Mengenal Dunia Editor 3 : Melek Kerja Editor

Driser jika kamu sudah dapet info dari penerbit bahwa naskah tulisanmu lulus seleksi sekaligus  mereka siap nerbitin karya kreatifmu jadi buku, siap-siaplah jika editornya menghubungi kamu, minta ketemu secara langsung. Jika gak bisa kopdar, mungkin pake teknologi informasi via sosmed aja juga bisa mewakili.

Biasanya, editor (yang diwakili managing editor and senior editor) ngajak kamu brainstorming soal proses kreatifmu nulis naskah buku yang akan diterbitin itu. Selain itu, Si Editor juga bakalan ngajak diskusi, apa yang penulis inginkan dengan buku yang bakal diterbitin itu. Soal editingnya, kemasannya sampe urusan promo marketing dan yang pasti soal itungitungan kontraprestasi atas buku yang bakal terbit itu.

Apakah mau plat fee, royalty atau semi-royalty?  Kalo sudah deal, baru deh, pihak penerbit mengeluarkan SAN (surat akad naskah) jika plat fee atau SPP (surat perjanjian penerbitan) jika disepakati dengan sistem royalty atau semi royalty.  Dalam perjanjian itu, biasanya juga dicantumkan soal hak dan kewajiban yang mengikat kedua belah pihak antara penulis dengan penerbit. FYI bagi para penulis pemula, khususnya bagi yang baru pertamakali nerbitin buku, bagusnya ga usah ngeributin soal kontrapretasi itu.

ikutin saja apa maunya penerbit. Kalo kamu sudah ribet soal ginian, alamat editor males ketemu lagi sama kamu. Tapi kalo kamu sudah punya passion yang bagus (dengan buku-bukumu yang bestseller), kamu tentu punya bargain yang bagus pula, daya tawar kamu untuk minta “lebih” dan diistimewakan pun, pasti difasilitasi oleh penerbit.  Selanjutnya jika soal perjanjian ini sudah disepakati, maka Si Editor itu akan segera menggarap naskahmu itu sesuai hasil brainstorming denganmu sebagai penulisnya.

Hal ini penting bagi seorang editor untuk mengetahui latar belakang kamu menulis naskah buku yang dimaksud. Istilah redaksinya adalah review book story!  Sebelum mulai mengedit naskahmu itu, seorang editor harus memahami terlebih dahulu content dan context dari naskah buku yang akan dieksekusinya itu.

Meminjam istilah pakar perbukuan nasional, Pak Bambang Trimansyah, “seorang editor yang baik itu dia harus bisa bersetubuh dengan buku yang dieditnya…”  Kalo Si Editor sudah memahami isi naskah sekaligus pesan yang hendak penulis sampaikan dalam  bukunya itu, maka dia akan merasa nyaman dan asyik saat mengedit naskahmu itu karena dia telah konek dengan karakter tulisanmu dan apa yang kamu mau.

Perlu kamu-kamu ketahui juga, dalam mengedit naskah buku, sedikitnya ada dua orang editor yang terlibat dalam proses editingnya, yaitu senior editor dan junior editor. Bahkan, dalam beberapa kasus, chief editor dan managing editor juga bisa turun tangan. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan di meja redaksi.

Saat proses editing, para editor berpanduan pada teknik editologi yang lazim di dunia penerbitan, plus dengan bahasa selingkung yang ada di masingmasing penerbit. Mereka berbagi tugas sebagaimana job desk and skill masingmasing editor. Senior editor melakukan substantive editing (penyuntingan isi) dan mechanical editing (penyesuaian tata bahasa dan EYD), sedangkan junior editor biasanya mengerjakan mechanical editing  sekaligus proofreading ato menyelaraskan  kembali teks, khawatir ada yang terlewat  saat proses editing di tangan senior editor.

