Anak Baru Di kelas Sebelah

“Adiiiittttt!”

 Tami berlari kecil mengejar Adit. Adit menghentikan langkah lalu membalikkan badan. Tak berapa lama, Tami tiba dihadapannya dengan nafas tak beraturan. “Lu kenapa sampai segitunya? Kangen ama gue ya?” ujar Adit.

Tami segera mensejajarkan langkahnya dengan Adit. “Dit, lu tau gak?di kelas sebelah ada anak baru!”, suara Tami terdengar penuh semangat. Full power. Wajahnya sumringah riang gembira. “Trus?”, Adit bertanya singkat, mereka berjalan cepat memasuki koridor sekolah.  “Yang ini special, Dit” “Special pakai telor?” ujar Adit  cuek. Keduanya memasuki kelas. Tami  senyam-senyum sementara Adit cemberut “Lu kenapa sih? Genit gituh?”

 “Hehehe” Tami hanya terkekeh lalu  menaruh tasnya. Belum sempat Ia membuka pembicaraan, dari arah pintu terdengar suara Rajib yang kerap di sapa Ajibonk. Si lelaki tulang lunak yang membuat Adit dan Tami serempak menoleh.

“Hey guys…. Apa kabar semua? Semoga hari ini ceriah ya. Semoga Pak Karim diberkahi wajah sumringah pas ngajar matematik hihihi” Rajib menaruh tasnya dengan gemulai, lalu menyambung sapaan paginya, khas Ajibonk “Kalian udah liat status gue hari ini, Cyiiin?”, mata Rajib menyapu kelas dengan genit “ Tadaaaaa….!!!” Ia memperlihatkan sebuah pic yang baru di uploadnya”ni foto  gue ama anak baru di kelas sebelah hihihi keren bo’. Ni juga butuh perjuangan. Datar banget ekspresinya ya?” Tami melotot ke arah Ajibonk.

“Hey, ajibonk. Lu malu-maluin aja  deh. Gue yakin, anak kelas sebelah itu gak rela berfoto ama lu. Jeruk minum jeruk”, teriak Tami “Hihihi biarin aja, yang penting, gue punya pic di pagi ini. Lu jangan sirik ya, Tam”, Ajibonk melirik genit kearah Tami.

 “Ih, enak ajah” Tami memalingkan wajah dari  Ajibonk. Diam-diam Ia memikirkan gimana caranya ngedapetin anak baru di kelas sebelah? Demam anak baru yang bernama Romi sepertinya benar-benar melanda sebagian kaum Hawa di SMA Insan Taqwa. Tak terkecuali Tami, Ia seperti berlomba untuk mendapatkan perhatian Romi. Uniknya Romi kalem aja.

“Lu tau gak, Dit, Nomer handphone  si Romi udah gue dapet”, Tami berucap dengan riang. Jam istrahat telah berlangsung beberapa menit yang lalu. Keduanya sedang mengisi kampung tengah di kantin Bu Sri.  “Romi siapa yah?” Adit balik bertanya “Itu lho, anak baru di kelas sebelah” “Ooohhh” “Onaknya hebat lho, Dit”, mata  Tami berbinar, menyimpan segumpal kekaguman. Adit hanya menaikkan kedua  alisnya “Romi itu pindahan dari Bandung.  Selain pintar, dianya juga oke punya”  “Oya?”, Adit menyeruput  minumnya “Romi tu keluarga pebisnis. Lihat  aja, kendaraan si Romi, mentereng gitu, Dit”, raut Tami bersemangat. “Oalaaahhh… lu ngincar si Romi karena kekayaan orangtuanya gituh? Basi!”, Adit menepiskan tangan ke udara. Tami manyun.

“Lu gak ngedukung gue, Dit?” “Mau ngasih dukungan apa? Ketik  Tami spasi Romi gituh?”, Adit mendelik ke arah Tami”gue angkat tangan dengan yang namanya pacaran. Illegal”, sahut Adit. Tami terdiam. “Mending lu ikut tuh, kegiatan Rohis hari minggu ini. Gue di ajak Oji. Saatnya berhijrah, jangan nunggu nanti, karena mati, ga nunggu nanti. Yuk ah!”, Adit bediri, bergegas kearah kasir di ikuti Tami yang masih terdiam. Hm, ternyata si Oji, sepupu Adit yang dedengkot Rohis putra itu berhasil ngubah pandangan Adit tentang pergaulan.  

