PTN atau PTS

Ini bukan soal ptn atau pts biasa pasca kita lulus sma ini sial pilihan ptn dan pts yang sering kali lupakan bahkan terabaikan sob, kita udah menyadari kalau waktu itu terasa sangat cepat dan selama itu banyak sesuatu yang udah kita jalani. Setiap yang kita jalani pasti ada awalnya dan akhirnya, contohnya saja saat kita masuk SD, kita berawal dari kelas 1 dan berakhir di kelas 6. Betul nggak? Nah, begitupun dengan hidup kita Sob, pasti akan ada akhirnya, sebagaimana Firman Allah dalam Q.S. Al Ankabut ayat 57 yang artinya “tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…” Lantas, apakah setelah hidup kita berakhir alias mati bin meninggal, semuanya berakhir begitu saja? Nggak sob, setelah kita mati, semuanya nggak berakhir begitu saja, tapi semuanya akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT.

Seluruh tubuh kita akan menjadi saksi atas setiap perbuatan yang udah dilakukan, pada hari itu nggak ada yang bisa menolong kita kecuali amal kebaikan kita sendiri dan kita nggak akan bisa berbohong sedikitpun. Catet tuh! Setelah semua amalan kita dipertanggung jawabkan, maka tibalah Allah menentukan kita menuju PTN kah? Tempat siksa yang sangat pedih, disediakan bagi mereka yang durhaka kepada Allah, tidak mau menjalankan syariatNya, dan melaksanakan apaapa yang dilarangNya. Ataukah PTS?

Tempat segala kenikmatan dan rahmat Allah, di dalamnya terdapat bidadari-bidadari yang bermata jeli dan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya, disediakan bagi mereka yang beriman kepada Allah dan senantiasa bertakwa kepadaNya dimanapun dan kapanpun. Banyak pemuda dan pemudi yang ingin masuk PTS, tapi rela menggadaikan masa mudanya untuk sesuatu yang tidak menghantarkan dirinya kepada PTS, seperti rajin pacaran, rajin ninggalin shalat, nggak mau mengkaji islam, nggak mau dakwah de el el. Kalo begitu kenyataannya akankah kita sampai ke PTS? Sedangkan para pemuda yang menggadaikan masa mudanya untuk sesuatu yang menghantarkan dirinya kepada PTS saja, nggak ada yang tau nyampe atau nggak.

Namun Insyaallah, jika kita sungguh-sungguh ingin masuk ke PTS dan berusaha semaksimal yang kita bisa mengarungi jalanan yang akan menghantarkan kita menju PTS, seperti berbuat kebajikan, melakukan amar ma’ruf nahyi munkar, bertakwa kepada Allah, de el el. maka Insyaallah kita akan sampe juga. Allah SWT berfirman di dalam Q.S. Al Kahfi ayat 107 yang artinya

“Sungguh, orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal.” Kemudian di dalam Q.S. Al Hijr ayat 45 yang artinya “Sesungguhnya orang yang bertakwa itu berada dalam surga-surga (taman-taman), dan (di dekat) mata air (yang mengalir).” Nah,

Sob, saya ingatkan bahwa seleksi menuju PTN dan PTS ini dilaksanakan sepanjang masa. setiap detik yang kita lalui, sebenarnya kita sedang melaksanakan seleksi. Kita nggak pernah tau kapan kita berakhir alias mati bin meninggal, tapi pertanggung jawaban itu pasti adanya, dan setelah kita berakhir maka nggak ada pilihan lagi memilih PTN atau PTS.

Ketika kita berakhir di jalan yang menghantarkan menuju PTS, maka itulah balasan atas setiap jerih payah saat kita berusaha bertakwa kepadaNya. Namun jika kita berakhir di jalan yang menghantarkan menuju PTN, maka terimalah adzab yang pedih dari Allah SWT. Kalo kita bersungguh-sungguh ingin sampai ke PTS, maka kita harus mengarungi jalanan yang menghantarkan menuju PTS, menjalaninya dengan bersungguh-sungguh, apapun kerikil yang ada di jalan itu takkan pernah menyurutkan langkah, hingga keakhirnya kapanpun waktu kematian itu, kita akan senantiasa siap. Karena perjalanan menuju PTS bukanlah sesuatu yang mudah, kita harus memupuk iman sekuat-kuatnya, dan selalu bersiaga sepanjang masa agar tak keluar jalur. Hanya Islamlah sebagai satu-satunya agama yang Allah Ridhoi yang bisa menghantarkan kita munuju PTS dengan selamat.

Maka hal yang musti alias kudu kita lakukan adalah hidup sesuai aturan islam. Betul apa betul? Kalo belum mengenal islam lebih dalam, gimana? Wah bisa cacat tuh pemahamannya, and bisa-bisa kita keluar jalur lagi, Maka solusinya adalah mengenalinya lebih dalam dengan mengkajinya secara sungguh-sungguh dan intensif, kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Nggak cukup untuk diri sendiri doang sob, kita juga harus berbagi wawasan Islam dengan yang lainnya dalam bentuk dakwah, yup dakwah.

Dengan dakwah, bukan hanya kita saja yang akan menuju PTS, tapi bersama teman-teman kita yang lain juga. Nah, kalo udah begitukan makin mantap, Sob. Setuju? PTN yang saya maksud disini adalah akronim dari Persinggahan Terakhir Neraka, dan PTS adalah akronim dari Persinggahan Terakhir Surga. Ini dia PTN dan PTS yang saya maksudkan. Inget-inget ya.. :). So, mau pilih PTN atau PTS? Tentukan dari sekarang![

KERITIS TAPI ROMANTIS BY AMILATUN SAKINAH

Kelingking terpaut dengan kelingking lainnya. “Kita  temenan selamanya. Sampai mati.” Ucap dua orang  Kyang terikat persahabatan. Mungkin ini kali ya, yang kadang populer di kalangan  anak-anak sampai remaja dalam pertemanan.

Janji setia  bakal bersama selamanya, tanpa ada saling sakit-menyakiti  (ciee…), tanpa ada pengkhianatan, saling terbuka dan jadi  pundak curhatan. So sweet.. ^^ Sejak kecil, kemana-mana berdua. Jajan satu, jajan  semua. Nggak jajan satu, nggak jajan semua meskipun air liur  sudah di pinggir bibir. Saling mengukir nama di hati masing-masing. Serasa dunia Cuma ada milik berdua. Itu yang orang  bilang teman sejati.

Selalu mendukung apapun keadaannya. Itulah yang sedang terjadi di dunia nyata sekarang.  Teman menjadi bagian penting dalam hidup. Rasanya belum  hidup kalo belum punya teman. Secara, manusia juga adalah  makhluk sosial, yang kerjanya pasti bersosialisasi dengan  orang lain.

Terutama dengan makhluk yang namanya teman  ini. Menurut kalian, teman itu apa sih? Teman, orang yang ada di sekitar hidup kita. Teman  itu adalah orang yang sayang sama kita. Sayang berarti  menjaga. Sepakat?  Di masa sekolah, apalagi masa esempe dan esema,  teman menjadi bagian yang akan dikenang.

Jika punya  masalahpun, teman adalah salah satu sandaran untuk  berkabung, eh, maksudnya untuk bersandar. Karena, dengan  usia yang ngga beda jauh, rasa saling mengerti akan mudah  hadir. Pengertian menjadi hal yang pasti ada pada seorang  teman. Tapi sobat, nggak semua orang bisa menjadi teman  seperti yang kita inginkan. Betul? Pasti setiap insan  menginginkan karakter teman masing-masing.

Tapi maaf-maaf saja, Allah nyiptain manusia dengan karakter-karakter  yang berbeda. Namun jangan khawatir. Di antara 1000 atau bahkan 1  triliun karakter teman, Cuma ada dua tipe yang mendominasi  di dunia ini. Serius Cuma dua? Iya, serius! Tipe teman yang pertama, dia selalu ada buat kita  (sebenarnya ngga juga sih, masa tiap detik ada mulu), kalo  kita ada masalah, dia hadir sebagai sandaran. Apapun yang  terjadi, sekalipun kita salah, dia tetap dukung kita.

Mengusap  pundak kita. Ia akan mengatakan, lakukan apa yang kita mau,  apa yang ada di hati kita. Pokoknya ia bikin kita nyaman  dengan segala keiyaannya. Ia akan ada di pihak kita.  Sekalipun kita melakukan pelanggaran terhadap aturan Allah.  Kita nggak sholat, dibiarin. Kita pacaran, misalnya, atau nggak  nutup aurat, nggak disentil. Tipe teman yang kedua, dia kritis. Bukan kritis lagi  sakit ya! Kadang-kadang seiya sekata, kadang-kadang  setidakiya setidaksekata.

Saat kita ingin melakukan sesuatu,  dia ngecek dulu, sesuai dengan aturan Allah nggak, ya? Kalo  iya, lanjut, kalo nggak, ya bisa batal. Nah, dari dua tipe tersebut, kira-kira, tipe mana yang  lebih disukai? Yang pertama, atau yang kedua? Ibaratnya seorang ibu deh. Kira-kira, ibu yang baik itu  yang selalu membolehkan apapun kepada anaknya, atau ibu  yang pilih-pilih dan berpikir dulu sebelum anaknya  mendapatkan apa yang dia inginkan?

Pikir saja sendiri. Karena, sia-sia sekali kalo kita berteman tapi kita tidak  mendapatkan kebaikan apapun. Hanya menjalani rutinitas  pertemanan, atau bahkan menjerumuskan tentu kita nggak  mau. Maka dari itu, yuk kita jadi teman super, yang bawel  namun ngangenin. Yang kritis tapi  romantis tis tis. ^^[] Ayo

GELISAH ITU MEMBAHAGIAKAN BY SALMA HUMAIRA

“Aduh, jadi ga enak hati, kok aku jadi ketakutan? Aaah, takut dia  marah, aku salah gitu, ya? Yaaah gimana dong?” Itulah sebagian  ungkapan yang sering dilontarkan manakala kita sedang diselimuti  mantel kegelisahan.

Maha Penyayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala,  Dia menciptakan rasa gelisah untuk membersihkan dinding hati  kita. Dan hei! Mengapa kita mesti bahagia saat dirundung rasa  gelisah?

 Hmm … Sebelumnya kita tahu kan apa penyebab  kegelisahan? Yap! Semua itu disebabkan lantaran kita telah  tergelincir ke dalam lubang kesalahan atau dosa.  Dalam kitab Al-Fawain, Ibnu Qoyyim menjelaskan,  “Rusaknya hati adalah karena merasa aman dari azab Allah,  suburnya hati adalah karena takut dan berdzikir kepada Allah.”  

Wah, coba bayangkan bagaimana rasanya jikalau kegelisahan  tak pernah menyelami lika-liku kehidupan kita. Meskipun  telah melakukan beribu kesalahan dan kejahatan, tapi  tetap merasa tenang-tenang saja. Apakah kita mau  seperti itu? Tak pernah memperbaiki diri karena  merasa selalu benar, jadinya dijauhi orang- orang. Merasa  aman baik-baik saja,  padahal sudah di ujung jurang  kenistaan. Naudzubillah. Kita gelisah artinya hati kita masih berfungsi.  

Seperti yang kita ketahui, hati ada 3 macam. Hati yang  sehat, hati yang sakit, serta hati yang mati. Semoga kita  semua senantiasa memiliki hati yang sehat. Aamiin. Tapi  kawan-kawan pun tahu kan, hati yang dimaksud di sini bukan  hati yang berfungsi mengeluarkan hasil metabolisme berupa  empedu! Tapi, yang dimaksud hati di sini ialah sesuatu yang  letaknya tersembunyi.

Kalbu. Ingin tahu kesehatan hatimu? Cobalah menjelajahi  ayat demi ayat yang tergores indah dalam Al-Qur’an, apabila  kau merasa ada getaran yang menyala-nyala atau matamu  mendadak perih ingin meluapkan butiran hangatnya, mungkin  (Insya Allah) hatimu masih ada. Namun, apabila beribu  muhasabah yang kau arungi tak mampu membuatmu menangis  lagi, mohonlah pada-Nya agar diberikan hati yang baru nan  bersih.

Karena, kuteringat perkataan seseorang. Hati yang sakit  itu ibarat tubuh yang sakit, mau seenak apa pun makanannya.  Kalau tubuh sedang sakit tiada nafsu tuk menghabiskannya.  Begitulah, seindah apa pun ayat Al-Qur’an, takkan mampu  menyentuh relung kalbu yang sakit. Astagfirullah.

 D’riser, berbahagialah tatkala kamu gelisah setelah  melakukan kesalahan. Berarti Allah Subhanahu Wa Ta’ala masih  (dan akan selalu) sayang padamu karena telah mengingatkanmu  melalui cara yang supeeer halus. “Tapi kan gelisah itu ga enak, gimana menghilangkannya?” Bila kita sungguh-sungguh, Insya  Allah kita bisa terbebas dari jeratan kegelisahan itu. Caranya? Kita  hanya perlu meminta maaf pada yang bersangkutan.

Gengsi?  Malu? Kubur dulu percikan rasa gengsi dan malumu itu, yakinlah  setelah meminta maaf hatimu akan berangsur-angsur pulih dan  membaik. Soal dimaafkan atau tidaknya, pasrahkan semuanya  pada Allah. Tawakal. Yang terpenting kita sudah berusaha. Jangan  terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Karena seyogyanya kita  semua hanya insan biasa yang tak luput dari selaput kesalahan.  Lagipula, hanya orang yang tidak pernah melakukan apa-apa yang  tidak pernah terpeleset ke dalam kubangan kesalahan.

 Nah, jika  proyek meminta maaf telah diluncurkan. Segera introspeksi dan  perbaiki diri, jadikan dirimu yang lebih baik dari hari  sebelumnya. Selagi masih diberi kesempatan tuk  bernafas! So, mulai sekarang tak perlulah kita  mengurung rasa gelisah itu dengan ketakutan dan  kesedihan. Layangkan untaian kata maafmu,  bebaskan belenggu ketakutanmu, gunting tali-tali kegengsianmu. Jangan siksa dirimu,  meleburlah dalam kedamaian. Dan  jadilah orang yang berbahagia. Kita  semua berhak mematri  kebahagiaan dalam hati.[

TAKE ACTION NOW! BY ISTIQOMAH

ideas are free, but action is  priceless! Ungkapan yang pas buat  kita yang  masih muda.  Kebanyakan bicara gak  akan  I menghasilkan apa-apa untuk kita menjadi  ‘sesuatu’. Hal  yang terkesan biasa aja menjadi wah ketika kita gak bisa untuk  melakukan hal itu, why?

Karena belum pernah mencoba untuk  menunjukkan yang sejatinya kita juga bisa. Example nih  sosok  pemuda bernama Muhammad II bin Murad penakluk  Konstatinopel yang sebelumnya juga pemuda biasa yang belum  bisa apa-apa, tapi kesungguhan membuat ia menyanggupi apa  yang telah dijanjikan dari bisyarah rasulullah SAW dan ia pun bisa  melakukan hal yang tidak pernah diajarkan pada dunia  sebelumnya. Ketika itu usianya cukup belia dan semua orang akan  mengira bahwa itu hanya isapan jempol belaka, dan dalam otak  mereka seraya akan berkata

“Hah…?! Pemuda yang masih bau  kencur bin tengil  ingin menaklukkan kota yang belum pernah  tertaklukkan 1123 tahun lamanya, sok nantangin lu GAK  MUNGKIN bakal berhasil!”.

Walhasil semuanya menjadi mungkin  ia raih dengan action, jadi tindakan itu merupakan hal yang tidak  ternilai jika kita ingin mencobanya. But, now we are need action!  Banyak penghalang menjadi gembok bagi diri kita sendiri yang  selalu merasa ku tak bisa menggapaimu takkan pernah bisa, (lirik  lagunya utopia nii.. hehehe) padahal belum nyoba.

Selalu mikir  bahwa orang yang notabene juara punya anugerah yang lebih dan  gak sama dengan mereka yang merasa dirinya ‘tidak bisa’ untuk  juara, dan mereka selalu berpendapat “jelaslah dia bisa dapat  nilai bagus otak yang Allah berikan porsinyakan gak sama kayak  aku… blablabla!@?!”  

Padahal semua itu  gak akan pernah  terjadi dengan  sendirinya tanpa  adanya usaha. Jika  kita percaya,  bahwa Allah  maha penyayang  dia pasti tidak  akan  membiarkan  hambanya  sendirian untuk  menghadapi kesulitan  yang dihadapinya  dengan catatan jika  hambanya itu ingin  meminta pertolongan  kepada-Nya justru itu kalau menginginkan sesuatu minta aja sama  Allah yang pastinya gak akan mengecewakan kita dijamin deh dan  pasti gak akan nyesel.

 Karena tidak ada yang mustahil bagi Allah  untuk melakukan sesuatu itu, bagi-Nya itu perkara yang sangat  mudah. Jadi, gak ada kata yang gak mungkin untuk kita  melakukan yang orang lain belum pernah melakukan  sebelumnya karena kita masih punya harapan yang  terbentang luas untuk merealisasikan impian kita because,  Impossible Is Nothing!  Hari ini, kita masih punya kesempatan untuk  mewujudkan coretan tinta emas seperti pendahulu kita. Ada  sosok Jabbir Ibnu Hayyan yang membabat habis teori magis  barat kuno yang kesan teorinya masih kayak ‘dukun’ gitu  soalnya masih mempercayai hal magis sehingga dikupas tuntas  deh sama Geber (orang barat mengenalnya) dengan sainsnya.

Ini  bukan cerita fiksi yang harus lo bilang wow dan masuk ke dalam  book of record gitu, tapi ini kenyataan karena hal ini menjadi buah  bibir masyarakat dunia untuk mengadopsi teorinya. Well, mau  menunggu sampai kapan sih… untuk  menggantikan posisi  pendahulu kita.

Mereka adalah seorang muslim yang artinya  mereka adalah nenek moyang kita yang justeru itu kita pasti bisa  untuk menggantikannya karena darah mereka juga mengalir ke  darah kita.   Muhammad II bin Murad penakluk Konstatinopel dan ilmuwan  kimia Jabbir Ibnu Hayyan adalah potret kecil, yang menjadi  gambaran pemuda islam saat mimpi emas mereka tewujud,  karena syari’ah islam saat itu masih berdiri kokoh.

Semua hal yang  mereka impikan terwujud karena satu misi yang sama yaitu  mendapatkan ridhaNya disetiap denyut nadi mereka, disetiap  langkah mereka dan disetiap hembusan nafas mereka solah-olah  islam telah mendarah daging di dalam tubuh mereka. Jangan takut  untuk bermimpi karena mimpi itu tidak sulit. Tapi, bangunlah dan  lakukanlah hal yang kau impikan karena itu yang menentukan  hidup kita untuk menjadi agent of change dengan menegakkan  daulah khilafah! Coming soon! []