IBNU KHALDUN : bapak sosiologi tulen

dalam buku pelajaran Sosiologi kita  akan sangat akrab degan nama  DAgust Comte dia adalah bapak  sosiologi. Salah satu ilmu yang membahas  tentang ke masyarakatan. Tapi tunggu  dulu, tahukah Driser bahwa ada tokoh  islam yang lebih layak di pangil bapak  sosiologi? Karena karyanya lebih awal  tentang teori sosiologi.

Beliau adalahh  Ibnu Khaldum.  Nama lengkapnya Abdurahman Bin  Muhammad yang secara umum di kenal  sebagai Ibnu Khaldun. Karena hubungan  famili sedikit. Orang tuanya, sebenarnya  orang Arab keturunan Yaman, telah tinggal  lama di Spayol, tetapi setelah kejatuhan  Sevilla, ia pindah ke Tunisia. Ia di lahirkan  di Tunisia pada tahun 1332 M.

Ketika  masih usia remaja, memasuki pemerintah  pemimpin Mesir Sultan Barquq.  Kehausannya akan ilmu yang lebih tinggi  dan pendidikan yang lebih baik.  membuatnya hanya sebentar di sana dan  pergi ke Fez. Periode ini diikuti oleh masa  melelahkan yang panjang yang di tandai  oleh persaingan politik kontemporer yang  mempengaruhi karirnya. Periode  pergolakan ini juga termasuk di dalam tiga  tahun mengungsi di desa terpencil Qalat  bin Salama di Aljazair, yang memberinya  kesempatan menulis buku Al Muqodimah.  

Buku pertamanya tentang sejarah dunia  yang telah menempatkan secara abadi di  antara para sejarawan dunia, sosiolog dan  filsuf. Ia wafat di Kairo Mesir pada saat  bulan suci Ramadan tepatnya pada tanggal  25 Ramadan 808 H./19 Maret 1406 M Jauh sebelum Agust Comte  mengeluarkan buku “Cours De Philosophie  Positive” tahun 1842 (dari sini istilah  sosiologi di ambil), Ibnu Khaldun terlebih  dahulu membuat buku yang berjudul  ”Al-Muqaddimah” (masyarakat Eropah  mengenalinya dengan nama Prolegomena  of Ibnu Khaldun).

Inilah karya monumental  Ibnu Khaldun, seorang ilmuwan dan  sejarawan agung pada abad ke-14 M. Buku  yang ditulis pemikir dari Tunisia, Afrika  Utara itu tercatat sebagai karya yang  sangat mengagumkan. Pengaruhnya begitu  luar biasa, tak hanya mewarnai pemikiran   di dunia Islam, namun juga peradaban  Barat.  

Kehebatan karya munomental ini  adalah kemampuan mengidentifikasi  fakta-fakta psikologis, ekonomi, lingkungan  dan sosial yang menyumbangkan ide  dalam perkembangan kebudayaaan  manusia dan sejarah saat ini. Dalam  konteks ini, ia menganalisis dinamika dari  hubungan kelompok dan menunjukan  bagaimana perasaan berkelompok, Al-Asobiyah, memberi adil munculnya  kebudayaan baru dan kekuatan politik, dan  bagaimana, secara lebih lanjut,  penyebaran ke dalam kebudayaan yang  lebih umum.

Ia mengidentifikasi  pengulangan yang hampir bersifat ritmis  tentang jatuh-bangunnya sejarah manusia  dan menganalisis faktor-faktor yang  menyebabkannya. Kontribusinya pada  sejarah di tandai dengan fakta yang  berbeda dengan kebanyakan penulis lain  sebelumnya, yang kebanyakan menulis  sejarah dalam konteks politik, ia  menekankan pada faktor-faktor  lingkungan, sosiologis, psikologi dan  ekonomi yang menggambarkan peristiwa-peristiwa sebenarnya. Karyanya mengubah  ilmu sejarah dan juga meletakan dasar  tentang Umraniyat (sosiologi) dan inilah  faktanya bahwa peradaban islam yang  mengenalkan metode ini.  Nah sekarang ketahuan deh siapa  sebenarnya yang layak menyandang  predikat Bapak Sosiologi tulen. Ibnu  Khaldun yang layak kita teladani pribadi  dan keilmuannya. Yuk![Ridwan]

KARYA SPEKTAKULER IBNU KHALDUN

Karya yang lain seperti kitab al-‘ibar (tujuh jilid) yang telah ia revisi dan  ditambahnya bab-bab baru di dalamnya, nama kitab ini pun menjadi Kitab  al-‘Ibar wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal  Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar. Kitab al-i’bar ini pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh De Slane  pada tahun 1863, dengan judul Les Prolegomenes d’Ibn Khaldoun. Namun  pengaruhnya baru terlihat setelah 27 tahun kemudian. Tepatnya pada tahun  1890, yakni saat pendapat-pendapat Ibnu Khaldun dikaji dan diadaptasi oleh  sosiolog-sosiolog German dan Austria yang memberikan pencerahan bagi  para sosiolog modern.

Karya-karya lain Ibnu Khaldun yang bernilai sangat tinggi diantaranya,  at-Ta’riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab  sejarahnya); ternyata karya ini ditulis dengan aturan ilmiah dan  memperkenalkan tradisi analisis baru dalam seni menulis otobiografi. Jadi  Islamlah yang pertama mengenalkan metode ini. Ada juga kitab  Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan  pendapat-pendapat teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal  Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi). Ada buku matematika yang di tulis beliau yang tidak tahu  keberadaanya. []

INDAHNYA PERSAHABATAN

Majalahdrise.com – Ada begitu banyak kisah persahabatan di dunia ini, namun kisah persahabatan antara Rasulullaah dan Abu BakarAsh-Siddiq, tak pernah lekang oleh waktu. Persahabatan yang dibangun karena Allaah, satu dan yang lainnya saling mempercayai dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Diceritakan bahwa saat hijrah tiba, Rasulullah segera mendatangi Abu Bakar dan mengabarkan bahwa waktu hijrah telah tiba untuk mereka.

Aisyah RA yang saat itu berada di rumah Abu Bakar mengatakan “saat kami sedang berada di rumah Abu Bakar, ada seorang yang mengabarkan kepada Abu Bakar kedatangan Rasulullah dengan menggunakan cadar (penutup muka), beliau datang pada waktu yang tak biasa. Kemudian beliau saw meminta izin untuk masuk, dan Abu Bakar menjawab “mereka semua adalah keluargamu wahai Rasulullah”, Rasulullah kembali mengatakan “sesungguhnya Aku sudah di ijinkan untuk berhijrah “,

Abu Bakar menanggapi “Apakah Aku menemanimu (dalam hijrah) wahai Rasulullah?”, beliau menjawab “iya”. Lalu Rasulullah menunggu malam datang. Pada malam hari, Nabi SAW keluar dari rumahnya yang sudah terkepung oleh orang kafir quraisy. Lalu Allaah jadikan mereka tidak bisa melihat beliau. Abu bakar menangis bahagia karena di beri kesempatan menemani Rasulullah berhijrah. Aisyah menyatakan “Demi Allaah! Sebelum hari ini, aku tidak pernah sekalipun melihat seseorang menangis karena bahagia. Aku melihat Abu Bakar menangis pada hari itu”, perjalanan berat yang mempertaruhkan nyawa itu, Abu Bakar sambut dengan tangisan bahagia. Dalam perjalanan hijrah, Rasulullaah tiba di sebuah gua yang dikenal dengan nama gua Tsur.

Sampai di mulut gua Abu Bakar berkata “Demi Allaah janganlah Anda masuk ke dalam gua ini sampai Aku memasukinya terlebih dahulu. Kalau ada sesuatu (yang jelek) maka Akulah yang mendapatkannya, bukan Anda”, Abu Bakar pun masuk kemudian membersihkan gua tersebut. Setelah itu Abu Bakar menutup lubang-lubang di gua dengan kainnya, karena khawatir ada hewan yang membahayakan Rasulullah keluar dari lubang-lubang tersebut. Hingga tersisa dua lubang yang nanti bisa ia tutupi dengan kedua kakinya.

Setelah itu Abu Bakar mempersilahkan Rasulullah masuk ke dalam gua. Rasulullah pun masuk dan tidur di pangkuan Abu Bakar. Ia pun menahan dirinya agar tidak bergerak karena tidak ingin gerakannya menyebabkan Rasulullah terbangun dari istirahatnya. Namun, Abu bakar adalah manusia biasa, rasa sakit akibat sengatan seekor hewan membuat airmatanya terjatuh dan menetes di wajah Rasulullah, Rasulullahpun terbangun kemudian bertanya “Apa yang menimpamu wahai Abu Bakar?”, Abu Bakar menjawab, “Aku disengat sesuatu”.

Kemudian Rasulullah mengobatinya. Demikianlah dua orang sahabat ini. Rasulullah ingin bersama Abu Bakar ketika hijrah dan Abu Bakar pun sangat ingin menemani Rasulullah. Demikian besarnya cinta Abu Bakar kepada sahabatnya, hingga Rasulullaah menempatkan Abu Bakar sebagai sahabat yang sangat dicintainya, “Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku, pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan seislam dan kecintaan karenanya. Maka tidak tersisa pintu masjid kecuali tertutup selain pintu Abu Bakar saja.” (HR. Bukhari).

 ***

Dalam Islam, persahabatan adalah hubungan yang sangat mulia, karena sahabat berperan dalam membentuk karakter kita. Katanya nih, kalau kita sahabatan ama penjual parfum,kita bakal ketiban wanginya juga. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Nah, jadi gak salah dong kalau kita juga kudu milih-milih siapa yang bakal kita jadiin sahabat. Selain berakhlak baik, kita berharap bahwa seorang sahabat bisa hadir dalam suka maupun duka. Emang sih, Ada sahabat yang sanggup bersusah-payah membersamai kita dikala duka, namun gak sedikit juga sahabat yang hanya nampak saat kita senang aja.

Driser, tentu kita berharap memiliki sahabat yang bisa membuat kita semakin cinta kepada Allaah. Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa “Sebaik baik sahabat di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap temannya dan sebaik baik jiran di sisi Allah ialah orang yang terbaik terhadap jirannya.” (HR. al-Hakim). Yang kayak gini nih yang dicontohkan oleh Rasulullaah SAW dan sahabat beliau Abu Bakar As-Siddiq. Sahabat yang baik adalah ia yang senantiasa memberi kita nasehat, utamanya dalam perkara agama. Inget lho, agama adalah Nasehat. Maka nasehat itu adalah perkara yang urgen, bukan perbuatan orang yang kurang kerjaan. Jika di nasehati, terimalah. Jangan memusuhi sahabat yang mengingatkanmu dalam perkara agama bahkan menyebutnya sok alim.

Catet nih ya, “Kalimat yang paling Allaah benci (adalah ketika) seseorang menasehati temannya, “bertaqwalah kepada Allaah..”, namun dia menjawab “urus saja dirimu sendiri”, (HR. Baihaqi). Nah lho… nasehat tanda cinta lho!. Pokoknya nih, Kalau udah membangun persahabatan karena Allaah, in syaa Allaah barokah deh![Juanmartin]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 54

Ketika Aib Dikomersilkan

Majalahdrise.com – Pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, bani Israel ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi Musa. Mereka berkata, “Ya Kaliimallah, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami”.Maka berangkatlah Musa AS bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas. Waktu itu mereka berjumlah lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan keadaan yang lusuh dan kumuh penuh debu, haus dan lapar.

Nabi Musa berdoa, “Ilaahi! Asqinaa ghaitsak…. Wansyur ‘alaina rahmatak… warhamnaa bil athfaal ar rudhdha’… wal bahaaim ar rutta’… wal masyaayikh ar rukka’…..” Setelah itu langit tetap saja terang benderang… matahari pun bersinar makin kemilau.

Kemudian Nabi Musa berdoa lagi, “Illaahi … asqinaa….”Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Umumkanlah di hadapan manusia agar dia berdiri di hadapan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian…” Maka Musa pun berteriak di tengahtengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah sejak 40 tahun keluarlah ke hadapan kami, karena engkaulah hujan tak kunjung turun…”Seorang laki-laki melirik ke kanan dan kiri. Maka tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia. Saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud.

Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke hadapan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.” Maka hatinya pun gundah gulana. Air matanya pun menetes, menyesali perbuatan maksiatnya. sambil berkata lirih, “Ya Allah… Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun,selama itu pula Engkau menutupi ‘aibku. Sungguh sekarang aku bertaubat kepada Mu, maka terimalah taubatku…”Tak lama setelah pengakuan taubatnya tersebut, maka awan-awan tebal pun bermunculan.

semakin lama semakin tebal menghitam dan akhirnya turunlah hujan. Musa pun keheranan, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, namun tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia.” Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan kepada kalian oleh sebab hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun.” Musa berkata, “Ya Allah… Tunjukkan padaku hamba yang taat itu.” Allah berfirman, “Ya Musa, Aku tidak membuka ‘aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku, apakah Aku membuka ‘aibnya sedangkan ia taat kepada-Ku?!”

………………

Driser, saat ini banyak tayangan entah itu reality show atau tayangan off air yang isinya justru mengungkap aib sendiri. Anehnya yang ngungkap aib sendiri malah nyantai aja. Aib kok dikomersilkan ya? Dalam kondisi sekarang, emang apa aja bisa jadi jualan tak terkecuali aib. Malah aib ini menjelma jadi berita yang punya daya ungkit tinggi buat naikin rating.

Jika Driser ngeliat satu reality show yang membuat naluri kepo penontonnya beringasan, saat itu justru yang punya program makin seneng. Gimana gak? Kepo penonton tuh modal terbesar buat ngembangin program. Anehnya juga, penonton malah keenakan kepoin aib orang. Coba Driser lihat, gimana jika aib malah jadi konsumsi media? Kasus rumah tangga seorang artis malah bisa menjadi salah satu ‘trending topic’, yang gak jelas sampai kapan akhirnya. Fitnah atau fakta sebenarnya gak penting, yang penting adalah gimana penonton bisa betah diajakin ngebahas aib orang.

Hm…sepertinya kita patut was-was dengan acara-acara kayak gini. Masyarakat kehilangan ukuran kebahagiaan hakikinya sehingga menjadikan materi sebagai satu-satunya nilai yang harus diperjuangkan. Jika aib bisa menghasilkan duit, sah-sah aja dijadiin bahan komersil. Aib sendiri yang harusnya di tutup, malah dengan bangga dikomersilkan. Driser, masalah ngungkapin aib ini udah dijelaskan dalam banyak dalil. Dalam satu Hadist Rasulullah bersabda :“Seluruh Ummatku akan diampuni dosa – dosanya kecuali orang – orang yang terang – terangan (berbuat dosa).

Di antara orang – orang yang terang – terangan berbuat dosa adalah seseorang yang pada waktu malam berbuat dosa, kemudian di waktu pagi ia menceritakan kepada manusia dosa yang dia lakukan semalam, padahal Allah telah menutupi aibnya. Ia berkata, “Wahai Fulan semalam aku berbuat ini dan itu.” Sebenarnya pada waktu malam Tuhannya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi justru pagi harinya ia membuka aibnya sendiri yang telah ditutupi Allah” (Muttafaq’alaih HR: Bukhari dan Muslim).

Kesimpulannya nih, Membuka aib sendiri gak boleh apalagi membuka aib orang lain. Tengok deh kisah jaman Nabi Musa di atas, Allaah telah menutupi aib hambaNya, maka janganlah mengumbarnya sendiri ke khalayak. Dan kalian, Gak usah kepo deh dengan aib orang apalagi terpancing dengan orang yang ngungkapin aibnya sendiri. Nggak penting dan buang waktu! Mending kepoin kondisi umat Islam dan aktif dakwah. Itu baru ajib, bukan aib. [Juanmartin]

Di muat di majalah remaja islam drise edisi 53

PEMIMPIN DAMBAAN

Majalahdrise.com – Harapan kita sebagai rakyat emang  gak muluk-muluk lho ya. Asal  pemimpin bisa melindungi kita2,  hidup sejahtera aman sentosah, itu udah  lebih dari cukup. Tapi, Biar kata orangnya  merakyat, kalau sistemnya gak kondusif, ya  tetep aja kesejahteraan rakyat cuman   mimpi di siang bolong.  Tapi kalo pemimpin yang satu ini,  insya Allah nggak bikin penonton eh  penduduknya kecewa. Adalah Sulthan  Abdul Hamid II namanya. Beliau  mengemban amanah dengan memimpin  sebuah negara adidaya yang luasnya  membentang dari timur dan barat.

Di  tengah situasi negara yang genting dan  kritis. Termasuk upaya  kaum Yahudi untuk  mendapatkan tempat permanen di tanah  Palestina yang masih menjadi bagian dari  wilayah kekhalifahan Utsmaniyyah. Pada  tahun 1902, Hertzl untuk kesekian kalinya  menghadap Sultan Abdul Hamid untuk  melakukan risywah (menyogok).

Sogokan Hertzl kepada Sultan gak  tanggung-tangggung. Kucuran dana segar  150 juta poundsterling Inggris sudah  disiapkan khusus untuk Sultan. Sehingga  bisa dipake membayar semua  utang  pemerintah Ustmaniyyah yang mencapai 33  juta poundsterling Inggris, membangun  kapal induk untuk pemerintah dengan biaya  120 juta Frank, memberi pinjaman 5 juta  poundsterling tanpa bunga, serta  Membangun Universitas Ustmaniyyah di  Palestina. Hmm..Jika negeri kita yang saat ini punya utang tujuh turunan disodorkan  tawaran kayak gitu, udah pasti langsung di  embat. Jangankan tawaran gratis,  utang  juga kita beringasan.

Namun, Semua itu ditolak Sultan,  bahkan Sultan gak mau menemui Hertzl.  Beliau mengutus Tahsin Basya, perdana  menterinya, untuk menemui Hertzl sambil  mengirim pesan, “Nasihati Mr Hertzl agar  jangan meneruskan rencananya. Aku tidak  akan melepaskan walaupun sejengkal tanah  ini (Palestina), karena ia bukan milikku. Tanah  itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah  berjihad demi kepentingan tanah ini dan  mereka telah menyiraminya dengan darah  mereka. Yahudi silakan menyimpan harta  mereka. Jika Khilafah Utsmaniyah  dimusnahkan pada suatu hari, maka mereka  boleh mengambil Palestina tanpa membayar  harganya. Akan tetapi, selama aku masih  hidup, aku lebih rela menusukkan pedang ke  tubuhku daripada melihat Tanah Palestina  dikhianati dan dipisahkan dari Khilafah  Islamiyah. Perpisahan adalah sesuatu yang  tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai  pemisahan tubuh kami selagi kami masih  hidup.”. wuihhh TOP DAHSYAT!.

Biar kata Negara sedang krisis,  pantang bagi sulthan untuk menerima  bantuan apalagi sampai berutang ke Negara  kafir. Beliau bahkan membuktikan  kemampuannya memangkas  utang Negara  sedikit demi sedikit, menenangkan kondisi  politik dalam negeri meski akhirnya melalui  sebuah konspirasi beliau dipecat secara  paksa oleh para pemberontak. Terhadap peristiwa pemecatannya,  Sultan Abdul Hamid II mengungkap  kegundahan hatinya yang dituangkan dalam  surat kepada salah seorang gurunya Syekh  Mahmud Abu Shamad yang berbunyi:“…Saya  meninggalkan kekhalifahan bukan karena  suatu sebab tertentu, melainkan karena tipu  daya dengan berbagai tekanan dan ancaman  dari para tokoh Organisasi Persatuan yang  dikenal dengan sebutan Cun Turk (Jeune Turk),  sehingga dengan berat hati dan terpaksa saya  meninggalkan kekhalifahan itu. Sebelumnya,  organisasi ini telah mendesak saya berulang-ulang agar menyetujui dibentuknya sebuah  negara nasional bagi bangsa Yahudi di  Palestina. Saya tetap tidak menyetujui  permohonan beruntun dan bertubi-tubi yang  memalukan ini. Akhirnya mereka menjanjikan  uang sebesar 150 juta pounsterling emas.

Saya  tetap dengan tegas menolak tawaran itu. Saya  menjawab dengan mengatakan, “Seandainya  kalian membayar dengan seluruh isi bumi ini,  aku tidak akan menerima tawaran itu. Tiga  puluh tahun lebih aku hidup mengabdi kepada  kaum Muslimin dan kepada Islam itu sendiri.  Aku tidak akan mencoreng lembaran sejarah  Islam yang telah dirintis oleh nenek moyangku,  para Sultan dan Khalifah Utshmaniah. Sekali  lagi aku tidak akan menerima tawaran kalian. Saya banyak bersyukur kepada Allah, karena  saya menolak untuk mencoreng Daulah  Uthmaniah, dan dunia Islam pada umumnya  dengan noda abadi yang diakibatkan oleh  berdirinya negeri Yahudi di tanah Palestina.  Biarlah semua berlalu. Saya tidak bosan-bosan mengulang rasa syukur kepada Allah  Ta’ala, yang telah menyelamatkan kita  dari aib besar itu.” Driser, betapa kita rindu dengan  sosok pemimpin tegas, amanah dan  nggak membiarkan kehormatan  negara tercabik-cabik.

Rindu  pemimpin yang nggak bermanis muka  dengan Negara kafir atau berpelukan  mesra dengan para perampok SDA  Negara kita. Pemimpin dambaan ini  hanya akan terwujud jika Islam  menjadi nafas dalam menjalankan  amanah. Ketakutan kepada Allah  menjadi monitor terdekat takkala  seorang pemimpin menjalankan  tugasnya. Jika pemimpin kita faham  Islam sebagai system hidup,in Syaa  Allaah keberkahan dunia akhirat,bakal  kita dapatkan. Kenapa? Karena Islam,  Amazingnya fuuull![Juanmartin]

di muat di majalah remaja islam drise edisi 52