Majalahdrise.com – Kita lanjutkan cerita inspiratif tentang berpuasa di negri matahari terbit yang belum baca tulisan pertama, silahkan buka lagi ya drise edisi agustus 2015 yuk simak !!
Keseruan lain berpuasa di sini adalah, bagaimana menerima tanggapan dari orang-orang Jepang yang menyaksikan kami berlapar-lapar di siang hari. Di sini, saya mengikuti kelas bahasa Jepang bersama para pendatang dari berbagai negara.
Suatu kali di akhir periode kelas bahasa sebelum memasuki libur musim panas, para sensei berinisiatif mengadakan party berupa makan siang bersama. Dengan sopan saya meminta ijin untuk tidak menghadirinya, sebab saya berpuasa. Mereka tertarik dan bertanya apa itu puasa dan Ramadhan.
Maka dengan campuran bahasa Inggris dan sedikit bahasa Jepang yang saya kuasai, saya berusaha menjelaskan apa itu puasa Ramadhan bagi seorang muslim. Ekspresi mereka di awal adalah terkejut. ‘Jadi, kamu tidak makan dan minum selama 18 jam? Apa kamu tidak sakit jadinya?’ Wow, bagaimana bisa kamu tak makan selama itu?, dan berbagai ungkapan lainnya.
Interesting! Sebab, ternyata tak banyak informasi yang mereka dapatkan tentang Islam dan muslim serta ajarannya. Waktu saya bilang dalam sehari saya ‘pray’ (sholat) lima kali, mereka pun terkejut. Mereka bilang jadi muslim itu ternyata sibuk ya! hahahaha. Mereka yang terbiasa hanya berdoa di momen-momen tertentu saja seperti tahun baru, tentu menganggap berdoa lima kali sehari sangat merepotkan.
Belum lagi saat mereka melihat bagaimana saya berbusana di musim sepanas itu. Jilbab lebar dan kerudung yang menutup seluruh tubuh. Pernah saat sedang berpuasa, saya sekeluarga jalan-jalan di sebuah pasar ikan terkenal di Hakodate, Asaichi. Saat itu pakaian saya menjadi pusat perhatian pengunjung pasar lainnya.
Bahkan ada salah satu diantaranya menegur kami dan bertanya pada saya mengapa saya menggunakan pakaian seperti itu di siang terik seperti ini. ‘Apakah kamu terlalu banyak uang sehingga kamu harus membeli baju-baju seperti itu?’ katanya. Haha, Alhamdulillah dalam hati saya. Dengan senyum seorang teman yang turut bersama kami dan lebih fasih berbahasa Jepang, menjelaskan padanya bahwa ini adalah pakaian muslim perempuan, bukan karena kebanykan uang, hehehehehe. Sepertinya memang Hakodate jarang dikunjungi muslim.
Jumlah muslimnyapun mungkin terbilang minim dibandingkan kota-kota lain di Jepang, dan itupun kebanyakan adalah pendatang, sehingga sampai sekarangpun fenomena jilbab saya tetap menyebabkan orang langsung mengarahkan pandangannya saat saya berada di tempat-tempat umum.
Tapi, inilah saat yang tepat mungkin untuk memperkenalkan Islam pada mereka. Orang-orang Jepang lebih toleran terhadap perbedaan dibandingkan dengan negara lain, menurut saya. Bisa jadi mereka hanya mendapat informasi sepintas dari media internasional, yang sebagian besar beropini lebih pada citra muslim dan Islam yang tak pernah lepas dari perang danterorisme. Setidaknya itulah opini yang pernah disampaikan salah satu sensei saat saya berkesempatan berdiskusi dengan beliau.
‘waktu pertama lihat kamu, yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah wow, inilah salah satu teroris yang ditakuti dunia.’ katanya. Waduh, masak saya yang imut begini dibilang teroris, hehehehe. Ya mereka begitu karena belum tahu, dan inilah saatnya kita menjelaskan pada mereka apa itu Islam. Keseruan lainnya adalah saya tak bisa lagi merasakan meriahnya sholat tarawih seperti yang biasa dijumpai menjelang isya’ di kampung.
di muat di majalh drise edisi 49#