***

Tami menekan keypad ponselnya. Ia berulang kali melakukan hal yang sama dengan hati deg-degan. Tami menghela  nafas dalam-dalam dan…hm, kali ini Ia  menempelkan ponsel ke telinganya. Beberapa detik menunggu, nomor yang dituju masih belum menjawab. Ffiuhhh….ia menghela nafas sekali lagi lalu mengulang hal yang sama, kali ini disertai ikrar dalam hati, jika masih gak diangkat, Ia gak akan menghubungi nomor itu, setidaknya untuk hari ini. Sekali lagi, Ia menekan tombol di layar ponsel, nomor yang dituju kembali berbunyi…satu dua tiga detik dan… “Halo, Assalaamu’alaykum warahmatullaah” Wuishhhhh gelombang udara dingin merambati Tami. Suara sopran itu tak lain adalah milik Romi.

 “Halo?”, Romi kembali mengulang ucapannya “Ha…ha..lo?”, Tami sedikit tergagap. “Ni siapa ya?” “E..ehh… Rom, ini gue…Tami”,  hadeuhhh gue ngomong kayak keselek geeenee seehhh, Tami mendelik sendiri “Tami siapa?” Tami menepuk jidat “Tami anak kelas XIB. Gue…gue  tetangga kelas lu”, Tami berusaha menjawab dengan suara senormal mungkin. “Ooh… ada yang bisa saya bantu?” Deuh…Romi kok datar gini sih… “Gue…em…mmmhhh…gue denger  lu pinter matematik…gue mau pinjam catatan!”, Tami mengernyitkan dahi, aduh ni alasan apaan sih? “Catatan? Pembahasan apa ya?” What?  Iya, tentang apa yah???  Adeuh ngebayangin matematika aja Tami udah mual. Tami terlonjak. Segera mencari buku matematika di rak buku “Halo?”, suara Romi terdengar kembali “Eh…i..iya ntar nih lagi nyari buku cat..eh… bukan enggg.. integral dan  diferensial!” seru Tami semangat.

“Oh, iya boleh. Ke kelas aja besok”, sahut Romi “Boleh?? Beneran?”, Tami kian bahagia “Boleh. Ada lagi?” “Eng…engggakk…” “Ya udah wassalaamu’alaykum  warahmatullaah”, Romi menutup pembicaraan. Tami masih terpaku. Ia seperti  kesetrum . Detik selanjutnya, Ia melompat kegirangan,jingkarakan seperti anak kecil.

***

 Adit tergesah-gesah memasuki sekolah. Sesekali Ia membetulkan letak kerudungnya. Selama ini, Ia hanya memakai kerudung bergo mini  plus celana jeans. Kali ini ada rasa yang beda memakai kerudung lebar. Ia berhenti di parkiran sekolah, sambil melihat kebawah, ke ujung gamis. Ia menarik gamisnya kesamping kiri dan kanan, rasa tidak pede menjalarinya.

Ia menuju sebuah mobil dan mulai memperbaiki letak kerudung sambil melihat bayangannya pada kaca mobil.  Ah, terlihat baik-baik saja. Namun perasaannya masih kurang nyaman. Ia mematut-matut wajah di kaca mobil. Berdiri tegak kemudian memperbaiki letak brosnya. Ia memutar tubuhnya, melihat bayangannya dari arah samping.

Ia memutar tubuhnya sekali lagi, hmmm lumayan baguslah.  Adit senyum-senyum sendiri.  Tepat pada saat itu, kaca mobil diturunkan, seseorang menengok keluar memandangi Adit yang membelalak. Wajah lelaki itu datar. Adit segera menutupi wajah dengan kedua tangannya, secepat itu pula Ia membalikkan tubuh.

Lelaki tadi terdengar keluar lalu menutup pintu mobil. Adit terdiam di tempat. Ia hanya mendengar suara sepatu yang beradu dengan kerikil jalanan. Detik selanjutnya, Ia segera mengambil langkah seribu. Tak lagi diperdulikan letak kerudungnya. Satu yang di inginkannya, segera bertemu Ika dan mengikuti acara.  Setelah cukup jauh meninggalkan parkiran, Ia mengeluarkan ponsel, mencari nomor Ika dan segera menguhubunginya.  

“Assalaamu’alaykum? Ka?”, Adit membuka pembicaraan sambil memberanikan diri menengok ke belakang. Wishhh Alhamdulillah gak ada orang. Ia memperlambat langkah “Ya, wa’alaykumsalam warahmatullaah…lu dimana,Dit?”, sahut Ika “Gue menuju aula” “Ok, sip. Buruan ya”  “Iya”, Adit buru-buru menaiki tangga menuju aula. _

 Acara yang berlangsung setengah hari itu emang TOP. Adit puas dengan training berikut cara trainer memaparkan materinya. Usai acara, Adit mencari Oji. Ia berniat meng-copy materi training hari ini. Adit celingukan mencari Oji, akhirnya Ia melihat Oji sedang membereskan kursi bersama panitia.  “Ji!”,Oji menoleh ke arahnya. Adit segera mendekati Oji dan menyodorkan hard disc miliknya,“nih, copyin materi tadi dong” “Oh, ok sip”, Oji mengambil hard disc tersebut  “gue ke bawah ya, mau sholat. Lu balik bareng siapa?” “Di jemput Papa. Eh nih Papa telepon”, Adit melirik ponselnya “Ya udah gue duluan”, Oji bergegas meninggalkan Adit yang hanya mengangguk sekilas sembari menerima telepon.

“Ya,Pa. Adit ke bawah” Adit bergegas menuruni tangga, Saking terburuburu, Adit nyaris menubruk seseorang.  Begitu mendongak, mata Adit membelalak. Ia segera berlalu dan kembali mengambil langkah seribu. Ya ampun! Cowok itu kok  jadi hantu hari ini??. Tadi Pagi dimulai dengan peristiwa memalukan, sekarang  nyaris saja Adit mempermalukan diri sendiri.

“Eh, Dit, acara Rohis kemarin gimana?”, Tami memasang wajah penuh minat. Adit hendak memulai cerita, namun urung karena tiba-tiba Ia menangkap bayangan seseorang yang dikenalnya, berdiri di depan pintu, sedang berbicara dengan Dion, teman sekelas Adit. Tami ikut- ikutan menoleh ke pintu. Matanya berbinar terang “Hey! Rom. Kebetulan, nih gue mau balikin buku lu. Kemarin lupa, sorry ya”, Tami bergegas berdiri menyambut Romi yang menoleh kea rah Tami.

“Ng…saya nyari sepupu Oji. Katanya namanya Adit” “Oh…Adit?”, Tami mengernyitkan dahi lalu menoleh ke kursi Adit. “lho,Adit mana ya?”, gumamnya “Kenal Adit kan?” “Tentu saja”, Tami menganggguk  cepat “Ini hardisc Adit. Kemarin dititipin  ke Oji, minta di copyin materi” Tami mengernyitkan dahi “Materi apaan ya?” “Training Rohis kemarin”, Ucap  Romi sambil menyodorkan sebuah hardisc kea rah Tami. Tami segera mengambil hardisk tersebut.  “Nih buku lu, Rom”, Tami menyodorkan buku Romi “Oh iya,makasih ya”, usai berucap, Romi segera berjalan meninggalkan Tami yang masih mematung.  

“Tam!”, Adit tiba-tiba nongol, Ia menepuk pundak sahabatnya, Tami terlonjak kaget “Eh, lu…lu kenal Romi?” “Romi siapa?” “Yang ngasih harddisc lu. Nih”,  Tami menyodorkan hard disc Adit “Oh…itu yang namanya Romi  yah?”, Adit berucap pelan

