Majalahdrise.com – Dengan kasar dan keras, para prajurit itu membawa Rabiah. Mereka melingkarkan lengan mereka ke leher Rabiah hingga hampir tercekik. Prajurit yang lainnya lagi mencengkeram pundak tangan lengan Rabiah kuat-kuat. Rabiah hanya bisa menahan sakit sambil berzikir kepada Allah. Mereka membawa Rabiah menuju penjara bawah tanah. Dinding-dinding koridor dari batu menemani Rabiah menjalani takdirnya. Dia pasrahkan seluruh nasibnya kepada Allah. Walau pun besok pagi dia sudah tidak bernyawa lagi, hal itu pun dipasrahkannya kepada Allah. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang direncanakan Allah untuknya. Para prajurit Persia itu menyeret Rabiah menuruni tangga batu. Mereka terus turun ke ruang bawah tanah tempat di mana jeruji-jeruji besi mengunci orang-orang yang berani menentang kekuasaan Persia. Prajurit-prajurit Persia itu hendak melemparkan Rabiah ke dalam kurungan ketika mereka mendengar teriakan.
“TUNGGU!!! “
Mereka semua menoleh ke arah tangga. Terlihatkan dua orang prajurit Persia menghampiri mereka.
“Ada apa? Orang ini akan dieksekusi besok pagi. Dia telah menghina Yang Mulia Badzan. “
Kata salah seorang prajurit Persia itu.
“Serahkan orang ini pada kami, “
sergah seorang prajurit yang baru datang tadi.
“Kami diperintahkan untuk membawa dia, “
tambah kawannya.
“Siapa yang memberi kalian perintah? “
Kegaduhan itu menarik perhatian tahanan-tahanan yang lain. Dalam sekejap bermunculanlah kepala-kepala tahanan yang melongok dari balik jeruji besi. Mereka ingin tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Kami diperintahkan untuk membawa orang ini, “
prajurit yang baru datang itu mengulang.
“Perintah siapa? “
Tanpa disangka-sangka, kedua prajurit Persia yang baru datang tadi menghantam prajurit-prajurit yang menahan Rabiah dengan tinju mereka. Dua orang prajurit Persia terjerembab di lantai batu. Sedetik kemudian dua orang lagi prajurit Persia jatuh. Rabiah sama sekali tak mengenal dua orang prajurit Persia yang baru datang itu. Sepertinya mereka hendak membantu Rabiah.
“Saudaraku, ikutilah kami! Jangan sampai tertinggal! “
Kata salah satu dari mereka. Mata Rabiah nanar. Dia hampir-hampir tidak percaya apa yang sedang terjadi di hadapannya. Ada dua orang lelaki bertopi dan berbaju zirah seragam prajurit Persia yang membantunya. Namun dia menguatkan dirinya meski pun pelipisnya yang dihantam gagang pedang tadi masih kembang-kempis. Kedua prajurit Persia itu berlari melintasi penjara bawah tanah dan Rabiah mengikuti derap langkah mereka. Para tahanan lain yang sedang mendekam dalam penjara menanti takdirnya menjadi ribut saat melihat ada tahanan yang melarikan diri. Mereka mengguncang-guncangkan jeruji besi penjara dan berteriak-teriak riuh.
“BEBASKAN KAMI JUGA!!! “
“BEBASKAN KAMIIIIII!!! “