Derap Rantai

Episode 8

drise-online.com – Sudah hampir dipastikan bahwa Mutsana dan Jabal akan tertangkap, namun Allah berkehendak lain. Tiba-tiba, pada dinding batu gang itu, di sisi sebelah kanan, muncullah pria kurus berwajah kutil, seolah-olah tadi dia bersembunyi di balik udara yang tipis. Ternyata ada sebuah pintu rahasia di dinding batu itu yang warnanya amat serupa dengan bagian-bagian dinding yang lain, sehingga tersamarkan. Pria itu melongok dari balik pintu, kemudian melambaikan tangannya, memanggil Mutsana dan Jabal.

Seperti mendapatkan oase di tengah-tengah gurun pasir, Mutsana dan Jabal bergegas menghampiri pintu itu kemudian memasukinya. Pria berkutil buru-buru menutup pintu itu di belakang mereka. Sampailah mereka di sebuah ruangan yang gelap, cahaya matahari hanya menerobos dari sela-sela di bagian atap. Pria berkutil memimpin mereka keluar dari ruangan itu melalui sebuah pintu batu yang tersambung pada bagian belakang sebuah rumah. Kini mereka berada di sebuah dapur. Jantung mereka berdegup kencang, apakah mereka benar-benar telah selamat?

“Kalian sembunyilah di sana, di sudut ruangan ini, aku akan keluar melihat keadaan,” kata Pria berkutil.

Mutsana dan Jabal tak punya pilihan lain, mereka menurut saja pada perintah pria itu yang segera menghilang dari pandangan menuju keluar.

“Apakah dia Aswad?” Tanya Jabal, dia merapatkan punggungnya ke dinding, napasnya masih menderu.

“Semoga saja,” sahut Mutsana.

Tak lama kemudian pria itu kembali, dia terlihat lebih tenang, sepertinya bahaya telah berlalu. Dia menghampiri Mutsana dan Jabal dengan membawa dua gelas air yang menyejukkan.

“Bangunlah, keadaan sudah aman,” kata pria itu sambil menyerahkan gelasnya. “Silakan duduk!”

Dengan segelas air di tangan masing-masing, Mutsana dan Jabal duduk di kursi yang terletak di dapur itu. Setelah membisikkan nama Tuhan, mereka meminum air itu dengan rasa syukur yang berlipat-lipat. Pria itu memerhatikan gerak-gerik Mutsana dan Jabal dengan saksama, terbitlah senyum tipis di wajahnya yang buruk. Sebuah senyuman tulus yang selalu dia perlihatkan ketika dia melayani pelanggannya. Dan bukan cuma itu, tapi juga kepada semua orang.

“Alhamdulillahhh,” Jabal mengembuskan napasnya dengan lega setelah dia meneguk air segelas itu.

“Apakah anda bernama Aswad bin Asadi?” Sepertinya Mutsana sudah tidak sabar, dia langsung mengajukan pertanyaan kepada pria yang ada di hadapannya.

“Akhirnya kalian datang juga, sudah bertahun-tahun aku menunggu kalian. Aku Aswad bin Asadi,” sahut pria itu. Dia kembali tersenyum kepada Mutsana dan Jabal.

Ada sebuah ketenangan dan kesejukan di balik senyum Aswad. Dia melahirkan senyumnya itu dari hati dan imannya. Bahwa seorang muslim mestilah selalu memperlihatkan wajah yang berseri-seri kepada saudaranya, seperti itulah yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam. Dia memang buruk rupa, tapi terpancar ketampanan dari sisi yang lain, dari jiwanya. Dan hal itu hanya bisa terjadi pada orang-orang yang selalu dekat dengan Tuhannya, serta selalu bangun di keheningan malam untuk menyatakan kepada semesta bahwa dia hanyalah hamba bagi Yang Mahapencipta.

“Terimakasih banyak telah menolong kami. Semoga Allah membalas kemuliaan hati anda. Kami amat bersyukur pada akhirnya Allah memertemukan kami dengan anda.”

“Untuk sementara ini keadaan kalian aman, tapi tidak untuk seterusnya, karena prajurit Persia mengadakan razia di mana-mana sebab mereka tahu bahwa kalian belum keluar dari kota.” Kata Aswad.

“Kami mohon bantuan anda, semoga Allah menambah barokah untuk anda,” tambah Mutsana.

“Sebetulnya tadi kami sudah melihat anda, tapi kami ditipu oleh seorang anak kecil yang menunjukkan bahwa Aswad bin Asadi adalah seorang pria bertubuh gemuk,” Jabal berkisah. “Dia langsung saja meneriaki kami sebagai muslim dan terjadilah kekacauan itu.”

“Sepertinya ciri-ciri yang kalian dapat tentang aku hanya pada wajahku, dan tanpa kalian duga, ada satu orang lagi pedagang kain yang wajahnya sejenis dengan wajahku,” Aswad tersenyum simpul sambil meraih kursi untuknya sendiri. “Tidak heran kalau lelaki itu meneriaki kalian sebagai muslim, dia adalah sainganku dalam perdagangan, dan dia sangat membenciku. Namanya Kourosh, dia sudah lama curiga bahwa aku adalah seorang orang Islam. Sebenarnya sebelum dia datang ke pasar ini, tidaklah sulit untuk menemukan aku, saudagar kain yang wajahnya kutilan adalah Aswad bin Asadi, hampir semua orang tahu itu. Ditambah lagi kalian bertanya kepada orang yang salah.”

“Sekali lagi,” kata Mutsana, “Aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah menolong kami.”

“Itu sudah kewajibanku. Aku sudah mengetahui kedatangan kalian ketika kudengar kekacauan itu di kejauhan. Ketika orang-orang berteriak sedang mengejar dua orang muslim, aku langsung bergerak. Sebenarnya aku dan timku yang menuntun kalian hingga kalian bisa berada di sini. Jika kalian hendak belok ke tempat yang salah, pasti akan ada anggota timku yang menghalangi jalan kalian agar kalian belok ke jalur yang benar, terus begitu sampai kalian tiba di gang tempat kalian bertemu denganku tadi.”

Mutsana menatap Aswad dengan serius, sementara Jabal melongo. Mereka terpesona dengan semua hal yang dikatakan Aswad.

“Sebenarnya aku kagum sekali dengan pintu rahasia tadi,” kata Jabal sambil mengangkat tangannya. “Aku sempat berpikir bahwa anda bisa terbang, atau bisa menghilang. Sebab jalan itu buntu, tapi anda tak ada di mana pun.”

“Pintu itu cuma salah satu dari pintu rahasia yang telah berhasil kami bangun,” kata Aswad.

“Sepertinya obrolan akan menjadi lebih panjang,” kata Mutsana sambil tersenyum simpul. “Aku rasa anda harus juga menceritakan misi anda kepada kami.”

Aswad menggumam, “Untuk beberapa menit ke depan keadaan masih relatif aman, insya Allah. Jadi kurasa kita bisa berbagi cerita.”

Bersambung,,,,,

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #37

Derap Rantai

Episode 7

drise-online.com – “Kalau begitu siapa dulu yang akan kita datangi? Yang kurus, atau yang gemuk?” Tanya Jabal. Pandangan matanya terulur kepada pedagang kain bertubuh kurus dan berwajah penuh kutil di seberangnya. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke sisi lain, kepada seorang pedagang kain bertubuh gemuk yang juga berwajah penuh kutil. Dia mengamati dua pedagang kain berwajah kutil itu, salah satu di antaranya, diduga kuat, adalah Aswad bin Asadi, orang penting di dalam misi mereka yang harus mereka temui.

“Kita tidak tahu, yang mana yang bernama Aswad,” kata Mutsana.

“Kalau begitu kita cari tahu dulu,” tatapan mata Jabal segera bergerak ke berbagai arah, dia sedang mencari-cari sesuatu, atau seseorang.

Di mana-mana terlihat prajurit Persia yang sedang berjaga-jaga. Keadaan itu membuat gerak mereka semakin terbatas. Mata Jabal menangkap seorang anak laki-laki yang sedang mendekati mereka. Anak laki-laki itu berpakaian kumal, kulitnya kotor dan tidak beralaskaki. Ketika anak laki-laki itu lewat di depan mereka, Jabal langsung mendekatinya. Dia tunjukkan lagi kefasihannya berbahasa Persia.

“Pedagang kain bernama Aswad bin Asadi yang mana orangnya?”

Tanpa bicara apa-apa, anak itu segera menunjuk kepada pedagang kain berwajah kutil yang gemuk, kemudian melarikan diri begitu saja sementara Jabal dan Mutsana tidak sempat menangkapnya.

“Yah, setidaknya kita sudah tahu yang mana Aswad,” kata Mutsana. “Ayo kita ke sana!”

Mereka melangkah menembus kerumunan, mendekati pria berwajah kutil yang gemuk. Orang-orang terlihat sedang ramai tawar menawar harga, Mutsana dan Jabal makin merapat. Mereka mengitari lapak-lapak dan lemari-lemari kain untuk terus merapat kepada pria yang diduga Aswad bin Asadi sementara kerumunan sedang memenuhi tempat itu.