“Iya. Lu kenal dimana?”, Tami  penasaran. Adit menggelengkan kepalanya “Gue gak kenal. Waktu kegiatan  Rohis, hard disc ini gue titip ke Oji” “Romi ikut Rohis ya?”, Tami tak  mampu menyembunyikan rasa penasarannya “Ya mana gue tahu”, Adit menjawab sambil berjalan menuju kursi. Tepat pada saat itu, Bel tanda apel pagi berbunyi. Keduanya keluar dengan pikiran yang berbeda. Tami dengan pikirannya  mengenai Romi yang di duga keras ngikut  Rohis. Dan Adit yang kembali terbayang  kejadian di parkiran kemarin. Di lapangan sekolah, keduanya melihat Romi dengan perasaan berbeda

***

“Dit, gue mau ikutan Rohis”, Tami berjalan gontai di sisi Adit.  “Karena Romi?”, Adit menghentikan langkah, Ia menatap lekat sahabatnya,Tami terdiam. “luruskan niat, Tam. Cinta sejati itu akan kita temukan dengan jalan yang benar. Dahulukan cinta kepada Allaah, insya Allaah cinta sejati bakal kita dapatkan” “Tapi..gue bener-bener…”,

Tami tak meneruskan ucapannya “Jangan menggantungkan harapan kepada manusia, Tam. Berharaplah kepada Allaah, pasti Allaah bakal nunjukin yang terbaik. Berharap kepada manusia  hanya akan meninggalkan sakit. Sadari itu, Tam. Sebelum perasaan lu jauh dan terikut dalam harapan palsu. Jangan abisin waktu untuk sesuatu yang gak jelas”, Adit menatap Tami, meyakinkan sahabatnya. Adit faham, sebagaimana Tami menyadari bahwa kondisinya sulit menerima nasihat Adit. Adit menepuk lembut pundak Tami “come on,Tam. Yakin Allaah berikan yang terbaik. Lagipula,lu belum siap nikah kan? Dan yang harus lu fahami, Romi pun gak akan menempuh jalan illegal  untuk mendapatkan cinta sejati”,

Adit tersenyum menatap Tami. Tami hanya mengangguk, dalam hati Ia membenarkan perkataan Adit. Sepenuhnya. Ya, sepenuhnya benar, seperti Ia meyakini bahwa cinta sejati akan tiba pada waktu dan orang yang tepat. [ Juan]

Bangga Menjadi Muslim

Abu Dzar Al-Ghifari r.a. beliau hidup bersama suku Ghifar yang tinggal di  lembah Waddan, sebuah area penting yang terletak antara Mekkah dan Syam, dan merupakan jalur perlintasan kafilah dagang yang strategis.Ketika berita pengangkatan Muhammad sebagai Rasul sampai kepada Abu Dzar, dia berkata kepada adiknya, Unais;

“Berangkatlah kamu menuju lembah (Mekkah) itu, dan kabarkan kepadaku tentang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi yang membawa berita dari langit, dengarkanlah ucapannya kemudian kembalilah kepadaku”. Maka saudaranya berangkat hingga sampai di Mekkah dan mendengarkan apa yang diucapkan laki-laki yang dimaksud (Nabi).

Setelah beberapa lama, Unais pun kembali kepada Abu Dzar, dan berkata; “Aku melihatnya mengajak kepada keluhuran perilaku dan ucapan yang bukan sya’ir “. Abu Dzar berkata; “Kamu belum bisa memuaskan apa yang aku cari”. Maka Abu Dzar berkemas menyiapkan bekal perjalanan.  Abu Dzar pun tiba di Mekkah, dan mencari orang yang paling lemah di antara mereka, lalu ia bertanya,

“Di manakah orang yang kamu katakan sebagai pembawa agama (Rasulullah SAW) itu?” mendengar perkataan Abu Dzar, maka penduduk Mekkah itu langsung memukuli dan melemparinya dengan batu dan tulang sehingga Abu Dzar jatuh pingsan. Ketika terbangun, Abu Dzar mendapati dirinya mengeluarkanbanyak darah.

Abu Dzar tidak bertanya lagi melainkan hanya mencuri dengar tentang Rasulullah. Abu Dzar duduk seharian di ka’bah, namun tak jua melihat Nabi Muhammad  SAW. Hingga beliau bertemu dengan Ali bin Abi Thalib dan membawanya kepada Rasulullah. Abu Dzar bertemu Rasulullah SAW dan mengucapkan salam kepadanya dengan salam Islam, “As-Salamu `alaika, ya Rasulallah!'” Beliau menjawab, “Wa `alaika wa rahmatullah.”

