Rasullulah pernah mewasiatkan kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab “ kalau kalian bertemu dengan Uwais al-Qarni, perhatikanlah R ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tanganya. Apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah Do’adan Istigfarnya.
Dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi.” Siapakah Uwais Al-Qarny hingga Rasulluwlah begitu mengutamakanya hingga meminta doanya? Uwais al-Qarny adalah seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan dengan kulitnya yang kemerah-merahan. Dilahirkan di sebuah desa terpencil bernama Qaran di dekat Nejed. Nama lengkapnya adalah Uwais bin Amir al-Qarny.
Sejak kecil Uwais hidup dalam keluarga yang taat beribadah. Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim bersama ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupanya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai pengembala kambing. Upah yang di terimanya hanya cukup untuk sekedar menopang keseharian bersama ibunya. Bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dirinya.
Rupanya, karena baktinya kepada orang tuanya dan kesabaranya merawat orang tuanya menjadikan ia penghuni langit bukan penghuni dunia seperti kata Rasul. Sosok yang miskin dan tak ada sanak saudara menjadikan namanya tak begitu di kenal orang tapi dengan ahlaknya yang mulia dan berbakti pada orang tuanya menjadikan ia banyak di kenal dan di kenang. Keinginan terbesar Uwais adalah bertemu dengan Rasul.
Tapi apa daya keadaan ibunya yang sudah tua membutuhkan perawatan darinya hingga ia tidak tega untuk meninggalkanya. Ibunya yang mengetahu keinginan anaknya untuk bertemu pujaan hatinya yaitu Rasulullah memberikan ijin. “Pergilah wahai anakku temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa segeralah engkau kembali’ dengan rasa gembira Uwais berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan di tinggalkanya serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Setibanya Uwais di kota Madinah, segera ia menuju rumah Nabi. Tapi sayang waktu itu Nabi tengah berada di medan perang. Untuk mengobati kekecewaannya, Uwais ingin menunggu Rasul tapi sampai kapan? Sedangkan ia teringat pesan ibunya agar lekas pulang yang kemudian mengalahkan keinginan hatinya untuk menunggu Rasul. Dan Uwais pun kembali pulang. Sepulang dari perang Rasulullah menanyakan kedatangan Uwais. Rasul berkata ia adalah anak yang patuh pada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit) hingga pantaslah jika rasul menyuruh sahabatnya untuk meminta doa darinya. Yang dikatakan Rasul terbukti kebenaranya ketika Uwais Al-Qarny meninggal rupanya para malaikat turun kebumi untuk ikut mengurusi jenazahnya.
Diriwayatkan ketika akan di mandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikanya,begitupun ketika akan di kafani disana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafani. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya disana ternyata sudah ada orang yang menggali kuburnya sedemikian banyak orang yang tidak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamanya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Driser, sebuah pepatah mengatakan “There are no perfect parents. But our parents will always love perfectly..”. Uwais nyadar banget, meski ibunya sudah renta dan lumpuh, hal itu tak menyurutkan kasih sayangnya pada Uwais. Ini menjadi cerminan buat kita.
Keridhoan Allah terdapat pada keridhoan orang tua. So, berbaktilah pada orang tua kita. Agar Allah swt menggolongkan kita seperti halnya Uwais, penghuni langit dan bukan penghuni bumi. Amiin. [Ridwan]
Di muat di majalah drise edisi 20