Cinta Nabi Harga Mati

Majalahdrise.com – Bagi kita sebagai seorang muslim, Nabi Muhammad saw adalah sosok yang mulia. Tak ada cacat cela karena udah dijamin oleh Allah swt kalo perkataan dan perbuatan beliau adalah wahyu yang mesti kita jadikan pegangan. Kecintaan pada Nabi Muhammad adalah bagian dari kecintaan pada Allah swt.

Nggak heran kalo para sahabat mati-matian berusaha mencintai Rasulullah saw melebihi dirinya sendiri. Dalam hadits dari Anas ra. Nabi Saw bersabda: “Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (Muttafaq Alaih).

Karena cinta nggak cuman kata-kata, mereka berusaha tunjukkan kecintaannya dalam perbuatan yang patut jadi teladan, diantaranya:

Diriwayatkan dari Anas ra., ia berkata: Ketika perang Uhud kaum Muslim berlarian meninggalkan Nabi saw. Abu Thalhah sedang berada di depan Nabi saw., melindungi beliau dengan perisainya. Abu Thalhah adalah seorang pemanah yang sangat cepat lemparannya. Pada saat itu ia mampu menangkis dua atau tiga busur panah. Kemudian ada seorang lelaki yang lewat. Ia membawa setumpuk tombak kemudian berkata, “Aku akan menebarkannya untuk Abi Thalhah”. Kemudian Nabi saw. beralih ke pinggir melihat orang-orang. Maka Abu Thalhah berkata, “Ya Nabiyullah, demi bapak dan ibuku, engkau jangan minggir, nanti panah orang-orang akan mengenaimu. Biarkan aku yang berkorban jangan engkau….” (Mutafaq ‘alaih)

Dari Sahal bin Saad ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda pada Khaibar: Berkata kepadaku Qutaibah bin Said, berkata kepadaku Ya’kub bin Abdurrahman dari Abu Hazim, ia berkata; Sahal bin Sa’ad ra. telah memberitahukan kepadaku bahwa Rasulullah saw. bersabda pada perang Khaibar, “Aku akan memberikan panji ini kepada seorang lelaki yang di atas tangannya Allah akan memberikan kemenangan. Ia telah mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.”

             Berkata Sahal Bin Sa’ad, “Maka orang-orang pun pergi untuk tidur dan mereka bertanya-tanya di dalam hati mereka, siapakah di antara mereka yang akan diberikan panji oleh Rasulullah saw.” Ketika tiba waktu subuh, maka orang-orang ramai menghadap Rasulullah saw. Semuanya berharap agar diberi panji oleh Rasululah saw.

             Maka Rasul bersabda, “Di manakah Ali bin Abi Thalib?” Dikatakan kepada Rasul, “Ia sedang sakit mata, Ya Rasulullah!” Kemudian orang-orang pun mengutus seorang sahabat untuk membawa Ali bin Abi Thalib ke hadapan Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw. meludahi kedua matanya dan berdoa untuknya, maka sembuhlah ia hingga seolah-olah ia belum pernah sakit sebelumnya.

             Kemudian Rasul memberikan panji itu kepada Ali bin Abi Thalib. Lalu Ali berkata, “Ya Rasulallah!, aku akan memerangi mereka sampai mereka bisa seperti kita (memeluk Islam).” Kemudian Rasullah saw. bersabda, “Berangkatlah perlahan-lahan hingga engkau berdiri di halaman mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan kabarkan kepada mereka hak Allah yang merupakan kewajiban mereka. Maka demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seorang manusia karena engkau, hal itu lebih baik bagi engkau daripada unta merah.” (Mutafaq ‘alaih)

Muhammad bin Sirin berkata: Telah berbincang-bincang segolongan laki-laki di masa Umar ra., hingga seakan-akan mereka melebihkan Umar ra. atas Abu Bakar ra., kemudian hal itu sampai kepada Umar bin Khathab r.a., lalu beliau berkata, “Demi Allah, satu malam dari Abu Bakar lebih utama daripada keluarga Umar. Sungguh Rasulullah telah pergi menuju gua Tsur disertai Abu Bakar. Abu Bakar terkadang berjalan di depan beliau dan terkadang berjalan di belakang beliau.

             Hingga hal itu membuat Rasulullah penasaran, beliau pun berkata: Wahai Abu Bakar! Kenapa engkau terkadang berjalan di depanku dan terkadang di belakangku? Abu Bakar berkata: Jika aku ingat orang-orang yang mengejarmu, maka aku berjalan di belakangmu, dan jika aku ingat orang-orang yang mengintaimu, maka aku berjalan di depanmu.

             Rasulullah saw. bersabda: Wahai Abu Bakar, jika terjadi sesuatu, apakah engkau suka hal itu menimpamu dan tidak menimpaku? Abu Bakar menjawab: Benar, demi Allah yang telah mengutusmu dengan hak, jika ada suatu perkara yang menyakitkan, maka aku lebih suka hal itu menimpaku dan tidak menimpamu.

             Ketika keduanya telah sampai di gua Tsur, Abu Bakar berkata: Tunggu sebentar di tempatmu wahai Rasulullah!, hingga aku membersihkan gua untukmu. Kemudian Abu Bakar pun masuk gua dan ia membersihkan (dari segala hal yang akan menggangu). Ketika ia ada di atas gua, ia ingat belum membersihkan sebuah lubang, kemudian ia berkata: Wahai Rasulullah, tetap ditempatmu!, aku akan membersihkan sebuah lubang. Maka ia pun masuk gua dan membersihkan lubang itu. Kemudian berkata; silakan turun wahai Rasulullah saw., Maka Rasul pun turun.” Umar berkata, “Demi Allah, sungguh malam itu lebih utama dari pada keluarga Umar.” (HR. Hakim).

