Profesor Kok Ngedrugs?

Majalahdrise.com – Celaka 12! Guru besar Universitas Hasanudin (Unhas) Makassar, Prof DR Musakkir SH. MH dan seorang dosen Ismail Alrip SH, M.KN ditangkap saat pesta sabu bareng mahasiswinya, Nilam, di Hotel Grand Malibu, Jumat (14/11/2014) dinihari. Polisi menyita dua paket sabu lengkap dengan alat hisapnya.

Di hotel yang sama, di kamar lain, ditemukan Andi Syamsuddin alias Ancu (44), warga BTN Ara Keke, Kabupaten Bantaeng bersama mahasiswi Ainum Nakiyah (18), warga Jalan Pelita, Makassar. Di sini disita sabu seberat 1 gram, 2 butir ekstasi dan alat penghisap sabu (bong). Nah, dari pengakuan Ancu, barang haram itu didapat dari teman di kamar 205.

Ditangkaplah Harianto alias Ito (32), staf Zona Cafe, warga Jalan Kapasa Raya, Daya. Di dalam kamar itu, polisi menyita satu paket sabu sisa pakai. Total dari tiga kamar tempat pesta sabu ditangkap enam orang (www.kompas.com,14/11/2014)

Hampir bersamaan, Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap dua artis VM dan K, di diskotek Domain, Senayan City, Jakarta. VM diduga Vicky Monica, pendatang baru kelahiran Duri, Riau, 17 April 1990, pernah main di Ganteng-Ganteng Srigala, film Mengejar Malam Pertama dan Pupus. Sedangkan inisial K disinyalir Kevin Kambey, model, bintang iklan, pesinetron dan pemain film yang sedang naik daun (www.tempo.co.id, 17/11/14).

Berita itu cukup menghebohkan di tengah isu BBM. Gimana nggak, sebelumnya kita udah dikejutkan dengan tertangkapnya pelawak senior Kabul Basuki alias Tessy juga karena drugs. Duh, kayaknya generasi muda ampe tua kompak ya, doyan nge-fly. Buktinya, BNN merilis, 500.000 warga Jakarta jadi pengguna narkoba. Itu artinya sekitar 7 persen dari total 7 juta penduduk Jakarta (www.tempo.co.id, 30/10/14).

Itu baru di Jakarta. Juga, baru yang kedata. Belum yang nggak terungkap dan di kota-kota besar lainnya. Macam kasus di Makassar itu. Bayangin, hanya satu malam, di satu hotel aja, ditemukan enam pengguna narkoba. Kalau begitu angka sesungguhnya pasti ibarat fenomena gunung es: ketahuan pucuknya doang dan jumlah sebenarnya jauh berlipat.

 

Salahkan Pendidikan

Khusus kasus Profesor, ini jelas tamparan keras buat dunia kampus khususnya dan dunia pendidikan umumnya. Yup, kalo artis kena narkoba, emang dunia mereka image-nya udah buruk. Pesta, dunia malam dan gaya hidup bebas lekat dengan mereka. Banyak duit, punya jaringan, tergodalah belanja barang haram. Apalagi tingkat stres karena persaingan cukup tinggi, akhirnya narkoba jadi pelarian.

Lah kalo profesor yang melakukannya? Alamak! Sungguh memalukan! Gelar tertinggi dengan sederat titel nggak ngasih teladan kebaikan sama sekali, malah berperilaku maksiat. Ngajak-ngajak mahasiswinya lagi. Gimana berharap mahasiswa jadi generasi terbaik jika profil pendidiknya aja cacat moral.

Bisa jadi, ini karena banyak banget para pendidik bergelar akademik bergengsi itu jebolan dari luar negeri sono. Lulusan dari kampus-kampus di negara-negara sekuler, khususnya Barat, udah pasti sedikit banyak terpapar gaya hidup liberal.

Tak sedikit dari mereka yang bahkan menjadi corong dari peradaban rusak Barat, paradigma nyeleneh, pemikiran asing dan filosofi sekuler yang sangat bertentangan dengan Islam. Pola pikir mereka banyak yang udah kebarat-baratan, seperti toleransi yang salah kaprah, penggiat pluralisme, dialog antaragama, pembela liberalisme dan bahkan penentang Islam.

Lagian, tak sedikit profil pendidik saat ini yang mampu meraih titel akademik tinggi di usia relatif muda. Begitu lulus S1, langsung lanjut S2 dan seterusnya hingga bisa meraih gelar profesor, doktor atau master dalam usia 30-an tahun.Dari sisi akademik, kecerdasan dan ilmu, mungkin mumpuni. Tapi dari sisi kematangan kepribadian sebagai pendidik, termasuk kematangan moral, nah, ini yang jadi persoalan.

Mereka –dan kita– adalah bagian dari output sistem pendidikan Indonesia yang sangat sekuler, jauh dari nilai-nilai agama yang seharusnya menjadi way of life. Tak pernah mendapatkan porsi terbaik dalam pendidikan agama. Selama menikmati bangku sekolah bahkan hingga kuliah, pondasi keimanan dan kepribadian Islam para pelajar sangat rapuh. Dan ternyata, itu terbawa sampai profesor. Godaan duniawi pun menyeret pada perilaku tak wajar dan bahkan berujung nista.

Ini tentu beda kalo sejak dini Islam yang dijadikan dasar dalam membangun sistem pendidikan. Mulai di rumah, lingkungan, sekolah, kampus hingga di masyarakat. Anak didik sejak dini mustinya ditanamkan pemahaman tentang Islam sebagai ideologi alias way of life yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Bahwa drugs itu haram, yakin, profesor juga pasti mafhum. Masalahnya, karena Islam nggak diterapkan dalam tatanan sistem, melainkan sistem sekuler yang bercokol, akhirnya gaya hidup permosif itu yang mendominasi. Padahal, jika profesor –juga umat muslim umumnya– mengkaji Islam secara ideologis, percaya deh, dengan kekuatan ideologi Islam itu, drugs bakal gagalmenggoda iman.

 

Pasti Terungkap

D’riser, jangan ditiru ya ulah profesor nakal itu. Namanya drugs seberapapun dan jenis apapun udah pasti bawa mudharat. Nggak usah tergoda! Lagian, dalam dunia kriminal, para kriminolog (pakar kriminal) itu punya motto “setiap kejahatan pasti terungkap.” Artinya, nggak bakal ada kejahatan di dunia ini yang bakal tertutup rapat.

Kalau kamu berbuat jahat, bermaksiat, mesum atau berperilaku amoral, cepat atau lambat suatu saat pasti terungkap. Hanya soal waktu. Persis dengan pepatah sepandai-pandai menyembunyikan bangkai, baunya bakal kecium juga. So, mau berbut tuh mikir!

Nggah usah coba-coba berbuat aneh-aneh deh. Yang lurus-lurus aja. Yang pasti-pasti aja, yang halal dan dibolehkan Islam. Pikir dulu sebelum berbuat dengan standar Islam, halal dan haram. Cuma itu satu-satunya benteng pertahanan terkuat, terbaik dan terhebat dari serangan budaya hidup maksiat. So, belajar Islam yang bener, serius dan kafah. Jangan ber-Islam setengah-setengah. Apalagi cuma Islam KTP. Eh…Islam di KTP pun bakal dihilangkan, ya? Runyam deh! []

di Muat di Majalah remaja Islam Drise Edisi #42

Batu Akik Bikin Syirik!

Majalahdrise.com – Kalau inget sama cincin batu akik, yang langsung kebayang pastilah wajah Tessy. Pelawak bernama asli Kabul dan suka berperan jadi wanita jadi-jadian bernama Tessy ini selalu terlihat memakai cincin batu akik. Nggak ada jarinya yang kosong, semuanya dipasangin cincin batu akik segede-gede gaban. Kalau dipake nonjok preman bakal lumayan babak belur juga tu preman.

Cincin batu akik sering kelihatan menghiasi jemari para pria dewasa. Tapi beberapa waktu belakangan ini, cincin batu akik mulai kelihatan ngetren di kalangan remaja pria. Cincin batu akik yang dulunya identik banget dengan aki-aki, kini sudah bergeser ke tengah-tengah anak muda. Itulah dia yang namanya tren, selalu bergeser dan selalu berubah.

Dari jaman dulu, batu mulia memang sudah mendapat perhatian dari banyak orang. Keberadaan batu mulia memang melambangkan banyak hal. Menurut Sosiolog Universitas Gadjah Mada Derajad S. Widhyharto, batu mulia menyimpan banyak pesan dan makna sosial yang cukup beragam. Antara lain sebagai perhiasan, pemberi kekuatan, tingkatan spiritualitas, daya mistis, penolak bala, pemberi ketenangan jiwa, maupun identitas kehidupan sosial lainnya. Anak muda yang sekarang ini lagi gandrung sama batu akik bukan hanya menggandrungi keindahannya saja, tetapi juga pesan dan makna sosial yang terkandung di dalam batu akik tersebut.

Batu mulia ini memang memiliki jenis dan warna. Selain jenis dan warna, dipercaya juga memiliki khasiat lho. Khasiat? Iya, khasiat. Kayak jamu aja punya khasiat. Misalnya, batu jenis Amber punya khasiat memancarkan daya tarik. Jenis Aquamarin bisa menyejukkan batin dan keluarga. Jenis Badar Tolo berkhasiat menjaga kerukunan. Badar Besi Merah berkhasiat menangkal sial dan tolak bala. Masih banyak lagi jenis-jenis batu akik yang lain dengan beragam khasiatnya.

Sebagai seorang muslim tentunya kita nggak boleh sembarangan dong ketika hendak melakukan sesuatu. Termasuk ketika berhubungan dengan batu akik ini. Kita harus tahu dulu bagaimana pandangan syariat Islam yang berkaitan dengan dunia ‘perbatuan’ ini. Rasulullah melarang kaum pria mengenakan perhiasan emas. Dengan kata lain kaum pria haram hukumnya memakai perhiasan emas. Kalau berkaitan dengan cincin, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rasulullah memakai cincin perak. Hanya saja, cincin itu tidak dipakai sebagai perhiasan, melainkan sebagai stempel kenegaraan. Cincin stempel Rasulullah ini bertuliskan kalimat “Muhammad Rasulullah” dalam tiga baris kata. Ketika mengirimkan surat dakwah kepada para raja dan kaisar, beliau mencap surat tersebut dengan cincin itu.

Tentang cincin stempel ini, Ibnu Qoyyim memberikan penjelasan. Tatkala Rasulullah saw. hendak menulis surat kepada raja Romawi maka dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya mereka tidak akan membaca suatu surat kecuali apabila dibubuhi tanda (stempel).” Maka beliau menjadikan cincinnya yang terbuat dari perak yang di atasnya terdapat ukiran terdiri dari tiga baris, Muhammad pada satu baris, Rasul pada satu baris, dan Allah pada satu baris, sebagai stempelnya. Beliau pun menyetempel surat-surat ang dikirimkan kepada para raja dengannya serta mengutus 6 orang pada satu hari di bulan Ramadhan tahun 7 H. (Zaadul Ma’ad, juz 1, hal 119-120).

Perhiasan berupa batu akik ini pun memang lebih utama untuk dihindari, karena kita bisa jatuh ke dalam kemusyrikan. Lihat aja, ternyata batu-batu itu dipercaya memiliki kekuatan-kekuatan mistik, dan semua ini bisa membawa kepada kemusyrikan. Padahal kan Allah swt. yang mengatur dan mempengaruhi kehidupan kita, bukannya batu.Tapi kan kita nggak percaya sama yang mistis-mistisnya? Ya tetap saja harus kita hindari karena memang mengenakannya nggak membawa faedah apa-apa, dan malah bisa jadi menggiring kita kepada kemusyrikan. Kalau nggak musyrik besar, ya musyrik kecil. Padahal semua musyrik itu berbahaya lho. Hati-hati ah! []

 

BOX:

Dibawah ini adalah beberapa nama jenis batu dan klaim khasiatnya oleh para dukun/paranormal:

AMBER= pemancar daya tarik
AMARICAN STAR= pesona dan daya tarik
AQUAMARIN= penyejuk batin dan keluarga
BADAR BESI MERAH =penangkal sial dan tolak bala
BATU AIR =kerukunan keluarga dan rejeki
BULU MACAN =wibawa kuat dan karir
FOSIL PATI LELEH = mengembalikan ilmu jahat
FOSIL STEGI = sedot racun serangga
GARNET =perbanyak relasi
GINGGANG =terhindar marabahaya
GIOK = kesejukan batin dan relasi
KENDIT = keutuhan rumah tangga
KOL BUNTET =anti santet
KRISTAL ALAM =tenaga prana dan inspiraso
MALAKIT =penguras stess
NAGASUI =membuka rintangan
ONGKO WULU=kelancaran bisnis
PASIR EMAS =kecantikan dan kesuburan
RUBY =wibawa dan percaya diri
SAFIR =optimis dan inisiatif
SAFIR KUNING = pesona dan daya tarik
SINERET =memutuskan kesialan
YINYANG =keseimbangan batin dan waspada
ZAMRUD =kesejukan batin dan suasana
ZIRCON =kejernihan pikiran

Kebayang deh, apa jadinya kalo kita akhirnya mulai meyakini khasiat yang terkandung dalam batu akik. Tanpa sadar, kita akan mengkeramatkannya dan akan selalu menghubung-hubungkan kejadian sehari-hari dengan batu akik. Kalo lagi bete bin mumet, obatnya pake cincin batu ZIRCON atau karena tampang pas-pasan kemana-mana pake cincin batu safir kuning biar banyak cewek yang kecantol. Hadeuh…hati-hati tuh. Bisa kepeleset perilaku syirik dengan menjadikan batu sebagai benda-keramat/jimat. Ingat Allah cuy! Hanya DIA yang bisa bikin hidup kita tenang dunia akhirat. Bukan batu cincin ciin…![]

di Muat Di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42

Mama, I Love You Full

Majalahdrise.com – Ngeri !! Kemarin pas baca koran pagi-pagi, ada yang berita heboh datangnya dari kota hujan. Seorang remaja siswi SMA tega membakar bayinya hasil hubungan gelap dengan ayah kandungnya. Bergidik seram tujuh turunan membayangkan proses dan dampaknya. Yang denger aja seram, apalagi sang pelaku. Padahal masih remaja loh…. yang tak kalah geger, seorang remaja lelaki tega menggauli ibu kandungnya sendiri di Medan, Sumatera Utara. Hii, makin gila, makin macem-macem.

Hubungan anak ortu ngga seharusnya begini. Apalagi bentar lagi hari ibu, mengingatkan kita betapa besar jasa ibu yang melahirkan dan membesarkan. Ada cerita unik dari seorang tante di Tulung Agung bersama dua puterinya. Anak-anaknya mengirimkan kado kejutan, padahal ngga lagi ulang tahun atau hari spesial lainnya. Ditambah sepucuk surat yang isinya bikin terharu,

“Ibu, ini kado dari kami. Maafin kami ya selama ini nyusahin ibu dan ayah. Kami sayang deh, salam cium”

Mama is My Hero

Islam menjadikan berbakti kepada kedua orang tua sebagai sebuah kewajiban yang sangat utama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika ditanya tentang amal-amal saleh yang paling tinggi dan mulia,

“Shalat tepat pada waktunya … berbuat baik kepada kedua orang tua … jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Suatu ketika Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bertanya kepada seseorang, “Apakah engkau takut masuk neraka dan ingin masuk ke dalam surga?” Orang itu menjawab, “Ya.” Ibnu Umar berkata, “Berbaktilah kepada ibumu. Demi Allah, jika engkau melembutkan kata-kata untuknya, memberinya makan, niscaya engkau akan masuk surga selama engkau menjauhi dosa-dosa besar.”(HR. Bukhari)

Rasul ditanya, siapa manusia yang perlu dihormati setelah Rasulullah. Maka nabi menjawab, “ibumu”. Penasaran, ditanya lagi, setelah itu siapa? Ternyata jawabannya sama, “ibumu”, hingga tiga kali rasul menekan pernyataan itu. Ini membuktikan, posisi ibu tempatnya nomor wahid, bukan saja di hati tapi dalam kacamata agama.

Jika dilihat-lihat, apa aja sih yang udah kita korbanin buat mama? Kayaknya belum apa-apa. Mungkin karena dia terlalu baik, kita jadi lalai untuk berbuat baik. Mama, seberapa pun ia memiliki kelemahan sebagai manusia biasa, jasanya jauh lebih besar dari apapun.

Di dalam Al-Qur’an dikatakan, janganlah kamu berkata “Ahh” kepada orang tua. Hemm, sudah belum ya kita menghormati ortu lahir dan batin? Bermuka masam, membantah, dan lainnya mungkin sering kita lakukan. Jangan-jangan, lebih nurut ke pacar daripada ke Mama. Lebih percaya teman, daripada curhat dan terbuka ke mama. Mama dan kita memang beda zaman. Tapi mama kan pernah jadi remaja, dan kita belum pernah jadi orang tua. Catet!

Mama, pahlawan sebelum kita lahir

Mama, rela menahan sakit ketika kita akan dilahirkan

Buat yang punya salah ke Mama, buru-buru minta maaf.

Buat yang punya janji ke Mama, buru-buru ditepati.

Kita ngga pernah tahu kapan kesempatan yang terbaik, maka bersegeralah.

Salah satu wujud bakti ke ortu, bukan sekedar beliin kado dan SMS mesra. Tapi menjadi kebanggaannya dunia dan akhirat. Tutuplah aurat, rajin mengaji, agar kita menjadi anak shalihah yang menyelamatkan orang tua di hari akhir. Mama belum nutup aurat? Buruan ajak pada syariat. Bukan berlagak, tapi itulah wujud sayang yang nyata. Tak lupa pula, kerjasama bareng papa untuk nyenengin mama. Yakin deh, ortu bangga miliki kamu! Trust me, it work. [Alga Biru]

 

 

BOX

Kisah Seorang Wanita yang Berbakti kepada Ibunya

Yahya bin Katsir menceritakan, “Suatu ketika Abu Musa Al-Asy’ari dan Abu Amir radhiyallahu ‘anhuma datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berbaiat kepada beliau dan masuk Islam. Ketika itu, beliau bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan terhadap istrimu yang kamu tuduh ini dan itu?’ Keduanya menjawab, ‘Kami tinggalkan dia bersama keluarganya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya mereka telah diampuni.’

‘Mengapa wahai Rasulullah?’ tanya mereka. Beliau menjawab, ‘Karena dia telah berbuat baik kepada ibunya.’ Kemudian beliau melanjutkan, ‘Dia memiliki ibu yang sangat tua. Suatu ketika ada orang yang berseru, ‘Hai, ada musuh yang hendak memporak-porandakan kalian!’ Lalu ia menggendong ibunya yang telah tua itu. Bila kelelahan, ia turunkan ibunya kemudian ia gendong ibunya di depan. Ia taruh telapak kaki ibunya di atas telapak kakinya agar ibunya tidak terkena panas. Begitu seterusnya hingga akhirnya mereka selamat dari sergapan musuh.’”

Luar biasa pengorbanannya. Sekarang giliran kita, wahai remaja muslim. Islam sebegini paripurna, tunggu apa lagi. Lets go! []

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #42

Waspadai Tayangan Televisi !! Dari Tontonan jadi Tuntunan

MAJALAHDRISE.COM – ‘Anggota keluarga’ yang satu ini sangat disayangi anak dan orang tua. Di setiap rumah, kehadirannya menguatkan sinyal tanda-tanda kehidupan. Dari bangun tidur hingga tidur lagi, dia setia menemani. Tak heran kalo ayah, ibu, adik, kakak, nenek, kakek, hingga paman dan bibi bisa berantem gara-gara pengen selalu dekat dengan si dia. Tahu dong siapa dia?

Yup, dialah si kotak ajaib televisi (tv). Media telekomunikasi yang pertama kali dibuat oleh John Logie Baird tahun 1923 ini udah jadi perlengkapan wajib di setiap tempat hunian. Kayanya hidup garing bin kering kerontang tanpa kehadiran tv di ruang tengah atau dalam kamar. Berdasarkan survei yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Penyelenggaraan Pos dan Informatika pada tahun 2011, hasil survei menunjukkan kepemilikan tv di sektor rumah tangga yang mencapai 95.56%.

Beragam hiburan dan informasi yang disajikan bikin betah anggota keluarga duduk berlama-lama di depan tv. Hasil riset Nielsen tentang pengukuran pemirsa TV 2012, menunjukkan bahwa sampai saat ini, konsumsi media tv masih memimpin total konsumsi media, yaitu sebesar 94 persen dari total populasi media konvensional di Tanah Air. Dalam sehari, pemirsa bisa menghabiskan sekitar 4,5 jam duduk di depan TV atau 31,5 jam/minggu atau 945 jam/bulan.(Mix.co.id, 06/03/13). Ups, tepos-tepos dah tuh….!

 

Plus Minus Tayangan Televisi

Sebagai media telekomunikasi yang memadukan suara (audio) dan gambar (visual), televisi paling banyak diminati. Tiada hari tanpa tv. Sajian hiburan berupa sinetron, film layar lebar, reality show hingga acara musik menjadi andalan pemirsa untuk mengusir penat, nemenin ibu-ibu ngegosok pakaian, atau sahabat mereka yang nggak ada kerjaan. Update informasi dunia olahraga, politik, selebriti, hingga ekonomi terus menghiasi layar kaca. Penonton jadi banyak tahu kondisi dalam negeri atau perkembangan teknologi. Biar nggak dianggap kuper kalo lagi ngobrol sana-sini.

Sayangnya, tayangan televisi nggak semuanya mendidik. Perlahan namun pasti, unsur edukasi yang seharusnya jadi bagian yang terpisahkan dari tayangan tv mulai meredup. Pemirsa lebih banyak disodorkan acara hiburan dengan segudang iklan di dalamnya. Dari mulai sinetron kacangan hingga film kartun yang kental dengan adegan kekerasan seperti serial Tom and Jerry atau khrisna yang mengisi jam tayang utama. Anak-anak belum bisa memisahkan antara adegan di layar kaca dan kejadian di dunia nyata. Sehingga menganggap apa yang ditontonnya dari atraksi hiburan smakcdown hal yang biasa dan bisa dilakukan siapa saja. Awalnya hanya tontonan, karena sering dilihat jadi tuntunan. Akhirnya, anak pun jadi pelaku dan korban kekerasan. Waduh!

Sudah banyak kasus yang menunjukkan dampak tayangan televisi kepada anak. Baik dampak secara fisik, psikis maupun perilaku. Salah satunya menimpa Heri Setiawan (12) yang diduga tewas karena keingintahuannya mempraktikkan trik sulap dari Limbad, tokoh favoritnya di televisi. Bocah itu ditemukan tewas tergantung di ranjang tingkat. Pengakuan keluarga, ia tidak pernah melewatkan acara sulap dan selalu menirukan atraksi sulap. (Kompas.com, 16/12/2009)

Ada juga tragedi tewasnya Renggo Khadafi (11), siswa kelas lima SDN Makasar 09, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Korban tewas setelah sebelumnya diduga dianiaya kakak kelasnya, SY (12) pada Senin (28/4/2014). Dan baru-baru ini, wajah pendidikan ibu pertiwi kembali tercoreng oleh video kekerasan siswa SD terhadap temannya di Sumatra Barat 18 September 2014 lalu. Tim pemeriksa kondisi psikologis korban dan pelaku kekerasan di Sekolah Dasar (SD) Trisula Perwari Bukittinggi, Sumatera Barat, mengatakan para siswa pelaku penganiayaan terhadap rekan mereka bersikap brutal karena terpengaruh tayangan televisi.Inilah dampak buruk tayangan televisi bagi anak-anak. Masihkah kita merasa aman ‘menitipkan’ anak-anak pada tayangan tv biar nggak nangis? Atau membiarkan adik tersayang hanyut dalam cerita fim kartun dan sinetron yang dipenuhi adegan kekerasan? Hati-hati ah!

 

Bahaya Dibalik Layar Kaca

Para produsen nggak sembarangan membelanjakan iklan durasi minimal 15 detik pada sebuah tayangan. Mereka mesti lihat dulu, sepopuler apa acara buat nayangin iklannya. Disinilah peran rating tayangan tivi berbicara. Rating dijadikan indikator untuk mengukur popularitas acara tivi. Kalo ratingnya tinggi, berarti penontonya banyak. Acara model gini yang dicari oleh para produsen untuk pasang iklannya. Pemasukan dari iklan ini yang jadi ladang uang bagi para pengelola tv.

Buntutnya, pengelola televisi menuntut rumah produksi untuk bikin acara tv yang layak tayang. Syaratnya cuma satu: banyak diminati dan memiliki rating tinggi meski minim atau kagak ada unsur edukasi. Rumah produksi pun berlomba-lomba melakukan investigasi di lapangan. Nyari penampakan yang unik sekaligus menggelitik di lingkungan pemirsa tv. Duplikasi film sana-sini untuk bikin sinetron kejar tayang. Dengan dalih merespon keinginan pemirsa, mereka pun sekenanya bikin acara.Nggak peduli lagi ama kualitas acara yang disiarkan. Biar miskin unsur pendidikan, yang penting…rating man… ratiiing! Ciloko!

Walhasil, makin hari tayangan tv sarat dengan iklanyang bikin bete. Belum lagi nilai-nilai sekuler dan budaya barat yang dengan bebas dijajakan dalam setiap tayangan. Berikut beberapa bahaya dibalik layar tv yang wajib diwaspadai.

 

  1. Mengancam Akidah

Belakangan, film produksi bollywood kembali marak tayang di layar kaca. Dari film kartun Bima Sakti, Serial Krisna, hingga Mahabrata banyak yang setia menanti jam tayangnya. Padahal film-film India itu sarat dengan muatan kepercayaan terhadap dewa yang menyalahi hukum syara. Bagi seorang muslim, tentu gak ada pantasnya melototin itu sinetron apalagi sampe terhanyut dalam rangkaian ceritanya. Allah swt ngingetin kita, “. . .Maka jauhilah penyembahan berhala yang najis itu dan jauhilah pula qaula az-zur.” (QS al-Hajj: 30)

Para ulama menyebutkan bahwa makna “qaul az-zur” adalah semua ungkapan-ungkapan yang diharamkan termasuk pula ungkapan dusta. Para ulama juga menjadikan tontonan terhadap “qaul az-Zur” adalah hal yang haram.Lihatlah Allah menggandengkan larangan terhadap “qaul az-zur” dengan larangan menjauhi sesembahan dan berhala. Anehnya, justru sebagian kaum muslimin menjadikan kisah Mahabarata dan sejenisnya yang lebih dari “qaul az-zur” sebagai hiasan mata dan telinga di depan layar kaca. Catet!

 

  1. Mendorong pergaulan bebas

Selain kekerasan, unsuk pornografi dan daya tarik seksual menjadi menu utama dalam sinetron remaja. Dilansir sebuah media nasional, Republika (Ahad 9 maret 2008), bahwa hasil riset 67 peneliti dari 18 perguruan tinggi di Indonesia menemukan fakta bahwa berjubelnya adegan-adegan seks dalam tayangan sinetron remaja. Menurut mereka peneliti tersebut sebagian besar berpusat pada adegan hubungan seks (57%). Adegan tersebut memang tidak secara langsung memperlihatkan hubungan seks, namun shots pembukanya  sudah mengasosiasikan bahwa hubungan tersebut akan terjadi. Jenis adegan seks lainnya adalah ciuman (18%) pemerkosaan (12%) dan kata-kata cabul (10%). Ditemukan pula adegan telanjang (2%) dan seks menyimpang (1%). Porsinya memang kecil, namun fakta bahwa adegan semacam ini muncul secara bebas di layar kaca adalah fenomena yang perlu dicermati.

Pembiasaan remaja yang dicekoki gaya hidup bebas dan pornografi terselubung pada tayangan sinetron membentuk perilaku permisif alias serba boleh. Ngerasa cuek aja gaul bebas dengan lawan jenis dan berbusana yang mengumbar aurat. Boro-boro inget dosa saat dibukaan pintu maksiat oleh pujaan hati dengan pdkt. Pacaran menjadi hal yang lumrah bahkan wajib. Lanjut ke ekspresi cinta dari sekedar jalan berduaan, pegangan tangan, berpelukan, ciuman, hingga perzinaan. Ngeri!

  1. Menyuburkan tindakan kekerasan

Melalui tayangan sinetron yang biasa mempertontonkan adegan bullying, remaja diperkenalkan dengan budaya saling menindas dan menjadikan kekerasan sebagai solusi. Kalo benci sama teman sekolah, solusinya dengan kekerasan verbal berupa caci maki dan umpatan. Atau malah tindakan fisik. Meski cuman skenario, tapi dibenak penonton itu terlihat nyata dan terus diulang dalam setiap sinetron remaja. Otak remaja menjadi tumpul dalam mencari solusi untuk masalah yang dihadapi. Karena yang ada dibenaknya, cuman berantem, bully, atau malah lari. Cupu!

Massifnya tayangan film layar kaca yang mempertontonkan kekerasan secara kasat mata, berakibat fatal. Masyarakat pun akhirnya menjadikan kekerasan sebagai hiburan. Sama seperti di AS. Tahun 1999 keluarlah buku berjudul Mayhem: Violence As Public Entertainment yang meneliti dampak jangka panjang tayangan kekerasan kepada pemirsa. Muncullah ‘monster-monster’ kecil berupa pelajar yang melakukan penembakan terhadap kawan-kawannya dan guru-gurunya di sekolah.Seperti pernah terjadi di di Kota Newton, Negara Bagian Connecticut di Sekolah Dasar Sandy Hook yang menewaskan 28 orang, termasuk 14 anak SD. Tragedi ini terjadi pada 14 Desember 2012.Ngeri!

 

  1. Mendongkrak budaya konsumtif

Gencarnya tayangan iklan yang kerap menyapa di jam tayang utama bikin sinyal sophaholic remaja kian menguat. Mulai dari obat anti jerawat hingga gadget terbaru dan pulsa paket hemat. Godaan iklan menampilkan idola remaja dan model yang penampakannya oke punya. Walhasil, remaja kian sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Udah punya smartphone yang masih berfungsi baik, ngerasa ketinggalan jaman kalo nggak pake smartphone terbaru yang bisa jofie alias joget selfie.

Padahal jelas banget perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan sifatnya terbatas. Sementara keinginan nggak kenal rasa puas. Makin dimanja, makin menggila. Rasa inilah yang dibidik produsen dengan balutan aksesoris trendy bin gaul. Beli barang bukan karena butuh, tapi demi gengsi. Bukan karena manfaat, tapi potongan harga yang memikat. Nggak peduli dengan isi, yang penting kemasannya menarik hati. Remaja pun terhanyut dalam gaya hidup gila belanja alias sophaholic. Kondisi ini didukung dengan kemudahan akses belanja secara online. Ini terungkap dari survei yang dilakukan oleh perusahaan penyedia teknologi pembayaran global, Visa.Sekitar 76 persen dari pengguna internet di Indonesia berusia 18 sampai 30 tahun belanja online dengan jumlah belanjaan rata-rata Rp 5,5 juta per tahun.(tribunnews.com, 01/28/2014)

 

  1. Mendewakan gaya hidup hedonis

Kehidupan mewah bin glamour artis yang setiap hari mengisi layar kaca, menebarkan virus hedonisme di kalangan remaja. Gaya hidup hedonis nan glamour yang mengejar kesenangan duniawi kerap dipertontonkan dengan provokatif oleh selebritis. Lihat saja pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina yang merampok hak siar publik selama 2 hari tayang di televisi. Biaya yang dikeluarkan untuk pernikahan glamour ini sekitar 10,3 Miliar (http://celebrity.okezone.com, 17/10/2014). Belum lagi biaya hidup artis lainnya yang setali tiga uang. Syahrini yang selalu bikin trendsetter merogoh kocek Rp. 1 Miliar untuk kebutuhan panggungnya. Ada juga Krisdayanti di era kejayaannya, rela ngeluarin duit Rp. 100 juta untuk perawatan giginya biar rata dan bersinar.

Nggak masalah, kalo gaya hidup mewah selebriti dinikmati sendiri. Sialnya, justru jadi incaran berita para juri pena. Tiap hari remaja disuapin indahnya hidup mewah ala artis. Walhasil, tayangan kehidupan glamour artis bikin penonton remaja tak kuasa menahan keinginannya untuk bisa mencicipi hidup mewah. Caranya, ada yang ikut ajang pencarian bakat atau menghalalkan segala cara demi meraih popularitas. Miris!

Makanya kita mesti bisa kendalikan diri dan waktu biar nggak abis melotototin tv. Walau hukum nonton tv itu mubah, tetep harus dijaga jangan sampai jadi masalah. Kalo ternyata acara tv bikin kita terlena atau malah menjerumuskan, pilihan terbaik adalah dengan mematikan atau meninggalkannya.

Dari Abu Hurairah ra dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya . (Hadits Hasan riwayat Turmuzi dan lainnya) [Tirmidzi no. 2318, Ibnu Majah no. 3976]

 

Musuhi Televisi Aja Yuk!

Tenang…tenang…nggak usah pake nyolot gitu. Sebenarnya bukan tv-nya yang jadi musuh, tapi acara-acaranya yang makin amburadul. Dari berita kriminal yang belepotan darah, informasi seputar seks yang diumbar, hingga penampakan makhluk gaib, semua deh ada di situ. Termasuk sinetron remaja yang mengumbar gaul bebas dan kekerasan. Kudu dihentikan!

Yang paling bahaya dari televisi adalah pengkondisian untuk membenarkan sesuatu yang salah atau nggak wajar. Dalam ilmu komunikasi, kesalahan bisa menjadi maklum jika diopinikan terus-menerus sebagai sesuatu yang benar dan wajar. Dan televisilah ujung tombak untuk pengopinian itu. Seperti kampanye gaul bebas remaja dan aksi bulying pada teman sebaya. Anak dan remaja jadi terbiasa meniru apa yang dilihatnya di layar kaca. Bermesraan di sekolah, tonjok-tonjokan, menghina guru, pelecehan seksual sampe tindakan kriminal. Karena bentuk penerimaan seperti itulah yang sampe kepada mereka melalui sinetron GGS, Manusia Harimau, atau Cakep-Cakep Sakti. Waduh!

Upaya protes terhadap tayangan televisi yang cuma ngejar rating udah sering dilontarkan. Sampe-sampe Komisi Penyiaran Indonesia berulang kali mengeluarkan rekomendasi tayangan yang tak layak tonton. Tapi tetep aja, tuh acara nongol bebas. Protes masyarakat dan teguran dari KPI seolah tak digubris pihak pengelola televisi. Kalo rating acaranya tinggi, gimana caranya the show must go on. Kalo perlu, ganti judul. Stop sebentar terus tayang lagi. Ibarat pepatah, anjing mengonggong, Pak Bolot tetep berlalu. Gubrak!

Untuk beresin masalah tayangan televisi, kita mesti lebih jeli. Karena yang terlibat dalam masalah acara tv ini nggak cuma pengelola tv, rumah produksi, atau rating yang tinggi. Tapi juga melibatkan pemerintah sebagai instansi negara tertinggi. Makanya ada dua jalan keluar yang bisa kita tempuh.

Pertama, secara praktis kita kudu meminta pemerintah untuk memproduksi atau memilih tayangan cerdas berkualitas. Penuh unsur pendidikan tanpa harus kehilangan sentuhan hiburan. Film dokumenter Harun Yahya, sejenis sinetron Keluarga Cemara yang pernah ada, atau kartun animasi seperti Syamil dan Dodo bisa menjadi salah satu contoh. Catet!

Syukur-syukur kalo diputar tayangan cerdas yang islami yang menumbuhkan semangat berjuang mengingat mayoritas penduduk negeri ini muslim. Seperti film ar-Risalah (The Message) garapan Mustafa Akkad yang mengisahkan perjalanan hidup Nabi Muhammad saw.; Children of Heaven yang bercerita tentang adik-kakak yang pake sepatu gantian biar bisa sekolah; kisah khalifah Umar Bin Khathab, atau pengajaran tata cara berwudhu, shalat, dan doa sehari-hari.

Ditambah kisah-kisah perjuangan para pahlawan Islam yang kini makin banyak dibuat dalam bentuk VCD seperti Khulafa ar-Rasyidin atau The Lion of Desert. Malah ada yang kartun juga lho seperti Hancurnya Pasukan Gajah, Nabi Ibrahim dan Namrudz, atau Petualangan Si Salman. Bagusnya lagi kalo disiarin pada jam-jam pas anak-anak betah di depan TV. Kalo begini kan asyik. Generasi muda muslim jadi nggak asing ama agamanya sendiri. Dan tontonan layak jadi tuntunan. Betul?

Yang kedua, dan ini yang terpenting yang akan mengokohkan solusi pertama. Negara kudu berani menolak kapitalisme, mengubur sekulerisme, dan menerapkan aturan Islam. Dengan aturan Islam negara akan melarang beredarnya tayangan berbau syirik, mengumbar seks, eksploitasi idiot dan banci, atau gambaran gaya hidup sekuler orang-orang Barat. Tayangan cerdas berkualitas seperti yang diharapkan, akan menemani hari-hari kita di ruang keluarga. Hmm… indahnya. Karena itu nggak bosen-bosennya kita ngajak semuanya untuk aktif dalam dakwah. Terapkan syariah, tegakkan khilafah. Biar kita semua dapet berkah. Yuk ah, jangan tunggu hari esok! [@hafidz341]