Kemudian Rasulullah bertanya, “darimana Anda berasal?” Abu Dzar menjawab, “Dari Ghifar.”  Rasulullah SAW pun merasa kagum karena telah difahami bahwa daerah suku Ghifar itu sangat jauh jaraknya dengan Mekkah. Rasulullah mengangkat kepalanya seraya bertanya, “Sejak kapan kamu berada di sini?” Abu Dzar menjawab, “Sejak 30 hari 30 malam yang lalu.” Beliau bertanya, “Siapa yang memberimu makan?”

Abu Dzar menjawab, “Aku tidak pernah memakan makanan kecuali air Zam-zam. Aku menjadi gemuk sehingga lekukan perutku hilang, dan aku tidak pernah lemah karena kelaparan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Air Zam-zam itu memberikan keberkahan. Ia adalah makanan yang mengenyangkan”.

Kemudian Abu Dzar mendengarkan penjelasan Rasulullah SAW, hingga ia langsung masuk Islam seketika itu juga. Nabi Muhammad SAW berkata kepada Abu Dzar: “Pulanglah ke kaummu dan sampaikanlah ajaran Islam kepada mereka hingga kamu mendapatkan kemenangan agama Islam.” Abu Dzar berkata; “Demi Allah yang menguasai diriku, sungguh akan aku sampaikan Islam kepada mereka dengan sejelas mungkin.”  

Kemudian Abu Dzar keluar dari rumah Rasulullah SAW pergi menuju Masjid Haram. Sesampainya di sana ia berseru dengan sekuat tenaganya mengucapkan; “Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang hak selain Allah semata dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah.” Mendengar seruan itu, maka para penduduk kota Mekkah terkejut dan saling berdatangan ke tempat sumber suara tersebut.

Setelah mengetahui bahwa yang mengumandangkan suara itu adalah orang asing dan bukan penduduk Mekkah, maka mereka pun langsung memukulinya hingga ia terjatuh.  Tak lama kemudian Abbas bin Abdul Muththalib datang melindunginya  seraya berkata; “Celaka kalian ini! Tidak tahukah kalian bahwa  orang yang kalian pukuli itu adalah dari suku Ghifar? Dan tidak sadarkah  kalian bahwa jalur perdagangan kalian  ke negeri Syam pasti akan melalui wilayah suku Ghifar?” Lalu Abbas pun langsung menyelamatkan  Abu Dzar dari amukan orangorang Quraisy. 

Keesokan  harinya Abu Dzar tetap melakukan  perbuatan  seperti itu, hingga orangorang Quraisyy  Mekkah  berdatangan  untuk  memukulinya. Kemudian  Abbas pun datang  untuk  melindungi dan menyelamatkannya dari amukan mereka. Abu Dzar kembali ke suku Ghifar dan mengabarkankepada Unais dan sang Ibu bahwa ia telah masuk Islam dan beriman, maka Unais dan Ibunya berkata, “Aku tidak membenci agamamu. Sebab aku sudah masuk Islam dan beriman”. Kemudian mereka berangkat hingga datang pada kaumnya, Ghifar.

Maka, sebagian dari suku Ghifar masuk Islam.Sementara separuh dari suku Ghifar lainnya mengatakan, “Jika kelak Rasulullah telah sampai di Madinah, maka kami akan masuk Islam.” Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, separuh dari suku Ghifar yang tersisa masuk ke dalam Islam.

Maa Syaa Allaah Driser, kita layak malu kepada para sahabat. Mereka yang baru memeluk Islam begitu bersemangat mendakwahkan sekaligus menunjukkan identitas kemusliman mereka. Mereka tak sungkan menampakkan kepada khalayak, meski taruhannya adalah nyawa. Seperti kisah Abu Dzar di atas. Semoga kita juga bangga jadi seorang muslim. Mulai dari cara berpakaian, berperilaku keseharian, hingga aktif dakwahmenyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tunjukkan identitasmu![ Juanmartin]  

Belajar Bahasa Arab Yuk ,,

Kalau kalian mendengar kata ‘Bahasa Arab’, apa sih yang ada di benak kalian? Nabi Muhammad? Orang  Jahiliyyah? Bahasa onta? Padang pasir? Orang haji? Al-Quran? Surga?? Memang saat ini bahasa Arab masih dianggap sebagai sesuatu yang asing oleh khalayak ramai, karena memang gak setenar bahasa-bahasa lain semisal bahasa Inggris, bahasa Jepang, bahasa Jerman apalagi bahasa alay. Hohoho..

