Majalahdrise.com – Langit biru dan sendu, sang matahari masih malu-malu di sudut situ. Dua ekor unta sedang berjalan menapak padang pasir yang masih dingin di daratan Arabia. Yang menungganginya adalah dua orang agen rahasia Khilafah Islamiyah, Mutsana bin Harits, dan Jabal bin Abdul’uzza. Mereka baru saja keluar dari kota Madinah selepas solat subuh. Khalifah Abu Bakar Shiddiq memerintahkan kepada mereka untuk keluar dari Madinah menuju arah Yamamah. Misi apa lagi yang telah mereka terima?
“Seperti biasa,” kata Mutsana, “Kita sudah keluar dari Madinah, kita harus membuka surat Khalifah.”
“Baiklah,” gumam Jabal.
Mereka dikelilingi oleh gurun pasir yang tandus, yang ketika itu sang gurun pasir masih ramah karena hari masih pagi. Langit sudah cukup terang dan berwarna biru tapi matahari belum keluar dari balik cakrawala. Namun tak perlu menunggu waktu lama, hanya dalam beberapa jam saja, padang pasir itu akan menjadi ganas. Gunung-gunung cadas yang diam membisu tegak di kiri-kanan jalan. Batu-batu dan kerikil menjadi penghias mata, menggantikan rerumputan. Hampir tak ada yang hidup di padang pasir itu, kecuali binatang-binatang dan tumbuhan-tumbuhan yang sudah tercipta untuk hidup di sana.
“Ayo kita menepi,” kata Mutsana.
Dia dan Jabal berbelok sejenak ke tepi jalan, mendekat pada sebuah gunung karang yang tertutup oleh pasir. Ada bagian yang kasar pada permukaan gunung karang itu, sebagian halus karena terkikis angin semenjak waktu yang tidak bisa diduga-duga. Mereka turun dari unta masing-masing dan mengikatkannya ke sebatang pohon kurma kering yang merana di dekat gunung karang itu, mereka mencari tempat yang agak tersembunyi. Kehati-hatian dan kewaspadaan harus selalu ada di setiap langkah mereka.
Setelah duduk bersandar pada batu karang, Mutsana mengeluarkan surat dari Khalifah. Dibukanya amplop pembungkus surat itu, yang bagian tutupnya disegel lilin berwarna merah dengan stempel Khilafah Islamiyah tercetak di atasnya. Stempel itu adalah cincin Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam yang di atasnya terukir lafaz “Allah”, “Rasul”, dan “Muhammad”. Setelah Rasulullah wafat, cincin stempel kenegaraan itu kemudian dipegang oleh Khalifah Abu Bakar Shiddiq.
Sepucuk surat yang lebih kecil melompat keluar, persis seperti misi mereka sebelumnya. Jabal memungut surat itu yang terjatuh di dekatnya dan mengangkatnya di depan dadanya.
“Ada surat kecil lagi,” gumamnya.
Mutsana memerhatikan surat itu dan berdeham. Entah apa maksud dari dehamnya itu. Dia kembali beralih kepada surat yang besar.
“Baiklah, akan kubacakan,” kata Mutsana, sambil memerhatikan surat yang sudah terhampar di hadapannya.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Kepada Saudaraku,
Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza,
Pergilah kalian ke Yamamah dalam waktu dua hari. Temuilah komandan kita, Khalid bin Walid, yang telah selesai betugas memberantas Musailamah al Kadzab, kemudian serahkan surat kecil yang aku lampirkan di surat kalian.
Surat kecil itu amat penting untuk segera berada di tangan Khalid, sebab itulah yang menentukan dimulainya futuhat pertama kita ke Persia. Semoga Allah selalu bersama kalian, insya Allah. Bakarlah surat ini, setelah kalian memahami isinya.
Saudaramu,
Khalifaturasulillah
Abu Bakar
Wassalamuaialaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
“Sepertinya misi kali ini cukup mudah,” kata Jabal, “Hanya mengantarkan surat.”
“Sesuatu yang kelihatan mudah tidak akan menjadi mudah jika Allah berkehendak menyulitkannya, begitu juga sebaliknya,” kata Mutsana. “Intinya, kita hanya bisa bergantung kepada Allah subhanahu wata’ala agar mempermudah misi kita. Memohon kemudahan dariNya adalah hal yang amat penting.”
Mereka menengadahkan tangan ke langit, memohon pertolongan kepada Allah yang kepadaNya bergantung segala sesuatu. Tidaklah makhluk memiliki kuasa apa-apa, kecuali apa yang dikehendaki Allah saja.
“Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, la hawla wala quwwata illabillah,” seru Mutsana, “Semoga Allah memberikan kemudahan serta keselamatan bagi kita semua. Sebab tanpa hal itu kita tidak akan pernah bisa menyelesaikan misi kita. Semoga Allah mengampuni semua kesalahan dan dosa-dosa kita.”
Setelah membakar surat sebagaimana perintah dan mengamankan surat kecil di dalam saku celana, Mutsana dan Jabal melompat ke punggung unta mereka masing-masing, kemudian memacunya selagi hari masih pagi.
Terhamparlah jejak cepat kaki unta di atas butiran-butiran pasir. Angin dingin berembus lagi seiring dengan melatanya ular-ular dan kadal-kadal. Mutsana dan Jabal menggenggam erat tali kekang unta-unta itu untuk mengendalikan pacunya. Mereka sedang berada dalam sebuah misi penting.
Matahari pun terbit dan membuat bayang-bayang menghitam panjang. Dari balik gunung-gunung karang dia muncul dengan gagah dan berwibawa. Seakan-akan dia sajalah yang ditunggu oleh seluruh makhluk selaksa alam. Dia memancarkan energi kepada semesta sejak dahulu kala.
Satu jam telah berlalu sejak Mutsana dan Jabal meninggalkan Madinah. Pelita matahari semakin terik dan mengalirkan bulir-bulir keringat di wajah mereka. Fatamorgana makin mengambang dan apa yang terlihat di depan seolah-olah hanya khayalan. Mereka mengatur kecepatan pacu unta-unta mereka agar mereka bisa selalu bersisian, hingga tiba-tiba mata Mutsana menangkap sebuah bayangan.
Jauh di depan sana, di antara fatamorgana, dia melihat ada seseorang. Hatinya bertanya-tanya apakah yang sedang dia saksikan adalah kenyataan atau khayalan. Dia berteriak kepada Jabal untuk mengalahkan deru angin.
“Ada orang di depan! Kau melihatnya??”
“Aku melihatnya,” seru Jabal. Ternyata dia pun melihat apa yang dilihat Mutsana. “Tapi kita belum tahu apa yang kita lihat itu benar atau tidak.”
Mereka memacu unta-unta mereka agar berlari semakin cepat. Dan semakin dekat mereka dengan apa yang mereka lihat, kian nyata bahwa apa yang mereka lihat bukanlah tipuan fatamorgana.
Majalahdrise.com – S.S. Benyamin Lumy, seorang pakar psikologi mengatakan “Perhatian terbesar dan hadiah terbaik kepada anak bukan dengan memberikan materi, tetapi dengan meluangkan waktu untuk selalu dekat dengan mereka.” Catet tuh!
Andai nasihatnya S.S Benyamin Luly di atas dipake oleh para orang tua, tentu suasana baiti jannati alias rumahku surgaku tak hanya di lisan. Suasana rumah yang nyaman, asyik, seru, dan anti bete hadir dalam setiap keluarga. Pastinya bikin betah dong. Bukan lantaran perabotannya yang serba mewah bin lux, tapi lebih pada perasaan hati para penghuninya. Nyess!
Namun apa jadinya kalo nasihat di atas berubah seratus delapan puluh derajat. Jadilah baiti naari alias rumahku nerakaku. Wadoh! Cilaka dua belas. Bukan kenyamanan dan ketentraman yang kita dapatkan, tapi kegelisahan yang terus menghantui. Diam di rumah serasa di dalam pemandian sauna. Gerah. Baru aja nginjek keset depan pintu, bawaannya pengen balik kanan bubar jalan. Segitunya!
Gara-Gara Broken Home
Bayangin aja, gimana rasanya kalo di dalam rumah setiap hari kita disajikan pementasan orang tua yang cekcok. Adik kakak yang doyan mengumbar emosi. Perhatian orang tua digantikan uang saku dan materi yang berkecukupan. Kasih sayang adik kakak tenggelam dalam teriakan. Dijamin deh, penghuninya terutama remaja ogah berlama-lama tinggal di rumah. Pengennya segera hangout. Kemana aja yang penting cabut dari rumah. Ikut kemana angin berhembus!
Masih mending kalo hembusan angin membawa remaja ke mushola atau tempat pengajian biar selamat dari godaan setan. Lha kalo hembusan angin ternyata malah meninabobokan remaja dalam kesenangan dunia, bisa berabe urusannya. Karena nggak punya pendirian, kecebur dalam got kemaksiatan. Bisa jadi pelaku atau korban. Mulai dari nyicipin narkoba, pelaku kriminal amatiran, hingga pergaulan bebas yang menyesatkan. Tidurnya beralaskan trotoar beratapkan langit ditemani gemuruh halilintar yang menggelegar. Inikah potret remaja broken home?
Remaja broken home beda dengan kaum gepeng alias gelandangan pengem
is yang homeless (tak punya rumah). Gepeng jelas-jelas gak punya rumah permanen, yang ada cuman gubuk derita di kolong jembatan atau bantaran kali. Sementara remaja broken home punya rumah, tap suasananya bikin gak betah. Secara fisik, penampilannya keliatan rapi. Namun secara psikis, cacat. Kurang perhatian dan kasih sayang. Walhasil, tak sedikit remaja broken home yang terhanyut dalam kasus kriminal sebagai pelarian. Hati-hati!
Di Kabupaten Tulungagung, kasus pencabulan terus mengalami peningkatan. Mulai Januari – Mei 2014 mencapai 11 kasus. Sialnya, mayoritas korban pencabulan merupakan anak dibawah umur dan masih berstatus pelajar. Mereka umumnya berasal dari keluarga yang berantakan atau broken home. (memokediri.com, 5 Juni 2014)
Sementara di Kota Serambi Mekkah, Wakil Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan pergaulan bebas kalangan remaja di daerahnya kini memprihatinkankarena juga melibatkan kalangan pelajar. Illiza mengatakan, pihaknya mendapatkan sumber langsung dari sosok pelajar yang pernah terlibat dalam seks bebas. Remaja atau pelajar yang terlibat dalam seks bebas itu dari keluarga “broken home” dan berasal dari luar Banda Aceh.(Waspada.co.id, 22/03/2013)
Kejadian yang menimpa pemudi asal Kota Salatiga yakni RDA (27) dapat menjadi pelajaran bagi para orang tua. Akibat perceraian kedua orang tuanya, membuat RDA kehilangan pegangan dan akhirnya memutuskan menjadi kurir narkoba.“Saya dari keluarga broken home dan sudah dua bulan menjadi pengedar,” imbuh RDA saat dimintai keterangan, Senin (11/8).(Suaramerdeka.com, 12/08/2014)
Sebut saja namanya Saras (16), siswi SMA swasta di Surabaya yang terjerumus pelacuran. Tanpa bimbingan langsung dari orang tua (broken home), pergaulan Sarah tak terkontrol. Mulailah dia berkenalan dengan rokok, minuman keras, bahkan obat-obatan terlarang. Nggak ketinggalan, pergaulan bebas.
Kisah Angel (bukan nama sebenarnya) tak kalah mengejutkan. Dia mengaku mengenal narkoba sejak kelas IV SD.Segala polemik hidup perempuan yang sekarang duduk di bangku SMA kelas X inisejatinya berawal dari lingkungan keluarga yang sangat tidak kondusif (keluarga broken home).
KisahSaras dan Angel di atas bukan fiksi atau penggalan sinetron, melainkan nyata, ada di tengah-tengah kita. Mereka adalah anak-anak korban trafficking yang sedang ditangani oleh Yayasan Hot Line Surabaya dan Yayasan Hot Line Pendidikan Jawa Timur (Jawa Pos, 11/2/2012).
Ada Apa dengan Broken Home?
Istilah Broken home identik dengan kehidupan keluarga yang berantakan. Minim belaian kasih sayang dan perhatian orang tua kepada anak. Yang ada, cuman pertengkaran dan keributan yang bikin tetangga nggak nyaman. Ust. Iwan Januar, spesialis islamic parenting bilang, “Broken home itu remaja yang gagal mendapatkan perhatian, pendidikan dan kasih sayang di rumah. Ini bisa menimpa remaja mana saja, bukan Cuma remaja yang orang tuanya bercerai, tapi remaja yang kedua atau salah satu orang tuanya tidak memberikan tiga faktor itu pada anak-anaknya”.
Kondisi broken home sering memaksa remaja untuk cabut dari rumah. Cari tempat lain yang bisa bikin dirinya nyaman. Entah itu kehidupan jalanan atau ngumpul bareng dengan kawan sepermainan. Padahal, usia remaja paling rentan dengan pengaruh negatif lingkungan. Disinilah pentingnya peran keluarga sebagai pembentuk karakter anak yang akan menjaga masa depannya. Karena idealnya, di rumah remaja bisa mendapatkan gemblengan kedisplinan, kasih sayang dan kemandirian dari kedua orang tua.Lah kalo remaja ngerasa nggak dapat apa-apa dalam orangtuanya, bisa fatal akibatnya.
Sebuah penelitian yang dilakukan di University of California, Los Angeles setelah mempelajari masalah dalam (kurang lebih) 2000 keluarga. Hasilnya, membuktikan bahwa anak kerap menjadi korban dalam pertikaian rumah tangga.Efek pertikaian ini, biasanya akan membuat si anak cenderung melakukan hal-hal negatif diluar kebiasaannya. Ketidakstabilan emosiyang disebabkan, akan membuat si anak mencoba menggunakan obat-obatan terlarang, mengonsumsi alkohol hingga melakukan seks bebas.
Seorang anak yang terus-menerus melihat pertengkaran orangtuanya, bisa menderita kelainan secara psikis dan gangguan perilaku, saat berhubungan dengan orang lain.Profesor Kelly Musick, sekaligus penulis buku “Are Both Parents Always Better than One? Parental Conflict and Young Adult Well-Being”, mengungkap bahwa seorang anakyang terlahir dan besar dalam keluarga penuh konflik, cenderung menjadi bodoh secara akademis, dan tak sedikit juga yang akhirnya putus sekolah. Ironisnya, dalam usia belia, mereka sudah mencoba untuk merokok, minum alkohol dan melakukan penyimpangan secara seksual.
Seperti apa masalah yang bakal dihadapi oleh remaja korban keluarga broken home, berikut diantaranya:
Psychological disorder (Gangguan Psikologis).
Nggak bisa ditutupi kalo remaja broken home bakal mengalami gangguan secara psikologis. Meskipun kebutuhan secara fisik terpenuhi dengan baikatau malah berlebihan, namun perkembangan jiwa anak kurang baik saat kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi. Remaja broken home memiliki kecenderungan agresif, introvert, menolak untuk berkomitmen, labil, tempramen, emosional, sensitif, apatis, dan lain-lain. Bawaannya sewot mulu. Hati-hati ah!
Academic problem (masalah akademik).
Dorongan untuk berprestasi terbesar bagi remaja adalah keluarga. Itu kalo keluarganya nyaman kaya keluarga cemara. Nah ceritanya lain kalo ternyata fungsi keluarga sebagai tempat bernaung berantakan. Remaja broken home akan cenderung menjadi pemalas dan memiliki motivasi berprestasi yang rendah. Seperti hasil sebuah penelitian yang dilakukan oleh Aji Baroto terhadap buku pribadi siswa dan penyebaran angket untuk mengungkap motivasi belajar siswa. Kesimpulannya, motivasi belajar siswa dari keluarga broken home lebih rendah daripada motivasi belajar siswa dari keluarga utuh. Catet tuh!
Behavioral problem (perilaku menyimpang).
Remaja broken home biasanya kurang dapet perhatian dan kasih sayang dari orangtua. Akibatnya, doi punya self esteem dan self confident rendah, konsep dirinya pun negatif. Begitu di luar (rumah), anak semacam over kompensasi alias lebay bombay, mencari pengakuan dan penghargaan diri dari lingkungan sekitarnya. Sehingga doi punya kecenderungan untuk melakukan perilaku-perilaku menyimpang seperti bullying, memberontak, bersikap apatis terhadap lingkungan, bersikap destruktif terhadap diri dan lingkungannya. Dia tunjukkin kekecewaannya dengan mulai merokok, minum minuman keras, judi, hingga free sex(seks bebas). Mereka ngelakuin nakal tersebut tanpa pernah tahu apa yang baik dan yang buruk. Persis seperti seorang anak kecil yang menangis dan butuh pelukan ibunya, tapi dia tidak mendapatkannya, rungsing bin rewel jadinya. Makanya remaja broken home bakal ngasih apresiasi kepada siapapun yang mau ‘memeluknya’, dan sialnya wujud si ibu itu didaulatkan pada ‘narkoba’ dan ’seks bebas’. Ngeri cuy!
Keluarga ‘Broken Home’ Produk Kehidupan Sekuler
Keluarga broken home bisa disebabkan banyak hal. Salah satunya akibat perceraian yang dialami orang tua yang menggerus kasih sayang dan perhatian pada anak. Seperti yang menimpa banyak keluargadi negeri kita.
Angka perceraian di Indonesia terbilang sangat tinggi, bahkan saat ini telah mencapai rekor tertinggi di Asia Pasifik. Berdasarkan data tahun 2010 dari Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, dari 2 juta orang nikah setiap tahun se-Indonesia, ada 285.184 perkara yang berakhir dengan perceraian pertahun.
Data yang dilansir Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung (MA) menyebutkan, dari 285.184 perkara perceraian, sebanyak 67.891 kasus karena masalah ekonomi.Tingginya beban hidup apalagi pasca kenaikan BBM yang zhalim untuk kesekian kalinya, bikin emosi juga ikut naik. Suami istri gampang terpancing pertengkaran perkara keuangan. Dari mulai uang belanja yang makin menggila hingga kebutuhan sekolah anak yang mendesak. Penghasilan pas-pasan sementara kebutuhan terus merangkak naik tak kenal kasihan. Kalo istri ikut mencari nafkah, perhatian dan kasih sayang untuk anak terlalaikan. Anak-anak yang jadi korban.
Di urutan kedua, pemicu perceraian adalah perselingkuhan sebanyak 20.199 kasus. Di era digital saat ini, gampang sekali orang selingkuh dua lingkuh. Lantaran batas pergaulan laki dan perempuan udah bias. Bahkan cenderung bebas. Ditambah lagi, cara berpakaian kaum hawa yang sering mengundang jakun pria naik turun. Setan pun teriak kegirangan. Terus ngomporin biar terjadi perselingkuhan. Ujung –ujungnya, gugat cerai diajukan. Lagi-lagi anak yang jadi korban.
Kondisi rumah tangga yang nggak harmonis sangat mungkin terjadi di tengah kehidupan sekuler kaya sekarang ini. Gaya hidup hedonis yang memuja syahwat kerap menyapa pria dan wanita. Gak lagi ngeliat sudah berkeluarga atau masih jomblo. Kalo nafsu sudah di ubun-ubun, segala cara dijabanin. Udah lupa dengan statusnya sebagai kepala rumah tangga.
Aturan sekuler kapitalis yang diterapkan negara untuk ngatur rakyatnya, secara tidak langsung membidani lahirnya keluarga broken home. Kebijakan pemerintah yang mencabut subsidi seperti BBM merembet pada kenaikan harga kebutuhan pokok. Kondisi ini memaksa istri untuk ikut banting tulang mencari nafkah. Bukan demi mengejar karir atau melepaskan ketergantungan pada suami. Tapi lebih karena tuntutan ekonomi. Kasih sayang dan perhatian untuk anak pun terpangkas. Phew!
Don’t Break Your Future!
Broken home bisa menimpa siapa aja. Mungkin dengan tingkatan yang berbeda-beda. Yang parah, harus terima kenyataan kalo orangtunya berpisah. Yang mendingan, mungkin keharmonisan keluarga masih bisa diselamatkan. Kalo diantara kita ada yang ngalamin, keep cool, calm and confident. Tetap tenang dan yakin kalo Allah sedang ngasih ujian. Jangan sampai kita jadi korban atau memperparah keadaan. Hadapi dan cari solusi. Itu baru remaja muslim sejati.
Agar kita siap hadapi keadaan yang terburuk di keluarga kita, berikut beberapa tipsnya. Cekidot!
1) Jaga hati. Remaja broken home biasanya sedih bin kecewa dengan keluarga tercintanya yang berantakan. Akibatnya, dia ngerasa sendiri di tengah keramaian. Tak ada lagi orang yang mencintainya. Tak ada harapan untuk jalanin hidup ke depannya. Akibatnya bisa dengan mudah tergoda setan untuk lari dari kenyataan dan terjerumus dalam jurang kemaksiatan.Tenang bro!
Ingat, Allah selalu bersama kita. Dalam situasi apapun, mengingat Allah akan membuat kita lebih tenang.Ambil wudhu, shalat sunnah dua rakaat lalu berdoa Agar Allah tunjukkan jalan keluar terbaik buat keluarga kita.
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).
Kalo udah tenang, segera temui orang sholeh. Sahabat dekat atau ustadz yang bisa dimintai nasihat. Agar ketemu solusi demi menjaga diri dan keluarga bisa kembali harmonis.
2) Jaga hubungan. Remaja broken home ngerasa nggak ada yang perlu dihargai dan dapat dipercaya dalam hidupnya. Karena orang tua yang katanya sayang sama anak, malah bikin suasana rumah nggak enak. Kekecewaan bisa bikin remaja anti sosial. Nggak peduli terhadap orang lain.
Don’t worried be happy. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Termasuk juga orang tua. Kalo kita sayang sama mereka, bukan membencinya. Justru mendekati, ngobrol dari hati ke hati dan cari solusi. Biar masalah yang dihadapi, bisa segera diatasi.
Kita masih punya masa depan yang patut kita perjuangkan. Dan itu perlu dukungan banyak pihak untuk meraihnya. Jangan sampe gara-gara broken home kita merusak hubungan dengan orang-orang terdekat. Padahal mereka itulah yang bakal membantu wujudkan impian mulia kita. So, tetap jaga hubungan dengan sahabat atau kerabat agar kita tetap kuat meski berada dalam situasi yang gawat.
3) Jaga iman. Remaja broken home mudah terbawa emosi dan terkadang mikirnya cetek. Yang ada dikepalanya cuman kesenangan sesaat untuk melupakan masalahnya. Nggak peduli dengan orang lain dan masa depannya. Udah siap-siap aja jadi pengikut setan. Hush!
Setan itu paling pinter memalingkan kita dari cara berpikir jernih kalo lagi galau. Makanya kita mesti getolin ibadah dan berdoa biar tahan godaan setan. Dalam hal ini Rasulullah saw mengajarkan kepada kita doanya,”Allahumma inni audzubika minal ajzi wal kasal wal jubni wal haromi wa audzubika min fitnatil mahya wal mamat wa audzubika min adzabil qobri, artinya; “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat penakut dan kerentaan. Aku berlindung kepada-mu dari fitnah kehidupan dan kematian dan aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.” (HR. Bukhori)
4) Jaga kegiatan. Remaja broken home gampang aja ngikutin kegiatan yang melenakan. Awalnya sih cuman sekedar melepas stress alias biar pikiran relaks. Tapi endingnya suka kebablasan. Malah jadi kebiasaan dan melalaikan kewajiban.
Biar nggak terlena, harus ada yang mengingatkan. Bergaul dengan teman-teman yang soleh bisa jadi pilihan. Mereka yang akan menjaga diri kita dari melalaikan kewajiban. Sabda Rasulullah saw,”Seseorang itu tergantung dari (kualitas) agama kawan karibnya maka seseorang diantara kamu melihat siapa yang menjadi kawan karibnya.” (HR. Abu Daud)
Tak lupa, jadikan pengajian sebagai kegiatan yang diutamakan selain kegiatan lain yang bisa mengasah kemampuan. Dalam pengajian, kita akan mendapatkan pencerahan, solusi atas permasalahan, dan petunjuk untuk menyelesaikan. Sehingga kita nyadar kalo keluarga broken home itu akibat dari rusaknya lingkungan sekitar kita. Gaya hidup sekuler telah menjadikan para orang tua menjadi Ayah dan Ibu ‘sampingan’. Rumah hanya sekedar persinggahan setelah beraktifitas seharian. Komunikasi dengan buah hati sekedar formalitas biar keliatan ada perhatian. Padahal yang dibutuhkan oleh anak adalah kehadiran mereka sebagai sahabat. Tempat berbagi suka dan duka.
So, don’t break your future walau kita dianggap remaja broken home. Buang saja label ‘remaja broken home’ ke tempat sampah terdekat. Tanamkan pada diri, gimanapun keadaan keluarga, tetap harus dicintai bukan dijauhi. Kabur dari rumah hanya menambah masalah. Kita adalah remaja perindu surga. Dan selama di dunia, baiti jannati. Rumahku surgaku. #YukNgaji dan Tetap semangat! [@Hafidz341]
Majalahdrise.com – Dalam pelajaran matematika, pasti kita udah nggak asing lagi dengan huruf ‘X’. Gimana nggak, huruf yang satu ini paling sering banyak dipake untuk bilangan persamaan. Biasanya diduetkan dengan ‘Y’. Sehingga keluar soal jika X + Y = 5 dan Y = 3, Berapakah X? Nah, kita nggak akan bahasa sola matematikan ini. Tapi sebuah catatan penting yang mesti kita tahu terkait huruf X ini. Lantaran selama ratusan tahun, x telah menjadi simbol untuk nilai yang nggak diketahui dalam persamaan matematika. Siapa yang memulai praktik ini?
Aljabar lahir di Timur Tengah, selama zaman keemasan peradaban Islam di abad pertengahan (750-1258 M). Asal mulanya istilah ini nongol ke dunia dapat dilihat dalam karya Muhammad Al-Khwarizmi dan buku abad ke-9 nya, Kitab al-jabr Wal muqabala (al-jabr kemudian berubah menjadi algebra dalam bahasa Inggris). Selama masa kejayaan ini, aturan dan budaya Muslim telah meluas hingga ke Semenanjung Iberia, di mana orang Arab mendorong berkembangnya ilmu dan matematika.
Dalam presentasi TED* Talk baru-baru ini, direktur The Radius Foundation, Terry Moore, mengemukakan bahwa penggunaan simbol “x” dengan cara ini dimulai karena ketidakmampuan ilmuwan Spanyol untuk menerjemahkan suara tertentu dalam bahasa Arab suara, termasuk ش (atau shin). Menurut Moore kata untuk “hal yang tidak diketahui” dalam bahasa Arab adalah al-Shalan, dan itu muncul muncul berkali-kali dalam karya matematika awal.
Tapi karena ilmuwan Spanyol tidak memiliki suara yang sesuai untuk “sh,” mereka menggantikannya dengan suara “ck”, yang dalam bahasa Yunani klasik ditulis dengan simbol chi, X. Moore berteori, seperti yang dilakukan banyak orang lain sebelumnya, bahwa ketika kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, chi (X) digantikan dengan yang huruf latin yang lebih umum, yakni x.
Webster Dictionary edisi 1909-1916, antara lain, juga mengajukan suatu teori yang sama, meskipun menyatakan bahwa kata Arab untuk “hal,” tunggal “Shin” diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani “Xei,” dan kemudian disingkat menjadi x . Dr Ali Khounsary juga mencatat bahwa kata Yunani untuk hal yang tidak diketahui, xenos, juga dimulai dengan x, dan konvensi ini bisa lahir dari singkatan. Tapi di sini, sekali lagi, memang tidak ada bukti yang terdokumentasi langsung untuk mendukung teori-teori ini.
Sama seperti halnya angka ‘0’. Kelahiran simbol ‘X’ dalam persamaan matematika dibidani oleh ketinggian peradaban Islam di masa kejayaannya. Al-khawarizmi, sosok ilmuwan Islam ini yang paling berpengaruh dalam ilmu pengetahuan matematika. Sehingga melahirkan cabang ilmu aljabar yang berasal dari masterpiecenya, “Al-Kitab aj-jabr wa al-Muqabala” (yang berarti “The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing”).
Dulu, sebelum Al-Khawarizmi memperkenalkan angka nol, para ilmuwan menggunakan semacam daftar yang membedakan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterus nya. Daftar yang dikenal sebagai abakus itu berfungsi menjaga setiap angka dalam bilangan agar tidak saling tertukar dari tempat atau posisi mereka dalam hitungan.
Sistem tersebut berlaku hingga abad ke-12 M, ketika para ilmuwan Barat mulai memilih menggunakan raqm al-binji (angka Arab) dalam sistem bilangan mereka. Raqm albinji menggunakan angka “nol” yang diadopsi dari angka India, meng hadir kan sistem penomoran desimal yang belum pernah digunakan sebelumnya.
Nah, lewat buku pertamanya, Al- Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wa al- Muqabalah (Ringkasan Perhitungan Aljabar dan Perbandingan), Al-Kha warizmi memperkenalkan ang ka nol yang dalam bahasa Arab yang disebut shifr. Karya monumental itu juga membahas solusi sistematik dari linear dan notasi kuadrat.
Driser, kalo saja bulan bisa ngomong, eh angka Nol dan huruf X bisa ngobrol, mungkin mereka bakal ngasih tahu betapa berjasanya para ilmuwan Islam bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Ini merupakan salah satu hasil dari dukungan negara terhadap dasar-dasar ilmu pengetahuan yang berkembang pesat pada zaman Kekhalifahan Islam. Lantaran Islam sebagai aturan hidup, mengharuskan para ilmuwan berkontribusi untuk kebaikan manusia di akhirat. Sehingga negara nggak pake acara cabut subsidi dalam mensupport sistem pendidikan Islam yang melahirkan para ilmuwan jempolan. Mau? [@Hafidz341]
* TED merupakan singkatan dari Technology, Entertainment, Design. TED adalah sebuah organisasi non profit yang mengumpulkan para tokoh inspiratif dari berbagai bidang untuk tampil memberikan presentasi dalam sebuah konferensi.
MAJALAHDRISE.COM – ‘Anggota keluarga’ yang satu ini sangat disayangi anak dan orang tua. Di setiap rumah, kehadirannya menguatkan sinyal tanda-tanda kehidupan. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, dia setia menemani. Tak heran kalo ayah, ibu, adik, kakak, nenek, kakek, hingga paman dan bibi bisa berantem gara-gara pengen selalu dekat dengan si dia. Tahu dong siapa dia?
Yup, dialah si kotak ajaib televisi (tv). Media telekomunikasi yang pertama kali dibuat oleh John Logie Baird tahun 1923 ini udah jadi perlengkapan wajib di setiap tempat hunian. Kayanya hidup garing bin kering kerontang tanpa kehadiran tv di ruang tengah atau dalam kamar. Berdasarkan survei yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Penyelenggaraan Pos dan Informatika pada tahun 2011, hasil survei menunjukkan kepemilikan tv di sektor rumah tangga yang mencapai 95.56%.
Beragam hiburan dan informasi yang disajikan bikin betah anggota keluarga duduk berlama-lama di depan tv. Hasil riset Nielsen tentang pengukuran pemirsa TV 2012, menunjukkan bahwa sampai saat ini, konsumsi media tv masih memimpin total konsumsi media, yaitu sebesar 94 persen dari total populasi media konvensional di Tanah Air. Dalam sehari, pemirsa bisa menghabiskan sekitar 4,5 jam duduk di depan TV atau 31,5 jam/minggu atau 945 jam/bulan.(Mix.co.id, 06/03/13). Ups, tepos-tepos dah tuh….!
Plus Minus Tayangan Televisi
Sebagai media telekomunikasi yang memadukan suara (audio) dan gambar (visual), televisi paling banyak diminati. Tiada hari tanpa tv. Sajian hiburan berupa sinetron, film layar lebar, reality show hingga acara musik menjadi andalan pemirsa untuk mengusir penat, nemenin ibu-ibu ngegosok pakaian, atau sahabat mereka yang nggak ada kerjaan. Update informasi dunia olahraga, politik, selebriti, hingga ekonomi terus menghiasi layar kaca. Penonton jadi banyak tahu kondisi dalam negeri atau perkembangan teknologi. Biar nggak dianggap kuper kalo lagi ngobrol sana-sini.
Sayangnya, tayangan televisi nggak semuanya mendidik. Perlahan namun pasti, unsur edukasi yang seharusnya jadi bagian yang terpisahkan dari tayangan tv mulai meredup. Pemirsa lebih banyak disodorkan acara hiburan dengan segudang iklan di dalamnya. Dari mulai sinetron kacangan hingga film kartun yang kental dengan adegan kekerasan seperti serial Tom and Jerry atau khrisna yang mengisi jam tayang utama. Anak-anak belum bisa memisahkan antara adegan di layar kaca dan kejadian di dunia nyata. Sehingga menganggap apa yang ditontonnya dari atraksi hiburan smakcdown hal yang biasa dan bisa dilakukan siapa saja. Awalnya hanya tontonan, karena sering dilihat jadi tuntunan. Akhirnya, anak pun jadi pelaku dan korban kekerasan. Waduh!
Sudah banyak kasus yang menunjukkan dampak tayangan televisi kepada anak. Baik dampak secara fisik, psikis maupun perilaku. Salah satunya menimpa Heri Setiawan (12) yang diduga tewas karena keingintahuannya mempraktikkan trik sulap dari Limbad, tokoh favoritnya di televisi. Bocah itu ditemukan tewas tergantung di ranjang tingkat. Pengakuan keluarga, ia tidak pernah melewatkan acara sulap dan selalu menirukan atraksi sulap. (Kompas.com, 16/12/2009)
Ada juga tragedi tewasnya Renggo Khadafi (11), siswa kelas lima SDN Makasar 09, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Korban tewas setelah sebelumnya diduga dianiaya kakak kelasnya, SY (12) pada Senin (28/4/2014). Dan baru-baru ini, wajah pendidikan ibu pertiwi kembali tercoreng oleh video kekerasan siswa SD terhadap temannya di Sumatra Barat 18 September 2014 lalu. Tim pemeriksa kondisi psikologis korban dan pelaku kekerasan di Sekolah Dasar (SD) Trisula Perwari Bukittinggi, Sumatera Barat, mengatakan para siswa pelaku penganiayaan terhadap rekan mereka bersikap brutal karena terpengaruh tayangan televisi.Inilah dampak buruk tayangan televisi bagi anak-anak. Masihkah kita merasa aman ‘menitipkan’ anak-anak pada tayangan tv biar nggak nangis? Atau membiarkan adik tersayang hanyut dalam cerita fim kartun dan sinetron yang dipenuhi adegan kekerasan? Hati-hati ah!
Bahaya Dibalik Layar Kaca
Para produsen nggak sembarangan membelanjakan iklan durasi minimal 15 detik pada sebuah tayangan. Mereka mesti lihat dulu, sepopuler apa acara buat nayangin iklannya. Disinilah peran rating tayangan tivi berbicara. Rating dijadikan indikator untuk mengukur popularitas acara tivi. Kalo ratingnya tinggi, berarti penontonya banyak. Acara model gini yang dicari oleh para produsen untuk pasang iklannya. Pemasukan dari iklan ini yang jadi ladang uang bagi para pengelola tv.
Buntutnya, pengelola televisi menuntut rumah produksi untuk bikin acara tv yang layak tayang. Syaratnya cuma satu: banyak diminati dan memiliki rating tinggi meski minim atau kagak ada unsur edukasi. Rumah produksi pun berlomba-lomba melakukan investigasi di lapangan. Nyari penampakan yang unik sekaligus menggelitik di lingkungan pemirsa tv. Duplikasi film sana-sini untuk bikin sinetron kejar tayang. Dengan dalih merespon keinginan pemirsa, mereka pun sekenanya bikin acara.Nggak peduli lagi ama kualitas acara yang disiarkan. Biar miskin unsur pendidikan, yang penting…rating man… ratiiing! Ciloko!
Walhasil, makin hari tayangan tv sarat dengan iklanyang bikin bete. Belum lagi nilai-nilai sekuler dan budaya barat yang dengan bebas dijajakan dalam setiap tayangan. Berikut beberapa bahaya dibalik layar tv yang wajib diwaspadai.
