Shohibul Quran

Oleh: Zanida Aishabilla
siswi SMP Bina Insan Mandiri

Alangkah Indahnya hidup ini…, Bila kita menjadi Shahibul Qurani.  Alangkah damai hatinya, Alangkah Indah tutur katanya.  Dengungan ayat ayat suci, dari lisan para penata hati. Beruntunglah Ia, sampai sampai Rasul menjanjikannya. “Kelak diakhirat nanti, akan dikatakan pada Shahibul Quran `Bacalah, naiklah  terus dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau telah membaca Al  Quran dengan tartil didunia. Sesungguhnya, tempatmu adalah pada  akhir ayat yang engkau baca” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)  

Shahibul Quran, Siapa sih dia?

Iya, siapa sih dia sampe sampe  Rasul menyebut-nyebutnya dan menjanjikan tempat yang tinggi di akhirat nanti. Perasaan, Shahabat Nabi gak ada yang namanya Shahibul Quran, deh.  Atau jangan jangan dia bukan orang…. Hii. Terus apa dong? Daripada makin gaje mending jelasin aja ye Jadi, Shahibul Quran itu, menurut kitab Min Muqowwimat Nafsiyah Islamiyah karya Asy – Syeikh Abdul Qodim Zallum yang disebutkan pada Bab ke 2 (Versi terjemah Indonesia)

adalah orang yang senantiasa bersama sama dengan Al Quran.

Jadi mau seneng, susah, marah, sedih, bingung, galau ya pegangannya Al Quran. Mau di sekolah, di warung, di toko, di masjid, di jalan pegangannya Alquran. Asal  gak di kamar mandi atau di tempat najis sih ya.. Alquran, bukan cuma dipegang  doang lho ye!

Pegang aja, kitanya sambil bengong ngeliat cover nya. Ntar disangka orang kuker lagi! wkwk, enggak lah ya.. dipegang maksudnya dibaca. Dibacanya gak cepet cepet kayak banci dikejar polisi, tapi dengan tartil. Warattilil quraana tartiilaa… 

Dan bakalan sangat lebih bagus lagi kalo dihafalin sampe lengket di kepala dan tak ada satu huruf pun yang lepas. Duh, kayaknya susah amat jadi peghafal quran yak? Sebenernya enggak juga kalo udah biasa ngafalin, murojaahnya aja yang agak susah hehe.  Dan bakalan lebih hebat lagi kalo dapet sanad dan bisa nguasai qiraahnya dengan baik. And don’t forget ya Qurannya DI AMALIN! Jangan Cuma jadi bacaan doang..! itu, yang namanya Shahibul Quran Jiddan (sangat). Eits, wait wait… Baca Quran gak sekedear pas kita lagi galau, marah, ato sedih doang lho ya.

Pas kita lagi seneng and happy happy, qurannya ditinggalin, Duuh,, Sedih!  Harusnya juga pas kita lagi hepi n smile qurannya dipegang juga. Mending lah dipegang daripada taruh di gudang, Nyesek!.  Jangan sampe ya kita jadi orang yang gak full imannya. Butuh Allah pas lagi susah doang, pas musibah pergi, maksiat lagi wah naudzubillah min dzalik. Jangan sampe ya kita jadi orang yang tidak menyempurnakan agama alias Muna… Muna.. Munaaa..fik!

ngambil yang enak buang yang susah. Back to hadits, kalo kita liat balik hadits tadi, maka kita akan mendapati kalimat “ tempatmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca” maksudnya apa lagi yak?! Jadi gini guys,, maksudnya kelak waktu di akhirat nanti tempatnya di syurga itu tergantung sedikit banyaknya ayat yang kita baca. Makin dibaca, makin tinggi, makin mulia pula diri ini..

Satu Diganjar Sepuluh.

Al Quran emang kitab paling  keren dan paling asli sepanjang masa, diturunkan oleh Allah untuk hamba hambanya yang beriman.  Kenapa paling keren? Gimana enggak, kita baca aja udah dapet derajat yang tinggi, syurga yang mulia, hikmah yang banyak, ampunan yang gak ada habis habisnya, dan pahala yang lebih dari bumi dan seisinya. Ada hadist shahih yang menggembirakan nih, bagi para Shahibul Quran, gini bunyinya.

“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al Quran), maka dia akan  mendapat satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat, Aku  (Rasulullah SAW) tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim itu satu huruf, melainkan Alif satu  huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf pula. (HR. Tirmidzi).

Haaa…! Gimana gimana? Kebanyang gak sih berapa kebaikan yang kita dapetin kalo kita baca satu ayat aja! Baca doang itu, belum dihafalin. Menurut banyak orang, kalo kita mau menghafal satu ayat, minimal ayatnya dibaca 25 kali. Kebayang dong satu ayat kali 25 kali dikali sepuluh perhuruf ayatnya. Buanyak banget tuh!

Emang ya, Allah itu mencintai Hamba hamba Nya, bahkan Allah sangat memudahkan kita untuk mencari kebaikan. Itu baru satu amalan yaitu baca quran, belum amalan amalan yang lain, sholat Tahajjud, Dhuha Witir, Shaum senin khamis, dan lain lain.

Maka, mumpung masih muda, belum sakit yang aneh aneh, belum ubanan, belum banyak lupa. Ayo,segera beramal!!.  #MariBacaQuran[] 

Kemulyaan ada di hatimu

aya teringat ketika masih di bangku Sekolah Dasar (SD) ada seorang teman saya, sebut aja namanya Shinta –tapi bukan nama sebenarnya—yang mendapat perlakuan kurang mengenakan dari teman-teman saya terutama anak-anak cowok. Persoalannya mungkin sepele hanya karena fisik Shinta yang mungkin di mata mereka kurang menarik.

Sorry, gigi Shinta agak nongol sehingga Shinta selalu diperolok dengan sebutan “Boneng”. Tiap hari lihat Shinta diperolok, jujur saya merasa sedih, saya ikut berempati dengan apa yang dialami Shinta. Meski terlihat selalu tegar dan cuek, saya yakin pasti di lubuk hatinya yang terdalam dia merasakan sakit. Betapa tidak, giginya yang nongol bukanlah kehendak dia. Bukan pula kemauan dia.

Kemulyaan ada di hatimu

Ini adalah ketetapan Allah atasnya, tapi mengapa dia harus mendapatkan perlakuan rasis dari teman-temannya? Hari ini, ketika saya mengajar anakanak SMK—saya masih melihat hal serupa. Ada seorang murid cowok saya yang selalu jadi bulan-bulanan dan bahan olokan teman yang lain. Juga karena hal sepele, gara-gara dia tidak lancar dalam melafalkan huruf “R” atau orang Sunda bilangnya dengan istilah “cadel”. 

Tertawa ngakak, puas sampai terpingkal-pingkal adalah ekspresi teman-temannya saat Idam –bukan nama sebenarnya—mulai melafalkan kata atau kalimat yang mengandung huruf “R”. Lihat kejadian itu saya mengurut dada, menggelengkan kepala, dan tidak habis pikir kenapa mereka tega berbuat seperti itu pada temannya. Akhirnya separo pelajaran saya dipake buat  S teman saya, sebut aja namanya Shinta –tapi bukan nama sebenarnya—yang mendapat perlakuan kurang mengenakan dari teman-teman saya terutama anak-anak cowok.

Persoalannya mungkin sepele hanya karena fisik Shinta yang mungkin di mata mereka kurang menarik. Sorry, gigi Shinta agak nongol sehingga Shinta selalu diperolok dengan sebutan “Boneng”.  aya teringat ketika masih di bangku Sekolah Dasar (SD) ada seorang  Tiap hari lihat Shinta diperolok, jujur saya merasa sedih, saya ikut berempati dengan apa yang dialami Shinta. Meski terlihat selalu tegar dan cuek, saya yakin pasti di lubuk hatinya yang terdalam dia merasakan sakit. Betapa tidak, giginya yang nongol bukanlah kehendak dia.

Bukan pula kemauan dia. Ini adalah ketetapan Allah atasnya, tapi mengapa dia harus mendapatkan perlakuan rasis dari teman-temannya? Hari ini, ketika saya mengajar anakanak SMK—saya masih melihat hal  28 nasehatin mereka semua. Hadeuuh, cape deeh! Oke sobat, yuk berfikir lebih realistis. Sebenarnya, jika kita mau belajar berempati pada orang lain, tentu aksi bulying yang merendahkan teman tidak akan terjadi. Kita andaikan saja jika hal itu menimpa kita, menimpa saudara kita, adik atau kakak kita. Perasaan apa yang kirakira muncul? Relakah jika hal tersebut  dialami oleh orang-orang yang kita kasihi? 

Mampukah kita bertahan untuk tidak marah, atau bersikap biasa aja, atau  bahkan cuek?  Marilah mulai saat ini kita lebih menghargai orang lain. Sadarilah bahwa untuk menilai kemuliaan seseorang sesungguhnya Allah Swt tidak akan melihat kepada tampak muka dan harta kita. Tetapi justru Allah Swt melihat kepada hati dan pikiran serta amal-amal kita.

Lebih spesifik lagi Allah hanya akan melihat ketakwaan kita.  Kita tidak akan menduga mungkin suatu hari nanti entah kapan, siapa tahu orang-orang yang kita hina, kita lecehkan,  dan kita rendahkan itu, justru akan menjadi orang yang paling berjasa dan memberi pertolongan kepada kita di saat-saat yang kita butuhkan. Siapa yang menebar benih energi negatif maka akan menuai keburukannya di masa mendatang. Sebaliknya, siapa saja yang menanam benih energi positif maka akan menuai kebaikannya di masa yang akan datang. Allah Swt telah berfirman:          

 “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula” (TQS Al Zalzalah: 7-8).

Kalau belum cukup juga, hadist berikut mungkin akan mengerem kebiasaan buruk kamu-kamu yang ngga bisa menjaga lisannya. Rasul bersabda “Mencaci maki seorang muslim adalah perbuatan fasik, sedang membunuh seorang muslim adalah tindak kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi masih tetep berani menghina dan melecehkan sodara se-muslim? Nggak dong![]

Ketika Minder Meneror

Sobat islam apa yang kita rasakan ketika orang – orang yang ada di sekeliling kita adalah orang hebat, genius, konglomerat, hafidz qur’an, dan orang-orang yang berasal dari keluarga terpandang? Kemungkinan terbesar dari hasil analisis yang akurat menghasilkan jawaban MINDER.

Ya, Minder,tapi sebenarnya apa sih Minder itu sendiri? MINDER, satu kata penuh makna yang sebenernya merupakan cikal bakal keputusasaan alias futur bin galau. MINDER itu sendiri biasa hadir saat kita mengukur diri dengan orang yang lebih daripada kita.  

Mungkin lebih keren, lebih jago, lebih pinter, lebih shalih, de el el. Minder bisa diartikan dengan perasaan rendah diri atawa nggak PD dengan apa-apa yang kita punya atau kita nggak punya apa-apa. Padahal orang lain belum tentu mandang rendah kita, iya kan?  Dan dari sikap Minder itu sendiri manusia jadi sombong en kufur nikmat.

Kenapa jadi sombong? Karena untuk menghilangkan rasa Minder itu kebanyakan kita malah menyombongkan kelebihan di atas kekurangan kita, yang tujuannya sih untuk menutupi kekurangan en kita makin PD. Sobat Islam, cara basi yang kebanyakan orang pilih itu bukan bikin kita PD, tapi malah bikin orang lain yang kemampuannya mungkin di bawah kita jadi Minder, dan bisabisa kita termasuk sebagai seorang  pengecut.

Nah lho! Seseorang bernama Jacques Audiberti mengatakan  “Kepengecutan yang paling besar adalah ketika kita membuktikan kekuatan kita  kepada kelemahan orang lain.” Dengan begitu juga kita bisa jadi Kufur Nikmat, tentu saja, karena berawal dari MINDER itulah kita nggak nyadar kalau setiap manusia punya kelebihan yang berbeda,  en jatuhnya malah jadi nggak besyukur.

Sobat, setiap manusia pasti punya  kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun terkadang kita nggak nyadar dengan kelebihan yang kita punya, padahal kita semua itu multitalent lho! Thomas Alva Edison aja pernah bilang “Keberhasilan dicapai dengan 1% bakat dan 99% kerja keras.” Yang jadi permasalahan sebenarnya bukan kerena kita nggak berbakat, tapi kemauan kita dalam mengolah bakat yang kecil menjadi besar itu yang bikin kita males  dan melahirkan Si Minder, en merasa diri ini nggak bisa apa-apa. Kalau bicara soal MINDER, sebetulnya Minder juga ada pembagiannya lho. Ada Minder Statis (pasif), ada juga Minder Dinamis (aktif).

Minder Statis atau minder pasif yakni minder yang hanya jalan di tempat alias nggak ada kemauan dalam mengasah bakat menjadi luar biasa. Contoh, ketika kita belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik, kita jadi enggan datang ke acara-acara kajian karena merasa nggak sepadan dengan orang-orang shalih yang ada di dalamnya.

Dan MINDER itu akhirnya bersarang terus dalam diri kita tanpa kita alirkan menjadi motivasi. Itu namanya Minder Statis, yang biasanya dimiliki oleh orang-orang NATO (no action talk only). Dalam Al-Qur’an dijelaskan secara gamblang.  ‘… Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. …” (TQS Ar-Ra’d : 11).

Yang kedua yakni Minder Dinamis atau minder aktif adalah minder yang dapat mengalirkan arus motivasi. Atau bisa juga diartikan, bahwa perasaan MINDER tersebut telah dapat menerapkan hukum sebab akibat (kaidah kausalitas) dengan benar.

Kayak contoh tadi, kalau kita menggunakan Minder Dinamis maka kita harus terlebih dahulu memperhatikan akan sebab dan akibatnya. Karena nggak ada akibat yang kagak ada sebabnya, dan juga sebaliknya. Jadi nggak ada juga orang yang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik hanya dengan simsalabim abracadabra.

Hey, life isn’t a movie! Kalau sekiranya belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik,maka kita harus mempelajarinya terus,bisa juga dengan misalnya minta ajarkan ke teman yang bisa. Dan yang muncul dari Minder Dinamis adalah sikap ingin memantaskan diri untuk berkumpul dengan orang-orang shalih ,bukan malah memelihara MINDER tersebut sampe busuk.

Nah, Minder Dinamis lah yang biasa dimiliki oleh orang-orang Mustanir atau orang yang berpikir cemerlang. Kalau memang ingin menerapkan Minder Dinamis meski ngerasa banyak kekurangan, semuanya pasti bisa! Man jadda wajada.

Sekarang, kalau kita merasa kekurangan kita banyak, berarti banyak juga  dong benih-benih kelebihan yang kita punya. Toh, sebatang pohon yang rindang pun awalnya hanya sebiji benih. Dan bisa jadi Allah member kita kekurangan tersebut untuk menguji kita, apakah kita mau memperbaiki keadaan atau malah mengambil sikap fatalisme (pasrah secara total dengan keadaan). Allah swt mengingatkan,

“… Kami tidak akan membebani seseorang melainkan menurut kesanggupanya. …” (TQS. Al-A’raf : 42)

So, sekarang mulailah menerapkan Minder Dinamis yang sejatinya bisa membuang perasaan MINDER itu sendiri en jadilah seorang muslim yang PD! PD untuk berprestasi, PD menjadi diri sendiri, dan tentunya harus PD menjadi seorang PD alias Pengemban Dakwah! Are you ready?![]  

Di Cari Bukan Di tunggu

by Amilatun Sakinah SMAN 1 Palimanan

Di cari, bukan ditunggu! Pasti pernah dengar kalimat di atas, kan? Biasanya kalimat di atas identik dengan hidayah yang sering disindir-sindirkan bagi yang masih bikin gemez untuk diajak bener. Ketika yang diajak berkata, “Maaf, gue belum dapet hidayah. Ini juga lagi nunggu.

” Lantas kita berkata, “Bro, sist, hidayah ntu dicari, bukan ditunggu! Tapi, sobat, kali ini yang akan dibahas bukan tentang hidayah, melainkan sesuatu yang lain yang sama pentingnya bagi diri kita agar tetap istiqomah patuhi perintah Allah.

Kalo ini ga ada, wah, bisa gaswat! Emangnya apaan, sih? apa, ya? 😀 Sesuatu yang penting ini adalah sesuatu  yang juga ada di lingkungan olahraga, terutama kalo sedang mengadakan pertandingan. Apa coba tebak? Support! Yeah, support! Alias Dukungan!

Banyak sekali fenomena-fenomena unik yang dialami oleh ‘challenger’ kita  dalam hidupnya, terutama jika ia tinggal di tempat yang tak ada dukungan sama sekali baginya untuk tetap patuh pada aturan Allah, entah itu dalam bentuk lingkungan rumah, sekolah atau lingkungan kerja.

Kita bisa bayangkan, gimana sih rasanya memakai jilbab dan kerudung bagi perempuan yang tinggal di daerah orang yang tak mengenal apa itu pakaian muslimah sebenarnya. Apalagi kalau daerahnya itu memiliki suhu yang tinggi. Wah, kalau nggak ada dukungan, bisa-bisa tanggal tuh pakaian dari tubuh si perempuan, diganti dengan pakaiannya kaum primitif.

Atau yang lagi happy-happy puasa sunah, eh, kiri-kanan orang pada nyeruput teh dalam gelas yang dikasih es dingin. Atau ketika sedang menyebarkan undangan kajian di antara penyebar undangan pernikahan, eh, maksudnya undangan konser dan sebagainya, yang bikin kita makin terasingkan. Nggak ada yang dukung sama sekali. Hingga akhirnya muncul ketertarikan atas  rayuan dan ‘mantra’ dari makhluk yang dekat  dengan kita namun tak dapat terdefinisikan.

“Udah, nggak usah tutup aurat lagi, kan bisa pakai alasan karena kamu sendirian. Mau, nggak punya teman? Mau dijauhi?” atau “Hei? Masih aja nyebarin undangan kajian! Yang ada malah sakit hati karena nggak ada yang dateng, kan? Kasian deh! Udah, berhenti aja. Ayo tinggalin kajian. Maen aja dengan temantemanmu.”

Dan rayuan lainnya yang nggak  kalah ampuhnya. Sampai akhirnya kita  bergumam, “Iya, gue sendiri, nggak ada dukungan. Gue berhenti aja deh. Gimanapun gue butuh dukungan. Nanti aja kalo udah pada dukung, baru gue taat lagi.” Padahal, kalo kita analogikan ini pada acara kontes seperti mencari bakat atau nyanyi dan sebagainya, mereka itu, para peserta, mencari dukungan atau menunggu dukungan? Sekali lagi, mencari dukungan atau menunggu dukungan? Sob, kita bisa tahu apa yang akan terjadi kalo mereka hanya diam menunggu dukungan. Apa hasilnya? Ya, kalah! Sehingga akhirnya mereka bekerja keras mencari dukungan, dan salah satu caranya adalah, meningkatkan talenta yang dipunya agar menarik banyak dukungan.

Nah, dari analogi ini, kalo kita ingin lingkungan kita berubah menjadi lingkungan yang mendukung kita dalam menaati aturan Allah, kita harus tetap menaati Allah, bukan malah menjauh. Kalo kita berhenti, gimana orang mau mendukung? Wong yang didukung aja nggak ada. Tul gak? Kalo kita pengen orang kenal dengan jilbab dan kerudung agar nanti pakaian ini juga dipakai oleh teman-teman kita n mendukung kita. Tapi kitanya sendiri nggak pakai pakaian itu. kira-kira orang bakalan tahu nggak seperti apa jilbab n kerudung itu? pikirkan sendiri.. So, nggak ada alasan untuk  nggak taat. Kalo mau dukungan, ya, cari. Bukan ditunggu! Sepakat? []