Sekarang hampir mayoritas tempat, mulai dari sekolah, stasiun, SPBU, terminal, pertokoan, tempat rekreasi bahkan toilet umum pun kebanyakan memakai bahasa Inggris untuk tulisan di papan petunjuknya.  Selain itu, banyak istilah sehari-hari yang menggunakan bahasa Inggris. Adikadik kita di sekolah bahkan di rumah juga sudah mulai dikenalkan dan dibiasakan memakai bahasanya Bang Harry Potter ini.

Gak heran kalau banyak orang yang suka menggunakan bahasa Inggris setengah mateng, kayak telur goreng belum mateng tapi keburu dimakan karena sekolah udah telat. Mungkin kalo ngomong kayak mbak Cinta Laura, belepotan bin rempong binggo. Hadeh! Bicara soal bahasa Inggris yang udah lumrah di telinga, kita gak ngelarang kalian belajar bahasa Inggris kok. Kan bagus bisa cas-cic-cus bahasa Inggris di jaman serba ke-inggris-an kayak sekarang. Tapi kita gak boleh lupa, sebagai muslim, kita harus bin wajib belajar dan mendalami bahasa Arab.. Kalo ada yang nanya, ‘Buat apa susah-susah belajar bahasa Onta? Gue  aja gak kenal tuh ama dia!’.

Eitss.. tunggu dulu sodarasodara!! Emang sekarang yang nge-hits bahasa Inggris, tapi kita musti inget kalau Al-Quran itu diturunkan Allah ke  dunia pake bahasa Arab. Banyak ayat AlQuran yang menjelaskan hal ini.

Antara lain surat Yusuf: 2, Ar Ra’du: 37, An Nahl: 103, As Syuara: 195, Az Zumar: 28, Fushsilat: 3 dan 44, As Syuara: 7, Az Zukhruf: 3, dan Al Ahqaaf: 12. Hadits pun demikian. Nabi mengucapkannya juga pake bahasa Arab. Padahal kita, para muslim (kalian muslim, kan?), kalo ada masalah atau butuh referensi hukum kan baliknya juga ke mereka (Al-Quran dan Hadits, red.).

Kalo gak paham bahasa Arab, gimana mau paham hukumnya?  Ibnu Taimiyah berkata: “Bahasa Arab itu termasuk bagian dari agama, sedangkan mempelajarinya adalah wajib. Karena memahami Al-Quran dan As Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa dipahami kecuali dengan memahami bahasa Arab”.  

Rasulullah juga menyuruh kita supaya giat belajar bahasa Arab, lho! Gak percaya? Dalam kitab Faid al Qadir syarh alJami’ al-Shaghir susunan al-Manawiy,  disebutkan dari Ibnu Abbas riwayat Muslim, Nabi bersabda: “Pelajarilah bahasa Arab  karena 3 hal. Karena aku (Muhammad) adalah orang Arab, karena al Quran

berbahasa Arab, dan karena percakapan ahli surga adalah bahasa Arab”.  Shahabat Umar bin Khattab r.a pun sependapat dengan Rasulullah: “Hendaklah kalian tamat untuk mempelajari bahasa Arab, karena bahasa Arab itu bagian dari agamamu”. Dan juga perkataan ulama Abdul Alim Ibrahim: “Bahasa Arab merupakan bahasa orang Arab dan sekaligus juga merupakan bahasa agama Islam”.

Imam Syafi’i juga pernah berkata: “Manusia menjadi buta agama, bodoh dan selalu berselisih paham lantaran meninggalkan bahasa Arab dan lebih mengutamakan konsep Aristoteles”. (Adz Dzahabiy, Siyaru ‘Alamin Nubala, 10/74).

