Find the true love alias menemukan cinta sejati sering dijadikan pembenaran aktivitas pacaran. Sebelum naik level ke hubungan yang lebih serius dalam bingkai rumah tangga, pacaran dianggap cara paling pas untuk mengenal lebih jauh calon pasangan hidup. Benarkah demikian? Kita bisa belajar dari Rasul dan para Shahabat tentang cinta sejati.
Muhammad saw adalah cinta sejati Siti Khodijah. Gimana nggak, Siti Khodijah menikahi rasul bukan karena pertimbangan fisik, materi, atau status sosial. “Aku senang kepadamu karena kekerabatanmu dengan aku, kemuliaanmu, dan pengaruhmu di tengah-tengah kaummu, sifat amanahmu di mata mereka, kebagusan akhlakmu, dan kejujuran bicaramu”, kata Siti Khodijah saat mengungkapkan isi hatinya pada Muhammad.
Walaupun Khodijah adalah orang paling tajir (kaya banget) seantero Mekkah, tapi beliau tak sungkan menikah dengan Rasul yang statusnya waktu itu masih bekerja kepadanya sebagai penjual kain. Bahkan demi mengenal lebih jauh pribadi Rasul, Khodijah mengutus Maisarah, pembantu dekatnya untuk mengamati gerak-gerik Muhammad dan mengumpulkan informasi, bukan dengan pacaran. Setelah berumah tangga, cinta Khodijah tak pernah surut dalam kondisi apa pun. Ketika Muhamad di angkat menjadi Nabi maka khodijah tanpa keraguan mengimaninya di saat orang lain meragukannya. Tidak hanya itu ia mengorbankan hartanya untuk dakwah di saat orang engan.
Inilah potret cinta sejati yang tak memandang harta, umur, fisik, atau kedudukan tapi bagian dari keimanan pada Allah. Cinta sejati juga kita temukan dalam kisah asmara Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad. Saat meminang Fatimah, Ali menjual sebagian barang miliknya, termasuk rompi perang. Inilah yang menjadi mas kawin Ali kepada Fatimah. Semuanya bernilai 480 dirham. Dari jumlah itu, Rasulullah menyuruh menggunakan 2/3 nya untuk membeli wangi-wangian dan 1/3 nya untuk membeli pakaian.
Ali ra. berkata, ” Aku menikah dengan Fatimah. Kami tidak memiliki alas tidur kecuali selembar kulit domba. Malam hari kami pergunakan sebagai alas tidur dan siang harinya kami jemur. Kami tidak memiliki pembantu, pekerjaan rumah tangga ditangani oleh Fatimah. Ketika Fatimah pindah kerumahku, Rasulullah membawakan selimut, bantal kulit berisi serabut kurma, dua gilingan tepung, satu gelas, dan kantong susu. Saking seringnya menggiling tepung, sampai berbekas pada tangan Fatimah, dan saking seringnya membersihkan rumah sehingga pakaiannya penuh debu, dan saking seringnya menyalakan tungku sampai pakaiannya penuh arang ” (dikutip dari 35 Shiroh Shahabiyah, Mahmud Al-Mishri)
Driser, cinta sejati akan kita dapetin selama kita ngikutin aturan Allah swt dalam mengekspresikan cinta. Tanpa pacaran sebelum terikat resmi dalam jalinan pernikahan. Nggak ada ceritanya Rasul dan para shahabat pacaran untuk mencari cinta sejati atau menemukan pasangan hidup. Karena Islam punya aturan khitbah dan nikah untuk menautkan dua insan yang dilanda asmara. Kalo kita nggak ngikutin Rasul dalam urusan cinta seperti yang diperintahkan Allah swt, siapa lagi yang mau diikutin?[Ridwan]