“Tuan bernama Aswad bin Asadi?” Tanya Jabal ketika dia dan rekannya telah berdiri di dekat lelaki gemuk berwajah kutilan itu.

“Siapa kalian?” Pedagang kain itu menoleh kepada Jabal dengan tatapan mata penuh tanya dan wajah masam. Dia terlihat kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jabal. Raut wajah yang masam ditambah kutil yang bertaburan membuat wajah lelaki itu semakin tidak enak dilihat. “Apa yang kalian inginkan dari Aswad?”

“Jawab saja pertanyaanku, kau Aswad atau bukan?”

“Heh, kalian pasti temannya Aswad,” lelaki kutilan itu berkacak pinggang sambil memamerkan seringainya.

“Masya Allah, anak kecil tadi menipu kita,” bisik Jabal.

Mutsana dan Jabal terperangah, mereka tak menyangka apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa yang terjadi kemudian membuat mereka terkejut alang-kepalang.

“TANGKAP MEREKAAAA…!!!” Pedagang kain kutilan itu tiba-tiba berteriak sambil menunjuk lurus kepada Mutsana dan Jabal. “TANGKAP MEREKAAAA… MEREKA PENYUSUP… TANGKAP ORANG ISLAM ITUUUU… PRAJURIT TANGKAP MEREKAAAA…!”

Pasar Ubullah geger. Huru-hara pecah di tengah-tengah kawasan pedagang kain. Mutsana dan Jabal segera melarikan diri tanpa buang-buang waktu, mereka membelah kerumunan itu. Dua orang prajurit bersenjata tombak dan perisai menghadang di depan mereka, Mutsana dan Jabal menghantamkan tinju ke wajah kedua prajurit Persia itu yang segera terjengkang di dasar pasar.

Mutsana dan Jabal terus melarikan diri. Mereka berbelok di sebuah tikungan, sudah ada seseorang yang sedang mereka tuju, lelaki berwajah kutil yang kurus. Mereka sedang menuju lapak pedagang kain berwajah kutil yang kurus sementara prajurit-prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Kalau lelaki gemuk berwajah kutil bukanlah Aswad, berarti lelaki kurus berwajah kutil adalah Aswad. Mereka berencana melarikan lelaki itu.

Sayangnya, ketika mereka telah mendekati tempat yang mereka tuju, mereka tidak menemukan pria kurus berwajah kutil itu. Prajurit-prajurit Persia yang mengejar mereka semakin dekat, orang-orang di sekitar mereka terheran-heran dengan apa yang sedang terjadi.

“TANGKAP MEREKAAAA… TANGKAP ORANG ITUUU…” Para prajurit memekik kencang.

Karena teriakan itu orang-orang jadi turut bernafsu untuk menangkap Mutsana dan Jabal, pemerintah Kekaisaran Persia memang sering kali memberikan berbagai hadiah bagi orang yang berjasa menangkap penjahat. Hal itu membuat mereka tidak sempat mencari pria kurus berkutil itu. Mereka segera melarikan diri, keadaan benar-benar mendesak.

Derap kaki Mutsana dan Jabal menjejak tanah dengan cepat. Mereka berlari beriringan, kadang saling susul-menyusul. Sementara orang-orang dan para prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Terjadilah kejar-kejaran yang menegangkan.

Mereka tahu persis kalau mereka sampai tertangkap, pastilah mereka akan segera dieksekusi karena dicurigai sebagai mata-mata. Semenjak Kekaisaran Persia merasa terancam dengan munculnya Khilafah Islamiyah, nasib orang yang dicurigai sebagai mata-mata tidak pernah baik, mereka pasti akan segera dieksekusi setelah ditangkap, bahkan tanpa bukti dan tanpa proses peradilan.

Jabal dan Mutsana berlari sekencang-kencangnya, melintasi lapak-lapak dan kios-kios. Mereka sengaja melewati gang-gang sempit di antara bangunan-bangunan agar para pengejar itu kesulitan menangkap mereka. Napas mereka menderu, mereka mulai kehabisan energi. Semakin waktu berlalu, semakin banyak yang mengejar mereka, kalau mereka hanya berlari, cepat atau lambat, mereka pasti akan tertangkap. Di antara deru napas yang terengah-engah itu, Mutsana dan Jabal masih terus membisikkan kalimatullah. Tiadalah perlindungan yang paling kuat dan paling baik, kecuali yang diberikan oleh Allah sang penguasa semesta. Hati mereka memanjatkan doa agar mereka diselamatkan dari orang-orang kafir.

