Ziarah ke Auliya Bahnasa

Tanah dengan 5000 makam sahabat nabi

Oleh: Anastasia, Ibu Rumahtangga tinggal di Mesir

 

drise-online.com – Konon ketika pemerintahan Romawi berkuasa, terdapat seorang raja bernama El-Batlimus yang memiliki seorang puteri yang cantik. Kerana kecantikannya, sang puteri dijuluki dalam bahasa Arab sebagai Baha’ An-Nisa’ artinya, Wanita yang amat cantik.

Ketika penaklukan Mesir sekitar tahun 22 Hijriyah, gubenur Mesir Amru bin Al-‘As telah mengutuskan tentara Islam ke kawasan Sa’id Mesir yang dipimpin Panglima Qais bin Al-Harith. Ketika tiba di kota tersebut, tentara Islam disambut pedang tentara musuh, rantai besi serta pintu-pintu kota yang kokoh mempertahankan Bahnasa. Namun tak sedikit pun para sahabat getir mundur kebelakang. Mereka gigih berjuang memperebutkan Bahnasa sampai akhirnya Bahnasa jatuh kepangkuan Islam.

Bahnasa merupakan tanah yang penuh keberkahan, terletak di muhafazah al-Minya selatan Mesir. Sayyidina Amru Al-Asr RA, sahabat baginda yang ikut menaklukan Mesir pernah mengatakan “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda “tidak ada tanah yang lebih berkah setelah Mekah, Madinah dan Baitul Maqdis suatu melainkan di bumi Mesir serta lebih banyak keberkahan yang berada di sebelah barat Mesir. Kata Sayyidina Amr : “Mudah-mudahan ia (tempat yang banyak keberkahan itu) ialah Bahnasa”.

Hadist di atas menjadi indikasi penaklukan Islam atas negeri-negeri jajahan. Kala itu Mesir masih di bawah jajahan Romawi, kondisi Mesir tertindas banyak penduduk setempat menjadi budak. Maka dari itulah Rosulullah mengutus Amr bin Ash memerdekan Mesir. Terbukti setelah dikuasai Islam, ekonomi Bahnasa bergerak mereka memproduksi tenun yang disulam dengan emas, sehingga pada zamannya Bahnasa terkenal dengan tenunnya, masyarakat dihilangkan dari belenggu kenistaan, dan hak-hak hidup mereka diberikan.

Di kota Bahnasa begitu berkah dan istimewa karena di tanah inilah terjadi peperangan hebat yang menyebabkan 5000 sahabat Rosul syahid, di antaranya adalah generasi ke tiga sahabat. Bahnasa saksi bisu 5000 sahabat dan tabi’in gugur syahid berperang dalam Futuh Islam. Di antara para solehin yang dimakamkan di tanah berkah ini ialah:

  • Makam 7 perempuan : Dome of seven girls
  • Makam Saidi Ali Jummam (Qadi Bahnasa)
  • Makam Saidi Jaafar dan Ali Bin ‘Ukil Bin Abi Talib (Anak saudara Saidina Ali)
  • Makam Saidi Syarif Mas’ud ( Satu maqam dengan Saidi Jaafar dan Ali)
  • Pohon Saidah Maryam (Tempat Maryam, Ibu Nabi Isa alaihissalam beristirahat (ketika melarikan diri)
  • Makam Saidina Ziad bin Abi Sufian bin al-Harith bin Abdul Muttalib (Ketua perang)
  • Makam Saidi Hassan bin Soleh bin Ali Zainal ‘Abidin bin Hussain bin Ali (Cicit Saidina Hussain)
  • Makam Ubaidah Bin Ubadah Bin Assomat (Anak Sahabat)\
  • Saidina Muhammad bin ‘Uqbah bin Nafi’ dan Qa’qa Ibn Umar
  • Saidah Khaulah Al-Azwar
  • Saidi Hassan Bin Yahya Bin Hassan Al-Basri (Cucu Hasan Al-Basri)
  • Saidina Muhammad bin Abdul Rahman bin Abu Bakar (Cucu Saidina Abu Bakar As-Siddiq)

 

Ada yang menyebutkan bahwa Bahnasa merupakan tanah terbanyak yang di isi oleh makam para sahabat, karena secara fisik kompleks pemakaman Bahnasa masih utuh membentang diantara makam tersebut tercatat 70 orang sahabat yang ikut berperang ke medan Badar, di antara ulama’-ulama’ yang pernah menziarahi Bahnasa ialah Imam Bishrul Hafi, Imam Sirri as-Siqoti, Saidina Malik bin Dinar, Imam Fudoil bin ‘iyad, Ibnu Sirin dan masih banyak lagi.

