan.

Bahkan saking seringnya dia  datang ke perpustakaan, Syaikh al-Albani  dititipi kunci perpustakaan agar dia lebih  leluasa datang ke sana, kapan pun dia mau.  Hasilnya? Syaikh Nashiruddin al-Albany berhasil  menyusun banyak kitab dan kutaib, di  antaranya yang populer adalah Salasilah Hadits  Dhoif wal Maudhu dan as-Sifah Sholah an-Nabiy.  Contoh lainnya, kamu tahu Syaikh  Taqiyuddin an-Nabhaniy? Pendiri dan ideolog  Hizbut Tahrir ini terkategori seorang bookaholic  dan biblioholic juga lho.

Di tengah  kesibukannya berdakwah membina umat dan  mengorganisir partainya di seluruh dunia,  Syaikh Taqi masih sempat menghabiskan lebih  dari 21.000 kitab yang dibaca sepanjang  hidupnya, baik kitab-kitab di perpustakaan  maupun yang disimpannya. Dari  kegemarannya membaca buku ini, Syaikh yang  pernah menjabat qadhi terkemuka di  mahkamah syari’ah al-Quds, Palestina ini  berhasil menyusun ratusan kitab, kutaib dan  nasyrah syar’iyah. Kini, sebagian besar kitab  yang ditulisnya itu, menjadi rujukan utama  partai politik Islam yang didirikannya. Mantap!  Nah, terbukti kan, tabiat bookaholic dan  biblioholic itu emang kudu dimiliki seorang  penulis.

Kalo kamu gada minat sama buku and  perpustakaan, hidup aja tuh kayak Si Tarzan  sama sekawanan gorila di hutan sana! Mereka  pasti ga minat sama buku, apalagi  menyambangi perpustakaan! Halah!

di muat di majalah remaja islam drise edisi 51