Novel Islami Bikin Keki?

oleh : Fakhirah Robbaniy

drise-online.com – Saya suka sekalee novel! Apalagi kalau lihat novel nganggur mata nggak bisa ditahan buat nggak baca, pokoknya baca deh… Nah, novel Islami juga termasuk yang gemar saya baca, mulai dari yang bahasanya renyah sampai yang bikin mengkerut dahi saya lahap deh. Apalagi temen saya suka banget beli novel yang hampir mirip-mirip judulnya. Kayak misalnya, ‘Air mata Bidadari, Senyum Bidadari, Bidadaripun Menangis’, dan masih banyak judul bidadari lainnya…(eits…ini judul hanya karangan saya aseli, jadi fiktif belaka. Tapi, kalau ada yang nemuin judul yang sama, itu tanpa kesengajaan yak…hehehehe ) karena saya tipe pembaca omnivora super alias gak pilih-pilih kalau baca. Jadi novel begitu biasanya saya lahap juga.

Sebel…sebel…sebel….Tahu nggak kenapa? Karena kebanyakan novel Islami yang saya baca, isinya bikin enek bin senep. Nih, pengarang ngerti nggak sih tentang apa yang dia tulis? Atau penerbitnya yang nggak ngerti! Sebab banyak novel yang embel-embelnya Islami, tapi bikin hati nyeri. Dan kebanyakan (eits…bukan semua lho!) ditulis begini  ‘Novel Islami Inspiratif’ ada juga yang begini, ‘Novel Islami Penggugah Spiritual’ dan juga ada ‘Novel Islami yang benar-benar mencerminkan nilai Islam,” dan banyak lainnya deh. Apalagi kalau endorsemennya  (komentar di cover buku) ditulis oleh salah seorang  kyai pesantren terkemuka, tokoh politik Islam, Dai yang sering nongkrong di tipi, penulis novel Islami lain, petinggi Universitas Islam, atau mantan santripun jadi, asal  endorsemennya  menarik. Nah, dari endorsemen berbagai tokoh inilah yang kadang-kadang bisa menipu konsumen. Soalnya, biasanya endorsemen itu isinya yang baik–baik aja, jarang kan endorsemen itu isinya maki-maki tuh novel. Coz, bisa diedit ma editornya kalau bahasanya agak negatif dan miring buat karya itu, terus nggak sedikit yang endorsemennya terlalu berbunga-bunga padahal isinya juga, hufh…sesak napas saya, silahkan kira-kira sendirilah!.

Pernah saya baca novel, cerita singkatnya kira-kira begini. Ada gadis cantik, sholihah, pinter,  baik, bla..bla..bla..(dan segala karakter malaikatnya deh) tapi dia miskin, terus akhirnya dia terpaksa membanting tulang ke kota  dan nebeng di rumah keluarga tantenya yang seorang misionaris. Nah, jendela kamar dia berhadapan sama jendela rumah sebelah, yang ternyata kamar seorang cowok yang diceritakan gaul tapi alim (coz parameternya rajin adzan di mushola komplek yang sepi dan si cewek juga rajin ke mushola gitu deh…). Nah, gaswatnya karena si cewek ini sering ngaji malem-malem dipinggir jendela yang kebuka, si cowok jadi betah ngeliatin secara diem-diem, truz… akhirnya mereka diceritakan sering berdiskusi dan mendalami masalah agama berdua. Gubrak banget, kan!

Yaelah…bung pengarang, itu namanya berkholwat, saya aja ngerti kalau berduaan malem-malem meski nggak duduk berdampingan itu termasuk berkhalwat. Jangankan malam, pagi-pagipun kalau cuma ngobrol berdua di suatu tempat dan nggak ada oranglain lagi namanya juga khalwat. Apalagi disitu juga diceritakan,  istilah pengarang ‘minta solusi’, tapi istilah saya ‘curhat’, jadi gini si cewek itu sering disiksa ma tantenya yang misionaris, lalu dia suka curhat ke cowok itu setiap malem dan si cowok yang terenyuh jadi setia menyupport dia. Sekali lagi GUBRAK banget!!! Disana aja udah kelihatan nggak Islaminya… dari tingkah mereka yang setiap hari berbagi cerita, dalih si pengarang mungkin karena masih dianggap Islami selama bukan pacaran, lhah..lhah…lhah…nggak ngerti apa kalau aktivitasnya sama aja kalau gitu… dan banyak lagi deh cerita yang saya temuin bikin geleng-geleng kepala terus. Kalau gini cerita, bisa bikin sesat yang baca kalau si pembaca nggak tahu mana yang bener, nanti bisa-bisa karena dianggap si pengarang melek Islam dan dianggap apa yang ditulisnya itu juga suatu kebenaran. Hiy…serem banget kalau banyak yang sesat gara-gara baca begituan.

Bukan cuma satu dua buku deh yang embel-embelnya Islami tapi dalemnya hoeks…nggak Islami! Banyak banget plend! Dan itu tersebar di berbagai pelosok negri. Ya Allah, saya sempat ingin menyalahkan pengarang dan penerbit serta pemberi endorsemennya. Kalau pengarang nggak ngerti Islam yang bener gimana, ditambah editornya cukup asal ngedit, terus pimpinan redaksi malah buta Islam, diperparah pemberi endorsemennya cuma muji–muji aja, dan penerbitannya hanya ngejar pangsa pasar yang lagi ngetren. Semua itu bikin isi dan mutu dijamin oleh orang yang nggak ngerti. Parahkan?!

Disaat-saat beginilah saya menjadi sedih dan berandai-andai. Seandainya pengarangnya mengerti, penerbit juga mengerti, pemberi endorsemen juga mengerti bagaimana Islam itu memenuhi segala aspek termasuk pergaulan karena Islam bukan sekedar ritual doang. Nah, seandainya lagi negara juga peduli dengan erosi mutu novel Islami begini, pasti novel yang terbit akan sesuai dengan yang seharusnya. Hiks…hiks…hiks…disaat begini kerinduan akan negara Islam yang melindungi mulai dari hal-hal besar hingga hal kecil seperti tentang mutu dan isi buku yang sesuai dengan syariat apa nggak?!,  jadi memuncak. Rindu Khilafah banget deh… Kalau negara peduli, mungkin novel-novel fiksi remaja yang beredar adalah novel yang inspiratif pembangkit keimanan, ketakwaan dan semangat juang. Bukan melulu tentang roman picisan yang bikin syahwat kita dimanja… hiks..hiks..hiks…khilafah segeralah tegak, saya rinduu sekaleee……khilafah!

 

Di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi#9

Muhasabah Mini Untuk Para Pebisnis Muslim

Renungkanlah

Wahai Pengusaha

Bukan harta yang diharapkan Dien kita

Tapi ketaatan kita sepenuhnya pada Islam!

Rasulullah saw. bersabda: “Semua umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Sahabat bertanya, “Siapa yang enggan itu?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang taat kepadaku, maka ia masuk surga dan barangsiapa yang durhaka kepadaku dia itu enggan.” (HR. Bukhari)

drise-online.com – Hidup emang nggak bisa lepas dari yang namanya produk bisnis. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, semua menggunakan perangkat yang dihasilkan bisnis. Dari yang sederhana, hingga yang paling canggih sekalipun. Pendek kata, bisnis selalu menyertai hidup dan kehidupan kita. Sampai disini, tak ada yang perlu dikritisi. Semua biasa saja.

Namun, ketika bisnis terkait dengan AMAL PERBUATAN dan dengan SESUATU YANG DIMANFAATKAN (Barang/Jasa), disinilah kita wajib buat mengkritisinya. “Apakah kedua hal itu mampu membawa kita pada keamanan bagi perjalanan di akhirat nanti, atau tidak?” Coz, bisnis pasti akan merefleksi hanya pada 2 opsi saja. 1) Manfaat yang semu, atau 2) Manfaat yang hakiki.

Yeap! Ini penting banget!

Sejalan dengan visi dan misi hidup kita sebagai Muslim terbaik, kini saatnya mengkritisi bisnis kita untuk memastikan agar dengannya kita selamat dan bahagia di dunia. Kita juga mesti memastikan agar bisnis kita menjadi salah satu wasilah (sarana) kita menuju kehidupan bahagia di akhirat kelak.

Emang nggak gampang kelihatannya. Coz, realitanya sekarang kita hidup di dalam sistem hidup yang kapitalistik sekuler (sistem hidup yang telah mencampakkan aturan syariah sedemikian kejinya). Tapi, sebagai hambaNya yang mengaku beriman, maka tentu kita tidak ingin menjadi kategori Muslim yang kacau! Yang hanya menjadikan bisnis kita ladang penghasil uang tapi tak mendapatkan ridhaNya lantaran dalam berbisnis kita masih berhukum pada hukum selain Islam. Seperti berakad keliru dalam menjalin kerjasama berbisnis, salah dalam menerapkan aspek investasi, dlsb.

So, buat D’RISEr yang emang hobi berbisnis mesti memastikan kalo BISNISNYA SESUAI SYARIAH yow?! Coz, patut direnungkan pernyataan Imam Malik: “Siapa yang tidak mempelajari hukum-hukum jual beli niscaya ia memakan riba, suka atau enggan.”

Yes! Syariah udah menetapkan sejumlah hukum terkait bisnis kita. Bisnis kita terkait dengan amal perbuatan, maka bisnis kita harus jelas aspek hukumnya. Kaidah Ushul menyatakan; “Hukum asal perbuatan adalah terikat dengan Hukum Syara’.” Menjadi seorang pengusaha adalah sebuah jalan hidup yang sudah kita pilih. Namun, ketika kita tahu, bahwa dalam hidup ini haruslah semuanya dipersembahkan dalam rangka ketaatan kita pada ALLAH Swt., coz kita pun menyadari segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan di hadapan ALLAH Swt., maka menjadi hal yang urgent untuk memegang Hukum Syara’ dalam sepanjang perjalanan bisnis kita. Hmm! [Taste from the best book: “Pokok-Pokok Panduan Syariah dalam Bisnis”-Komunitas Pengusaha Rindu Syariah]

Perbandingan Karakter Bisnis Islami vs Bisnis Non Islami (Konvensional)

Bisnis memang kegiatan untuk mencari keuntungan. Tapi sebagai seorang muslim, kegiatan bisnis tentu saja bukan cari untung semata. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh seorang muslim, termasuk bisnis harus senantiasa di dalam koridor syara’. Inilah yang membedakan bisnis Islami dengan bisnis konvensional. Untuk lebih lengkapnya, yu kita simak tabel di bawah ini.

Islami Karakter Bisnis Non Islami
Nilai-nilai transendental

Dunia-Akhirat

Asas Motivasi Sekulerisme (Nilai-nilai material)

Dunia

Profit & Benefit

(non materi/qimah),

Pertumbuhan,

Keberlangsungan,

Keberkahan

Orientasi Profit,

Pertumbuhan,

Keberlangsungan

Tinggi,

Bisnis adalah bagian dari ibadah

Etos Kerja Tinggi,

Bisnis adalah kebutuhan duniawi

Maju & Produktif,

Konsekuensi keimanan & manifestasi kemusliman

Sikap Mental Maju & Produktif sekaligus konsumtif,

Konsekuensi aktualisasi diri

Cakap & ahli di bidangnya,

Konsekuensi dari kewajiban seorang Muslim

Keahlian Cakap & ahli di bidangnya,

Konsekuensi dari motivasi reward & punishment

Terpercaya & bertanggung jawab,

Tujuan tidak menghalalkan segala cara

Amanah Tergantung kemauan individu (pemilik capital),

Tujuan menghalalkan segala cara

Halal Modal Halal & haram
Sesuai dengan akad kerjanya SDM Sesuai dengan akad kerjanya atau sesuai keinginan pemilik modal
Halal Sumberdaya Halal & haram
Visi & misi organisasi

Terkait erat dengan misi penciptaan manusia di dunia

Manajemen Strategik Visi & misi organisasi ditetapkan berdasarkanpada kepentingan material belaka
Jaminan halal bagi setiap masukan, proses & keluaran,