Tiba-tiba Jabal melihat sesuatu tak jauh di depannya, atau lebih tepatnya melihat “seseorang”. Sekelebat saja, dia melihat seorang pria bertubuh kurus dan berwajah kutilan. Lelaki itu berdiri di depan mulut sebuah gang sambil memerhatikan mereka. Kemudian dengan tatapan penuh makna, lelaki itu melambaikan tangannya kepada mereka, seolah-olah memerintahkan mereka agar mengikutinya. Sedetik kemudian lelaki itu telah menghilang ke dalam gang.

Tanpa pikir panjang, Mutsana dan Jabal mengikuti lelaki kutilan itu memasuki gang. Mereka terperangah, ternyata gang itu buntu. Di kiri-kanan gang itu hanya ada tembikar-tembikar dan keramik-keramik tanah liat dalam berbagai ukuran. Pria kurus berwajah kutil itu menghilang begitu saja. Harapan mereka telah pupus, hampir bisa dipastikan mereka tertangkap. Jabal berbalik ke arah mulut gang itu untuk melihat keadaan. Para pengejar itu sudah dekat…

Bersambung

Follow

Episode 7

“Kalau begitu siapa dulu yang akan kita datangi? Yang kurus, atau yang gemuk?” Tanya Jabal. Pandangan matanya terulur kepada pedagang kain bertubuh kurus dan berwajah penuh kutil di seberangnya. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke sisi lain, kepada seorang pedagang kain bertubuh gemuk yang juga berwajah penuh kutil. Dia mengamati dua pedagang kain berwajah kutil itu, salah satu di antaranya, diduga kuat, adalah Aswad bin Asadi, orang penting di dalam misi mereka yang harus mereka temui.

“Kita tidak tahu, yang mana yang bernama Aswad,” kata Mutsana.

“Kalau begitu kita cari tahu dulu,” tatapan mata Jabal segera bergerak ke berbagai arah, dia sedang mencari-cari sesuatu, atau seseorang.

Di mana-mana terlihat prajurit Persia yang sedang berjaga-jaga. Keadaan itu membuat gerak mereka semakin terbatas. Mata Jabal menangkap seorang anak laki-laki yang sedang mendekati mereka. Anak laki-laki itu berpakaian kumal, kulitnya kotor dan tidak beralaskaki. Ketika anak laki-laki itu lewat di depan mereka, Jabal langsung mendekatinya. Dia tunjukkan lagi kefasihannya berbahasa Persia.

“Pedagang kain bernama Aswad bin Asadi yang mana orangnya?”

Tanpa bicara apa-apa, anak itu segera menunjuk kepada pedagang kain berwajah kutil yang gemuk, kemudian melarikan diri begitu saja sementara Jabal dan Mutsana tidak sempat menangkapnya.

“Yah, setidaknya kita sudah tahu yang mana Aswad,” kata Mutsana. “Ayo kita ke sana!”

Mereka melangkah menembus kerumunan, mendekati pria berwajah kutil yang gemuk. Orang-orang terlihat sedang ramai tawar menawar harga, Mutsana dan Jabal makin merapat. Mereka mengitari lapak-lapak dan lemari-lemari kain untuk terus merapat kepada pria yang diduga Aswad bin Asadi sementara kerumunan sedang memenuhi tempat itu.

“Tuan bernama Aswad bin Asadi?” Tanya Jabal ketika dia dan rekannya telah berdiri di dekat lelaki gemuk berwajah kutilan itu.

“Siapa kalian?” Pedagang kain itu menoleh kepada Jabal dengan tatapan mata penuh tanya dan wajah masam. Dia terlihat kesal dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jabal. Raut wajah yang masam ditambah kutil yang bertaburan membuat wajah lelaki itu semakin tidak enak dilihat. “Apa yang kalian inginkan dari Aswad?”

“Jawab saja pertanyaanku, kau Aswad atau bukan?”

“Heh, kalian pasti temannya Aswad,” lelaki kutilan itu berkacak pinggang sambil memamerkan seringainya.

“Masya Allah, anak kecil tadi menipu kita,” bisik Jabal.

Mutsana dan Jabal terperangah, mereka tak menyangka apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa yang terjadi kemudian membuat mereka terkejut alang-kepalang.

“TANGKAP MEREKAAAA…!!!” Pedagang kain kutilan itu tiba-tiba berteriak sambil menunjuk lurus kepada Mutsana dan Jabal. “TANGKAP MEREKAAAA… MEREKA PENYUSUP… TANGKAP ORANG ISLAM ITUUUU… PRAJURIT TANGKAP MEREKAAAA…!”