Bahnasa sekarang tumbuh menjadi perkampungan kecil yang terletak 400 Km dari kota Cairo. Kondisi Mesir sekarang telah menjauhkan Islam sebagai sistem negara. Akibatnya wilayah Bahnasa tidaklah termansyur seperti dahulu kala. Masyarakat setempat hanya bertumpu hidup pada ladang. Wajah Mesir sekarang menjadi sebuah ironi antara yang kaya dan yang miskin. Kesenjangan sosial begitu tinggi, diperburuk dengan pemerintah rezim yang dzalim terhadap rakyatnya. Mesir belum stabil, masyarakat hidup dalam ketakutan karena pergantian penguasa yang syarat akan konflik, laju perekonomian kian mundur kebelakang, harga kebutuhan barang melambung di pasaran. Bahnasa sebagai tempat wisata ziarah leluhur sahabat, menunjukkan pada kita bukti nyata ketika Islam diterapkan maka keberkahanlah yang akan dilimpahkan pada masyarakat. Semoga Driser bisa ke Mesir, biar bisa ziarah ke Bahnasa, tanah dengan 5000 makam shahabat. Aamiin.[]

di muat di Majalah Remaja islam drise Edisi #37

 

CEWEK PECICILAN

Si Cewek : “Eh, minta PIN BB dong”

Si Cowok : “Untuk apa?”

Si Cewek : “Kali aja ada urusan apa gitu. Nambah teman kan boleh dong”

Si Cowok : “Oh gitu, Okey deh”

Si Cewek : “Oya, alamat kamu juga dong? Kali aja aku ngapel ke rumah kamu”

Si Cowok : (gubraks!)

 

drise-online.com – Zaman sekarang ini banyak fenomena yang nggak biasa di tengah-tengah kita kaya dialog cewek pecicilan bin genit van ganjen di atas. Dulunya, biasanya kaum adam yang lebih agresif pedekate sama gadis yang ditaksirnya. Sekarang ini, cewek-cewek seolah nggak mau kalah. Malahan, kaum hawa lebih aktif ngecengin cowok-cowok. Apalagi kalau cowoknya cakep, atletis, plus anak orang kaya. Dijamin banyak cewek yang naksir dan SKSD gitu. Naksir dengan menunjukkan sinyal-sinyal, baik yang ‘low risk’ sampai yang ekstrim. Malu nggak ya? Hemm…. yah tergantung setebal apa urat malunya. Bisa tengsin, bisa juga cuek. Terlebih lagi jika hal tersebut jadi kebiasaan umum alias lumrah. Seolah itu jadi pembenaran buat yang melakoninya. Sah-sah ajalah, teman-temanku juga kayak gitu. Malah lebih parah! Ups

 

PENGEN EKSIS NIH YE!

Yup! Cewek pecicilan itu haus pengakuan. Kenali dan koreksi diri kita dari sifat-sifat pecicilan. Kalau kita doyannya nge-gosipin cowok melulu, bisa-bisa ini jadi awal kita bersikap agresif pada lawan jenis. Awalnya sekedar ingin tau, lama-lama ingin bertemu, ujung-ujungnya rindu. Maka mulailah berusaha nelpon dia, padahal nggak penting-penting amat. Nah loh! Abis nelpon, janji ketemuan, ehh… si cowok menyambut, akhirnya terjadilah hubungan ilegal alias pacaran. Ingat, pacaran itu sudah pasti mendekati perzinahan. Hubungan anti zina ya cuma pernikahan. Seratus persen halal!

Pecicilan juga bisa terlihat dari cara berpakaian. Tampak mengumbar aurat dan dandan berlebihan, itu jadi ciri-ciri cewek pecicilan. Sebelas dua belas dengan cewek cabe-cabean. Tujuannya, tentu menarik perhatian lawan jenis. Plis, Girls! Sederhanakan diri, tutup auratmu. Buat apa eksis tapi jadi investasi dosa?!

 

PESONA MUSLIMAH

‘Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah, ‘Jika engkau tidak malu, berbuatlah sesukamu.’”

 

Hadist ini merupakan sindiran buat manusia yang kehilangan rasa malunya demi syahwat duniawi. Banyaknya perempuan yang menggadaikan rasa malu bisa membawa kehancuran di muka bumi. Bersolek dan memakai wewangian berlebihan, seolah minta digoda dan menjual harga dirinya.

 

“Dan hendaklah kalian (wahai istri-istri Nabi) menetap di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj (sering keluar rumah dengan berhias dan bertingkah laku) seperti (kebiasaan) wanita-wanita Jahiliyah yang dahulu” [al-Ahzaab:33].

 

Padahal setiap inci tubuh wanita, bahkan suara pun harus dijaga. Sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah. Yuk, jaga diri dengan bersikap apa adanya, tidak over-acting dan menundukkan pandangan. Kalo mau eksis, nggak perlu pecicilan atau gabung dengan komunitas cabe-cabean. Percaya deh, kamu nggak otomatis jadi hebat, tambah cute, makin cantik, atau banyak dilirik kaum adam dengan bersikap pecicilan. Bisa jadi lawan jenis malah jengah, jijik, dan kesannya lebay gitu deh. Mending ikut pengajian biar jadi wanita sholehah. Dijamin eksis dunia akhirat. Mulia di hadapan Allah pun dihadapan manusia. Ikhwan sholeh bakal ngantri siap menjadi pangeranmu. Nggak heran kalo kamu dicemburui bidadari surga. jadi Mau? [Alga Biru]

 

Box

‘NAKSIR’ ALA KHADIJAH

”Wahai anak pamanku, aku berhasrat untuk menikah denganmu atas dasar kekerabatan, kedudukannmu yang mulia, akhlakmu yang baik, integritas moralmu dan kejujuran perkataanmu.”

 

Begitulah ucapan Bunda Khadijah tatkala ‘melamar’ Rasulullah SAW. Tentu setelah sebelumnya beliau menyuruh pelayannya untuk menginvestigasi seluk beluk perangai Rasul Saw. So, nggak main sosor loh ya!

Setelah yakin dengan hasil pengamatan tersebut, maka Khadijah yang terhormat dan idola lelaki Makkah ini mantap untuk bersuamikan Muhammad yang dijuluki ‘al-Amin’ di tengah kaumnya. Bukan ajakan pacaran, atau sekedar pemberi harapan palsu. Nah, yang ini boleh dicontoh. Ini

di muat di Majalah Remaja Islam drise Edisi #37

Derap Rantai

Episode 8

drise-online.com – Sudah hampir dipastikan bahwa Mutsana dan Jabal akan tertangkap, namun Allah berkehendak lain. Tiba-tiba, pada dinding batu gang itu, di sisi sebelah kanan, muncullah pria kurus berwajah kutil, seolah-olah tadi dia bersembunyi di balik udara yang tipis. Ternyata ada sebuah pintu rahasia di dinding batu itu yang warnanya amat serupa dengan bagian-bagian dinding yang lain, sehingga tersamarkan. Pria itu melongok dari balik pintu, kemudian melambaikan tangannya, memanggil Mutsana dan Jabal.

Seperti mendapatkan oase di tengah-tengah gurun pasir, Mutsana dan Jabal bergegas menghampiri pintu itu kemudian memasukinya. Pria berkutil buru-buru menutup pintu itu di belakang mereka. Sampailah mereka di sebuah ruangan yang gelap, cahaya matahari hanya menerobos dari sela-sela di bagian atap. Pria berkutil memimpin mereka keluar dari ruangan itu melalui sebuah pintu batu yang tersambung pada bagian belakang sebuah rumah. Kini mereka berada di sebuah dapur. Jantung mereka berdegup kencang, apakah mereka benar-benar telah selamat?

“Kalian sembunyilah di sana, di sudut ruangan ini, aku akan keluar melihat keadaan,” kata Pria berkutil.

Mutsana dan Jabal tak punya pilihan lain, mereka menurut saja pada perintah pria itu yang segera menghilang dari pandangan menuju keluar.

“Apakah dia Aswad?” Tanya Jabal, dia merapatkan punggungnya ke dinding, napasnya masih menderu.

“Semoga saja,” sahut Mutsana.

Tak lama kemudian pria itu kembali, dia terlihat lebih tenang, sepertinya bahaya telah berlalu. Dia menghampiri Mutsana dan Jabal dengan membawa dua gelas air yang menyejukkan.

“Bangunlah, keadaan sudah aman,” kata pria itu sambil menyerahkan gelasnya. “Silakan duduk!”

Dengan segelas air di tangan masing-masing, Mutsana dan Jabal duduk di kursi yang terletak di dapur itu. Setelah membisikkan nama Tuhan, mereka meminum air itu dengan rasa syukur yang berlipat-lipat. Pria itu memerhatikan gerak-gerik Mutsana dan Jabal dengan saksama, terbitlah senyum tipis di wajahnya yang buruk. Sebuah senyuman tulus yang selalu dia perlihatkan ketika dia melayani pelanggannya. Dan bukan cuma itu, tapi juga kepada semua orang.

“Alhamdulillahhh,” Jabal mengembuskan napasnya dengan lega setelah dia meneguk air segelas itu.

“Apakah anda bernama Aswad bin Asadi?” Sepertinya Mutsana sudah tidak sabar, dia langsung mengajukan pertanyaan kepada pria yang ada di hadapannya.

“Akhirnya kalian datang juga, sudah bertahun-tahun aku menunggu kalian. Aku Aswad bin Asadi,” sahut pria itu. Dia kembali tersenyum kepada Mutsana dan Jabal.

Ada sebuah ketenangan dan kesejukan di balik senyum Aswad. Dia melahirkan senyumnya itu dari hati dan imannya. Bahwa seorang muslim mestilah selalu memperlihatkan wajah yang berseri-seri kepada saudaranya, seperti itulah yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam. Dia memang buruk rupa, tapi terpancar ketampanan dari sisi yang lain, dari jiwanya. Dan hal itu hanya bisa terjadi pada orang-orang yang selalu dekat dengan Tuhannya, serta selalu bangun di keheningan malam untuk menyatakan kepada semesta bahwa dia hanyalah hamba bagi Yang Mahapencipta.

“Terimakasih banyak telah menolong kami. Semoga Allah membalas kemuliaan hati anda. Kami amat bersyukur pada akhirnya Allah memertemukan kami dengan anda.”

“Untuk sementara ini keadaan kalian aman, tapi tidak untuk seterusnya, karena prajurit Persia mengadakan razia di mana-mana sebab mereka tahu bahwa kalian belum keluar dari kota.” Kata Aswad.

“Kami mohon bantuan anda, semoga Allah menambah barokah untuk anda,” tambah Mutsana.

“Sebetulnya tadi kami sudah melihat anda, tapi kami ditipu oleh seorang anak kecil yang menunjukkan bahwa Aswad bin Asadi adalah seorang pria bertubuh gemuk,” Jabal berkisah. “Dia langsung saja meneriaki kami sebagai muslim dan terjadilah kekacauan itu.”

“Sepertinya ciri-ciri yang kalian dapat tentang aku hanya pada wajahku, dan tanpa kalian duga, ada satu orang lagi pedagang kain yang wajahnya sejenis dengan wajahku,” Aswad tersenyum simpul sambil meraih kursi untuknya sendiri. “Tidak heran kalau lelaki itu meneriaki kalian sebagai muslim, dia adalah sainganku dalam perdagangan, dan dia sangat membenciku. Namanya Kourosh, dia sudah lama curiga bahwa aku adalah seorang orang Islam. Sebenarnya sebelum dia datang ke pasar ini, tidaklah sulit untuk menemukan aku, saudagar kain yang wajahnya kutilan adalah Aswad bin Asadi, hampir semua orang tahu itu. Ditambah lagi kalian bertanya kepada orang yang salah.”

“Sekali lagi,” kata Mutsana, “Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah menolong kami.”

“Itu sudah kewajibanku. Aku sudah mengetahui kedatangan kalian ketika kudengar kekacauan itu di kejauhan. Ketika orang-orang berteriak sedang mengejar dua orang muslim, aku langsung bergerak. Sebenarnya aku dan timku yang menuntun kalian hingga kalian bisa berada di sini. Jika kalian hendak belok ke tempat yang salah, pasti akan ada anggota timku yang menghalangi jalan kalian agar kalian belok ke jalur yang benar, terus begitu sampai kalian tiba di gang tempat kalian bertemu denganku tadi.”

Mutsana menatap Aswad dengan serius, sementara Jabal melongo. Mereka terpesona dengan semua hal yang dikatakan Aswad.

“Sebenarnya aku kagum sekali dengan pintu rahasia tadi,” kata Jabal sambil mengangkat tangannya. “Aku sempat berpikir bahwa anda bisa terbang, atau bisa menghilang. Sebab jalan itu buntu, tapi anda tak ada di mana pun.”

“Pintu itu cuma salah satu dari pintu rahasia yang telah berhasil kami bangun,” kata Aswad.

“Sepertinya obrolan akan menjadi lebih panjang,” kata Mutsana sambil tersenyum simpul. “Aku rasa anda harus juga menceritakan misi anda kepada kami.”

Aswad menggumam, “Untuk beberapa menit ke depan keadaan masih relatif aman, insya Allah. Jadi kurasa kita bisa berbagi cerita.”

Bersambung,,,,,

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #37

Kisah Khalifah Umar dan Gadis Penjual Susu

Kisah Khalifah Umar dan Gadis Penjual Susu Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.

Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Kalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.

“Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini,” kata anak perempuan itu.

“Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit.

“Benar anakku,” kata ibunya.

“Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak,” harap anaknya.

Hmmm….., sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan,” kata ibunya.

Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.

“Nak,” bisik ibunya seraya mendekat. “Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah.”

Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.

“Tidak, bu!” katanya cepat.

“Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air.” Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.

“Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu,” gerutu ibunya kesal.

Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?”

“Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita,” kata ibunya tetap memaksa.

Kisah Khalifah Umar dan Gadis Penjual Susu

“Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!”

Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya, “tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang.

Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.

“Aku tidak mau melakukan ketidak jujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,”kata anak itu.

Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.

Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.

” Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!” gumam khalifah Umar. Khalifah Umar beranjak meniggalkan gubuk itu.Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.

Keesokan paginya, khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Di ceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.

” Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya, ” kata khalifah Umar. ” Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat.”

Ashim bin Umar menyetujuinya.

Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan di tangkap karena suatu kesalahan.

” Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami….,” sahut ibu tua ketakutan.

Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.

“Bagaimana mungkin?

Tuan adalah seorang putra khalifah , tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku?” tanya seorang ibu dengan perasaan ragu.

” Khalifah adalah orang yang tidak membedakan manusia. Sebab, hanya ketawakalanlah yang meninggikan derajad seseorang disisi Allah,” kata Ashim sambil tersenyum.

” Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur,” kata Khalifah Umar.

Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya.

Bagaimana khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.

” Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian…,” jelas khalifah Umar.

Hasil pernikahan Ashim dan gadis jujur itu melahirkan anak perempuan yang bernama Laila yang lebih di kenal denga sebutan Ummu Asim. Saat dewasa, Ummu Asim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan yang melahirkan seorang pemimpin yang hebat bernama Umar bin Abdul Aziz.

Driser, kejujuran dalam Islam tak sebatas penglihatan manusia. Tapi menembus relung hati yang bermuara pada akidah. Seorang muslim bakal taat bukan karena ada manusia yang lihat. Tapi karena lahir dari keyakinan Allah pasti tahu dan malaikat pasti mencatat. Takut pada Allah tak hanya di lisan, tapi terwujud dalam keseharian. Kelak di dunia akhirat berbuah kebahagiaan. Mau?![341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #37