Paus Kallistus III

majalahdrise.com – Sejak awal, Alonso memang rajanya nepotisme, dan sepertinya Rodrigo banyak belajar dari pamannya ini. Setahun kemudian, pada 1456, Alonso mengangkat dua orang keponakannya, yang salah satunya adalah Rodrigo, untuk menjadi Kardinal. Pengangkatan dua orang keponakan ini sangatlah aneh dan dianggap berbahaya oleh Dewan Kardinal karena usia mereka masih sangat muda. Rodrigo sendiri baru berusia 25 tahun. Orang yang diangkat menjadi Kardinal seharusnya sudah tua. Dewan Kardinal menerima saja keputusan Alonso dengan menganggap bahwa sang Paus sudah sangat tua (usianya 78 tahun) dan akan segera mati sebelum jabatan-jabatan penting itu dikukuhkan atas kedua keponakannya. Perkiraan itu pun meleset, Alonso ternyata hidup lebih lama dan cukup die hard untuk mengangkat Rodrigo sebagai Wakil Pemimpin Gereja pada tahun 1457. Jabatan ini membuat Rodrigo menjadi orang penting kedua setelah Paus sendiri, dan sangat basah sehingga membuat Rodrigo sanggup mengeruk kekayaan yang begitu banyaknya. Keponakan yang lain, Pedro Luis Borgia, mendapat jabatan sebagai pemimpin angkatan bersenjata Kepausan. Pedro Luis juga diangkat menjadi gubernur dari 12 kota. Beberapa benteng penting pun berada di bawah kekuasaannya.

Pada tahun terakhir kehidupannya, tahun 1458, Paus Kallistus III alias Alonso Borgia membuat sebuah kebijakan yang sangat tidak populer. Sultan Muhammad al-Fatih dari Turki Utsmani telah merebut kota paling Kristen setelah Roma, Konstantinopel, dan tidak ada seorang Paus pun yang boleh tinggal diam atas bencana ini. Alonso menyerukan agar Perang Salib digelorakan lagi. Dia menjual segala hartanya, emas dan perak, karya-karya seni, buku-buku berharga, segala jabatan dan keuntungan dari berbagai wilayah Kepausan untuk membiayai Perang Salib yang baru ini. Dia juga menebar ‘indulgensia’, surat pengampunan dosa yang bisa dibeli oleh para kriminal dan dosa-dosa itu otomatis akan diampuni.

Sayangnya, para raja di Prancis dan Jerman serta di wilayah-wilayah lainnya, tidak tertarik lagi pada ide Perang Salib. Mereka ogah mengirimkan pasukan dan persenjataan untuk seruan sri Paus itu. Perang Salib itu pun tidak pernah terwujud dan Alonso hanya menghabiskan hartanya dengan sia-sia belaka, orang Kristen tidak pernah lagi sanggup merebut Konstantinopel dari tangan Muslim. Paus Kallistus III menjadi amat tidak populer di Roma, dan pada 6 Agustus 1458 dia mati dalam keadaan seperti ini. Orang-orangnya yang dia bawa dari Spanyol melarikan diri dengan panik karena keadaan yang menekan setelah kematiannya.

lanjut membaca

Leave a Reply

Your email address will not be published.