Majalahdrise.com – Bikin tulisan itu gampang-gampang susah. Gampangnya, tinggal tuangkan aja perbendaharaan kosakata di benak kita dalam bentuk susunan huruf bermakna. Susahnya, memulai untuk pertama kali. Yup, bener banget. Dari sharing kawan-kawan yang mau belajar nulis, tantangan terbesarnya bukan dari seabrek teori kepenulisan yang mesti dihafal atau cekaknya ilmu seputar EYD. Justru tantangan terbesarnya, datang dari diri sendiri.
Coretan pertama! Berikut beberapa kalimat dahsyat dari Mbak Asri Supatmiati yang barangkali bisa menjadi pelecut semangat untuk terus menulis. Karena konon kabarnya, keterampilan menulis itu sesuai jam terbang. Semakin sering menulis, semakin piawai merangkai kata. So, just write!
- Menulis apapun itu…bagus atau jelek, sedikit banyak tetap butuh teori. Tapi, yang terpenting adalah AKSI. Jadi, ambil bolpen dan kertas, atau buka kompi or lepi, ayo ngetik, eh…nulis!
- Pembaca itu belum tentu penulis, tapi penulis itu pasti pembaca. Dan, banyak yang jadi penulis bermula dari pembaca. Anda masih di level mana? Mau jadi pembaca abadi? Tingkatkan level, jadilah penulis!
- Menulis tidak ada batasan usia, jenis kelamin, lokasi, profesi, jabatan, tingkat pendidikan, status sosial, dll. Tapi, kayaknya susah bener mau jadi penulis. Yeah, itu karena Anda tidak juga mulai menulis (dengan seabrek alasan pembenaran)
- Bingung mau nulis apa, nggak punya ide. // Baca koran, seabrek informasi tersaji tiap hari // Bisa jadi inspirasi untuk Anda kritisi. // Tak punya koran, internet, radio atau tivi pun jadi. // Bukan artikel panjang, surat pembaca pun jadi. // Alasan apalagi?
- Sebenarnya banyak ide nih di kepala, tapi bingung mau mulai nulis dari mana. // Hmm…bagaimana kalau Anda mulai dengan menulis: ¨Hari ini…bla bla bla..
- Mau nulis takut salah // Ya nggak apa-apalah, dengan begitu Anda tahu bagaimana cara menulis yang benar.
- Menulis itu kan harus menguasai kosa kata, tanda baca, dll. Pokoknya mengusai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). // Betul banget. Tapiii…menunggu Anda menjadi Profesor EYD, kapan nulisnya? // Learning by doing, itu penulis sejati.
- Menulis sudah, tapi malu ah mau dipublikasikan. Dibaca sendiri sajalah…// Helooo…apa menunggu urat malu Anda putus baru mempublikasikan tulisan? Please deh!
- Sudah nulis sih, terus diapakan? // Coba kirim ke media massa! Apapun. Media massa punya satu atau beberapa ruang berikut untuk pembaca: artikel, cerpen, hikmah, resensi, surat pembaca, kisah perjalanan, kolom/refleksi, dll. Mengirimkan tulisan ke media massa itu mudah, tinggal email aja. Yang sulit itu dimuat. Nah, kalau yang mudah saja belum Anda lakukan, bagaimana Anda mengaku kesulitan?
- Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman hidup, itu ide yang tak pernah habis. ¨Ah, pengalaman hidup saya biasa-biasa saja.¨ // Apakah sudah Anda tuliskan? Itu bisa saja menjadi luar biasa setelah Anda tuangkan dalam kata-kata….Cobalah! Mungkin tak Anda publikasikan sekarang, tapi jadi aset berharga di masa mendatang…10, 20 atau 30 tahun lagi…(Marah Rusli merilis novel perjalanan hidupnya 50 tahun kemudian sejak kelar ditulis)
- Pembicara (orator) itu belum tentu bisa menulis, walau sejatinya dituntut bisa. Sebab untuk membacakan orasi atau isi ceramahnya, akan sangat terbantu jika ditulis. Nah, penulis pada umumnya tidak semua pandai bicara (orasi). Tapi, karena tuntutan kondisi, terpaksa jadi pengisi, akhirnya bisa bicara di depan publik (launching buku, bedah buku, sharing tips menulis atau training kepenulisan, dll). Setuju?
- Mau siaran radio, butuh script berbentuk tulisan. Mau orasi, naskah membantu banget. Mau bacain berita di tivi, ada tulisannya. Film yang menarik, inspiratif dan spektakuler pun harus ditulis dulu skenarionya. Bahkan film bisu pun ada skenario tertulisnya. Lalu apa jadinya kalau di dunia ini tidak ada penulis?…Bahkan Rasulullah SAW pun punya penulis loh…!
- Pengin sih jadi penulis. Tapi….saya nggak bisa nulis. // Memangnya sudah mencoba nulis apa saja? Artikel, cerpen, prosa, puisi, kisah perjalanan, chicken soup, atau coretan apalah yang nggak ada ¨namanya¨ di dunia tulis menulis. Yang penting sudah nulis apa belum?
- Bisa nggak ya saya jadi penulis. Saya kan cuma orang biasa // Hmm…menulis itu memang tradisinya orang-orang besar sih. Dan kalau saya, sangat berharap bisa seperti orang-orang besar itu. Anda? Driser, semoga poin-poin nasihat di atas mendongkrak semangatmu untuk terus menulis. Intinya, jangan pernah menyerah untuk terus menulis, menulis, dan terus menulis. Just write! [@Hafidz341]
di muat di majalah remaja islam drise edisi 52