Mengupas Mitos write’s block bagian 1

Dalam proses kreatif menulis adakalanya seorang penulis mengalami  write’s block atau sebuah kondisi di mana ia seperti kehabisan energi untuk menulis, idenya lumpuh, kreativitasnya menguap, bahkan hilang sama sekali.

Apa yang sesungguhnya terjadi? Terus, gimana cara efektif sekaligus asyik biar kita bisa jalan terus menulis kreatif, sekaligus menumpas mitos write’s block ini? Cekidot!

Bagi seorang pemula yang masih gagap dalam menulis, bisa jadi ia sering mengalami apa yang dinamakan write’s block ini.

Namun, bagi seorang profesional, write’s block ini hanyalah mitos yang terlalu dibesar-besarkan. FYI saya pernah nanya kepada beberapa penulis profesional soal write’s block dalam proses kreatif mereka.

Ternyata, mereka bilang,  “Write’s block? No way!”. Justru, mereka balik memotivasi saya dengan quote-quote yang asyik punya, for example, “menulis itu gampang!” kata M. Zainal Mutaqien, seorang praktisi media nasional.

“Menulis (fiksi) itu mudah.” cetus Asma Nadia, penulis buku-buku remaja & muslimah national bestseller. Bahkan, “menulis (skenario) itu lebih mudah.” timpal Gola Gong, seorang penulis naskah skenario beberapa tv swasta nasional.

Jadi, langkah pertama untuk menumpas mitos write’s block itu ada pada niat kita sendiri, kita serius gak, seh, jadi penulis? Trus, ngapain kita nulis? Buat apa/siapa kita nulis? Nah, lho?!

So, kalo kita dah serius pengen jadi penulis berarti niat kita dah mantep alias dah siap lahir batin mendapat  predikat sebagai penulis atau bahkan professional writer. Wah keren, kan, tuh? Artinya proses kreatif menulis kita dihargai orang dengan sejumlah nominal tertentu. Mo contoh yang keren punya, liat aja Ali Akbar Navis, seorang penulis dari ranah minang, doi emang mantep milih opsi hidup jadi penulis.

Saking semangatnya nulis, A.A. Navis ngaku bahwa lebih dari 99 kali naskahnya ditolak sama penerbit alias gak satupun naskahnya yang dipublikasikan! Pertanyaannya kini, apakah doi patah arang ngelanjutin profesi jadi penulis?

Ternyata, kagak! A.A. Navis terus berkarya, dan hasilnya… ia diganjar sebagai penulis terbaik nasional taon 1997 oleh Dewan Kesenian Jakarta berkat karyanya, Robohnya Surau Kami. Jempol, kan, tuh! Nah, kalo niat kita dah mantep jadi penulis, jangan ragu tinggal action yang kudu dijabanin! Di sini, kita-kita kudu tau, apa aja yang kudu disiapin kalo mo nulis.

Artinya gak cukup siap sedia kertas ama pulpen doang, kan?  Teori mudahnya adalah, kalo kita mo nulis ada guidencenya gitu, lho. Maksudnya ada tahapan demi tahapan  yang pasti kita lalui kalo nulis. Secara garis besar, biasa dibagi dua, yaitu tahapan sebelum menulis en tahapan saat menulis. Kalo dua tahapan ini  terkendala.

Pasti deh, alamat write’s block bakal kita alami alias mentok di  tengah jalan! Gak asyik banget kan, kalo semangat nulis kita pun, tibatiba  menguap! So, apa seh tahapan sebelum nulis  itu? Neh, saya kasi bocoronnya, ya dikit aja. Soalnya terbatas spacenya.

Pertama, menentukan ide; Kedua, menyiapkan referensi atau sumber bacaan; Ketiga, menentukan arah atau tujuan; Keempat, menentukan media yang akan dituju; Kelima, menentukan khalayak sasaran yang akan dituju via tulisan yang kita bikin.