Pasar Ubullah geger. Huru-hara pecah di tengah-tengah kawasan pedagang kain. Mutsana dan Jabal segera melarikan diri tanpa buang-buang waktu, mereka membelah kerumunan itu. Dua orang prajurit bersenjata tombak dan perisai menghadang di depan mereka, Mutsana dan Jabal menghantamkan tinju ke wajah kedua prajurit Persia itu yang segera terjengkang di dasar pasar.

Mutsana dan Jabal terus melarikan diri. Mereka berbelok di sebuah tikungan, sudah ada seseorang yang sedang mereka tuju, lelaki berwajah kutil yang kurus. Mereka sedang menuju lapak pedagang kain berwajah kutil yang kurus sementara prajurit-prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Kalau lelaki gemuk berwajah kutil bukanlah Aswad, berarti lelaki kurus berwajah kutil adalah Aswad. Mereka berencana melarikan lelaki itu.

Sayangnya, ketika mereka telah mendekati tempat yang mereka tuju, mereka tidak menemukan pria kurus berwajah kutil itu. Prajurit-prajurit Persia yang mengejar mereka semakin dekat, orang-orang di sekitar mereka terheran-heran dengan apa yang sedang terjadi.

“TANGKAP MEREKAAAA… TANGKAP ORANG ITUUU…” Para prajurit memekik kencang.

Karena teriakan itu orang-orang jadi turut bernafsu untuk menangkap Mutsana dan Jabal, pemerintah Kekaisaran Persia memang sering kali memberikan berbagai hadiah bagi orang yang berjasa menangkap penjahat. Hal itu membuat mereka tidak sempat mencari pria kurus berkutil itu. Mereka segera melarikan diri, keadaan benar-benar mendesak.

Derap kaki Mutsana dan Jabal menjejak tanah dengan cepat. Mereka berlari beriringan, kadang saling susul-menyusul. Sementara orang-orang dan para prajurit Persia mengejar di belakang mereka. Terjadilah kejar-kejaran yang menegangkan.

Mereka tahu persis kalau mereka sampai tertangkap, pastilah mereka akan segera dieksekusi karena dicurigai sebagai mata-mata. Semenjak Kekaisaran Persia merasa terancam dengan munculnya Khilafah Islamiyah, nasib orang yang dicurigai sebagai mata-mata tidak pernah baik, mereka pasti akan segera dieksekusi setelah ditangkap, bahkan tanpa bukti dan tanpa proses peradilan.

Jabal dan Mutsana berlari sekencang-kencangnya, melintasi lapak-lapak dan kios-kios. Mereka sengaja melewati gang-gang sempit di antara bangunan-bangunan agar para pengejar itu kesulitan menangkap mereka. Napas mereka menderu, mereka mulai kehabisan energi. Semakin waktu berlalu, semakin banyak yang mengejar mereka, kalau mereka hanya berlari, cepat atau lambat, mereka pasti akan tertangkap. Di antara deru napas yang terengah-engah itu, Mutsana dan Jabal masih terus membisikkan kalimatullah. Tiadalah perlindungan yang paling kuat dan paling baik, kecuali yang diberikan oleh Allah sang penguasa semesta. Hati mereka memanjatkan doa agar mereka diselamatkan dari orang-orang kafir.

Tiba-tiba Jabal melihat sesuatu tak jauh di depannya, atau lebih tepatnya melihat “seseorang”. Sekelebat saja, dia melihat seorang pria bertubuh kurus dan berwajah kutilan. Lelaki itu berdiri di depan mulut sebuah gang sambil memerhatikan mereka. Kemudian dengan tatapan penuh makna, lelaki itu melambaikan tangannya kepada mereka, seolah-olah memerintahkan mereka agar mengikutinya. Sedetik kemudian lelaki itu telah menghilang ke dalam gang.

Tanpa pikir panjang, Mutsana dan Jabal mengikuti lelaki kutilan itu memasuki gang. Mereka terperangah, ternyata gang itu buntu. Di kiri-kanan gang itu hanya ada tembikar-tembikar dan keramik-keramik tanah liat dalam berbagai ukuran. Pria kurus berwajah kutil itu menghilang begitu saja. Harapan mereka telah pupus, hampir bisa dipastikan mereka tertangkap. Jabal berbalik ke arah mulut gang itu untuk melihat keadaan. Para pengejar itu sudah dekat…

Bersambung

Follow @sayfghazi

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #36