Banci Jadi Imam Shalat?

Majalahdrise.com – Allah anugerahkan manusia dengan dua jenis kelamin. Lelaki dan perempuan. Cewek dan cowok. Pria dan wanita. Ikhwan dan akhwat. Udah itu aja. Nggak ada yang lain. Makanya, dalam beberapa hukum syariah terkait jenis kelamin, cuman dua itu aja yang diatur. Seperti dalam menikah, pembagian harta waris, menutup aurat, perlakuan terhadap mayat, hingga shalat.

Nah, ceritanya ada yang lagi heboh terkait urusan jenis kelamin ini. Buku fikih untuk kelas II Madrasah Ibtidaiyah memicu protes masyarakat karena memuat materi banci jadi imam yang dinilai masyarakat tidak sesuai ajaran Islam. Bahasan soal banci jadi imam terdapat di bagian semester kedua, pelajaran keempat, bab shalat berjamaah, sub bab A syarat menjadi imam, di halaman 82.

Di halaman tersebut disebutkan, syarat menjadi imam adalah orang laki-laki yang baik akhlaknya dan fasih bacaan Alquran. Orang yang boleh menjadi imam: Pertama, laki-laki apabila makmumnya laki-laki, perempuan dan banci. Kedua, perempuan apabila seluruh makmumnya perempuan. Ketiga, banci apabila seluruh makmumnya perempuan. Nah lho?

Hari gini, banci identik dengan perilaku cowok yang gemulai. Tangannya keriting dan kalo bicara mendayu-dayu. Kalo ‘banci’ yang dimaksud dalam buku pelajaran itu adalah mereka yang berkelamin ganda (khuntsa), kayanya gak pas disepadankan dengan banci. Karena banci lebih karena pola pikir. Sementara khuntsa, bawaan lahir. Yang ada, anak-anak makin yakin kalo banci itu hal yang wajar. Buktinya, dalam perkara imam shalat aja ada pihak ketiga: laki, perempuan dan banci!

Padahal, banci adalah penyakit sosial. Lahir dari lingkungan sekuler. Kalo dianggap wajar, sama saja melanggengkan kemaksiatan dan mengundang azab Allah. Karena rasul dengan tegas melaknat perilaku laki-laki yang meniru perempuan begitu juga sebaliknya. Adapun dalam perkara imam shalat, banci itu jenis kelaminnya pria. Jadi kebolehannya mengikuti hukum imam untuk pria dengan keutamaan baik bacaannya, faham fiqh shalat, dan pastinya laki-laki, sudah baligh, dan waras. That’s it!

Jadi, jangan dianggap enteng munculnya pembahasan banci dalam buku pelajaran sekolah. Bisa jadi dalih untuk melegalisasi kehadirannya dan melestarikan kemaksiatan. Ngeri ah! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 46

Gara-Gara GPS

Majalahdrise.com – Driser, kalo lagi jalan-jalan ke luar kota yang belum kita hafal rutenya, tanya warga sekitar jadi andalan biar nggak kesasar. Biar kata peta dan kompas sudah di tangan, belum tentu kita bisa sampai tujuan. Tapi itu dulu. Saat smartphone jadi barang langka selangka fosil dinosaurus.

Kini, gara-gara kecanggihan smartphone android yang dipasangi GPS (Global Positioning System), nggak ada lagi cerita kesasar sampe ke hutan. Penjelajahan rute perjalanan jauh lebih mudah meski kita baru pertama kali menginjakkan kaki. Kerennya lagi, keunggulan dari GPS/Peta Online ini kita bisa mencari dan menemukan jalan alternatif tercepat menuju tempat yang kita tuju. Asyik banget kan?

Dalam smartphone Android, kita disodorkan berbagai aplikasi GPS untuk membantu perjalanan dengan mudah bin praktis. Berikut beberapa aplikasi GPS android terbaik, lengkap dan akurat yang banyak dipake traveler.

