Majalahdrise.com – pernah nonton film Rambo, Batman, atau Ironman? Mereka salah tiga dari idola remaja dengan aksi heroiknya. Bayangin aja, seorang Rambo yang hanya dibekali pisau belati dengan teknik perang gerilya mampu bikin kocar-kacir pasukan musuh yang bersenjata lengkap. Begitu juga Batman dengan teknologi batmobilnya atau Ironman dengan pakaian super canggihnya. Di antara Rambo, Batman, atau Ironman perbedaannya udah jelas.
Beda film, beda musuh, beda teknologi, dan tentu beda karakter. Namun ada satu kesamaan yang menjadi daya tarik mereka di layar lebar. Revenge alias balas dendam. Catet! Memaafkan kesalahan orang lain bagi anak cowok, itu nggak gampang. Lantaran dari film yang banyak ditonton remaja, kayanya type pejantan tangguh itu justru kisahnya menebarkan aroma balas dendam. Batman berlatih keras bela diri untuk membalas dendam kematian orang tuanya.
Rambo meluluhlantahkan seluruh kota, setelah diperlakukan tak adil. Sementara Ironman membentuk baju besinya dan kembali menghancurkan markas musuh yang menyekapnya. Dan tentunya kita tak bisa melupakan hebatnya Don Vito Corleone yang menjadi tokoh sentral film mafia The God Father. Dari kisah-kisah di atas, keliatan kalo karakter seorang cowok macho itu digambarkan enggan memaafkan kesalahan orang lain. Kalo dilakukan, seolah menunjukan sisi lemah laki-laki. Nggak maskulin. Masa sih?
Balas Dendam = Keadilan?
Dendam itu manusiawi. Rasanya cukup adil kalo orang yang telah menyakiti kita, merasakan hal yang sama. Sebaliknya, kalo dimaafkan kok rasanya kita jadi kalah. Dia seperti berbahagia di atas penderitaan kita. Apalagi kalo dianya nggak merasa bersalah atau enggan meminta maaf. Makin esmosi aja dibuatnya. Makanya dianggap wajar kalo kita marah untuk ngasih balasan setimpal atau bahkan lebih kepada orang yang telah menyakiti kita. Ya kalo kita ngikutin perasaan, pastinya ada seribu alasan untuk membenarkan. Setan akan menghalalkan segala cara untuk menjerumuskan Apalagi kalo udah dikasih bumbu keadilan demi ngasih pelajaran. Pas banget dah untuk jadi cowok pendendam.
Padahal kenyataannya, balas dendam tak berarti sukses meraih keadilan. Hanya memuaskan nafsu semata. Karena hakikatnya, keadilan itu datangnya dari yang Maha Kuasa. Orang yang melakukan kesalahan akan merasakan akibat perbuatannya bukan karena amarah kita. Tapi karena konsekuensi perbuatan mereka sendiri. Apa yang dia tanam, itu yang akan dia tuai. Ibaratnya cermin, dia akan menerima perlakuan yang sama seperti yang pernah dilakukan pada orang lain. Itu udah sunatullah. Jadi, balas dendam itu tak identik dengan keadilan. Catet
di muat di majalah remaja islam drise edisi 49