Anas bin Malik berkata: Sesunguhnya Rasulullah saw. pada saat perang Uhud telah terpojok sendirian bersama  tujuh orang Anshar dan dua orang Quraisy (Muhajirin). Ketika musuh (kaum Musyrik) telah merangsek mendekati beliau, beliau bersabda, “Siapa yang bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau menjadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar lalu memerangi musuh hingga terbunuh. Kemudian musuh kembali merangsek mendekat. Beliau bersabda, “Siapa yang bisa menolak mereka dari kita, maka ia akan masuk surga atau menjadi temanku di surga.” Maka majulah seorang laki-laki dari kaum Anshar, lalu memerangi musuh hingga ia terbunuh. Hal seperti itu terjadi berulang-ulang hingga terbunuhlah tujuh orang Anshar. Rasulullah bersabda kepada dua sahabatnya (dari Muhajirin), “Kita tidak sebanding dengan para sahabat kita itu.” (HR. Muslim)

Abdullah bin Hisyam berkata: Kami bersama Nabi saw., sementara beliau memegang tangan Umar bin Khathab. Umar berkata, “Wahai Rasulullah!, Sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Nabi saw. berkata, “Tidak bisa! Demi Allah hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar berkata, “Sesungguhnya mulai saat ini, demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Nabi saw. bersabda, “Sekarang engkau telah benar wahai Umar.” (HR. Bukhari).

 

Cegah Dengan Khilafah

Sebagai bentuk protes terhadap penghinaan Nabi oleh media Barat, ajakan boikot terhadap produk Barat menggema di negeri-negeri Muslim. Hasilnya, emang lumayan bikin ngeper pemerintah Eropa yang takut ekonomi negaranya terancam akibat aksi boikot. Seperti yang pernah dialami negeri Viking, Denmark pasca kasus kartun Nabi saw. Sayangnya, aksi boikot produk nggak bikin mereka yang menghina Allah swt dan Rasul-Nya kapok. Apalagi dalih kebebasan berpendapat atau berekspresi bisa melindungi mereka dari jeratan hukum. Makanya, mereka malah makin jor-joran.

Kalo udah gini, kerasa banget deh pentingnya kehadiran institusi yang bisa menyatukan muslim sedunia. Institusi itu adalah kekhilafahan Islam seperti yang ditunjukkan para shahabat pasca Rasul wafat. Ini ditegaskan Rasul dalam sabdanya:

Sesungguhnya seorang imam—Khalifah—adalah perisai orang-orang akan menjadikannya pelindung dan berperang di belakangnya (HR al-Bukhari dan Muslim)

Dengan adanya khilafah, mereka yang menghina Allah swt dan Rasul-Nya bakal dapet ganjaran setimpal. Penghinaan terhadap Islam atau kaum Muslimin sama dengan menabuh genderang perang. Seperti yang terjadi pada masa Khilafah Abbasiyah, yaitu ketika Nuruddin Zanki menjabat sebagai wali (gubernur) Syam pada tahun 557 H. Ada pihak yang berupaya menyerang makam Rasulullah saw. Atas sepengetahuan Khalifah, Nuruddin pun bertolak ke Madinah untuk menangkap dan membunuh mereka yang menyerang makam Nabi saw. Rasain tuh!

Ketegasan Khilafah dalam menjaga kemuliaan Islam cukup bikin ngeper mereka yang hendak melecehkan Islam. Seperti diakui oleh Bernard Shaw dalam memoarnya. Bahwa pada masa Khilafah Utsmaniyah tahun 1913 M, dia dilarang mengeluarkan kisah yang berisi penghinaan kepada Rasulullah saw. Lord Chamberlin melarangnya karena takut terhadap reaksi duta besar Daulah Khilafah Utsmaniyah di London.

Begitu juga yang pernah terjadi pada masa Khalifah Abdul Hamid. Saat itu, Prancis hendak mengadakan pertunjukan drama yang diambil dari hasil karya Voltaire. Isinya bertemakan “Muhammad atau Kefanatikan”. Di samping mencaci Rasulullah saw., drama tersebut menghina Zaid dan Zainab. Ketika Khalifah Abdul Hamid mengetahui berita tersebut, melalui dutanya di Prancis, beliau segera memberikan ancaman kepada Pemerintah Prancis supaya menghentikan pementasan drama tersebut. Kalo tetep ngeyel, bakal ribut gede urusannya. Prancis pun ngeper lalu membatalkannya.

Ngerasa nggak dapet angin di Prancis, perkumpulan teater itu malah jalan ke Inggris untuk menyelenggarakan pementasan serupa. Sekali lagi, Khalifah Abdul Hamid memberikan ancaman kepada Inggris. Tapi Inggris menolak ancaman tersebut dengan alasan tiket sudah terjual habis dan pembatalan drama tersebut bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya. Khalifah pun ngasih ultimatum, ”Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengatakan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasul kita! Saya akan mengobarkan jihad akbar!”. Akhirnya, nyali Pemerintah Inggris jadi ciut lalu menelan ludahnya sendiri tentang kebebasan dan pementasan drama itu pun dibatalkan. Makanya jangan cari gara-gara!

Driser, terbukti hanya Khilafah yang bisa membungkam kebebasan berekspresi media Barat yang doyan menghina Allah swt dan Rasul-Nya. Ayo kita sama-sama berjuang demi tegaknya Khilafah Islamiyah yang mengikuti jejak kenabian. Biar kemuliaan Islam dan kaum Muslimin tetep terjaga sepanjang masa.  Yuk! [@hafidz341]

di muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #45

Majalah Drise Edisi 45 : Cinta Nabi Harga Mati

Majalahdrise.com – Dor..! Dor…! Dor…! Rentetan tembakan yang memuntahkan timah panas memecah kesunyian kantor Charlie Hebdo hari Rabu, 07 Januari lalu. Beberapa redaksi tabloid satire Prancis yang tengah menggelar rapat redaksi ini harus kehilangan nyawa ditangan dua orang berpakaian serba hitam dan bersenjata AK-47. Pasca aksi penembakan, pelaku bergegas pergi meninggalkan beberapa korban.

Dunia barat terhenyak dengan tragedi Charlie Hebdo. Aksi penembakan yang dikaitkan dengan ‘balas dendam’ pelaku terhadap pelecehan Nabi Muhammad saw yang kerap ditayangkan tabloid Perancis dalam bentuk kartun ini mengundang banyak spekulasi. Media Barat serta merta menyerang Islam sebagai agama teroris dan mengkampanyekan solidaritas terhadap kebebasan berpendapat. Walhasil, pada hari Minggunya (10/01) lebih dari 3,7 juta orang turun ke jalan sebagai bentuk dukungan dan solidaritas untuk Charlie Hebdo. Sialnya pasca penyerangan, Charlie Hebdo kembali menayangkan kartun Nabi di cover depan majalahnya dengan tulisan “Je Suis Charlie” (Kami adalah Charlie). Bukannya introspeksi malah menjadi-jadi. Parah banget kan?

 

Nabi Dihina Dimana-mana

Kalo nggak jeli dengan gencarnya media Barat yang menyudutkan Islam dalam tragedi Charlie Hebdo, bisa-bisa kita juga ikut-ikutan phobi terhadap Islam. Padahal yang terjadi, nggak seperti diberitakan media Barat. Tragedi Charlie Hebdo adalah akumulasi kekecewaan umat Islam terhadap beberapa media Barat yang kerap menghina Rasul dan Islam.

             Tahun 1989, seorang Salman Rusydi bikin buku berjudul the Satanic Verses alias ayat-ayat setan. Ini nggak ada sangkut pautnya dengan ayat-ayat cinta lho. Isinya menggambarkan al-Qur’an sebagai ayat-ayat Setan. Nggak cuman itu, dia juga melecehkan isteri-isteri Nabi yang mulia. Malah ka’bah yang disucikan oleh umat Islam sepanjang hidup dilukiskan sebagai tempat mesum. Na’udzubillah! Sialnya, hingga kini Salman Rusydi enak-enakan hidup dalam perlindungan pemerintah dan dinas keamanan Inggeris.

             Kemudian pada Juli 1997, seorang wanita Yahudi Israel, Tatyana Suskin (26) membuat dan menyebarkan 20 poster yang menghina Islam dan Nabi Muhammad. Di antaranya ada poster seekor babi yang mengenakan kafiyeh ala Palestina. Di kafiyeh itu tertulis dalam bahasa Inggris dan Arab kata: Muhammad. Dengan pensil di kukunya, babi itu tampak tengah menulis di atas sebuah buku bernama “al-Quran”.

             Tahun 2002, penghinaan kepada Nabi Muhammad dan Islam kembali terjadi seiring dengan munculnya sebuah tulisan jurnalis Nigeria, Isioma Daniel tentang Rasul dan Miss World.

             Tahun 2005, koran Jyllands Posten Denmark memuat beberapa kartun Nabi Muhammad saw. Dalam kartun itu, Rasul saw digambarkan lagi bawa pedang dan menenteng bom. Terus dalam kartun lain, digambarkan Rasul sebagai orang bersorban yang di atasnya terselip bom. Januari 2006, kartun-kartun itu nongol lagi di koran Norwegia dan Prancis. Seolah nggak puas, Februari 2008 lalu kartun yang melecehkan Rasul saw itu dimuat lagi oleh sebelas media massa Denmark dan beberapa harian di Swedia, Belanda, dan Spanyol. Nantangin nih?!

 

Standar Ganda Cermin Islamophobia

Pepatah bilang, nggak ada asap kalo nggak ada api. Begitu juga dengan tragedi Charlie Hebdo. Liat sendiri kan, musuh-musuh Islam berulang kali menghinakan teladan kita Rasulullah saw. Bisa jadi mereka ngerasa, umat Islam adem-ayem aja saat Nabinya dilecehkan. Terlebih lagi, mereka punya senjata kebebasan berekspresi untuk melindungi tingkah provokasinya dimedia.

Kelompok Muslim Islam di Prancis bukan nggak pernah menempuh jalur hukum untuk memperkarakan majalah Charlie Hebdo. Namun, mantan Presiden Prancis Nicholas Sarkozy malah mendukung Charlie Hebdo. Dia membenarkan tindakan majalah itu sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan berbicara. Pada 22 Maret 2007, Pengadilan Prancis menyatakan Charlie Hebdo tidak bersalah. Disitu kadang saya merasa sedih!

Padahal klaim kebebasan berekspresi Barat cuman omong kosong belaka alias punya standar ganda. Kebebasan berekspresi mereka pakai sesuai dengan kepentingannya. Kebebasan berekspresi dianggap kadaluarsa kalo mengganggu Yahudi. Tapi jika menyerang dan menistakan Islam, Nabi Muhammad saw. dan simbol-simbol Islam, kebebasan berekpresi mendadak diperpanjang masa aktifnya sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Buktinya, dalam kasus Dieudonne M’bala, pada Januari tahun lalu, Menteri Dalam Negeri Prancis Manuel Valls melarang M’bala melakukan pertunjukan teater dengan alasan itu anti semit atau mengolok-olok Yahudi. Mahkamah Agung Prancis pun mendukung keputusan itu. Namun, tiga tahun lalu dengan dalih menjaga kebebasan berekspresi, Mahkamah yang sama membebaskan novelis Michel Houellebecq yang menuduh Islam sebagai agama paling bodoh di dunia. Tuh kan!

Ketika mayoritas negeri Islam memprotes dan menuntut Charlie Hebdo menanggalkan karikatur penistaan Nabi saw., dianggap angin lalu. Berbeda pada 2008 lalu ketika salah seorang kartunis Charlie Hebdo, Maurice Sinet, membuat karikatur anak laki-laki Nicholas Sarkozy yang menikahi ahli waris Yahudi karena uang. Karikatur itu tampaknya merendahkan Sarkozy. Maurice Sinet pun dipecat dari majalah Charlie Hebdo. Tuh kan!