Pengen lebih jelas, nantikan D’Rise edisi berikutnya. Hehehe… Jujur aja, teori ini didasarkan pada fakta empirik yang lazim dialami oleh para penulis, termasuk Dan Brown ataupun J.K. Rowling sekalipun! Jadi, jangan sampe ketinggalan lanjutan jurus jitu menumpas mental block writer’s biar kita bisa jadi penulis handal. Don’t miss it![]

Asyiknya Menulis

By Salman Ikandar

Bagi sebagian orang, menulis adalah aktivitas yang merepotkan, menyusahkan, bahkan,  memberatkan. Mereka beralasan bahwa menulis membutuhkan ide, tema, metode, karakter, teori, bahkan alat-alat tulis yang harus setia setiap saat. Ada yang bilang bahwa aktivitas menulis membutuhkan keterampilan khusus yang jauh lebih sulit dibandingkan dengan aktivitas mendengar, membaca atau bicara. Komentar lain juga ikut nimbrung, bahwa menulis memberatkan karena seorang penulis kudu cerdas alias berilmu.

Nah, soal cerdas inilah yang jadi masalah karena gak semua orang suka belajar, doyan baca, hobi diskusi ato  demen meneliti. Sesungguh nya menulis bukanlah perkara yang sulit, repot ataupun berat karena semua orang yang ”normal” dibekali kemampuan  untuk menulis, selama dia mampu berpikir dengan baik. Menulis layaknya ”berbicara”, menyampaikan pesan, gagasan, ilmu ataupun pengetahuan kita kepada orang lain, melalui media. Menulis adalah menyampaikan pesan secara tidak langsung. Jadi, selama kita mampu berpikir dan berbicara maka sesungguhnya kita mampu untuk menulis!

Bahkan, kalo mo jujur, sebagian besar di antara para pembaca D’Rise, tentu pernah menulis, paling gak, nulis pe-er, nulis surat cinta, nulis catatan harian ato diary. Ayo ngaku! Bagi seorang Mukmin, menulis adalah karakteristik yang tak terpisahkan dari dirinya. Pada masa kenabian, para shahabat nabi berlomba untuk menghapal dan menulis alwahyu ataupun al-hadits dari nabi saw.  Hingga pada masa berikutnya, menulis telah  menjadi tradisi intelektual bagi kaum Muslim. Hingga lahir kalangan intelektual Muslim dari rahim peradaban Islam, seperti Imam Hasan al-Bashri, Imam Ja’far ash-Shodiq, Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Muhammad bin Idris, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Ghozali, Imam Bukhori, etc.  Keren!

Nah, kita mengenal dan ngeh sama keilmuan mereka yang mumpuni itu, dari karya-karya kreatif yang mereka wariskan untuk generasi kita saat ini. Melalui buku yang mereka tulis, kita dapat belajar Islam. Inilah yang dikatakan nabi sebagai ilmu bermanfaat yang amal kebaikannnya terus mengalir, sekalipun jasad telah lama dikebumikan. Ilmu yang jadi garansi memasuki surga-Nya. Nah, kalo kita Mo jadi ahli surga, ikuti jejak mereka. Menulis!  

Trus, kalo kita mo serius menggeluti dunia kepenulisan ini, gak sekadar bentuk aktualisasi diri. Aktivitas kepenulisan juga menawarkan prestasi dunia bagi para aktivisnya. Seorang penulis yang karyanya pernah dipublikasikan, tentu dia dapet duit dari karya kreatifnya yang dibaca orang. Bahkan, dia bakal digadang-gadang oleh penerbitnya bak selebriti. Mo contoh kongkret? Liat aja para penulis beken di negeri Si Komo ini, ada Kang Abik, Mbak Asma, Bunda Helvy, Mas Tasaro, Anwar Fuady, Andrea Hirata, Agnes Davognar atau bahkan yang sudah ngepop duluan kek Dewi  Lestari ama Raditya Dika.  

Karya-karya mereka gak hanya nampang di toko buku, diburu para penggemarnya, dibicarakan dalam banyak event tapi juga diangkat ke layar sinetron atau bahkan layar lebar. Asyik banget, kan? Saya sendiri telah merasakan bagaimana melalui aktivitas menulis, saya dapat melepaskan beban stressing ataupun kepenatan dalam menjalani kehidupan. Asyik banget. Ya, menulis seperti mengeluarkan unek-unek, meluapkan angan, meluahkan asa, atau bahkan sekadar curahan hati dan jiwa dalam berkontemplasi.  

Kita dapat melihat pada fakta sejarah, banyak para pejuang yang tetap konsisten dan penuh energi dalam memperjuangkan ide dan ideologinya melalui buku-buku yang mereka  tulis. Ada Syaikh Abu Ibrahim bin Ismail dari al-Quds, Palestina yang konsisten berjuang untuk membangun kembali peradaban Islam dengan banyak menulis kitab islam ideologis, sekaligus dalam upayanya membesarkan partai yang didirikannya.

