Bersyukurlah saat ada saudara yg mencintai kita..
Beruntunglah saat ada sahabat yg menyayangi kita..
Dan berbanggalah saat ada siapa pun yg mengasihi kita..
Karenanyalah yg membuat diri kita berharga, setidaknya bagi mereka Karena seseorang bukan siapa-siapa sampai dia dicintai..
Masih ku ingat bait syair ini yang engkau tuliskan di binderku. Entah mengapa aku merasa kamu berubah MNad. Tidak hanya pakaianmu tapi juga sikapmu. Kamu bukan seperti Nadia yg kukenal 4 tahun yg lalu. Pada saat masih di kelas 2 SMP, kamu adalah siswa pindahan dari Malang, yang aku dengar kamu tinggal di Banjarmasin bersama nenekmu setelah orang tuamu meninggal. Pertemuan kita berawal dari kesamaan nasib.
Ya, sama-sama dihukum karena terlambat datang ke sekolah hingga akhirnya kita berdua dijemur di bawah tiang bendera. Dari situlah kita berkenalan dan babak baru persahabatan kita dimulai. Banyak kesamaan diantara kita. Dari hobby, film sampai makanan favorit yang sama. Bahkan dulu kita mempunyai kriteria cowok idaman yang sama pula.
Aku masih ingat ketika kamu turut bahagia waktu aku cerita aku jadian sama Raka, ketua tim basket di sekolah kita. Tapi semua berubah Nad, setelah sebulan yg lalu kamu ikut Training Motivasi yang diadakan anak-anak rohis di sekolah kita. Sekarang kamu suka memakai pakaian yang aneh, menutupi seluruh badan. Kamu juga suka menghindar saat aku ngajak kamu gabung dengan Raka dan teman-temannya, Edo, Elsa, dan Nanda. Kamu malah lebih senang gabung sama anak-anak rohis di mushola. Saat aku menanyakan perubahan ini, kamu bilang inilah kebenaran bagi dirimu, ya aku mencoba memahamimu.
Tapi aku sangat kecewa saat kamu memutuskan untuk hengkang dari tim Volly, padahal tim volly kita sudah masuk semifinal. Walau kata Elsa kita sudah tidak cocok lagi, tapi aku berharap persahabatan kita masih bisa diperbaiki. Aku sangat merindukan Nadia yang dulu. “grett..grett..”, sms dari Nadia. Aww. Vin, Qt bs bicara sbntr?ada yg ingn q bicarakn,pnting.q tunggu dblakang mushola ya.wktu istirahat.trims Apa yg mau Nadia bicarakan ya, tp ku harap ini langkah awal yg baik utk persahabatan kita.
***
“Tet..tet..tet..” Mendengar bel tanda istirahat, Nadia berbegegas keluar dan menuju mushola yang berjarak beberapa meter dari kelas XII IPA 1, kelasnya. Sdg kelas Vina tepat di atas kelas Nadia, kelas XII IPA 2. Semoga saja Vina dtg. Apa dia masih marah pada ku, setelah aku bilang berhenti dari tim volly kemarin, beberapa kali sms ku tidak dibalasnya. Bahkan sudah beberapa hari ini waktu aku jemput di rumah kata kakaknya dia sudah dijemput sama Raka ke sekolah. Belakangan ini dia juga lebih sering dekat dengan Elsa dan Nanda, ah aku semakin khawatir.
Nadia membatin. Dari kejauhan terlihat Vina turun dari tangga menuju mushola. “Alhamdulillah, makasih banyak Vin, kamu sudah mau datang” lega Nadia menyambut kedatangan Vina “Iya, ada apa Nad, Katanya ada hal penting yang ingin kamu bicarakan” ketus Vina padahal sebenarnya dia senang dapat bertemu Nadia. “Betul Vin. Sebelumnya maaf bukan maksudku ikut campur urusanmu. Waktu aku lewat dari WC kemarin, tanpa sengaja aku mendengar pembincaraan Elsa dan Nanda.
Kata mereka malam perayaan V’day nanti Raka dan kawan-kawannya mau ngajak kamu jalan-jalan ya? Aku punya firasat yang tidak baik dengan mereka. Aku mohon kamu putusin aja Raka Vin” pinta Nadia penuh harapan. “Aku benar-benar gak nyangka kamu setega itu Nad, bisa-bisanya kamu nuduh Raka. Aku tahu betul siapa Raka. Tadinya aku tak percaya tentang apa yg dikatakan Elsa tentang kamu. Selama ini kamu naksir sama Raka kan, makanya kamu gak senang melihat aku pacaran sama Raka. Atau…ini malah akal-akalan kamu buat misahin aku dengan Raka.
Kamu tega Nad” sela Vina dengan pandangan penuh kekecewaan sambil menunjuk ke dada Nadia. “Astaghfirullahal’adzim..demi Allah Vin, aku mengatakan ini semua karena aku sayang sama kamu. Kamu sahabatku..”
“Alah..itu hanya alasan kamu kan Nad, aku semakin yakin bahwa kamu memang sudah berubah. Kamu bukan Nadia yg aku kenal dulu”.
“Apa maksudmu berubah Vin”
“Iya, baju ini, kerudung ini yang kamu bilang hijab, bagiku hanyalah dinding yang membuatmu semakin jauh dariku. Semenjak kamu ikut kelompok rohis itu kamu jadi orang yang aneh. Kamu malah memilih untuk berhenti dari tim Volly hingga akhirnya kita kalah dan gagal masuk final. Dan sekarang, kamu malah nuduh Raka.
Aku kecewa sama kamu Nad, kamu memang bukan Nadia yg aku kenal dulu yang selalu mendukungku, mensuportku dan menemaniku. Aku sudah bosan dengan ceramahmu selama ini. Tadinya aku pikir masih bisa memperbaiki persahabatan kita, tapi ternyata tidak” Vina berpaling dan melangkah pergi.
“Vina, apa maksudmu dengan persahabatan kita. Vin dengarkan aku dulu Vin…Vina” teriak Nadia mencoba menahan Vina yang terus saja berlalu. Nadia hancur, airmata mulai membendung di sudut matanya dan perlahan jatuh membasahi pipi.
Pikiran dan pakaianku memang berubah Vin. Sekarang aku sadar kalau Islam bukan hanya sebuah agama tapi juga pandangan hidup, dan pakaian seragam SMA ini sengaja kujahit menyambung karena baju kurung panjang adalah pakaian wajib seorang muslimah saat keluar rumah. Dan keputusanku untuk berhenti dari tim volly itu karena aku gak mau memperlihatkan auratku. Apakah ini sebuah perubahan yang buruk Vin. Tapi kamu harus tahu satu hal Vina, aku tak pernah merubah persahabatan kita. Bagiku kamu masih sahabatku, selalu. Desah Nadia lirih.
***
Dinginnya angin malam yang menusuk mengiringi sesaknya dada Vina atas kejadian yg baru saja dialaminya. Setelah Vina dijemput oleh Raka dan kawan-kawannya menuju sebuah Cafe ternama di kota Banjarmasin untuk merayakan malam V’day. Tanpa sengaja hp Elsa jatuh disamping Vina, sms dari Raka yg lupa ditutup Elsa membuat Vina tanpa sengaja membacanya. ‘El, jgn lupa ya, nnt masukkn obat itu dlm mnuman Vina.
Awas lo, jgn smpe ketahuan’. Kontan saja saat membaca sms itu Vina meradang, dia membentak Raka dan pergi meninggalkannya setelah sebelumnya mengucapkan kata putus. Terbongkarnya rencana jahat Raka dan temannya membuka mata Vina tentang kebenaran yg disampaikan oleh Nadia sahabatnya. “maafkan aku Nad, selama ini aku meragukan kesungguhanmu, tentang agama, persahabatan dan cinta. Sekarang aku merindukanmu Nadia”. Disepanjang jalan Vina menangis. Airmata terus mengalir di pipinya. Airmata bahagia karena mengetahui keburukan Raka, dan airmata duka karena menyesal memutuskan persahabatan dengan Nadia. Berulang kali dia menghubungi Nadia tapi Hp nya tidak aktif. Vina semakin tak sabar menanti hari esok untuk menemui Nadia di sekolah meminta maaf dan memeluknya.
***
Lonceng masuk sekolah sudah berbunyi tapi wajah Nadia belum juga tampak. Sejak pagi sekali Vina menunggu tapi Nadia belum terlihat juga. Khawatir Nadia sudah lebih dulu datang, Vina pun mencoba mencari Nadia di mushola tempat biasa Nadia nongkrong, tapi juga tidak ada. Tak ada pilihan lain, Vina harus menceknya di kelas XII IPA 1. Walau berat Vina harus bertanya kepada anak-anak kelas itu tentang keberadaan Nadia. Vina memang tidak terlalu akrab dgn anak-anak kelas XII IPA 1 yang sebagian besar adalah anak rohis.
Mengejutkan, setelah bertanya kepada mereka Vina dapat informasi bahwa Nadia masuk rumah sakit. Berita itu dikabarkan oleh keluarga Nadia via telpon kepada wali kelasnya. Ada kekhwatiran yang muncul di hati Vina. Dia ingin segera menjenguk Nadia, tapi jadwal ulangan harian kali ini membuatnya tak bisa meninggalkan kelas. Sepulang sekolah Vina langsung menuju rumah sakit tempat Nadia dirawat. Setelah mendapatkan info tentang ruangan Nadia, dia langsung segera mempercepat langkahnya.
Namun, Vina hampir tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya. Ruang kamar Nadia kosong, hanya ada seorang suster yang memberes-bereskan kasurnya. “ maaf mbak ini kamar pasien yang bernama Nadia kan?” “iya de, kamu temannya?” “iya. Dimana dia sekarang dan bagaimana keadaannya?” “keadaannya cukup parah. Kencangnya laju truk yang menghantam motornya membuatnya terpelanting, kepalanya terbentur hebat, akibatnya dia mengalami pendarahan di otak. Dokter di rumah sakit ini tidak bisa menanganinya, akhirnya dia dilarikan ke rumah sakit di Surabaya. Baru saja 15 menit yg lalu dia dibawa ke bandara Syamsudinnoor”.
Lemas rasanya seluruh tubuh Vina, hingga matanya tak mampu lagi menahan buliran kristal yang mengalir sejak mendengar kabar dari suster itu. Dia segera keluar dari kamar, tak ada tujuan lain selain mengejar Nadia. Paling tidak dia ingin melihat wajah Nadia sebelum dia diterbangkan ke Surabaya. “Vina, tunggu..” tiba-tiba suara dari belakang “Anda memanggil saya?” Vina menoleh kepada orang yang memanggilnya, yang tak lain suster itu. “iya, ini foto kamu dan pasien itukan? Ini merupakan salah satu barang pasien yg ditemukan saat terjadi kecelakaan minggu malam lalu. Ambillah..!” suster sambil menyodorkan foto yg bertuliskan nama Vina dan Nadia.
Ya itu adalah foto mereka berdua yang diabadikan sebulan yang lalu. Setelah mengambil foto itu Vina langsung berlari menyusuri lorong rumah sakit dan segera memanggil taksi. “Bandara pak..tolong dipercepat ya..” Hujan pun mengguyur kota Banjarmasin. Senada dengan tetesan hujan yg jatuh, airmata Vina terus mengalir. Terlintas di benaknya segala kenangan indah tentang Nadia. Dilihatnya kembali foto yang baru saja didapatnya.
Dan Nadia menuliskan bait-bait syair di balik foto itu. Pun andaikan persahabatan ini adalah pisau yang tajam, maka jangan biarkan ia ditumpulkan oleh “jarak dan waktu” Juga umpama ikatan ini adalah rantai besi yg kokoh, maka jangan biarkan ia diputus oleh tajamnya “kedustaan” Dan kalaupun persaudaraan ini adalah aliran air yang panjang, maka biarkan ia terus mengalir hingga disatu titik “kematian” karena, aku ingin kembali bersamamu di Jannah saudaraku… Ya Allah, berikan kesempatan hamba untuk kembali bersama Nadia. Tidak hanya untuk berkumpul lagi tapi hamba ingin memperdalam Islam bersamanya. Do’a Vina dalam hati sembari memandangi setiap trotoar jalan yang dilaluinya menuju bandara. Nadia tunggu aku.. [Sang Pembebas]