Driser, bukannya kita meremehkan serangan yang terjadi Rabu (7/1) lalu itu. Serangan itu jelas nggak bikin masalah penghinaan Nabi saw beres. Cuman sekedar ngingetin aja, agar kita bisa lebih fair melihat tragedi Charlie Hebdo. Inkonsistensi alias standar ganda media barat sering sekali terjadi. Terutama kalo udah nyangkut Islam dan umat Islam. Kondisi ini semakin menunjukkan karakter musuh-musuh Islam seperti diingatkan Allah swt dalam firman-Nya: ”Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (QS. Ali’Imran [3]: 118).

Makanya, percuma kalo kita ngarepin ’kepedulian’ pemerintah negara-negara Eropa untuk menindak tegas mereka yang udah melecehkan Nabi Muhammad saw. Yang ada cuman makan ati. Cape deh!

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 45

Majalah Drise Edisi 44 : Be A Great Leader

Majalahdrise.com – Masalah remaja masih sering menghiasi headline media massa. Dari urusan cinta hingga narkoba nggak ada habisnya. Gara-gara narkobakertas jenis lysergic acid diethylamide (LSD), Christopher Daniel (23) ngotot bawa mobil dalam keadaan fly. Walhasil, laju Outlander tak terkendali kecelakaan maut pun tak terhindari. Christopher menabrak 2 mobil dan 5 sepeda motor di Jalan Sultan Iskandar Muda, Arteri Pondok Indah. Total ada empat korban tewas, sementara empat lainnya luka-luka. Tragis! (Merdeka.Com, 22/01/2015).

Dalam urusan cinta, seks bebas di kalangan remaja makin beringas. Berawal dari pacaran, ujungnya tidur barengan. Kalo nafsu udah di ubun-ubun, tempat apapun jadi tempat pelampiasan. Dari mulai gerbong kereta bekas, warnet, hingga ada yang mesum saat jam sekolah di ruang kelas. Jika Jakarta terkenal dengan jembatan layang cinta, Purwakarta dikenal dengan ‘kereta cinta’. Tempat muda-mudi berzina. Naudzubillah.

Akibatnya, kehamilan tak dikehendaki kerap dialami remaji yang gaulnya kebablasan. Pacar nggak mau tanggung jawab. Sementara ceweknya harus tanggung malu. Kebayang sangsi sosial kalo ketahuan hamil diluar nikah. Akhirnya ambil jalan pintas aborsi atau lahir prematur. Seperti dilakukan seorang siswi SMK di Tangerang yang melahirkan di kebun. Teganya!

Selain aborsi dan kelahiran premature, seks bebas juga memicu prostitusi remaja. Seorang siswi SMK di Depok, Jawa Barat, nekat menjual dirinya dengan tarif Rp 500 ribu. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan barang yang diinginkannya seperti handphone dan baju baru.(Merdeka.Com, 13/01/15)

Kasus narkoba dan seks bebas, hanya sebagian kecil masalah yang lekat dengan dunia remaja. Masih ada tawuran yang memakan korban jiwa, nenggak miras saat berpesta, atau ikutan judi bola. Semuanya silih berganti menjadi headline media massa.

Emang banyak juga remaja yang nggak ikut-ikutan pake narkoba, ngisep nikotin, atau terjun ke dunia seks bebas. Sayangnya mereka lebih milih kegiatan yang memanjakan diri sendiri dibanding upaya mendongkrak produktifitasnya untuk hal yang bermanfaat. Mereka berlomba-lomba meraih popularitas lewat jalan pintas dalam audisi pencarian bakat. Atau ngisi waktu luang dengan nongkrong di pinggir jalan, hang out ke arena dugem, atau ngetem di depan playstation. Padahal, seorang pemikir dari Beirut, Musthafa Al Ghalayaini berkata: “Adalah terletak di tangan para pemuda kepentingan umat ini, dan terletak di tangan pemuda juga kehidupan umat ini.”

Kebayang gak sih, gimana wajah Ibu Pertiwi kelak di masa depan kalo kader-kader pemimpinnya saat ini sibuk dengan urusannya sendiri. Waktu hidupnya lebih banyak dipake buat ngejar kesenangan dunia. Duitnya yang pas-pasan dituker ama karcis konser musik musisi idola. Fisik dan nyalinya yang kuat dijadikan modal tawuran. Jiwa mudanya diperas abis-abisan untuk meraih popularitas. Dan isi kepalanya banyak dicekokin content yang berbau pornografi dan pornoaksi. Boro-boro mikirin nasib bangsa dan negara yang tengah dijajah oleh negara-negara maju. Kasian deh Ibu Pertiwi.

 

Berdiam Diri atau Berkontribusi?

Ini sebuah pilihan yang harus kita hadapi selaku remaja ngeliat kondisi teman-teman sebaya. Masing-masing pilihan ada resikonya. Pilihan pertama mungkin dianggap aman. Dengan mendiamkan kemaksiatan, kita nggak ngerecokin urusan orang lain. Dan gak bakal kecipratan bahaya akibat melawan arus gaya hidup sekuler yang ada. Bahasa Jermannya, podo wae alias peduli amat atau #BukanUrusanSaya.

Padahal, berdiam diri dengan kemaksiatan bukan berarti aman lho. Karena dampak buruknya tidak hanya menimpa pelaku maksiat, tapi juga kita. Biar lebih kegambar, simak hadits Rasul tentang penumpang di sebuah kapal berikut. Dari An Nu’man bin Basyir rahiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,“Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari no. 2493).

Hadits di atas menegaskan firman Allah swt:“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”(QS. Al-Anfâl [8]: 25).