Di negeri ini, kita pun dapat memetik pelajaran dari para pendiri bangsa, seperti Tan Malaka yang menulis booklet Naar de Republiek Indonesia atau Menuju Republik Indonesia pada 1925, Soekarno yang menulis risalah Mentjapai Indonesia Merdeka pada 1928 atau Mohammad Hatta yang menulis pledoi Indonesia Vrije atau Indonesia Merdeka pada 1933. Para pendiri bangsa ini memiliki visi yang sama yaitu kemerdekaan bangsanya dari semua bentuk penjajahan.  

Tokoh-tokoh yang disebutkan tadi telah menjadikan aktivitas menulis sebagai sarana perjuangan dalam meraih apa yang mereka cita-citakan. Mereka merasa tetap “hidup” dan “dihidupkan” dengan karya-karya yang mereka tulis hingga melampaui zaman. Buktinya, kita yang hidup di zaman high-tech android ini dapat mengenal mereka, kan?    

Selain itu, aktivitas menulis juga dapat menyembuhkan lho. Tuh liat, J.K. Rowling adalah buktinya! Saat dia nulis buku fenomenalnya yang menyabet megabestseller di seluruh dunia, Harry Potter itu, J.K. Rowling tengah mengalami depresi karena sulitnya mendapatkan pekerjaan. Selama sekian lama, J.K. Rowling menghabiskan waktunya di salah satu kedai kopi di pinggiran kota London, Inggris untuk melepaskan beban psikisnya hingga suatu ketika ia mendapatkan ide liar, menulis kisah fiksi imajinasi yang merambah rayah dunia sihir.

Hasilnya, kini, kekayaan materinya diperkirakan melampaui kekayaan Ratu Elizabeth II sekalipun! Menulis tidak hanya mengasyikan bagi J.K. Rowling, namun juga sekaligus jadi psiko ventilasi alias jalan keluar bagi masalah mentalnya yang sedang down! Menulis telah menyembuhkan jiwanya yang tertekan. Nggak percaya? Coba aja Kalo kita lagi suntuk ato tengah sumpek, ayolah… menulis?! Dijamin lega, deh?!     So, menulis itu bukanlah sesuatu yang menyulitkan apalagi memberatkan. Tetapi, aktivitas yang menyenangkan, mengasyikan, sekaligus menyembuhkan! Ayo kita menulis?![]

MELAHIRKAN SEBUAH KARYA

Majalahdrise.com – Bagi seorang penulis, karya yang harus ia buat tentunya dalam bentuk tulisan. Bisa berupa artikel maupun buku. Bisa dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi. Menulis adalah sebuah proses yang cukup rumit dan panjang, dan untuk menempuhnya dibutuhkan, konsistensi, kesabaran, dan ketekunan. Jika tidak ada hal-hal tadi, maka karyakarya itu tidak akan selesai. Kalaupun kita bisa memulai sebuah tulisan, jika tanpa konsistensi, kesabaran, dan ketekunan, maka tulisan itu tidak akan bisa kita tuntaskan. Padahal penulis yang baik itu bukan hanya bisa memulai sebuah tulisan, tetapi juga mesti bisa mengakhirinya. Tulisan ini ingin memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana proses terbentuknya sebuah karya. Hal yang paling pertama harus dilakukan seorang penulis adalah memunculkan ide cerita yang hendak ia tulis.

Proses ini harus terjadi, jika tidak, proses-proses selanjutnya tidak akan pernah ada. Seorang penulis mesti tahu apa yang hendak ia tulis. Cukup banyak orang yang bertanya bagaimana caranya agar seorang penulis selalu memiliki ideide tulisan yang segar dan unik? Sebagian lainnya merasa pusing tentang apa yang mesti mereka tuliskan. Sebenarnya jawabannya cukup sederhana, selama ada kehidupan pasti akan selalu ada kisah yang menarik untuk dituliskan. Sesederhana apa pun kisah itu, pasti ia akan selalu memiliki daya tarik. Ide-ide cerita itu akan selalu ada di sekitar kita, dan kita bisa mengambilnya dari mana saja. Ketika ide cerita itu sudah muncul di benak kita, berupa gambaran global dari kisah yang akan kita garap, langkah selanjutnya adalah menuangkan ide besar itu dalam bentuk kerangka dasar.