Mengedeoankan produktivitas dalam koridor syariah

Manajemen Operasi Tidak ada jaminan halal bagi setiap masukan, proses & keluaran,

Mengedepankan produktivitas dalam koridor manfaat

Jaminan halal bagi setiap masukan, proses, & keluaran keuangan Manajemen Keuangan Tidak ada jaminan halal bagi stiap masukan, proses & keluaran keuangan
Pemasaran dalam koridor jaminan halal Manajemen Pemasaran Pemasaran menghalalkan segala cara
SDM professioanal & berkepribadian Islam,

SDM adalah pengelola bisnis,

SDM bertanggung jawab pada diri, majikan, & ALLAH Swt

Manajemen SDM SDM professioanal,

SDM adalah factor produksi,

SDM bertanggung jawab pada diri & majikan

 

Sumber: Yusanto, M. Ismail dan M.K Widjajakususma (2002)

Di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi#9

SATU (cerpen islam)

Drise-online.com – Remah-remah cemara belum sepenuhnya tertutupi salju Desember. Ketika pertama kali aku menjejakkan kaki di negara ini, Amerika. Sejatinya negeri Paman Sam ini adalah Kampung halaman bagi keluarga besarku. Hari ini, pemandangan tak seperti kemarin. Tumpukan-tumpukan salju mulai mencair di terpa sinar mentari. Kicau burung mengawali pagi di bulan Januari. Sisa-sisa malam pergantian tahun masih menyemarakkan keindahan di sudut-sudut Kota. Meski dengan itu, kondisi fisik yang lelah berpesta menjadi harga mati yang harus dibayarkan oleh mereka. Ku jejakkan kakiku di atas tumpukan salju yang masih tersisa. Belum di bersihkan oleh para pekerja.

Aku baru saja menuntaskan sarapan yang tersisa ketika Ayah datang membawa setumpuk barang belanjaan. Pesta natal dan tahun baru kemarin hanya menyisakan asupan untuk kami hari ini. Kami tinggal di Di bagian Amerika utara dekat pegunungan Rocky Mountain. Meski dulu karena urusan kerja, kami sempat pindah di Amerika selatan tak jauh dari Cordelleras De Los Andes. Ayah seorang pensiunan Angkatan Udara Amerika. Makanya wajar, sejak kecil kami di didik dengan jiwa nasionalisme yang tinggi. Aku dimasukkan ke sekolah militer sejak lulus.

Dua tahun Aku mengikuti wajib militer di wilayah Afganisthan. Daerah yang awalnya kuharapkan mampu memupuk kecintaanku terhadap Negara. Kenyataanya tak seperti itu, mungkin disebabkan sifat plegmatisku yang akhirnya membuatku seperti ini. Menyeretku pada sejuta tanya yang akhirnya membuat hubunganku dengan Ayah sedikit renggang sepulang menjalani wajib militer. Pikiranku ku selancarkan pada tapak-tapak diskusi dalam dunia tanpa batas.

****

“Namaku Alika. Alika ilyanov. Seorang keturunan uzbek yang keluarga besarnya di Rusia. Aku seorang Muslim. Senang berkenalan denganmu. perkenalan kami via room islami. Di pikirnya aku ini Muslim berdasarkan logika bahwa nama Aulia pasti selalu Muslim. Aku hanya tersenyum. Meski pada akhirnya, kejujuranku tak membuatnya kaget. Sebersit kekaguman menjalar di pikiranku. Terlebih ketika banyak tanya yang menumpuk kelak akan teruraikan.

Hari ini Aku menyengajakan menemuinya. dia mendapat kesempatan berkunjung ke keluarganya yang separuhnya tinggal di Amerika. ah,sejak kapan Amerika dan Rusia bisa rukun?

****

Pemandian itu tidak begitu besar. Tempat kami bertemu. Ia di temani Pamannya. Seorang laki-laki yang kutaksir berusia 35 tahun ke atas. Pemandian ini Hanya sebesar kolam renang yang setiap sisinya di bentuk kolam-kolam kecil dengan hiasan batu-batu alam dengan ukiran-ukiran khas tipologi dari bangunan-bangunan di Jaman Arsitektur Romanesque untuk menciptakan atap meruncing. Kuyakinkan bahwa selang satu jam ke depan,tempat ini akan ramai di kunjungi orang.