Keadaan kaum muslim sekarang yang amat sangat memprihatinkan salah satu sebabnya adalah karena mereka nggak lagi giat mempelajari bahasa Arab yang digunakan untuk memahami manual instruction dari Allah dan Rasul-Nya.

Makin hari makin banyak orang yang bisa baca al Quran, banyak hafidz dan hafidzah lahir namun mereka gak paham dengan apa yang mereka baca dan hafalkan tiap hari. Al Quran hanya dijadikan teks yang dibaca dan dihafal tanpa tahu apa yang harus dilakukan dengannya.

Padahal Allah menurunkan Al Quran untuk manusia sebagai petunjuk hidup di dunia agar selamat dunia-akhirat. Para ilmuwan, ulama dan kaum muslim pada masa kekhilafahan Islam dahulu giat mempelajari bahasa Arab untuk memahami Al Quran dan Hadits dengan baik agar bisa mencari hukum yang pas sesuai maksud dari dalil yang dicari.

Para khalifah dahulu pun mewajibkan rakyatnya, baik yang orang Arab atau bukan orang Arab untuk belajar bahasa Arab. Mereka sampai mengirim para guru bahasa Arab untuk dikirm ke daerah-daerah non-Arab untuk mengajar warganya sampai pintar berbahasa Arab. Bahkan bahasa Arab menjadi bahasa resmi negara Khilafah Islam saat itu, sehingga gak heran banyak   

negara-negara Barat yang rela belajar bahasa Arab demi mendapat ilmu pengetahuan dari para ilmuwan negara Khilafah.  

Begitu pentingnya bahasa Arab sampai-sampai semua orang belajar bahasa Arab karena terbukti sangat penting bagi kehidupan, baik kehidupan di dunia maupun kehidupan kelak di akhirat. Jadi, masih ragu belajar bahasa Arab?  

Ayuk ah sodara-sodara, rame-rame belajar bahasa para onta, eh bukan, bahasa para ahli surga ini agar kelak kita bisa meneruskan jejak-jejak luar biasa para orang hebat terdahulu dan semoga Allah mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya. Amiiin… #YukBelajarBahasaArab

Aku Tandai Kau, Nepotisme!

Aku tandai kau, ya! Kalimat itu lagi happening banget di kalangan netizen. Itu ucapan siswi berinisial SD  pada polwan yang menghentikan mobilnya saat konvoi kendaraan pasca Ujian Nasional. Itu loh, remaja asal Medan yang ngakungaku anak jenderal, padahal bukan. Gara-gara kelakuannya, SD langsung di-bully netizen. Akibatnya vatal.  Dara cantik itu shock dan bahkan ayahnya meninggal karena serangan jantung. Terlepas itu memang qodho, diduga sang ayah tak tahan dengan berita di media yang terus memojokkan putrinya. Tragis. Tanpa bermaksud ikut mem-bully, banyak pelajaran dari kasus ini. Pertama, pentingnya menaati peraturan apapun agar berujung pada kebaikan. Kedua, pentingnya menjaga perilaku dan etika di manapun berada. Ketiga, betapa mengakarnya budaya nepotisme hingga menginveksi otak remaja.    

Taat Aturan 

Perilaku remaja yang biasa  merayakan berakhirnya UN dengan hurahura, sudah banyak dikupas. Misal, merayakan di jalan raya dengan konvoi  kendaraan yang mengganggu pengguna jalan lain. Padahal, siapapun wajib menaati aturan berlalulintas. Ini memang kita sesalkan. Ingat, di manapun kita berada, harus selalu disiplin menerapkan aturan. Selama aturan itu tidak bertentangan dengan perintah dan larang Allah SWT, mengapa harus dilanggar?

Tertib dalam berkendaraan, sabar dalam antrean,  menaati rambu-rambu lalu lintas, dan mengikuti prosedur dalam segala urusan, pasti akan membawa kebaikan.  Jangan coba-coba melanggar.  Selain berpotensi membahayakan diri, juga membahayakan orang lain. Kita tidak perlu takut berhadapan dengan siapapun asal melakukan tindakan yang benar. Apalagi “cuma” berhadapan dengan polisi. Selama kita tertib mengikuti aturan, tidak perlu gentar. Sehingga, tidak pada tempatnya jika ada aparat yang berusaha menegakkan ketertiban, malah jadi tumpahan kemarahan. Yang salah siapa, yang marah siapa!   