Kerangka dasar inilah yang berperan besar untuk menentukan seperti apa tulisan yang akan kita buat. Kerangka pula yang akan memandu kita dalam menuangkan isi pikiran kita berupa tulisan sejak awal hingga selesai. Sumber-sumber kepustakaan tentunya amat penting dan amat kita butuhkan. Langkah selanjutnya setelah kerangka dasar terbentuk adalah berburu berbagai referensi yang berhubungan dengan tulisan yang akan kita garap. Sumber-sumber rujukan ini bisa dalam berbagai bentuk, umumnya berupa buku, artikel, dan berbagai bentuk tulisan lainnya. Jika diperlukan, bisa pula diburu informasi dengan cara mewawancarai narasumber. Sumber rujukan lainnya bisa pula didapat dari melakukan riset atau penelitian. Setelah berbagai data yang kita perlukan berhasil dihimpun, langkah selanjutnya adalah mempelajari berbagai data tersebut. Langkah ini tentu saja akan memperkaya wawasan tentang tema yang sedang digarap.

Di sanalah relevansinya sebuah pepatah: “Untuk menulis, maka haruslah membaca.” Setelah semua proses di atas kita jalankan dengan baik, saatnya kita meramu kata-kata dan dirangkaikan dengan berbagai data yang sudah kita olah dan pelajari. Dengan menjadikan kerangka dasar tersebut sebagai panduan, maka tentu saja akan lebih memudahkan kita menuangkan berbagai ide dalam benak kita. Seluruh tahapan ini dari awal sampai dengan akhrinya haruslah dijalankan dengan sabar, tekun, dan konsisten. Tanpa kesabaran, ketekunan, dan konsistensi, maka karya yang sedang digarap ini tidak akan bisa diselesaikan dengan baik.

Apa yang sudah kita kerahkan sedari awal tentunya akan sia-sia belaka. Proses menghasilkan sebuah karya mirip sekali dengan seorang ibu yang sedang mengandung janin di dalam rahimnya. Dia harus menjaganya dengan baik dan merawatnya dengan penuh kasih sayang, sekaligus menggenapkan waktu persemayaman janin itu di dalam rahimnya. Ia harus menjalankan semua itu dengan sabar, tekun, dan konsisten, kelak ketika waktunya sudah tiba, karya itu akan lahir dan membawa barokah, kebahagiaan, dan manfaat bagi semua. Insya Allah.[]

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 54

ANTARA PENULIS DAN PENERBIT

Majalahdrise.com – Kini, saya mo berbagi tips agar kita ngerti soal penerbitan ini, sekaligus kita mafhum kedudukan kita sebagai penulis yang dibutuhkan penerbit, istilah dari sononya adalah simbiosis mutualisme alias saling membutuhkan gitu, lho:

1 kamu biasa nulis apaan? tema apaan? siapa pembaca yang kamu bidik? kalo dah segmented, ayo cari tau penerbit yang sesuai. So, jangan nyari penerbit soal peternakan en perkebunan kalo kamu nulis soal teknologi en strategi militer;

2 kalo dah nemu penerbit yang sesuai, ayo bergaol ria and sok akrab sama redaksinya, sapatau dapet jodoh! Eit’s jangan ge-er duluan, maksudnya adalah… kamu berjodoh sama penerbit tadi yang siap nerbitin tulisanmu;

3 kalo dah berjodoh, jangan sungkan usul ide-ide kreatif tuk nunjang performa bukumu, pastiin juga kamu siap bantu jika mereka minta kreativitasmu. So, jangan lempar batu sembunyi tangan, geto!;

4 kamu pun harus siap jika dibutuhin penerbit untuk nunjang performa promo and marketing bukumu. Bilang aja, kita siap road show ke seluruh Indonesia untuk ajang launching and diskusi bukunya. Asyik dunk, keliling Indonesia gratisan…;

5 kamu tetep seorang penulis, so selidikilah naskah apa yang dibutuhin penerbit, sangat dibutuhin en sangat mendesak bagi penerbit. Kalo dah dapet, eksekusi segera… ayo nulis, nulis dan nulis….[]