Ku rasakan hangatnya air menjalar ketika kujejakkan kaki di permukaan air. Kumasukkan hingga selutut sembari duduk di tepian kolam. Ia Memainkan air dengan tangannya sambil sesekali membasuhkan air ke wajahnya yang segera memerah berriak. Di beberapa sudut ternyata ada semburan air mendidih layaknya pemandian air panas kebanyakan.

“tahukah engkau? Air akan mendidih hanya jika di panaskan, bukan di dinginkan. Itupun hanya bisa mendidih ketika mencapai temperature seratus derajat. Ketentuan itu tidak datang dari air itu sendiri, tetapi pasti di luar air tersebut. Demikian pula Manusia. Bernafas menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Bukan sebaliknya”.

Aku mengagumi pola pikirnya. Kesejukan di tiap katanya membasuh imajinasiku tentang sesuatu itu. Namun jawabanku tertelan. Tertahan oleh diskusi dengan Ayah beberapa hari yang lalu..

“Manusia membutuhkan berbagai zat gizi, dan oksigen untuk hidup. Itu adalah bukti tak terbantahkan tentang keterbatasan segala apa yang hidup”. Sambil memperbaiki letak kerudungnya,senyumnya kembali menggantungi wajah.

“Kalau tak ada gizi, tak ada oksigen, matilah manusia. Manusia lemah. Segala-galanya teratur dan tergantung pada suatu aturan. Demikian adanya. Dan keteraturan tersebut bukanlah kehendak mereka.… yang menciptakannya adalah Allah..”.

Aku mengangguk-angguk

“Li, manusia diberi nafas gratis oleh penciptanya. Pernah berpikir susahnya orang yang bernafas dengan bantuan tabung oksigen? Dia harus membayar mahal untuk itu. Ketika kenikmatan nafas gratis di cabut oleh pemiliknya”

Konsep itu jujur aku yakini, tapi sesuatu yang mengganjal pikiranku akan konsep ketuhanan dan ritual di dalamnya membuatku gamang.

“Hmm, yakinkah engkau tentang sesuatu yang tak terlihat?”. Jujur, aku tak sanggup menahan tanya tentang konsep keyakinannya.

“Bukankah kita kadang meyakini sesuatu tanpa kita mampu mengindranya? Namun kita meyakini akan keberadaannya”

“Contohnya?”

“Udara atau waktu”.

Aku terdiam.

“Pernahkah engkau melihat udara atau waktu? Wujud keduanya seperti apa? Meski tidak terlihat, tapi toh orang-orang meyakini keberadaan keduanya. Tak selamanya sesuatu yang kita yakini, akan mampu di indera wujudnya. Segala yang di yakini tidak harus dalam bentuk materi. Ini sekaligus menyangkal pemahaman orang kebanyakan yang kebenarannya tunduk pada konsep materi”

“Hmm, ..aku di lahirkan dengan agama yang saat ini aku yakini. Andai aku terlahir dari rahim orang tua sepertimu, pasti agamaku tidak seperti yang aku yakini saat ini. Jadi, aku terlahir dari rahim Ibuku yang nasrani itu bukan kehendakku bukan?”

Ia tersenyum “Kelak kamu akan mengtahui jawabannya. Kamu telah mengawalinya dengan mulai memikirkan hal tersebut”

Kata-katanya ku aminkan. Meski hanya dalam hati. Biarlah ku endapkan saja diskusi kami hari ini dalam otak. Ku bangun sebuah monolog di pikiranku.

