Majalahdrise.com – indonesia terkenal sebagai negeri yang kaya akan kulinernya. Mulai dari Mie Jalak atau Sate Gurita di Sabang hingga Papeda di Merauke. Lengkap. Rahasia kekayaan kuliner nusantara terletak pada bumbu rempah yang berlimpah. Nggak heran kalo orang Indonesia juga dikenal sebagai modifier jempolan untuk makanan luar negeri agar cocok di lidah ibu pertiwi. Otak-atik sana-sini, kasih bumbu sini situ, tadaa.. jadi deh. Combro toping tiramisu! ^_^ Selain urusan kuliner, musisi Indonesia juga piawai memadukan musik khas dalam negeri dengan musik impor yang merajai tayangan televisi. Tahu kan musik khas negeri kita? Yup, seperti kata Project Pop, ‘..dangdut is the music of my country..’. Walhasil, irama musik dangdut berkolaborasi dengan aliran musik lainnya. Dari mulai pop dangdut, rapp dangdut, hingga house music. Kini, negeri kita juga kedatangan gaya hidup lain yang bercitarasa nusantara. Bukan dalam urusan kuliner ataupun musik, tapi keyakinan.
Orang-orang menyebutnya, Islam Nusantara (Inus). Nah lho, aliran apaan tuh?! Islam ‘Citarasa’ Nusantara Ada yang beda dalam acara peringatan Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw. 17 Mei 2015 lalu di Istana Negara.Ayat suci yang dibacakan oleh Muhammad Yasser Arafat, dosen UIN Sunan Kalijaga, DIY, saat itu dilantukan dengan langgam jawa. Bagi yang belum tahu, langgam itu sama seperti logat.
Coba dengerin dalang wayang kulit yang lagi show. Khas banget kan lantunan suaranya. Itu langgam jawa. Atau dengerin sinden saat pernikahan pake adat planet pajajaran, khas banget cengkoknya. Itu langgam sunda. Lazimnya, langgam itu dikaitkan dengan seni daerah masing-masing. Lha, kalo seorang qori membaca al-quran dengan langgam daerah seperti jawa, berabe urusannya. Lantaran baca quran ada aturan mainnya. Nggak bisa asal bunyi. Dalam Islam, membaca al-quran pake langgam daerah seperti Jawa itu nggak boleh. Emang sih, Rasul memerintahkan kita baca quran pake suara yang indah. Tapi bukan dengan logat daerah. Lantaran bacaan panjang pendeknya huruf alquran bisa berantakan. Niatnya ibadah, malah menyalahi sunah. Jangan dong!
Ternyata, masalahnya bukan sekedar bacaan quran dengan langgam jawa. Konon kabarnya, qori diminta menag untuk tilawah dengan logat daerah. Selidik punya selidik, ternyata ini adalah bagian dari prosesi ‘perkenalan’ ide Islam Indonesia alias Islam Nusantara. Eng..ing..eng..!! Walhasil, pro kontra di dunia maya bergulir bak bola salju. Para pendukung ide Islam Nusantara yang notabene dedengkot Islam Liberal berkicau di sosial media untuk membela. Apalagi ketika inus dikaitkan dengan opini penegakan syariah. Mereka yang selama ini anti ide penegakan syariah seperti dapet angin surga gitu. Langsung getol ngomong sampe berbusa kalo “Islam Nusantara” adalah wujud penerapan Islam terbaik, dibandingkan dengan “Islam Timur Tengah” yang saat ini diwarnai berbagai konflik.Iya gitu
di muat di majalh remaja islam drise edisi 49