Saat matahari sudah datang, gelap terusirlah. Ketika ilmu tiba, Skebodohan lenyap. Apabila kebenaran sudah sampai, kesalahan tak mungkin bertahan lagi. Aku bersumpah akan mencari kebenaran dan hidup di atasnya. Aku pacu kudaku, berlari menembus hawa yang dingin. Pedang tersemat di pinggangku. Mantel salib merahku masih membalut tubuhku, berkibar-kibar dilalui angin. Kurapatkan dia, berlindung dari dingin.
Aku terus pacu kudaku, tak peduli malam mencekam. Aku akan ke Acre, akan aku cari Saladin. Aku ingin bicara dengannya! Aku ingin menemukan jawaban dari semua kegalauanku.! Beberapa hari kemudian derap langkah berdebu kudaku mendekati Acre. Dari atas sisi bukit aku melihat kemah2 orang Saracen. Ada ribuan pasukan Saladin sedang beristirahat.
Aku tunggu sampai malam menjelang, di pinggir hutan dekat sana. Aku bersandar pada sebuah pohon besar dan terlena dalam keteduhannya. Kelelahan benar2 menggerayangi tubuhku. Saat aku bangun, malam telah gelap. Namun bulan purnama begitu elok di angkasa, sehingga mataku tidak terlalu sesat. Kutunggangi kudaku, dia berjalan perlahan menuruni bukit mendekati perkemahan Saracen. Seorang prajurit melihatku. Dia memberitahu temannya dan menyiagakan diri mereka menghadapiku. Mereka mencabut pedang mereka. Salah seorang dari mereka berteriak memanggil beberapa orang teman mereka yang lain.
Kusadari sebuah keanehan, perkemahan itu terlalu sepi untuk sebuah perkemahan ribuan pasukan yang akan berperang dalam beberapa hari ke depan. Kemana semua orang? Apakah mereka tidak takut akan serangan mendadak dari musuh atas kemah mereka? Yang kulihat sedang berjaga hanyalah beberapa orang prajurit saja, yang tersebar di beberapa titik di kemah itu. Kudaku terus melangkah perlahan mendekati kemah itu. Beberapa orang prajurit berlari mendekatiku dan mengepungku sambil menghunus pedang dan tombak. Mereka menodongku. Aku tidak heran mengapa mereka bersikap seperti itu, sebab mereka melihat mantel salib merahku yang sangat mencolok.
Dengan tenang aku mengangkat tangan tanda menyerah. “Aku tidak bermaksud jahat!”, kataku pada mereka. Kupaksa diriku setenang mungkin. “Aku ingin bertemu dengan Saladin. Aku ingin bicara dengannya!”. Mereka tetap tidak mengurangi kewaspadaan dan tetap mengacungkan senjata mereka kepadaku. Salah seorang dari mereka berbisik kepada temannya. “Orang kafir selalu berdusta.”. “Aku sudah perintahkan yang lain menyisir daerah ini. Mungkin dia membawa teman.”, kata yang lain. “Aku tidak bermaksud jahat!!”, aku mengulangi. “Aku bukan mata2 atau apapun. Aku juga bukan utusan siapapun. Aku datang ke sini atas kemauanku sendiri.”.
Kulemparkan pedangku dan jatuh berdentang di hadapan mereka. Tanganku tetap kuangkat ke udara dan aku turun dari kudaku. “Sekarang aku tidak bersenjata!”, kataku meyakinkan mereka. Apa yang aku lakukan ternyata tidak membuat orang2 Saracen itu melonggarkan kewaspadaannya. Kagum aku dengan ketaatan Prajurit Saracen itu kepada pemimpin mereka. Sering aku lihat Tentara Kristus lari dari medan perang karena ketakutan. Sementara sering pula kulihat jumlah Pasukan Saracen jauh lebih sedikit daripada Pasukan Kristus, namun mereka tetap sabar dan maju berperang dengan gagah berani seperti singa terluka. Seorang prajurit menyergapku dan mengikat tanganku ke belakang, dia langsung mengawalku menuju sebuah kurungan kayu beroda. “Bawa aku pada Saladin. Aku mohon!! Aku hanya ingin bicara dengannya.”, aku memberontak, namun mereka mengunci tanganku sehingga aku tak bisa bergerak. Todongan senjata mereka tak mereka turunkan. “Pengkhianat seperti kau tak akan pernah bertemu Sultan.”, kata salah seorang prajurit. “Orang kafir tak bisa dipercaya.”. “Bawa aku pada Saladin.”, aku meronta-ronta dan berteriak-teriak.
“Mana Saladin!”.
“Diam kau!!”, hardik mereka. Mereka mengeratkan kuncian pada bahu dan tanganku, sehingga aku sama sekali tidak bisa bergerak. Mereka juga membekap mulutku dengan kain. Mereka memasukkan aku ke dalam kurungan kayu itu. Beberapa orang dari mereka berdatangan karena teriakanku menarik perhatian mereka. Aku melihat salah seorang dari mereka sepertinya tak asing. Ternyata Pria itu adalah pemuda pemimpin rombongan Saracen yang pernah kutolong dahulu.
Dia tersenyum padaku dan langsung mengenali aku. “Cepat keluarkan dia.”, perintahnya. “Dia tidak berniat jahat. Akulah yang menjaminnya”. “Tapi Komandan, dia orang kafir!”, Prajurit Saracen itu mempertanyakan perintah Pria yang kutahu adalah pemimpin rombongan Saracen, yang rombongannya dibantai Prajurit Kristus dulu, yang ternyata adalah seorang komandan pasukan Saracen. “Sudah kubilang, akulah jaminan laki2 itu.”, katanya. “Aku yang akan mengawasinya dengan ketat. Sekarang keluarkan dia!”. Merasa tak berguna untuk berdebat, Prajurit itu mengeluarkan aku dari kurungan. Membuka bekapan kain di mulutku dan ikatan tanganku. “Terima kasih!”, kataku. Kugosok-gosok tanganku sebab nyeri. “Ternyata kau seorang Komandan”. “Aku juga berterima kasih kepadamu, karena sudah menolongku dulu.”, sahut Pria itu. “Kita belum saling berkenalan, namaku Ahmad.”. “Namaku Phillipe. Aku dari Prancis”. “Sungguh Allah Maha kuasa!”, kata Ahmad. “Akhirnya Dia mengabulkan doa Sultan. Sekarang kau ada di sini!”. “Apa maksudmu?”, aku heran dengan apa yang dikatakannya. Apakah Saladin mendoakanku? “Setelah aku selamat karena pertolonganmu, aku menghadap Sultan dan kuceritakan semua yang terjadi.!”, Ahmad menceritakan.
Dia mengajakku duduk di dekat sebuah api unggun yang menebarkan kehangatan pada sekitarnya. “Kulihat Sultan murka, dan Beliau bersumpah Beliau sendirilah yang akan menghukum Reynald atas perbuatannya, sebab melanggar perjanjian, membantai, dan menginjak-injak kehormatan Islam. Untuk itu jugalah kami di sini malam ini!”.
Aku mendengarkan ceritanya dengan seksama. Memang aku akui bahwa aku sendiri tidak menyukai apa yang banyak dilakukan tentara Kristus dan para pemimpin mereka. “Aku juga menceritakan tentangmu, dan Sultan sangat gembira. Beliau mendoakanmu agar bahagia di dunia dan akhirat, dan beliau ingin sekali bertemu denganmu.”, Ahmad tersenyum padaku. “Dan kau lihat, Allah telah mengabulkan doa Sultan, sekarang kau ada di sini.
Akan aku antarkan kau kepada Sultan. Mari!”. Ahmad mengajakku. Kami bangkit meninggalkan api unggun itu dan berjalan. Aku mengikuti Ahmad. Aku tak tahu kemana dia akan membawaku. “Kalau boleh kutahu.”, kataku. “Kenapa perkemahan pasukanmu sangat sepi? Kemana semua orang?”. Ahmad tersenyum. “Kau akan tahu sebentar lagi.”. Kami terus berjalan menyusuri kemah2 kosong yang diterangi liukan kobaran api pada obor. Hingga sampailah kami pada kemah yang paling ujung. Di belakangnya, di balik sebuah gundukan tanah, pada permukaan rumput di sebuah dataran di Acre, kulihat sebuah pemandangan yang menakjubkan yang seumur hidupku belum pernah aku lihat. Apa yang aku lihat kemudian menjawab pertanyaanku, tentang mengapa kaum Saracen selalu menang dalam tiap pertempuran walaupun jumlah mereka sedikit. Mengapa mereka begitu gigih dan kuat.!! Di sana, di sebuah dataran luas berumput itu kulihat ribuan prajurit Saracen sedang berbaris bersujud di tengah2 angin dingin dan cahaya remang obor yang ditancapkan di sekitarnya. Mereka bersujud kepada Tuhan mereka dalam sepi dan heningnya malam.
Kulihat paling depan Saladin memimpin mereka dalam ibadah itu. Setiap Saladin berdiri, ribuan prajurit mengikutinya, sungguh sebuah ketaatan yang belum pernah aku lihat. Saladin membaca sebuah bacaan yang begitu merdu dan membuat hatiku rawan saat mendengarnya. Mungkin itulah bacaan Al-Quran, kitab suci orang2 Saracen. Kulihat beberapa prajurit menangis tersedu-sedu memohon ampunan dari Tuhan. Mereka semua seperti rahib yang berdiri dan bersujud demi cinta pada Tuhannya dan menangisi dosa2 mereka pada malam hari. Dan mereka berubah menjadi prajurit2 tangguh yang tidak pernah kenal takut pada siang hari.
Dadaku gemetar melihat semuanya ini. Sebab apa yang aku lihat pada diri Prajurit Kristus sungguh sangat berbeda. Mereka senang mabuk2an, dan kerap membawa perempuan ke dalam benteng untuk memuaskan nafsu rendah mereka. Mereka bukan Tentara Kristus bagiku, tapi tentara Iblis. Apa yang mereka lakukan tak pernah diajarkan Tuhan Yesus. []