****

Sesuatu yang tak terindra namun kita percaya keberadaannya. Hm, Aku membandingkan konsep ketuhanan yang ku yakini. Sejatinya manusia memang lemah, dan membutuhkan sesuatu yang lebih kuat dibandingkan dirinya. Ketika diciptakan kita pasti menyadari bahwa ada keinginan untuk mensucikan sesuatu yang di anggap memiliki kekuatan itu. Sekuat apapun kita berusaha mengeliminasi rasa itu pada diri kita, Ia pasti akan tetap ada yang mewujud sebagai sebuah naluri. Namun jika pemuasan dalam mensucikan sesuatu itu tanpa disertai akal maka akan memunculkan imajinasi atau fantasi bahkan asumsi dalam otak yang tidak berhubungan dengan kebenaran itu sendiri. Walhasil pemuasannya akan menyimpang. Layaknya penyembahan terhadap pohon besar atau batu besar yang disucikan dikarenakan cerita mistik yang menyertainya. Nalar menjadi mandul hingga tak dapat menunjukkan kita tentang kebenaran. Tak mampu berpikir bahwa batu ataupun pohon yang di sembah adalah sama-sama ciptaan, bukan pencipta yang layak untuk di sembah. Perasaan takut yang tidak disertai pikiran.

****

Di Detik ini, Aku mematung sedari tadi di deretan terdepan kursi gereja. Ku nikmati raut—raut wajah yang memejam khusyu di hadapan kekudusan Yesus sang juru selamat. Ah, dapat kubayangkan kematiannya di tiang salib dalam rangka penebusan dosa manusia. Ah, Tuhan berakhir?? Mati di tiang salib di bunuh oleh ciptaannya?? Tapi aku yakin, Tuhan itu ada. Pasti ada. Tapi dimana? Bentuknya seperti apa?

****

Malam ini, Dialog itu kembali mengiang,menusuk-nusuk sisi otak kiri dan kananku. Bahwa fakta desember adalah jauh dari hari raya Natal. Bahwa penuhanan Yesus terjadi melalui konsili nicea. Bahwa Yesus adalah manusia dan Ia adalah terbatas. Lemah. Tunduk pada sesuatu yang tak terbatas, dia makhluk.

Arrghhh….pertentangan ini membuatku pening. Desingan-desingan kata melumpuhkan argumentasiku.

Terngiang perdebatanku dengan Ayah untuk kesekian kalinya. Kembali aku mempertanyakan segala gelisahku. Tumpah ruah menyesakkan pilu dalam dada ketika aku harus berhadapan dengan fakta bahwa keluarga begitu membenci pertanyaan atas doktrin yang telah menyatu dalam batok kepala mereka. Hatiku berriak. Berhari-hari menelusuri lembar demi lembar kebenaran yang membawaku pada kontemplasi tentang makna sebuah kebenaran.

Konsep Trinitas menuai kritisku. Tuhan anak,Tuhan Bapak dan roh kudus adalah satu. Tiga dalam satu dan satu dalam tiga. Tiga adalah satu dan satu adalah tiga. Sebagaimana lampu yang memiliki cahaya, panas dan lampu itu sendiri. Seluruhnya adalah satu dan seluruhnya adalah tiga. Ah, tapi tidakkah itu salah? Bukankah satu adalah satu dan tiga adalah tiga???

Tak puas aku dengan logika ini. Melogikakan sesuatu yang butuh pembenaran yang bersifat pasti. Tak berputar-putar. Jenuhku bergolak. Naluriku menginterupsi pikiran. Ordeku berubah memasuki fase kontemplasi tentang hakikat kebenaran sejati. Di ujung titik tanpa sebuah tanya lagi.

****

Awan di langit biru berarak-arakan menyenandungkan ritme kehidupan. Aku mengendus sebuah hakikat. Di puncak pas kebenaran, ku syahadatkan diriku untuk sesuatu yang Satu…..[]…………………………………………….

 

Samarinda…

Untuk Princess Lita saat menemanimu, yang keesokannya ternyata sudah tak lagi milikmu..

21.35 Wita…

 

Di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi#9

Orang Bijak Taat Pajak?

 

Drise-online.com – Blarrr! Capung udara bermesin tunggal itu menabrak gedung perkantoran 4 lantai di kota Austin, Texas, Amerika Serikat. Di balik ledakan besar, 2 orang tewas dan dua lainnya terluka.

Salah satu yang mati adalah pilot pesawat itu sendiri, Joseph Andrew Stack (53). Dia sengaja ber-kamikaze menabrakkan pesawat dengan sasaran utama gedung kantor pajak setempat yang memiliki 200 karyawan.

Dalam surat wasiatnya, Stack menyatakan frustrasi berurusan dengan Kantor Pajak Austin. Menurut pejabat setempat, surat bunuh diri Stack bernada anti-pemerintah.

Namun, 2 pesawat tempur F-16 sempat dikirim ke gedung tersebut, aparat keamanan setempat memastikan tindakan Stack bukan terorisme.

Di Amerika Serikat, pajak memang harga mati buat rakyat. Dan Stack memilih mati ketimbang bayar pajak yang dirasa tak adil. Dulu, Al Capone, tokoh mafia legendaris Chicago, akhirnya bisa dikerangkeng di penjara Al Catraz dengan tuduhan pelanggaran pajak, dan bukan karena kejahatan pembunuhan, judi, prostitusi maupun narkoba.

Indonesia juga bernafas dengan pajak. Kementerian Keuangan dalam rapat kerja untuk APBN 2010 bersama DPR, menyatakan, realisasi pendapatan negara dan hibah tahun 2009 mencapai Rp 866,8 triliun. Dari jumlah itu, realisasi pajak mencapai Rp 641,2 triliun atau sekitar 73%.

Namun menurut ekonom liberal dari University of Chicago, Milton Friedman, pajak sebisa mungkin justru dijauhi. Baginya, orang bijak justru tidak taat pajak. Runtuhnya industri Barat dan inflasi tinggi, menurut Friedman, lebih disebabkan oleh sistem perpajakan yang buruk dan hanya menguntungkan segelintir orang.

Di Indonesia, munculnya Gayus Halomoan Partahanan Tambunan, menguak puncak gunung es mafia hukum, mafia pajak, makelar kasus, dan konpsirasi jahatnya. Bayangkan, pegawai bergaji Rp 12 juta macam Gayus, memiliki rekening gembrot bernilai ratusan milyar rupiah yang berasal dari suap ratusan perusahaan. Duit haram ini jadi bancakan aparat hukum dan keadilan, yang sampai sekarang tak pernah dituntaskan.

Muncullah gerakan anti-pajak di facebook, yang anggotanya sudah puluhan ribu orang. Targetnya adalah menghimpun 100.000 masyarakat anti-pajak. Tentu saja pejabat perpajakan mencak-mencak terhadap munculnya gerakan anti-pajak. Baginya, tanpa pajak Indonesia ‘’kiamat’’.

Padahal, besarnya komponen pajak rakyat terhadap pendapatan APBN mencerminkan kegagalan pemerintah mengemban amanah mensejahterakan rakyat. Dengan kekayaan sumberdaya alam yang luar biasa besar, rakyat Indonesia mestinya rata-rata makmur, bukan sebaliknya.

Contohnya, potensi minyak dan gas alam. Menurut Abdullah Sodik, Ketua Serikat pekerja Pertamina, minyak dan gas Indonesia sebagian besar dikuasai asing. Tercatat ada 60 kontraktor asing yang mengangkangi, 5 di antaranya dalam kategori super major, yakni ExxonMobil, ShellPenzoil, TotalFinaEIf, BPAmocoArco, dan ChevronTexaco, yang menguasai cadangan minyak 70 persen dan gas 80 persen. Selebihnya masuk kategori Major, seperti Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex, Japex, yang menguasai cadangan minyak 18 persen dan gas 15 persen. “Sedangkan perusahaan independen menguasi cadangan minyak 12 persen, dan gas 5 persen,” terang Sodik.

Ternyata, kapitalisme yang jadi lahan subur membabibutanya tagihan pajak yang mencekik rakyat. Sampe-sampe pemerintah daerah tega mau mungut pajak juga dari pedagang warteg dan bubur kacang. Kapitalisme yang memaksa pemerintah kita menjadikan pajak sebagai sumber utama pemasukan kas negara. Sementara pengelolaan sumber daya alam yang seharusnya mensejahterakan rakyat dan bisa menutup defisit anggaran negara malah dikasih ke swasta. Jadi, kalau dengan kekayaan alam yang melimpah rakyat Indonesia kebanyakan miskin melarat dan dikejar-kejar pajak, apa kata dunia?![Nurbowo]

Di Muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi#9