Ali bin Abi Thalib meriwayatkan dari Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat ini dengan, ‘Allah menyuruh kaum Mukminin agar jangan membiarkan orang mungkar di tengah-tengah mereka, maka nanti azab akan meliputi mereka.’ Penafsiran ini ditegaskan oleh Rasul dalam dalam sabdanya, “sesungguhnya manusia, bila melihat kemungkaran sedangkan tidak berupaya mencegahnya, maka tunggulah saatnya Allah akan menurunkan azabnya secara menyeluruh.” (HR. Abu Dawud).

Jadi, berdiam diri terhadap kemaksiatan yang merajalela sama aja menyodorkan diri kita untuk menerima azab dari-Nya. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Ummu Salamah, Istri Nabi saw, mendengar Rasulullah saw bersabda: “Jika kemaksiatan merajalela pada umatku, maka Allah akan meliputi mereka dengan azab dari sisi-Nya…..” (HR. Ahmad).

Perlahan namun pasti, kita bakal kebagian getahnya kalo kemaksiatan tak ada yang hentikan. Jangan sampe deh, tragedi Outlander maut mengambil nyawa orang-orang yang kita cintai. Atau hiv aids menjangkiti kerabat yang kita sayangi.

Pilihan terbaik bagi kita sebagai calon pempimpin adalah berkontribusi. Saatnya hentikan diam kita dengan ikut ambil bagian dalam dakwah Islam. Bersama-sama mengajak manusia agar menjadikan Islam sebagai aturan hidup. Hanya dengan dakwah kita bisa mencegah meluasnya kemaksiatan. Sebagaimana diperintahkan Rasul: “Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran. Bila tidak demikian, tentu Allah akan menjadikan orang-orang jahat diatnaramu menguasai kalian. (Dan) bila ada orang baik dianaramu berdoa (untuk keselamatan) mka doa mereka tidak akan dikabulkan.” (HR. Al-Bazzar dan Thabrani).

Ayo bergerak. Tunjukkan pada dunia kalo remaja bukan cuman bisa hura-hura. Remaja juga bisa berkarya nyata sesuai dengan kebisaan kita dan berjasa bagi bangsa, negara, dan agama. Dari awal kita niatkan cuman ridho Allah yang jadi tujuan setiap amal baik kita. Emang nggak mudah mengawalinya. Tapi kita yakin pasti bisa. Cuman satu yang kita perluin sekarang, kemauan yang keras untuk menjadi duplikatnya Thariq bin Ziyad atau Muhammad al-Fatih.

Kemauan yang kuat udah tentu nggak datang dengan sendirinya. Tapi dibangun dari sebuah pemahaman yang menyulap keraguan kita menjadi kebulatan tekad. Semangat kita jadi nggak setengah-setengah, tapi basah kuyup sekalian. Untuk melahirkan kemauan yang keras, mau nggak mau kita mesti bergerak. Karena berdiam diri hanya akan membekukan hati dan memasung langkah kita. Segera Bergerak Guys!

 

Meneladani Kepemimpinan Sahabat Rasul

Driser, banyak temen kita yang ngefans banget ama bintang-bintang kenamaan; penyanyi pop, bintang sepak bola, tokoh legendaris, atau tokoh-tokoh fiktif. Sekarang coba kamu ceritain mana yang paling kamu kenal kehidupannya: Ali bin Abi Thalib ra atau David Beckham? Abdullah bin Mas’ud atau Michael Jackson? Usamah bin Zaid atau Li Min Ho?

Nggak usah malu. Jujur aja kalo kita lebih kenal orang-orang yang ada di pilihan kedua yang udah jelas orang kafir. Malah nggak sedikit di antara kita yang ngefans sampe mencontoh gaya hidup mereka. Gaswat kan? Makanya sebagai remaja muslim, kita juga kudu kenal tokoh-tokoh di urutan kedua yang udah terbukti menjadi pemimpin dan pelopor kebangkitan di usia muda. Biar nggak salah pilih idola. Betul nggak seh?

Ali bin Abu Thalib ra.  Beliau termasuk generasi pertama pemeluk Islam. Pada usia yang masih sangat belia, delapan tahun, beliau berani memeluk Islam atas keinginannya sendiri. Padahal ayahnya, Abu Thalib, masih tetap dalam keadaan kafir.

Ketika beliau ditanya, “Apakah engkau tidak minta izin dulu kepada Bapakmu untuk masuk Islam?”, maka beliau menjawab dengan tegas, “Allah tidak meminta izin kepada bapakku ketika Ia menciptakanku. Lantas, mengapa aku harus meminta izin kepada ayahku untuk menyembah-Nya?”

Abdullah bin Mas’ud. Abdullah ra masuk Islam pada usia 14 tahun. Beliau termasuk salah satu pembaca al-Quran yang paling baik, yang disebut-sebut Rasulullah dalam hadisnya: “Barangsiapa yang hendak membaca al-Quran sebagaimana ia diwahyukan, maka bacalah sesuai dengan bacaannya Ibnu Ummi Abdin (Abdullah bin Mas’ud).”

Usamah bin Zaid, di usianya yang sweet seven teen dipercaya sebagai komandan pasukan kaum Muslim menghadapi pasukan Romawi memimpin para sahabat senior seperti Abu Bakar dan Umar.Banyak yang meragukan hal itu. Namun rasull menegaskan dalam sabdanya : “Wahai sekalian manusia, saya mendengar pembicaraan mengenai pengangkatan Usamah, demi Allah, seandainya kalian menyangsikan kepemimpinannya, berarti kalian menyangsikan juga kepemimpinan ayahnya, Zaid bin Haritsah. Demi Allah, Zaid sangat pantas memegang kepemimpinan, begitu juga dengan putranya, Usamah. Kalau ayahnya sangat saya kasihi, maka putranya pun demikian. Mereka adalah orang yang baik. Hendaklah kalian memandang baik mereka berdua. Mereka juga adalah sebaik-baik manusia di antara kalian.”

Usamah dan pasukannya terus bergerak dengan cepat meninggalkan Madinah. Setelah melewati beberapa daearah yang masih tetap memeluk Islam, akhirnya mereka tiba di Wadilqura. Usamah mengutus seorang mata-mata dari suku Hani Adzrah bernama Huraits. Ia maju meninggalkan pasukan hingga tiba di Ubna, tempat yang mereka tuju. Setelah berhasil mendapatkan berita tentang keadaan daerah itu, dengan cepat ia kembali menemui Usamah.

Huraits menyampaikan informasi bahwa penduduk Ubna belum mengetahui kedatangan mereka dan tidak bersiap-siap. Ia mengusulkan agar pasukan secepatnya bergerak untuk melancarkan serangan sebelum mereka mempersiapkan diri. Usamah setuju. Dengan cepat mereka bergerak. Seperti yang direncanakan, pasukan Usamah berhasil mengalahkan lawannya. Hanya selama empat puluh hari, kemudian mereka kembali ke Madinah dengan sejumlah harta rampasan perang yang besar, dan tanpa jatuh korban seorang pun.

Usamah berhasil kembali dari medan perang dengan kemenangan gemilang. Mereka membawa harta rampasan yang banyak, melebihi perkiraan yang diduga orang. Sehingga, orang mengatakan, “Belum pernah terjadi suatu pasukan bertempur kembali dari medan tempur dengan selamat dan utuh dan berhasil membawa harta rampasan sebanyak yang dibawa pasukan Usamah bin Zaid.”

Pokoknya banyak banget deh figur pemuda Islam yang bener-bener berdiri di garis depan kebangkitan Islam dan kaum Muslimin. Berikutnya giliran kita. Tapi jangan sampe lupa, semuanya bisa berprestasi karena mereka hidup dengan aturan Islam dan berjuang untuk kejayaan Islam. Catet ya?

 

Be a Great Leader

Majalah Drise Edisi 44 Be A Great Leader

Driser, sebagai remaja muslim kitalah yang bakal memimpin umat ke arah kebangkitan yang selama ini kita dambakan bersama. Karena itu, mari kita sama-sama memantaskan diri menjadi pemimpin sejati. Caranya?

Pertama, menempa diri dengan tsaqofah Islam. Nggak usah alergi bin gengsi ikut pengajian. Galilah tsaqofah Islam sedalam mungkin. Sampai kita bener-bener yakin kalo Allah itu ada dan selalu mengawasi kita. Al-Quran itu perkataan Allah yang kudu kita jadiin pegangan dalam hidup. Dan Rasulullah saw. adalah panutan kita dalam berbuat.

Kedua, mengaitkan perbuatan kita dengan kehidupan akhirat. Sebagai muslim, udah seharusnya kita selalu mikir imbalan yang bakal kita terima sebelum berbuat. Pahala atau siksa di akhirat. Walaupun rencana itu masih diperdebatkan dalam hati. Kesadaran hubungan kita dengan Allah Swt. dan akhirat ini yang bisa jadi perisai buat lindungi diri kita dari dosa sekaligus memicu kita mencari pahala.

Ketiga, hidup dalam lingkungan yang baik. Salah satu upaya pencegahan biar kita nggak tergoda berbuat maksiat adalah hidup dalam lingkungan yang sehat dan steril dari godaan setan. Seperti dalam sebuah hadis: “Perumpamaan teman pendamping yang shalih dan teman pendamping yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Dari penjual minyak wangi kalian bisa mendapatkan minyak wangi atau mencium bau harumnya; sedangkan dari tukang besi kalau tidak membakar pakaianmu, maka kalian akan mendapatkan bau busuk darinya.” (HR Bukhari Jilid 3 No. 314)

Keempat, berdakwah kepada orang lain. Nggak cukup rasanya kalo kita menimba tsaqofah tapi cuma buat diri sendiri. Kebayang, nggak akan tersebar Islam kalo kita nggak ikut nyampein ke orang lain. Karena kita memeluk Islam pun karena ada orang yang nyampein ke kita, keluarga, atau nenek moyang kita. Betul apa bener? Hehehe…

Kelima, ngikut aturan Islam nggak kayak robot. Istiqomah dengan aturan Islam bukan berarti kita nggak boleh senang-senang. Sok aja. Karena Rasulullah pun dulu suka becanda dengan istrinya, berolahraga dengan sahabatnya, atau pake baju yang bagus dan rapi. Tapi tetep, semuanya kudu nyar’i. Dan kita kudu hati-hati biar nggak terlena dengan berbagai macam hiburan atau larut dalam kesenangan. Karena itu kerjaan orang kafir. Kita tentu, BEDA!

Nah, driser, mumpung kita masih muda, jangan sia-siakan potensi yang kita punya. Manfaatkan waktu yang ada untuk belajar, berdakwah, berbuat baik kepada umat, dan berkarya sebelum masa muda hilang ditelan usia. Nggak ada kata terlambat buat jadi pemuda dambaan umat. Let’s Be a Great Leader! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #44

Budaya ’Kepo’ di Awal Tahun (Mengenal Berbagai Jenis Ramalan)

MajalahDrise.com – Menjelang pergantian tahun, peak season alias waktu puncak tak hanya dialami tempat wisata dan penginapan. Tapi juga klinik paranormal. Yup, sebelum ganti kalender banyak yang yang kepo alias pengen tahu nasibnya di tahun depan. Kebanyakan pada kepo tentang kehidupannya cerah atau suram di masa depan. Para pengusaha kepo bisnisnya sukses atau gagal. Suami istri kepo tentang rumah tangganya harmonis atau berantakan. Nggak ketinggalan, remaja en remaji juga kena wabah kepo dalam urusan kisah cintanya apakah langgeng atau putus di tengah jalan. Pokoknya, mendadak semua pada kepo dengan masa depannya. Kepo dimano-mano! 😀

Masa depan itu misteri. Ini yang bikin manusia pada kepo tentang hari depannya. Mungkin untuk persiapan kalo ternyata nasibnya jelek. Atau ada juga sekedar cari kesenangan aja. Biar ada bahan obrolan ama kawan. Tapi yang pasti, ramalan nasib selalu menyita perhatian masyarakat dunia. Dari jaman jahiliyah sampe era smartphone yang mewabah.

Di Perancis, Michel de Notredame yang lebih populer sebagai Nostradamusdikenal sebagai tukang ramal legendaris. Di Korea, Jepang, dan Cina,shio sering jadi acuan dalam menetapkan hari baik dan buruk. Di Jawa, pernah muncul nama Ranggawarsito sebagai peramal masa depan. Bahkan dalam dunia properti, posisi rumah sampe tata letak ruangan pun banyak yang dipengaruhi feng shui. Ramalan emang nggak ada matinya!

Tren ramalan juga membidik dunia remaja lewat rasi bintang zodiak. Pokoknya, heboh banget deh kalo udah ngobrolin zodiak. Soalnya, zodiak ngasih tahu remaja tentang masa depan asmara, keuangan, sampe pertemanan. Udah gitu, infonya diupdate tiap minggu. Gimana nggak seru kalo bisa ’tahu’apa yang bakal terjadi dalam satu minggu.

Banyak yang bilang, ngikutin info zodiak sekedar iseng aja alias numpang nyari sugesti positif. Tapi lucunya, nggak sedikit yang bener-bener percaya dan dimasukkin ke hardisk, eh hati. Pas dapet ramalan baik, wajahnya sumringah kaya baru menang undian. Giliran dapet ramalan buruk, tampangnya mendadak lecek dan uring-uringan nggak jelas. Padahal mah, itu kan cuman ramalan yang penuh ketidakpastian. Kalo bener, ya kebeneran dan kalo salah, ya kesalahan. Gitu aja kok repot!

 

Metode Ramalan Paling Populer

Hari gini, makin banyak metode ramalan baru yang nongol di media dan jadi tren. Ada astrologi, Palmistry, atau ramalan kartu. Tapi bukan pake kartu bayaran sekolah lho. Biasanya pake kartu tarot.

Istilah “Astrologi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu: astron yang berarti bintang, dan logos yang artinya ilmu. Jadi sebenernya, Astrologi adalah ilmu tentang perbintangan dan benda-benda luar angkasa. Dan sesalahnya, ada yang meyakini kalo benda-benda angkasa itu ada kaitannya dengan nasib peruntungan manusia.

Kemudian muncullah ramalan-ramalan astrologi yang biasanya berupa diagram benda-benda langit yang dikenal sebagai horoskop. Dari horoskop ini kemudian mempopulerkan tiga belas simbol rasi bintang yang lazimnya disebut dengan istilah “zodiak” yang terdiri dari Capricornus, Aquarius, Pisces, Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpius, Ophiuchus (ini pendatang baru lho!), dan Sagitarius. Sementara di China, zodiaknya dikenal dengan sebutan shio yang diambil dari nama hewan, yaitu: tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Tiap zodiak mewakili waktu lahir seseorang yang mempengaruhi peruntungan seumur hidupnya.

Kalo Palmistry, di India dikenal dengan istilah Hast Samudrika atau Lautan Pengetahuan. Ilmu ini percaya kalo beberapa garis yang ada dalam telapak tangan adalah cerminan dari pikiran bawah sadar yang membentuk garis-garis tersebut. Karena garis tersebut mewakili pikiran kita, sikap positif yang kita miliki akan berdampak pada garis lurus yang memiliki arti baik, sedangkan pikiran negatif membuat efek sebaliknya.

Sementara kartu tarot tersusun oleh 78 kartu yang terdiri dari 22 kartu Arcana Mayor sering disebut sebagai kartu trump, yang berarti mereka memiliki keunggulan dibandingkan dengan 56 kartu Arcana Minor. Tarot yang paling populer saat ini adalah Tarot versi Rider-Waite-Smith. Dalam budaya Barat, kartu yang berasal dari Itali ini dipercaya memiliki kemampuan untuk meramal masa depan, peruntungan nasib, bahkan dipakai sebagai alat untuk mencapai alam bawah sadar.

Nggak cukup dengan rasi bintang, garis tangan atau kartu tarot, ramalan juga merambah dunia maya. Tinggal kunjungi situsnya, masukkin tanggal lahir, lalu keluar deh ramalannya. Malah ada juga yang memanfaatkan kecanggihan teknologiponsel. Ada yang via sms ketik reg spasi ramal atau intall aplikasinya di google playstore.

Irasional Namun Tetep Fenomenal

Bukan rahasia lagi kalo ramalan nasib itu irasional alias nggak masuk akal. Faktanya, penerawangan masa depan seseorang hanya dipenuhi dugaan dan kemungkinan. Maybe yes maybe no. Karena emang belon terjadi. Masalahnya sekarang, meski irasional, masih banyak orang yang betah diramal.Dan tukang ramal juga nggak pernah sepi order. Kalo menurut hasil penerawangan penulis, eh pengamatan penulis, ada tiga faktor yang bikin ramal-meramal nggak ada matinya.

Pertama, rasa penasaran tentang masa depan. Setiap orang pastinya selalu pengen tahu apa yang akan terjadi pada dirinya besok, lusa, atau suatu saat nanti. Rasa penasaran ini yang memancing orang untuk minta diramal atau melototin info zodiak terbaru. Siapa tahu setelah diramal, ternyata someday bakal jadi idola remaja, bisa menikmati hidup serba ada, setiap sisi kehidupannya disorot kamera, tapi karena terlalu hedonis akhirnya terjerat narkoba, lalu mendekam di penjara, semua harta bendanya habis tanpa sisa, setelah keluar dari penjara keadaannya kembali seperti semula sebelum jadi idola. Huehehe…masih penasaran dengan masa depan?