Selain mengandalkan keterampilan dalam mengedit naskah buku, para editor juga dilengkapi dengan “arsenal tempur” yang wajib bin kudu selalu ada di meja redaksi, yaitu kamus; baik kamus bahasa Indonesia, kamus bahasa asing ataupun kamus bahasa daerah. Begitupun saat teknologi telah maju berkembang, kamus digital juga harus siap sedia sebagai amunisi bagi para editor. Nah kini, mungkin gak, ya, seorang penulis juga bisa berprofesi ganda jadi seorang editor? “Sangat mungkin!” itu jawaban lugas master editor di Penerbit Mizan Pustaka, Pak Hernowo Hasim. Guru editor saya ini bilang, seorang editor itu sebaiknya terampil menulis dan cakap bicara, karena dia juga punya tanggung jawab untuk ikut menyuarakan dan mempromosikan buku hasil editannya ke khalayak luas. Tuh, kan? Catat! []

Belajar Jadi Penulis sekaligus Editor

Kini, saya mo berbagi tips bagi D’Riser semua agar terampil menulis sekaligus taktis menyunting buku:  

  1. tulis sudah kelar, kalo baru bab niat mah payah dah, segera beresin dulu tulisanmu?!;  Kamu pastiin dulu naskah yang kamu  
  2. naskahnya, terus dicek dan periksa lagi naskah tulisanmu dengan baik, baca dengan sungguh-sungguh, siapin pula alat tulis jika kamu mau ngoreksi atau nambahin ini-itu;  Kalo sudah kelar nulisnya, print out deh  
  3. hasil baca and koreksiannya tadi ke dalam tulisanmu di layar PC, atau gadget yang biasa kamu pake nulis;  Kalo sudah ngerasa puas, silahkan input  
  4. sudah ngerasa nyaman sama tulisanmu, ajak orang-orang terdekatmu atau orang kepercayaanmu jadi first reader tulisanmu, jangan lupa minta masukannya;  Baca lagi, periksa lagi, koreksi lagi.
  5. Kalo difollow-up, tapi kalo dapet kritik, jangan menyerah… revisi lagi, nulis lagi, edit lagi…  Kalo dapet masukan konstruktif, segera  Selamat…kamu sudah belajar jadi seorang editor![]  

Ngintip “daleman” Redaksi (mengenal penerbitan)

Halo D’Riser dah ngerasa pede mau nerbitin buku di sebuah penerbit, jangan sungkan kamu ngirim karya  terbaiknya ke penerbit tersebut. Tungguin saja, kira-kira satu sampe empat bulanan karya tulis yang kamu kirim itu pasti sudah ada jawaban dari penerbit. Apakah karyamu itu bakal diterbitkan ataukah dikembalikan.

Namun, jika lebih dari setengah tahun karyamu tak adakabar, tanyain saja langsung ke bagian redaksinya.  Siapa tahu masih dalam proses antri atau malah karyamu ga lulus seleksi alias gagal terbit! Cape deh!

Oh ya, kalo kamu udah ngirim karya terbaikmu ke penerbit, tetep tenang ya. Jangan grasa-grusu nanyain karyanya itu diterima atau tidak? Kapan terbit jadi buku? Atau pertanyaan sejenis itu. Biasanya yang suka rese nanya ini-itu adalah para pemula. Tahu nggak, pertanyaannya model interogasi kayak gitu, bikin illfeel awak redaksi penerbit, lho, khususnya para editor. Emangnya para editor cuma ngurusin karya kamu doang?

Jujur saja nih, saat saya jadi managing editor di Mizan, nyaris tiap hari   saya nerima 20 naskah kiriman para penulis di meja redaksi. Jadi, itungin deh, berapa naskah buku yang harus saya seleksi setiap bulannya? Sedangkan dalam sebulan, saya “hanya” bertanggungjawab untuk meluluskan 6-8 naskah untuk diterbitkan jadi buku! Jadi, kalian kudu rada empati sama para editor, ya?!

Oke D’Riser, daleman redaksi yang ada di penerbitan itu di antaranya adalah: chief editor (manager publishing), managing editor (penanggung jawab (pj) lini penerbitan), senior editor, editor, junior editor/copy editor/proofreader.

Nah, para editor itu dilengkapi sama seorang sekretaris redaksi. Setiap naskah buku yang masuk ke redaksi penerbit, selalu dicatat detilnya mulai tanggal masuk redaksi, judul naskah, tema naskah, nama penulis, alamat penulis, hingga deadline respon redaksi kepada penulis. Selanjutnya, naskah tadi  diberikan kepada chief editor untuk diperiksa dan didistribusikan ke masing-masing managing editor yang menanggungjawabi lini penerbitan sesuai tema yang diusung penulis.   

