Sulaiman Yang Agung

MajalahDrise.com – Sultan Suleiman mendapatkan gelar “The Magnificent” (yang agung) di dunia barat, dan “Alkanuni” (penetap hukum) di dunia timur. Beliau adalah sultan kesepuluh dari Turki Utsmani dan yang paling lama memerintah. Beliau lahir pada 6 November 1494. Masa pemerintahan beliau berawal pada tahun 1520 hingga wafatnya di tahun 1566.

Pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman, terjadi beberapa kali peperangan. Hal tersebut berkonsekuensi menjadikan wilayah kekuasaan kerajaan Utsmani kian luas hingga mencapai Eropa, Asia, dan Afrika. Pada tahun 927 H/1521 M, Utsmani berhasil menguasai wilayah Belgrade (ibu kota Serbia sekarang). Tahun 935 H/1529 pasukan Utsmani mengepung Kota Vienna (ibu kota Austria sekarang) walaupun tidak berhasil menguasainya. Di kesempatan berikutnya upaya menaklukkan Vienna kembali dilakukan, namun hasilnya tetap sama. Kemudian Budapest, ibu kota Hungaria menjadi salah satu propinsi Utsmani.

Perkembangan Daulah Utsmaniyah di Masa Sultan Sulaiman

Kekuasaan Utsmani kian meluas hingga mencapai Laut Merah karena mereka berhasil mengusir orang-orang Portugal dari wilayah tersebut. Di Afrika, Habasyah pun menjadi bagian dari Utsmani. Dengan demikian, jalur-jalur perdagangan antara Asia dan dunia Barat melewati negara Islam Turki Utsmani.

Selain sebagai kepala negara, Sultan Sulaiman al-Qonuni adalah seorang yang mahir dalam menggubah syair, menulis kaligrafi, dan mengusai beberapa bahasa timur, seperti bahasa Arab. Ia juga suka dengan batu mulia, arsitektur, dan kontruksi bangunan. Hal ini berdampak pada pembangunan di kerajaannya.

Ia membangun beberapa bangunan utama seperti benteng di Rhodes, Belgrade, dan di wilayah Iran. Ia juga membangun masjid-masjid di wilayah Aden, Yaman, dan al-Qanatir al-Khayriyya, Mesir serta di berbagai penjuru wilayah Turki Utsmani. Khususnya di Damaskus, Mekah, dan Baghdad. Ia juga menunjukkan seni arsitektur pada bangunan-bangunan di ibu kota dan berbagai daerah.

Pada masanya juga muncul arsitek-arsitek ulung dalam sejarah Islam, seperti Sinan Basya yang berperan besar dalam pembangunan-pembangunan Kerajaan Turki Utsmani. Ia juga yang memberikan sentuhan khas akan arsitektur Utsmani. Sehingga orang dengan mudah mengenal bangunan-bangunan Utsmani. Arsitek lainnya adalah Mimar Sinan. Ia membangun Masjid Sulaiman al-Qonuni atau dikenal juga dengan Jami’ as-Sulaimaniyah di Istanbul, pada tahun 964 H/1557 M. Ini adalah salah satu bangunan terbaik yang dibangun oleh seorang arsitek Islam yang bernama Mimar Sinan.

Selain kemajuan dalam bidang politik dan sosial kultural, seni kaligrafi pun mencapai puncak kemajuannya di zaman Sultan Sulaiman. Banyak ahli kaligrafi terkenal yang muncul di zamannya. Sebut saja Hasan Effendi Chalibi al-Qarah Hashari yang membuat kaligrafi-kaligrafi di Jami’ as-Sulaiman. Ada juga Ahmad bin Qarah Hashari penulis Rawa-i’ al-Khoththi al-Arabi wa al-Fanni ar-Rafi’. Demikian juga bermunculan ulama-ulama.

Sultan Sulaiman al-Qonuni menyusun tata perundangan dengan berdiskusi bersama Syaikh Abu as-Suud Effendi. Ia berusaha agar tata perundangan yang ia rancang tidak melenceng dari garis-garis yang dibataskan syariat Islam. Undang-undang tersebut dikenal dengan Qanun Namuhu Sulthan Sulaiman atau Undang-Undang Sultan Sulaiman. Undang-undang yang ia susun ini diterapkan hingga abad ke-13 H atau abad ke-19 M.

