CERITA DARI CHINA : dui bu qi, wo yao li bai yi xia, ke yi ma?

by jony karikno mahasiswa wuxi institute of tchnology- china

17 September 2015. Kaki ini menginjakan di tanah tirai bambu untuk pertama kalinya. Tidak pernah  terpikir sebelumnya bisa belajar ke luar negeri apalagi sampai ke negeri China yang sekarang lebih sering disebut Tiongkok. Sebelumnya, hanya bisa melihat kehidupan, pendidikan ataupun kebudayaan negeri Panda ini dari layar kotak kecil, televisi ataupun laptop. Tapi sekarang malah nyata berada di di tanah kelahiran Wong Fei Hung. Alhamdulillaah…!

Kehidupan Masyarakat China

Hal paling mencolok banget di China itu  yang namanya agama menjadi hal yang tabu. Cuma sedikit saja kayaknya yang mempunyai agama di china. Bahkan salah satu temen asli china, panggil aja Chong malah ingin masuk neraka “I want go to Hell.!!”. Haduuhh…Mereka lebih takut sama atasan dibandingkan dengan Tuhan. Ya karena menganggap atasanlah yang memberi gaji. Uang dan kesenangan yang berbentuk materi itulah yang di kejar-kejar oleh mayoritas penduduk China sampai kapan pun.

Tolak ukur kebahagiaan bersifat materi demi memenuhi pemuasan nafsu semata. Sehingga menjadi hal yang lumrah ketika kehidupan begitu bebas. Saking bebasnya, masyarakatnya pun cuek banget dengan yang lain. Terutama dalam urusan pergaulan dengan lawan jenis aduuhhh….aduuhh..kayaknya lebih ngeri dibandingkan dengan Indonesia walau jangan dibilang Indonesia sudah baik.

Aktivitas (maaf) ciuman di jalan, di kampus bahkan di halte bus pun sudah biasa dan tak  ada rasa malu kayaknya. Sama halnya dengan fashion. Saat di kampus kalau untuk pemuda sepertinya relatif normal. Namun untuk yang pemudi kadang sampai ‘horor’. Hots pant pun tak segan digunakan dalam area kampus. Judi, di negeri kita kegiatannya disembunyikan dan dilakukan di tempat tertutup.

Di sini, judi ibarat rutinitas biasa yang tak mengenal tempat bahkan seperti sebuah kebudayaan. Baik di tempat wisata, perempatan atau dipinggir jalan kayak difasilitasi walau sederhana berupa kursi 4, meja, dan kartu.

Tantangan Muslim Di China

Tantangan terbesar sebagai seorang  muslim minoritas di negeri Sakura ini adalah  ketaatan pada aturan agama . Jika dikampus ku sih tak begitu parah pertentangannya terhadap islam. Yaa masih pahamlah kalau kita ada sebuah kewajiban agama dan ada toleransi melakukan ibadah terlebih sholat jum’at yang hanya se minggu sekali.  

Berbeda dengan salah satu sahabat indonesia lainnya yang mengambil universitas di daerah Nanjing sekitar 2 jam lebih perjalanannya menggunakan kereta. Ketika mau izin meninggalkan kelas dengan alasan ingin melakukan sholat jum’at, di tolak mentah-metah. Xue sheng : Dui bu qi, wo yao li bai yi xia, ke yi ma ? ( Murid : Maaf, saya mau ibadah dulu, bolehkah.? ) Lao shi : Ni men zai zher yao xuexi, bu shi yao li bai. (Dosen : Kalian datang kesini itu untuk belajar, bukan ibadah)

Krikkk….kriikkk…..suasana kelas menjadi hening… Selain tantangan dari pihak kampus, ada tantangan yang lain dalam hal makanan. Di sini, babi dan  minuman beralkohol itu dijual bebas. Sehingga bagi yang muslim agak kesulitan untuk memperoleh makanan halal.  Untuk melakukan sholat berjamaah khususnya sholat jum’atan sangat berbeda kondisinya dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia, hampir setiap RW ada satu mushola atau masjid (walau tak semua tempat begitu tapi mayoritas).

