Di Bawah Langit Perang Yaman

2 Agustus 2014

Majalahdrise.com – Akhirnya aku beserta suami dan kedua anakku menginjakkan kaki ditanah Sana’a, ibukota Yaman. Negara yang telah aku idam-idamkan untuk didatangi. Negara yang aku impikan untuk menimba ilmu. Sejak usia 12 tahun, niat untuk belajar di Yaman sudah tumbuh dihatiku. Teringat saat aku tak sengaja melihat sebuah brosur tentang beasiswa ke Yaman. Di brosur itu terpampang sebuah foto para pelajar wanita yang sedang didalam kelas. Seluruh tubuhnya dibalut kain bewarna hitam dan hanya menyisakan kedua matanya. Bagaimana bisa aku merinding hanya dengan melihat hal itu? I think it’s very cool ^^

Hari pertama hingga hari ketiga kami menikmati sarapan, makan siang, dan makan malam dengan menu ala Yaman yang disediakan hotel tempat kami menginap. Semuanya enak dilidah kecuali satu, Fasulia. Bentuknya yang bikin eneg dan rasanya yang aneh membuat aku tiba-tiba kenyang. Untungnya anak-anak suka. Jadi aku tak khawatir mereka kelaparan. Sedangkan yang paling ditunggu-tunggu adalah waktu makan siang. Menu ayam panggang guling ala Yaman benar-benar lezat menggugah selera.

Ternyata saat kami datang, Yaman sedang konflik. Teman-teman Indonesia banyak yang mengungsi ke KBRI. Terutama teman-teman yang tinggal didaerah Universitas Al-Iman. Salahsatu universitas besar di Yaman yang terkenal secara internasional. Saat itu Al-Iman mendapat ancaman serangan dari Syiah Houthi (Syiah beraliran Rafidhah). Hingga perayaan Idul Fitri pun dirayakan oleh teman-teman pengungsi di KBRI. Kami yang malang karena belum mendapat rumah jadi masuk kategori pengungsi. Awalnya malu karena barang-barang kami lumayan banyak. Membuat sesak ruangan. Tapi Alhamdulillah kami diterima dengan baik. Seminggu kami di KBRI hingga suasana aman dan kami pun dapat rumah kontrakan. Alhamdulillah…

Tetapi,baru dua bulan kami menikmati hidup di Yaman dengan tenang, konflik kembali muncul. Tak tanggung-tanggung…perang besar terjadi di ibukota Sana’a. Hari itu, suamiku bilang kalau ia akan pergi keluar rumah. Selang beberapa saat suamiku pulang. Aku heran karena tumben sekali dia pulang begitu cepat. Ternyata orang-orang di jalan memberitahunya kalau perang sebentar lagi dimulai. Suamiku sempat-sempatnya menunggu ditepi jalan untuk melihat permulaan perang, setelah melihat mobil-mobil pickup berisi tentara lewat dan kemudian terdengar bunyi satu atau dua tembakan,barulah beliau pulang ke rumah.

Ternyata Syi’ah Houthi benar-benar melaksanakan ancamannya yang pernah dilontarkan dua bulan sebelumnya. Mereka mulai memerangi Universitas Al-Iman, dan kami yang tinggal diluar kompleks universitas (walau tidak belajar disitu) turut merasakan horor yang ditimbulkan.

Tidak banyak yang bisa kami lakukan selama perang berlangsung, melainkan menunggu dan berharap perang reda. Kemudian pemilik rumah sewa datang kepada kami dan mengatakan untuk tidak khawatir karena menurutnya perang tidak akan berlangsung lama.

Detik-detik berlalu, kemudian menit, kemudian jam, sedangkan perang tidak semakin reda. Suara-suara yang awalnya hanyalah suara tembakan satu-dua kali dalam satu menit, semakin lama semakin sering terdengar hingga tidak ada jeda diiringi suara ledakan mortir. Hingga malam hari, suara ledakan-ledakan yang besar terus menggema. Aku tak membuang kesempatan, suara-suara itu kurekam diponsel untuk jadi kenangan. Bersyukurnya anak-anak tidak rewel ataupun ketakutan sama sekali. Hingga tengah malam, suara-suara itu masih terdengar mengiringi tidur kami.

Esok harinya kami dibuat panik karena letusan dan ledakan masih saja bersahut-sahutan. Tanpa fikir panjang aku mulai berkemas. Hanya untuk menyiapkan jika mungkin terjadi apa-apa. Hingga akhirnya datanglah pemilik rumah dan menawarkan kami untuk diungsikan (kembali) ke KBRI, sedangkan istri dan anak-anaknya sudah ia ungsikan terlebih dahulu ke negerinya di Taiz.

Perjalanan ke KBRI bukannya tanpa teror tersendiri. Jalanan sepi. Namun masih terlihat beberapa warga yang lalu lalang dipinggir jalan. Beberapa mobil yang kami lewati ternyata mobil-mobil para pengungsi lainnya terbukti dengan banyaknya barang yang memenuhi mobil mereka. Hingga akhirnya si supir menurunkan kami ditengah jalan untuk ditukar dengan taksi. Kami heran namun tak bisa berkata-kata. Tanpa babibu kami turun dan memberhentikan taksi yang lewat. Saat mengganti kendaraan aku benar-benar ketakutan. Aku takut jika ada peluru nyasar dan mengenai salah satu dari kami.

Taksi melaju sangat cepat. Tak henti-hentinya kami berzikir dan berdoa meminta perlidungan pada ALLAH. Hingga akhirnya kami pun sampai di KBRIdengan selamat. Eh si sopir bisa-bisanya mengambil keuntungan dari kejadian ini. Ia meminta bayaran tiga kali lipat dari harga biasanya.

Di KBRI kami tak mendengar suara-suara mengerikan itu. Karena jaraknya cukup jauh dari daerah perang. Hingga suatu malam kami dikagetkan oleh suara-suara yang kami hindari itu. Suara tembakan kembali kami dengar di pengungsian. Aku dan ummahat lain sangat panik. Beberapa ummahat berlarian mencari anak-anaknya. Sejujurnya aku sedikit geli dengan situasi ini. Karena saking paniknya, ada yang teriak-teriak menyebut nama anaknya. Ada yang tiba-tiba asal ambil hijab orang lain untuk menutupi rambutnya. Takut kalau-kalau harus kabur namun tidak sempat mencari milik sendiri. Barang-barang sekitar yang tercecer pun menjadi korban tendangan para ummahat. Hehehe 😀

Ternyata oh ternyata itu perayaan kemenangan Syiah Houthi yang berhasil menguasai Universitas Al-Iman. Mereka melakukan parade keliling kota dengan menembakkan peluru ke udara. Ditambah kembang api yang meramaikan malam itu hingga terasa seperti malam tahun baru (walaupun kita tidak ikut merayakan malam tahun baru namun kita terganggu dengan kegiatan itu). Kami sedikit lega karena yang kami bayangkan tidak terjadi (penyerangan) namun kesedihan begitu terasa di ruangan itu. Betapa tidak, dengan jatuhnya Universitas Al-Iman ke tangan Houthi, rumah-rumah beserta harta benda didalamnya yang mana harta benda itu milik para pelajar Al-Iman akan menjadi harta rampasan mereka. Beberapa ummahat ada yang menitikkan air mata.

Dalam perang ini kami disuguhi dagelan yang nyata, yaitu Universitas Al-Iman yang sebelumnya telah dijaga oleh tentara pemerintah dan mendapatkan jaminan untuk dilindungi ternyata hanya dalam sehari tanpa perlawanan menyerahkan universitas tersebut ke pihak oposisi yang masuk dengan melenggang, seakan-akan menunjukkan mereka dari awal berkomplot tetapi dibuat sebuah cerita perang agar tidak menimbulkan kecurigaan. (Sudah rahasia umum bahwa Universitas Al-Iman tidak disukai oleh pemerintah dan juga Amerika Serikat)

Akhirnya KBRI membuka evakuasi untuk pulang ke Indonesia. Banyak yang mengambil kesempatan tersebut tetapi kami tidak mengambilnya. Pertimbangannya adalah, kami baru saja datang dari Indonesia dengan mengorbankan banyak hal, sungguh rugi jika kami pulang kembali sedangkan ilmu pun belum didapat. Belum tentu bisa kembali ke negeri ini dengan mudah.

 

Febuari 2015

Waktu telah berlalu. Warga Indonesia di Yaman banyak yang telah kembali ke Indonesia. Sedangkan kami tetap bertahan di Yaman hingga saat ini. Perang masih berlanjut. Namun itu tak mempengaruhi kami sama sekali. Beberapa kota termasuk Ibukota Sana’a telah jatuh ke tangan Syiah Houthi.

Hingga kini, kami berharap tidak terjadi apa-apa terhadap kami. Walaupun sempat terdengar kabar kalau warga asing akan dikembalikan ke negara masing-masing, kami sangat berharap itu tak pernah terjadi sedangkan Houthi tak akan pernah berhenti hingga Yaman didaulat menjadi negara syiah. Wallaahu a’lam bishshawwab…[]

Ya ALLAH lindungilah kami sekeluarga dan lindungilah negeri Yaman…Aamiin…

8 Februari 2015 ,Sana’a_Yaman

Ummu Asad

di Muat di majalah Islam Drise Edisi 46

Leave a Reply

Your email address will not be published.