Rabu, 25 Januari 2012 pukul 11.05 WIB
Malam ini lelah menggelayut manja di pundakku. Ku baringkan tubuhku di atas hamparan kasur yang mulai menipis termakan oleh waktu. Berat rasanya mata ini namun tak jua mau terpejam. Pandanganku terus menyapu langit-langit kamar. Sesekali ku merebah ke kanan dan kiri berusaha untuk menutup mata. Bukannya terlelap justru kepalaku makin pening. Entah apa yang terjadi pada diriku, tak biasanya aku bertahan membuka mata hingga larut begini. Apa mungkin ini tanda dari insomnia? Ah,sungguh tersiksanya diriku. Padahal aku tak punya riwayat hidup penderita insomnia. Dan ku rasa bukan itu penyebabnya.
Malam terus merangkak. Sunyi merayap bersama dinginnya angin malam disertai rinai hujan yang membawa aroma syahdu. Menusuk-nusuk lapisan kulitku. Hanya ada suara detik jam dan deru nafasku. Jam dinding kamarku telah menunjukkan pukul 01.10. Itu artinya selama kurang lebih 2 jam aku hanya membalik-balikkan badan tanpa terbayar sedikit pun lelahku. Aku bangkit dari tempat tidur menuju dapur. Mulailah tanganku membuat minuman hangat sebagai teman sepiku. Sengaja ku pilih duduk menghadap jendela.
Sambil menikmati coklat panas mataku tertuju pada bulir-bulir hujan yang jatuh membasahi bumi. Berharap menemukan inspirasi di tengah malam nan syahdu ini. Beberapa teguk coklat panas belum juga mengalirkan inspirasi di benakku. Tanganku mulai tak sabar menggoreskan pena. Ku ketuk-ketukkan pena pada kisi jendela hingga menimbulkan suara unik antara pena, denting jam, dan rinai hujan. Iramanya bagaikan senandung lagu yang memecah kesunyian malam. ‘Inspirasi… oh, inspirasi… dimanakah dikau?’ rintihku.
Pun secangkir coklat panas dalam genggamanku habis tak jua penaku mampu menggoreskan satu kata pun di atas buku jurnalku. Hingga kelelahan mulai merayapiku. Namun ku halau dengan percikan air wudlu. Aku pun tenggelam dalam sujud panjang. Meminta secercah cahaya inspirasi untuk bahan tulisanku kali ini.
———————–000————————
Kamis, 26 Januari 2012 pukul 08.05 WIB Ngantuk mulai merayapiku. Semalam aku hanya tidur 30 menit. Ba’da shalat subuh aku sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah mulai bersih-bersih, mencuci piring , hingga masak pun sendiri.
Maklum, perantau single. Aku lebih suka memasak sendiri dari pada beli di warteg. Sebab, bisa dijamin kesehatan dan kehigienisannya. Pletokkkkk! Sebuah bulatan kertas melayang ke maja kerja mengenai kepalaku. Refleks tanganku mengusap-usap kepala dan memutar badan ke arah datangnya bola kertas itu. Tidak sakit sih hanya terkejut. Ku pasang wajah garang dengan sorot mata penuh tanya, menyelidik. Si empunya malah cengar-cengir membuatku makin geram.
Namun, pribadinya yang hangat dan humoris sanggup meluluhkan kejengkelanku padanya. Kembali ku menekuri layar komputer. Tak lama kemudian sebuah tangan mendarat di pundakku. Sudah bisa ku duga pasti si Jayus, panggilan akrab M.Iwan sholihin, rekan kerja yang melempar kertas tadi. “ Serius amat, Bro? Amat aja gak serius…” sapanya dengan joke andalan khas Iwan. Maka dari itu ia lebih dikenal dengan panggilan Jayus dari pada Iwan.