‘Paparazi’ Malaikat 

Pelajaran selanjutnya adalah, sebagai  muslim, kita musti menjaga perilaku. Ingat, saat ini banyak paparazi di sekitar kita. Hampir semua orang mengantongi smartphone di saku atau tasnya. Mereka tanpa perlu menjadi wartawan, sewaktu-waktu siap melaporkan peristiwa on the spot. Memotret candid, menghasilkan liputan amatir di media sosial yang berpotensi booming. Tanpa izin.  Jadi, waspadalah. Selalu hati-hati di ruang publik. Kita memang bukan siapa-siapa, tapi salah sedikit saja, bisa jadi “artis” dadakan. Mendadak terkenal.  Mendadak di-bully. Karena, yang paling gampang booming itu adalah jika perilaku minus yang tersorot kamera. Jangan sampai, deh! Lebih dari itu, kita musti ingat, “kamera” malaikat selalu on setiap saat.

Merekam dan mencatat seluruh aksi kita tanpa jeda. Real. Tak bisa diedit, apalagi dihapus. Itulah yang kelak jadi pertanggungjawaban kita di hadapan-Nya. Tanpa bisa mengelak.  Nah, waskat inilah yang mustinya mendorong kita untuk selalu on the track. Nggak iseng, nggak usil. Selalu mengendalikan emosi. Menjaga akhlak, sopan santun dan etika. Menjaga aurat. Menjaga kehormatan diri dan keluarga. Jangan sampai ulah kita membawa efek buruk bagi orang tua yang kita sayangi. Jadi, terapkan waskat alias pengawasan melekat. Ingat selalu pengawasan dari para malaikat, agar tidak terjerumus berbuat maksiat. Hanya dengan itu seluruh aktivitas kita akan bermanfaat.  

Cermin Nepotisme

Kasus SD juga jadi cermin buat para  orangtua dan penguasa di negeri sekuler ini. Sistem demokrasi yang diterapkan, mengajarkan nepotisme yang begitu mendarah daging. Sampai-sampai ditiru remaja. Ya, nepotisme alias perkoncoan atau perkoneksian. Fasilitas terbaik, kemudahan dan layanan prioritas akan diberikan kepada orang ngetop, orang penting, pejabat tinggi dan orang kaya; tentu beserta anak cucu tujuh turunannya. Asal ada rekomendasi atau ketebelece, urusan beres. Apalagi ditambah pelicin, lebih cepet lagi beresnya.  Misal, kalau kamu anak gubernur, pasti diprioritaskan masuk sekolah terbaik. Dipercepat urusan administrasinya. Tidak diharuskan antre. Kalau melanggar nggak dihukum. Kalau berbuat salah dimaklumi.

Gitu seterusnya. Pokoknya segala urusan dipermudah. Bahkan, sekadar mencatut nama orang penting saja, kalau bisa bikin keder aparat, urusan bakal selamat.  Kondisi itu bertolak belakang banget dengan rakyat jelata kebanyakan. Contoh, kalo penghina lambang negara orang biasa atau aktivis dakwah, langsung deh jeblosin ke penjara. Dianggap makar. Giliran yang menghina lambang negara artis, eh, malah diangkat jadi duta lambang negara itu.   

Tampaknya, sikap nepotisme itulah yang menjalar deras di dalam tubuh SD. Entah siapa yang menurunkannya, tentu kontribusi dari sistem demokrasi ini juga. Karena, sikap nepotisme kayak gitu bukan hanya monopoli SD, bukan? Banyak orang yang melakukannya. SD bisa jadi hanya terinspirasi orang-orang dewasa di sekitarnya yang secara langsung maupun tidak telah mengajarkannya.

 Jadi, orang-orang dewasa, memang harus berkaca. Ini salah mereka juga. Salah menerapkan nepotisme. Salah menerapkan demokrasi. Jadi, kita tandai saja sistem salah ini dan buang rame-rame. Supaya nggak ada lagi SD-SD lainnya yang berbuat khilaf.Catet![asri