Derap Rantai Episode 9

drise-online.com – “AKU ADALAH agen rahasia yang telah ditanam di wilayah Persia ini sejak Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam masih hidup,” Aswad memulai ceritanya. “Jadi misi rahasiaku diberikan langsung oleh Rasulullah sendiri. Aku  ditugaskan untuk meneliti dan mengumpulkan informasi apapun yang berkaitan tentang pemerintah Persia di kota ini. Selain itu, aku diperintahkan untuk membangun sel dan jaringan serta fasilitas rahasia ini. Ternyata Rasulullah memang sudah merencanakan untuk mem-futuhat Persia lewat Ubullah ini. Aku harus terus memertahankan posisiku sampai datang instruksi selanjutnya, dan itulah kalian.”

Shollu ‘ala Rasulillah, semoga Allah melimpahkan rahmat dan barokahnya kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam,” Mutsana memanjatkan solawat untuk Rasulullah. “Kekaisaran Persia memang batu sandungan yang amat besar untuk tersebarnya Islam, karena itu kita harus berupaya sekuat tenaga dalam menyingkirkan batu sandungan ini dengan jihad fi sabilillah.”

Aswad mengangkat tangannya dan berdoa, kemudian mengusapkannya ke wajahnya. “Selama pelaksanaan tugas rahasia ini aku diperintahkan untuk menyamar menjadi pedagang kain. Panghasilannya lumayan juga, dan bisa dijadikan sebagai penopang hidup sekaligus pendukung untuk menjalankan misi. Anggota timku yang lain ada yang menjadi tukang kayu, tukang batu, sampai pegawai administrasi Persia. Tapi sebagian besar adalah pedagang kain.”

“Jumlah tim anda ada berapa orang?” Tanya Mutsana.

“Tujuh puluh orang.”

“Subhanallah,” gumam Jabal. “Semoga Allah menambahkan barokahNya kepada anda dan tim anda.”

Mutsana memeriksa saku celananya. Dibukanya ikatan tali yang mengamankan isinya, kemudian mengeluarkan sepucuk surat kecil.

“Kami diamanahkan untuk menyerahkan surat ini kepada anda. Allah menyaksikan bahwa sekarang amanah telah kami tunaikan,” kata Mutsana.

Aswad menerima surat kecil itu dalam kedua belah tangannya. Sudah lama sekali masanya sejak dia menerima surat misinya yang pertama kali. “Terima kasih banyak. Semoga Allah memberkahi kalian.” Aswad membuka surat itu dan membacanya.

 

 

Assalamu’alaikum

Kepada saudaraku, Aswad bin Asadi

Aku telah mengutus dua orang saudara kita, yakni Mutsana bin Harits dan Jabal bin Abdul’uzza ke Ubullah untuk menemuimu. Serahkanlah seluruh laporan temuanmu kepada mereka. Nanti merekalah yang akan membawanya kembali kepadaku.

Misi selanjutnya untukmu dan timmu adalah, lumpuhkan seluruh fasilitas pemerintahan dan militer Persia di Ubullah. Kita akan melakukan futuhat ke Persia.

Saudaramu

Abu Bakar.

 

 

 

“Khalifah Abu Bakar mengatakan bahwa anda akan menyerahkan sesuatu setelah membaca surat itu,” kata Mutsana. “Kami ditugaskan untuk membawa sesuatu itu kepada Khalifah.”

“Benar,” Aswad mengangguk. “Aku harus menyerahkan seluruh laporan kepada kalian, dan kalian harus mengantarkannya kepada Khalifah Abu Bakar. Semuanya sudah aku siapkan. Silakan ikut aku.”

Aswad memimpin mereka memasuki ruangan bagi tengah. Di dalam ruangan itu sudah ada dipan-dipan yang empuk dan meja-meja yang terletak di atasnya buah-buahan. Ruangan itu terlindungi dari pandangan luar.

“Silakan duduk dengan lebih nyaman, sementara aku mengambilkan seluruh laporanku,” kata Aswad sambil melayangkan lengannya.

“Terima kasih,” kata Mutsana.

Mereka segera mengempaskan tubuh mereka di atas dipan, lelah sekali rasanya. Namun rasa lelah apakah yang paling nikmat kalau bukan rasa lelah dalam mengemban amanah dari Khalifah kaum muslim. Energi mereka telah terkuras, semalaman mereka tidak tidur, ditambah lagi mereka harus dikejar-kejar seperti pencuri ayam. Jabal segera mengambil sebutir anggur hijau yang ada di atas meja, setelah membisikkan basmallah, dia menjejalkan anggur itu ke dalam mulutnya. Dia benar-benar kelaparan, sudah seharian itu mereka tidak makan.

Tak lama kemudian Aswad muncul lagi di ruangan itu dengan membawa setumpuk tebal perkamen berwarna cokelat. Dia letakkan tumpukan perkamen itu di atas meja kemudian dibungkusnya dengan sebuah tas dari kulit.

“Ini semua adalah dokumen laporan yang lengkap untuk Khalifah Abu Bakar Shiddiq,” katanya. “Dokumen ini harus kalian bawa kepada Khalifah.”

“Insya Allah,” kata Mutsana.

“Oya, bagaimana cara kalian masuk ke kota ini? Lewat gerbang utama?” Tanya Aswad.

“Kami tidak lewat gerbang utama. Tidak mungkin lewat sana,” kata Jabal.

“Benar, pemeriksaannya ketat sekali, dan kami tidak punya surat izin masuk,” tambah Mutsana.

“Memang sulit sekali mendapatkan surat izin masuk itu,” kata Aswad, “salah satu syaratnya adalah tidak boleh beragama Islam. Pemerintah Persia memang benci sekali kepada Islam. Jadi kalau begitu kalian lewat mana?”

“Kami mendaki tembok kota di sebelah barat, dan bersembunyi di Rumah Kematian,” kata Jabal. “Pasti anda tahu, rumah hantu yang ada di sebelah barat kota.”

Aswad tergelak, “Ooh, Rumah Kematian, ya semua orang yang tinggal di kota ini pasti tahu rumah itu. sebenarnya kalau kalian tahu sesuatu tentang rumah itu, kalian tidak harus repot-repot menghadapi kekacauan seperti yang baru saja kalian alami!”

“Ada apa dengan rumah itu?” Tanya Mutsana.

Bersambung

di muat di Majalah Remaja Islam Drise Edisi #38