Sebab ia selalu melontarkan joke-joke di setiap kesempatan. Kali ini sengaja tak ku hiraukan dia. Ku lipat kedua tanganku di depan dada. Dengan wajah di tekuk dan kedua alis menyatu. Menandakan bahwa aku benar-benar sedang berfikir keras. Namun, bukan Iwan namanya jika tak ada cara untuk menghibur rekan kerjanya. “ Ngopi dulu yuk, Bro! Entar Ente bisa stres lho mantengin komputer terus. Santai aja kalee… kayak Ane nih awet muda,” goda Iwan. “ Apa hubungannya ngopi ama awet muda??” aku angkat bicara. “ Ya jelas ada, Bro.” Dia mulai berlagak seperti seorang detektif. “Ehem! Ngopi bisa bikin kita rileks. Karena…..bla…bla…bla…. Nah, kalo pikiran kita selalu rileks maka keriput-keriput di wajah akan jauh. Sehingga wajah akan tampak segar setiap saat, seperti ini.”
Sambil meletakkan ibu jari dan telunjuk di bawah dagu dengan bibir ditarik dua senti ke kanan dan kiri menunjukkan gigi-giginya yang berjajar rapi. Ku kibaskan tangan kananku di depan muka, malas menanggapi ocehan Iwan yang gak bermutu. Melihat gelagatku yang tidak seperti biasanya ia langsung bisa menebak isi hati dan pikiranku. “ Sudah dua hari ini Ane lihat Ente kagak punya spirit. Melalang buana kemana jiwa Ente?” hening sejenak.
“Aha! Ane tau nih, lagi gak dapat ide ya…?” selidiknya. Ku tanggapi ia dengan malas. Hanya kedua bahu dan alisku yang ku angkat. “ Santai aja, Bro. Belanda masih jauh, dunia juga belum berakhir en masih banyak jalan menuju Roma. Jangan kuatir ntar juga dapet. Gitu aja kok repot….”
“ Hufffffh! Antum bisa ngomong kayak gitu, lha Ane? Hampir mau pecah ni kepala. Untung gak sampe frustasi.” Runtukku kesal. “ Padahal deadline cuman 3 hari, udah 2 hari belum ada satu pun ide yang muncul. Kalo hari ini juga gak dapet ide, habislah riwayatku!” sambil kedua tanganku menyangga pelipis. Ku tarik nafas panjang dan menghembuskannya melalui mulut.
Seakan ku keluarkan beban berat yang menyesakkan dada. Ku usap wajah dengan kedua tanganku untuk menghapus ketegangan yang terpancar jelas disana. Lalu ku rancang jemariku dan menarik kedua tanganku ke atas hingga ku rasakan otot-otot pinggangku yang kaku tertarik. Segera ku bangkit dari kursi kerjaku.
Dan hal ini sangat mengejutkan Iwan yang saat itu duduk di pinggiran meja kerjaku tak jauh dari tempatku berdiri. Wajahnya tampak tegang dengan mulut membulat. Ku langkahkan kaki menuju mushola kantor dengan gontai.
———————-000———————-
Kamis, 26 Januari 2012 pukul 08.35 WIB di mushola kantor. Percikan air wudlu memberiku sensasi baru. Di setiap basuhan ku rasakan partikel-parikel air menyusup ke dalam pori-pori. Menembus setiap sel dalam darah. Mengalirkan ion-ion positif menuju otak dan mengguyur setiap bagian dendrit dan neuron di dalamnya.
Melepaskan segala penat, lelah, dan ion-ion negatif yang bersarang disana. Seakan gumpalan beban itu luruh bersama air yang menetes dari bekas basuhan. Membangkitkan kembali semangat dan harapanku yang sempat pudar. Brrrrrrr! Segarrrrrr! Aku tenggelam dalam sujud panjang dluhahku. Ingin rasanya aku menyentuh dan menghambur ke dalam pelukan-Nya seperti saat aku menghambur ke dalam pelukan ibu. Lalu ku luapkan segala keluh kesah, gundah, sedih, kesal, marah, dan tangisku pada-Nya.
Tak lupa ku sandarkan segumpal asa akan karunia inspirasi untuk novel perdanaku. Yang rencananya akan dirilis dalam bentuk cerbung di sebuah majalah remaja yang sedang ku garap bersama kawan-kawanku saat ini. Diri ini benar-benar hanyut dalam pusara agung antara aku dan Dia. Usai melepas segala beban yang memenuhi hati dan pikiranku selama ini, tak sengaja ku dengar pembicaraan kedua rekan kerjaku. Mereka bercengkrama tentang seorang trainer sekaligus motivator dari kalangan akar rumput. Seorang lelaki tangguh nan gigih asal desa terpencil di Jawa Tengah telah banyak menarik perhatian semua kalangan.
Sosoknya yang berwibawa nan bersahaja telah mampu menguatkan jiwa-jiwa yang rapuh, menghidupkan semangat yang runtuh, dan telah memberi warna kehidupan dengan sentuhan islam dari kedua tangannya. Kebetulan aku mempunyai beberapa buku beliau dan training-trainingnya yang di abadikan dalam kepingan DVD dan VCD.
Karena aku termasuk salah satu orang yang mengagumi beliau. Seperti diguyur hujan di musim kemarau di tengah siang di padang pasir tanpa selembar alas kaki. Rasanya benar-benar ruarrrrr biasa! Bisa dibayangkan bukan berseminya hatiku. Setelah sekian lama pikiranku berkelana nyaris putus asa.
Tiba-tiba ia datang begitu saja mengetuk membran kepalaku dan menyelinap dalam benak. ‘Yaps! Bravo! Akhirnya ku temukan juga!’ seruku dalam hati. Tanpa basa basi aku langsung cabut dari mushola dan siap meluncur ke meja kerjaku. Aku tak bisa menutupi kegembiraanku. Senyumku terkembang menghias wajah yang masih segar oleh atsar wudlu.
Dengan penuh antusias ku mulai menuangkan ide-ideku dalam buku jurnal sebelum ide brilian itu menguap ke udara. Lalu mulailah jari jemariku menyentuh keyboard menuliskan huruf demi huruf, merangkai kata demi kata menjadi sebuah cerita. Jika sudah seperti ini tak ada seorang pun yang bisa memecahkan konsentrasiku, tak terkecuali Iwan alias si Jayus. Beberapa saat kemudian, “ Wuidiiiiiih, semangat banget, Bro!
Kesambet apaan Ente di mushola??” seru Iwan yang sudah berada tepat di belakangku. “ Tadi aja mukanya ditekuk tujuh lipatan eh, sekarang malah senyam senyum sendiri… udah dapet inspirasi ya?” menyelidik hasil tulisanku di layar komputer. “Ck ck ck ck ck,” geleng-geleng kepala.
“herman Ane ma Ente, cepet banget ganti suasananya. Ups! Iya ya, antum ‘kan gudangnya ide brilian…bla….bla…bla….” lanjutnya. Kali ini dia berdiri di sisi kananku dan berkacak pinggang persis seorang mandor sedang mengawasi pegawainya. Aku tetap bergeming. Tak lama kemudian ia mulai menyadari bahwa kehadirannya tak mengubah pendirianku sedikit pun. Karena merasa kesal tidak ku hiraukan ia, akhirnya dengan bersungut-sungut ia menyerah juga.
“Bheuuuh, kacang..kacang…..!” Ia berseru di telingaku sambil berlalu. “ Kasian banget sih Ane, dikacangin.”
—————-000—————-
Kamis, 26 Januari 2012 pukul 21.22 WIB Alhamdulillah…… rampung sudah tulisanku, tinggal bagian ending yang belum ku selesaikan. Meski begitu aku sudah cukup puas bisa menyelesaikan hari ini juga. Selanjutnya aku harus mempersiapkan presentasi untuk besok.
Suasana kantor mulai sepi sejak pukul 20.00 WIB tadi. Dinginnya malam menyerbu kulitku saat baru keluar dari lobi. Ku kenakan jaket bludru hadiah ulang tahun ke 18 dari ibuku. Meski sudah tiga tahun tapi masih muat di badanku dan warnanya pun masih bagus. Lumayan, bisa melindungiku dari gigitan ganas angin malam. Setiap hari aku selalu meluangkan waktu untuk kontemplasi atau bahasa kerennya muhasabah.
Namun kali ini berbeda dari biasanya. Aku tidak langsung pulang ke kontrakan, melainkan menghabiskan waktu muhasabahku di masjid jami’ dekat kantor tempatku bekerja. Masjid ini membuka pintunya lebih lama dari hari-hari biasa. Jika pada hari biasa masjid ini di tutup jam 22.00 WIB, untuk hari jumat masjid akan terbuka 24 jam.
Suasana masjid ramai oleh pengunjung yang singgah untuk beribadah. Suara lantunan ayat suci al-Quran membahana dari sudut masjid ke sudut masjid. Ada bermacam aktifitas disana. Ada yang mengadakan semacam halaqah atau kelompok kajian kitab, beri’tikaf, atau sekedar singgah untuk menghalau lelah.
Aku mengambil tempat agak sepi di dekat tiang penyanggah. Perlahan aku mulai membuka mushaf kecil yang selalu ku bawa kemana saja. Ku lanjutkan capaian tadarrusku dan ku baca dengan bacaan terbaikku, yaitu dengan tartil.
Memang berbeda rasanya jika kita membaca al-Quran dengan tartil. Apalagi kita paham artinya meski sedikit. Aku terhanyut dalam lautan firman-Nya. Saat aku membaca ayat-ayat siksa, rasanya jiwa ini terguncang. Seperti terombang-ambing di tengah lautan. Tersesat di tengah hutan belantara. Terseret ke dalam lubang yang dalam. Ada kengerian dan rasa takut yang mendalam akan siksa-Nya. Bahkan jantung ini berdetak lebih cepat, nafas pun seakan tercekat.
Namun, saat membaca ayat nikmat dan kabar gembira, jiwa ini seakan melayang jauh ke udara. Menembus cakrawala, mengelilingi angkasa, hingga mencapai sidrotul muntaha. Semua baban terurai, seakan surga di depan mata. Tak henti pula sel-sel saraf melompat girang mengalirkan enzim penetrasi. Yang ada hanya kebahagiaan dan ketenangan. Tepat di ayat ke 30 surat An-Nuur aku berhenti. Tiba-tiba nafasku tercekat di tenggorokan.
Lidahku kelu dan tubuhku terasa kaku bagaikan tersambar petir. Bukan karena takut, melainkan terkejut oleh teguran dari-Nya. Dia selalu punya cara untuk mengingatkan hamba-Nya. Disana Dia berfirman : “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah mengetahui apa yang mereka perbuat.” Otak kecilku mulai bekerja, membuka memori peristiwa dua hari yang lalu. Aku tersadar, sebelum kran inspirasiku tersumbat ada satu hal yang luput dari perhatianku. Sekeping debu kekhilafan telah merenggut kejernihan hati dan pikiran.
Sepercik noda yang luput dari pertaubatan berdampak serius pada kecermelangan. Astaghfirullah……! tak terasa denting kristal menitik dari kedua bola mataku. ‘ Ya Rabb… ampuni hamba-Mu yang khilaf ini,’ rintihku. Lalu ku usap wajahku dengan penuh harap akan ampunan dan ridlo-Nya. Berawal dari pandangan tak disengaja. Waktu itu, tepatnya dua hari yang lalu, aku baru selesai shalat dluha di masjid ini. Saat hendak menuju ke kantor mataku menangkap sekelebat sosok muslimah melintas beberapa meter di depanku.
Seorang muslimah yang tampak anggun dengan balutan jilbab dan kerudung besarnya, menjaga kehormatannya dari pandangan lelaki yang belum halal. Pandangannya tunduk, langkahnya tidak dibuat-buat dan sedikit cepat, kedua tangannya menggenggam setumpuk kitab dan mushaf menuju ke masjid. Darahku mengalir deras. Ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Cepat-cepat ku alihkan perhatianku sebelum dorongan manusiawi itu menguasai akal sehatku. Sejak saat itu pikiranku tidak fokus. Namun tak jua bisa menerjemahkan apa yang ada di baliknya. Sungguh manusia sangat lemah. Tak mampu sekedar menerjemahkan apalagi menguasai hatinya selain dengan taufiq dari-Nya. Aku bertekad akan lebih berhati-hati menjaga amanah yang telah dikaruniakan-Nya padaku.
Ku baca sekali lagi ayat ke 30 dari surat An-Nuur sebelum menutup malam muhasabahku. “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah mengetahui apa yang mereka perbuat.”[]
Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiiiiin Selesai di Surabaya, pagi yang basah. Hari Ahad, 8 April 2012 pukul 09.36 WIB A