 

Maps

Aplikasi Maps merupakan besutan Google.inc. Siapa yang tak kenal Raksasa Dunia Internet ini? Sudah beragam aplikasi karya terbaik Google diluncurkan, dan kini ia merambah ke duniaGPS dengan berbagai keunggulan seperti; Informasi lengkap di lebih dari 100 juta tempat; menyediakan peta navigasi yang akurat di lebih dari 220 negara termasuk Indonesia (khususnya perkotaan); Panduan navigasi suara saat kita mengemudikan kendaraan; Menentukan peta arah transit di lebih dari 15.000 kota; yang lebih asyik secara otomatis menginformasikan laju dan kondisi lalu lintas yang akan kita lalui, bila jalur tersebut macet maka kita akan otomatis di arahkan ke jalur yang lebih lancar. Yang lebih keren yakni fiture terbarunya Street View di dalam suatu tempat, ruangan seperti restoran, museum, tempat wisata dll.

Waze Social GPS Maps & Trafic

Dengan menggunakan aplikasi GPS android ini memungkinkan kita menemukan sebuah tempat/lokasi dengan mudah dan praktis, menghemat waktu dan bensin tentunya. Berkendara ditemani waze akan menginformasikan dan memandu kita dengan voice pada jalan/jalur yang lebih dekat dan lancar secara akurat. Selain itu kita pun dapat berkontribusi menginformasikan bila ada kecelakaan dan bahaya lainnya. Mencari lokasi dengan cepat seperti pom bensin, restoran, hotel dll Uniknya kita bisa menambahkan kontak teman sehingga kita akan mengetahui dimana teman kita berada beserta rute / jalur yang ia lalui.

MapFactor: GPS Navigation

Merupakan GPS navigation yang menggunakan data OpenStreetMaps yang terintegrasi di seluruh benua seperti Benua Eropa, Amerika, Asia termasuk Indonesia, Australia dan Africa. Seperti layaknya Maps dari Google.inc, MapFactor juga menyediakan panduan navigasi GPS menggunakan suara sehingga saat kita berkendara akan lebih praktis hanya mendengarkan intruksi dari Navigasi aplikasi GPS ini. Tersedia 2 satelit 2D dan 3D yang memungkinkan menampilkan tempat/lokasi lebih realistis dan akurat lengkap dengan navigasi arah tujuan yang lebih dekat dan lancar. Kita bisa mencari daerah tertentu dengan hanya meng-input kode pos, Selain itu kita bisa menambakan lokasi favorit, mencari berdasarkan mode routing misal menggunakan mobil, jalan kaki dan truk. Kita pun bisa menandai rute yang tidak ingin kita lewati untuk kemudian secara otomatis akan diberikan alternatif jalan yang lain.

Sygic Talk And Drive

Aplikasi Sygic memberikan informasi lokasi dan navigasi melalui panduan suara. Suatu alat navigasi yang canggih yang mana aplikasi sygic ini menggunakan sistem navigasi turn by turn yang diperbarui secara berkesinambungan. Kita bisa menentukan suatu tempat misal “Warung Steak And Shake Bogor” maka aplikasi ini secara otomati akan memnginformasikan pada kita alamat lengkap dari warung tersebut. Kita bisa menandai nya sebagai tempat favorite bila di kemudian hari kita ingin pergi kesana lagi serta kita bisa share ke saudara, teman, kerabat dll melalui media sosial seperti FB, Twitter, WhatsApp, BBM, G+ dll dengan sangat mudah. Dan yang paling hebatnya lagi aplikasi ini bisa Kita download secara gratis. Aplikasi ini didukung oleh banyak navigasi diantaranya: Waze, Igo, Google Maps, VZ Navigator dan masih banyak lagi.

 

Dengan beragam fitur di dalam masing-masing aplikasi di atas, terkadang tidak semua fasilitas bisa kita nikmati, tergantung lokasi kita / lokasi yang kita tuju apakah sudah tercover oleh satelit GPS dari masing-masing aplikasi tersebut ataukah tidak, jadi silahkan coba dan bandingkan mana yang menurut kamu yang terbaik.