Mengancam Akidah
Belakangan, film produksi bollywood kembali marak tayang di layar kaca. Dari film kartun Bima Sakti, Serial Krisna, hingga Mahabrata banyak yang setia menanti jam tayangnya. Padahal film-film India itu sarat dengan muatan kepercayaan terhadap dewa yang menyalahi hukum syara. Bagi seorang muslim, tentu gak ada pantasnya melototin itu sinetron apalagi sampe terhanyut dalam rangkaian ceritanya. Allah swt ngingetin kita, “. . .Maka jauhilah penyembahan berhala yang najis itu dan jauhilah pula qaula az-zur.” (QS al-Hajj: 30)
Para ulama menyebutkan bahwa makna “qaul az-zur” adalah semua ungkapan-ungkapan yang diharamkan termasuk pula ungkapan dusta. Para ulama juga menjadikan tontonan terhadap “qaul az-Zur” adalah hal yang haram.Lihatlah Allah menggandengkan larangan terhadap “qaul az-zur” dengan larangan menjauhi sesembahan dan berhala. Anehnya, justru sebagian kaum muslimin menjadikan kisah Mahabarata dan sejenisnya yang lebih dari “qaul az-zur” sebagai hiasan mata dan telinga di depan layar kaca. Catet!
Mendorong pergaulan bebas
Selain kekerasan, unsuk pornografi dan daya tarik seksual menjadi menu utama dalam sinetron remaja. Dilansir sebuah media nasional, Republika (Ahad 9 maret 2008), bahwa hasil riset 67 peneliti dari 18 perguruan tinggi di Indonesia menemukan fakta bahwa berjubelnya adegan-adegan seks dalam tayangan sinetron remaja. Menurut mereka peneliti tersebut sebagian besar berpusat pada adegan hubungan seks (57%). Adegan tersebut memang tidak secara langsung memperlihatkan hubungan seks, namun shots pembukanya sudah mengasosiasikan bahwa hubungan tersebut akan terjadi. Jenis adegan seks lainnya adalah ciuman (18%) pemerkosaan (12%) dan kata-kata cabul (10%). Ditemukan pula adegan telanjang (2%) dan seks menyimpang (1%). Porsinya memang kecil, namun fakta bahwa adegan semacam ini muncul secara bebas di layar kaca adalah fenomena yang perlu dicermati.
Pembiasaan remaja yang dicekoki gaya hidup bebas dan pornografi terselubung pada tayangan sinetron membentuk perilaku permisif alias serba boleh. Ngerasa cuek aja gaul bebas dengan lawan jenis dan berbusana yang mengumbar aurat. Boro-boro inget dosa saat dibukaan pintu maksiat oleh pujaan hati dengan pdkt. Pacaran menjadi hal yang lumrah bahkan wajib. Lanjut ke ekspresi cinta dari sekedar jalan berduaan, pegangan tangan, berpelukan, ciuman, hingga perzinaan. Ngeri!
Menyuburkan tindakan kekerasan
Melalui tayangan sinetron yang biasa mempertontonkan adegan bullying, remaja diperkenalkan dengan budaya saling menindas dan menjadikan kekerasan sebagai solusi. Kalo benci sama teman sekolah, solusinya dengan kekerasan verbal berupa caci maki dan umpatan. Atau malah tindakan fisik. Meski cuman skenario, tapi dibenak penonton itu terlihat nyata dan terus diulang dalam setiap sinetron remaja. Otak remaja menjadi tumpul dalam mencari solusi untuk masalah yang dihadapi. Karena yang ada dibenaknya, cuman berantem, bully, atau malah lari. Cupu!
Massifnya tayangan film layar kaca yang mempertontonkan kekerasan secara kasat mata, berakibat fatal. Masyarakat pun akhirnya menjadikan kekerasan sebagai hiburan. Sama seperti di AS. Tahun 1999 keluarlah buku berjudul Mayhem: Violence As Public Entertainment yang meneliti dampak jangka panjang tayangan kekerasan kepada pemirsa. Muncullah ‘monster-monster’ kecil berupa pelajar yang melakukan penembakan terhadap kawan-kawannya dan guru-gurunya di sekolah.Seperti pernah terjadi di di Kota Newton, Negara Bagian Connecticut di Sekolah Dasar Sandy Hook yang menewaskan 28 orang, termasuk 14 anak SD. Tragedi ini terjadi pada 14 Desember 2012.Ngeri!
Mendongkrak budaya konsumtif
Gencarnya tayangan iklan yang kerap menyapa di jam tayang utama bikin sinyal sophaholic remaja kian menguat. Mulai dari obat anti jerawat hingga gadget terbaru dan pulsa paket hemat. Godaan iklan menampilkan idola remaja dan model yang penampakannya oke punya. Walhasil, remaja kian sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Udah punya smartphone yang masih berfungsi baik, ngerasa ketinggalan jaman kalo nggak pake smartphone terbaru yang bisa jofie alias joget selfie.
Padahal jelas banget perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan sifatnya terbatas. Sementara keinginan nggak kenal rasa puas. Makin dimanja, makin menggila. Rasa inilah yang dibidik produsen dengan balutan aksesoris trendy bin gaul. Beli barang bukan karena butuh, tapi demi gengsi. Bukan karena manfaat, tapi potongan harga yang memikat. Nggak peduli dengan isi, yang penting kemasannya menarik hati. Remaja pun terhanyut dalam gaya hidup gila belanja alias sophaholic. Kondisi ini didukung dengan kemudahan akses belanja secara online. Ini terungkap dari survei yang dilakukan oleh perusahaan penyedia teknologi pembayaran global, Visa.Sekitar 76 persen dari pengguna internet di Indonesia berusia 18 sampai 30 tahun belanja online dengan jumlah belanjaan rata-rata Rp 5,5 juta per tahun.(tribunnews.com, 01/28/2014)
Mendewakan gaya hidup hedonis
Kehidupan mewah bin glamour artis yang setiap hari mengisi layar kaca, menebarkan virus hedonisme di kalangan remaja. Gaya hidup hedonis nan glamour yang mengejar kesenangan duniawi kerap dipertontonkan dengan provokatif oleh selebritis. Lihat saja pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina yang merampok hak siar publik selama 2 hari tayang di televisi. Biaya yang dikeluarkan untuk pernikahan glamour ini sekitar 10,3 Miliar (http://celebrity.okezone.com, 17/10/2014). Belum lagi biaya hidup artis lainnya yang setali tiga uang. Syahrini yang selalu bikin trendsetter merogoh kocek Rp. 1 Miliar untuk kebutuhan panggungnya. Ada juga Krisdayanti di era kejayaannya, rela ngeluarin duit Rp. 100 juta untuk perawatan giginya biar rata dan bersinar.
Nggak masalah, kalo gaya hidup mewah selebriti dinikmati sendiri. Sialnya, justru jadi incaran berita para juri pena. Tiap hari remaja disuapin indahnya hidup mewah ala artis. Walhasil, tayangan kehidupan glamour artis bikin penonton remaja tak kuasa menahan keinginannya untuk bisa mencicipi hidup mewah. Caranya, ada yang ikut ajang pencarian bakat atau menghalalkan segala cara demi meraih popularitas. Miris!
Makanya kita mesti bisa kendalikan diri dan waktu biar nggak abis melotototin tv. Walau hukum nonton tv itu mubah, tetep harus dijaga jangan sampai jadi masalah. Kalo ternyata acara tv bikin kita terlena atau malah menjerumuskan, pilihan terbaik adalah dengan mematikan atau meninggalkannya.
Dari Abu Hurairah ra dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya . (Hadits Hasan riwayat Turmuzi dan lainnya) [Tirmidzi no. 2318, Ibnu Majah no. 3976]
Musuhi Televisi Aja Yuk!
Tenang…tenang…nggak usah pake nyolot gitu. Sebenarnya bukan tv-nya yang jadi musuh, tapi acara-acaranya yang makin amburadul. Dari berita kriminal yang belepotan darah, informasi seputar seks yang diumbar, hingga penampakan makhluk gaib, semua deh ada di situ. Termasuk sinetron remaja yang mengumbar gaul bebas dan kekerasan. Kudu dihentikan!
Yang paling bahaya dari televisi adalah pengkondisian untuk membenarkan sesuatu yang salah atau nggak wajar. Dalam ilmu komunikasi, kesalahan bisa menjadi maklum jika diopinikan terus-menerus sebagai sesuatu yang benar dan wajar. Dan televisilah ujung tombak untuk pengopinian itu. Seperti kampanye gaul bebas remaja dan aksi bulying pada teman sebaya. Anak dan remaja jadi terbiasa meniru apa yang dilihatnya di layar kaca. Bermesraan di sekolah, tonjok-tonjokan, menghina guru, pelecehan seksual sampe tindakan kriminal. Karena bentuk penerimaan seperti itulah yang sampe kepada mereka melalui sinetron GGS, Manusia Harimau, atau Cakep-Cakep Sakti. Waduh!
Upaya protes terhadap tayangan televisi yang cuma ngejar rating udah sering dilontarkan. Sampe-sampe Komisi Penyiaran Indonesia berulang kali mengeluarkan rekomendasi tayangan yang tak layak tonton. Tapi tetep aja, tuh acara nongol bebas. Protes masyarakat dan teguran dari KPI seolah tak digubris pihak pengelola televisi. Kalo rating acaranya tinggi, gimana caranya the show must go on. Kalo perlu, ganti judul. Stop sebentar terus tayang lagi. Ibarat pepatah, anjing mengonggong, Pak Bolot tetep berlalu. Gubrak!
Untuk beresin masalah tayangan televisi, kita mesti lebih jeli. Karena yang terlibat dalam masalah acara tv ini nggak cuma pengelola tv, rumah produksi, atau rating yang tinggi. Tapi juga melibatkan pemerintah sebagai instansi negara tertinggi. Makanya ada dua jalan keluar yang bisa kita tempuh.
Pertama, secara praktis kita kudu meminta pemerintah untuk memproduksi atau memilih tayangan cerdas berkualitas. Penuh unsur pendidikan tanpa harus kehilangan sentuhan hiburan. Film dokumenter Harun Yahya, sejenis sinetron Keluarga Cemara yang pernah ada, atau kartun animasi seperti Syamil dan Dodo bisa menjadi salah satu contoh. Catet!
Syukur-syukur kalo diputar tayangan cerdas yang islami yang menumbuhkan semangat berjuang mengingat mayoritas penduduk negeri ini muslim. Seperti film ar-Risalah (The Message) garapan Mustafa Akkad yang mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad saw.; Children of Heaven yang bercerita tentang adik-kakak yang pake sepatu gantian biar bisa sekolah; kisah khalifah Umar Bin Khathab, atau pengajaran tata cara berwudhu, shalat, dan doa sehari-hari.
Ditambah kisah-kisah perjuangan para pahlawan Islam yang kini makin banyak dibuat dalam bentuk VCD seperti Khulafa ar-Rasyidin atau The Lion of Desert. Malah ada yang kartun juga lho seperti Hancurnya Pasukan Gajah, Nabi Ibrahim dan Namrudz, atau Petualangan Si Salman. Bagusnya lagi kalo disiarin pada jam-jam pas anak-anak betah di depan TV. Kalo begini kan asyik. Generasi muda muslim jadi nggak asing ama agamanya sendiri. Dan tontonan layak jadi tuntunan. Betul?
Yang kedua, dan ini yang terpenting yang akan mengokohkan solusi pertama. Negara kudu berani menolak kapitalisme, mengubur sekulerisme, dan menerapkan aturan Islam. Dengan aturan Islam negara akan melarang beredarnya tayangan berbau syirik, mengumbar seks, eksploitasi idiot dan banci, atau gambaran gaya hidup sekuler orang-orang Barat. Tayangan cerdas berkualitas seperti yang diharapkan, akan menemani hari-hari kita di ruang keluarga. Hmm… indahnya. Karena itu nggak bosen-bosennya kita ngajak semuanya untuk aktif dalam dakwah. Terapkan syariah, tegakkan khilafah. Biar kita semua dapet berkah. Yuk ah, jangan tunggu hari esok! [@hafidz341]