Di sini, satu kota biasanya hanya ada satu masjid yang berada di tengah kota. Itu pun hanya digunakan ketika sholat jum’at. Masjid ini merupakan satu-satunya masjid (setahu saya) yang ada di kota Wuxi, Jiangsu, China.

Tempat dimana berkumpulnya umat muslim untuk sholat berjamaah.  Bila bulan Ramadhan tiba, diskriminasi dan pelarangan menjalankan ibadah puasa maupun sholat tarawih akan dilakukan pihak pemerintah. Secara adminitratif dipersulit seperti jika mau sholat tarawih harus mendaftar kepada pihak pemerintah untuk mendapatkan kartu identitas melakukan ibadah.  

Selain itu, ada kebijakan memberikan makanan kepada semua pekerja jika memang seorang muslim tersebut bekerja di pabrik ataupun lembaga pemerintah, dan diharuskan memakannya atau tidak pemotongan gaji. Sama halnya dengan anakanak sekolah dasar atau menengah, pemerintah melarang menjalankan ibadah puasa dengan dalih menjaga kesehatan  padahal hanya akal-akalan saja. Pesan saya untuk driser, “gantungkan cita-cita yang tinggi dan bersemangatlah dalam mengejarnya walau harus keluar negeri sekalipun. Tujuannya, bukan sekedar bermanfaat untuk diri sendiri tapi juga bermanfaat bagi umat islam dan dakwah.”

‘Wajah Plastik’ Orang Korea

tak terasa sudah memasuki tahun keempat kehadiranku dan keluargakecilku di Korea Selatan Aku menemani suamiku yang melanjutkan studi doctoral (S3) di kota Busan, sebuah kota metropolitan yang letaknya sekitar 5 jam dari Ibukota Seoul.

Meski jarak Busan – Seoul cukup jauh tetapi kebudayaan dan gaya hidup penduduk Busan tidak jauh berbeda dengan penduduk Seoul. Bisa dibilang kalau negara Korea Selatan adalah negara yang paling homogen setelah Korea Utara. Para penduduknya memiliki karakter yang khas yaitu mereka tidak ingin tampil berbeda dengan orang lain.

Pokoknya orang selalu ingin sama dengan orang lain. Ketika media Korea Selatan memuji artis Jang Geun Seok sebagai pria terganteng dan artis Kim Hyo Jin sebagai artis tercantik maka semua orang berbondong datang ke klinik kecantikan untuk mengubah wajahnya seperti dua artis tersebut. Wajar jika wajah orang Korea Selatan bisa dibilang “mirip semua” ‘cetakan wajah’ yang ada di klinik operasi sama dengan artis-artis idolanya.

Kebanyakan orang Korea Selatan memandang bahwa operasi plastik itu sahsah saja. Mereka sudah tidak segan-segan  lagi melakukan operasi plastik untuk  mengubah dan menyempurnakan bentuk  tubuhnya sesuai keinginan hatinya. Klinik operasi plastik menjamur dimana-mana.

Di daerah Gangnam yang terkenal dengan klinik operasi plastik terbaik di Korea, sangat  mudah menemui klinik yang tersebar di daerah itu. Sekitar 500 klinik operasi plastik  yang besar dan kecil ada disana. Kota kecil  dan pedesaan juga tak luput dari keberadaan  klinik operasi plastik. Aku sendiri sempat  kaget ketika pertama kali datang ke Korea  dimana banyak kutemui iklan klinik operasi  plastik yang tersebar di tempat umum, baik di transportasi, iklan layanan masyarakat,  iklan di surat kabar, iklan televisi dan di rumah sakit.

Aku yang selama ini menganggap bahwa operasi plastik adalah sebuah upaya penipuan diri dan tentu saja  berdosa di dalam Islam sangat membenci keberadaan operasi plastik yang ada di kota Busan. Menurut pendapatku, orang yang melalukan operasi plastik sebenarnya memiliki kepribadian yang rapuh, tidak mensyukuri anugrah Allah dan memandang rendah dirinya sendiri.  Operasi plastik di Korea Selatan dianggap sebagai mekanisme survival mereka.

Artinya  seseorang sangat menggantungkan operasi plastik sebagai cara agar mereka bisa tetap bertahan hidup dan eksis di dunia. Seseorang dikatakan bahagia jika dia sudah melakukan operasi plastik dan jika kita berusaha tampil apa adanya saja, maka kita akan tersingkir dari kultur sosial. Miris tapi ini nyata terjadi. Sungguh menyedihkan ketika seorang teman atau kerabat yang kita kenal hanya memandang kebaikan dan kesuksesan hidup dari tampang yang dimiliki. Bisa dikatakan kalau warga Korea sendiri sangat rasis terhadap rasnya sendiri.

Mereka memiliki penilaian subjektif yang tidak bisa ditawar dan dinegosiasikan.  Kabarnya seseorang yang melamar pekerjaan akan menghabiskan uang yang banyak untuk melakukan operasi plastik agar penampilan mereka cantik, langsing dan menarik. Keahlian dan prestasi bukanlah alasan kuat diterimanya mereka di tempat kerja.

Makin cantik dan ganteng, maka dia berpeluang besar untuk diterima. Inilah yang mendorong para orang tua untuk memberikan hadiah operasi plastik saat anaknya libur panjang sekolah, dimana mereka bisa menjalani operasi plastik dan pemulihannya selama liburan.

Saat anakanak lulus SMA, orang tua juga segera  mengantar anaknya pergi ke klinik kecantikan  untuk mengubah penampilannya agar lebih  menarik.

Operasi paling dasar yang dilakukan anak-anak SMA adalah membuat lipatan mata agar mata terlihat besar dan kelopak mata terbentuk. Saat melihat anak-anak SMP, aku sering melihat wajah yang masih alami dan bentuk wajah yang masih kotak, dan tubuh yang sedikit gempal.

Namun buatku itu terlihat lebih cantik dan sehat. Ada satu pola pikir yang cukup “menonjol” di Korea Selatan yaitu, sesorang akan memandang orang lain dari penampilan luarnya saja. Pepatah “Don’t judge a book by its cover ” tidak berlaku disini. Mereka mengaku bisa menilai baik buruk seseorang hanya dengan melihat penampilannya saja.

Ini sangat menarik karena selama ini kita beranggapan kalau kita sulit menilai seseorang dari penampilan luarnya saja. Penampilan luar sangatlah menipu. Seseorang yang sederhana dan tidak cantik bukan berarti dia orang yang buruk akhlaqnya.

Kita sering menilai kalau kecantikan wajah yang tidak dibarengi inner beauty (kecantikan jiwa) maka bukanlah apaapa. Seseorang yang memiliki akhlaq mulia dan perilaku yang baik tentu lebih baik kepribadiannya.  Red: Ikuti Cerita seru ‘Berjilbab di Negeri Ginseng’di edisi berikutnya. Jangan sampai ketinggalan ya!

Valentine day di Negeri Fir’aun

Kabut dingin tiba-tiba menyelimuti seluruh penjuru langit kairo Bayangkan selama 112 tahun terakhir, Valentine day di Negeri Fir’aun baru kali ini Mesir diselimuti salju yang turun di beberapa kota, seperti di Nasr City dan pengunungan Sinai.

Musim dingin di Mesir dimulai dengan aktivitas sekolah. Jalanan seantero Mesir dihiasi hilir mudik pelajar yang sibuk mencari angkutan Yap, sekolah di Mesir memang tidak seperti di Indonesia. Sistem liburannya disesuaikan dengan musim. Menjelang musim dingin aktivitas sekolah dimulai dan di akhiri menjelang musim panas.

Pokoknya kalau masalah liburan sekolah, pelajar Mesir bakalan puas merasakan panjangnya harihari tanpa kegiatan sekolah di musim panas.  Tak hanya musim liburannya yang berbeda. Tapi juga pergaulan pelajar di beberapa sekolah seperti terlihat di Kotomiyah, sebuah perkampungan yang jauh dari nuansa hiruk pikuknya perkotaan. Seorang pelajar perempuan dan laki-laki dipisahkan sekolahnya. Jadi gak ada istilahnya bercampur baur antara laki-laki dan perempuan karena sekolahnya disesuaikan dengan jenis kelamin.  

Valentine day di Negeri Fir’aun

Satu hal yang menarik kalo ngomongin sekolahan di mesir adalah soal seragam sekolah. Di sini pelajar dibebaskan modelnya pakaiannya, ada yang gak pake krudung, berkrudung tapi pake celana atau rok, ada yang pake jilbab plus niqobnya asalkan jangan pake rok mini.  Berbicara masalah sekolahan rasanya kurang lengkap kalau gak ngomongin kultur remaja, di Mesir khususnya di Kotomiyah, jarang banget orang memperlihatkan aurat kakinya ataupun rambutnya.

Tapi pakaiannya ngepress berat, ketat-ketat gitu. Belum kalau ditambah warna baju yang bikin mata mencolok ngeliatnya, ngejreng banget seperti merah cabe, kuning, ampe warna hijau tua.  Para pelajar jarang terlihat, berkerumun dengan lain jenis.

Pagi-pagi aktivitas di mulai mereka berjalan menuju sekolahan sambil tengah asyik berbincangbincang dan mereka adalah 100 % perempuan. Begitu pun remaja lelaki mereka  terhanyut dengan canda-tawa yang begitu renyah terdengar sesekali jejaka tersebut  menendang-dendang kaki seolah-seolah mereka tengah membicarakan dunia bola.  Kalo gitu, apakah ada remaja yang doyan pacaran? Teteup! Hanya saja sesekali terlihat, itu pun ngobrol sambil jalan bareng. Masih jaga jarak ceritanya.

Walau tetep aja nggak boleh. Itu keadaan di pedesaan ya. Kalau di perkotaan, muda-mudi berjamaah pacarannya alias bertebaran apalagi kalau ke tempat rekreasi mereka pada mojokmojokan. Banyak virus kebarat-baratan yang  sedikit demi sedikit diadaptasi oleh kaum  muslimin, tak terkecuali remaja muslim di Mesir.  Padahal budaya islam di Mesir kentara sepanjang sendi perkotaan. Misalnya hampir di setiap sudut jalan kita akan sering bertemu dengan wanita bercadar, morotal Qur’an membahana, di taksi, bus, café, lantunan ayat suci.

Orang Mesir terbiasa membawa mushaf Qur’an dan membacanya disela waktu senggang. Ramai banget deh. Tapi yah gitu deh itu semuanya cuman jadi budaya. Nggak otomatis membentuk perilaku islami generai mudanya. Karena kalau kita lihat tingkah pola anak remaja Mesir ada banyak dari mereka yang terkena virus Valentine Day.  

Untungnya kali ini bertemu dengan seorang remaja yang mau berbagi cerita seputar kebiasaan Valentine Day remaja Mesir. Sebut saja Asmaa Essam seorang pelajar SMP yang baru berumur 14 tahun, anak ke tiga dari empat bersaudara.

Kerennya, Asma sedikit bisa berbahasa Indonesia, karena Asma mempunyai ketertarikan terhadap Indonesia, mulai dari orang Indonesia yang katanya baik-baik (*benerin peci*), doi seneng makanan Indonesia dari Risoles ampe Baso. Berikut petikan obrolannya,

“Asma kamu tahu Valentine Day gak.”? “ Iyah aku tahu, tapi kenapa ukhti tanyakan Valentine Day bukanya haram hukumnya,” Waw menarik sekali jawaban si Asma, bikin penasaraan ternyata Asma salah satu remaja Mesir yang anti Valentine Day. “ Oh begitu yah bagaimana dengan temantemanmu, apakah mereka merayakannya?.”