Driser, meski aplikasi GPS yang tertanam di gadget memudahkan kita menemukan rute perjalanan, jangan sampai lupakan kondisi kita sebagai makhluk sosial. Bertanya ke masyarakat sekitar, melatih bahasa verbal dan menjalin kedekatan emosional. Bisa nambah kenalan, pengalaman, plus bahan cerita perjalanan. Jangan sampai gara-gara GPS kita jadi egois dan sungkan berkenalan. Jadi, tetaplah bersosialisasi walau dunia ada dalam genggaman. Yuk! [@Hafidz341]

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 46

SI KECIL PENIRU ULUNG Eps 2

“Coba cerita sama Bu Husna, kenapa tadi Sandi marah-marah seperti itu..?” Setelah Sandi tampak tenang kucoba mengajaknya bicara.

“Itu lho Bu, Raihan sudah menghancurkan mainanku..! padahal aku sudah susah payah membuatnya.” Sandi lansung mencerca Raihan sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.

baca cerita sebelumnya

Pandanganku beralih pada potongan kertas origami yang tadi aku pinta untuk disusun menjadi berbagai macam bentuk. Sandi memang tergolong anak yang kreatif. Dari potongan-potongan kecil kertas orogami yang berbentuk bangun datar (segitiga, persegi, jajar genjang, dll), dia mampu menyusunnya menjadi bentuk-bentuk yang unik. Misalnya orang  yang sedang naik kuda, orang yang sedang membawa pedang, dll. Dan kini susunan-susunan unik itu telah berserakan.

“Apa benar seperti itu Raihan?”, kucoba mengklarifikasi kejadian yang sebenarnya.

“Tadi saya tidak sengaja lho Bu…”, lirih Raihan berkata sambil menahan air mata.

“Tadi saya buru-buru mau wudhu, karena setelah ini kan jamnya shalat dhuha.. saya bersegera karena khawatir keburu antre..”, dia melanjutkan. Penyesalan tampak jelas dari raut wajahnya.

“Bohong! Kamu sengaja, kan?! Kamu memang ingin merusak mainanku! Aku nggak mau tau, pokoknya harus diganti.” Sandi menyahut masih dengan kemarahannya.

“Sandi, tadi kan Raihan sudah bilang..bahwa dia tidak sengaja merusakkan mainanmu..”, aku tetap berusaha menenangkannya.

“Nah, sekarang Raihan minta maaf dulu kepada Sandi. Bilang apa anak Shaleh kepada Sandi?” aku beralih bicara pada Raihan.

“Aku minta maaf ya Sandi karenatidak sengaja telah merusak mainanmu..”, ia mengusap air matanya dan mengulurkan tangan kanannya kepada Sandi untuk meminta maaf.

“Tidak mau! Aku ndak mau memaafkan”, Sandi mendekap tangannya dan memalingkan wajah.

“Sandi, anak yang pemaaf.. tadi kan Raihan sudah bilang bahwa dia tidak sengaja.. dia juga sudah minta maaf kepada Sandi kan..? kenapa Sandi tidak memafkan? Allah SWT saja mau lho mengampuni kesalahan-kesalahan hambanya yang berbuat salah.. kecuali dosa syirik, yakni orang yang mempersekutukan Allah. Kira-kira antara Sandi dengan Allah, lebih agung yang mana ya…?

“Lebih agung Allah Bu..”, dia menyahut. Kali ini dengan suara agak pelan.

“Nah, berarti kalau Allah Yang Maha Agung saja mau memaafkan hambanya yang bersalah, kira-kira Mas Sandi yang hanya sebagai manusia biasa seharusnya bagaimana ya?” aku berusaha mengajaknya berpikir supaya dia mau memaafkan temannya.

Tapi tak disangka, dia justru mengerucutkan bibir dan kembali memalingkan wajahnya.