Kedua, second opinion. Udah jadi kebiasaan kalo lagi ada masalah, kita sering cerita ke teman, keluarga, atau orang dekat untuk dapetin pemecahannya. Tapi terkadang, banyaknya masukan malah bikin kita khawatir keliru ngambilsolusi. Biar pede, ada yang ngerasa perlu bantuan second opinion alias pendapat kedua. Pastinya,second opinion ini bukan dari orang biasa. Tapi dari orang pinter (bukan pinter ngibul lho) yang ngasih pemecahan sekaligus ’bocoran’ tentang masa depan kehidupannya.

Ketiga, media massa. Dunia ramal emang komoditi bisnis yang laris manis. Nggak heran kalo media massa dengan senang hati menayangkan lika-liku tren dunia ramal dan supranatural. Sehingga orang jadi kenal dengan tukang ramal kaya Mama Lauren, Putri Wong Kam Fu, atau Ki Joko Bodo. Orang juga nggak keberatan ’buang pulsa’ demi sms sugesti dari tukang ramal spesial sms atau ngasih bandwith data biar dapat update ramalan nasib dari aplikasi android. Malah media cetak remaja nggak mau ketinggalan ngasih tempat untuk rubrik ramalan bintang.

Driser, dunia ramal jadi fenomenal lantaran lingkungan sekitar kita ikut mensukseskan kehadirannya. Seolah nggak tersentuh oleh hukum negara apalagi norma agama. Emang kayak gitu kalo hidup di alam kapitalis sekuler. Selama praktik ramal dan supranatural nggak bikin rugi banyak orang, negara ogah turut campur. Padahal jelas-jelas ramalan nasib itu sesat dan menyesatkan. Terutama bagi umat Islam. Bisa merusak akidah. Makanya jangan mau hidup di alam kapitalis sekuler seumur hidup. Bakal tekor dunia akherat tau!

 

Islam Tak Kenal Dunia Ramal

Driser, dari asal muasalnya aja udah keliatan kalo dunia ramal dan supranatural datang dari budaya orang-orang kafir. Mereka yakin kalo perkara ghaib yang tidak terjangkau oleh akal dan indera manusia bisa diketahui dengan perantaraan rasi bintang, garis tangan, atau kartu tarot. Persis kaya zaman jahiliyah dulu. Padahal dalam Islam, keyakinan model gitu udah lama dikubur. Karena yang tahu perkara ghaib hanya Allah swt dan Rasul yang diridhoi-Nya. Seperti dipastiin dalam firman-Nya:

(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. al-Jin [72]: 26-27)

 

Imam al-Qurthubi menyebutkan ketika menafsirkan ayat di atas ”bahwa ramalan bintang tak ada faedahnya sama sekali, dan tidak menunjukkan celaka atau bahagia (seseorang). Ramalan tersebut tiada lain adalah penentangan terhadap al-Quran yang agung. Sikap penentangan terhadap al-Quran ini berarti telah menghalalkan darah orang yang melakukan ramalan perbintangan itu.”

Terus, kalo ada hasil ramalan yang kebeneran terjadi, bukan berarti peramal tahu perkara ghaib.Aisyah r.a. berkata, beberapa orang bertanya kepada Nabi saw tentang dukun. Jawab Nabi: ’Mereka bukan apa-apa.’ Berkata mereka: ’Adakalanya mereka itu menceritakan dan terjadi benar.’ Nabi bersabda: ’Itu kalimat yang hak dicuri oleh Jin, maka disampaikan kepada dukun dan ditambah dengan seratus kalimat dusta.”(HR. Bukhari-Muslim)

Selain tak berfaedah, percaya ramalan atau zodiak juga bisa bikin ibadah shalat kita hangus dan akidah kita kendor lho. Nabi saw bersabda: ”Siapa yang datang kepada tukang tebak dan menanyakan sesuatu lalu dipercayainya, maka tidak diterima sembahyangnya empat puluh hari.”(HR. Muslim).

Kalo kamu diramal, bersikaplah seperti Ali bin Abi Thalib yang pernah dilarang oleh seseorang untuk tidak bepergian dengan alasan bahwa bulan sedang pada posisi Scorpio. Dan itu akan mengakibatkan bencana bagi Ali r.a. dan para sahabatnya. Tapi sahabat Nabi ini tidak mempedulikan saran orang tersebut, kemudian beliau berkata: Kami mendustakan dan menyalahi perkataanmu. Kami akan berangkat pada waktu yang kamu larang untuk berangkat. Ali kemudian menghadapkan dirinya pada orang banyak dan berkata: Wahai manusia, hindarkanlah diri kalian dari belajar ilmu perbintangan, kecuali apa yang dapat menunjuki kalian di kegelapan darat dan laut. Seorang peramal bintang (ahli nujum) tak lain adalah seperti tukang sihir, sedangkan tukang sihir adalah seperti orang kafir, dan orang kafir tempatnya di neraka….(kitab Nahjul Balaghah juz I, hlm. 128).

Dalam Islam, kehadiran paranormal, tukang ramal, atau tukang sihir akan membahayakan akidah umat. Makanya, negara bakal ngasih sanksi yang tegas bagi mereka. Seperti sabda Rasul saw: “Hukuman terhadap tukang sihir itu dipenggal lehernya dengan pedang.”(HR. Tirmidzi dan Daruqutni).

Nah driser, udah jelas banget dong kalo kebencian Islam terhadap dunia ramal-meramal bukan main-main dan nggak pilih-pilih. Yang meramal atau yang diramal, sama tekornya. Daripada buang-buang waktu untuk kepo-in ramalan, mendingan diisi dengan kegiatan positif seperti ikut ngaji yang bisa mencerahkan masa depan. Hari gini masih percaya ramalan nasib? Rugi..rugi..rugi![@hafidz341]

di Muat di majalah Remaja Islam Drise Edisi #43