Judul di atas memang bukanlah sekadar kiasan. Dahulu pernah ada seorang wanita yang benar-benar mandi dengan darah. Dalam kisah ini, akan kita lihat betapa lihai setan memperdaya dan membisiki kesesatan kepada hati dan pikiran manusia.
Tersebutlah seorang perempuan bangsawan, Countess Elizabeth Báthory de Ecsed, dinobatkan sebagai wanita pembunuh paling produktif (most prolific female murderer) karena aksi pembunuhan dan penyiksaan yang dia lakukan antara tahun 1585 hingga 1610, oleh Guinness Book of World Record. Sepertinya Guinness memang tidak main-main ketika menyematkan gelar itu kepadanya, dan kita akan segera mengetahuinya.
Ensiklopedia Britannica mencatat, Elizabeth Báthory dilahirkan pada 7 Agustus 1560 di Nyírbátor, Hungaria, dan menjalani masa kanak-kanaknya di Kastil Ecsed. Ayahnya adalah George Báthory dari cabang keluarga Ecsed, saudara dari Andrew Bonaventura Báthory yang menjabat sebagai Voivode Transylvania. Ibunya adalah Anna Báthory, putri dari Stefan (atau Stephen) Báthory, juga salah seorang Voivode Transylvania dari cabang keluarga Somlyó. Dari sisi ibunya, Elizabeth adalah keponakan Stefan Báthory, Raja Hungaria, Polandia, dan Lithuania, sekaligus Pangeran Transylvania. Terlahir dari keluarga seperti ini, membuat Elizabeth menikmati kekayaan berlimpah, terkenal, terpelajar, menikmati hidup yang amat nyaman, sekaligus manja. Sebuah model kehidupan yang bukan hanya menghasilkan kebaikan, tetapi juga banyak keburukan.
Brenda Ralph Lewis dalam A Dark History
Tentunya Elizabeth tumbuh dalam perawatan fisik yang baik. Dia semakin dewasa dengan kecantikan di atas rata-rata, dan seperti yang dijelaskan oleh Brenda Ralph Lewis dalam A Dark History: Kings ang Queens of Europe, “Elizabeth adalah tangkapan yang hebat untuk suami yang ambisius, dan sejumlah pelamar telah menunjukkan ketertarikan mereka ketika Elizabeth muncul dalam ‘pasar calon pengantin wanita’ pada tahun 1570.”
Lelaki beruntung itu bernama Ferenc Nadasdy, seorang bangsawan yang derajatnya lebih rendah daripada keluarga Báthory. Karena bagi Ferenc pernikahan dengan Elizabeth adalah untuk meningkatkan derajatnya, maka dia membiarkan istrinya tetap memakai nama Báthory ketimbang Nasasdy. Bangga sekali bisa mendapatkan seorang istri cantik dari keluarga Báthory. Pernikahan mereka diselenggarakan pada 8 Mei 1575, ketika itu Ferenc berusia 25 tahun dan Elizabeth berusia 14 tahun. Ada satu persamaan penting dari mereka berdua: sama-sama sadis.
Pada abad 16, kaum Gipsi dipandang sebagai bangsa setengah manusia yang bisa diperlakukan sewenang-wenang, bahkan bisa ditembak seketika seperti memukul kecoak dengan sandal. Ketika masih kanak-kanak, Elizabeth pernah menyaksikan eksekusi atas seorang kaum Gipsi ini yang amat kejam. Orang Gipsi yang malang ini dituduh berkhianat dan hukuman bagi perbuatan itu (walau baru sekadar tuduhan) adalah kematian. Hanya saja bukan kematian itu sendiri yang mengerikan, tetapi bagaimana caranya.