Karena konsistennya Sultan Sulaiman dalam menerapkan undang-undang yang ia susun, ia pun dilaqobi dengan al-Qonuni. Oleh karena itu, gelar-gelar yang diberikan orang-orang Eropa kepada Sultan Sulaiman seperti The Magnificent dan The Great, tidak memiliki pengaruh dan kesan yang mendalam dibanding laqob al-Qonuni. Karena laqob ini menunjukkan keadilan sang sultan dalam memerintah.

Dengan luasnya wilayah kekuasaan Turki Utsmani, kerajaan ini juga mengimbanginya dengan administrasi yang rapi dan tertata.Kalau kita pikir-pikir, nggak mungkinlah kemajuan sehebat itu dicapai oleh seorang sultan yang hobinya main cewek en mabok-mabokan seperti digambarkan dalam serial King Sulaiman yang tengah diputar di sebuah stasiun televisi. Nggak mungkin juga luas wilayah sebesar itu diraih oleh seorang sultan yang senengnya ngetem melulu di istana. Padahal setengah dari masa pemerintahan Sultan Suleiman Alqanuni dihabiskan di medan perang, bukan di dalam istana.

Driser, jelas dong sekarang kalo pemutaran serial King Suleiman yang judulnya udah diganti menjadi Abad Kejayaan ini bener-bener melecehkan seorang pemimpin kaum muslim. Ini kerjaannya musuh-musuh Islam  yang nggak akan pernah suka kalau umat Islam kembali memiliki Khilafah. Mereka tahu kalo cuman Khilafah yang bisa bikin umat Islam kuat dan tak tertandingi. Untuk itu mereka setengah hidup berusaha agar khilafah nggak nongol lagi kepermukaan. Meski begitu, segetol apapun makar yang dilakukan musuh-musuh Islam untuk menahan laju kebangkitan Islam dan kaum Muslimin, nggak ada artinya. Karena Allah dan Rasul-Nya telah menjanjikan kembali tegaknya khilafah Islamiya yang mengikuti jejak kenabian. Just a matter of time. Seriusan! (@sayfghazi).

di muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi #44

Bintang di Langit antara sains dan Ramalan

Majalahdrise.com – Bintang yang berkelap-kelip di langit memang memancarkan pesona. Sejak jaman baheula bintang-bintang di langit selalu diperhatikan umat manusia dan selalu mengundang decak kagum akan keindahannya. Karena perkembangan pengetahun manusia, bintang-bintang di langit juga banyak digunakan sebagai penunjuk waktu dan arah. Hingga kemudian muncullah sebuah bidang ilmu tentang dunia perbintangan yang disebut astronomi (jangan sampe ketuker sama astrologi ya, kalau astrologi itu meramal nasib dengan merujuk pada bintang).

Manusia telah mengenal astronomi sejak lama, dan jejaknya bisa dilacak sejak jaman Sumeria kuno dan Babilonia kuno yang tinggal di kawasan Mesopotamia (sekitar 3500-3000 SM). Bangsa Sumeria telah mengetahui gambaran konstelasi bintang sejak 3500 SM. Mereka pun menggambar keindahan pola-pola rasi bintang pada segel, vas, dan papan permainan. Nama rasi Aquarius yang amat dikenal saat ini berasal dari bangsa Sumeria.

Peradaban-peradaban besar lain di dunia pun telah mengenal astronomi, seperti bangsa Cina, Yunani, dan India. Mereka menggunakan bintang-bintang untuk membuat kalender dan menghitung kapan waktu menanam dan memanen.

Islam pun memberikan sumbangsih yang amat besar terhadap perkembangan dunia astronomi. Pada sekitar abad ke-8 hingga 15 M, terjadi perkembangan pesat dunia astronomi di tengah-tengah umat Islam. Berbagai karya astronomi Islam banyak ditulis dalam bahasa Arab dan dikembangkan para ilmuwan di Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol, dan Asia Tengah. Nama-nama bintang yang kita kenal saat ini pun sebenarnya berasal dari para astronomer Islam. Pada saat itu umat Islam-lah yang menamai bintang-bintang di langit. Beberapa diantaranya sebut saja Aldebaran dan Altair, Alnitak, Alnilam, Mintaka (tiga bintang terang di Sabuk Orion), Algol, dan Betelgeuse.

Banyak banget pencapaian ilmuwan Islam yang sangat penting di bidang astronomi. Al-Khawarizmi selain dikenal sebagai ahli matematika yang menyusun Aljabar, beliau juga ternyata membuat tabel-tabel untuk digunakan menentukan saat terjadinya bulan baru, terbit-terbenam matahari, bulan, planet, dan untuk prediksi gerhana.