 “ Mereka (teman-temanya) banyak yang merayakannya, begitu pula di remaja di Mesir mereka merayakanya.”

 “ Memangnya seperti apa sih tradisi Valentine Day ala Mesir?” “ Mereka mendapatkan kado spesial,”

 “Seperti apa bentuk pemberian kadonya?”

“ Mereka mendapat kado istimewa seperti Parfum, boneka Tedy Bears, kue yang aromanya begitu enak, mereka akan menghadiahkannya kepada orang yang dicintainya, semuanya serba pink dan unggu, atau seikat bunga dan pakaian.  “ Terus kamu kenapa tidak seperti mereka yang mereyakanya?.”

 “ Karena Islam melarangnya dan tidak menganjurkannya, apalagi Valentine Day adalah sesuatu yang datangnya bukan dari Islam, jangan kita mengambil sesuatu yang bukan dari ajaran Islam, walaupun hanya sekedar beriinovasi namun sesat, dan setiap kesalahan yang disadari adalah dosa. Rosululloh Saw bersabda  

“ Subhanalloh Asma, syukron atas ceritanya.”

 “ Asma boleh tahu cita-cita kamu apa?”

 “ Saya ingin pergi ke Indonesia, tolong doakan semoga impian saya terkabul.”

 “ Amin.”

Driser, Subhanalloh ya ternyata diantara remaja mesir yang gaul ada juga sosok Asmaa yang pemikirannya tak terkontaminasi virus barat. Asmaa mempunyai pendirian yang kuat ditengahtengah budaya barat yang senantiasa tiasa menggerus identitas kaum muslim khususnya remaja en remaji. Virus hedonis yang dipasarkan musuh Islam via eurofia  perayaan Valentine Day nggak cuman di negeri si Komo. Di negeri Firáun juga.  Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua segala dosa kemaksiatan. Say NO to  Valentine Day![]

Hallowen Tahun ini

Hari itu Kamis 31 Oktober. Jam di dinding menunjukkan waktu sekitar pukul enam petang. Di luar rumah  udara dingin dan lembab khas musim gugur. Kami sekeluarga sedang mengobrol saat pintu depan diketuk. “Ingat, ya,” suami yang bersiap salat Isya’ mengingatkan, “Nggak usah dibuka pintunya.” “Kalo ngintip lewat jendela aja gimana?” tanya saya.  “Nggak boleh!” tegas suami lagi. “Peraturannya, kalau tidak merayakan, tidak boleh membukakan pintu.

Kalau membukakan pintu, harus ngasih permen.” Satu jam setelahnya, kami berdua sudah berada di ASDA, toko swalayan terdekat. Berbelanja kebutuhan pokok. Sebagian pelayan dan pembeli mengenakan kostum vampir atau drakula berbagai model, berdandan bak setan merah bertanduk dengan garpu trisula di tangan, bajak laut, dan banyak lagi.Tak lupa make up menyesuaikan kostum. “Beli pumpkin, ya, Yah?”

saya memasukkan labu ke keranjang belanjaan. Sepanjang perjalanan pulang, berkalikali kami berpapasan dengan rombongan  penyihir perempuan, baik anak-anak, remaja,  juga dewasa. Maksudnya perempuan-perempuan  berkostum hitam, bertopi tinggi hitam, lengkap  dengan tongkat sihir atau sapu terbang. Juga ‘mayat hidup’ berbusana putih dan make up ‘berdarah-darah’. Kostum hantu, tengkorak berjalan dan jubah hitam plus topeng ghost face seperti di film Scream, lebih banyak diminati laki-laki.  

Di halaman-halaman rumah, terpasang buah-buah pumpkin (labu) hias. Labu-labu itu dikeruk isinya, lantas diukir menyerupai wajah hantu dan dipasangi lilin di dalamnya seperti lampion. Biasa disebut jack-o-lantern. Anak-anak dan remaja berkostum itu mengetuk pintu-pintu rumah. Bila sang empunya rumah membukakan pintu, mereka berseru, “TRICK OR TREAT?”. Sesuai tradisi, pemilik rumah lantas memberikan permenpermen kepada mereka. Menurut Wikipedia, perayaan Halloween berasal dari festival Samhain (dari bahasa Irlandia Kuno samain) yang dirayakan bangsa Galia Kelt (Gaels dan Celt) di Eropa untuk merayakan panen.

Orang Galia Kelt yang menyembah berhala dan dewa-dewi menggunakan kesempatan festival untuk menyembelih hewan ternak dan menimbun makanan untuk persiapan musim dingin. Mereka percaya bahwa pada 31 Oktober, pembatas dunia orang mati dan  hidup terbuka. Orang  mati membahayakan orang hidup dengan membawa penyakit dan merusak hasil panen. Mereka menyalakan api unggun untuk membakar tulang-tulang dari hewan yang mereka sembelih dan berpurapura sebagai arwah jahat untuk berusaha berdamai dengan mereka. Karenanya hingga  kini, simbol-simbol Halloween dekat dengan  kematian, keajaiban, monster, dan karakter  menyeramkan yang sering dikaitkan dengan  setan dan iblis dalam kebudayaan Barat. 

Misalnya penyihir, kelelawar, burung hantu,  burungcgagak, burung bangkai, rumah hantu,  kucing hitam, laba-laba, goblin, zombie,  mumi, tengkorak, dan manusia serigala. Meski belakangan karakter film horor klasik seperti drakula atau monster Frankenstein juga  banyak dipakai. Sementara labu jack-o-lantern  menggambarkan keadaan alam Eropa di musim gugur. Dari sinimuncul warna hitam  dan oranye yang dianggap sebagai warna  tradisional Halloween. Ketika bangsa Romawi menaklukkan Galia, penganut Kristen berusaha mengubah tradisi penyembahan berhala ini menjadi bernuansa Kristen.

Paus Gregorius III dan Paus Gregorius IV memindahkan perayaan All Saints’ Day (Hari Raya Semua Orang Kudus) yang sebelumnya jatuh pada 13 Mei ke tanggal 1 November. Dari kata All Saints’ Day, lahir kata All Hallows’ Even (eve/even berarti petang/malam) yang kemudian menjadi Halloween. Melihat sejarah lahirnya Halloween, rasanya wajar bila muslim tidak ikut merayakannya. Mbak Dian Neilson, ibu tiga  remaja putra yang tinggal di London, mengemukakan pendapatnya, “Memang amat disayangkan masih saja ada ibu (muslim) yang ikut-ikut meramaikan Halloween, dengan alasan sekedar for fun. For fun ini kalau tidak dihentikan menjadi suatu kebiasaan untuk anak-anak. Alhamdulillah, anak-anak saya tidak pernah meramaikan acara beginian dari semenjak saya tinggal di UK (United Kingdom). Kalau mereka ketok pintu atau pencet-pencet bel, saya tidak pernah bukakan, apalagi sampai memberikan sweet (permen).

Saya cuekin saja.” Pada dasarnya, Islam telah melarang kaum muslim merayakan hari perayaan orang kafir, baik musyrik (penyembah berhala) maupun ahlul kitab (Nasrani/KristendanYahudi). Larangan ini mencakup aktivitas; mengucapkan selamat, hadir di jalan-jalan untuk menyaksikan atau melihat perayaan orang kafir, mengirim kartu selamat, dan lain sebagainya. Ini didasarkan pada ayat, “Dan apabila mereka melewati (orang-orang) yang mengerjakan perbuatanperbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”  (QS Al Furqan [25]: 72).

Dari Sahabat Anas RA, ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari raya yang mereka rayakan, beliau pun bersabda, “Sungguh Allah Swt telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Idul Adha dan Idul Fithri.” (HR. Abu Dawud dan An Nasa’i dengan sanad yang shahih). Yuk, bangga menjadi muslim. Di mana pun kita berada.[]