Nah, sejak tiba di meja managing editor inilah, setiap naskah mulai diperiksa dan diseleksi kelayakan terbitnya oleh awak redaksi, khususnya oleh managing editor dan senior editor. Jika menurut mereka, naskah yang masuk itu bagus maka naskah tersebut langsung  masuk waiting list untuk diperiksa lagi oleh chief editor soal kelayakan terbitnya.

Apabila chief editor juga bilang oke maka naskah yang dimaksud akan dibawa oleh chief editor dan managing editor ke sidang redaksi.   

Dalam sidang redaksi inilah, naskah-naskah yang lolos seleksi itu didiskusikan kembali oleh redaksional penerbitan dengan pihak manajemen, mulai dari direktur (chief executive officer), finance control manager, dan promotion and marketing manager.

Jika para pemangku kebijakan penerbitan itu samasama setuju maka naskah buku tersebut akan segera dieksekusi untuk diterbitkan, sekaligus dipastikan juga kapan waktu penerbitan, promo sekaligus pemasarannya?  Namun sebaliknya, jika salah seorang pejabat itu angkat tangan maka dipastikan naskah buku tersebut gagal terbit. Kok bisa? Iya dunk, masa para editor di redaksi keukeuh nerbitin naskah tersebut tanpa dukungan keuangan dari fincon, atau maksa kudu terbit sedangkan manajer promosi & marketingnya ogahogahan promo en masarin bukunya? Gawat kan, alamat jeblok performa penjualannya, tuh!    

Oke, D’Riser di edisi berikutnya, kita akan ngebahas gimana redaksi penerbitan dalam ngelola naskah-naskah layak terbit, ya? tunggu aja di edisi D’Rise yang akan datang. Ciyus, lho! []

Menumpas Mitos Write’s Blok! Nentuin Judul Tulisan

Driser sebagaimana janji di edisi sebelumnya, kali ini, kita mo nerusin jurus ampuh menumpas virus write’s  block. Pada dua edisi sebelumnya, kita dah ngebahas tahapan sebelum nulis. Nah, dalam edisi D’Rise kali ini, kita mo ngupas tuntas tahapan saat kita nulis, biar kita nyaman nerusin tulisan, sekaligus agar write’s block gak jadi alasan kita gak merampungkan tulisan.  

Secara teori, tahapan saat kita nulis, dimulai  dengan: pertama, menentukan judul; kedua, mengawali paragraf; ketiga, pembahasan, and yang terakhir, keempat, adalah kandungan isi. Dalam menentukan judul, orang bilang gampang-gampang susah. Tapi kalo kita dah  14 biasa nulis, nentuin judul bukan perkara yang  sulit, mengalir aja, bisa dirangkai saat  kita mulai nulis, saat tulisan dah kelar, atau bahkan saat kita punya  ide nulis pun, kita dah bisa bikin judul yang menarik.

Malah, sebagian penulis beken, dah mengantongi judul-judul keren sebelum mereka menuliskannya. Mo contoh?  Kang Abik alias Habiburrahman elShirazy yang beken melalui novel Ayat-Ayat  Cinta ngaku bahwa judul novel religiusnya  itu sudah ia kantongi sejak kuliah di Kairo,  Mesir, jauh sebelum ia menuliskan  naskahnya.

Lulusan Universitas al-Azhar,  Mesir ini juga bilang bahwa judul novelnya  itu sama sekali gak terinspirasi dari judul novel kontroversialnya Salman Rushdie, The  Satanic Verses alias Ayat-Ayat Setan. Namun, Kang Abik ngaku bahwa judul tersebut  terinspirasi dari ayat-ayat al-Qur’an yang  berbicara tentang cinta.     

Kalo kita ngerasa nentuin judul masih jadi kendala, jangan ambil pusing, pending aja dulu sambil kita ngelanjutin tulisan sampe tuntas. Kalo dah kelar, pasti deh, ada something special yang membuat kita pede milih sekaligus nentuin judul yang ngepas dengan tulisan kita. Mo bukti? Dulu medio taon 2002an, saya ngerasa terganggu dengan euforia anakanak muda Muslim yang gandrung ama Si Muka Jaring dari Amrik.

Saat itu, karakter  superhero besutan duo Yahudi, Stanley  Lieber Martin dan Steve Ditko itu tengah  merajai tangga box office di seantero jagat.  Beuh, jagoan rekaan itu bener-bener telah  menghipnotis imajinasi anak-anak muda Muslim hingga mereka lupa bahwa  sesungguhnya mereka punya para jawara  dan jagoan Muslim (yang bener-bener nyata,  asli bukan rekaan) yang bisa jadi teladan  sekaligus kebanggaan mereka!

Saya pun terinspirasi untuk nulis buku soal bahaya Si Muka Jaring dari pusat Globo Capitalism itu. Bahkan, saat itu saya dah nentuin judulnya, yaitu Membunuh Si  Muka Jaring! Namun, karena saat itu saya belum dapat reference yang akurat soal SpiderMan, akhirnya proyek untuk ‘membunuh’nya  pun terpaksa saya endapkan dulu.

Saya baru bener-bener menuliskan proyek ini taon 2007, setelah Si Muka Jaring makin menggurita di Negeri Si Komo ini dengan live action-nya yang  ketiga dalam pita seluloid. Akhirnya, tidak lebih dari tiga pekan, saya berhasil merampungkan satu buku yang (akhirnya) saya beri judul, Aku Ingin Membunuh Spider-Man. Namun, dalam proses penerbitannya, naskah buku ini pun diberi title, Spider-Man I’ll Kill U! oleh pihak penerbit.

Alasan pergantian judulnya itu demi mendongkrak sisi komersil buku tersebut, terbukti selama karier kepenulisan saya, buku inilah yang paling sering didiskusikan sekaligus diperdebatkan di banyak forum disbuk dan kepenulisan. Nah tuh, untuk nentuin judul tulisan itu, kita ga harus buru-buru kan, terpenting kita dah punya ide, tema dan referensi yang cukup maka segeralah menulis. Kalo judulnya dah ada, makin mantep tuh. Kalo pun belum dapet judul, pasti deh abis tulisan dah kelar, judul pun pasti ngikut.

Oya, dalam nentuin judul yang keren sekaligus menarik, kita harus rajin membuka kamus, baik kamus bahasa Indonesia, bahasa daerah ataupun bahasa asing.

Di dalam kamus, kita pasti bakal nemuin kosa kata, frase, idiom ataupun istilah yang klop dengan ide ataupun tema tulisan kita. Contoh, dulu saya pernah nulis soal perjuangan seorang pemuda bernama Khairuddin saat pemerintahan Turki  Modern memberangus sisa-sisa pendukung  kekhalifahan Utsmani.

Setelah buka-buka kamus, saya mendapat kosa kata yang menarik  untuk judul kisah tadi. Saya pun menuliskan judul Sebait Elegi Khairuddin. Judul tersebut tentu lebih menarik, dibandingkan dengan judul Sepenggal Kisah Sedih Khairuddin, ya?        

Selain itu, dalam memilih kata atau kalimat dengan diksi yang bagus untuk judul tulisan kita, selayaknya kita membuka bukubuku antologi puisi para penyair, seperti karya Jalaluddin el-Rumi, Mohammad Iqbal, Kahlil Gibran, termasuk juga Chairil Anwar,  Taufiq Ismail, W.S. Rendra, bahkan Sapardi  Djoko Damono, etc. Pasti, deh, kita nemuin  diksi ato pilihan kata yang wonderfull! Gak  percaya? Buktiiin aja sendiri!

So, kalo kita dah mulai nulis, soal judul tulisan jangan jadi kendala kita gak nerusin tulisan. Pokoknya nulis aja dulu, terlepas kita sudah punya judul ataupun belum, sudah ada judul pasti ataupun judul sementara, kita nulis aja terus agar kita gak terserang virus write’s block!  

Oke, D’Riser, di edisi berikutnya kita lanjut lagi dengan pembahasan yang lebih seru, soal tahapan berikutnya setelah nentuin judul tulisan, yaitu mengawali paragraf atau istilah kerennya leading…, tentu masih dengan tema besar menumpas mitos write’s block. Cegat di D’Rise berikutnya, ya?  ^_^   []

Mengupas Mitos write’s block bagian 2

sebelumnya kita bahas Mengupas Mitos write’s block bagian 1 bisa cek tulisanya sekarang kita lanjut

So, apa seh tahapan sebelum nulis itu? Neh, saya kasi bocoronnya, ya…. Jujur aja, teori ini didasarkan pada fakta  empirik yang lazim dialami oleh para penulis, termasuk Dan Brown ataupun J.K. Rowling sekalipun!

Pertama, menentukan ide; Kedua, menyiapkan referensi atau sumber bacaan; Ketiga, menentukan arah atau tujuan; Keempat, menentukan media yang akan dituju; Kelima, menentukan khalayak sasaran yang akan dituju via tulisan yang kita bikin. Soal ide tulisan, dah gak zaman kalo ada orang ngaku gak punya ide, apalagi kalo penulis ngaku gak punya ide tulisan. Wah, dia pasti boong abis. Kok bisa?

Iya atuh, karena setiap orang yang masih mampu berpikir dengan baik, maka dia punya banyak info yang bisa dia komunikasikan pada orang laen, baik secara lisan maupun lewat tulisan.  Selama pancainderanya masih ada yang berfungsi maka dia punya banyak hal yang bisa dia share pada banyak orang.  14 Artinya, apa yang masih bisa kita liat, kita denger, kita rasakan, semua itu merupakan amunisi ide yang dapet kita ledakkan kapan pun kita mau! Ide paling unik, antik sekaligus orisinil adalah pengalaman hidup kita sendiri.

Pengalaman itulah yang bisa kita ceritakan pada orang laen lewat lisan atopun tulisan.  Sebagai contoh, liat tuh, Aries Nugraha yang sukses dengan sinetron Bajaj Bajuri-nya. Doi sukses berat dengan komedi situasi yang tayang di tv swasta nasional itu berkat naskah skenarionya yang kocak, koclak plus konyol. Om Aries ngaku bahwa ide sinetronnya itu berasal dari pengalaman dia sendiri dan keluarganya.

Doi ngaku bahwa Si Bajuri itu, ya refresentasi Om Aries sendiri. Bagi Aries Nugraha, pengalaman adalah gudang ide yang gakan abis dieksplorasi.     Nah, lho, masih ngaku gak punya ide? Awas, jangan boong, lo! Lanjut, ah. Kalo ide udah dapet, kita kudu nyiapin reference, maroji’ ato sumber bacaan! Bahasa kerennya adalah sumber  literatur berupa setumpuk buku dan kitab-kitab klasik. Bila perlu semua koleksi buku kita keluarin semuanya.

Sebagai contoh, kalo kita mo nulis soal politik ekonomi Islam vis a vis politik ekonomi sekular, maka kita gak sekadar nyiapin kitab Nizhom Iqthishodi fil Islam-nya Syaikh Abu Ibrahim bin Ismail atau Iqthishoduna-nya Muhammad Bakr ash-Shadr. Tapi juga, buku klasiknya Adam Smith, The Wealth of Nations dan sekaligus antitesanya, Das Kapital-nya Karl Heinz Marx. Pokoknya, top markotoplah! Kalo kita masih ngerasa kurang reference, gada salahnya  kita menyambangi perpustakaan atau surfing di situs-situs internet, penyedia layanan pdf buku-buku yang kita buru.

Asyik, lho, kita bisa milih yang gratisan ato kalo punya modal lebih, gada salahnya ngambil yang berbayar, dijamin this book isn’t corrupt alias bukunya lengkap dengan akurasi tinggi! Selain itu, untuk mengeksplor ide tulisan, jika sangat dibutuhkan, kita juga bisa sowan sama para pakar di bidang ilmunya.

Contoh kalo mo nulis soal sejarah Islam di Indonesia, sowan aja sama Prof. Drs. H. Ahmad Mansur Suryanegara di Bandung, ato kalo mo ngangkat tema sejarah nasional Indonesia, gada salahnya datang ke LIPI Pusat di Jakarta, kita bisa silah fikriyah sama Prof. Dr. Taufik Abdullah atau Prof. Dr. Asvi Warman Adam. Wah…kita ketemu sama para sejarawan beken, tuh! Kalo reference, maroji’ ama sumber bacaan dah lengkap, yakin, deh, kita gakan mengalami write’s block yang dikhawatirkan para pemula itu! Lha, iyalah, namanya juga dah lengkap.

Jadi, nulisnya pasti lancar! Niat dah ada, ide dah dapet, reference pun dah bejibun. Lanjuuut… Berikutnya, kita nentuin arah ato tujuan dari karya kreatif tulisan kita. Mo diapain dan digimanain tulisan kita bergantung pada tujuan dari tulisan kita itu. Kalo kita mo nulis opini, ya pasti kita harus beropini sebaik mungkin, dari mulai menyajikan fakta, data, berita sekaligus analisa dengan argumentasi yang meyakinkan serta didukung dengan sumber literatur dan quote para pakar di bidangnya. Dijamin, deh, tulisan kita ini bobotnya luar biasa!  Selain itu, tulisan opini gak hanya beropini tanpa ada reason.

Maksudnya adalah kita ngarep bahwa opini kita dapet membuka wawasan intelektual para pembacanya, open mind, mengedukasi plus mencerahkan, sekaligus tulisan opini kita mengajak para pembaca untuk ngikut apa yang kita tuju. Kita ngajak orang lain untuk berubah, ngajak para pembaca untuk punya perspektif dan paradigma yang sama dengan kita.

Tentu, bahasa yang dipake dalam beropini itu ga hanya deskripsi dan argumentasi. Namun juga, persuasi. Di sinilah pentingnya kita mengarahkan tujuan dalam tulisan kita. Kalo menentukan arah dan tujuan dari tulisan kita ini bermasalah, beuh! write’s block sudah menanti kapan pun kita menulis! Jadi, pastikan dulu, ya mo diapain dan digimanain, tulisan yang kita buat itu.   Berikutnya, soal menentukan media  yang akan dituju.

Hal ini juga penting diperhatikan, mengingat tulisan kita kan pengen dipublikasikan dan dibaca banyak orang. Artinya, kalo kita mo nulis opini tentang Islam, maka tulisan kita, ya dikirim ke media Islam dunk, jangan kita kirim ke media nonMuslim, ato kalo kita nulis soal bahaya pemikiran sepilis (sekularisme, pluraisme & liberalisme), eh, kita malah posting di medianya orang-orang begituan.

Wah…, ntar Jaka Sembung bawa golok, dunk! Ups! Terakhir, kita juga kudu memperhitungkan plus menentukan siapa yang jadi para pembaca tulisan kita. Kalo bahasa marketingnya adalah ada segmentasi pasar yang dibidik gitu, lho! Kita nulis kan, untuk dibaca.

Jadi, siapa yang akan baca tulisan kita kudu diperhatiin juga, layaknya seorang da’i kepada mad’unya, seperti pengajar kepada anak didiknya, bak juru kampanye kepada konstituennya, sebagaimana seorang komunikator kepada komunikannya. Itulah, komunikasi yang efektif dan tepat sasaran! Kalo kita gagap nentuin sapa para pembaca tulisan kita itu, pasti deh, write’s block akan menghinggapi proses penulisannya. Gak mau, begitu, kan?

Jadi, buruan tentuin dulu, sapa yang bakal jadi pembaca tulisan kita. Kalo dah jadi professional book writer, kita malah sudah berhitung, sapa saja yang jadi pembaca setia kita, bahkan kita bisa bikin klub pembaca karya-karya kita. Keren abis!

Ntar, dalam edisi D’Rise berikutnya, masih nyambung sama tahapan saat kita nulis, ya, agar write’s block gak jadi alasan kita gak merampungkan tulisan. Intinya, kalo kita emang niat jadi penulis, write’s block emang hanyalah sebuah mitos belaka. Saya gak mengada-ada karena kalo kita dah punya azzam yang kuat jadi penulis, Allah Swt pasti memudahkan jalannya. Fatawakal’alallah….Keep Write![]