Astronomer Islam lainnya seperti Al-Batanni berhasil mengoreksi perhitungan Ptolomeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Dia juga berhasil memprediksi kemungkinan gerhana matahari tahunan dan menghitung secara lebih akurat sudut lintasan matahari terhadap bumi. Dialah yang berhasil menghitung bahwa setahun itu 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik.

Buku karya Al-Batanni yang amat terkenal tentang astronomi diterjemahkan oleh ilmuwan barat menjadi “De Scienta Stelarum De Numeris Stellarum”. Dan buku ini sampai sekarang masih disimpan di Vatikan lho. Bahkan seorang astronomer zaman Rennaisance seperti Nicolaus Copernicus menyatakan amat berterima kasih kepada Al-Batannia di dalam bukunya yang berjudul “De Revolutionibus Orbium Coelistium”.

Selain al-Khawarizmi dan al-Battani, masih banyak ilmuwan Islam yang ikut mengembangkan ilmu pengetahuan astronomi dunia. Kini, tugas kita untuk meneladani dan meneruskan sekarang adalah terus mengkaji Islam dan terus mengkaji ilmu pengetahuan, agar kelak kita bisa memberikan sumbangsih besar kepada umat. Jangan mau jadi selebritis. Yuk ngaji!!! [@SayfMuhamadIsa]

 

BOX

Observatorium Ulugh Beg

Tempat pengamatan benda-benda angkasa dikenal dengan sebutan observatoriuim. Observatorium pertama di dunia dibangun astronom Yunani bernama Hipparchus (150 SM). Namun, di mata ahli astronomi Muslim abad pertengahan, konsep observatorium yang dilahirkan Hipparcus itu jauh dari memadai. Sebagai ajang pembuktian, para sarjana Muslim pun membangun observatorium yang lebih moderen pada zamannya.

Sejumlah astronom Muslim yang dipimpin Nasir al-Din al-Tusi berhasil membangun observatorium astronomi di Maragha pada 1259 M. Observatorium itu dilengkapi perpustakaan dengan koleksi buku mencapai 400 ribu judul. Observatorium Maragha juga telah melahirkan sejumlah astronom terkemuka seperti, QuIb al-Din al-Shirazy, Mu’ayyid al-Din al-Urdy, Muiyi al-Din al-Maghriby, dan banyak lagi.

Ahli astronomi Barat, Kevin Krisciunas dalam tulisannya berjudul The Legacy of Ulugh Beg mengungkapkan, observatorium termegah yang dibangun sarjana Muslim adalah Ulugh Beg. Observatorium itu dibangun seorang penguasa keturunan Mongol yang bertahta di Samarkand bernama Muhammad Taragai Ulugh Beg (1393-1449). Dia adalah seorang pejabat yang menaruh perhatian terhadap astronomi.

Ghirah astronomi di Samarkand mengalami puncaknya ketika Ulugh Beg mulai membangun observatorim pada 1420. Menurut Kriscunas, berdasarkan laporan yang ditulis ahli astronomi pada saat iru, Al-Kashi aktivitas pengkajian astronomi di Observatorium Ulugh Beg didukung oleh tujuh puluh sarjana. Para ahli astronomi itu mendapatkan perlakukan istimewa dengan fasilitas dan gaji yang luar biasa besarnya.

Observatorium ini beroperasi selama 50 tahun. Sayangnya, setelah Ulugh Beg meninggal, obeservatorium itu pun mengalami kehancuran. Sejumlah astronom telah lahir dari lembaga itu yakni, Giyath al-Din Jamshid al-Kushy, Qadizada al-Rumy dan `Ali ibn Muhammad al-Qashji. Observatorium yang terakhir milik Islam dibangun di Istanbul tahun 1577, di zaman kekuasaan Sultan Murad III (1574-1595) yang didirikan Taqi al-Din Muhammad ibn Ma’ruf al-Rashyd al-Dimashqiy. (Dikutip dari Harian Republika)

Di muat di majalah Remaja Islam drise Edisi #43

Saat X dan 0 ‘Berbicara’

Majalahdrise.com – Dalam pelajaran matematika, pasti kita udah nggak asing lagi dengan huruf ‘X’. Gimana nggak, huruf yang satu ini paling sering banyak dipake untuk bilangan persamaan. Biasanya diduetkan dengan ‘Y’. Sehingga keluar soal jika X + Y = 5 dan Y = 3, Berapakah X? Nah, kita nggak akan bahasa sola matematikan ini. Tapi sebuah catatan penting yang mesti kita tahu terkait huruf X ini. Lantaran selama ratusan tahun, x telah menjadi simbol untuk nilai yang nggak diketahui dalam persamaan matematika. Siapa yang memulai praktik ini?

Aljabar lahir di Timur Tengah, selama zaman keemasan peradaban Islam di abad pertengahan (750-1258 M). Asal mulanya istilah ini nongol ke dunia dapat dilihat dalam karya Muhammad Al-Khwarizmi dan buku abad ke-9 nya, Kitab al-jabr Wal muqabala (al-jabr kemudian berubah menjadi algebra  dalam bahasa Inggris). Selama masa kejayaan ini, aturan dan budaya Muslim telah meluas hingga ke Semenanjung Iberia, di mana orang Arab mendorong berkembangnya ilmu dan matematika.

Dalam presentasi TED* Talk baru-baru ini, direktur The Radius Foundation, Terry Moore, mengemukakan bahwa penggunaan simbol “x” dengan cara ini dimulai karena ketidakmampuan ilmuwan Spanyol untuk menerjemahkan suara tertentu dalam bahasa Arab suara, termasuk ش (atau shin). Menurut Moore kata untuk “hal yang tidak diketahui” dalam bahasa Arab adalah al-Shalan, dan itu muncul muncul berkali-kali dalam karya matematika awal.

Tapi karena ilmuwan Spanyol tidak memiliki suara yang sesuai untuk “sh,” mereka menggantikannya dengan suara “ck”, yang dalam bahasa Yunani klasik ditulis dengan simbol chi, X. Moore berteori, seperti yang dilakukan banyak orang lain sebelumnya, bahwa ketika kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, chi (X) digantikan dengan yang huruf latin yang lebih umum, yakni x.

Webster Dictionary edisi 1909-1916, antara lain, juga mengajukan suatu teori yang sama, meskipun menyatakan bahwa kata Arab untuk “hal,” tunggal “Shin” diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani “Xei,” dan kemudian disingkat menjadi x . Dr Ali Khounsary juga mencatat bahwa kata Yunani untuk hal yang tidak diketahui, xenos, juga dimulai dengan x, dan konvensi ini bisa lahir dari singkatan. Tapi di sini, sekali lagi, memang tidak ada bukti yang terdokumentasi langsung untuk mendukung teori-teori ini.

Sama seperti halnya angka ‘0’. Kelahiran simbol ‘X’ dalam persamaan matematika dibidani oleh ketinggian peradaban Islam di masa kejayaannya. Al-khawarizmi, sosok ilmuwan Islam ini yang paling berpengaruh dalam ilmu pengetahuan matematika. Sehingga melahirkan cabang ilmu aljabar yang berasal dari masterpiecenya, “Al-Kitab aj-jabr wa al-Muqabala” (yang berarti “The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing”).

Dulu, sebelum Al-Khawarizmi memperkenalkan angka nol, para ilmuwan menggunakan semacam daftar yang membedakan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterus nya. Daftar yang dikenal sebagai abakus itu berfungsi menjaga setiap angka dalam bilangan agar tidak saling tertukar dari tempat atau posisi mereka dalam hitungan.

Sistem tersebut berlaku hingga abad ke-12 M, ketika para ilmuwan Barat mulai memilih menggunakan raqm al-binji (angka Arab) dalam sistem bilangan mereka. Raqm albinji menggunakan angka “nol” yang diadopsi dari angka India, meng hadir kan sistem penomoran desimal yang belum pernah digunakan sebelumnya.

Nah, lewat buku pertamanya, Al- Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wa al- Muqabalah (Ringkasan Perhitungan Aljabar dan Perbandingan), Al-Kha warizmi memperkenalkan ang ka nol yang dalam bahasa Arab yang disebut shifr. Karya monumental itu juga membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat.

Driser, kalo saja bulan bisa ngomong, eh angka Nol dan huruf X bisa ngobrol, mungkin mereka bakal ngasih tahu betapa berjasanya para ilmuwan Islam bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Ini merupakan salah satu hasil dari dukungan negara terhadap dasar-dasar ilmu pengetahuan yang berkembang pesat pada zaman Kekhalifahan Islam. Lantaran Islam sebagai aturan hidup, mengharuskan para ilmuwan berkontribusi untuk kebaikan manusia di akhirat. Sehingga negara nggak pake acara cabut subsidi dalam mensupport sistem pendidikan Islam yang melahirkan para ilmuwan jempolan. Mau? [@Hafidz341]

* TED merupakan singkatan dari Technology, Entertainment, Design. TED adalah sebuah organisasi non profit yang mengumpulkan para tokoh inspiratif dari berbagai bidang untuk tampil memberikan presentasi dalam sebuah konferensi.

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42

Armanus Vs Arsalan

drise-online.com – Pada tahun 462 H/1069M, Raja Romawi, Armanus berencana menyerang kantong-kantong Islam dengan tujuan menghancurkan kaum Muslimin. Tepat tiga puluh tahun sebelum perang salib di mulai. Ini raja saking ngebetnya pengen menaklukkan negeri Islam, persiapannya juga nggak main-main.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Armanus raja romawi menyiapkan pasukan tak ubahnya seperti gunung yang terdiri dari orang-orang Romawi, Georgia, dan Perancis. Jumlah dan perlengkapan mereka sangat besar. Ia didukung 35.000 para Batrix dan setiap Batrix mengepalai 200.000 personel pasuka kavaleri (pasukan berkuda). Tentara-tentara dari Perancis berjumlah 25.000 personel. Tentara yang bermarkas di Konstantinopel berjumlah 15.000 personel plus 200.000 seruling dan penggali lobang, 1.000 kuda kerja, 400 gerobak yang mengangkut sandal dan paku, 1.000 gerobak lainnya yang mengangkut senjata, lampu dan alat perang pelempar batu termasuk manjaniq alat pelembar batu yang lebih besar untuk perlengkapan perang 1.200 pasukan infantri (pasukan darat).

Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan khalifah Abbasiyah al Qaim Biamrillah Abu Jafar Abdullah bin Qadir dengan sultannya Alib Arsalan. Ia harus menghadapi pasukan Romawi dengan kekuatan tidak lebih dari 20.000 personel!

Sultan Alib Arsalan sempet ngeper dengan jumlah pasukan musuh yang bejibun. Beliau meminta nasihat dari ulama. Salah satu ulama bernama Abu Nashir Muhammad bin Abdul Malik al Bukhari mengusulkan agar waktu perang ditentukan pada hari Jumat setelah matahari tergelincir ketika para khatib mengajak berjihad di atas mimbar dan bedoa kepada Allah untuk kemenangan kaum muslimin.

Pada waktu yang telah ditentukan, Sultan turun dari kudanya kemudian sujud kepada Allah dan berdoa meminta kemenangan pasukannya dan agamannya. Allah swt mengabulkan doanya. Kaum muslimin menang dan Raja Armanus tertawan. Ia ditangkap dalam keadaan hina dan ditempatkan di depan Sultan. Sultan Alib Arsalan memukulnya tiga kali dan berkata, “Jika saya yang menjadi tawananmu maka apa yang akan kau lakukan kepadaku?”

Armanus menjawab, “Semuanya tidak mengenakkan”.

Sulatan Alib Arasalan bertanya, “Apa yang akan saya perbuat terhadapmu menurut perkiraanmu?”

Armanus menjawab, “Anda membunuhku kemudian menyiarkannya kepada seluruh rakyatmu atau mengampuniku dengan kompensasi tebusan dan mengembalikan ke negeriku semula.”

Armanus menebus dirinya dengan uang sebesar satu juta setengah dinar. Ia berdiri di depan Sultan dan memberi minum air kepada Sultan sebagai tanda kepasrahannnya kepadanya dan kesediaan melayaninya. Ia mencium tanah di depan Sultan dan menghadap arah tempat tinggal Khalifah dan membotaki kepalanya dan memberi isyarat siap memberikan pelayanan dan kepatuhan kemudian mencium tanah sebagai tanda hormat kepadanya.

Kendati menang, Sultan Alib Arsalan tetap menunjukkan akhlak yang mulia. Ia tidak merendahkan derajat Armanus yang kalah dan tidak memintanya melayani dirinya. Ia justeru bersikap lembut kepadanya dan memberinya sepuluh ribu dinar sebagai bekal perjalanannya dan mengirimkan bersamanya beberapa Batrix. Sultan pun berjalan dengannya hingga empat mil dan menyiapkan pasukan tentara yang mengawalnya hingga ia tiba di negerinya. Tentara tersebut membawa bendera yang tertulis di dalamnya lambang negara Islam (syahadat).

Driser, sikap yang ditunjukkan oleh Sultan Alib Arsalan patut kita teladani. Meski emosi udah nyampe ke ubun-ubun, beliau tetap menunjukkan akhlak mulia sebagai cerminan seorang muslim. Tawanan diperlakukan dengan baik tanpa diskriminatif. Begitulah kemuliaan ajaran Islam. So, banggalah menjadi seorang muslim dan tunjukkan kalo kita emang mulia. Yes! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #41