Majalahdrise.com – perancis diserang teroris..!” Itulah tema headline media massa pasca aksi penembakan dan pengeboman di Paris Perancis 13 November 2015 lalu. Presiden Hollande pun menyatakan Perancis dalam keadaan Siagai 1. Gimana nggak, dalam waktu bersamaan beberapa pusat keramaian mengalami teror penembakan dan ledakan bom.
Tiga ledakan terjadi dekat Stadion Nasional Stade de France, di mana Perancis sedang bertanding bola dengan Jerman dan disaksikan langsung oleh Presiden Francois Hollande. Penyanderaan dan penembakan terjadi di gedung pusat seni Bataclan, sebelah timur Paris. Korban pun berjatuhan di restoran Petit Cambodge. Total korban jiwa 153 tewas dan 200 luka-luka. Islam Jadi Sasaran Seperti yang udah-udah, kalo ada aksi teror di negara Barat yang memakan korban jiwa, corong media langsung menyudutkan Islam dan kaum Muslimin.
Apalagi dalam tragedi Paris Prancis ini, pihak ISIS menyatakan bertanggung jawab. Walhasil, dalam hitungan hari Militer Perancis langsung merangsek ke Negara Suriah untuk melakukan aksi balan dendam terhadap ISIS. Senin (16/11) sebanyak 12 pesawat tempur, termasuk 10 pengebom, menjatuhkan 20 bom ke target di Raqqa, Suriah. Nggak cuman serangan udara, Perancis pun langsung mengirim Kapal induk Charles de Gaulle dikerahkan ke Mediterania Timur untuk meningkatkan operasi di Suriah. Dari reaksi Perancis yang berlebihan, keliatan deh mau dibawa kemana kelanjutan tragedi Paris. Akibat serangan Paris, Perancis punya alasan untuk melegalkan dan mendapatkan banyak dukungan dari negara Eropa dan masyarakat dunia dalam serangannya ke Suriah.
Kejadiannya sama persis dengan tragedi WTC tahun 2001 silam. Masih teka-teki siapa dalang dibalik serangan WTC. Namun media sudah kadung menunjuk Osama bin Laden sebagai pelakunya. Genderang perang melawan terorisme pun ditabuh dengan kencang oleh negara adidaya. Demi mengejar pelaku serangan WTC, militer negeri Paman Sam seolah punya hak untuk mengobrak-abrik negeri-negeri muslim yang dituduh menyembunyikan jaringan Osama. Dampak serangan Paris nggak cuman agresi militer oleh negara Barat yang memborbardir negeri-negeri Islam.
Tapi juga dirasakan oleh umat Islam yang tinggal di negeri-negeri Barat. Pasca tragedi WTC atau serangan Paris, kebencian terhadap Islam dan umat Islam alias Islamophobia merajalela di Eropa. Dulu pasca tragedi WTC, kampanye perang melawan teroris udah bikin kebanyakan masyarakat dunia benci Islam. Tak terkecuali seorang pendeta (pastor) senior Gereja Dove World Outreach Center di Gainesville, Florida, Amerika Serikat, Terry Jones. Saking bencinya ama Islam, tuh pendeta jadi gelap mata. Doi menyerukan ke seluruh gereja dunia dan warga Amerika untuk aktif memperingati Tragedi 911 dengan menjadikannya sebagai “International Burn a Koran Day” (Hari Membakar Alquran Internasional). Kini, pasca serangan Paris, sebuah kelompok yang terkait dengan dewan Muslim resmi Perancis, The National Observatory of Islamophobia, melaporkan 32 insiden anti-Muslim selama sepekan terakhir.
Juru bicara CCIF Yasser Louati mengatakan, kantornya dibanjiri laporan dan keluhan dari warga Muslim. “Para Muslim telah menjadi musuh di dalam,” ujar Louati seraya menambahkan perhatian media terhadap insiden-insiden anti-Islam itu tidak berimbang. Sebagai contoh, seorang pria meninju seorang perempuan muda berjilbab di Marseille hari Rabu lalu dan merobek pakaiannya dengan pisau, menyebutnya teroris, dalam sebuah insiden yang dipublikasikan secara luas.
“Satu hari setelah serangan-serangan di Paris, enam demonstran keluar dari protes anti-migran di Pontivy, sebuah kota di Brittany di barat laut Perancis, untuk memukuli seorang pria asal Afrika Utara yang sedang lewat,” kata Louati.
Ia juga menyebut insiden lain Minggu pagi. Seorang pria Turki yang sedang berdiri dekat sebuah restoran kebab di Cambrai, Perancis utara, dilaporkan ditembak dari belakang oleh pelaku yang mengendarai mobil dengan membawa bendera Perancis, meski luka-lukanya tidak serius.
Coretan-coretan atau grafiti anti-Muslim juga muncul di banyak tempat. Di Evreux di utara Perancis, balai kota dan bangunan-bangunan lainnya diimbuhi grafiti yang bertuliskan “Kematian untuk Muslim” dan “(dengan) koper atau (di dalam) peti mati,” sebuah referensi bagaimana para demonstran ingin Muslim meninggalkan kota itu. Tak hanya di Prancis, islamophobia juga melanda sebagian besar negara Eropa.
Seperti Inggris, Kanada dan tentu saja, Amerika. Masih ingat kejadian yang menimpa Ahmed (14). Salah satu siswa SMA Mc Arthur di Irving Texas Amerika Serikat yang kreatif membuat jam dari bahan-bahan sederhana namun disangkanya membuat bom oleh guru sekolahnya. Saking paranoidnya, Ahmed, yang mengenakan kaus NASA, dikawal keluar dari sekolah dalam keadaan diborgol, dan dibawa ke pusat penahanan remaja. Ia dibebaskan setelah sidik jarinya direkam. Kasus yang menimpa Ahmed adalah salah satu dari sekian banyak diskriminasi terhadap umat Islam akibat Islamophobia. Sikap kebencian terhadap Islam yang merajalela di masyarakat Barat ini semakin menguatkan peringatan Allah swt dalam firmannya:
“Mereka (kaum kafir) tidak pernah berhenti (menimbulkan) kemadaratan atas kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi” (QS Ali Imran [3]: 118).
DI MUAT DI MAJALAH REMAJA ISLAM DRISE EDISI 52