“Mas Sandi.. kita itu sebagai manusia.. pasti pernah berbuat salah. Rasulullah saja yang seorang Nabi juga pernah kok berbuat salah.. masih ingatkan kisahnya Rasulullah yang mengabaikan Abdullah ibnu Ummi Maktum dalam surat ‘abasa? Padahal Abdullah waktu itu ingin belajar tentang Islam, tapi Rasulullah waktu itu justru bermuka masam. Lalu Allah menegur beliau dalam surat ‘Abasa. Yang kemarin ibu ceritakan itu lho.. nah, nabi saja pernah salah kok. Apalagi kita.. mas Sandi, Bu Husna, juga Mas Raihan. Pasti banyak sekali kesalahannya..entah disengaja atau tidak.. tapi setelah kita tahu kesalahan, kita wajib beristighfar dan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Kita semua kan muslim.. almuslimu akhul muslim. Muslim yang satu bersaudara dengan muslim yang lain.”, terangku.

“Nah, Sandi seorang muslim kan? Maka sudah selayaknya saling memafkan saudaranya yang berbuat salah.”, aku kembali merajuk.

“Ndak mau!” dengan tegas dia menjawab. Yaa Allah.. begitu sulitnya anak ini memaafkan orang lain.

“Mas Sandi.. kenapa Mas Sandi belum bisa memaafkan Raihan?” kuajukan pertanyaan pada Sandi dengan pelan.

“Kok enak sekali lho Bu dimaafkan? Lha saya waktu berbuat salah kemarin, sama ibuku kok ndak dimaafkan..?”, dia justru balik tanya. Aku tersentak.

“Memangnya Sandi salah apa sampai ibu tidak mau memaafkan?” aku mencoba mengorek informasi dari Sandi.

“Kemarin itu saya mecahkan piring di rumah.. padahal saya ndak sengaja.. saya sudah minta maaf.. tapi ibu tidak mau memaafkan..”, Sandi berkisah dengan wajah sendu.

Laa haula wa laa quwwata illa billah. Seketika saya merinding mendengar jawaban Sandi.

Yaa Rabbiy..Begitu pintarnya anak meniru apa yang dia ihsas (indera). Dan tak bisa dipungkiri, orang yang paling dekat yang mereka, yang sehari-hari bertemu, dan menghabiskan waktu bersama mereka adalah orang tua mereka.. mereka benar-benar belajar dari apa yang dia lihat pada orang tuanya.. maka sungguh sangat miris jika orang tua sampai salah menanamkan karakter pada diri anak. Karena sangat mungkin karakter itu akan menjadi sifat/watak dia hingga dia dewasa.

“Sandi.. coba Bu Husna tanya, tadi sebelum berangkat, Sandi dibuatkan sarapan apa tidak sama Ibu?”

“Iya, dibuatkan sarapan.” Jawabnya.

“Tadi siapa yang ngantar Sandi ke sekolah?” tanyaku lagi.

“Ibu.” Dia menjawab dengan polos.

“Kalau yang nyetrikakan bajunya Sandi..siapa?”

“Ibu juga” jawabnya lagi.

“Tadi ibu ikut membangunkan Sandi untuk shalat subuh apa tidak?”

“Iya, ibu yang membangunkan saya”, dia kembali menjawab.

“Nah, Mas Sandi.. Bu Husna yakin, sebenarnya ibu sudah memaafkan Mas Sandi.. buktinya Ibu lah yang sudah bangunkan Mas Sandi, membuatkan sarapan, nyetrikakan baju, ngantar ke sekolah.. ibu pasti sudah memafkan kesalahan mas Sandi.. Ibu sayang sama Mas Sandi..Makanya, ibu tidak bilang bahwa beliau sudah memaafkan Mas Sandi. mungkin Ibu ingin memberi pelajaran kepada mas Sandi supaya besok lebih berhati-hati lagi.. sehingga tidak memecahkan piring lagi. ” pelan-pelan kupahamkan sambil kuusap kepalanya.

“Sekarang Mas Sandi mau ya memaafkan Raihan..?”, aku memastikan Sandi telah merubah sikapnya yang sulit memaafkan tadi.

“Iya Bu saya maafkan.” Jawabnya dengan ringan..

alhamdulillah..”.

Hff… aku menghela napas lega.

 

***

 

Kini di tepi jalan, di trotoar dekat Bundaran Sekartaji, kembali kusaksikan peristiwa yang nyaris mirip dengan kisah Sandi..  Selesai mengenakan mantel, aku segera meninggalkan tempat itu. Bismillah, ku gas pelan-pelan, menerjang guyuran hujan.

Yaa Allah, sangat mungkin orang setengah baya ini, dulunya adalah Sandi-Sandi kecil yang tak terpahamkan dengan pendidikan yang benar. Dia belajar dari apa yang dia ihsas. Dan orang-orang di sekitarnya memperlihatkan suatu teladan yang kurang tepat, kemudian membentuk karakter hingga ia dewasa seperti sekarang.

Hari ini kudapatkan pelajaran berharga. Di sekitar kita ada anak-anak yang melihat kita. Di sekitar kita ada peniru ulung yang mengamati setiap gerak-gerik kita. Di sekitar kita ada generasi umat yang mencontoh kita.. tidak peduli yang dia lihat dan dia tiru suatu kebenaran ataukah suatu kekeliruan..

Merekalah pemimpin masa depan. Sungguh dosa investasi jika kita memberikan kontribusi keburukan bagi karakter-karakter mereka di masa mendatang. Na’udzubillah min dzalik.

“rabbanaa hablana min azwajinaa wadzurriyatina qurrota a’yun, waja’alna lilmuttaqiina imaama”. Aamiin

Oleh: Kholila Djauhary

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 46

 

 

SI KECIL PENIRU ULUNG

Majalahdrise.com – Tes..tes..tes.. Mendung kian gelap. Rinai hujan semakin deras, menyerbu bagai peluru yang keluar dari selongsong senjata. Beradu dengan suara deru motor yang berlomba mempercepat laju.

Hmm.. hampir sampai Bundaran Sekartaji. Sebenarnya tinggal beberapa kilo lagi aku sampai rumah. Ingin rasanya segera sampai rumah lalu merebahkan tubuh yang sejak pagi beraktivitas nyaris tanpa henti. Tapi guyuran hujan yang semakin deras memaksaku menepi untuk mengambil mantel di jok. Bagaimanapun juga, tubuh ini adalah amanah yang harus dilindungi.

Kutepikan motor mio kesayanganku mendekati trotoar. Kebetulan di atas trotoar ada tenda biru yang biasa digunakan pelindung oleh para penjual makanan lesehan di sana. Hampir maghrib. Tapi Kota Kediri tampak sudah gelap karena tertutupi awan hitam dan curah hujan yang tinggi.

“Ciiit…..!”

Innalillahi… Belum sampai aku turun dari motor, dari arah belakang terdengar decitan nyaring dari sebuah mobil hitam yang mengerem secara mendadak. Sepertinya tadi mobil hitam tersebut berusaha menyalip sebuah mobil putih yang kini sudah berada di belakangnya. Mobil putih pun turut mengerem secara mendadak karena di depannya ada mobil hitam yang menghalangi.

Tak berapa lama, seorang laki-laki setengah baya, berperawakan tinggi besar, keluar dari mobil hitam setelah membuka payung untuk melindungi diri dari hujan yang kian deras mengguyur. Bersaing dengan gelapnya suasana, ku kernyitkan dahiku untuk menambah daya penglihatan. Wajah laki-laki tersebut tampak emosi. Dengan langkah penuh amarah ia mendatangi mobil putih yang ada di belakangnya.

Tok..tok..tok..! dengan keras dia mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil.

“Mas, sampeyan keluar dulu!” setengah memaksa dia menyuruh pengendara mobil putih tersebut untuk keluar dari mobil.

Si lelaki setengah baya tersebut dengan nada tegas mengajak pengendara mobil putih untuk mendekati mobil hitamnya. Lelaki pengendara mobil putih tampak lebih muda. Dengan membawa payung kecil dia mengikuti langkah lekaki separuh baya dengan tergesa.

“Hati-hati dong Mas kalau nyetir! Sampeyan apa tidak lihat..bla..bla…” sayup-sayup suara lelaki setengah baya tersebut terdengar dari tempatku berdiri. Tampaknya dia memarahi si pengendara mobil putih sambil menunjuk-nunjuk bagian mobil yang penyok.

Sambil membuka mantel untuk kukenakan, kembali aku mengernyitkan dahi. Kali ini untuk mempertajam pendengaran. Penasaran, dengan apa yang mereka bicarakan.

Sampeyan apa nggak pernah nyetir mobil?! Sampeyan tahu? Memperbaiki kerusakan seperti ini itu pakai uang yang nggak sedikit! Saya nggak mau tahu. Pokoknya sampeyan harus bertanggungjawab atas kerusakan ini!”

“Baik Pak, saya mohon maaf..bla..bla..”, pria muda, Si Pengendara mobil putih tampak tertunduk dan mengucapkan beberapa kata dengan lirih. Frekuensinya tak mampu tertangkap oleh pendengaranku yang berjarak beberapa meter dari sana.

Astaghfirullahal’adhim… tak henti aku beristighfar menyaksikan lelaki separuh baya terus mengomeli pria muda tersebut sambil menunjuk mobilnya yang sedikit penyok dan sesekali menunjuk wajah si Pria Muda. Tanpa maaf.

Memang tampaknya memang si pemuda itu yang bersalah. Namun tak adakah hati lembut yang bisa memaafkan??

Berkelebat ingatanku akan rekaman peristiwa beberapa hari yang lalu di tempat mengajar. Kejadian yang nyaris mirip dengan apa yang aku saksikan sore ini.

 

***

 

Bel istirahat baru saja berbunyi. Tepat dengan selesainya mengajarku di kelas 2 pada jam pertama.Tiba-tiba..

“Aurgh…..”, seorang siswa dengan keras berteriak. Mirip harimau yang sedang mengaum marah. Tangannya sedikit dia angkat seakan ingin menerkam seorang teman yang ada di depannya.

“Bu.. Sandi marah-marah…!”, teman yang ada di depannya pun segera berteriak melapor padaku untuk minta perlindungan.

Anak yang disebut Sandi itupun semakin mengeraskan aumannya, semakin marah.

Aku bergegas menghampiri mereka. Meninggalkan buku agenda harian anak-anak yang harus aku isi untuk catatan siswa sekaligus buku penghubung dengan orang tua siswa.

“Sandi kenapa marah-marah di depan Raihan seperti itu?” dengan lembut kuraih tangan Sandi yang sejak tadi seakan-akan ingin menerkam Raihan.

MasyaAllah… efek tayangan seri di televisi yang menggambarkan manusia setengah serigala begitu menancap dalam memori otak anak ini. Ada lagi sinetron yang hampir mirip, mempertontonkan manusia setengah harimau. Beberapa hari lalu Sandi memang bercerita bahwa dia sering melihat tayangan tersebut. Hmm.. Lembaga sensor film memang tidak bisa bekerja secara optimal dalam sistem kapitalis-sekuler yang rusak seperti ini. Yang dipentingkan adalah keuntungan. Tanpa melihat nasib para penonton yang notabennya (kebanyakan) adalah generasi masa depan.

“Anak shaleh itu selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.. Coba Sandi tarik nafas dulu.. emosinya ditahan.. Ke sini Anak Shaleh, minum dulu..!” pelan-pelan kuredam emosi Sandi dan kuajak duduk untuk minum air putih yang dia bawa dari rumah.

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi 46